Ajarlah Kami Berdoa

On March 4, 2010, in Indonesian, Renungan Harian, by adimulia

Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” >> Lukas 11:1

Kita biasanya meminta tips/kiat/saran (terbaik) dari seorang pakar (yang memang ahli di bidangnya), ya kan? Misalnya saja:

  • Kepada Bill Gates (pengusaha yang sukses), kita meminta, “Ajarkan kami cara berwirausaha.”
  • Kepada Mozart (musikus legendaries, seandainya masih ada), “Ajarkan kami cara menikmati musik.”
  • Kepada Peter F. Saerang (salah satu ahli tata rambut terbaik di Indonesia), “Ajarkan kami cara memotong rambut.”
  • Kepada Janggeum (sekiranya masih hidup, Tabib Agung dinasti Chosun, Korea, perawat perempuan pertama yang melayani kaisar), “Ajarkan kami cara mendiagnosa penyakit.”


Nah, sekarang kita beralih ke murid-murid Tuhan Yesus. Mereka sudah kurang lebih dua tahun bersama Yesus. Mereka duduk di barisan depan saat Tuhan Yesus mengajar dan berkhotbah. Mereka menyaksikan mujizat yang Ia buat. Namun, sejauh yang kita ketahui, mereka tidak pernah berkata, “Tuhan, ajarkan kami berkhotbah,” atau “Tuhan, ajarkan kami cara melakukan mujizat.” Mereka datang kepada-Nya dan meminta, “Ajarlah kami berdoa.”

Kenapa murid-murid malah meminta, “Tuhan, ajarlah kami berdoa”?

“Bukankah doa itu sebenarnya mudah? Kan tinggal ngomong langsung ama Tuhan? Beres deh.” Barangkali seperti inilah doa menurut anggapan kita. Mudah sekali. Begitu mudahnya sehingga seringkali dilupakan, bahkan mungkin dianggap tidak perlu, “Ah, kan Tuhan sudah tahu siapa saya, sudah tahu pergumulan saya, ngapain sih mesti doa-doa segala. Resé banget sih?”

Sekali lagi, jika doa memang semudah yang kita bayangkan, ngapain juga murid-murid sampai meminta, “Tuhan, ajarlah kami berdoa”?

Ternyata, doa bukan hanya sekedar ‘kata-kata’ saja. Doa yang sungguh-sungguh itu merupakan hal yang sukar dan berat. F.J. Hugel menulis, “Doa merupakan karya yang begitu agung sehingga melampaui akal pikiran manusia.” Pekerjaan rohani adalah berat dan sukar, orang segan melaksanakannya. Doa yang sesungguhnya menyita perhatian dan waktu kita, dan hal itu tidak disenangi tubuh jasmani kita.

Dalam hidup Yesus, doa adalah pekerjaan dan pelayanan adalah pahala. Bagi kita, doa adalah persiapan untuk perang, tetapi bagi Yesus, doa adalah peperangan itu sendiri. Setelah berdoa, Ia pergi melayani seperti seorang murid teladan yang pergi menerima penghargaan, atau seperti seorang pelari maraton yang telah menyelesaikan pertandingannya dan sedang menantikan upacara pemberian medali emasnya.

Di manakah Yesus meneteskan keringat-Nya seperti tetesan darah? Bukan di ruang sidang Pilatus, bukan pula dalam perjalanan-Nya ke bukit Golgota, tetapi di taman Getsemani. Di sanalah Dia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut (Ibrani 5:7). Jika kita berada di sana, mungkin kita sangat kuatir akan hari esok. Kita berpikir Yesus sendiri saja ‘tegang’ untuk krisis yang belum terjadi, bagaimana kalau krisis itu benar-benar menimpa-Nya? Mengapa Dia tidak bisa menghadapi cobaan ini dengan perasaan tenang sementara ketiga murid-Nya tertidur? Akan tetapi, sewaktu ujian yang sebenarnya tiba, Yesus berjalan dengan berani menuju salib, sementara ketiga murid-Nya itu lari entah ke mana.

Hai kamu yang mengeluh dan merintih…
Dan meratapi diri tak berdaya.
Dengarkanlah bisikan yang lemah lembut ini,
“Tak sanggupkah engkau berjaga sejam jua?”
Untuk mendapatkan hasil dan berkat,
tak tersua jalan yang mudah.
Kekuatan bagi pelayanan yang suci,
diperoleh dalam persekutan dengan Allah
(dari No Easy Road, Dick Eastman)

Ya, ternyata doa yang sungguh-sungguh itu susah ya? Semoga kita termasuk ke dalam bilangan orang-orang rendah hati yang juga mau mengakui ketidaktahuan dan ketidakberdayaan kita dan berseru, “Tuhan, ajarlah kami berdoa.”

***
Sumber: Dari buletin doa SMA3 Bandung thn 2007
Mari bawa pergumulan kita dalam doa…

Tagged with:  

4 Responses to “Ajarlah Kami Berdoa”

  1. binn says:

    Hmm. doa itu engga se-simple dgn apa yg aku pikir sebelumnya. yes, doa penuh kuasa dan kita sedang di dalam ‘peperangan’.. dan spt yg aku bilang dulu, abis doa jgn lupa berusaha dgn penuh iman (Markus 11:23-24). kalu Tuhan memang ingin sesuatu terjadi, God is God and God is good, kalau engga ya God is still God and God is still good. :) hehe, anda duluan membahas ini. Aku masih berangan-angan, blm ditangkap. lol. nice, though.

  2. adimulia says:

    ^ Iya, binn. Kemarin ini setelah berdoa rasanya lebih tenang :D

    tambahan: tp motivasi utama doa bukan buat ketenangan diri sendiri lah ya? hmmm…jd kembali merenung..

  3. Adit says:

    “doa adalah pekerjaan dan pelayanan adalah pahala…”
    keliatannya gw gk pernah kepikiran kyk gt sih… aku coba ambil ini sebagai bagian hidup. Thanks for sharing, tin.

  4. adimulia says:

    Hmmm…doa “jadilah kehendakMu” bisa jadi doa paling berat.

Premium WordPress Themes