<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gunung batu &#187; My thought</title>
	<atom:link href="http://gunung-batu.com/category/my-thought/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gunung-batu.com</link>
	<description>tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Dec 2011 07:54:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Apakah makna kasih?</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/12/apakah-makna-kasih/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/12/apakah-makna-kasih/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 22:34:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Kasih & Pengharapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=2044</guid>
		<description><![CDATA[Seorang kiai datang mengeluh kepada Gus Dur karena satu di antara empat anaknya masuk Kristen. Sang kiai sambat. Dengan enteng, Gus Dur menjawab, &#8220;Sampeyan jangan mengeluh kepada Tuhan. Nanti Tuhan akan bilang, saya saja punya anak satu-satunya masuk Kristen!&#8221; Ya, itulah Tuhan kita: Tuhan Yesus. Ada ayat dari 1 Yohanes 3:16: Demikianlah kita ketahui kasih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang kiai datang mengeluh kepada Gus Dur karena satu di antara empat anaknya masuk Kristen. Sang kiai sambat. Dengan enteng, Gus Dur menjawab, &#8220;Sampeyan jangan mengeluh kepada Tuhan. Nanti Tuhan akan bilang, saya saja punya anak satu-satunya masuk Kristen!&#8221;</p>
<p>Ya, itulah Tuhan kita: Tuhan Yesus. </p>
<p>Ada ayat dari 1 Yohanes 3:16:</p>
<blockquote><p>Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.</p></blockquote>
<p>Ada juga yang lebih terkenal Yohanes 3:16</p>
<blockquote><p>Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.</p></blockquote>
<p>Seberapa nyata ayat itu dalam hidup kita? Belakangan ini saya merasa pertumbuhan rohani saya cukup struggling. Mungkin pertumbuhan rohani setiap orang itu beda-beda caranya ya. Ada yang bisa (sepertinya) bertumbuh rohani dengan mendengar kotbah yang enak-enak, teologi kemakmuran, bicara berkat. Ada yang bisa (sepertinya) bertumbuh dengan mendengar kotbah yang lembut-lembut, bicara tentang hidup yang mengasihi, menolong sesama. Tapi saya (sepertinya) bertumbuh lewat kotbah yang kritis, yang mengupas ayat-ayat Alkitab secara mendalam. Di kalimat-kalimat sebelumnya saya sisipkan kata &#8220;sepertinya&#8221; karena saya sendiri tidak tahu, apakah benar bertumbuh apa tidak.<span id="more-2044"></span></p>
<p>Di penghujung tahun ini, saya ingat dengan <a href="http://vimeo.com/8707046" target="_blank">kotbah</a> Pdt. Stefanus Theophilus. Beliau adalah pendeta, mentor, dan sekaligus sahabat saya selama kurang lebih satu tahun. Di dalam hidup ada beberapa hal, yaitu kesempatan-kesempatan yang <strong>kita harus memilih</strong> salah satu yang kita anggap paling tepat. Ada beberapa ilustrasi yang diambil dari ilustrasinya Michael Sandel, seorang profesor filosofi politik di Harvard. Kalau mau nonton versi panjangnya, klik <a href="http://www.ted.com/talks/michael_sandel_what_s_the_right_thing_to_do.html" target="_blank">disini</a>.</p>
<p><strong>Ilustrasi 1:</strong><br />
Anda menyetir mobil di jalanan yang menurun tapi remnya blong. Di ujung jalan ada lima orang menyebrang jalan. Kalau anda banting setir, ada satu orang di pinggir jalan. Pilihan apa yang akan anda ambil? Secara sederhana, mayoritas dari kita akan memilih tabrak yang satu orang donk ya? Lebih baik satu yang mati daripada lima orang?</p>
<p><strong>Ilustrasi 2:</strong><br />
Anda berdiri di pinggir jalan yang menurun di sebelah jurang. Dari jauh anda melihat ada mobil yang remnya blog. Penumpang mobilnya ada lima orang. Kalau mobil itu menabrak anda, anda akan mati, dan mobil itu akan masuk jurang. Nah, di sebelah anda, ada orang yang besar banget yang andaikata dia ditabrak mobil, mobil itu akan berhenti (gak masuk jurang, penumpangnya selamat), tapi orang yang berbadan besar itu akan mati. Pilihan apa yang akan anda ambil? Lebih baik lima orang selamat yah dibanding satu orang?</p>
<p><strong>Ilustrasi 3:</strong><br />
Anda adalah seorang dokter. Ada lima pasien, korban kecelakaan mobil. Kondisi mereka semua kritis, ada yang gagal jantungnya, livernya, ginjalnya, paru-paru, pankreas. Mereka semua bakal mati kalau ngga ada donor organ. Nah, di ruangan sebelah, ada satu pasien yang sehat, lagi tidur. Anda bisa membunuh satu pasien sehat itu, dan menyelematkan lima pasien lain. Pilihan apa yang akan anda ambil?</p>
<p><strong>Utilitarianisme</strong></p>
<p>Di dalam keadaan demikian, inilah namanya utilitarianisme. Intinya, kalau dihadapkan pada suatu pilihan, seorang utilitarian akan memilih pilihan yang menghasilkan kebahagian untuk orang banyak. Tapi ilustrasi di atas adalah sederhana, kita tidak tahu lima orang itu siapa, satu orang itu siapa, dan lain sebagainya. Kita lanjut lagi ke ilustrasi selanjutnya ya.</p>
<p><strong>Ilustrasi 4:</strong><br />
Sama seperti ilustrasi 3 di atas tapi ternyata yang lima pasien itu adalah tukang sampah. Yang satu orang sehat adalah presiden. Sekarang gimana? Apakah kita biarkan lima orang yang &#8220;ngga penting&#8221; ini tetap mati? Atau bunuh satu orang &#8220;penting&#8221; ini. Atau lebih ekstrim lagi, yang satu orang adalah anak kandung kita. Sekarang kita harus memilih. Bagaimana?</p>
<p>Untuk selamatkan satu, kadang kala harus korbankan yang lain. Seringkali perlu pengorbanan. Dari ilustrasi di atas, kita selalu berpikir sebagai pihak yang selalu ingin diuntungkan. Kita tidak pernah berpikir, kita ada di pihak yang dirugikan. Kita tidak pernah berpikir, &#8220;Kenapa ngga kita aja yang dikorbankan?&#8221;</p>
<p><strong>Bagaimana dengan keselamatan?</strong></p>
<p>Terbayangkah bagaimana perasaan Tuhan ketika dia harus mengutus Yesus ke dunia. Lebih lagi, bagaimana perasaan Tuhan ketika melihat Yesus mati disalib? Kenapa Tuhan ngga biarkan saja semua manusia mati? Dia kan Tuhan, kita ciptaanNya. Disinilah pergumulan kita sebagai orang Kristen. Apakah makna dari anugerah keselamatan? Kita seringkali terbuai dengan lembutnya kasih. Seperti lagu ini:</p>
<blockquote><p>Kasih pasti lemah lembut<br />
Kasih pasti memaafkan<br />
Kasih pasti murah hati<br />
KasihMu, kasihMu Tuhan</p>
<p>Ajarilah kami ini saling mengasihi<br />
Ajarilah kami ini saling mengampuni<br />
Ajarilah kami ini kasihMu ya Tuhan<br />
KasihMu Kudus tiada batasnya</p></blockquote>
<p>Lagu di atas ada benarnya. Tapi jauh dari kesan lemah lembut, kasih Tuhan adalah suatu kondisi dimana Tuhan ngotot mengasihi manusia sampai berkorban. Istilah bahasa Inggrisnya, <strong>unwavering God&#8217;s love</strong>. Untuk mengasihi kita, ada pengorbanan yang Tuhan lakukan. Mengasihi itu bukan sesuatu yang mudah, bukan sesuatu yang menguntungkan. Kalau kita mengasihi karena hal itu menguntungkan, rasanya kasih itu cukup dangkal yah.</p>
<p>Kasih adalah adanya kesediaan dimana kita dihadapkan pada dua pilihan, kita memilih pilihan yang tidak menguntungkan. Di Yohanes 3:16, konteksnya artinya Dia memberikan diriNya menjadi korban. Demi manusia yang bisa diselamatkan, Tuhan mau mengaruniakan anakNya yang tunggal.</p>
<p><strong>Keselamatan hanya di dalam Kristus</strong></p>
<p>Hanya Kristus yang berhak mengatakan Dia siap menjadi korban. Kenapa? Semua orang di dunia ini semuanya sama dengan kita. Sama-sama bernafas, makannya sama, bisa sakit, bisa berjuang, bisa gagal. Jadi kalau kita bilang di dalam agama lain juga bisa selamat, sedangkan pendiri, pemimpin agama di dunia adalah manusia. Jadi tidak ada bedanya dengan kita. Kalau kembali ke ilustrasi #1, mereka ada di dalam mobil sama dengan kita, bagaimana mereka bisa bilang mereka akan menyelamatkan kita? Hanya orang di luar mobil lah yang bisa menyelamatkan, yaitu cuma ada satu: Tuhan Yesus. Karena Tuhan berada di luar kendaraan itu, di luar dunia, di luar dosa. Dia datang ke dunia.</p>
<p>Kita tidak bicara pemimpin agama lain itu orang baik atau tidak. Mereka semua adalah orang baik, banyak dari mereka melakukan hal lebih baik daripada orang Kristen sendiri, tapi yang jadi masalah adalah mereka berada di dalam satu kendaraan dengan kita. Di dalam dosa. Yang bisa menyelamatkan kita adalah Tuhan Yesus yang berada di luar dosa.</p>
<p><strong>Tahun 2012</strong></p>
<p>Masuk di tahun yang baru ini, saya diingatkan kembali akan kasih Tuhan. Kasih yang tidak murah. Seperti lagunya Downhere yang judulnya How Many Kings:</p>
<blockquote><p>Follow the star to a place unexpected<br />
Would you believe after all we’ve projected<br />
A child in a manger</p>
<p>Lowly and small, the weakest of all<br />
Unlikeliness hero, wrapped in his mothers shawl<br />
Just a child<br />
<strong>Is this who we’ve waited for?</strong></p>
<p>Cause how many kings, stepped down from their thrones?<br />
How many lords have abandoned their homes?<br />
How many greats have become the least for me?<br />
How many Gods have poured out their hearts<br />
To romance a world that has torn all apart?<br />
<strong>How many fathers gave up their sons for me?</strong><br />
Only one did that for me</p></blockquote>
<p>Semoga Tuhan yang sama yang sudah menyertai saya di tahun 2011, menyertai saudara juga di tahun 2012!</p>
<p><iframe width="500" height="281" src="http://www.youtube.com/embed/5UyiAnUE53U?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/12/apakah-makna-kasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Natal 2011</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/12/catatan-natal-2011/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/12/catatan-natal-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 20:30:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=2036</guid>
