Menemukan Idols

On December 19, 2009, in Indonesian, My thought, by adimulia

Bagian dari refleksi setelah dua bulan ini baca bukunya J.I. Packer yang judulnya Knowing God. Buku ini emang sering banget direkomendasiin sama hamba Tuhan. Konon katanya, buku ini cocok buat orang yang masih dalam tahap awal mengikut Tuhan. Dalam hati saya pikir, wah itu saya. Walaupun Kristen sejak lahir, tapi perjalanan rohani sesungguhnya baru tumbuh enam tahun belakangan ini. Setelah baca dari bab satu ke bab selanjutnya, buku ini berat juga doktrinnya (bagi saya).

Di salah satu chapter buku ini membahas tentang perintah Allah kedua yang berbunyi demikian:

Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku. (Keluaran 20:4-6)

Dulu pas jaman smp, sebagai bagian dari ujian agama, saya *dengan terpaksa* menghapalkan ayat ini, tanpa terlalu peduli isinya. Yah intinya sih, beberapa perintah pertama isinya tentang Tuhan, sisanya tentang hubungan kita dengan sesama. Tapi sekarang setelah mencoba re-visit lagi, ternyata ada persepektif berbeda. Perintah yang pertama kan udah jelas, “Jangan ada allah lain di hadapanku”. Tapi kenapa perintah kedua kaya mengulang perintah pertama (secara lebih detail)? Ternyata setelah dibaca versi bahasa Inggrisnya emang sedikit lebih membantu, bunyinya begini “You shall not make for yourself a carved image, or any likeness”

Ternyata bukan cuma patung toh…tapi segala image apapun, bahkan yang serupa.

Beberapa hari setelah membaca chapter ini, saya tutup buku itu, kemudian saya lanjut lagi buku lain (yang lebih mudah dicerna). Di sela-sela itu, nyambung juga sama apa yang saya baca dari blognya Pak Agus Sadewa. Isinya tentang pertanyaan-pertanyaan menemukan idols dalam hidup kita:

  • What is my greatest nightmare? What do I worry about most?
  • What, if I failed or lost it, would cause me to feel that I did not even want to live? What keeps me going?
  • What do I rely on or comfort myself with when things go bad or get difficult?
  • What do I think most easily about? What does my mind go to when I am free? What preoccupies me?
  • What unanswered prayer would make me seriously think about turning away from God?
  • What makes me feel the most self-worth? What am I the proudest of?
  • What do I really want and expect out of life? What would really make me happy?

- Timothy J. Keller, and Redeemer Presbyterian Church 2005

Oh, saya jd teringat sama apa yang saya baca dari bukunya Packer. Seringkali emang allah-allah lain dalam hidup kita lebih dari sekedar patung, itu bisa jadi segala hal yang bisa mengalihkan pandangan kita dari Tuhan yang sejati. Bisa jadi itu adalah ketakutan kita sendiri? Sesuatu yang kita paling kita banggakan? Sesuatu yang membuat kita nyaman? Bisa jadi itu pekerjaan, rumah, barang berharga, internet, facebook, atau bahkan bisa juga dalam bentuk orang terdekat kita seperti keluarga, teman, atau juga pacar. Lebih lanjut baca bukunya Packer, yah emang dijelasin sih bahwa Tuhan itu sebenernya kita mengenal Tuhan adalah sebagai Tuhan (I am I). Tuhan gak mau dikenal atau dibatasi melalui ciptaanNya. Saya jadi teringat suatu ungkapan, “Sembahlah Tuhan, bukan apa yang diberikanNya”. Itulah yang Tuhan tuntut dari kita.

Saya memiliki suatu pekerjaan, bukan pekerjaan memiliki saya. Saya memiliki sebuah mobil, bukan mobil yang memiliki saya. Saya memiliki uang, bukan uang memiliki saya. Kalau dipikir-pikir, emang bener sih. Kita boleh memiliki sesuatu (yang tentunya Tuhan berikan), tapi jangan sampai apa yang kita punya itu berbalik jadi memiliki kita. Jangan sampai pekerjaan bisa menjadi idols, rumah menjadi idols. Oke lah kalau soal barang, itu lebih mudah dimengerti. Tapi kalau sekarang idols dalam hidup kita itu adalah orang, bagaimana? Kita bisa saja menjadikan diri kita menjadi idols (mencari kesenangan diri sendiri, hedon).

