Artikel di bawah ini ditulis oleh abang saya pertengahan tahun 2006 yang lalu sewaktu dia masih jadi guru agama di SMAN 3 Bandung. Artikel ini sebenernya satu bab di buku karangan Charles Swindoll yg berjudul Musa. Semoga bisa menjadi berkat. Artikelnya bener-bener panjang buat dibaca (Take your time, I think it’s worth reading). ***

Satu demi satu, setiap anak berbaju putih-biru berbaris menuju aula. Ini adalah hari pertama bersekolah di SMA Negeri 3 Bandung.
Waktu berjalan begitu cepat hingga akhirnya sekarang tanpa terasa Anda sudah tiba di akhir dari tahun ajaran ini. Beberapa minggu lagi akan dilangsungkan Ujian Akhir Semester, setelah itu pembagian rapor dilanjutkan dengan libur kenaikan kelas untuk siswa kelas 1 dan 2.
Sekolah tetap ramai. Banyak orang tua mendaftarkan putra-putrinya yang baru saja lulus SMP untuk dapat melanjutkan studi di SMA Negeri 3 pada tahun ajaran baru.
Sementara siswa kelas 2 dan 3 yang baru naik kelas dari tingkat sebelumnya mengisi waktu liburan dengan berdiam diri di rumah, jalan-jalan bersama keluarga dan atau bersama teman, siswa kelas 3 yang baru saja lulus sedang berjuang dan bergumul tentang masa depannya. Kuliah atau tidak? Jika kuliah, akan mendafatar di mana saja dan mengambil jurusan apa?
Itulah rutinitas SMA.
Tuhan Yesus juga memiliki sekolah. Sekolah ini tidak memiliki ruang kelas, laboratorium ataupun lapangan olah raga. Juga tidak terdaftar di Departemen Pendidikan Nasional atau di institusi manapun. Tapi sekolah ini merupakan tempat belajar paling dalam yang pernah Anda hadiri.
Saya tahu karena saya adalah salah satu alumninya. Saya pernah berada di sana… beberapa kali. Jauh sebelum saya, Musa, salah satu pemimpin besar Israel, pernah ditempa di sekolah yang sama: sekolah padang gurun.
Pada waktu itu, ketika Musa telah dewasa, ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka; lalu dilihatnyalah seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu. Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir.
Ketika keesokan harinya ia keluar lagi, didapatinya dua orang Ibrani tengah berkelahi. Ia bertanya kepada yang bersalah itu: “Mengapa engkau pukul temanmu?”
Tetapi jawabnya: “Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu?” Musa menjadi takut, sebab pikirnya: “Tentulah perkara itu telah ketahuan.”
Ketika Firaun mendengar tentang perkara itu, dicarinya ikhtiar untuk membunuh Musa. Tetapi Musa melarikan diri dari hadapan Firaun dan tiba di tanah Midian…
>> Keluaran 2:11-15
Tanah Midian mewakili gambaran tentang sekolah Allah. Ini adalah tempat yang sunyi: batu-batuan yang tidak rata, pasir yang tak meninggalkan jejak, panas yang melemahkan hidup. Ada orang-orang yang menghabiskan beberapa minggu dalam kesunyian itu. Yang lain, berbulan-bulan. Musa berjalan di tanah tandus itu selama empat puluh tahun. Sekali lagi, empat puluh tahun.
Di sekolah inilah, Tuhan menempatkan anak-anak-Nya untuk suatu tugas khusus di dalam kehidupan. Tidak ada hal glamor, penuh dengan warna, atau hal-hal menarik mengenai padang gurun yang khusus ini. Padang gurun tidak pernah didesain untuk menjadi seperti demikian.
Wajah-Wajah Padang Gurun
Midbaar adalah kata Ibrani untuk padang gurun. Berasal dari kata dahbaar, yang berarti berbicara. Ya, inilah tempat di mana Tuhan berbicara, tempat di mana Dia mengkomunikasikan beberapa pesan yang paling penting untuk Anda.
Terpisah dari pengalaman padang gurun itu, Anda mungkin menjalani seluruh hidup Anda tanpa pernah mendengar atau mengetahui apa yang ingin disampaikan Allah semesta alam kepada Anda. Tempat terbuang – seperti padang gurun akan mengubah hal itu. Di tempat yang sunyi ini, Anda menemukan diri Anda menanggalkan semua hal di mana Anda bergantung dengan nyaman – yaitu semua hal yang Anda pikir Anda butuhkan di dalam hidup namun ternyata Anda tidak memerlukannya sama sekali.