		<description><![CDATA[Hari masih gelap, masih jam 5 pagi, suara mesjid terdengar sahut-sahutan. Tapi pohon natal masih nyala kelap kelip di ruang tamu. Di bawah pohon natal tidak ada kado. Jam 8 pagi, kami sekeluarga pergi ke gereja untuk kebaktian. Di gereja, duduk di kursi kayu yang panjang, ruangannya terang karena matahari, AC-nya dinyalain, saya begitu menikmati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2011/12/Cradle-In-The-Shadow-Of-The-Cross-1-288x300.jpg" alt="" title="Cradle In The Shadow Of The Cross 1" width="288" height="300" class="alignright size-medium wp-image-2037" />Hari masih gelap, masih jam 5 pagi, suara mesjid terdengar sahut-sahutan. Tapi pohon natal masih nyala kelap kelip di ruang tamu. Di bawah pohon natal tidak ada kado. Jam 8 pagi, kami sekeluarga pergi ke gereja untuk kebaktian. Di gereja, duduk di kursi kayu yang panjang, ruangannya terang karena matahari, AC-nya dinyalain, saya begitu menikmati nyanyi lagu-lagu dari NKB dan KJ. Itu memori natal saya masa kecil. Begitu tenang. So calm, peaceful, tranquil.</p>
<p>Sekarang berbeda jauh. Baru tahun ini saya bisa cape dengerin lagu natal. Tiap kali dengerin radio, lagu natalnya lebih sering yang &#8220;I saw mommy kissing santa claus&#8221;, atau yang &#8220;Last year I give you my heart&#8221;, &#8220;I&#8217;m dreaming of white christmas&#8221;. Sampai akhirnya, saya ganti channel radio ke radio sekuler. Belum lagi kalau ke mal, komersialisasi natal kenceng banget. Dipikir-pikir lagi, salah satu penyebabnya perasaan cape ini adalah hilangnya Christ-centered-mas.</p>
<p>Natal tanpa Kristus bukanlah natal. Saya teringat perayaan Natal dua tahun lalu, tema yang diusung masih berkesan sampai sekarang, &#8220;A cradle in the shadow of the Cross&#8221;. Kelahiran Tuhan adalah titik awal dari moment terpenting dalam hidupnya, di salib. Tapi kalau saya mengusung tema ini, jaman sekarang ini, bahkan di gereja pun, bisa dikritik orang. Kata orang, Natal itu harusnya memberi harapan, janganlah menjadi orang yang negatif yang selalu melihat gelas setengah kosong.</p>
<p>Entahlah, harapan dalam Tuhan itu benar. Tetapi harapan itu pun datang ke dunia bukan dalam situasi adem ayem. Natal pertama berlangsung dalam situasi mencekam. Terjadi pembunuhan bayi-bayi. Tuhan harus lahir di kandang hewan.</p>
<p>Tahun ini, saya ingin merasakan Natal yang asali. Natal dimana Tuhan tetap bisa bekerja sekalipun di tengah keresahan dunia akan seorang juru selamat. Natal dimana Tuhan tetap menjalankan rencanaNya mengutus Yesus Kristus yang sudah dipersiapkan ribuan tahun sebelumnya, sejak awal dari perjanjian lama.</p>
<p>Natal tidak harus damai, tidak harus gemerlap, tidak harus meriah. Mari kita ingat lagi keukeuh-nya Tuhan mengasihi manusia. Tidak ada yang kita bisa perbuat untuk membuat Tuhan mengasihi kita lebih lagi ataupun kurang.</p>
<p>Selamat Natal untuk kita semua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/12/catatan-natal-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagu jaman sekarang</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/09/lagu-jaman-sekarang/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/09/lagu-jaman-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Sep 2011 20:23:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Activities]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Songs]]></category>
		<category><![CDATA[Lagu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1965</guid>
		<description><![CDATA[Saya orang yang suka dengerin musik. Kalau di mobil, biasanya setel radio. Dan biasanya kalau ada lagu yang catchy atau iramanya gampang dicerna, bisa terbayang-bayang di otak, dan tanpa sadar saya mulai ikutan nyanyi. Kemarin ini sempat dengerin lagu yang iramanya saya suka, penyanyinya Cee Lo, trus pas saya perhatiin lagi liriknya, parah bener, judul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya orang yang suka dengerin musik. Kalau di mobil, biasanya setel radio. Dan biasanya kalau ada lagu yang catchy atau iramanya gampang dicerna, bisa terbayang-bayang di otak, dan tanpa sadar saya mulai ikutan nyanyi. Kemarin ini sempat dengerin lagu yang iramanya saya suka, penyanyinya Cee Lo, trus pas saya perhatiin lagi liriknya, parah bener, judul lagunya udah vulgar, banyak F* bomb.<span id="more-1965"></span></p>
<p>Kalau saya ngga perhatiin liriknya, bisa jadi kaya yang di video ini:</p>
<p><object width="500" height="375"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/Q79U3KafaXs?version=3"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/Q79U3KafaXs?version=3" type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="375" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Lalu saya penasaran, apa sih lagu yang yang ngetrend sekarang ini. Top 5 Songs dari <a href="http://www.billboard.com/charts/hot-100#/charts/hot-100?order=position" target="_blank">Billboard</a> untuk minggu ini:</p>
<p><strong> 1. Adele &#8211; Someone Like You</strong><br />
Ceritanya tentang seorang wanita yang mantannya sudah move on dalam hidup dan menikah dengan wanita lain. Jadi wanita ini bilang kalau dia ingin mencari pasangan hidup seperti mantannya ini. Pas mendengar lagu ini, kesan broken-hearted terasa sekali.</p>
<p><strong>2. Maroon5 ft. Christina Aguilera &#8211; Moves Like Jagger</strong><br />
Jagger itu refer ke nama penyanyi rock, Mick Jagger. Penyanyi lagu ini ceritanya pengen jadi seperti Mick Jagger, penyanyi rock yang terkenal jaman dulu itu. Beberapa cuplikan dari liriknya:</p>
<blockquote><p>Take me by the tongue<br />
And I&#8217;ll know you<br />
Kiss me &#8217;til you&#8217;re drunk<br />
And I&#8217;ll show you<br />
&#8230;<br />
I don&#8217;t need to try to control you<br />
Look into my eyes and I&#8217;ll own you</p></blockquote>
<p><strong>3. Foster The People &#8211; Pumped Up Kicks</strong><br />
Liriknya cerita kenakalan seorang anak yang bermain-main dengan shotgun punya bapaknya. Bapaknya bekerja seharian, jadi selalu terlambat pulang ke rumah. Berikut liriknya:</p>
<blockquote><p>He&#8217;s got a rolled cigarette, hanging out his mouth he&#8217;s a cowboy kid.<br />
Yeah he found a six shooter gun.<br />
In his dads closet hidden in a box of fun things, and I don&#8217;t even know what.<br />
But he&#8217;s coming for you, yeah he&#8217;s coming for you.<br />
..<br />
Daddy works a long day.<br />
He be coming home late, yeah he&#8217;s coming home late.</p>
<p>Chorusnya:<br />
All the other kids with the pumped up kicks you&#8217;d better run, better run, outrun my gun.</p></blockquote>
<p><strong>4. LMFAO &#8211; Party Rock Anthem</strong><br />
Kalau lagu ini dari nama band-nya aja udah ngaco. Liriknya pun bisa ditebak, isi mengajak untuk berpesta pora. Dari liriknya juga terlihat:</p>
<blockquote><p>Party rock is in the house tonight<br />
Everybody just have a good time<br />
And we gonna make you lose your mind<br />
Everybody just have a good time<br />
Dan lirik lanjutannya, saya ngga rela untuk memasukkannya di blog ini, terlalu vulgar.</p></blockquote>
<p><strong>5. Nicki Minaj &#8211; Super Bass</strong><br />
Liriknya cerita tentang seorang wanita yang mencari seorang pria. Jaman sudah terbalik ya sampai sekarang wanita yang mencari pasangan hidup, bukan sebaliknya. Cuplikan liriknya:</p>
<blockquote><p>When he make it drip, drip kiss him on the lip, lip<br />
That&#8217;s the kind of dude I was lookin&#8217; for<br />
&#8230;<br />
He just gotta give me that look, when he give me that look<br />
Then the panties comin&#8217; off, off, uh</p></blockquote>
<p>Di posisi nomer 6 dan seterusnya, masih ada Lady Gaga, Katy Perry, dan penyanyi-penyanyi lain yang saya ngga pernah dengar namanya. Tapi dengan lagu yang bertema kekerasan, seks, abusive relationship, pesta pora, kebayang <strong>reaksi macam apa yang didapat dari orang yang mendengarnya?</strong></p>
<p>Wew. Ngga aneh kalau kesehatan mental orang jaman sekarang lumayan mengkhawatirkan. Mungkin begitu ada trigger untuk berbuat anarkis aja, bisa langsung keluar sisi kekerasannya. Sama seperti kerusuhan di Vancouver dan Inggris beberapa waktu lalu. Anak belasan tahun pun ikut-ikutan menjarah. Moralnya bobrok.</p>
<p><strong>Lagu apa yang kita dengar mempengaruhi bagaimana kita menyikapi hidup</strong>. Btw, lagu rohani jaman sekarang yang kontemporer, kesannya juga banyak yang &#8220;hauling&#8221;, kaya bersifat seperti raungan hidup, lamenting, beda dengan lagu-lagu rohani jaman dulu yang seperti lagunya Don Moen. Atau lagu-lagu hymn.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/09/lagu-jaman-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>66 tahun</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/08/66-tahun/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/08/66-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Aug 2011 07:01:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1919</guid>
		<description><![CDATA[Entah sekarang di rumah masih harus pasang bendera atau ngga, tapi saya ingat dulu setiap tahunnya, kami wajib untuk pasang bendera merah putih setiap tujuh belas agustus. Bahkan dalam beberapa kesempatan, papa sempat menghias rumah dengan lampu kelap-kelip. Rumah tampak lebih meriah, bahkan lebih meriah jikalau dibandingkan pas natal dan tahun baru. Saya belum pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2011/08/Indo.jpg" alt="" title="HUT RI" width="180" height="181" class="alignright size-full wp-image-1920" />Entah sekarang di rumah masih harus pasang bendera atau ngga, tapi saya ingat dulu setiap tahunnya, kami wajib untuk pasang bendera merah putih setiap tujuh belas agustus. Bahkan dalam beberapa kesempatan, papa sempat menghias rumah dengan lampu kelap-kelip. Rumah tampak lebih meriah, bahkan lebih meriah jikalau dibandingkan pas natal dan tahun baru.</p>
<p>Saya belum pernah tanya pada papa saya, apa alasan dia pasang bendera. Apakah karena keharusan, atau karena kesadaran sebagai bagian dari bangsa Indonesia, mensyukuri kemerdekaan. Entah seberapa besar rasa kebangsaan papa, satu hal yang saya tahu pasti beliau mengabdi pada negara 20-sekian tahun, dan di rumah ada piagam yang mengatakan negara berterima kasih atas bakti papa. Piagam yang cukup membanggakan, setidaknya bagi saya anaknya.<span id="more-1919"></span></p>
<p>Kemarin saya tergelitik dengan banyaknya ucapan &#8220;Merdeka!&#8221; yang bertebaran di facebook. Apa benar sudah merdeka? Mungkin maraknya korupsi dan bobroknya dunia politik Indonesia membuat rasanya kemeriahan dirgahayu Indonesia masih jauh dari hati saya. Yang dominan adalah rasa terenyuh. Ah, sepertinya, 66 tahun belum cukup untuk mendidik 200 sekian juta orang untuk menjadi bangsa yang besar.</p>