Nah, saya jadi ingat lagi sama renungan dari Pak Agus yang sempat saya sharingkan sama abang saya 1.5 tahun yang lalu. Setelah mengubek-ngubek Gmail, ternyata emailnya masih ada. Artikel tentang Ismail, cukup menarik secara selama ini kita lebih sering dengar tentang Ishak dibanding Ismail. Abraham emang cukup unik sih. Berikut petikan ceritanya:

Kelahiran Ishak yang dinanti-nanti oleh Abraham dan Sara, pun oleh kita pembaca kisah mereka, tak semeriah yang kita harapkan. Nyatanya, hanya 7 ayat diberikan untuk membicarakan hal itu. Setelah 25 tahun menanti, dan 9 pasal kita lalui, mengapa hanya begini? Kita tentu saja berharap Musa bisa menulis lebih banyak dari ini. Tapi mungkin ia hendak menyampaikan suatu pesan yang tak kalah penting dari berita kelahiran Ishak. Ada pelajaran yang Tuhan hendak berikan pada Abraham, bapa dari orang-orang beriman itu, yang pembaca perlu petik. Apakah itu?

Lihat ayat-ayat selanjutnya, mulai ayat 8. Setelah Ishak bertambah besar, ia disapih, lalu Abraham membuatkan sebuah pesta besar. Sebagai catatan: bagi orang-orang kuno di zaman Abraham, seorang anak barulah disapih pada usia 3 – 4 tahun. Jadi, umur Ismael, kakak lain ibu dari Ishak, pada waktu itu sudah sekitar 16 – 17 tahun. Ia sudah bukan kanak-kanak lagi. Maka, di ayat 17 ia disebut ‘the lad.’ Di pesta besar itulah Sara mengamuk besar. Apa gerangan sebabnya?

Ayat 9 memberitahu kita bahwa Sara melihat Ismael main dengan Ishak. Lho mengapa main-main saja dilarang? Terjemahan Indonesia (LAI) dan sejumlah versi Inggris agaknya keliru menerjemah ‘mishak’ jadi bermain. Sebenarnya dengan mempelajari struktur bahasa Ibrani secara lebih teliti, kita bisa menemukan permainan kata dalam ayat tersebut. Mishak tak lain ialah kembangan dari kata Ishak (ketawa). Terjemahan (atau agaknya transliterasi lebih tepat) yang harafiah seharusnya anak Hagar, Ismael, ‘mengishak’-kan Ishak, putranya sendiri. Oleh karena Ishak berarti ketawa, mungkin yang dimaksudkan adalah Ismael menertawai, mengolok, mempermainkan Ishak. Itulah sebab Sara mengamuk besar di pesta besar itu, di hadapan para tamu besar dan kecil ia desak Abraham agar mengusir Hagar beserta putranya itu. “Kaulah yang harus bertindak, Abraham. Sekarang juga usir hamba perempuan itu beserta dengan putranya yang amat kaukasihi itu, sebab ia tak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan putraku, Ishak.” Begitu kira-kira ia berkata pada Abraham. Mungkinkah Abraham menganggap Ismael akan menjadi ahli waris, sekurang-kurangnya bersama dengan Ishak? Nampaknya ya.

Saya menemukan hal lain tersirat dalam permainan kata ‘mishak.’ Sara menerima Ishak (ketawa) dalam hidupnya; dan itu berkat Tuhan. Tapi Ismael yang bukan ahli waris itu berlaku seakan ialah ahli waris dengan menertawai Ishak, sang ketawa yang sesungguhnya. Sara cukup tajam melihat apa yang sedang berlangsung. Jika hal ini dibiarkan, maka Ishak pun suatu hari bisa digantikan oleh Ismael. Barangkali kesalahan tak sepenuhnya bisa ditimpakan pada Ismael, oleh karena Abraham sebenarnya ikut berperan besar. Apakah Abraham telah membiarkan hal itu terjadi? Jangan-jangan ia malah melindungi Ismael dari Sara.

Maka Abraham pun sangat kesal oleh karena ihwal putranya itu (ayat 11). Perhatikan bukan perihal Hagar yang disebut, tapi putranya, Ismael. Saya yakin jika Tuhan tak bersabda padanya membenarkan apa yang dikatakan oleh Sara, ia tak akan mengabulkan permintaan istrinya itu. Sebab hatinya begitu mencintai Ismael, putra satu-satunya selama 13 tahun, bahkan setelah Ishak lahir tak mudah baginya untuk berpindah ke lain hati. Tapi ia tahu bahwa sejak awal Tuhan telah menetapkan bahwa Ishak bukan Ismael yang akan menjadi ahli waris. Ia tahu itu, Ia hanya hendak mengingkarinya.