Sangat sunyi di tempat luas, tempat buangan berpasir itu. Begitu sunyi sehingga Anda dapat mendengar detak nadi Anda di telinga Anda sendiri. Begitu sunyi sehingga Anda dapat mendengar suara Allah.
Masa padang gurun setiap orang mungkin sama sekali tidak serupa dengan padang gurun yang sebenarnya. Bisa saja di dalam sebuah rumah kosan di jalan Bali, sebuah villa di Puncak, atau apartemen yang tinggi dan mewah di Jakarta. Pengalaman padang gurun Anda mungkin dengan merawat anggota keluarga yang sakit atau merawat orang tua. Anda untuk masa waktu yang lama, di mana tidak ada pertolongan dan tidak ada kebebasan. Perhentian Anda di tanah kering ini mungkin sebuah kondisi fisik yang keras yang membuat ruang gerak Anda dibatasi. Bisa jadi luka ~ hati yang mendalam yang datang melalui pasangan Anda yang tidak setia. Atau remaja yang memberontak. Bisa dari suatu tempat di mana Anda mempunyai banyak teman dan ikatan keluarga yang baik sampai ke tempat yang terlihat aneh dan asing, di mana Anda tidak mengenal seorang pun. Anda merasa terasing… tersisihkan. Itu bisa juga sebuah kegagalan di sekolah, penolakan oleh sahabat lama, kebosanan, pekerjaan yang tidak dihargai, atau sebuah batas waktu yang menggilas Anda seperti sebuah beban berat yang kasar.
Padang gurun mengenakan banyak wajah. Bisa jadi penuh dengan orang-orang, namun kesepian. Bisa jadi hujan siang dan malam tanpa henti, namun tetap tandus. Bunga-bunga mungkin bermekaran dan pohon-pohon mungkin bertunas di sekitarr Anda, namun Anda masih saja merasa terisolasi.
Apakah Allah tahu? Apakah Dia mengerti? Dia paham dengan sangat baik, temanku. Lagipula, Dialah yang menaruh Anda di sana. Sekolah-Nya termasuk waktu dalam padang gurun. Di sanalah Dia mendapat perhatian Anda.
Auman Padang Belantara
Di dalam kitab Ulangan 32, Roh Kudus menulis kata-kata tentang perjalanan bangsa Israel.
Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.
>> Ulangan 32:10
Kata ‘-Nya’ dalam ayat ini adalah Allah, dan kata ‘dia’ merujuk kepada orang-orang Ibrani. Tetapi marilah Anda menerapkan kata-kata Tuhan ini kepada diri Anda sendiri. Taruh nama Anda di dalam ayat yang menyebut kata ‘dia.’ Didapati-Nya …(Anda)… di suatu negeri, di padang gurun. Allah mendapati …(Anda)… di tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dan diawasi-Nya …Anda… Dijaga-Nya …Anda… sebagai biji mata-Nya.
Tuhan, yang membuat Anda berada dalam padang gurun itu, mengetahui dengan persis pengalaman tanah terbuang yang seperti apa yang Anda butuhkan. Dia tahu persis tempat yang tepat di mana keriuhan hidup didiamkan, dan Anda akan mampu mendengar suara-Nya. ‘Auman padang belantara’ Anda bisa sangat berbeda dari pengalaman saya. Allah tahu kedalaman hati setiap Anda; Dia memahami apa yang diperlukan untuk membebaskan Anda dari tongkat-tongkat penyangga yang menghalangi Anda berlari dalam kehendak-Nya dan dari suara-suara yang menahan Anda untuk mendengarkan petunjuk firman-Nya dan kasih-Nya yang lembut. Dia mengetahui bagaimana mengatur kurikulum Anda di sekolah padang gurun ini, membangun suatu kualitas karakter dalam hidup Anda yang jika Anda tidak mengikuti-Nya Anda tidak dapat memperolehnya.
Isolasi selalu menjadi bagian dari pengalarnan padang belantara. Jangan pernah lupakan hal itu. Sekali Allah menemukan padang gurun apa yang Anda perlukan, Dia memimpin Anda masuk ke dalam bis dan kemudian pergi ke sana, Setidaknya seperti itulah kelihatannya. Dan perasaan yang tiba-tiba Anda alami adalah:
- “Allah hilang! Dimanakah Dia?”
- “Dia meninggalkanku di tempat ini!”