<p><object width="500" height="306"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/khUSUoYzgz4?version=3"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/khUSUoYzgz4?version=3" type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="306" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/08/66-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iman selalu disertai pergumulan</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/08/iman-selalu-disertai-pergumulan/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/08/iman-selalu-disertai-pergumulan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Aug 2011 21:54:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Anugerah]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1914</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa tahun yang lalu, saya sempat bergumul tentang topik &#8220;Karunia Roh Kudus&#8221;. Pergumulan saya adalah salah satu pergumulan klasik denominasi Kristen konservatif dan Kristen karismatik, yakni tentang bahasa roh. Saya berpegang pada pendirian bahwa bahasa roh bukan indikasi bahwa seseorang sudah dipenuhi Roh Kudus. Namun perkataan orang yang masih saya ingat sampai sekarang adalah, &#8220;Kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa tahun yang lalu, saya sempat bergumul tentang topik &#8220;Karunia Roh Kudus&#8221;. Pergumulan saya adalah salah satu pergumulan klasik denominasi Kristen konservatif dan Kristen karismatik, yakni tentang bahasa roh. Saya berpegang pada pendirian bahwa bahasa roh bukan indikasi bahwa seseorang sudah dipenuhi Roh Kudus. Namun perkataan orang yang masih saya ingat sampai sekarang adalah, &#8220;Kamu tidak bisa berbahasa roh karena kamu kurang beriman&#8221;</p>
<p>Statemen ini begitu tajam sehingga membuat saya berpikir tentang hal-hal dasar ke-Kristenan yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Apakah itu iman? Saya punya satu ilustrasi, misalnya saya berkata kalau saya punya uang $1 di kantong saya, apakah anda percaya? Kalau anda percaya, itulah iman. Kalau saya sampai harus mengeluarkan uang $1 itu dan anda melihat itu, itu bukan iman lagi, tapi itu adalah pengetahuan umum (plain knowledge).</p>
<p><a href=" http://www.billygraham.org/articlepage.asp?articleid=4642">Billy Graham punya pendapat</a> yang beda lagi tentang iman. Misalnya sekarang kita lagi duduk di sebuah kursi. Sebelum kita duduk, kita tidak memeriksa apakah kursi itu kuat menopang kita. Soalnya kita sudah melakukan hal itu berulang kali, adalah lazim kursi jaman sekarang sanggup menopang badan kita. Iman pada Tuhan tidak buta karena Tuhan sudah menjadi manusia dan menebus dosa kita. Itulah dasar iman kita kepada Tuhan.</p>
<p>Dua pandangan di atas sedikit berbeda, dua-duanya ada benarnya. Adalah benar, beriman adalah mempercayai sesuatu tanpa melihat. Dan juga adalah benar, beriman adalah percaya sesuatu karena kita tahu Tuhan Yesus sudah menebus dosa kita, dan hidup kita adalah untuk kemuliaan-Nya.</p>
<p>***</p>
<p>Belakangan ini saya cukup disibukkan berbagai hal. Ada banyak hal yang perlu saya urus berkaitan dengan persiapan pernikahan, kesibukan/pergumulan di tempat bekerja, pergumulan masa depan gereja, pikiran tentang keluarga/orang tua yang jauh di Indonesia, dan lain-lain. Semua hal ini kadang membuat saya berpikir bahwa Tuhan tidak berada di dekat saya, saya merasa jauh dari Tuhan. Saya jadi ingat statement awal tadi dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya kehilangan iman saya pada Tuhan?</p>
<p>Syukurlah, Tuhan adalah Tuhan yang mengasihi saya. Saya mendapatkan jawaban/jaminan dari Alkitab itu sendiri. Kemarin ketika saya bersaat teduh saya membaca dari Hakim-hakim 6. Tentang bagaiman Gideon diangkat jadi hakim. Ketika malaikat Tuhan menampakkan diri dan berfirman bahwa Tuhan menyertai Gideon dan berencana memakai Gideon untuk menyelamatkan orang Israel melawan orang Midian. Respon Gideon adalah, &#8220;Ah tuanku, jika Tuhan menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib yang diceritakan nenek moyang kami kepada kami, ketika mereka berkata: Bukankah Tuhan telah menuntun kita keluar dari Mesir? Tetapi sekarang Tuhan membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam cengkraman orang Midian.</p>
<p>Gideon menunjukkan sikap ragu-ragu akan penyertaan Tuhan. Dan kalau kita ingat-ingat lagi, Gideon bukanlah orang pertama. Ketika Tuhan memanggil Musa juga sama kasusnya, Musa tidak yakin akan rencana Tuhan dalam hidupnya. Musa juga punya attitude, &#8220;Tuhan, masa iya sih aku yang kau pilih?&#8221;. Yusuf pun demikian, ketika apa yang mimpikan (bahwa saudara-saudaraNya akan sujud di hadapannya) tidak terjadi dalam waktu singkat. Janji Tuhan tidak langsung digenapi. Penglihatan dari Tuhan tidak terjadi begitu saja pada Yusuf, dia harus melalui beragam peristiwa dahulu. Daud pun sama, dia tidak begitu percaya diri ketika dia dipilih Tuhan. Seperti Daud, Musa, Yusuf, Gideon, dan tokoh Alkitab lain, ada titik dalam hidup kita dimana kita meragukan janji Tuhan dan juga merindukan Tuhan. </p>
<p>***</p>
<p>Ketika saya melihat betapa banyak masalah yang saya hadapi, saya melihat pengalaman saya tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan/percaya. (My experience does not match my belief). Tapi lagi-lagi kembali ke paragraf awal. Kalau pengalaman saya selalu sesuai dengan apa yang saya harapkan/percaya, ini bukanlah iman. Iman selalu disertai pergumulan. Iman tanpa pergumulan adalah pengetahuan umum.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/08/iman-selalu-disertai-pergumulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa mau menikah</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/06/kenapa-mau-menikah/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/06/kenapa-mau-menikah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jun 2011 05:45:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1886</guid>
		<description><![CDATA[Kalau kita liat update status di facebook, entah mengapa, lebih dari 50% status yang saya baca bersifat ungkapan kesedihan, umpatan emosi, bersifat negatif. Status update yang lain bersifat memberikan informasi, ada yang update jalanan macet, ada yang promosi barang ini itu, dst. Cuma yang agak jarang, status yang bersifat positif. Walaupun ada, biasanya status positif [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau kita liat update status di facebook, entah mengapa, lebih dari 50% status yang saya baca bersifat ungkapan kesedihan, umpatan emosi, bersifat negatif. Status update yang lain bersifat memberikan informasi, ada yang update jalanan macet, ada yang promosi barang ini itu, dst. Cuma yang agak jarang, status yang bersifat positif. Walaupun ada, biasanya status positif ini cuma muncul menjelang akhir pekan, sampai kira-kira hari Minggu. Hari Senin udah penuh dengan keluhan lagi.haha.</p>
<p>Beginilah hidup kali ya? Orang kalau diminta menyebutkan sesuatu yang positif, kayanya kok ya susah banget. Tapi kalau diminta menyebutkan yang negatif, bisa alami, mengalir begitu aja. Apa ini natur kejatuhan manusia ke dalam dosa? Sekarang bagi yang sudah menikah&#8230;seandainya ditanya, kenapa sih mau menikah dengan pasangannya? Banyak yang menjawab, &#8220;Ya karena dia orangnya baik.&#8221; atau &#8220;Ya, karena dia orangnya sabar.&#8221;. Jawabannya pendek. Tapi begitu beberapa tahun menikah, dan lagi berantem, mungkin keluhan/cacian itu sendiri bisa dibikin novel.</p>
<p>Ah, kenapa anda menikahi pasangan anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/06/kenapa-mau-menikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertumbuhan rohani?</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/06/pertumbuhan-rohani/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/06/pertumbuhan-rohani/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 18:58:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1873</guid>
		<description><![CDATA[Ketika seseorang bilang dia bertumbuh secara rohani, apa sih maksudnya? Rasanya pernyataan pertumbuhan rohani terlalu umum, terlalu luas untuk diartikan. Apakah bertumbuh rohani itu artinya pengetahuan orang tentang Tuhan bertambah? Apakah artinya dia semakin rajin berdoa? Apakah artinya dia semakin banyak aktivitas pelayanan di gereja? Apakah artinya dia jadi hamba Tuhan? Absurd juga ya ukuran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2011/06/measurement-300x225.jpg" alt="" title="measurement" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-1874" />Ketika seseorang bilang dia bertumbuh secara rohani, apa sih maksudnya? Rasanya pernyataan pertumbuhan rohani terlalu umum, terlalu luas untuk diartikan. Apakah bertumbuh rohani itu artinya pengetahuan orang tentang Tuhan bertambah? Apakah artinya dia semakin rajin berdoa? Apakah artinya dia semakin banyak aktivitas pelayanan di gereja? Apakah artinya dia jadi hamba Tuhan? Absurd juga ya ukuran ini.</p>
<p>Rasanya indikator seseorang bertumbuh secara rohani adalah hubungan dia dengan Tuhan. Bagaimana seseorang memandang arti hidup sebagai anugerah, bagaimana seseorang bereaksi terhadap dosa, dan tanpa disadari Tuhan membentuk seseorang menjadi manusia yang baru, yang memuliakan Tuhan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/06/pertumbuhan-rohani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keinginan atau harapan</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/03/keinginan-atau-harapan/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/03/keinginan-atau-harapan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Mar 2011 21:23:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Kasih & Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[Lagu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1853</guid>
		<description><![CDATA[Sambil kerja saya biasa dengerin lagu dari Grooveshark. Di playlistnya ada lagu U2 &#8211; Beautiful Day yang bagian liriknya begini: What you don&#8217;t have you don&#8217;t need it now What you don&#8217;t know you can feel it somehow What you don&#8217;t have you don&#8217;t need it now Don&#8217;t need it now Was a beautiful day [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sambil kerja saya biasa dengerin lagu dari Grooveshark. Di playlistnya ada lagu U2 &#8211; Beautiful Day yang bagian liriknya begini:</p>
