Teman yang mau enaknya doank

On August 16, 2010, in Indonesian, My thought, by adimulia

Dua tahun lalu, saya mengambil kelas “Effective Business Communication”. Kelasnya required buat kelulusan, makanya saya ambil. Ternyata kelas ini bisa jadi salah satu kelas yang paling saya suka selama kuliah. Jauh dari judulnya yang terdengar formal, di kelas itu kita belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain.

Buku text yang dipakai pun sangat bagus, buku-nya Dale Carnegie: “How to win friends and influence people“. Jadi dari buku itu ada banyak prinsipnya. Yang lebih menarik lagi, setiap minggu saya harus mengapplikasikan prinsip itu satu per satu, dan menulis jurnal.

Jadi misalnya…prinsip pertama: “Jangan mengkritik, mengutuk, atau mengeluh”. Jadi dulu saya ingat bagaimana saya mencoba memberi usulan pada bos untuk suatu solusi. Belum apa-apa udah ditolak mentah-mentah. Bos saya yang dulu sangat konservatif. Sebagai seorang fresh-graduate yang penuh ide, idealisme masih tinggi, banyak hal yang pengen saya perbaiki.haha. Sedangkan bos saya susah menerima ide. Jadi saya memulai dengan “begin in a friendly way”, “start with questions the other person will answer yes to”, dan akhirnya “let the other person feel the idea is his/hers”. Akhirnya sedemikian hingga, saya bisa meyakinkan bos untuk mengadopsi ide saya, walaupun bos saya mengclaim itu sebagai ide dia. Tapi tidak masalah, yang penting goal tercapai. Semuanya jadi lebih baik.

Secara umum prinsip-prinsip di buku itu baik.

TAPI, dosen saya waktu itu bilang, “Kalian bisa saja menggunakan prinsip-prinsip ini untuk mendapatkan apa yang kalian mau, tetapi ketika kalian mulai melakukan ini untuk memanipulasi orang lain, jangan, itu mengerikan”

Dosen saya memberi contoh. Misalnya, waktu itu dia lagi mau membeli sebuah TV plasma seharga $3,000. Sebagaimana umumnya rumah tangga yang baik, dia perlu dapat “approval” dulu dari menteri keuangan (baca: istrinya). Jadi pas lagi nonton tv bareng istrinya dia bilang, “Wah, tv kita kecil yah, agak susah membaca textnya. Kamu kebayang ngga lama kelamaan mata kita bisa rusak”. Istrinya, “Oh iya ya?”. Dia melanjutkan, “Iya, dibanding mata kita sakit, gimana kalau kita lihat-lihat tv yang lebih besar, di future shop kebetulan lagi ada diskon”. Haha, dan istrinya setuju untuk membeli tv. Coba bayangkan kalau suaminya out of nowhere tiba-tiba bilang ke istrinya kalau dia mau beli TV plasma segede gaban, tanpa menjelaskan alasannya.

Dosen itu bilang, kita ngga bisa mengganti karakter seseorang tapi bisa mempengaruhinya.

***

Saya hari ini lumayan dibuat kesel sama perilaku satu orang (yang katanya) teman, kita sebut saja si A. Si A cuma mengobrol dengan saya cuma kalau ada perlu, dan yang lebih menjengkelkan, dia biasa memulai dengan lip service. Tetapi ya ujung-ujungnya dia ada maunya. Pernah saya diundang makan malam ulang tahun pacarnya. Dengan senang hati saya datang. Tetapi kemudian dia mengirimkan email yang intinya berkata kalau dia mau memberi sebuah kado untuk pacarnya yang cukup mahal, nah kita diminta berpartisipasi. Wew…kado untuk pacar sendiri kok pake acara “nodong” teman yang diundang. Saya yang diundang jadi merasa kalau dia mengundang itu nggak tulus, cuma sekedar “fundraising” untuk supaya dia bisa beliin kado pacarnya. That’s not nice! That’s embarassing!

Dan kejadian-kejadian lainnya pun membawa saya kepada kesimpulan, saya sulit untuk berteman dengan orang ini. Phew…pintar sekali seperti sales obat, membuka pembicaraan dengan sesuatu yang enak dan mengakhiri dengan sesuatu yang bersifat “mau menang sendiri”. Cukup gerah juga, cukup terlihat bahwa hubungan pertemanan kita ini tidak tulus. Dulu dalam satu satu kotbahnya Pak Stef pernah bilang tentang hal ini:

Kalau dalam suatu hubungan, salah satu pihak mau mengambil keuntungan dari pihak yang lain, hubungan itu tidak akan berkembang jauh.

Ah…some people are just not sincere…and cheap.

Tagged with:  

Comments are closed.

WordPress主题