
Belakangan saya sering berenung, hidup ini mau dibawa kemana. Mungkin tepatnya lebih ke arah reflektif. Ya, hidup ini emang berubah sejak saya mengakui Yesus sebagai juruselamat satu-satunya. Ibarat biji yang jatuh ke tanah dan mengalami masa dormant, baru tahun kemarin lah tunas iman itu tumbuh. Tahun kemarin secara rohani saya merasa capek banget dengan drama teologi kemakmuran, praktek doktrin kesembuhan ilahi yang menyimpang, ajaran2 ngaco tentang Roh Kudus. Proses dan pengalaman mengenal Tuhan bener-bener harus selalu diuji dengan terang kebenaran Alkitab, kalo ngga gawat jadinya. Ya, apa yang saya kejar dalam hidup ini perlahan berubah. Sekarang…walaupun sering jatuh bangun, kerinduan untuk mengenal Tuhan lebih berharga dari semua “iming2″ ikut Tuhan. Coba baca Yeremia 9:23-24 untuk mengerti lebih lanjut
Tapi…proses mengenal Tuhan itulah yang sering bikin hidup lebih hidup, deg2an malah iya. Ibarat GPS, saya udah set tujuan akhirnya dimana, insha Allah di surga. Tapi di tengah jalan, selalu ada detour. Detour itu bentuknya macam-macam, bisa dalam bentuk masalah pekerjaan, broken relationship, keluarga, gereja, teman, dll. Gara-gara “detour” ini juga iman sering diuji, seolah gak ada habisnya. Semakin hari dibikin semakin ngerasa nothing, ada banyak kekurangan diri. Tapi ya itu yang bikin heran juga, setelah lewat “detour” ini ada rasa joy. Oh, Tuhan ternyata ijinkan saya mengenal Dia lebih dalam lagi melalui detour2 itu.
Ada cerita menarik. Tahun 2004 lalu, Jet Li jalan2 ke Maldives sama istri dan dua anaknya yang masi kecil, mereka liburan Christmas. Mereka tinggal di hotel Four Seasons. Tempatnya di pinggir pantai, bagus banget. Tanggal 26 Desember pagi, anaknya minta ditemenin berenang sama main ke pantai. Kira-kira jam 8 pagi, dia ngerasa ada gempa bumi. Jet Li mungkin karena udah terbiasa sama gempa, secara dia tinggal di China & San Francisco (juga di Singapore?), tetep cuek maen di pantai. Kira-kira dua jam kemudian, gelombang tsunami akibat gempa di Aceh nyampe ke Maldives! Yup, kita semua ingat dahsyatnya gelombang tsunami aceh sampai ke Afrika. Jet Li reflek bawa anak-anaknya, tapi ombak segera menelan mereka.
Waktu itu Jet Li diberitain meninggal ditelan ombak. Thank God, staf hotel berhasil menolong Jet Li dan anaknya. Ini peristiwa dahsyat buat Jet Li, bayangin di tempat seindah Maldives, hotel mewah, dia hampir kehilangan anaknya (dan bahkan nyawanya sendiri). Dua tahun kemudian Jet Li mendirikan LSM namanya One Foundation untuk membantu orang lain yang terkena bencana alam. Pas gempa di Sechuan tahun lalu, Jet Li langsung turun tangan membantu. Sebelumnya dia fundraising sampai 17 juta dollar.
Btw, Jet Li ini bukan orang Kristen, dia seorang Tibetan Buddhism. Dengan satu “detour” yang luar biasa ini, Jet Li melakukan sesuatu yang berguna buat orang lain. Dia bilang, “philanthropy is my passion and my life now. I wake up and eat and I am thinking about it. I’m still thinking about it in the bath”. Beut….dalem…
Kita semua punya GPS yang udah kita set tujuan akhirnya, entah tujuan akhirnya itu kemewahan hidup, kekayaan, karir, rumah, mobil, etc. Pasti akan ada detour. Syukurlah kalo dengan detour itu kita bisa sadar tujuan akhir kita yang sesungguhnya dmana. Ataupun bila dengan detour itu kita bisa semakin mengerti betapa berharganya tujuan akhir kita itu
*akhir kata, saya masih berenung…
