Kalau beli kopi di Starbucks, ada kampanye fair-trade coffee. Jadi ceritanya sebagai sebuah promosi kalau Starbucks beli kopi dengan harga yang wajar dari petani kopi. Jadi bukan beli kopi semurah-murahnya lalu dijual dengan harga semahal-mahalnya.
Kalau makan di restoran seafood disini, biasanya (kalau restorannya agak bagus), ada logo ocean-wise. Jadi ceritanya seafood yang dimasak itu sumbernya sustainable, bukan dari hasil ilegal fishing, etc.
Jaman sekarang ada banyak lagi praktek yang seperti itu. Ada yang jual sepatu (Toms shoes), dengan membeli satu pasang mereka akan sumbangkan satu pasang ke anak-anak yang membutuhkan.
Ada trend yang saya amati. Ketika kita membeli kopi di Starbucks, kita ngga sekedar beli secangkir kopi. Tanpa sadar kita juga membeli semacam “redemption”, yang setidaknya membuat kita merasa lebih baik sebagai seorang individu. Kita merasa telah melakukan sesuatu untuk lingkungan, untuk petani kopi yang menanam kopi itu sendiri.
Dan trend ini jadi semakin jamak….berikut ini ada pendapat menarik ttg hal di atas:
RSA Animate – First as Tragedy, Then as Farce
Yang saya takutkan, orang melakukan hal yang sama di hadapan Tuhan. Sudah pelayanan, jadi bisa merasa lebih baik di hadapan Tuhan. Sudah memberi persembahan, jadi merasa lebih layak. Dan seterusnya…serem juga kalau membayangkan ke arah situ. Hmmm. Apakah motivasi dari tindakan anda di hadapan Tuhan?
Jadi ingat kotbah “Kita adalah orang berhutang”
