Sekedar bercanda, kadang-kadang tanpa kita sadari, kita sering membuat kalimat yang bisa menimbulkan arti ambigu. Ini juga bahaya sebenernya. Contohnya cerita di bawah ini yang saya kutip dari blog Nguping Jakarta.
Petugas informasi via loudspeaker: “Kepada bapak X, ditunggu keluarganya di kandang monyet sekarang. Sekali lagi, bapak X ditunggu keluarganya di kandang monyet sekarang.”
Kebun binatang ragunan jakarta, didengar oleh seluruh pengunjung kebun binatang yang ingin segera mengunjungi kandang tersebut.
Dalam diskusi singkat sama kontraktor yang bakal di-hire buat project kecil di kantor.
Calon Kontraktor: So yeah, I don’t think it’s a good idea to delete what you have developed bla bla bla…I have handle 200+ projects like this…bla bla bla…bla bla bla…Off course I don’t want to clean up the sh*t you created”
Saya: …
Calon Kontraktor: I’m kidding, I’m just kidding really. Don’t take it seriously. I’m kidding, ok?
Saya: *diam saja, pandangan tajam & serius*
Yah, begitulah highlight hari ini di kantor. Kadang bertemu dengan orang sok asik, yang dia pikir dia pintar, berusaha meyakinkan kalau kita bakalan hire dia. Tapi kata-kata yang keluar, wedew. Hidup mati dikuasai lidah. Enam macam penyakit lidah yang umum menurut Amsal:
Continue reading »
Pada olimpiade musim panas tahun 1992 di Barcelona, Spanyol, terjadi sebuah peristiwa yang menarik perhatian dunia. Ketika Derek Redmond melangkah menuju arena, dia membayangkan kemenangan yang akan diraihnya. Inilah saat yang telah dinantikannya, seumur hidupnya. Dalam hatinya, ia tahu, bahwa inilah perlombaan yang telah Tuhan tetapkan baginya, sejak semula ia diciptakan. Pada menit terakhir sebelum perlombaan itu dimulai, ia memandang ke arah deretan kursi penonton, mencari-cari wajah ayahnya. Memang ia ingin meraih kemenangan dalam lomba itu untuk dirinya. Tetapi, lebih dari itu ia ingin memenangkan lomba itu demi ayahnya. Ayahnya, yang telah memberikan dan mengorbankan begitu banyak banyak hal, agar ia dapat masuk menjadi peserta olimpiade itu.
Sekarang ia memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu sebagai tanda balas budi kepada ayahnya. Inilah saatnya untuk membuat ayahnya bangga padanya. Lalu tembakan ke udara tanda mulai berbunyi. Derek berlari, mengerahkan seluruh kekuatannya. Segalanya tampak baik sampai akhirnya Derek memasuki putaran terakhir. Tiba-tiba terjatuh di tengah lintasan larinya. Ia mengalami kram pada kakinya. Rasa nyeri yang hebat mencengkeramnya. Dia berusaha untuk berdiri; berusaha untuk melompat; namun rasa nyeri itu terlalu menyakitkan baginya. Detik demi detik berlalu, bagai berjam-jam baginya, saat dia rebah menggeliat kesakitan. Dia tidak percaya, beginilah akhir dari perjalanannya selama ini.
Continue reading »
Sesuatu yang sesuai dengan harapan biasanya berujung pada rasa tenang. Di sisi lain sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan biasanya berujung pada rasa kecewa. Kita sering dikondisikan untuk berpikir bahwa hidup ini barulah indah ketika hal-hal yang kita alami sesuai dengan harapan.
Jadi ketika hidup ini tidak sesuai dengan harapan, banyak dari kita yang kecewa. Kecewa tidak selalu ditunjukan, bisa dipendam. Atau kita juga bisa jadi bergumul, pada dasarnya sama yaitu berharap untuk sesuatu yang sekarang belum atau masih jauh dari harapan.
Hidup ini jadi dipusatkan pada satu kata: harapan. Ketika seseorang sudah hilang harapan. Kurang lebih, di situlah akhir hidupnya. Berharap diri sendiri, kita tidak diciptakan untuk itu. Berharap pada manusia, mereka pun tidak diciptakan untuk memberikan harapan sejati. Berharap pada Kristus Yesus, Dia lah sumber pengharapan hidup.
*penulis baru saja diingatkan kembali tentang pengharapan hidup yg sejati.
