Suatu pagi di jalan tol dalam kota Jakarta, seorang pemuda melajukan mobilnya 150 kpj. Apes tak bisa ditolak, mobil polisi patroli jalan tol mengejar pemuda tsb. Tumben2nya, polisi patroli jalan tol peduli dengan orang ngebut di Indonesia. Berikut percakapan yang terjadi antara pemuda tsb dengan polisi berpangkat kopral itu.
Kopral : Selamat pagi, bisa lihat SIM anda?
Badu: Waduh, saya gak punya pak.
Kopral: Kenapa?
Badu: SIM saya lagi ditahan di pengadilan gara2 kemarin ditilang.
Kopral: Hmmm…coba mana STNK?
Badu: Itu juga gak ada pak. Saya baru aja mencuri mobil ini.
Kopral: Hah? Anda mencuri mobil ini?
Badu: Iya pak. Saya membunuh orangnya, dan mayatnya masih ada di bagasi.
Kopral sontak kaget/takut kemudian berlari cepat ke mobilnya dan memanggil bala bantuan. Lima menit kemudian, tiga mobil polisi dengan senjata lengkap tiba di tempat kejadian. Sersan ambil alih situasi dan berbicara sama pemuda tsb. Berikut percakapannya yang terjadi.
Sersan: Pak, tolong keluar dari mobil.
Badu: *Keluar mobil dengan santai* Iya, ada apa pak?
Sersan: Anak buah saya bilang anda baru mencuri mobil ini dan membunuh pemiliknya.
Badu: Hah? Membunuh pemilik mobil ini?
Sersan: Iya, bisa tolong buka bagasinya pak?
Badu: *Membuka bagasi, dan di bagasi gak ada apa2*
Sersan: Ini mobil anda?
Badu: Iya pak, ini saya ada STNK-nya dan juga SIM saya.
Sersan: *Semakin bingung* Anak buah saya bilang anda mencuri mobil ini, membunuh pemiliknya, dan menaruh mayatnya di bagasi.
Badu: *Sambil menggelengkan kepala* Saya yakin pembohong itu juga bilang kalau saya ngebut?
Haha…
Some people go to great lengths to cover their sin.
But let’s be honest, we are no different (:
***
Saya jadi inget “cover-up” pertama kali di dunia oleh Adam dan Hawa. Di Kejadian 3. Sesaat setelah makan buah terlarang, ketika mereka mendengar langkah Tuhan, bersembunyilah mereka (ayat 8). Bisa dibilang, inilah salah satu natur dosa, rasa bersalah. Lanjutin baca ayat 9, Tuhan mencari mereka, “Di manakah engkau?”. Tuhan bukannya gak tau Adam & Hawa ada dimana, tapi ngapain Tuhan nanya? Tuhan kan sebenarnya tau Adam & Hawa lagi bersembunyi. Imho, Tuhan beri kesempatan Adam untuk menjelaskan apa yang terjadi (dan hopefully mengaku dosa). Tapi seperti yang kita ketahui Adam nyalahin Hawa. Hawa nyalahin ular. Dan akhirnya diusirlah mereka dari taman Eden.
See…satu dosa, satu cover-up, semua manusia yang harus nanggung sampai sekarang.
Dan sifat menutup-nutupi dosa pun berlanjut, Kain membunuh Habel, lagi-lagi Tuhan tanya, “Dimana Habel?”. Kain bilang “Aku tidak tahu!”…kisah-kisah cover-up berulang terus, bahkan sampai ke jaman Daud, kegiatan menutup-nutupi dosa semakin canggih dan keji.
***
Sebelumnya, ketika kita membaca artikel ini, saya mengajak pembaca untuk merefleksikan kisah-kisah ini ke dalam kehidupan masing-masing. Kadang kita begitu mudah untuk menjadi judgmental atau menghakimi Daud, padahal kita sendiri tidak berbeda dengan Daud. Daud yang akan kita bahas adalah Daud yang sama yang dipilih Tuhan, Daud yang artinya “a man after God’s heart”. Oke, mari kita bahas tentang “cover-up” atau mungkin lebih tepatnya konspirasi Daud – Betseba.
Coba bayangin situasi Daud. Waktu itu Daud umurnya sekitar 50 tahun. Udah 20 tahun jadi raja. Menang perang terus. Dia tau Tuhan berada di pihaknya. Mungkin karena saking nyamannya, Daud mulai melanggar perintah Tuhan. Misalnya, Tuhan melarang Daud memperbanyak istri (Ulangan 17:14-17), tapi Daud menambah istri terus. Daud mestinya pergi berperang, tapi dia ada di istana, membiarkan anak buahnya berperang (2 Sam 11:1). Dengan kondisi seperti ini lah, Daud jatuh.
Di sisi lain, Betseba yang kata Alkitab sangat cantik (2 Sam 11:2), mandi di atap rumah. Mungkin common pada jaman itu, tapi di salah satu buku commentary yang saya baca, Betseba sebenarnya sadar kalau dia mandi di atap, dia bisa terlihat dari Istana Daud (hmmm…Betseba sendiri menyebar temptation?). Daud yang udah penuh lust menyuru anak buahnya cari info tentang Betseba, dan anak buahnya menjawab “Dia itu Betseba, istrinya Uria”. Disini anak buahnya udah coba peringati Daud kalo ybs itu istri orang. Singkat cerita, terjadilah perzinahan, Daud menghamili Betseba.