<p>What you don&#8217;t have you don&#8217;t need it now<br />
What you don&#8217;t know you can feel it somehow<br />
What you don&#8217;t have you don&#8217;t need it now<br />
Don&#8217;t need it now<br />
Was a beautiful day </p>
<p>Yang kita ngga punya sekarang adalah sesuatu yang tidak kita butuhkan. Masa iya sih bener demikian? Dsini ada dua hal yang dibahas: kebutuhan vs. keinginan. Dua hal ini berbeda, untuk lebih jelasnya, coba deh baca buku Charles Stanley yang judulnya <a href="http://www.amazon.com/Our-Unmet-Needs-Charles-Stanley/dp/0840791437">&#8220;Our Unment Needs&#8221;</a>. Bagus banget. Intinya kan apa yang kita inginkan itu kan belum tentu kita butuhkan. Saya ingin punya uang 1 juta rupiah misalnya, tapi uang itu belum tentu saya butuhkan.<span id="more-1853"></span></p>
<p>Bicara tentang keinginan, kadang agak-agak sulit karena setiap keinginan yang beda. Keinginan seorang jomblo jelas beda dengan keinginan orang yang sudah menikah. Yang jomblo menginginkan dapat jodoh. Yang sudah menikah mungkin menginginkan kehadiran seorang anak. Keinginan juga berganti-ganti dari waktu ke waktu.</p>
<p>Nah, bagaimana kalau kata &#8220;keinginan&#8221; disini kita ganti dengan kata &#8220;harapan&#8221;. Kalimatnya begini jadinya: Yang jomblo mengharapkan dapat jodoh. Yang menikah mengharapkan kehadiran seorang anak. Kalimatnya mendadak berubah menjadi lebih soft. Emang gampang mengatakan apa yang kita harapkan belum tentu kita butuhkan. Tetapi sulit kita mengatakan mempunyai sebuah harapan adalah sesuatu yang salah.</p>
<p>Ketika keinginan kita gak terwujud, kita mungkin masi bisa bilang &#8220;Yah Tuhan, gak apa-apa, mungkin apa yang aku inginkan ini emang tidak aku butuhkan&#8221;. Tapi kalau kita pakai kata &#8220;harapan&#8221;, mungkin kita bisa berdoa, &#8220;Tuhan, masa aku punya harapan ini salah sih sampai Tuhan gak mau beri&#8221;. Lebih lagi kalau pake kata &#8220;sudah&#8221;. &#8220;Saya sudah melakukan A, B, C, tapi harapan saya gak pernah terwujud&#8221;.</p>
<p>Kadang harapan itu cuma versi halus dari keinginan. Bagaimana kita menanggapi harapan/keinginan yang tidak terwujud? C.S. Lewis pernah bilang seperti ini:</p>
<blockquote><p>If you think of this world as a place intended simply for our happiness, you find it quite intolerable: <strong>think of it as a place for correction and it&#8217;s not so bad</strong>. </p>
<p>Imagine a set of people all living in the same building. Half of them think it is a hotel, the other half think it is a prison. Those who think it a hotel might regard it as quite intolerable, and those who thought it was a prison might decide that it was really surprisingly comfortable. </p>
<p>So that what seems the ugly doctrine is one that comforts and strengthens you in the end. The people who try to hold an optimistic view of this world would become pessimists: the people who hold a pretty stern view of it become optimistic</p>
<p>-C.S. Lewis</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/03/keinginan-atau-harapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengejar impian</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/03/mengejar-impian/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/03/mengejar-impian/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2011 05:24:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Life Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1840</guid>
		<description><![CDATA[Kalau ada penyanyi yang saya kagumi, salah satunya adalah Susan Boyle. Entah mengapa saya sangat suka sama lagu yang dia nyanyiin &#8220;I dream a dream&#8221;. Secara khusus, saya suka penampilan dia pertama kali di Britains Got Talent (BGT). Dari cuplikan video ini, ada banyak aspek hidup yang kita bisa belajar. Berikut petikan percakapan dia dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-1841" title="Susan Boyle" src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2011/03/susanboyle-300x187.jpg" alt="" width="300" height="187" />Kalau ada penyanyi yang saya kagumi, salah satunya adalah Susan Boyle. Entah mengapa saya sangat suka sama lagu yang dia nyanyiin &#8220;I dream a dream&#8221;. Secara khusus, saya suka penampilan dia pertama kali di Britains Got Talent (BGT). Dari cuplikan <a href="http://www.youtube.com/watch?v=RxPZh4AnWyk" target="_blank">video ini</a>, ada banyak aspek hidup yang kita bisa belajar. Berikut petikan percakapan dia dengan juri-juri BGT.</p>
<p>Simon: What&#8217;s the dream?<br />
Susan: I&#8217;m trying to be a professional singer<br />
Simon: And why it hasn&#8217;t worked so far Susan?<br />
Susan: Because, I <strong>haven&#8217;t been given a chance</strong> before, but here’s, <strong>I’m hoping</strong> it will all change.<br />
Simon: OK and who would you like to be as successful as?<br />
Susan: Elaine Paige.<br />
<span id="more-1840"></span><br />
Kalau dipikir, Tuhan menciptakan manusia itu secara spesial banget. Setiap orang bisa punya impian yang berbeda, punya panggilan hidup yang berbeda. Ada yang mau jadi penyanyi, ada yang mau jadi dokter, dsb. Tapi ada tiga resep buat mengejar impian:</p>
<ul>
<li>Tetapi tidak selalu setiap orang bisa mencapai impiannya, mungkin belum ada <span style="text-decoration: underline;">kesempatan</span> kaya Susan Boyle di atas.</li>
<li>Yang saya suka dari percakapan di atas, Susan masih punya harapan untuk mengejar impiannya. Entah secara sadar atau tidak, dia menggunakan kata &#8220;I&#8217;m hoping&#8221;. Yup, <span style="text-decoration: underline;">pengharapan</span>&#8230;itulah yang gak setiap orang punya.</li>
<li>Setiap orang boleh saja punya impian, boleh saja punya pengharapan, tapi rupanya juga perlu <span style="text-decoration: underline;">passion</span>.</li>
</ul>
<p>Coba juga perhatiin reaksi penonton di detik ke-45. Orang memandang sebelah mata. Yah, ini juga rasanya realita hidup yang jamak kita temui. Orang begitu mudah untuk &#8220;ngenye&#8221;. Gak jarang orang begitu cepat untuk menghakimi orang lain. Belum juga menunjukan kebolehan, udah divonis gagal duluan. Tapi yang bagusnya, Boyle <strong>gak nyerah</strong>. Dia menunjukkan kalau dia udah siap menghadapi hal seperti ini. Mental juara. Haha, coba perhatiin di videonya, menit 1:17 dia mulai nyanyi, di menit 1:21 penonton udah bersorak. Mantep, dia cuma butuh <span style="text-decoration: underline;">4 detik</span> untuk menangin hati penonton. Btw, moment favorit saya ada di 2:40.</p>
<p>Berikut komentar juri-juri sesudah Boyle beres nyanyi:</p>
<ul>
<li><strong>Piers</strong>: Without a doubt, that was the biggest surprise I have had in three years on the show. When you stood there with that cheeky grin and said &#8220;I want to be like Elaine Paige&#8221;, everyone was laughing at you. No one is laughing now, That was stunning. An incredible performance. Amazing. I am reeling. I’m shocked. How about you two?</li>
<li><strong>Amanda</strong>: I&#8217;m so thrilled because I know everybody was against you. I honestly think that we were all being very cynical and I think that’s the biggest wake up call ever. I just want to say that it was a complete privileged, listening to that. It was extreme privileged.</li>
<li><strong>Simon</strong>: Susan, I knew the minute you walked out&#8230;on that stage that we were going to hear something extraordinary (two judges laugh out loud and the audience) and I was right. Susan, you are a little tiger, aren&#8217;t you?</li>
</ul>
<p>Ah&#8230;itu cerita tentang Susan Boyle yang saya kagumi. Cerita yang berakhir bahagia. <strong>Bahagia</strong>, ya itulah kata yang terngiang di pikiran. Dari renungan yang saya baca kemarin-kemarin, ada kata-kata bagus:</p>
<blockquote><p>Hampir semua orang ingin hidup yang bahagia. Baik yang muda, dan tua, berkeluarga atau tidak. Kebahagiaan adalah yang yang dicari dan di jual di pasar. Orang membeli dan mencari untuk kebahagiaan hidup. Tapi, kebahagiaan hidup itu ternyata bukan ditemukan di banyak barang, harta dan posisi tapi sikap hati. Cuman satu syarat hidup yang berbahagia. Orang yang PUAS hatinya. Orang yang bisa bersyukur ditengah apa pun adalah orang yang bahagia.</p></blockquote>
<p><strong>Filosofi Hidup</strong></p>
<p>Memasuki usia ke-25 ini, agak sulit untuk mengukur hidup. Saya gak tau ukuran apa yang harus dipakai. Teman ada yang bilang, &#8220;Mobil? sudah punya. Pacar? sudah ada. Perlu apa lagi?&#8221;. Klise ya kalau hidup itu harus diukur-ukur dengan apa yang kita &#8220;punya&#8221;, padahal itu semua titipan Tuhan. Someday kita &#8220;pulang&#8221; toh yah sendirian, gak bawa apa-apa. Ah untuk apa mengukur hidup, ujung-ujungnya biasanya berakhir ke rasa iri, tidak puas, dan tidak bersyukur pada Tuhan <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ketika dihadapkan dengan impian, kadang saya bingung impian yang mana. Dari segi karir, saya tidak tertarik mengejar jabatan setinggi CEO dsb. Saya perhatikan hidup mereka gak lebih bahagia dari saya. Bahkan rasanya hidup saya lebih happy dari mereka, haha, saya masih bisa bangun tidur dengan perasaan tenang. Tidak ada Blackberry yang geter2 setiap menit, email yang gak berenti masuk tentang pekerjaan. So&#8230;jabatan tinggi bukan impian saya rasanya.</p>
<p>Jujur saya punya impian lain. Kadang&#8230;pas lagi bengong, saya bertanya pada diri sendiri, &#8220;Kapan yah Tuhan datang lagi?&#8221;. Beneran rindu. Tapi bukan artinya saya orang yang maunya gampangnya aja, lebih milih &#8220;shortcut&#8221; Tuhan datang lagi dibanding berjuang dalam hidup ini. Ada ayat yang jadi filosofi hidup saya secara garis besar, dari Filipi 1:21-22</p>
<blockquote><p>Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.</p></blockquote>
<p><strong>Jadi kalau hidup ya harus berjuang, harus memberi buah</strong>. Ada quote dari John Piper dalam serinya Don&#8217;t Waste Your Life, begini bunyinya: There is a purpose God has planned for me to magnify His Glory, whether by life or by death.</p>
