Siapa kita?

On March 25, 2010, in Indonesian, Renungan Harian, by adimulia

Ide di bawah ini belakangan hilir mudik dalam pikiran sih. Dibilang hilir mudik karena sebentar kepikir, sebentar ngga, terus kepikir lagi, terus ngga. Jadi sekarang lebih baik ditulis aja biar gak lupa.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2)

Dua minggu lalu saya bersama teman-teman nonton film Shutter Island. Katanya itu film thriller, oh oke lah saya pikir, tar saya siapkan diri secara saya gak terlalu suka nonton film horor ataupun film sadis berdarah-darah. Ternyata itu film tentang orang sakit jiwa, model-model kaya di film Beautiful Mind. Nama penyakitnya itu Schizophrenia? Filmnya cukup intense. Intinya sih tentang cerita orang waras yang datang buat menyelidiki kasus pasien jiwa hilang, tapi kemudian dengan konspirasi dan obat-obatan yang ada orang waras ini diyakinkan bahwa dia jadi gila, ujung2nya jadi dirawat di rumah sakit jiwa itu. Gara-gara nonton film ini, sempet bertanya, “hidup saya sekarang ini real gak ya? apa saya berhalusinasi kekita melihat teman-teman saya?”. Sedikit serem juga nih film, ngajak penonton jadi berpikir tentang kegilaan. Sedikit banyak, orang itu jadi gila karena lingkungannya yang mengondisikan demikian.

Kasus A, ada orang normal. Karena trauma masa lalu, bisa terguncang jiwanya kemudian jadi orang gila. Bisa dimengerti. Kasus B, ada orang normal. Karena semua temannya bilang dia gila, kemudian dia jadi orang gila beneran. Kasus B, secara gak sadar kita sering alami di hidup sehari-hari. Kita punya semangat juang tinggi, tapi di sekeliling kita semua orang malas, ya ujung-ujungnya pasti terpengaruh. Mungkin kita jadi terpengaruh setelah beberapa lama, mungkin beberapa tahun.

Beberapa hari lalu saya juga lagi baca buku, tentang stress ibu rumah tangga. Bukunya bagus. Di buku itu dibilang lagi, kita menilai diri sendiri berdasarkan penilaian orang lain. Jadi orang lain bilang kita apa, ya kita cenderung percaya tentang itu. Apalagi kalo semua orang bilang itu. Identitas kita sedikit banyak dibentuk dari apa yang orang bilang tentang kita.

***

Ada lagi artikel bagus dari renungan harian hari ini:

PERCOBAAN ASCH

Pada tahun 1950-an, Solomon Asch, seorang psikolog Amerika melakukan percobaan mengenai tekanan lingkungan. Sekelompok orang dikumpulkan dalam satu ruangan. Satu orang dari mereka merupakan sang objek penelitian. Dan tanpa diketahui sang objek, sesungguhnya semua anggota lain dari kelompok tersebut adalah anggota tim Asch sendiri.

Di ruangan itu mereka diminta berpendapat secara bergantian, tentang beberapa ruas garis yang tidak sama panjang. Urutannya diatur sedemikian rupa, sehingga sang objek penelitian menjawab paling akhir. Maka, Asch menemukan bahwa jika semua orang berkata bahwa garis-garis itu sama panjang, walau jawaban itu salah, si objek penelitian cenderung ikut menjawab demikian. Namun, jika setidaknya satu orang menjawab benar, si objek penelitian jadi berani menjawab dengan benar.

Percobaan ini menunjukkan betapa tidak kuatnya seseorang kalau harus melawan arus sendirian. Meskipun ketika ia tahu bahwa mengikuti arus berarti ikut salah, tetapi ketika ada orang lain yang menemaninya, ia akan menjadi jauh lebih berani. Hasil ini membuat kita lebih mengerti mengapa perintah Tuhan untuk kita tidak menjadi serupa dengan dunia disampaikan dalam konteks komunitas. Kata “kamu” di Roma 12:2 merujuk kepada komunitas orang percaya, bukan individual. Kita tidak disuruh berjuang sendirian.

Karena itu, penting bagi kita untuk mempunyai dan terus hidup dalam persekutuan-terutama persekutuan yang memiliki relasi dalam, di mana kita bisa berbagi beban dan berjuang bersama sebagai anak Tuhan. Dan bergandengan tangan, kita dapat melawan arus dunia -ALS

***

Nah, klo demikian formulanya. Selanjutnya yang kita bisa milih adalah, lingkungan sekitar kita seperti apa. Identitas ada nyangkutnya sama lingkungan. Kalo kita hidup di sekitar orang “gila”, lama2 bisa jadi gila beneran. Saya pengen bawa konteks identitas ini ke ayat yang saya sebutkan di awal artikel ini. Janganlah kita jadi serupa dengan dunia yang semakin gila ini. Tetapi carilah kehendak Allah. Jangan berhenti bergumul.