Kecintaan Abraham pada Ismael dideskripsikan secara subtil dalam ayat 14. Urutan dalam terjemahan Indonesia lagi-lagi tak tepat. “Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi.” Tidak masuk akal, Ismael yang sudah sebesar itu masih ditaruh di bahu Hagar. Terjemahan yang lebih tepat seharusnya, “Ia meletakkan itu di atas bahu Hagar, beserta anaknya …” Jadi, Ismael berada di urutan terakhir. Mungkin itu isyarat bahwa Abraham berat sekali melepas Ismael.

Kisah Abraham menyadarkan saya akan dua hal: betapa keras hati manusia dan betapa sabar Tuhan berurusan dengannya. Tuhan tak hanya sekali mengingatkan, meneguhkan janji, dan membawa Abraham kembali ke jalan yang Ia perkenan, tapi berkali-kali. Berkali-kali Abraham jatuh, mengambil jalan yang ia pandang baik. Sempat ia tetapkan sendiri Eliezer, budaknya, menjadi ahli waris. Dua kali ia serahkan Sara kepada lelaki lain (Firaun dan Abimelekh) demi untuk menyelamatkan diri sendiri. Sekarang Ismael, buah perkawinannya dengan Hagar, budak perempuannya, pun mengancam penggenapan rencana Tuhan. Saya heran mengapa Tuhan begitu sabar. Tak pernah Tuhan menegur Abraham dengan keras. Di sini, di seluruh kisah Abraham-Sara, Tuhan bersuara lembut sekali.

Suara teguran yang keras kepada Abraham selalu datang dari pihak lain, seperti Firaun, Abimelekh, dan kali ini Sara. Walau jari telunjuk Sara barangkali mengarah pada Hagar dan Ismail, saya percaya, persoalan sesungguhnya terletak pada diri Abraham. Sebagai pemegang janji Tuhan, ia tak semestinya membiarkan Ismael mengambil hak waris Ishak. Attachment dengan Ismael yang telah terbentuk bertahun-tahun lamanya membuat Abraham lupa diri dan lupa janji. Dalam hal ini Sara, meski bercampur dengan kebencian, berkata benar: Ismael tak akan mendapat bagian Ishak. Tentu saja harus dicatat: Ismael juga akan dibuat menjadi suatu bangsa besar. Tapi itu sebuah kisah yang lain.

Kesimpulan yang waktu itu saya tulis sama abang saya begini…lucunya kondisi saya waktu itu dalam keadaan sangat baik, belum “mengerti” rasanya harus melepas teman-teman dekat yang saya kasihi dengan tulus:

Melepas sesuatu yang berharga dari hidup ini tidaklah mudah, apalagi jika yang harus kita lepas ialah seseorang yang telah bertahun-tahun kita miliki dan cintai seperti anak. Tapi Tuhan menjanjikan sesuatu yang jauh lebih baik, yang saat ini tak bisa kita terima dengan lapang dada, karena mungkin cinta kita pada dunia lebih kuat daripada cinta kita kepada Tuhan.

Kita emang bisa dengan mudah bilang kaya gini, “Yah Bram, kan Tuhan udah bilang kalo nantinya Ishak yang bakal nerusin garis keturunanmu. Kok susah amat sih ngelepas Ismail, anak dari hambamu itu? What’s the big deal, Bram?” Kalo kita jadi Abraham, kira-kira gimana? Tapi ya sepertinya Tuhan benar-benar menekankan tentang hal ini sama Abraham. Abraham mungkin tipe orang yang takut kehilangan keluarganya. Terbukti pada saat Abraham diminta mempersembahkan Ishak. Terbukti kembali pada saat Abraham berbohong bahwa Sarah bukanlah istrinya tapi saudaranya (karena takut kehilangan). Tuhan terus menguji kesetiaan iman Abraham. Maka lahirlah julukan, bapak orang beriman…

Emang (bagi saya, setidaknya) ikut Tuhan itu sulit. Segala pikiran benar-benar harus selalu tertuju pada Tuhan. Kita diminta menempatkan apa yang kita punya pada tempat yang sepantasnya. Ketika kita mengasihi seseorang, jangan sampai kita lebih mengasihi dia lebih dari Tuhan. Akhir kata, yah disini lah saya sekarang belajar dengan jatuh bangun untuk menyingkirkan segala macam “idols” yang ada dalam hidup. Semoga artikel ini bisa menjadi berkat bagi Anda sekalian.

Tagged with:  

Comments are closed.

Weboy