<p><strong>Masa Depan</strong></p>
<p>Seperti lirik di lagu &#8220;I dream a dream&#8221;, ada kalimat &#8220;And there are storms we cannot weather&#8221;. Yah, emang hari esok tidak seorang pun tau apa yang terjadi. Tapi ya <strong>syukurilah hari ini</strong>. Pikiran saya dipenuhi dengan hal-hal dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa sadar, apa yang dipikirkan menjadi realita hidup.</p>
<p>Saya kenal seorang teman yang suka mobil. Dia punya mobil sangat bagus, naik mobilnya serasa naik pesawat jet. Saya kira dia happy dengan mobilnya, tapi dia selalu mengeluh mobilnya sudah tua, sudah tinggi kilometernya. Dan akhirnya dia ganti ke mobil yang lebih bagus sekarang. Satu hal yang saya perhatikan: <span style="text-decoration: underline;">manusia tidak pernah puas</span>. Tapi saya pun juga ingat sama satu orang, yaitu mendiang emak Po Lien, tetangga mama pas kecil. Beliau bukan orang yang kaya, dia hanyalah seorang janda yang berjualan kue untuk membiayai pendidikan empat anak, tapi hidupnya. Tapi dia tidak pernah mengeluh..I saw joy when she smiled!</p>
<blockquote><p>Orang yang terus berfokus kepada hal hal yang negative dalam kehidupan, akan memiliki realitas kehidupan yang negatif.<br />
Orang yang terus berfokus kepada hal hal yang positive dalam kehidupan, akan memiliki realitas kehidupan yang positif pula.</p></blockquote>
<p>Di jaman serba tidak pasti ini, mari kita belajar menerima keterbatasan hidup. Bersyukurlah kepada Tuhan akan kehidupan yang terbatas ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/03/mengejar-impian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuhan masih menulis cerita cinta</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/02/tuhan-masih-menulis-cerita-cinta/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/02/tuhan-masih-menulis-cerita-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Feb 2011 01:01:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1828</guid>
		<description><![CDATA[Ada beberapa blog menarik yang saya ikuti tentang kehidupan cinta anak-anak Tuhan. Salah satunya ya blognya Grace Suryani yang judulnya Tuhan masih menulis cerita cinta, ada lagi beberapa blog yang isinya insipiratif seperti Comitted to Love, atau The Road North, atau &#8220;Keep counting the blessing&#8220;-nya Ci Yanni. Kadang sharing dari ibu-ibu blogger itu cukup refreshing, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada beberapa blog menarik yang saya ikuti tentang kehidupan cinta anak-anak Tuhan. Salah satunya ya blognya Grace Suryani yang judulnya <a href="http://www.facebook.com/pages/Tuhan-Masih-Menulis-Cerita-Cinta/336521874821">Tuhan masih menulis cerita cinta</a>, ada lagi beberapa blog yang isinya insipiratif seperti <a href="http://mikeloveslia.blogspot.com/">Comitted to Love</a>, atau <a href="http://hanshinta1.blogspot.com/">The Road North</a>, atau &#8220;<a href="http://yannyblessing.blogspot.com/">Keep counting the blessing</a>&#8220;-nya Ci Yanni. Kadang sharing dari ibu-ibu blogger itu cukup refreshing, setidaknya saya mendapat perspektif mereka sebagai wanita. Musim valentine, cerita cinta bertebaran dimana-mana. Di facebook, semuanya mengucapkan happy valentine. Di persekutuan ada acara khusus buat merayakan. Moment valentine rasanya jadi moment setahun sekali buat mengungkapkan cinta kasih. </p>
<p>Walaupun sebenernya saya pikir-pikir lagi: Tuhan menulis cerita cinta setiap hari. Hampir setiap orang dalam hidupnya pernah merasakan kasih. Saya pun demikian. Kalau diingat-ingat, lucu juga cerita cinta yang Tuhan tulis dalam hidup saya. Sebagai anak-anak, Tuhan menulis cerita cintaNya melalui keluarga. Dulu saya pernah cerita sedikit di blog post <a href="http://gunung-batu.com/2010/03/ada-kasih-ada-pengorbanan/">yang ini</a>.<span id="more-1828"></span></p>
<p>Somehow konsep-konsep dalam keluarga itu tertanam sedemikian rupa sampai kita dewasa. Malahan ada masa dimana saya begitu idealis tentang cerita cinta. Pokoknya saya mau cari calon pasangan hidup yang cantik, pinter masak, pinter bikin kue, suka bersih-bersih rumah, ramah, rendah hati, suka menolong orang, suka menabung, dll. Hahaha *ini sepertinya bukan kategori buat manusia*. Tapi konsepnya pokoknya berusaha cari yang sempurna, lupa ngaca sama diri sendiri, lupa tanya sama Tuhan, atau bahkan gak mau dengerin Tuhan tentang kriteria pasangan hidup yang benar.</p>
<p>Singkat cerita saya mengenal namanya pacaran, tapi rupanya gagal. Mengenal lah yang namanya patah hati. Pas ngalamin patah hati, rasanya emang sedih. Tapi Tuhan masih menulis cerita cinta. Setelah kembali menjadi single, saya justru merasa itulah masa-masa saya paling dekat sama Tuhan. Yang saya belajar dari kasih Tuhan tentang pacaran, konsepnya simple, di 1 Korintus 13:4-8.</p>
<blockquote><p>Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.</p></blockquote>
<p>Nah sekarang saya masih dalam masa pacaran *ihiy*, Tuhan masih menulis cerita cinta. Perjalanan ceritanya masih panjang, tapi saya bersyukur untuk setiap cerita cinta yang Tuhan tulis. Ada yang sedih, ada yang bikin senang, ada yang bikin ketawa. Cerita cinta yang Tuhan tulis dalam hidup anda pasti berbeda dan punya keunikan sendiri. Tapi percayalah, ketika Tuhan menulis cerita cinta, Dia mengerti benar apa itu cinta <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/02/tuhan-masih-menulis-cerita-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memisahkan kabar busuk dari fakta</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/02/memisahkan-kabar-busuk-dari-fakta/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/02/memisahkan-kabar-busuk-dari-fakta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 06:07:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1818</guid>
		<description><![CDATA[Ada pelajaran berharga yang kita bisa dapatkan dari cerita bangsa Israel keluar dari Mesir. Cerita bagaimana Tuhan memerdekakan bangsa Israel, dan &#8220;mendidik&#8221; mental bangsa Israel dari mental budak, menjadi mental bangsa pilihan Allah, yakni menurut gambaran Allah. Sebenarnya gambaran Israel kuno juga serupa dengan gambaran Israel &#8220;modern&#8221; yakni kita orang berdosa. Bagaimana melalui Tuhan Yesus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada pelajaran berharga yang kita bisa dapatkan dari cerita bangsa Israel keluar dari Mesir. Cerita bagaimana Tuhan memerdekakan bangsa Israel, dan <strong>&#8220;mendidik&#8221;</strong> mental bangsa Israel dari mental budak, menjadi mental bangsa pilihan Allah, yakni menurut gambaran Allah. Sebenarnya gambaran Israel kuno juga serupa dengan gambaran Israel &#8220;modern&#8221; yakni kita orang berdosa. Bagaimana melalui Tuhan Yesus kita dimerdekakan dari dosa. Karena toh kita diciptakan menurut gambaran Allah.</p>
<p><object width="500" height="306"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/e/dIGj1OPRShc"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/e/dIGj1OPRShc" type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="306" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><span id="more-1818"></span><br />
Kalau kita nonton film Moses, kita melihat bagaimana &#8220;wah&#8221;-nya penyertaan Tuhan menuntun bangsa Israel keluar dari Mesir. Laut dibelah, tentara yang ngejar dibikin tenggelam, etc. Keren banget lah. Tapi lucunya setelah melewati hal yang keren gitu, bangsa Israel masih meragukan Tuhan. Entah berapa kali mereka pengen balik lagi ke Mesir. Padahal di Mesir jadi budak. Kadang saya mikir, emang manusia itu susah berubah. Sudah ditebus dari dosa, tapi cenderung &#8220;suka&#8221; sama dosa.</p>
<p>Tuhan panjang sabar. Bangsa Israel mengeluh kepanasan, dikasih tiang awan pas siang. Mengeluh kedinginan, dikasih tiang api pas malam. Mengeluh kelaparan, dikasih manna. Tapi Tuhan kesel juga kali sama orang mengeluh. Alhasil mereka gak diijinin masuk tanah perjanjian. Instead mereka dibikin muter-muter di padang pasir 40 tahun. Biarin dibiarin keliling2, Tuhan tetap kasih makan. Ngga kurang baik gimana.</p>
<blockquote><p>Pelajaran yang kita bisa tarik dari cerita di atas: <strong>jangan mengeluh ketika menghadapi masalah</strong>. Tuhan udah janjiin tanah perjanjian kok. Hati-hati jangan sampai Tuhan murka, bisa habislah kita!</p></blockquote>
<p>Cerita bagian kedua. Kita mungkin ingat, sebelum masuk kota Yerikho, Musa mengirim dua belas mata-mata untuk mengintai situasi. Uniknya dari dua belas mata-mata, sepuluh bilang yang jelek-jelek dan bernada pesimis, cuma dua yang tetap optimis. How come?</p>
<p>Begini laporan sepuluh pengintai (10PP): &#8220;Bos, lapor, Negeri itu (Kanaan) berlimpah susu dan madunya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat&#8221;. Jiper deh orang Israel. Tapi Kaleb coba menenteramkan hati bangsa Israel, dia bilang, &#8220;Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!&#8221;</p>
<p>Nah ini dia bagian menariknya, di ayat 32-33, &#8220;Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel <strong>kabar busuk </strong>tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: &#8220;Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.&#8221;</p>
<p>Udah deh, bangsa Israel menangis pada malam itu. Bersungut-sungutlah mereka pada Musa dan Harun, pengennya mati di Mesir dibanding mati di padang gurun. Dua mata-mata yang optimis itu terus berusaha meyakinkan bahwa Israel bisa menang. Dia bilang, &#8220;Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. <strong>Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu</strong> dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. <strong>Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN</strong>, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka.&#8221; Disini ada fakta yang valid, tapi juga ada kabar busuk yang benar-benar bertentangan dengan janji Tuhan. Mana ada itu orangnya kaya raksasa saling makan satu sama lain. <strong>Itu bukan fakta</strong>. </p>
<blockquote><p>Pelajaran yang kita bisa tarik dalam hidup ini. Jangan sampai dibikin bingung oleh kabar-kabar busuk yang dibilang orang. Ketika Tuhan sudah berjanji, pegang erat janji itu. Jangan memberontak kepada Tuhan.
