Sesuatu yang sesuai dengan harapan biasanya berujung pada rasa tenang. Di sisi lain sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan biasanya berujung pada rasa kecewa. Kita sering dikondisikan untuk berpikir bahwa hidup ini barulah indah ketika hal-hal yang kita alami sesuai dengan harapan.
Jadi ketika hidup ini tidak sesuai dengan harapan, banyak dari kita yang kecewa. Kecewa tidak selalu ditunjukan, bisa dipendam. Atau kita juga bisa jadi bergumul, pada dasarnya sama yaitu berharap untuk sesuatu yang sekarang belum atau masih jauh dari harapan.
Hidup ini jadi dipusatkan pada satu kata: harapan. Ketika seseorang sudah hilang harapan. Kurang lebih, di situlah akhir hidupnya. Berharap diri sendiri, kita tidak diciptakan untuk itu. Berharap pada manusia, mereka pun tidak diciptakan untuk memberikan harapan sejati. Berharap pada Kristus Yesus, Dia lah sumber pengharapan hidup.
*penulis baru saja diingatkan kembali tentang pengharapan hidup yg sejati.

Pembaca juga baru saja diingatkan kembali tentang pengharapan yg kekal
There is a hope that lifts my weary head,
A consolation strong against despair,
That when the world has plunged me in its deepest pit,
I find the Savior there!
Through present sufferings, future’s fear,
He whispers, “Courage!” in my ear.
For I am safe in everlasting arms,
And they will lead me home.
Amin, len.
Ada tertulis, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?”