Waktu

On January 3, 2010, in Indonesian, My thought, by adimulia

Beberapa waktu yang lalu sepulang kerja, saya menyempatkan diri mampir ke Chapters di downtown. Tujuannya cari kado, tapi seperti biasa, mampir ke bagian buku-buku sejarah, biografi, christian, juga ke psikologi. Disitu nemu buku-bukunya Philip Zimbardo. Ada buku Lucifer Effect, yang pernah dibawain kotbah di GII. Juga sebelahnya ada buku Time Paradox. Mulailah saya membaca beberapa bab pertama dari buku itu, yang ternyata membahas tentang waktu.

TimeEmang dimensi waktu selalu jadi misteri. Dimensi keempat ini selalu menjadi bahasan yang menarik. Film-film Hollywood dari jaman dulu sampai sekarang, biasanya tiap tahun setidaknya pasti ada satu yang mengangkat tema waktu/dimensi keempat. Pas kecil, kalau ada barangnya Doraemon yang boleh saya miliki, saya gak pengen minta kantong ajaib atau segala isinya, tapi saya milih mesin waktu. Sayangnya Doraemon hanyalah sebatas cerita. Sampai sekarang belum ada teknologi mesin waktu, adanya cuma di film-film. Ahli-ahli segala bidang pun cuma bisa sebatas memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan.

Keputusan

Masuk di tahun 2010 ini, banyak orang yang sering penasaran. Apa sih yang akan terjadi tahun ini? Setiap hari, kita membuat keputusan. Setiap keputusan menghasilkan perubahan (change/action), Zimbardo membagi empat respon. Misalnya, keputusan saya untuk kuliah enam setengah tahun lalu. Saya dihadapkan dua pilihan untuk terusin kuliah Petroleum Engineering di IGD (Institut Gajah Duduk) atau memulai dari awal lagi kuliah Information Systems di Canada. Terlepas dari hasil nyatanya kalau saya akhirnya pilih ke Canada (dan saya gak menyesali keputusan itu), kira-kira mungkin begini responnya:

Meneruskan kuliah di IGD

  • Kalau ternyata di IGD sukses –> “Tuh kan, udah bener kuliah di IGD. Udah susah-susah ikutan SPMB, kesempatan langka kaya gini gak dateng dua kali! Institut terbaik bangsa bung!”
  • Kalau ternyata di IGD gagal –> “Yah, napa dulu terusin ambil Petroleum ya? Secara minyak dah mau habis. Nanti dua puluh tahun lagi mau kerja apa kalo minyak habis? Empat tahun yang sia-sia belajar korek2 tanah cari minyak”

Meneruskan kuliah di Canada

  • Kalau ternyata di Canada sukses –> “Tuh kan, Indonesia emang madesu. Sekarang buktinya bisa survive di Canada. Gaji jauh lebih tinggi pula. Pekerjaan juga lebih dihargai”
  • Kalau ternyata di Canada gagal –> “Sapa suruh datang ke Canada? Mahal-mahal kuliah, ujung-ujungnya kok gagal? Kuliah di Indo aja napa dari dulu? Gak nyusahin orang tua!”

Respon di atas bisa diapplikasikan ke kasus yang lain. Mungkin itu adalah keputusan untuk pindah ke kota lain, keputusan untuk membeli rumah, keputusan untuk menikah, dll. Inti dari respon-responnya sih, manusia cenderung mencari justifikasi dari keputusan yang telah diambil di masa lalu. Kalau responnya sesuai yang diharapkan yah dibangga2in (atau disyukuri?), kalo gak sesuai yah bisa jadi penyesalan, (atau di beberapa kasus malah jadi penyangkalan diri?)

Penasaran

Di jaman sekarang ini, ada banyak hal di dunia yang menawarkan jasa untuk menjawab rasa penasaran. Astrologi berdasarkan zodiak menyebar bak jamur di segala media (mulai dari koran, majalah, sms harian sampai ke facebook). Usia yang dibidik pun dari mulai anak-anak sampai orang tua, dari mulai ibu rumah tangga sampai ke professionals. Adapula, metode dukun, di Indonesia, Mama Loren dan juga mungkin mama-mama yang lainnya (duh!), lumayan laris buat acara infotainment. Semua diramalin, dari perceraian artis sampai hasil pertandigan sepak bola pun pernah diramal. Atau…cara rasional, misalnya memprediksi berdasarkan statistik. Beberapa saat lalu, di TED, ada artikel dimana Hans Rosling (konon beliau adalah seorang ahli statistik) memprediksi kapan Asia menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Kita jadi pengen tahu, masa depan kita seperti apa sih? Saya suka nanya pertanyaan ke temen-temen, “Lima tahun dari sekarang, kamu melihat diri kamu ada dimana dan sedang apa?”. Hmmm, responnya ya macem-macem. Alasan saya nanya sebenarnya lebih ke arah mengajak orang yang ditanya untuk berpikir tentang visi ke depan, harapan ke depan. Terus sekarang pertanyaanya diganti sedikit, “Lima tahun dari sekarang, Tuhan mau kamu dimana dan ngapain?” Hmmm….cukup sulit, gak ada yang tahu pasti. Satu-satunya cara ya berdoa, tanya sendiri pada Tuhan, apa sih rencana Tuhan untuk kita?