</p></blockquote>
<p>Di kesibukan saya belakangan ini, emang urusan yang dihadapi cukup beragam. Gak jarang orang di sekitar sering berkata &#8220;kabar busuk&#8221;, membawa pemikiran pesimis. Disini saya ngga mengajak kita jadi orang yang selalu optimis (baca: dikit2 claim janji Tuhan), tapi lebih ke arah marilah jadi orang yang selalu berpengharapan pada Tuhan dalam menghadapi setiap masalah. <strong>Tuhan pasti tuntun anak-anakNya!</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/02/memisahkan-kabar-busuk-dari-fakta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pa-ma-ci-ko</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/01/pa-ma-ci-ko/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/01/pa-ma-ci-ko/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Jan 2011 05:10:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Surat Kangen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1797</guid>
		<description><![CDATA[What a family I have in you. Tell me, where have the years gone? If I knew, I&#8217;d gladly reclaim and relive each one of them.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>What a family I have in you. Tell me, where have the years gone?<br />
If I knew, I&#8217;d gladly reclaim and relive each one of them.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/01/pa-ma-ci-ko/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Naturalisasi hamba Tuhan?</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/01/naturalisasi-hamba-tuhan/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/01/naturalisasi-hamba-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 19:07:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1786</guid>
		<description><![CDATA[Fenomena naturalisasi belakangan merebak di dunia persepakbolaan Indonesia. Semenjak pemain-pemain naturalisasi bergabung dengan timnas, prestasi pasukan Garuda (timnas) kian sering mencuat di media. Sebutlah Christian Gonzalez, pemain dari Uruguay yang sudah merumput di lapangan bola tanah air sejak tahun 2003, dan sekarang bermain di Persib Bandung. *Pantesan Persib sekarang jadi jago, padahal biasanya kalah melulu*. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2011/01/naturalization-300x199.jpg" alt="" title="naturalization" width="300" height="199" class="alignright size-medium wp-image-1791" />Fenomena naturalisasi belakangan merebak di dunia persepakbolaan Indonesia. Semenjak pemain-pemain naturalisasi bergabung dengan timnas, prestasi pasukan Garuda (timnas) kian sering mencuat di media. Sebutlah Christian Gonzalez, pemain dari Uruguay yang sudah merumput di lapangan bola tanah air sejak tahun 2003, dan sekarang bermain di Persib Bandung. *Pantesan Persib sekarang jadi jago, padahal biasanya kalah melulu*. Tercatat pada November 2010 yang lalu, Gonzalez resmi menjadi WNI. Dengan demikian ia boleh menjadi bagian dari timnas.</p>
<p>Belakangan beredar anekdot untuk melakukan naturalisasi untuk politisi-politisi di Indonesia. Carut marut panggung politik di Indonesia emang menyedihkan. Saking menyedihkannya sampai mungkin saya rasa kita perlu naturalisasi politikus yang lebih handal. Gak melulu ngeributin jalan-jalan studi banding, kasus Susno, Gayus, yang semuanya &#8220;hangat-hangat (maaf) tahi ayam&#8221;. Sekarang rame, paling tar beberapa bulan lagi sepi, tanpa ada penyelesaian tuntas.<span id="more-1786"></span></p>
<blockquote><p>Naturalisasi terlihat sebagai solusi ketika kita memiliki keterbatasan dalam suatu komunitas.</p></blockquote>
<p>Bagaimana dengan pelayanan di gereja? Ketika suatu gereja memiliki keterbatasan dalam berbagai aspek pelayanan, apakah naturalisasi adalah suatu pilihan? Saya kadang membayangkan bagaimana kalau suatu saat di gereja saya bisa mendengarkan Brooke Fraser (vokalis Hillsong favorit saya :p) sebagai penyanyi, atau John Piper sebagai pengkotbah. Gereja mungkin bisa berisi semua &#8220;superstar&#8221;. Bermimpi!</p>
<p>Atau lebih ekstrim lagi imajinasi saya kalau naturalisasi di dalam berkeluarga. Gimana jadinya kalau ayah saya melihat saya sebagai anak yang kurang baik. Masa ayah saya akan menaturalisasi orang lain buat jadi anaknya. Tidak akan pernah terjadi!</p>
<blockquote><p>Naturalisasi tidak akan pernah menjadi pilihan untuk sesuatu yang melibatkan &#8220;personal relationship&#8221;. </p></blockquote>
<p>Sebagai anak dan ayah, tidak ada yang bisa menggantikan posisi ini walaupun dua-duanya mungkin banyak kekurangan. Saya merasakan hal yang sama dengan pelayanan di gereja. Tidak mungkin kita menaturalisasi orang-orang di luar gereja hanya karena di gereja tidak ada orang yang sanggup melayani. Bagi saya pelayanan di gereja adalah suatu hasil dari hubungan pribadi dengan Tuhan, yang lalu diapplikasikan di suatu komunitas (yakni gereja).</p>
<p>Ketika mengalami &#8220;krisis kekurangan hamba Tuhan&#8221;, biasanya situasi akan menjadi sedikit tidak enak. Pasti muncul kata-kata seperti, &#8220;Apa susahnya sih bilang iya?&#8221;, &#8220;Orang lain aja bisa, masak anda tidak bisa?&#8221;, &#8220;Abraham aja mau dipanggil Tuhan tanpa tau tujuannya kemana&#8221;. Ada sederet kisah di Alkitab yang bisa digunakan sebagai referensi tentang panggilan pelayanan. Tapi bagaimana mungkin suatu yang bersifat personal (apalagi dengan Tuhan) bisa dipaksakan. Biarlah gereja boleh bersama-sama bergumul tentang hal ini, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan gereja-Nya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/01/naturalisasi-hamba-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Angin di 2011</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/01/angin-di-2011/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/01/angin-di-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Jan 2011 15:04:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1780</guid>
		<description><![CDATA[Ada orang-orang yang mengarungi laut dengan kapal-kapal, yang melakukan perdagangan di lautan luas; mereka melihat pekerjaan-pekerjaan TUHAN, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam. Ia berfirman, maka dibangkitkan-Nya angin badai yang meninggikan gelombang-gelombangnya. Mereka naik sampai ke langit dan turun ke samudera raya, jiwa mereka hancur karena celaka; mereka pusing dan terhuyung-huyung seperti orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2011/01/ship.jpg" alt="" title="ship" width="240" height="161" class="alignright size-full wp-image-1782" />Ada orang-orang yang mengarungi laut dengan kapal-kapal, yang melakukan perdagangan di lautan luas; mereka melihat pekerjaan-pekerjaan TUHAN, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam. Ia berfirman, maka dibangkitkan-Nya angin badai yang meninggikan gelombang-gelombangnya. Mereka naik sampai ke langit dan turun ke samudera raya, jiwa mereka hancur karena celaka; mereka pusing dan terhuyung-huyung seperti orang mabuk, dan kehilangan akal. Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dikeluarkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang. Mereka bersukacita, sebab semuanya reda, dan dituntun-Nya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka. (Mazmur 107:23-30)</p>
<p>Konon dalam dunia berlayar, ada dua kondisi yang tidak enak: angin ribut, dan tidak ada angin sama sekali. Kalau ada angin ribut, kapal diombang-ambing kesana kemari. Semua awak kapal harus bekerja keras agar kapal tidak karam. Dan kondisi kedua, tidak ada angin sama sekali. Kapal tidak bisa bergerak ke tujuan akhir. Emang setau saya ada titik yang dibilang &#8220;equatorial calm&#8221;, jadi di titik itu emang gak ada angin. Kapal gak bisa berlayar.</p>
<p>Selama 2010, rasanya saya mengalami situasi &#8220;angin ribut&#8221; dan juga &#8220;gak ada angin&#8221;. Dan juga tentunya, mengalami situasi angin yang mendukung untuk berlayar, semakin dekat dengan apa yang dituju. Somehow perasaan saya memasuki tahun 2011 ini agak khawatir. Sepertinya tahun ini akan menjadi tahun yang cukup menantang. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, dipersiapkan, dan diputuskan.</p>
<p>Semua lorong di bumi haruslah kau jalani<br />
Bersama dengan sesama menuju pada Bapa</p>
<p>Semua pematang swah menanti telapakmu<br />
Derita ria bersama meringankan langkahmu</p>
<p>Semua roda hidupmu mendambakan imanmu<br />
Di perjamuan abadi Bapa sudah menanti</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/01/angin-di-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kok jahat sekali ya</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/12/kok-jahat-sekali-ya/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/12/kok-jahat-sekali-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Dec 2010 08:39:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1768</guid>
		<description><![CDATA[Coba tonton video ini dulu, kemudian baca komentar saya di bawah ini. Ada tiga perasaan ketika saya menonton video ini: kasihan, sedih &#38; geram. Kasihan dengan orang yang menonton video ini begitu saja, dan mempercayai isinya sebagai kebenaran Tuhan. Sedih karena firman Tuhan kok dipermainkan seperti ini. Geram dengan orang yang dengan sadar tidak menuntun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Coba tonton <a href="http://www.youtube.com/watch?v=8R0Gafg5YfI" target="_blank">video ini</a> dulu, kemudian baca komentar saya di bawah ini.</p>
<p>Ada tiga perasaan ketika saya menonton video ini: kasihan, sedih &amp; geram. Kasihan dengan orang yang menonton video ini begitu saja, dan mempercayai isinya sebagai kebenaran Tuhan. Sedih karena firman Tuhan kok dipermainkan seperti ini. Geram dengan orang yang dengan sadar tidak menuntun orang pada pemahaman yang benar tentang Tuhan. Kok jahat sekali ya.</p>
<p>Dari dulu bicara tanda-tanda, kutip Alkitab secuplik-secuplik lalu artikan di luar konteksnya. Bicara bulan bintang, goncangan, api, angin. Duh. Di video ini membahas angka 26 yang dikaitkan dengan bencana di Indonesia. Dari sisi fakta, ini udah salah, karena:</p>
<ul>
<li>Gempa Jogja itu tanggal 27 Mei 2006, bukan tanggal 26.</li>
<li>Gempa di Tasik bukan hanya terjadi tanggal 26 Juni 2010. Tapi sering. Bahkan gempa yang terbilang besar kekuatannya itu yang tahun 2009, tepatnya 2 September 2009 (7,3 skala Richter).</li>
<li>Gempa bumi Mentawai itu tanggal 25 Oktober, bukan tanggal 26.<span id="more-1768"></span></li>
</ul>
<p>Lalu dia bilang, &#8220;Hari-hari ini Tuhan berbicara tentang angka 26&#8243;. Artinya Tuhan lagi berbicara dari Hagai 2:6, &#8220;sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut!&#8221;&#8230;.Hah, bagaimana bisa Hagai 2:6 dikaitkan sama angka 26? Kenapa gak dari Matius 2:6 kek, atau Mazmur 2:6, atau Ayub 2:6. Hmmmm&#8230;mengada-ngada. Belum lagi kalau Alkitab bahasa Inggris Hagai 2:6 di Indonesia adalah Hagai 2:7 di Alkitab bahasa Inggris.</p>
<p>Dengan jutaan bencana di dunia, dan hanya 28, 29, 30, atau 31 tanggal dalam satu bulan, jelas kita akan bisa menemukan bencana-bencana di tanggal 1, 2, dst. Tinggal niat apa ngga kita nyari datanya. Gak perlu mengait2kan bencana yang terjadi dengan mistis-mistis, apalagi dikaitkan dengan Hagai 2:6.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/12/kok-jahat-sekali-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Patokan nilai</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/12/patokan-nilai/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/12/patokan-nilai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Dec 2010 23:56:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1751</guid>
		<description><![CDATA[Konon katanya, ada tiga macam hal yang menjadi patokan dalam menilai sesuatu: Suara terbanyak &#8211; kalau suara terbanyak bilang hal itu baik, maka hal itu menjadi baik. Bila kebanyakan orang bilang hal itu buruk, maka hal itu menjadi buruk. Tujuan - yang penting adalah tujuannya. Cara gak gitu penting, yang penting tujuannya. Contohnya, Robin Hood [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Konon katanya, ada tiga macam hal yang menjadi patokan dalam menilai sesuatu:</p>
<ul>
<li><strong>Suara terbanyak</strong> &#8211; kalau suara terbanyak bilang hal itu baik, maka hal itu menjadi baik. Bila kebanyakan orang bilang hal itu buruk, maka hal itu menjadi buruk.</li>
<p><br/></p>
<li><strong>Tujuan </strong>- yang penting adalah tujuannya. Cara gak gitu penting, yang penting tujuannya. Contohnya, Robin Hood itu gak apa-apa, karena dia mencuri dengan tujuan yang baik yaitu untuk berbagi dengan orang miskin. Contoh lain lagi, berbohong itu gak apa-apa, yang penting maksudnya baik. Makanya kadang ada istilah white lies.</li>
