Hari ini saya makan siang “soupe de nouilles avec des boulettes de viande” alias “mie baso”.lol. Temen kantor berceloteh, “wow you always have interesting lunch I wish I could…”. Yah, maklumlah…lunch saya sebenernya biasa-biasa aja tapi mungkin emang keliatan menarik buat coworker bule. Sedangkan dia lunch tiap hari selalu sama (senen-jumat), sandwich. Paling isinya yang beda-beda.
Kejadian di atas contoh mentalitas manusia: membandingkan diri sendiri dan orang lain. Saya juga kadang tanpa sadar bandingkan diri saya dengan orang lain. In a good way ya bisa positif, jadi termotivasi untuk jadi lebih baik. Tapi kalo overdone ya negative, berujung ke rasa iri.
Kapan hari temen kantor yang lain lagi baru pulang dari Vietnam, bawa oleh2 permen duren kelapa. Saya yang suka duren ya asik2 aja makan permennya. Sedangkan si bule, *lol* ya gak suka. Kalo gini kan gak bisa bandingkan diri kita dengan orang lain. Kondisi kita di-set dengan batas yang kita sendiri bisa tolerate. Lewat dr batas itu, kita sebaiknya sadar diri bahwa hal itu gak akan bawa dampak positif buat diri kita (baca: terlalu bermimpi, gak realistis)
***
Beberapa hari lalu berdiskusi dengan teman tentang pendidikan. “Yah namanya belajar ya lakukan lah dengan maksimal. Masalah kepake atau gak kepake ya gimana nanti. Kepake ya syukur, gak kepake ya gak rugi”. Prinsip bagus sih, saya ngeliat temen saya yang pas kuliah mikirnya “ah nanti mau buka usaha”, jadi kuliahnya gak maksimal (GPA serba pas). Begitu lulus kuliah, ternyata gak jadi buka usaha, pilihan hidup jadi lebih terbatas, cari kerja susah.
Ini juga sih yang ditanemin orang tua pada saya tentang pendidikan. Kalo pendidikan itu investasi yang gak akan hilang. Saham bisa habis, usaha bisa bangkrut, tapi pendidikan ya gak ada sapapun yang bisa ambil itu dr kita.
Jangan berhenti belajar.
***
Kapan hari baca kalimat “Ada sedikit disayang-sayang, ada banyak dibuang-buang” di suatu blog yang saya subscribe.
Kalo di Bandung, atau mungkin tepatnya di daerah rumah saya, air ledeng pas musim kemarau bisa ngalirnya gak tentu jadwalnya. Alhasil pernah suatu waktu, kita sekeluarga dibikin repot karena air terbatas. Begitu kita tau sisa air di tangki tinggal sedikit, kita semua jadi berhati-hati pakai air, sebisa mungkin dihemat sampai air ledeng ngalir lagi. Mobil gak dicuci, anjing saya pun waktu itu gak mandi dua minggu. Kita cuma pake air buat mandi. Minum ya untungnya ada aqua galon. Itu dulu sih, skrg kita udah nambah tangki air dan bak tampung ditambah ada cadangan air sumur.
Tp yang menarik itu sifat kita ketika air itu terbatas dan ketika air itu tidak terbatas. Ketika air tidak terbatas, mungkin kita gak pernah bersyukur bahwa air itu ada. Tapi ketika air itu terbatas, kita jadi benar-benar menghargai air. Ada pepatah, “Don’t take things for granted”, atau “You don’t know what you have until it’s gone”. Ujung2nya biasanya ke penyesalan. Andai dulu kita hemat-hemat pakai air, andai dulu kita punya tangki air yang gede, andai ini andai itu.
Itu sama air. Kita kadang tanpa sadar menerapkan mentalitas yang sama terhadap manusia. Bisa jadi itu adalah keluarga, teman, pacar, dst. Kehadiran orang di sekitar kita kadang gak terlalu signifikan sampai kita “butuh”. Atau sampai mereka hilang. Kita baru merasa, “yah…dulu pas dia ada, kenapa saya bodoh ya gak menghargai dia?”. Pertanyaannya, apakah kalau air di rumah terus mengalir, maka saya berhak memakai air semau saya? Apa saya berhak pakai air tanpa kesadaran bahwa air itu adalah berkat Tuhan? Apa kita cari teman kalau kita lagi butuh aja?
Seharusnya punya apapun disayang dan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Mari sama-sama belajar menghilangkan mentalitas spt ini. Pertanyaan terakhir, apa kita punya mentalitas seperti ini pada Tuhan sendiri? Hmmmm….you yourself know the answer!
