I once heard that our life is shaped by our beliefs, how we see things in life. For instances, you can believe that the moon is made of cheese. Everyday you put more efforts to prove or realize that the moon is actually made of cheese. Perhaps someday when you can go to the moon, you will establish a kraft dinner factory there. You have the right to hold your belief and I will defend your right to believe it. If you believe that one thing is more important than anything else, then you priorities shift. You will focus on doing action towards what you believe. Days and night your mind will be filled with thoughts of that one thing. You will also have different thinking, attitude and behavior towards what you believe.
Read more »
Dua tahun lalu, saya mengambil kelas “Effective Business Communication”. Kelasnya required buat kelulusan, makanya saya ambil. Ternyata kelas ini bisa jadi salah satu kelas yang paling saya suka selama kuliah. Jauh dari judulnya yang terdengar formal, di kelas itu kita belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain.
Buku text yang dipakai pun sangat bagus, buku-nya Dale Carnegie: “How to win friends and influence people“. Jadi dari buku itu ada banyak prinsipnya. Yang lebih menarik lagi, setiap minggu saya harus mengapplikasikan prinsip itu satu per satu, dan menulis jurnal. Read more »
Terkadang, saya bertanya-tanya pada diri sendiri: Tuhan akan bentuk saya jadi orang seperti apa ya? Ini pertanyaan random yang rasanya saya tidak akan pernah bisa menjawab secara detail. Pas kecil, ngga punya cita-cita khusus. Pelajaran di sekolah selalu pas-pasan (namun anehnya selalu masuk ranking 10 besar). Pas sma ngga suka ngapalin, jadi memutuskan ngambil IPA. Ketika memilih jurusan, cukup bingung, akhirnya (lagi-lagi karena males ngapalin), memutuskan untuk masuk jurusan teknik. Entah teknik apapun ngga masalah, diterima di teknik industri, menclok ke teknik perminyakan, sampai akhirnya sekarang beres kuliah information technology. Saya suka belajar ini itu. Sampai kadang saya sendiri berpikir, saya terlalu easy-going sama interest saya.
Fiuhh, sekarang ngga kerasa udah empat tahun kerja di bidang IT. Lagi-lagi karena interest dan kesempatan yang ada, belum ada posisi yang specific yang saya dalami. Lazimnya, orang kerja di IT mulai di bidang quality analysis (QA), lalu dari situ barulah loncat ke developer, atau ke dunia analyst. Sedangkan saya, kerjaan pertama jadi systems analyst, dari situ malah loncat ke developer, dan sekarang di dunia support engineer. Pengalaman gado-gado ini ada bagusnya, ada jeleknya. Bagusnya, segala bisa. Jeleknya, semua skill gak sampai dalam-dalam banget. Read more »
It is not wrong for you to depend on your “Elijah” for as long as God gives him to you. But remember that the time will come when he must leave and will no longer be your guide and your leader, because God does not intend for him to stay. Even the thought of that causes you to say, “I cannot continue without my ’Elijah.’ ” Yet God says you must continue.
Alone at Your “Jordan” ( Kings 2:14 ). The Jordan River represents the type of separation where you have no fellowship with anyone else, and where no one else can take your responsibility from you. You now have to put to the test what you learned when you were with your “Elijah.” You have been to the Jordan over and over again with Elijah, but now you are facing it alone. There is no use in saying that you cannot go— the experience is here, and you must go. If you truly want to know whether or not God is the God your faith believes Him to be, then go through your “Jordan” alone. Read more »
Saya masuk angin. Lalu saya segera minum obat. Dua jam kemudian saya sembuh. Saya melanjutkan aktifitas seperti biasa.
Saya masuk angin. Lalu saya minum obat. Tetapi uda 6 jam gak ada tanda membaik. Lalu saya berdoa. Setelah itu saya sembuh. Saya bersyukur karena Tuhan sembuhkan saya.
Saya masuk angin. Lalu saya minum obat. Saya berdoa. Tiga hari kemudian belum sembuh juga. Pacar saya mengantar saya ke dokter. Lalu saya sembuh. Saya bersyukur atas pacar yang pengertian dan juga Tuhan yang menyembuhkan saya.