<p><br/></p>
<li><strong>Kebudayaan </strong>- kalau nilai budaya bilang baik ya baik, gimana nilai budaya yang dianut aja. Contohnya, pasangan kumpul kebo di Indonesia sih sering dirazia. Kalau di Canada, hal itu udah biasa.</li>
</ul>
<p>Hal ini terdengar sederhana. Sebagai orang percaya, apakah hal di atas yang jadi kriteria kita? Hmmm&#8230;jelas patokan orang percaya adalah cuma satu, yaitu gimana penilaian Tuhan, yang kita kenal melalui firmanNya. Kadang&#8230;kita sering terjebak dengan tiga patokan di atas, lupa tanya penilaian Tuhan.</p>
<p>*<span style="color: #ffffff;">Semoga keputusan yang saya ambil hari ini  berkenan di hadapan Tuhan</span>*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/12/patokan-nilai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Embracing God in uncertainty</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/11/embracing-god-in-uncertainty/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/11/embracing-god-in-uncertainty/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Nov 2010 05:48:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1718</guid>
		<description><![CDATA[My impression after I read my previous post was that it sounds so logical and rational (perhaps because that&#8217;s the way I or most men think?). I asked myself again what was the reason I wrote the article, I think it is because there are many uncertainties in life. It may be job uncertainties, relational [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>My impression after I read my previous <a href="http://gunung-batu.com/2010/11/embrace-uncertainty/">post</a> was that it sounds so logical and rational (perhaps because that&#8217;s the way I or most men think?). I asked myself again what was the reason I wrote the article, I think it is because there are many uncertainties in life. It may be job uncertainties, relational uncertainties, financial uncertainties, or even faith uncertainties.</p>
<p>It is true that I know that I have a sovereign God. I learned the hard way the importance of the Bible: sola scriptura. I am grateful for the grace of God, salvation by faith not by works. I read scriptures saying that God is in control of my life, hence I should not be worry. Even I name this blog based on Psalm 18:2: The LORD [is] my rock, and my fortress, and my deliverer; my God, my strength, in whom I will trust; my buckler, and the horn of my salvation, [and] my high tower. (KJV)<span id="more-1718"></span></p>
<p>Yet still if we&#8217;re honest&#8230;<strong>one thing is certain: there will always be uncertainty.</strong></p>
<p>Since there will always be uncertainty, there is no point to act as if there is no uncertainty. We cannot ignore uncertainty. It exists. As I mentioned in my previous post, I tend to embrace uncertainty by applying several techniques. But I guess I forgot to mention the underlying principle of embracing uncertainty is actually embracing God in uncertainty. For all flesh is as grass, and all the glory of man as the flower of grass. The grass withereth, and the flower thereof falleth away (1 Peter 2:24, KJV)</p>
<p>If we&#8217;re honest&#8230;<strong>we cannot ignore the existence of God in uncertainty.</strong></p>
<p>As I recall in the Bible, uncertainty existed in both Old and New Testaments.</p>
<ul>
<li>Abraham was called to unknown place. Yet later we know the great plan God has prepared for him. God promised three things: land, seed, and blessings. (Abrahamic Covenant)</li>
<li>The story of Moses. He spent 40 years of uncertainty in the desert. God shaped his character. You can read the detail at this <a href="http://gunung-batu.com/2009/12/sekolah-kehidupan-padang-gurun/" target="_blank">article</a> I posted a while ago. God made covenant with Moses (Mosaic Covenant)</li>
<li>The nation of Israel wandered in the desert for forty years. They did complain. We know that God did not allow the to enter Canaan.</li>
<li>The story of Elijah, one of many great stories I admired in the Bible. He fought all the baal prophets on Mount Carmel. He was so brave at a time, yet he felt so miserable and uncertain of his life when Jezebel chased him down. He was so depressed so that he even asked God to take his life. We know that God protected Elijah. God fed Elijah through the crow. Isn&#8217;t amazing?</li>
<li>The story of David. Uncertainty and doubts were in the mind of all people but David! He defeated Goliath.</li>
<li>The story of Paul, Peter, John, and other disciples. Even they believe in Christ, uncertainty still existed in their life.</li>
</ul>
<p>If we&#8217;re willing to learn from the past, God did not take away uncertainty from our life, even after we believed in Him. But one thing for sure, God has plan and purpose uniquely prepared to each of us. If we were certain of everything in life, we wouldn&#8217;t trust in God the way we should have.</p>
<p>Uncertainty in life should bring our focus back to God.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/11/embracing-god-in-uncertainty/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Embracing Uncertainty</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/11/embrace-uncertainty/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/11/embrace-uncertainty/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Nov 2010 07:12:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1701</guid>
		<description><![CDATA[This is something I&#8217;m currently contemplating. Some times, the hardest part of building a software system is deciding precisely what to build. 2 out of 3 projects are failing. Whether that number is accurate or not, it is pretty concerning as I&#8217;m working in the IT industry. Perhaps that is one of many reasons my [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-1700" title="Uncertainty" src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/11/Uncertainty-300x285.jpg" alt="" width="300" height="285" />This is something I&#8217;m currently contemplating. Some times, the hardest part of building a software system is deciding <span style="text-decoration: underline;">precisely</span> what to build. 2 out of 3 projects are failing. Whether that number is accurate or not, it is pretty concerning as I&#8217;m working in the IT industry. Perhaps that is one of many reasons my interest in business analysis (BA) world has grown recently. BA role is to gather what the users need. Typically a BA would write user stories using this kind of template:</p>
<p>As a [role], I want to [do something], so that [blablabla]. For example, as an artist, I want to create some paintings, so that I can sell it and meet my ends. This sounds simple, right? Now&#8230;it seems logical that we need to know what we want in order to estimate its construction and get it on schedule, right? I want to get a brush, a canvas, some paints, and start painting. Things sound simple until we&#8217;re actually doing it.<span id="more-1701"></span></p>
<p>So here myself, as an artist starts painting. I know what I want, now there are two approaches I can take: paint it <strong>iteratively</strong>, or paint it <strong>incrementally</strong>. While these two terms are actually common words used in IT project, I will try to explain them in simple way.</p>
<p>If I were to paint incrementally&#8230;it will look like this:<br />
Incrementing calls for a fully formed idea. And, doing it on time <strong>requires dead accurate estimation</strong>.<br />
<img class="alignleft size-full wp-image-1698" title="Monalisa1" src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/11/Monalisa1.jpg" alt="" width="602" height="193" /></p>
<p>While if I were to paint iteratively&#8230;it will look like this:<br />
A more iterative allows you to move from vague idea to realization <strong>making course corrections as you go</strong>.<br />
<img class="alignleft size-full wp-image-1702" title="Monalisa2" src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/11/Monalisa21.jpg" alt="" width="596" height="196" /></p>
<p>See the difference? Incremeting is basically build a bit at a time. While iterating builds a rough version, validates it, then slowly builds up quality. Now do you see why many IT projects fail? Well, one of the reason is because they&#8217;re doing the project incrementally, instead of iteratively. Some of you may raise your eyebrow and say &#8220;how come?&#8221;</p>
<p>Let&#8217;s imagine if a customer asked me to build a car within a year. I know all cars will have an engine, brakes, transmission, suspension, seats, steering wheel, etc. If I were to build it incrementally, I would build a Mercedes Benz. But I need to have a dead accurate knowledge of how a Mercedes Benz car is like. That&#8217;s pretty hard since I have little knowledge on Benz cars. I start building the engine, make it perfect. Then build the transmission, make it perfect. Then the body, and make it perfect. Then by month 12, I will have all perfect parts built except the brakes. The car has no brake! Oops&#8230;this project failed.</p>
<p>If I were to build it iteratively, my first goal would be to get a functional car which has engine, brakes, transmission, etc. I build a functional brake, not the best in the class but it is functional. Then I continue on other parts as well, they don&#8217;t have the best quality but they will meet your basic expectation for a car. At the end of month 12, I may not have a Benz, but I have a Mazda! Working and functioning fully as a car.</p>
<p>Often times, at least in IT projects. Customers come with several essential goals they would like to achieve. But usually, we want to build it perfect with one shot, resulting we cannot deliver all of the bare essentials. </p>
<p>***</p>
<p>So, what are my take aways from the story above? Well, I realize with my current knowledge, situation, and experience, it is very hard to decide precisely what my life would be in the future (We&#8217;re talking 5 years and beyond). I know <span style="text-decoration: underline;">in general</span> what my goal is, but I don&#8217;t know <span style="text-decoration: underline;">precisely</span> how to achieve that goal. Generally, I would love to let God use my life to glorify Him. It&#8217;s pretty generic, isn&#8217;t it? What do I mean by glorifying God? What do I need precisely to achieve that? No clue. Well, some of you may say, this goal is too abstract to talk about, it is not tangible.</p>
<p>Well, same thing when I say I want to have the ability to love my future wife. Do I know <span style="text-decoration: underline;">precisely</span> how? Not really, but I&#8217;m trying it iteratively. Haha, this sounds geeky. Well the point is, I&#8217;m not really trying to have the top-of-the-line quality of a husband to be. I&#8217;m trying to have whatever I need to start with then iteratively go from there, making corrections as I go.</p>
<p>When I say I want to have the ability to be self-sufficient. Do I know <span style="text-decoration: underline;">precisely</span> what I need to do? Not really, but I started back then when I chose my major. I choose what I enjoy (somewhat) which is IT. Then slowly trying to get my foot into the door of IT world. There are some learning pains.</p>
<p>***</p>
<p>Now, as a Christian I don&#8217;t know what my future would be. There are so many uncertainties, many things I don&#8217;t know, many things I don&#8217;t understand. But I know that only God knows precisely what my future will be. Hence, I need to ask God and keep praying and ask for His guidance in life. But I also do know that God has given me the wisdom to actually do my best to seek His will and plan in my life. To summarize, here are three things I learn so far to embrace uncertainty:</p>
<ul>
<li><strong>See the big picture of life, then prioritize your goals</strong>: you hear it often. You gotta start somewhere in life. At least you can define some goals in life, right? You don&#8217;t necesarily know how to achieve that goal for now. But at least you know that those goals are important. As you prioritize them, re-think&#8230;the essentials of the goals themselves. Are they really important in life (or after life)?</li>
