Thy will be done

On May 5, 2010, in Indonesian, Renungan Harian, by adimulia

Beberapa hari yang lalu saya dan abang saya berlibur ke Cameron Highlands, perkebunan teh terletak 3-4 jam perjalanan dari KL. Nah di sepanjang jalan saya perhatiin, ada banyak juga anjing liar, atau mungkin tepatnya anjing hutan.

Pas lagi nyetir 120 km/h di jalan tol, 300 meter di depan saya tiba-tiba muncul seekor anjing liar yang mau menyebrang. Logika pertama di otak otomatis jalan, responnya adalah: liat kaca spion, ada berapa mobil di belakang. Ternyata ada banyak mobil di belakang, jaraknya cukup mepet, jadi kalau saya rem atau banting setir mendadak, yang bakal terjadi adalah tabrakan beruntun.

Logika kedua, oke kalo begitu kudu keputusan kedua: tabrak anjingnya. Ini terdengar kejam, dan sangat berat di hati karena saya sendiri suka memelihara anjing sejak saya masih kecil. Tapi saya lebih memilih mengorbankan seekor anjing dibanding nyawa orang lain.

Logika ketiga, kalau saya jadi tabrak anjingnya, gmana handle stir mobil ini, mau saya banting kemana, apa mobil ini bisa terguling, etc. Dalam pikiran saya mikirin banyak strategi. Dan akhirnya, berkonklusi, nabrak anjing ini juga gak aman, tapi okelah saya pilih opsi ini.

Terlepas dari logika-logika di atas, saya berdoa dalam hati, Tuhan jangan biarkan anjing itu nyebrang. “Jangan nyebrang…jangan nyebrang…jangan nyebrang”. Dalam split second, anjing itu balik badan gak jadi nyebrang. Fiuh!

Saya percaya Tuhan yang bikin anjing itu puter badan gak jadi nyebrang.

***

Cerita di atas menunjukkan contoh kehidupan berdoa kita yang cukup lazim. Kita berpikir secara logika 1, logika 2, logika 3, akhirnya setelah logika gak bisa menyelesaikan masalah, barulah kita berdoa pada Tuhan.

Saya bersyukur diingatkan kembali tentang berdoa kemarin ini di bible study kantornya abang saya. Tahun kemarin pas mampir ke KL, dibawa ke kantornya, ketemu sama bosnya, makan siang sama temen kantornya. Dan tahun ini pun tidak berbeda, malah kemarin jadi ikutan bible study di kantornya. Emang, abang saya bisa dibilang cukup beruntung, di lingkungan kerjanya cukup banyak orang Kristen (baca: yang (mau) bertumbuh).

Kemarin di bible study, mereka pakai workbook dari Equip, ngebahas tentang Christian Leadership karangannya John Maxwell. Topiknya cukup simple dan sering terdengar sepele, yaitu tentang bagaimana berdoa.

Ada beberapa point bagus:

Berdoa bukan karena rutinitas, tetapi karena hubungan pribadi dengan Tuhan. Seberapa sering doa kita jadi meaningless, mendoakan hal yang sama dari waktu ke waktu. “Tuhan berkatilah makanan ini. Amin”. Ini contoh paling gampang sih, soalnya tiap hari kan sebelum makan pasti berdoa. Tapi apa kita benar-benar bersyukur? Umph!

Berdoa untuk supaya kita bisa berpikir seperti Kristus. Seperti apa sih? Saya sendiri kurang pintar untuk bisa jelasin berpikir seperti Kristus itu seperti apa, tetapi ada cerita yang mungkin bisa membantu menjelaskan.

Tahun 1993, tiga misionaris New Tribes Mission (NTM) diculik di Columbia. Delapan tahun kemudian (tahun 2001), tiga misionaris itu di-declare sudah meninggal. Dan Germann (vice chairman NTM) ditanya, “Bagaimana doa-doa mereka berubah delapan tahun terakhir ini”. Berikut responnya:

“When the guys were first captured, every one of us was praying, Lord, just bring them out safely. We know You are able”. As time went on we started to pray, “Lord, if they are alive, bring them home safely. If they are dead, please let us know that as well.” Eight years later they were praying, “God, if we never know, You’ll still be God.”

“This was quite a difference from trusting Him to bring them out safely. In the end, God answered our prayers. We found a man in prison who had cared for them. He assured us that they were dead. This was a gift since we’d come to the place where it was all right ig God chose for us to never know. Somebody looking on might think, “How can you accept that news?” All I can say is God moved us to the place where we could say, “Lord, we want You to be glorified, even if we never know”.

Dari waktu ke waktu saya mendoakan untuk orang-orang di sekitar saya, dimulai dengan doain orang tua, pacar, keluarga, teman gereja, teman kantor, dan lain-lain. Doa saya tidak berbeda dengan kebanyakan orang, saya minta pada Tuhan agar orang tua saya sehat, agar relationship dengan pacar semakin mature, agar teman-teman di kantor jadi orang yang mengenal Tuhan, dst.

Hasilnya ya tentu kadang tidak sesuai dengan apa yang saya doakan. Tetapi saya mau belajar tentang “Thy will be done”. Dalam doa Bapa kami, Tuhan Yesus menempatkan kalimat “Thy will be done” sebelum kalimat “give us today our daily bread” atau “forgive us our sins” atau “lead us not into temptation”.

Berdoa untuk orang lain. Tahun 1993, ada survey terhadap 2000 orang di gereja. Tiga topik utama doa mereka adalah: makanan, personal & family safety, dan minta berkat. Rata-rata orang juga menghabiskan kurang dari 7 menit sehari untuk berdoa. Ketika kita berdoa, cobalah untuk mendoakan orang lain. Ada orang yang terbiasa saat teduh pagi hari, ada yang malam hari, apapun waktunya, sempatkanlah doa dan saat teduh berbicara dengan Tuhan.

Semoga artikel ini menjadi berkat.

Tagged with:  

2 Responses to “Thy will be done”

  1. Adit says:

    logika kedua hampir mirip, tin kayak dulu pak Stef pernah kotbah. tentang 5 orang di mobil and 1 orang yg akan ditabrak. pilihannya cuma nabrak 1 orang itu atau semua yg di mobil ke jurang.

  2. adimulia says:

    Iya, salah satu point yg mau ditarik dari itu sebenarnya tentang aspek berdoanya…baru berdoa/berserah/pasrah kalau udah kepepet.

WordPress Themes