Di tengah pengalaman yang menyakitkan Anda tiba-tiba mendapati diri Anda tidak lagi dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang biasanya dapat Anda lakukan. Ketakutan menguasai Anda. Anda mengatakan kepada diri Anda sendiri, “Saya kehilangan karunia-karunia rohani saya. Saya tidak berguna lagi. Saya dilupakan! Allah meninggalkan saya. Waktu semakin singkat. Kesempatan-kesempatan telah lewat. Saya tidak pernah dapat keluar dari tempat ini.”
Sebelum Anda melanjutkan perjalanan untuk dapat merasakan perasaaan ditinggalkan, bagaimanapun juga, Anda perlu untuk melihat lebih dekat ke ayat di kitab Keluaran ini. Di tempat ‘auman padang belantara’ Allah melakukan empat perkara. Pertama, Dia mengelilingi Anda. Kedua, Dia mengawasi Anda. Ketiga, ‘Dia menjagai Anda sebagai biji mata-Nya. Bukankah hal itu sangat indah? Pada saat Anda memikirkan tentang hal itu, Anda menyadari biji mata Anda adalah bagian yang paling terlindung di seluruh tubuh Anda. Anda tidak akan membiarkan seorang pun menyentuhnya. Anda melindunginya dengan perawatan yang sangat baik. Anda mengamankannya dari sinar matahari. Anda merawatnya terus-menerus. Apabila ada benda kecil yang menyentuh membrannya, Anda mengambil langkah yang paling cepat untuk mengeluarkannya dari mata Anda.
Di padang gurun, Andalah biji mata Allah. Untuk membuat Anda takjub, Anda akan mendapati bahwa Allah tidak membiarkan atau meninggalkan Anda. Faktanya, Dia memperhatikan Anda lebih daripada waktu-waktu lain dalam kehidupan Anda. Biarlah pikiran itu membuat Anda menjadi berani, adikku. Jika Anda menemukan diri Anda ada di padang gurun hari ini.
Hal keempat yang Dia lakukan adalah menuntun Anda. Tidak peduli apakah Anda mengetahuinya atau tidak, merasakannya atau tidak. Bahkan Anda percaya atau tidak, Allah tidak menarik tangan-Nya dari hidup Anda. Anda akan merasa ditelanjangi dan diamat-amati di tanah yang kosong itu, namun sebelumnya Dia mengembangkan sayap-Nya untuk menaungi Anda.
11Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya, 12demikianlah TUHAN sendiri menuntun dia, dan tidak ada allah asing menyertai dia.
>> Ulangan 32:11-12
Tuhan sendiri (ayat 12). Ya, Dia sendiri yang menuntun Anda. Tidak ada orang lain yang menuntun Anda melalui padang gurun. Tidak ada rambu-rambu, tidak ada kios-kios informasi, tidak ada peta dengan tanda panah yang tertulis ‘Anda berada di sini. Faktanya, Anda tidak mengetahui di mana Anda berada. Anda tidak mengetahui kapan (atau bilamana) Anda meninggalkan padang belantara yang menekan itu. Namun Allkitab sendiri yang telah memberitahukan kepada Anda bahwa Dia sendiri yang menuntun Anda.
Pintu Masuk ke Padang Gurun
Bagaimana dan kapan setiap orang masuk ke padang gurun bisa jadi berbeda-beda. Anda mungkin sedang menikmati studi di institusi pendidikan bergengsi (yang mungkin membuat dirinya merasa ‘lebih’ daripada orang lain) berpikir mereka akan memiliki prospek yang gemilang setelah selesai kuliah. Tetapi sekarang, untuk alasan apapun, Anda menemukan diri Anda berakhir dalam kegagalan.
Mungkin Anda adalah seorang atlet sekaligus pelajar, dan Anda berusaha selama bertahun-tahun untuk menajamkan kemampuan Anda hanya untuk menjadi pemain cadangan pada tahun Anda seharusnya menjadi senior karena sekarang ada seorang adik kelas yang lebih bersinar, merenggut posisi Anda dari susunan pemain inti.
Mungkin Anda menikmati kesehatan yang baik dan kekuatan selama hidup Anda, dan tiba-tiba dokter memberitahu Anda, “Anda tahu. Saya mendeteksi sebuah noda di paru-paru Anda. Sejujurnya, saya tidak menyukai apa yang saya lihat itu.” Atau, “Kami sudah memeriksa biopsi, dan kelihatannya tidak baik. Sebenarnya, ada sesuatu yang ganas di situ.”
