Terkadang, saya bertanya-tanya pada diri sendiri: Tuhan akan bentuk saya jadi orang seperti apa ya? Ini pertanyaan random yang rasanya saya tidak akan pernah bisa menjawab secara detail. Pas kecil, ngga punya cita-cita khusus. Pelajaran di sekolah selalu pas-pasan (namun anehnya selalu masuk ranking 10 besar). Pas sma ngga suka ngapalin, jadi memutuskan ngambil IPA. Ketika memilih jurusan, cukup bingung, akhirnya (lagi-lagi karena males ngapalin), memutuskan untuk masuk jurusan teknik. Entah teknik apapun ngga masalah, diterima di teknik industri, menclok ke teknik perminyakan, sampai akhirnya sekarang beres kuliah information technology. Saya suka belajar ini itu. Sampai kadang saya sendiri berpikir, saya terlalu easy-going sama interest saya.
Fiuhh, sekarang ngga kerasa udah empat tahun kerja di bidang IT. Lagi-lagi karena interest dan kesempatan yang ada, belum ada posisi yang specific yang saya dalami. Lazimnya, orang kerja di IT mulai di bidang quality analysis (QA), lalu dari situ barulah loncat ke developer, atau ke dunia analyst. Sedangkan saya, kerjaan pertama jadi systems analyst, dari situ malah loncat ke developer, dan sekarang di dunia support engineer. Pengalaman gado-gado ini ada bagusnya, ada jeleknya. Bagusnya, segala bisa. Jeleknya, semua skill gak sampai dalam-dalam banget.
Lagi-lagi…saya kadang bertanya, “Tuhan, Engkau punya rencana untukku kan? Soalnya aku sendiri rasanya ngga ada yang specific”. Orang lain sih, udah bikin plan (dan juga ambisi) untuk mencapai posisi tertentu dalam jangka waktu tertentu. Saya sih masih adem ayem (dalam hal ambisi karir), walaupun saya selalu serius dalam apapun yang saya kerjakan.
Kemarin ini ada wacana di kantor untuk career development. Intinya sih, karir kita itu mau dikembangin ke arah apa. Ada beberapa teman kantor yang fokus ke arah sales, project management, developer, atau solution architect, technical writer, atau ke arah business analyst (yup, carreer branch di IT cukup banyak).
Puji Tuhan, pengalaman gado-gado saya cukup membantu, setelah dipikir-pikir, saya paling enjoy ketika saya bisa bekerja sama orang, bukan saya komputer/program. Options yang ada ya ke arah project management, atau ke arah analysis. Dan saya pilih yang options yang kedua. Pucuk dicinta ulam tiba, bos ngasi kesempatan untuk terlibat di project kecil sbg business analyst. Dan juga saya akan mulai ambil kelas business analyst bulan depan. Yombre!
***
Lalu, apa hubungan judul post ini dengan artikelnya? Allah itu baik, sungguh baik bagiku. Semakin saya melihat perjalanan hidup ke belakang, semakin saya melihat saya ini ngga ada apa-apanya. Pas kesulitan, Tuhan yang tolong. Pas bingung, Tuhan juga tuntun untuk mengambil keputusan. Ibaratnya, saya ini cuma melangkahkan kaki, Tuhan yang arahkan.
Sekarang, saya sudah setahun lagi di Vancouver. Ada banyak hal yang sudah berubah dan terjadi. Hidup tidak lepas dari masalah. Pergumulan selalu ada. Yang tidak berubah: Tuhan itu baik. Saya percaya adalah Tuhan akan bentuk kita untuk supaya semakin serupa denganNya, sehingga pada akhirnya bisa memuliakanNya. Kata kuncinya: hidup memuliakan Tuhan.
