Di majalah National Geographic edisi bulan November ini, ada foto sekumpulan simpanse yang terlihat sedih ketika melihat salah satu dari mereka meninggal dan akan dikubur. Wow, simpanse pun bisa merasa kehilangan. Cerita selengkapnya bisa dibaca dsini. Lalu bagaimana dengan manusia?
Sejak tinggal di luar negeri enam tahun belakangan ini, airport bukan lah suatu tempat yang asing, bahkan tidur di kursi airport pun udah dua kali *krn terpaksa*. Saya suka airport, suka duduk2 di airport, sekedar duduk sambil minum kopi atau baca buku sambil melihat pesawat mendarat atau terbang. Di airport ada moment 2-5 menit yang bisa jadi pelajaran berharga, yaitu moment ketika kita harus berpisah dengan orang yang mengantar (biasanya pas kita harus masuk tuk boarding). Gak jarang orang menangis disitu, umumnya orang berpelukan, say good bye. Di situlah paling terasa, betapa kadang kita terlalu sering “take for granted” kasih sayang, perhatian, dan keberadaan dari orang2 yang mengasihi kita. Ada rasa sedih atau kehilangan karena kita gak akan merasakan lagi keberadaan mereka secara fisik, tapi di sisi lain selalu ada harapan tuk bertemu kembali. Yang juga menarik untuk diamati ketika kita pergi ke bagian arrival, dmana yang jemput biasanya udah siap menyambut. Ada kebahagiaan di arrival, ada kesedihan di departure.
Ini baru suasana airport…dimana kita tau klo kita someday masi ada kesempatan buat ktemu orang itu. Lain cerita kalo kita duduk2 di rumah sakit, di deket ruang ICU dimana orang ada di titik mencari dan berharap pada Tuhan. Emang sih, semua orang cepat atau lambat, pasti akan meninggal dunia. Cuma ya pasti berat aja ketika hal itu datang.
Kembali ke cerita tentang airport….ketika saya peluk orang tua saya, bisa jadi itulah salah satu moment terindah dalam hidup. Mungkin terdengar agak sentimental, tapi sincerely I love them! Maka dari itu saya selalu berusaha untuk pulang setahun sekali buat ngunjungin mereka. Ketika saya mendarat di Cengkareng, pasti dijemput, dipeluk, bertukar cerita. Begitu indah.
Jujur, tanpa bermaksud berkata atas sesuatu yang di luar otoritas manusia, sekarang ini saya udah mulai ngitung, mungkin kesempatan saya pulang dan bertemu mereka cuma tersisa 10-15 kali lagi. Papa udah 62. Mama umur 59. Kadang kalo terima sms subuh2, ada rasa cemas kalo2 isi sms ini berita buruk klo mereka kenapa2. Misalnya spt dua tahun lalu mama kena kanker payudara stadium akut, tapi saya gak bisa pulang dan dampingi beliau pas operasi. Puji Tuhan operasinya lancar dan kemoterapi juga lancar. Ada rasa was2 aja sih klo jauh dari ortu. Anyhow…
Semoga kita bisa lebih menghargai keberadaan orang-orang di sekitar kita. Kalo masih ada kesempatan buat ktemu sama teman, saudara, pacar, suami/istri, anak, rekan kerja, dsb, mari kita pergunakan kesempatan yang ada tuk mengasihi mereka. Biarlah melalui hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita, kasih Tuhan bisa terpancar dan namaNya dimuliakan.
“Good bye is only painful when you know you will never say hello again”

So true..Sometimes, one just cannot appreciate something until he lost it…
Cherish the moments while you can…
Tuhan nomer 1, keluarga dan temen nomer 2