Infomasi seperti itu membuat Anda bergetar, dan dalam hati Anda menangis, Di manakah Allah? Bagainana saya dapat berlindung? Bagaimana saya menanganinya? Atau Anda adalah seorang lajang, menunggu (dan menunggu) orang yang tepat yang melangkah ke dalam hidup Anda. Bulan demi bulan dan tahun demi tahun telah berlalu, harapan Anda untuk dibelai dan disayangi sudah sama seperti nyala lilin yang mulai bergoyang-goyang.
Bagi yang lain, padang gurun itu adalah perkara yang memilukan dari seorang yang sangat Anda kasihi telah meninggalkan Anda, tanpa harapan bahwa dia akan kembali. Dia telah pergi. Dan angin hambar mulai bertiup. Atau Anda menemukannya melalui sebuah rantai peristiwa di mana sahabat karib Anda memfitnah Anda. Sebuah pintu lain menuju padang gurun!
Kering. Sendirian. Anda merasa muram dan sedih. Tetapi apapun emosi Anda, Alkitab berkata Anda tidak sendiri. Allah berada di sana. Dia mengelilingi Anda. Memperhatikan Anda. Menjagai Anda seperti biji mata-Nya. Dan Dia berjanji akan menuntun Anda melewati habitat aneh yang tanpa petunjuk ataupun jalan pintas itu. Anda tidak meninggalkan Dia, atau Dia tidak meninggalkan Anda. Faktanya, Dia mungkin lebih dekat kepada Anda di masa-masa seperti ini daripada sebelumnya.
Padang Gurun Dibuat Khusus Untuk Anda
Dengar apa yang Musa sampaikan kepada orang Israel mengenai apa yang harus mereka lakukan ketika memasuki Tanah Perjanjian:
Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.
>> Ulangan 8:2-3
Mengapa Allah memimpin kita melalui padang gurun? Mari kita mencari jawaban dari Musa, yang merupakan seorang yang ahli dari sekolah padang belantara Allah. Itu supaya Ia merendahkan hati kita, menguji kita, sehingga kondisi hati kita yang sebenarnya disingkapkan. Tidak untuk supaya Allah mengenal Anda (karena Dia telah mengenai Anda), tetapi supaya Anda mengenai diri Anda sendiri. Tidak ada tempat yang seperti padang gurun yang membantu Anda mengenai diri Anda sendiri.
Pada saat Anda mengungkap semua perangkap, menanggalkan semua topeng, melucuti semua pakaian yang palsu, Anda mulai melihat identitas yang asli – wajah yang tidak pernah tampak selama bertahun-tahun. Bahkan mungkin tidak pernah tampak. Itulah yang padang gurun lakukan untuk Musa. Itulah yang dilakukannya untuk saya, di dalam persinggahan padang belantara dari kehidupan saya. Itu akan merendahkan hati Anda. Itu akan menunjukkan kekuatan dan kelemahan Anda. Itu akan membantu Anda menemukan diri Anda sendiri seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Lagu klasik ‘How Firm A Foundation’ (1787) melukiskan hal ini dengan sangat baik.
When through fiery trials thy pathways shall lie,
My grace, all sufficient, shall be thy supply;
The flame shall not hurt thee; I only design
Thy dross to consume, and thy gold to refine.Ketika melalui panasnya alur pencobaan jalanmu terhampar
Kasih karunia-Ku cukup memenuhi kebutuhanmu
Api tak akan menyakitimu; Aku telah merancang
itu hanya membakar kotoranmu, memurnikan emasmu
Allah tidak pernah menaruh kita melalui dapur api yang mengerikan di padang gurun untuk menghancurkan kita. Dia melakukannya untuk memurnikan kita.
Tidak Ada Jalan Pintas
Tidak ada jalan keluar (kabur atau melarikan diri) dari padang gurun sebelum waktu-Nya. Tidak ada cara apapun yang sanggup mempersingkat waktu-Nya. Seorang penulis dengan bijaksana berkata: “Waktu bukanlah obyek bersama Allah, yang menuntut kualitas dengan segala harga yang harus dibayar. Di sana tidak ada cacat akibat penggosokan di bawah tahun-tahun latihan pendisiplinan, atau usaha untuk mengambil jalan pintas. Itu akan terbukti menjadi jalan kuldesak (jalan buntu).”
Betapa benar. Jika Anda mencoba membuat jalan pintas dalam perjalanan padang gurun Anda, Anda akan memimpin diri Anda ke dalam jalan buntu.