Saya sering nanya tentang masa depan sama Tuhan, terutama kalo sedang bergumul tentang sesuatu. Alasannya sebenernya sederhana, karena saya (dan setiap manusia?) takut salah mengambil keputusan. Ada rasa takut menyesal kalo keputusan yang diambil adalah keputusan yang salah. Macam-macam rasa takut. Takut salah memilih pekerjaan (atau panggilan). Takut salah memilih pasangan hidup. Takut salah mengasihi. Dan….takut mengecewakan Tuhan.

Petunjuk

Untungnya Tuhan gak meninggalkan kita dalam kebingungan berkepanjangan. Ada Alkitab yang berisi banyak jawaban doa kita. Saya percaya Roh Kudus akan memimpin kita dalam setiap keputusan dalam hidup ini. Namun demikian….

Orang kadang melontarkan kalimat seperti ini. “Yah, kamu telat. Mestinya kamu dulu begini. Momentnya sekarang udah hilang. Udah basi!”. Yah kalo apa yang dibilang adalah kritik konstruktif ya bersyukur lah sama ybs. Tapi kalo apa yang dibilangin adalah sesuatu yang sudah digumulkan di hadapan Tuhan, jangan merasa bahwa Tuhan menuntun ke arah yang salah. Percayalah Tuhan akan membantu kita menjalaninya.

Hmmm…saya percaya ketika kita dihadapkan pada suatu pilihan dan harus membuat keputusan. Jalan terbaik adalah membawanya ke dalam doa, dan minta tuntunan Tuhan. Kemudian jalani hal itu dengan sepenuh hati.

Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. (Yesaya 48:17)

Kadangkala, kita dihadapkan pada keputusan yang susah diambil. Dalam artian, keputusan yang harus diambil adalah keputusan yang bukan populer. Kalo ditimbang-timbang secara manusiawi, kayanya gak masuk di akal. Dalam hati sendiri juga gak pengen lakukan A, tapi Tuhan (melalui Alkitab) bilang harus lakukan A. Juga, dalam keterbatasan diri ini, semoga kita sudah mengartikan kebenaran Alkitab dalam konteks yang tepat. Mungkin banyak orang (dan mungkin juga teman terdekat?) akan mencibir atas keputusan yang kita ambil.

Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN. (Ratapan 3:26)

Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu” (Yesaya 30:15)

Kesimpulan

Masa depan adalah misteri, dan biarlah tetap menjadi misteri. Seperti lirik lagu, “Jam kehidupan diputar sekali, dan tak seorangpun tau kapan kan berhenti. Mungkin hari ini, mungkin besok, mungkin nanti, cepat atau lambat, tak seorangpun tau bila waktunya”.

Akhir kata, bawa dalam doa, dan mohon tuntunan dan hikmat dari Tuhan tentang jalan yang harus kita tempuh di dunia ini. Bisa jadi keputusan yang harus diambil adalah keputusan yang sulit dan gak enak. Ketika kesulitan muncul, jangan menyesali keputusan yang sudah diambil, tapi diamlah dan percayalah (in quietness and trust) pada Tuhan. Semua itu mendatangkan kebaikan dan indah pada waktuNya.

Tetapkan hatimu, kokohkan pijakanmu, jalani panggilanmu!

Tagged with:  

3 Responses to “Waktu”

  1. snow_drops says:

    Btw, mau tambah komentar sedikit…

    Aku percaya kalo Tuhan bisa bekerja dalam pilihan yang kita ambil, dan membuat pilihan itu menjadi pilihan yang “benar”. Tentu saja kita tetap harus berdoa dan berserah sebelum mengambil keputusan, tapi saat kita mengambil keputusan yang — dalam keterbatasan kita — kita rasa terbaik, Tuhan akan membantu kita menjalaninya dan mengubahnya menjadi “kesuksesan”.

    Jadi aku sering bergumul sebelum mengambil keputusan, tapi setelah memutuskan sesuatu, aku menjalaninya tanpa selalu berpikir “apakah ini keputusan yang benar?” Sebaliknya, aku nikmati aja apa yang datang setelah itu. Hehehe… ^_^

  2. adimulia says:

    setuju & thanks!

Weboy