Apakah makna kasih?

On December 29, 2011, in Indonesian, My thought, by adimulia

Seorang kiai datang mengeluh kepada Gus Dur karena satu di antara empat anaknya masuk Kristen. Sang kiai sambat. Dengan enteng, Gus Dur menjawab, “Sampeyan jangan mengeluh kepada Tuhan. Nanti Tuhan akan bilang, saya saja punya anak satu-satunya masuk Kristen!”

Ya, itulah Tuhan kita: Tuhan Yesus.

Ada ayat dari 1 Yohanes 3:16:

Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.

Ada juga yang lebih terkenal Yohanes 3:16

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Seberapa nyata ayat itu dalam hidup kita? Belakangan ini saya merasa pertumbuhan rohani saya cukup struggling. Mungkin pertumbuhan rohani setiap orang itu beda-beda caranya ya. Ada yang bisa (sepertinya) bertumbuh rohani dengan mendengar kotbah yang enak-enak, teologi kemakmuran, bicara berkat. Ada yang bisa (sepertinya) bertumbuh dengan mendengar kotbah yang lembut-lembut, bicara tentang hidup yang mengasihi, menolong sesama. Tapi saya (sepertinya) bertumbuh lewat kotbah yang kritis, yang mengupas ayat-ayat Alkitab secara mendalam. Di kalimat-kalimat sebelumnya saya sisipkan kata “sepertinya” karena saya sendiri tidak tahu, apakah benar bertumbuh apa tidak.

Continue reading »

Tagged with:  

Sama-sama mengambil waktu

On December 28, 2011, in Activities, Indonesian, Life Lesson, by adimulia

Di penghujung tahun ini, mari kita sama-sama mengambil waktu.

  • Mengambil waktu untuk berpikir, itulah sumber kekuatan
  • Mengambil waktu untuk membaca, itulah dasar kebijaksanaan
  • Mengambil waktu untuk bermain, itulah rahasia awet muda
  • Mengambil waktu untuk diam, itulah saat mendengar Tuhan
  • Mengambil waktu untuk melihat sekitar, itulah kesempatan menolong sesama
  • Mengambil waktu untuk mengasihi dan dikasihi, itulah hadiah terbesar dari Tuhan
  • Mengambil waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa
  • Mengambil waktu untuk bermimpi, itulah bagian dari masa depan
  • Mengambil waktu untuk berdoa, itulah kekuatan terbesar di bumi

Rasanya yang terakhir perlu lebih serius lagi. Berdoa.

Berdoa bukan untuk mendapatkan sesuatu. Tapi berdoa karena kita mencari wajah Tuhan sebelum kita mencari tanganNya.

 

Catatan Natal 2011

On December 28, 2011, in Indonesian, My thought, by adimulia

Hari masih gelap, masih jam 5 pagi, suara mesjid terdengar sahut-sahutan. Tapi pohon natal masih nyala kelap kelip di ruang tamu. Di bawah pohon natal tidak ada kado. Jam 8 pagi, kami sekeluarga pergi ke gereja untuk kebaktian. Di gereja, duduk di kursi kayu yang panjang, ruangannya terang karena matahari, AC-nya dinyalain, saya begitu menikmati nyanyi lagu-lagu dari NKB dan KJ. Itu memori natal saya masa kecil. Begitu tenang. So calm, peaceful, tranquil.

Sekarang berbeda jauh. Baru tahun ini saya bisa cape dengerin lagu natal. Tiap kali dengerin radio, lagu natalnya lebih sering yang “I saw mommy kissing santa claus”, atau yang “Last year I give you my heart”, “I’m dreaming of white christmas”. Sampai akhirnya, saya ganti channel radio ke radio sekuler. Belum lagi kalau ke mal, komersialisasi natal kenceng banget. Dipikir-pikir lagi, salah satu penyebabnya perasaan cape ini adalah hilangnya Christ-centered-mas.

Natal tanpa Kristus bukanlah natal. Saya teringat perayaan Natal dua tahun lalu, tema yang diusung masih berkesan sampai sekarang, “A cradle in the shadow of the Cross”. Kelahiran Tuhan adalah titik awal dari moment terpenting dalam hidupnya, di salib. Tapi kalau saya mengusung tema ini, jaman sekarang ini, bahkan di gereja pun, bisa dikritik orang. Kata orang, Natal itu harusnya memberi harapan, janganlah menjadi orang yang negatif yang selalu melihat gelas setengah kosong.

Entahlah, harapan dalam Tuhan itu benar. Tetapi harapan itu pun datang ke dunia bukan dalam situasi adem ayem. Natal pertama berlangsung dalam situasi mencekam. Terjadi pembunuhan bayi-bayi. Tuhan harus lahir di kandang hewan.

Tahun ini, saya ingin merasakan Natal yang asali. Natal dimana Tuhan tetap bisa bekerja sekalipun di tengah keresahan dunia akan seorang juru selamat. Natal dimana Tuhan tetap menjalankan rencanaNya mengutus Yesus Kristus yang sudah dipersiapkan ribuan tahun sebelumnya, sejak awal dari perjanjian lama.

Natal tidak harus damai, tidak harus gemerlap, tidak harus meriah. Mari kita ingat lagi keukeuh-nya Tuhan mengasihi manusia. Tidak ada yang kita bisa perbuat untuk membuat Tuhan mengasihi kita lebih lagi ataupun kurang.

Selamat Natal untuk kita semua.

Tagged with:  

Satu desa sibuk menyelamatkan bayi

On December 11, 2011, in Indonesian, by adimulia

Ada cerita seorang petani di sebuah desa. Suatu hari petani itu pergi ke sungai untuk mengambil air. Di sungai, dia melihat ada bayi yang mau tenggelam, kemudian dia menolong bayi itu. Keesokan harinya, ada dua bayi, dia lagi-lagi menolong. Keesokan harinya, ada lima bayi. Petani ini mengajak teman-temannya untuk menolong bayi-bayi itu. Lambat laun, seisi desa setiap hari menghabiskan waktu menyelematkan bayi-bayi di sungai. Sayangnya, tidak ada seorang pun yang bertanya, “Kenapa bayi-bayi itu bisa hanyut di sungai?”

Kira-kira beginilah yang saya rasakan dengan pelayanan di gereja akhir-akhir ini. Di gereja rasanya ada masalah mendasar yang belum terselesaikan. Apapun itu, kiranya Tuhan tolong.

Tagged with:  
WordPress主题