Anda akan tetap berada di padang gurun untuk belajar melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah Anda bayangkan akan Anda lakukan. Anda belajar mentoleransi ketidakenakan dan bertahan dengan situasi itu; Anda belajar menerima sejumlah keadaan yang tidak pernah Anda bayangkan akan menjadi bagian di dalam hidup Anda. Itu semua adalah bagian dari pelatihan, sebuah tingkatan dalam kurikulum di universitas padang belantara Allah. Setidaknya ada empat perkara penting yang bisa Anda pelajari di sekolah padang gurun.
Bidang Kegelapan
Bayangkan Musa yang menjadi selebritis di Mesir. Ia adalah seorang pangeran. Sorotan cahaya lampu mengikuti ke mana pun dia melangkah, sama banyaknya dengan cahaya lampu yang mengikuti pangeran William dan pangeran Harry dari Inggris. Setiap kali Musa berdiri, orang-orang menatapnya penuh harap. Setiap kali dia berbicara kepada mereka, orang-orang berhenti berbicara dan mendengarkannya. Setiap kali dia melangkah melewati jalan-jalan, kepala-kepala berpaling.
Kini, Musa bersama dengan para domba. Anda dapat mengatakan apa saja yang ingin Anda sampaikan. Anda dapat berkata-kata indah ketika membawakan puisi atau bernyanyi. Tapi kawanan domba tidak akan terkesan sama sekali.
Jika seorang teman Musa pada masa mudanya mengunjunginya, mungkin dia akan berkomentar, “Musa, engkau dulunya adalah yang terbaik di dalam latihan-latihan militer. Sekarang? Lihatlah, ‘pasukanmu’ hanya sekumpulan domba yang lamban.”
Mungkin Anda mengenal situasi ini. Anda sudah mengikuti berbagai macam pendidikan dan pelatihan. Dan Anda bertanya, “Mengapa Tuhan menempatkan aku di sini?”
Jawabannya karena Ia ingin kita terus belajar. Belajar untuk bergulat setiap hari dengan keterbatasan yang Anda miliki untuk bertahan. Anda dipaksa oleh padang gurun yang sebenamya untuk menyerahkan hak milik Anda, harta Anda, dan aktivitas yang sangat Anda sukai. Sekarang Anda ‘pasrah’ bertahan di atas dasar kehidupan. Itulah rencana Allah, adikku. Dan jika Anda ingin lulus dari sekolah padang gurun-Nya, Anda harus mengambil kelas kegelapan; itu adalah syarat pendidikan pertama di sekolah tersebut.
Seorang pujangga bernama Amy Carmichael menuliskan kata-kata ini:
Sebelum angin yang bertiup reda,
Ajarkan Aku untuk berdiam dalam ketenangan-Mu;
Sebelum kesakitan berlalu dalam damai,
Biarkan aku, ya Allah, untuk menyanyikan Mazmur.
Jangan biarkan aku kehilangan kesempatan untuk membuktikan
Kepenuhan dari kaslh yang memampukan.
Oh, Allah yang kasih, lakukanlah hal ini untukku:
Mempertahankan kemerdekaan yang tetap.
Inilah kebenaran yang tidak dapat dipungkiri. Jika Anda tidak belajar untuk tinggal tenang dengan kegelapan, maka Anda akan mengulangi pendidikan ini sampai Anda bisa melakukannya. Anda tidak dapat melompati bagian ini dan kemudian dianggap lulus.
Semua anak yang dikasihi Tuhan pernah belajar tentang kegelapan. Dalam film The Hiding Place, salah satu tayangan memperlihatkan Corrie Ten Boom sedang berkata kepada Allah bahwa ia ingin agar Dia memakai Corrie dengan cara apapun yang berkenan kepada-Nya, walaupun hal itu berarti kegelapan. Segera setelah itu, dia dijadikan tawanan oleh Nazi, bersama-sama dengan ayahnya. Dia lalu di pisahkan dari ayahnya. Ayahnya meninggal di dalam kamp kematian, lalu dia dipisahkan dengan paksa dari saudara perempuan yang dikasihinya. Kemudian Nazi mencampakkan Corrie ke dalam sel yang dingin dan lembab di Jerman. Pada akhir tayangan itu, dia tergeletak di sudut menggigil, dan dengan mata yang dipenuhi dengan linangan air mata dia berbisik kepada Tuhan, “Tetapi Allah, aku tidak tahu kalau aku harus sendiri.”
Itulah kegelapan.
Kita bisa mengatasi hampir semua hal selama di sana ada orang lain yang mendukung dan menolong kita untuk memikul beban. Tetapi dalam sekolah padang gurun Allah, kampusnya kosong, Tidak ada orang dalam organisasi siswa kecuali Anda sendiri, sebuah buku teks berjudul Kegelapan, dan banyak waktu untuk membaca buku itu.