Saya masuk angin. Uda tiga hari belum membaik. Setiap hari berdoa. Pacar mengantar ke dokter. Rupanya harus dirawat inap selama satu minggu. Orang tua saya menelpon, mendoakan. Teman-teman mulai membesuk di rumah sakit. Akhirnya saya sembuh. Saya bersyukur atas pacar yang pengertian, orang tua yang masi pedulikan saya, teman masih ingat sama saya, dokter yang memberi obat, dan juga tentunya pada Tuhan yang menyembuhkan saya.
Read more »
If there are millions down on their knees among the many can you still hear me?
Sesuatu yang sesuai dengan harapan biasanya berujung pada rasa tenang. Di sisi lain sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan biasanya berujung pada rasa kecewa. Kita sering dikondisikan untuk berpikir bahwa hidup ini barulah indah ketika hal-hal yang kita alami sesuai dengan harapan.
Jadi ketika hidup ini tidak sesuai dengan harapan, banyak dari kita yang kecewa. Kecewa tidak selalu ditunjukan, bisa dipendam. Atau kita juga bisa jadi bergumul, pada dasarnya sama yaitu berharap untuk sesuatu yang sekarang belum atau masih jauh dari harapan.
Hidup ini jadi dipusatkan pada satu kata: harapan. Ketika seseorang sudah hilang harapan. Kurang lebih, di situlah akhir hidupnya. Berharap diri sendiri, kita tidak diciptakan untuk itu. Berharap pada manusia, mereka pun tidak diciptakan untuk memberikan harapan sejati. Berharap pada Kristus Yesus, Dia lah sumber pengharapan hidup.
*penulis baru saja diingatkan kembali tentang pengharapan hidup yg sejati.
Dua tahun yang lalu, sepulang kerja seperti biasa saya naik train dari downtown ke rumah. Kebetulan waktu itu satu kereta sama (kita sebutlah) Om A. Saya ingat beliau bilang, “Tin, kamu liat ini semua orang yang berdiri di kereta ini? Setiap hari mereka pulang ke rumah sambil bawa beberapa lembar dollar. Ada yang bawa satu lembar, ada yang bawa beberapa lembar.”
Sekarang kadang kalau saya pulang kerja naik train, melihat ekspressi macam-macam orang, saya membayangkan semua orang ini lagi perjalanan pulang setelah seharian kerja, masing-masing mengantongi beberapa lembar uang yang dihasilkan hari itu. Ada yang banyak, ada yang sedikit, ada yang tidak sama sekali. Tapi mereka semua melanjutkan hidup mereka, ada yang sebentar lagi akan bertemu keluarganya. Ada yang mungkin masih harus sekolah, atau bekerja. Saya juga mikir, apa orang seumur hidup begini terus ya? Pergi kerja, pulang kerja, weekend santai, atau mungkin ke gereja.
Hari ini saya makan siang “soupe de nouilles avec des boulettes de viande” alias “mie baso”.lol. Temen kantor berceloteh, “wow you always have interesting lunch I wish I could…”. Yah, maklumlah…lunch saya sebenernya biasa-biasa aja tapi mungkin emang keliatan menarik buat coworker bule. Sedangkan dia lunch tiap hari selalu sama (senen-jumat), sandwich. Paling isinya yang beda-beda.
Kejadian di atas contoh mentalitas manusia: membandingkan diri sendiri dan orang lain. Saya juga kadang tanpa sadar bandingkan diri saya dengan orang lain. In a good way ya bisa positif, jadi termotivasi untuk jadi lebih baik. Tapi kalo overdone ya negative, berujung ke rasa iri. Read more »
Aku hadir dalam tindakan. Bahasa manusia terlalu terbatas untuk mengungkap realitas aku. Aku adalah kontemplasi dan aksi, perenungan dan perbuatan. Aku menerangi langkah-langkah di lembah yang kelam. Aku terdengar, pun dalam keheningan. Adalah sangat mudah untuk jatuh aku, tetapi menjaga aku hidup selama bertahun-tahun adalah perkara lain. Read more »