Apakah Tuhan itu adil?

On November 20, 2009, in Indonesian, My thought, by adimulia

Seringkali saya bertanya, apakah ada keadilan di dunia ini? Di dunia ini kita selalu ditanamin konsep tentang keadilan. Orang berbuat jahat akan dihakimi dan diberi konsekuensi. Tapi itu dari perspektif hukum. Bagaimana dengan persepektif Alkitab? Menarik. Apakah yang Alkitab bilang adil itu ketika kita disuru kasi pipi kanan klo pipi kiri ditampar? Itukah adil? Lalu bagaimana dengan hukum tabur tuai? Apa yang kita tabur, itu yang kita tuai. Bukan kah itu lebih terdengar adil?

Mungkin bagian2 dari Alkitab yang saya sebutkan di atas masih abstrak untuk dibayangkan. Kemudian saya coba comot beberapa cerita di Alkitab. Doa Yabes (1 Tawarikh 4:10) yang isinya permohonan agar kita diberkati, fokus pada diri sendiri, eh Tuhan kabulkan. Musa cuman kesalahan kecil, gak masuk Kanaan (Bilangan 20:11). Stefanus mati dilemparin batu (Kis 8:1). Cerita tentang pelayan istri Naaman yang mengalami penderitaan tapi gak pendendam (2 Raja-raja 5). Dan juga cerita-cerita lainnya.

Dari peristiwa2 yang ada, jika kita melihat dari perspektif manusia, Tuhan itu gak adil. Ada yang udah jadi hamba Tuhan setia, baik hati, tapi akhir hidupnya tragis. Tapi ada orang-orang yang di hadapan Tuhan gak “berkorban” banyak, fokus pada diri sendiri, tapi Tuhan berkati juga. Tapi kemudian, apakah kita punya hak untuk menuntut keadilan?

Nah disini kita udah mulai melakukan perbandingan, perlu ekstra hati-hati ketika kita mulai membandingkan sesuatu. Tuhan kok begitu sama dia sedangkan sama saya ngga? Saya jadi ingat cerita tentang anak sulung iri dengan anak yang hilang disambut meriah, Esau vs Yakub, Kain vs Habil. Ada rasa iri ketika kita mulai membanding2kan diri sendiri terhadap orang lain. Apakah Tuhan berkenan dengan iri hati? Tentu ngga kan? Lantas gmana? *makin bingung kan?*

Sebelum makin bingung saya coba melangkah mundur sedikit…

Oke lah, kita putuskan untuk gak banding2kan, tapi isi hati gak bisa dipungkiri. Kita bisa jadi sering membaca berulang2, Mazmur 37 dan Mazmur 73. Dimana ada penghiburan ketika kita dijahati oleh orang fasik, disitu dikatakan bahwa Tuhan punya rencanaNya bagi orang fasik. Jadi bisa dibilang Tuhan lah yang akan memberikan pembalasan jika itu emang kehendakNya. Saya mengatakan amin pada apapun yang Alkitab katakan.

Kita pasti ingat dengan Ayub yang Tuhan ijinkan kehilangan harta, anak2nya, teman2nya. Dalam benak kita nasib Ayub sungguh kasihan. Mungkin bagian favorit kita adalah ketika Tuhan memulihkan Ayub. Namun, sekali lagi namun, apakah kita pernah bagaimana perasaan anak2 Ayub yang harus meninggal? Apakah anak2 Ayub berpikir Tuhan itu adil? Mungkin anak2 Ayub mikir, “apa salahku sampai aku harus meninggal dengan cara begini?”…Atau gimana perasaan ibu2 yang anaknya meninggal dibunuh pada jaman Herodes? Gimana perasaan Stefanus yang mati dilempar batu? Dimana keadilan?

Kesimpulan yang akhirnya saya dapatkan dan renungkan…

Ada masa-masa sulit dimana seringkali kita tidak mengerti apa yang kita alami. Kita merasa kita tidak mendapatkan keadilan yang kita layak dapatkan. Masa sulit tuk dimengerti ketika Tuhan seolah tidak menjawab doa kita yang tulus. Masa sulit dimana Tuhan mengijinkan/membiarkan/merencanakan hal yang gak enak dalam hidup kita.

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36).

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:28)

Dalam dua ayat di atas, fokus hidup ini bukanlah hidup kita sebagai manusia, tapi segalanya itu untuk kemuliaan Tuhan, yang telah menciptakan kita semua. Di tengah-tengah kondisi sulit, teruslah berharap padaNya karena Tuhan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatang kebaikan, the ultimate good from God’s perspective.

ps: perlu pemikiran yang sangat hati-hati ketika kita mengalami kesulitan. Bisa jadi emang kita yang bikin salah/dosa. Janganlah terlalu mudah untuk berkata, “ah, Tuhan mungkin sudah mengorbankan saya tuk kemuliaanNya”.  Teruslah berjuang, baca firmanNya, artikan dalam konteksnya, dan berdoa!

Lord, help me walk with You each day,
Attune my heart to what You’ll say;
And show me how to read and pray
When pressing needs get in my way. –Sper

And remember, God always love you.

Tagged with:  

Comments are closed.

Free WordPress Themes