Bidang Waktu
Mendengar perkataan itu, larilah Musa dan hidup sebagai pendatang di tanah Midian. Di situ ia memperanakkan dua orang anak laki-laki. Dan sesudah empat puluh tahun tampaklah kepadanya seorang malaikat di padang gurun gunung Sinai di dalam nyala api yang keluar dari semak duri.
>> Kisah Para Rasul 7:29-30
Empat puluh tahun!
Musa datang ke padang gurun sebagai pendatang, dan empat puluh tahun kemudian, sekolahnya baru usai. Jadi selama tahun-tahun itu – dengan mempertimbangkan bahwa tahun-tahun itu adalah tahun-tahun di mana seseorang paling produktif – Musa menggembalakan kawanan domba di tempat yang mirip dengan halaman depan dunia orang mati.
Cepat. Ditekan. Dipadatkan. Bak-buk-bak-buk selesai. Begitulah cara hidup jaman modern. Tidak demikian cara belajar di padang gurun Allah. Ketika tiba saat berjalan bersama Allah, tidak ada hal yang disebut kedewasaan yang instant. Allah tidak memproduksi orang-orang kudus-Nya secara massal. Allah selalu menanganinya satu per satu, dan selalu berjalan lebih lama daripada yang kita harapkan.
Seorang aktivis tidak sabaran seperti Musa perlu tahun-tahun seperti itu di padang gurun agar dia melepaskan semua yang ia genggam erat selama ini – untuk meninggalkan jalur cepat dan menemukan jalur Allah. Pekerjaan Allah pelan namun teliti. Ia melakukannya untuk menajamkan Musa dan kemudian memakainya sebagai seorang yang tak pernah dipakai seperti itu sebelumnya.
Bidang Kesunyian
Banyak orang tidak tahan dengan kesunyian. Mereka merasa asing dengan kesunyian (mungkin itu sebabnya MP3 player maupun Apple i-Pod laku keras di pasaran).
Kesunyian memiliki suara yang menarik. Saya hampir lupa seperti apa. Jika Anda juga telah lupa, Anda perlu berjalan-jalan. Pergilah sejauh yang Anda perlukan untuk menjauh dari dengungan dan deruman dan keributan masyarakat. Jangan ke pantai, karena tempat itu adalah tempat dengan bunyi deburan yang terus-menerus. Tidak, Anda perlu mendaki tinggi ke atas gunung atau ke padang gurun, atau ke padang rumput luas di suatu tempat. Dan silakan, tinggalkan Walkman dan CD player Anda. Ambillah waktu untuk berdiam dan mendengar kesunyian yang mendalam.
Hal itu menakjubkan. Diamlah di sana untuk waktu yang cukup lama dan Anda mungkin mulai memperoleh kepekaan pada hal-hal yang telah Anda lupakan. Pikiran Anda akan mulai menyelidiki dangkalnya tingkat permukaan tempat di mana kebanyakan dari kita menghabiskan waktu kita. Memberikan waktu lebih lama di lingkungan itu, maka Anda akan menemukan diri maka Anda bertumbuh lebih dalam.
Bertahun-tahun, telah menjadi penyelidikan saya bahwa orang-orang terbesar di dunia adalah orang-orang yang telah mengalami kesunyian. Banyak seniman dan pemahat di dunia, mereka yang telah meninggalkan warisan berupa musik dan seni kepada kita, adalah orang-orang yang mengalami kesunyian dan kesendirian. Beberapa pemimpin besar dunia adalah orang-orang yang pemah menjalani hidup dalam keadaan kesepian.
Dalam karir panjang Musa sebagai seorang pemimpin, dia telah dipertanyakan, diserang, dituduh, dibenci dan dikhianati. Melalui itu semua, dia mengatasinya sendiri. Bagaimana dia bisa melalui itu semua? Bagaimana dia bertahan? Dia telah dilatih untuk menanganinya. Dia telah lulus dari sekolah padang gurun Allah bidang kesunyian. Dia telah belajar dengan baik. Dia tidak lagi membutuhkan orang lain untuk menepuk (menyemangati) dia dari belakang. Dia dapat benar melakukan apa yang Allah suruh untuk dia lakukan, bahkan di hadapan kenyataan yang pahit.
Bidang Ketidaknyamanan
Tandai itu. Tidak ada yang nyaman tentang Midian.