“Cover-up” dimulai. Daud tau dia salah. Tapi dia coba tutupi kesalahan dia, dia coba menyelesaikan masalah dengan cara manusia. Dia atur sedemikian rupa supaya Uria pergi berperang dan mati. Kemudian setelah Uria meninggal, Daud menikahi Betseba. Tapi walaupun Uria udah meninggal, Daud kemudian menikahi Betseba, tapi Daud malah merasa semakin miserable, semakin merasa bersalah, hancur-hancuran. Ada rasa bersalah (guilty) yang Tuhan ijinkan terjadi di dalam hati Daud.
Mazmur 32:3-4 yang dia tulis demikian:
Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. (Mazmur 32:3-4)
***
Bukan kah kita juga pernah (atau mungkin sering?) mengalami seperti itu. Kita sering berkata “Tuhan, jangan lihat aku sekarang. Tuhan tutup mata dulu lah”. Kemudian kita melakukan apa yang sebenarnya Tuhan udah larang, walaupun mungkin larangan itu adalah hal yang kecil. Ujung-ujungnya setelah melakukan dosa, ada rasa bersalah yang membuat hidup semakin hancur. Kita merasa Tuhan menjadi jauh (padahal kita sendiri yang lagi bersembunyi dari Tuhan?). Kalau kita pikir, dari jaman Adam & Hawa sampai sekarang yang kita alami, polanya sama. Tuhan larang –> Tuhan peringatkan –> Kita melarang perintah Tuhan –> Kita merasa bersalah –> Kita coba cari solusi sendiri –> Kita merasa hancur/miserable, hidup penuh dengan rasa bersalah dan menyesal.
Baru-baru ini “cover-up” Tiger Woods baru terkuak di media. Hidup rumah tangga yang berantakan dipoles sedemikian hingga (dengan biaya jutaan dollar), agar terlihat baik di hadapan orang. Saya yakin dalam hatinya, Tiger Woods sendiri merasa bersalah ketika menutup-nutupi hidup yang sebenarnya. Ini kisah orang terkenal, diliput di media, tapi sebenarnya kita sendiri juga ada kisah masing-masing, yang mungkin cuma kita dan Tuhan yang tau.
Saya juga jadi ingat orang yang sakit lepra. Kalau udah parah, walaupun dia melukai bagian tubuhnya, gak akan terasa sakit. Gak kebayang kalau Tuhan udah gak kasih kita rasa bersalah (guilt), kita sebenarnya lagi melukai hidup ini, tapi kita sendiri gak tau/sadar. Mengerikan. Saya percaya rasa bersalah yang sejati (true guilty feeling) adalah salah satu cara Tuhan untuk memimpin kita kembali pada Tuhan. Rasa bersalah sebelum kita melakukan dosa adalah suatu “alarm” yang Tuhan tanamkan dalam diri kita, sebelum kita melukai diri kita sendiri.
***
Kembali ke cerita Daud yang hancur merasa bersalah. Tuhan masih melakukan pola yang sama, Tuhan mencari Daud. Tuhan mengirim Nabi Nathan untuk confront Daud (coba baca 2 Samuel 12, seru). Dan bagian indah dari cerita ini, Daud bertobat. Walaupun bertobat, ada harga yang harus dibayar oleh Daud (baca di 2 Samuel). Setelah dikunjungin Nathan, Daud menulis Mazmur 51:2-3.
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (1 Yoh 1:9)
Cover-up seringkali terlihat simple, terlihat seolah-olah bisa menyelesaikan masalah. Tapi implikasinya bisa panjang dan mengerikan. Kita tau itu salah, tapi kita diam saja, even worse kita pelihara habit itu. Kita gak mungkin berdiri di atas dua perahu, tidak mungkin terus-terusan berbuat dosa (dan tidak bertobat), dan bisa punya hubungan pribadi dengan Tuhan di waktu yang sama.
Next time Tuhan kasih kita rasa bersalah, mungkin itu peringatan awal untuk tidak berbuat dosa.
Semoga artikel ini bisa menjadi berkat ^_^
***
Side notes:
- Jangan nyetir kaya orang di video di atas. Reckless.
- Terima kasih untuk buku “Daud” karangan Charles Swindoll yang dipinjamkan pada saya. Bukunya tebal dan bagus, saya bacanya pelan-pelan. Jadi mungkin baru 2-3 bulan lagi saya balikin? ^_^
- Terima kasih untuk liburan kali ini yang Tuhan kasih. Banyak hal yang diberesin, waktu gak terbuang sia-sia. Gak terasa Senin saatnya kembali bekerja, semoga bisa menyempatkan menulis/berbagi perenungan dan cerita sehari-hari di blog ini.
- Somehow, kalau melihat ke belakang blog ini, udah nulis banyak juga. Tapi kadang malah sering lupa? Semoga bisa ada waktu untuk merenungkan/menerapkan apa yang ditulis. Otherwise, sia-sialah menulis.
- Ketika nulis post ini, jadi ingat diskusi group bbrp bulan lalu. Dimana kita semua sebagai satu group punya banyak hal yang kita tau salah, tapi seolah-olah susah berubah/diubah? hmmm…jangan menyerah

Makasih dan makasih.
Dulu saya jg sempat nyalahin Adam dan Hawa yang mengakibatkan kita harus bekerja keras susah payah dalam dunia.
Oh, dasar manusia berdosa..seperti maling teriak maling.
Anyways, good job on keeping up the blog. Surely it will be a blessing to many people, even for years to come. =)