Apakah makna kasih?

On December 29, 2011, in Indonesian, My thought, by adimulia

Seorang kiai datang mengeluh kepada Gus Dur karena satu di antara empat anaknya masuk Kristen. Sang kiai sambat. Dengan enteng, Gus Dur menjawab, “Sampeyan jangan mengeluh kepada Tuhan. Nanti Tuhan akan bilang, saya saja punya anak satu-satunya masuk Kristen!”

Ya, itulah Tuhan kita: Tuhan Yesus.

Ada ayat dari 1 Yohanes 3:16:

Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.

Ada juga yang lebih terkenal Yohanes 3:16

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Seberapa nyata ayat itu dalam hidup kita? Belakangan ini saya merasa pertumbuhan rohani saya cukup struggling. Mungkin pertumbuhan rohani setiap orang itu beda-beda caranya ya. Ada yang bisa (sepertinya) bertumbuh rohani dengan mendengar kotbah yang enak-enak, teologi kemakmuran, bicara berkat. Ada yang bisa (sepertinya) bertumbuh dengan mendengar kotbah yang lembut-lembut, bicara tentang hidup yang mengasihi, menolong sesama. Tapi saya (sepertinya) bertumbuh lewat kotbah yang kritis, yang mengupas ayat-ayat Alkitab secara mendalam. Di kalimat-kalimat sebelumnya saya sisipkan kata “sepertinya” karena saya sendiri tidak tahu, apakah benar bertumbuh apa tidak.

Di penghujung tahun ini, saya ingat dengan kotbah Pdt. Stefanus Theophilus. Beliau adalah pendeta, mentor, dan sekaligus sahabat saya selama kurang lebih satu tahun. Di dalam hidup ada beberapa hal, yaitu kesempatan-kesempatan yang kita harus memilih salah satu yang kita anggap paling tepat. Ada beberapa ilustrasi yang diambil dari ilustrasinya Michael Sandel, seorang profesor filosofi politik di Harvard. Kalau mau nonton versi panjangnya, klik disini.

Ilustrasi 1:
Anda menyetir mobil di jalanan yang menurun tapi remnya blong. Di ujung jalan ada lima orang menyebrang jalan. Kalau anda banting setir, ada satu orang di pinggir jalan. Pilihan apa yang akan anda ambil? Secara sederhana, mayoritas dari kita akan memilih tabrak yang satu orang donk ya? Lebih baik satu yang mati daripada lima orang?

Ilustrasi 2:
Anda berdiri di pinggir jalan yang menurun di sebelah jurang. Dari jauh anda melihat ada mobil yang remnya blog. Penumpang mobilnya ada lima orang. Kalau mobil itu menabrak anda, anda akan mati, dan mobil itu akan masuk jurang. Nah, di sebelah anda, ada orang yang besar banget yang andaikata dia ditabrak mobil, mobil itu akan berhenti (gak masuk jurang, penumpangnya selamat), tapi orang yang berbadan besar itu akan mati. Pilihan apa yang akan anda ambil? Lebih baik lima orang selamat yah dibanding satu orang?

Ilustrasi 3:
Anda adalah seorang dokter. Ada lima pasien, korban kecelakaan mobil. Kondisi mereka semua kritis, ada yang gagal jantungnya, livernya, ginjalnya, paru-paru, pankreas. Mereka semua bakal mati kalau ngga ada donor organ. Nah, di ruangan sebelah, ada satu pasien yang sehat, lagi tidur. Anda bisa membunuh satu pasien sehat itu, dan menyelematkan lima pasien lain. Pilihan apa yang akan anda ambil?

Utilitarianisme

Di dalam keadaan demikian, inilah namanya utilitarianisme. Intinya, kalau dihadapkan pada suatu pilihan, seorang utilitarian akan memilih pilihan yang menghasilkan kebahagian untuk orang banyak. Tapi ilustrasi di atas adalah sederhana, kita tidak tahu lima orang itu siapa, satu orang itu siapa, dan lain sebagainya. Kita lanjut lagi ke ilustrasi selanjutnya ya.

Ilustrasi 4:
Sama seperti ilustrasi 3 di atas tapi ternyata yang lima pasien itu adalah tukang sampah. Yang satu orang sehat adalah presiden. Sekarang gimana? Apakah kita biarkan lima orang yang “ngga penting” ini tetap mati? Atau bunuh satu orang “penting” ini. Atau lebih ekstrim lagi, yang satu orang adalah anak kandung kita. Sekarang kita harus memilih. Bagaimana?