Itu adalah tempat yang keras, panas yang menekan dan sangat tidak diperhitungkan dalam hal kenyamanan ciptaan. Musa, yang telah diangkat keluar dari Sungai Nil sewaktu bayi dan tinggal di dekat sungai besar itu pada sebagian besar waktu empat puluh tahunnya, harus menyesuaikan diri di tempat di mana air menjadi komoditas yang sangat berharga. Dia belajar untuk hidup dengan tenggorokan yang kering, bibir pecah-pecah, dan kerutan abadi di ujung mata yang melindunginya dari sinar matahari yang menyilaukan.
Itulah kurikulum sekolah Allah di padang gurun; empat bidang utama dalam pendidikan supaya dapat lulus. Perhatikan dengan seksama bagaimana suatu proses terjadi melalui tahun-tahun belajar di padang gurun, karena hal itu sama dengan Anda dan saya. Allah harus menghancurkan beberapa penghalang luar yang keras dalam hidup kita sebelum Dia dapat memperbaharui jiwa kita. Tujuan utamanya adalah menerobos ke dalam batin kita. Seperti yang dikatakan Daud, “Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku” (Mazmur 51:8).
Apa itu kerak dalam hati, dan bagaimana Dia menerobos ke bagian tersembunyi? Pertama, Dia menemukan kesombongan lalu Dia menggunakan ampelas kegelapan untuk menyingkirkannya secara perlahan-lahan.
Lalu Dia menemukan kita dicengkeram ketakutan – trauma; masa lalu kita, kekuatiran akan masa depan kita, dan teror terhadap apa yang ada di depan – dan Dia menggunakan waktu-waktu yang berlalu untuk menyingkirkan ketakutan itu. Kita mempelajari hal-hal itu di luar kekuasan kita sama sekali; semuanya ada di angan-Nya.
Pertemuan selanjutnya adalah penghalang berupa dendam atau kebencian – tirani kepahitan. Dia menghancurkan kerak itu dengan kesunyian. Dalam hadirat-Nya yang sunyi, kita memperoleh sudut pandang yang segar, perlahan-lahan kita melepaskan hak-hak berharga kita, dan melepaskan pengharapan yang menyandera kita.
Akhirnya, Dia turun ke kebiasaan dasar dalam hidup, begitu dekat ke dalam batin, dan di sana Dia membawa ketidaknyamanan dan kekerasan untuk menyingkirkan kerak terakhir yang masih ada. Mengapa? Begitulah Dia memperbaiki kita di akar terdalam dari kehidupan kita.
Sampah kita untuk dibakar… emas kita untuk dimurnikan.
V. Raymond Edman adalah Presiden dari Perguruan Tinggi Wheaton selama beberapa tahun, sebelum kematiannya yang tiba-tiba. Di dalam buku kecilnya yang berjudul In Quietness and Confidence, Dr. Edman menjelaskan pengalaman padang gurun pribadinya.
“Sesuatu yang menyakitkan terjadi kepadaku. Inilah caraku menghadapinya: Aku berdiam untuk suatu waktu bersama Tuhan, lalu aku menuliskan kata-kata ini untuk diriku sendiri:
Pertama, Dia membawaku ke sini. Dengan kehendak-Nya, aku berada di tempat sempit ini: karena itulah aku beristirahat.
Kemudian, dia menjagaiku di sini dalam kasih-Nya, dan memberikanku kasih karunia.
Lalu, Dia akan membuat ujian berkat, mengajarkan aku pelajaran yang Dia inginkan untuk kupelajari, dan mengerjakan di dalamku kasih karunia yang Dia perlu anugerahkan
Terakhir, dalam waktu-Nya yang tepat Dia dapat membawa aku keluar lagi – bagaimana dan kapan hanya Dia yang mengetahuinya.
Biarkan aku berkata aku ada di sini, pertama, oleh karena pemilihan Allah, kedua, dalam perlindungan-Nya, ketiga, dibawah pelatihan-Nya, keempat, untuk waktu-Nya.”
Tidak semua lulus. Kalaupun lulus, tidak semua telah mencapai tingkat kedewasaan yang sama dalam perjalanan kita bersama Yesus Kristus. Faktanya, ada tiga respon (tanggapan) yang berbeda yang dapat kita tawarkan ketika kita menemukan diri kita sendiri berada dalam padang belantara. Saya mengakui, saya pernah memberikan ketiga macam respon ini dalam hidup saya.
Respon pertama: “Saya tidak membutuhkannya.”
Ini adalah respon kesombongan. Kita merasa bahwa teman sekelas kita membutuhkannya. Orang tua kita membutuhkannya. Guru kita membutuhkannya. Tetangga kita membutuhkan pengalaman seperti ini. Pasangan hidup saya membutuhkannya. Pembimbing rohani saya membutuhkannya. Atasan saya jelas membutuhkannya.
