Tentang pasangan hidup

On October 26, 2009, in Indonesian, My thought, by adimulia

A woman without her man, is nothing
A woman, without her, man is nothing

Di Institut Gajah Duduk (IGD) ada joke ttg gmana attitude cewe IGD mencari jodoh. Tahun pertama biasanya diwarnai pertanyaan ttg jati diri, “siapa saya?”. Kemudian tahun-tahun berikutnya sampai ketika lulus, klo ada cowo yang coba deketin biasanya cewe di IGD ngasih respon “siapa anda?”. Lol, secara cewe di IGD itu agak kurang jumlahnya. Ditambah dengan pemikiran bahwa IGD adalah institut terbaik bangsa, makin tinggilah jalan pikirnya. Akibat attitude demikian, ketika sudah lulus kuliah status berubah jadi STMJ (sudah tamat masi jomblo), jadi skrg responnya “siapa aja dah”

Bule pun punya joke serupa. Ketika seorang wanita berumur 12, ada 20 kriteria tentang calon pasangan hidupnya kelak. Tapi ketika dia berumur 32, kriterianya jadi cuma dua, “as long as he is warm and breathing”.haha.

Terlepas dari dua joke di atas. Bulan Oktober ini udah lebih dari lima orang nanya sy tentang jodoh. Ada yang sekedar bercanda, ada yang mau ngenalin dgn orang lain, ada yang dengan tulus akan mendoakan. Sy jadi sedikit tergerak untuk berpikir, apa sy nantinya akan menurunkan kriteria sy dari 20 jadi 2? Wew…ya jangan sampe se-ekstrim itu. Atau pertanyaan lebih ekstrim yang setiap kita perlu tanya, apa sih tujuan kita cari jodoh? Apa sih tujuan kita menikah?

Sebelumnya sy orang yang berpikir idealis. Maksudnya sekolah yang rajin, trus masuk kuliah, kuliah ya cari pacar, klo udah lulus kuliah ya cari kerja, terus klo udah cocok ya menikah, menikah ya punya anak, besarkan anak, dst. Tapi sayangnya realita gak pernah sesederhana itu. Kalo dulu ditanya apa tujuan menikah? Paling saya jawab ya karena itulah hidup yang normal. Ini waktu hidup itu masih relatif gak banyak masalah macem2 sih.

Berbagai macam buku Kristen juga coba memberikan suatu “guideline” dan konfirmasi dalam mencari pasangan hidup. Ada checklist2 tentang mencari jodoh. Seorang temen coba menjalankan semua di guideline itu, tapi itu bukan jaminan karena akhirnya hubungan itu bisa berakhir juga. Emang buku-buku itu ada baiknya, jangan salah mengerti tapi Tuhan lah yang berdaulat atas apa yang terjadi akhirnya.

Sy pribadi sampai hr ini terus berdoa untuk rencana berkeluarga suatu hari kelak. Jika iya, dengan siapa? blom tau. Apa yang dicari? syukurnya udah tau. Secara mutlak, saya mencari calon pasangan hidup yang mengasihi Tuhan, mengasihi saya, dan terakhir mengasihi dirinya sendiri. Kalo urutannya dibalik, bisa jadi azab dan sengsara…Juga, jelas sy sendiri berusaha mengasihi dengan urutan yang sama.

Kemudian yah secara praktek, ada bbrp aspek yang perlu dipikirkan, klo boleh menyimpulkan, ada tiga proses untuk menilai tiga kriteria di atas. Kecocokan hidup…setiap orang punya gaya hidup yang berbeda-beda, dibesarkan di keluarga dengan background dan kebiasaan berbeda, pendidikan mgkn beda, datang dari background sosial ekonomi beda, pasti ada banyak perbedaan. Dsinilah diuji sejauh mana kedua pihak mau “sacrifice” dan adjust, ego masing2 diuji. Kedua, Keseriusan hidup…sejauh mana seseorang menjalani hidupnya, bagaimana dia menghadapi masalah-masalah hidup, apakah mudah menyerah. Apakah dia orang yang mau menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Dan yang terakhir, kekudusan hidup, sedalam apa dia (mau) hidup benar di hadapan Tuhan. Apakah dia mau selalu bersandar pada Tuhan dalam aspek kehidupannya. Gmana hubungan pribadi dia dengan Tuhan.

Oh well…seindahnya saya menemukan pasangan hidup yang tepat, (idealnya) sesabar itu pun sy untuk menemukan calon yang sepadan. Gak pengen yang aneh2 kaya dongeng sih. Live happily ever after tiu gak realistis, mengingat menikah ngga membuat masalah jadi hilang begitu saja. Tapi salah satu anugerah menikah itu gmana dua orang yang berbeda bisa melewati suatu masalah bersama-sama dan Tuhan menyertai selalu.

Akhir kata…apabila sudah tiba waktuNya tentang pasangan hidup, sy yakin dan percaya, itulah yang terbaik Tuhan anugerahkan bagi kita. Apabila waktuNya (menurut kita) tak kunjung tiba, Tuhan jugalah yang pasti akan memampukan setiap kita untuk melewatinya.

Letspraytogether.
*nah lho, kalimat di atas mau dibaca seperti apa?*

Tagged with:  

2 Responses to “Tentang pasangan hidup”

  1. Ms.Azalea says:

    2 thumbs + 2 toes up buat torehan yg ini.
    Ga neko-neko, tapi tidak mengkompromi standar uji pasangan Kristen yang sejati..
    God bless ur journey,bro :D (Y-Bre)

  2. adimulia says:

    Thank you! :)

Premium WordPress Themes