Untuk selamatkan satu, kadang kala harus korbankan yang lain. Seringkali perlu pengorbanan. Dari ilustrasi di atas, kita selalu berpikir sebagai pihak yang selalu ingin diuntungkan. Kita tidak pernah berpikir, kita ada di pihak yang dirugikan. Kita tidak pernah berpikir, “Kenapa ngga kita aja yang dikorbankan?”

Bagaimana dengan keselamatan?

Terbayangkah bagaimana perasaan Tuhan ketika dia harus mengutus Yesus ke dunia. Lebih lagi, bagaimana perasaan Tuhan ketika melihat Yesus mati disalib? Kenapa Tuhan ngga biarkan saja semua manusia mati? Dia kan Tuhan, kita ciptaanNya. Disinilah pergumulan kita sebagai orang Kristen. Apakah makna dari anugerah keselamatan? Kita seringkali terbuai dengan lembutnya kasih. Seperti lagu ini:

Kasih pasti lemah lembut
Kasih pasti memaafkan
Kasih pasti murah hati
KasihMu, kasihMu Tuhan

Ajarilah kami ini saling mengasihi
Ajarilah kami ini saling mengampuni
Ajarilah kami ini kasihMu ya Tuhan
KasihMu Kudus tiada batasnya

Lagu di atas ada benarnya. Tapi jauh dari kesan lemah lembut, kasih Tuhan adalah suatu kondisi dimana Tuhan ngotot mengasihi manusia sampai berkorban. Istilah bahasa Inggrisnya, unwavering God’s love. Untuk mengasihi kita, ada pengorbanan yang Tuhan lakukan. Mengasihi itu bukan sesuatu yang mudah, bukan sesuatu yang menguntungkan. Kalau kita mengasihi karena hal itu menguntungkan, rasanya kasih itu cukup dangkal yah.

Kasih adalah adanya kesediaan dimana kita dihadapkan pada dua pilihan, kita memilih pilihan yang tidak menguntungkan. Di Yohanes 3:16, konteksnya artinya Dia memberikan diriNya menjadi korban. Demi manusia yang bisa diselamatkan, Tuhan mau mengaruniakan anakNya yang tunggal.

Keselamatan hanya di dalam Kristus

Hanya Kristus yang berhak mengatakan Dia siap menjadi korban. Kenapa? Semua orang di dunia ini semuanya sama dengan kita. Sama-sama bernafas, makannya sama, bisa sakit, bisa berjuang, bisa gagal. Jadi kalau kita bilang di dalam agama lain juga bisa selamat, sedangkan pendiri, pemimpin agama di dunia adalah manusia. Jadi tidak ada bedanya dengan kita. Kalau kembali ke ilustrasi #1, mereka ada di dalam mobil sama dengan kita, bagaimana mereka bisa bilang mereka akan menyelamatkan kita? Hanya orang di luar mobil lah yang bisa menyelamatkan, yaitu cuma ada satu: Tuhan Yesus. Karena Tuhan berada di luar kendaraan itu, di luar dunia, di luar dosa. Dia datang ke dunia.

Kita tidak bicara pemimpin agama lain itu orang baik atau tidak. Mereka semua adalah orang baik, banyak dari mereka melakukan hal lebih baik daripada orang Kristen sendiri, tapi yang jadi masalah adalah mereka berada di dalam satu kendaraan dengan kita. Di dalam dosa. Yang bisa menyelamatkan kita adalah Tuhan Yesus yang berada di luar dosa.

Tahun 2012

Masuk di tahun yang baru ini, saya diingatkan kembali akan kasih Tuhan. Kasih yang tidak murah. Seperti lagunya Downhere yang judulnya How Many Kings:

Follow the star to a place unexpected
Would you believe after all we’ve projected
A child in a manger

Lowly and small, the weakest of all
Unlikeliness hero, wrapped in his mothers shawl
Just a child
Is this who we’ve waited for?

Cause how many kings, stepped down from their thrones?
How many lords have abandoned their homes?
How many greats have become the least for me?
How many Gods have poured out their hearts
To romance a world that has torn all apart?
How many fathers gave up their sons for me?
Only one did that for me

Semoga Tuhan yang sama yang sudah menyertai saya di tahun 2011, menyertai saudara juga di tahun 2012!

Tagged with:  

Leave a Reply

*
WordPress主题
Free WordPress Themes