Identitas kita sejati hanyalah Tuhan yang tau secara Tuhan lah yang menciptakan kita. Apa identitas kita sebagai orang Kristen? Saya seringkali ngelihat ada dua ekstrim.

Ekstrim pertama, kita melihat diri kita sebagai orang berdosa, seolah-olah Tuhan Yesus belum pernah mati di kayu salib menebus dosa kita. Kita merasa tidak layak terus menerus, dan ujungnya jadi punya low self-esteem. Kita jadi gak bisa menghargai diri kita sendiri sebagai anak Tuhan yang sudah ditebus dosanya. “Tuhan siapakah aku ini? Aku orang berdosa, gak layak buat melayaniMu”

Ekstrim kedua, kita “agak kelewatan” melihat diri kita sebagai orang yang sudah ditebus dosanya, jadi punya hak sebagai anak Tuhan. Jadi contoh ekstrimnya, kita merasa eksklusif (Saya sudah menerima Tuhan, jadi saya lebih baik dari anda). Kita menuntut janji-janji Tuhan seolah-olah kita ini punya hak, “Tuhan aku ini anakMu, berkati aku lah, berkati aku, pokoknya berkati aku”. “Tuhan aku ini anakMu, aku lagi sakit, tapi aku percaya kau akan melakukan mukjizat kesembuhan. Aku gak mau ke dokter”.

Beberapa waktu lalu saya dapat email dari teman, intinya bilang begini, “Satu hal… kita anak-anak Tuhan ndak ngikutin ekonomi dunia… lay off boleh jalan terus… tapi mulut kita harus declaring kalo Tuhan akan membuka tingkap-tingkap langit untuk mengucurkan berkatNya ke kita…Di Yesaya dikatakan Tuhan akan memindahkan kekayaan bangsa-bangsa dan orang kafir ke tangan anak-anakNya…. so, apa pun yang terjadi di sekeliling kita… Tuhan sedang memindahkan kekayaan itu ke tangan anak-anakNya…. “

Akal sehat kita jadi hilang, “kegilaan” kita keluar tapi kita labelkan sebagai iman. Saya kadang jadi mikir, apa ini identitas kita sebagai anak Tuhan? Apakah Tuhan mati buat kita semata-mata agar kita bisa menuntut ini itu sama Tuhan? Ini kah identitas kita yang sejati?

Di dalam perjalanan kita mencari identitas sebagai orang Kristen, marilah kita menempatkan keselamatan yang kita terima sebagai anugerah dari Tuhan, dan kebenaran Alkitab sebagai pegangan. Begitu banyak komunitas di sekitar kita yang mengusung nilai identitas diri yang seolah-olah dari Tuhan, padahal mungkin bukan. Semoga kita ditempatkan di lingkungan yang Tuhan inginkan. Jangan berhenti cari kehendak Tuhan dalam hidup.

PS: Artikel ini sangat bias, renungkan baik-baik identitas anda di hadapan Tuhan, saya yakin anda semua sudah melalui berbagai macam proses hidup yang jauh berbeda dari apa yang saya alami. Yang saya percaya, Tuhan mengasihi anda apapun yang terjadi dalam hidup ini.

Video: Who am I – Casting Crown

Tagged with:  

3 Responses to “Siapa kita?”

  1. Airiku says:

    Two thumbs up, Ko Martin!
    Sometimes I also wonder why I still have faith in Him although I am living in a environment surrounded by non-believers; I believe it is what is called by blessings :)
    Keep up the good work!

    PS: Artikel-nya bagus atuh A’a…

  2. Adit says:

    Tin, yang soal movienya sih aku masih argue sih sama kamu, emang dari pertamanya orangnya gila hahaha. Klo mau debat movie, boleh tuh, belom pernah ada yang ginian huehueheu.

    Artikel lo bagus, tin. Sama sih kek yang lo rasa. Aku takut sih kyk kepengaruh sama lingkungan yang gk bagus gt, apalagi gw orangnya gampang kebawa arus. Tapi aku percaya, tin kalo kita gk bakal sendirian bergumul. Tuhan pasti menyediakan teman-teman seiman untuk bergumul bersama :)

  3. adimulia says:

    Airiku (atau Banjiriku?) & Adit, hatur nuhun. Keep the faith atuh brothers :D

WordPress主题