Yusuf dijebloskan ke dalam penjara karena dia melakukan segalanya dengan benar. Hah? Bisa?
Sebelum membahas kehidupan Yusuf di rumah Potifar, mungkin ada baiknya jika kita mengingat kembali proses yang sudah dialami oleh Yusuf. Dibuang ke sumur, hampir dibunuh, akhirnya dijual oleh saudara-saudaranya sendiri. Saya bayangkan Yusuf sudah mengalami rasanya pupus impian. Sekarang Yusuf memulai hidup baru di Mesir, bekerja dengan serius sampai bisa diberi kepercayaan untuk mengurus rumah tangga Potifar.
Tuhan mempersiapkan hambaNya dengan teliti dengan mengizinkan ujian baru. Tujuannya adalah tabah dicobai dan muncul sebagai emas. Ketika Yusuf digoda oleh istri Potifar, ada empat langkah yang diambil:
- Ketika istri Potifar mendatangi Yusuf dan berkata, “Marilah tidur dengan aku”, Yusuf menolak dan berkata, “Tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku” (Kej 39:8). Yusuf menghargai kepercayaan Potifar, dan memperhatikan perasaan Potifar.
- Yusuf memilik sikap menghormati dirinya sendiri. “Di rumah ini ia tidak lebih besarkuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku” (Kej 39:9)
- Yusuf menghormati istri Potifar. “Sebab engkau istri Potifar”. Inilah salah satu bentuk cinta sejati. Bisa saja Yusuf mengikuti hawa nafsu dan menuruti keiinginan istri Potifar, toh dia hanyalah seorang budak.
- Yusuf tau kalau dia akan berbuat dosa terhadap Tuhan. “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Tuhan?”. Inilah yang saya rasa yang menjadi dasar bagi Yusuf dalam mengambil sikap. Ketika menghadapi masalah dan tekanan yang sangat besar, saya rasa yang hanya bisa menyelamatkan adalah kasih karunia dari Tuhan dan hubungan pribadi seseorang dengan Tuhan.
Singkat cerita, setelah berusaha menghindar dari istri Potifar. Masih belum berhasil juga. Akhirnya istri Potifar memfitnah Yusuf, dengan bukti baju Yusuf yang ia tarik ketika Yusuf mencoba kabur. Sampai disini, alkitab masih terus menulis “Tuhan menyertai Yusuf”. Wow, Tuhan mengijinkan ini semua terjadi pada orang yang mencoba bertindak benar? No kidding.
Saya mencoba membawa kisah ini ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin ada suatu titik dlm hidup dimana kita berseru, “Tuhan, kenapa perlakuan ini yang aku dapatkan ketika aku melakukan kehendakMu?”, “Kenapa mereka menfitnah aku?”. Kenapa…kenapa…dan kenapa.
Yusuf dipenjara karena dia melakukan segalanya dengan benar. Saya jadi ingat ayat “Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak” (Ibr 12:6). Tuhan sedang mempersiapkan orang yang dikasihNya untuk sesuatu yang lebih baik, lebih berharga, dan lebih berarti. Bagaimana sikap Yusuf menghadapi fitnah Potifar? Diam. Yusuf cuma diam, gak berusaha membela diri.
Hmmm…..diam saja ketika kita difitnah? God is in control.