Tetapi saya? Saya tidak membutuhkannya!.
Respon kedua: “Saya lelah akan semua hal ini.”
Ini adalah respon yang tidak memandang jauh ke depan.
Respon ketiga: “Saya menerimanya.”
Inilah respon yang ingin Allah dengarkan. Respon dari kedewasaan.
Rasa sakit mengetuk pintuku dan berkata
Bahwa ia harus datang dan tinggal;
Dan sekalipun aku tidak menyambutnya
Tetapi mengenyahkannya, ia masuk.
Dan seperti bayang-bayangku sendiri, ia mengikutiku
Dan dari tikamannya, pudang yang menyebabkan pedih,
Tak satu momen pun aku bebas.Dan kemudian satu hari yang lain mengetuk
Sangat lembut di pintuku
Aku berkata, “Tidak, sudah rasa sakit ada di sini.
Tidak ada kamar yang lebih”Kemudian aku mendengar suara-Nya yang lembut
“Ini Aku, jangan takut.”Dan sejak hari itu la masuk -
Ah, Ia membuat sesuatu yang lain
Pernahkah Anda menemukan diri Anda berkata sesuatu seperti ini? “Tuhan, Aku memberikan hidupku kepada-Mu tetapi aku benar-benar kelelahan terhadap pengikisan ini, orang ini, keadaan ini, situasi yang tidak nyaman ini. Aku rnerasa terperangkap, Tuhan. Aku ingin kebebasan – aku harus bebas! Dan apabila Engkau tidak membawa hal itu segera… Aku akan…. ”
Anda bisa saja terus berjalan menjauh tetapi tidak ada jalan pintas. Inilah rencana yang lebih baik: raihlah tangan Penuntunmu! Dialah Tuhan atas padang gurun. Bahkan padang gurunmu. Obyek dari kasih Allah yang paling berharga adalah anak-Nya yang berada di padang gurun. Dan apabila mungkin, Anda lebih berarti bagi-Nya saat-saat ini lebih dari kapan pun, Anda sama seperti biji mata Allah. Andalah murid kesayangan-Nya yang mengambil pelajaran terkeras-Nya. Dia mengasihi Anda dengan kasih yang tiada terbatas.
Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!
>> Wahyu 3:19
Tuhan Yesus sendiri dibawa oleh Roh ke padang gurun (Matius 4:1). Ia mengerti setiap jengkal pasir di padang gurun. Ia telah melalui padang gurun yang paling buruk dari semua padang gurun yang ada, pernah ada, dan yang akan ada.
Tuhan Yesus sendirian. Tidak ada yang pernah sesendiri Dia di tempat itu. Dia ditolak. Dia hidup dalam kegelapan. Dia mengalami penderitaan yang paling buruk yang dapat diberikan dunia dan neraka. Di atas salib Dia begitu kekeringan sehingga berkata, “Aku haus.” Dan ketika malam padang gurun itu adalah yang tergelap, Dia berteriak, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Yesus adalah yang pertama kali melintasi padang gurun itu. Dia merasakan panasnya. Dia mencicipi kesendiriannya. Dia menerima kegelapannya. Dia menghadapi Setan sendirian sementara angin padang gurun mengaum di sekelilingnya. Dan Dia tidak akan, tidak akan pernah melupakan atau meninggalkan salah seorang dari yang mengikuti-Nya mengarungi pasir padang gurun.

This is very nicely done article…Thumbs up for your big bro.
Thanks for posting this. It’s been such a blessing for me..
Tuhan menempa kita supaya kita dimurnikan, supaya semua indah pada waktunya. WaktuNya, bukan waktu kita.
A touching video yang mengajarkan saya [dan mudah2an bagi siapa juga yang melihat] tentang ketabahan dan kesungguhan untuk beriman pada Tuhan.
http://www.youtube.com/watch?v=RcjkJp9VxY8
God bless u, Tin!
Yes, in the midst of our life,
May God grant all of us the serenity
to accept the things we cannot change;
courage to change the things we can;
and wisdom to know the difference.
Living one day at a time;
Enjoying one moment at a time;
Accepting hardships as the pathway to peace;
Taking, as He did, this sinful world
as it is, not as we would have it;
Trusting that He will make all things right
if we surrender to His Will;
That we may be reasonably happy in this life
and supremely happy with Him
Forever in the next.
Amen.
–Reinhold Niebuhr