Dua tahun yang lalu, sepulang kerja seperti biasa saya naik train dari downtown ke rumah. Kebetulan waktu itu satu kereta sama (kita sebutlah) Om A. Saya ingat beliau bilang, “Tin, kamu liat ini semua orang yang berdiri di kereta ini? Setiap hari mereka pulang ke rumah sambil bawa beberapa lembar dollar. Ada yang bawa satu lembar, ada yang bawa beberapa lembar.”
Sekarang kadang kalau saya pulang kerja naik train, melihat ekspressi macam-macam orang, saya membayangkan semua orang ini lagi perjalanan pulang setelah seharian kerja, masing-masing mengantongi beberapa lembar uang yang dihasilkan hari itu. Ada yang banyak, ada yang sedikit, ada yang tidak sama sekali. Tapi mereka semua melanjutkan hidup mereka, ada yang sebentar lagi akan bertemu keluarganya. Ada yang mungkin masih harus sekolah, atau bekerja. Saya juga mikir, apa orang seumur hidup begini terus ya? Pergi kerja, pulang kerja, weekend santai, atau mungkin ke gereja.
Scene di atas jadi mengingatkan saya pada lagu sekolah minggu. Walaupun dulu sekolah minggu jarang perhatiin guru, saya masih ingat lah beberapa lagunya.haha. Lirik lagunya begini:
Apa yang dicari orang? ..uang (2x)
Apa yang dicari orang
Siang malam hari petang
Uang uang uang bukan Tuhan Yesus
Apa yang dicari Tuhan? ..saya (2X)
Apa yang dicari Tuhan
Siang malam hari petang
Saya-saya-saya anak Tuhan Yesus
***
Di masa Paskah ini saya merenung. Terutama di tengah-tengah kesibukan yang seolah tidak pernah berkurang, saya merasa perlu menyisihkan waktu untuk merefleksikan arti hidup ini, arti Paskah sendiri. Seorang teman (kita sebutlah) KH, beberapa minggu yang lalu bercerita bahwa di dalam hidup ini, ada tiga “P” yang orang selalu kejar:
Possession – orang bisa melakukan apa saja untuk memiliki sesuatu, mungkin punya rumah bagus, mobil mewah, barang bermerk. Bukannya salah untuk memiliki itu semua, tapi hidup mengejar possession tidak akan pernah selesai.
Pride – orang bisa melakukan apa saja untuk sebuah kebanggaan, mungkin bangga dengan gelar akademis yang ada. Bangga dengan gaya hidup, bangga dengan karir.
Pleasure – orang bisa melakukan apa saja untuk sebuah kesenangan hidup. Setiap minggu party sana sini. Hidup hanyalah mencari kesenangan semata.
Apakah ini semua yang kita kejar? Apakah ini alasan kita hidup? Rasanya ngga.
Rumah kita yang terakhir di dunia adalah tanah 1×2 m, yaitu kuburan. Mobil yang akan kita naiki terakhir di dunia adalah mobil jenazah. Gelar yang akan kita raih terakhir adalah almarhum. Ketampanan, kecantikan, dan kelebihan fisik yang kita banggakan pada akhirnya akan menjadi tulang.
Disinilah kita butuh “P” yang terakhir…
Purpose – apa tujuan hidup ini? Untuk memiliki ini itu? Untuk bisa berbangga hati atas prestasi yang ada? Untuk mencari kesenangan? Faktor purpose ini lah yang membuat seseorang beda dengan yang lain.
Ketika saya memikirkan tujuan hidup, saya mau tidak mau dihadapkan pada kebenaran hidup ini. Balik lagi ke pertanyaan-pertanyaan basic, kenapa kita ada di dunia? Siapa yang menciptakan kita? Untuk apa kita diciptakan oleh Sang Pencipta? Habis mati kita mau kemana?
***
Hari ini adalah hari Jumat Agung. Moment Tuhan Yesus mati di kayu salib. That’s it. Mati untuk apa? Mati untuk siapa? Kenapa Tuhan mati di kayu salib? Emang Tuhan salah apa? Mengapa Tuhan menyerahkan nyawaNya? Allah Bapa bahkan udah tau dari awal, dari sebelum dosa itu ada bahwa Dia akan mengirim Yesus untuk menderita. Saya dulu tidak terlalu peduli.
Ada banyak hal yang saya tidak mengerti mengapa terjadi, baik ataupun buruk, tetapi pengalaman hidup beberapa tahun belakangan ini sangatlah berbeda. Tuhan terus mengarahkan (tapi tidak pernah memaksakan) saya untuk selalu percaya padaNya. Semakin belajar firman Tuhan, saya semakin percaya kalo hidup kita ini untuk memuliakan Tuhan. Tuhan berkarya bukan melalui keajaiban-keajaiban yang menakjubkan, tapi membawa saya pada suatu kesadaran bahwa saya orang berdosa (Yoh 16). Suatu kerinduan untuk mencari dan bergumul tentang tujuan hidup yang sesungguhnya.
Saya percaya hidup lebih dari sekedar possesion, pride, pleasure. Ada tujuan besar mengapa kita masih bernafas pada detik ini. Di dalam perjalanan kita mengerti tujuan hidup ini, ingatlah Tuhan mencintai kita sampai rela mati di kayu salib, dan bangkit ke surga. Dia adalah Tuhan.
“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.” ~ Yohanes 15:9-10
“As the Father has loved me, so have I loved you. Now remain in my love. If you obey my commands, you will remain in my love, just as I have obeyed my Father’s commands and remain in his love.” ~John 15:9-10
Selamat Paskah!