<li>Don&#8217;t choose your solution too early and <strong>get yourself familiar to the word &#8220;change&#8221;</strong>. When facing uncertainty, it is critical to make decision. I understand that part. But it is also important not to get &#8220;stuck&#8221; with one decision. Should you face any difficulties along the way, it is a good thing to have alternatives. Imagine this: I would like to dig a hole to put my flower in. To dig a hole, I can use small spade, spoon, or even an excavator. If I decided to use a spoon, and along the way I&#8217;m facing a giant rock, I would have regreted and wished that I keep the excavator with me.<br />
<img class="alignleft size-full wp-image-1697" title="Hole" src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/11/Hole.jpg" alt="" width="387" height="381" /></li>
<li>Build up quality iteration by iteration&#8230;.<strong>don&#8217;t give up. Keep learning</strong>.</li>
<li>Know that above all these things we can do, I believe that God is sovereign in my life. Every learning process/pains I go through, God knows and understands. This article is not intended to build up your confident so that you can face uncertainty with your own power. </li>
</ul>
<p>As I&#8217;m writing iteratively, I may have wrong opinion in this article, but I will be happy to re-iterate and correct it <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/11/embrace-uncertainty/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan rumus</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/09/bukan-rumus/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/09/bukan-rumus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Sep 2010 20:12:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1619</guid>
		<description><![CDATA[Masih berkaitan dengan post sebelumnya. Saya belajar jalan Tuhan bukan rumus. Bukan: Kalau saya rajin ke gereja, Tuhan jadi senang. Kalau saya berpuasa, saya akan dapat kuasa Kalau saya berdosa, saya gak akan ketemu masalah berarti Kalau saya ngasih perpuluhan, saya akan diberkati lebih lagi Kalau saya berdoa sampai menangis, berarti Tuhan berkenan Melakukan hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih berkaitan dengan post sebelumnya. Saya belajar jalan Tuhan bukan rumus.</p>
<p>Bukan:<br />
Kalau saya rajin ke gereja, Tuhan jadi senang.<br />
Kalau saya berpuasa, saya akan dapat kuasa<br />
Kalau saya berdosa, saya gak akan ketemu masalah berarti<br />
Kalau saya ngasih perpuluhan, saya akan diberkati lebih lagi<br />
Kalau saya berdoa sampai menangis, berarti Tuhan berkenan</p>
<p>Melakukan hal di atas rasanya sia-sia kalau kita tidak punya hubungan yang personal dengan Tuhan. Belajar mengenal Dia melalui hidup hari lepas hari.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/09/bukan-rumus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memberi dengan rela</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/09/memberi-dengan-rela/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/09/memberi-dengan-rela/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Sep 2010 19:41:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1615</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?&#8221; Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Maka kata Yesus: &#8220;Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?&#8221; Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Maka kata Yesus: &#8220;Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.&#8221;</p>
<p>Hmmm&#8230;tiga ratus dinar itu seberapa berharga di jaman sekarang? Dari informasi bebas yang saya dapat, pada jaman dulu upah kerja satu hari adalah 1 dinar. Jadi diasumsikan minyak itu setara dengan upah tiga ratus hari. Dengan perhitungan 25 hari kerja per bulan (dengan asumsi hari sabat semua orang tidak bekerja), itu artinya setara dengan gaji bekerja setahun!</p>
<p>Reaksi Yudas adalah reaksi yang jamak kita temui dan cukup masuk di akal (jika kita tidak membaca ayat setelah itu). Udah kerja cape-cape setahun, semua hasilnya dikasi untuk Tuhan. Terbayangkah gaji anda setahun anda kasih semua ke Tuhan? Kenapa Maria melakukan itu? Apa Maria itu kurang pintar (baca: bodoh)?<span id="more-1615"></span></p>
<p>***</p>
<p>Ada macam-macam perspektif untuk menanggapi cerita ini:</p>
<p><strong>Perspektif Pemborosan</strong></p>
<p>Pandangan kita mungkin sama dengan Yudas. Semua dihitung dari perspektif pemborosan dan perbandingan. Saya punya uang 300 dinar, supaya untung bagusnya diapain. Kalau uang sebanyak itu dipakai buat beli minyak narwastu murni dan minyaknya dipakai untuk membasuh kaki satu orang, itu namanya pemborosan.</p>
<p>Misalnya lagi, tabungan saya di bank ada $500, saya harapkan bulan depan udah berbunga jadi $503. Saya punya waktu 2 jam, apakah bagusnya saya datang ke gereja, atau 2 jam itu saya pakai untuk berbuat amal pada sesama? Toh kan sama-sama hal yang baik? Sepintas kalimat-kalimat tersebut benar. Tetapi setelah membaca ayat selanjutnya, kalimat di atas sudah menjadi obsolete, tidak berlaku lagi. Ini ayatnya yang Tuhan bilang, &#8220;&#8230;.Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu&#8221;</p>
<p>Orang miskin selalu ada, tetapi Aku tidak. Yang membuat berbeda adalah &#8220;Aku&#8221;-nya, yaitu Tuhan sendiri. Minyak narwastu bukan dipakai untuk membasuh kaki satu orang, tetapi untuk Tuhan. Berbakti pada Tuhan di hari Minggu tidak bisa disamakan dengan berbakti pada sesama <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Perspektif Berkorban</strong></p>
<p>Jadi orang pelit itu mudah. Belajar memberi itu sulit. Belajar memberi dengan kerelaan itu lebih sulit lagi. Saya pun masih belajar untuk memberi dengan kerelaan. Dulu waktu kecil, saya sempat mikir, kenapa mama kasi saya uang untuk persembahan? Pas masukin uangnya ke kantong persembahan saya sempet mikir, uang ini bisa dijajanin baso.haha.</p>
<p>Nah, kemudian saya masukin uang ke dalam kantong kolekte. Saya (masi) mikir lagi, ah, semoga Tuhan baik, nanti Tuhan gerakan hati mama buat ngasi saya uang jajan.haha. Ini contoh yang ngga baik, memberi tapi ngga rela. Sekarang&#8230;ya mungkin kita masi seperti itu? Mau memberi untuk Tuhan, kadang terpikir akan kebutuhan yang lain. Sudah memberi, merasa sudah berkorban jadi punya hak buat claim ini itu sama Tuhan. Orang merasa berkorban ini bahaya juga sih kalo dipikir-pikir. Kadang, kalau sudah akut, bisa mengasihani diri secara berlebihan.</p>
<p>Yang menarik dari Maria, dia memberi dengan rela. Dia sepertinya asyik-asyik aja meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya. Dia ngga mengasihani diri atau merasa udah berkorban, &#8220;Aduh&#8230;.saya kan udah memberi barang berharga saya untuk Tuhan, apa yang bisa saya dapatkan ya?&#8221;. Rasanya ngga begitu. Banyak orang mengharapkan sesuatu ketika dia merasa sudah berkorban. Di Indonesia, hal ini jadi hal yang rutin bisa dibaca di koran, entah kadang DPR punya rencana bombastis buat membangun gedung lah, rencana ini itu, mereka selalu beralasan rakyat harus rela berkorban.</p>
<p>Apakah hari ini anda merasa sudah berkorban? Jangan-jangan anda lagi mengharapkan sesuatu terjadi karena pengorbanan anda? <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/09/memberi-dengan-rela/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>What we believe is critical</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/08/what-we-believe-is-critical/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/08/what-we-believe-is-critical/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 08:05:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1598</guid>
		<description><![CDATA[I once heard that our life is shaped by our beliefs, how we see things in life. For instances, you can believe that the moon is made of cheese. Everyday you put more efforts to prove or realize that the moon is actually made of cheese. Perhaps someday when you can go to the moon, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/08/seek-the-truth-300x272.jpg" alt="" title="seek the truth" width="300" height="272" class="alignright size-medium wp-image-1599" /> I once heard that our life is shaped by our beliefs, how we see things in life. For instances, you can believe that the moon is made of cheese. Everyday you put more efforts to prove or realize that the moon is actually made of cheese. Perhaps someday when you can go to the moon, you will establish a kraft dinner factory there. You have the right to hold your belief and I will defend your <u>right</u> to believe it. If you believe that one thing is more important than anything else, then you priorities shift. You will focus on doing action towards what you believe. Days and night your mind will be filled with thoughts of that one thing. You will also have different thinking, attitude and behavior towards what you believe.<br />
<span id="more-1598"></span><br />
Sometimes, I think that life consists of many phases. One phase is when we were born, we gained education and care from our parents. Second phase is when we learn to stand on our own fit (i.e. early career life). Third phase is when (if God permits), we establish family. Forth, fifth, and so on&#8230;is when we grow our family, experience life lost, and finally that day when we met God face to face.</p>
<p>During these phases of life, our beliefs are shaped, so is our life. For example, if you believe that there is no God since you were young. You will never pray to God because you believe that God doesn&#8217;t exists. You will also act like there is no God for the future days of your life. Perhaps you will not care about sin, then you will do whatever you want without much thinking of the consequences. </p>
<p>Or&#8230;if we would like to take it a little bit into daily life. If your mind is set on your belongings, your action will reflect that as well. I just got myself a car. I spent months considering to buy a car. How&#8217;s that possible? Well, what made it so long is that I want to assure myself that I&#8217;m getting a car, not &#8220;a car is getting myself&#8221;. I need to set my mind: I&#8217;m buying the car I need, not the car I want. I need a car that I can treat as a car. I notice that some people treat their car better than they treat other people, or even close friends or family. I don&#8217;t want it to happen to myself. So thankfully, I&#8217;ve found a car I can drive with peaceful mind. See&#8230;my belief on cars can empower all the thinking and actions for few months.</p>
<p>Another examples is church life. You know&#8230;unlike Catholic church, there are so many denominations among Christian churches. Some church believe that as Christian, God really wants to bless us with material blessings <u>abundantly</u>. So that belief will reflect on their prayers. &#8220;Lord, please multiply this offering by hundred times and so and so&#8221;. A friend of mine is getting sick and tired of debates across churches. He posted his status on facebook once: &#8220;Jesus is the ONLY way to God but we are not the only way to Jesus!. A simple message to those who claimed their teaching is the righteous one&#8221;. The sentence triggered my mind to think: what is righteous? whose standard of righteousness?. What I think righteous can be different with what you think. Oh well&#8230;good news: we have the Bible that tells God&#8217;s truth!</p>
<p>What we need to realize, our life is shaped by our beliefs, our view of reality. Our beliefs determine the way we look at the world. Our beliefs determine the way we feel about ourselves and other people, and the way we act. However, that doesn&#8217;t mean what you believe is the truth. Which truth? God&#8217;s truth. Why is that? Well, God is the One who created us, He has planned the purpose of our life, He knows uniquely what processes we need to go through in life. He knows what priorities we should have in life.</p>
<p>It is absolutely critical that we not only seek to know the truth but we also examine our beliefs and bring them aligned to the truth. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/08/what-we-believe-is-critical/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teman yang mau enaknya doank</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/08/teman-yang-mau-enaknya-doank/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/08/teman-yang-mau-enaknya-doank/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 00:21:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1570</guid>
		<description><![CDATA[Dua tahun lalu, saya mengambil kelas &#8220;Effective Business Communication&#8221;. Kelasnya required buat kelulusan, makanya saya ambil. Ternyata kelas ini bisa jadi salah satu kelas yang paling saya suka selama kuliah. Jauh dari judulnya yang terdengar formal, di kelas itu kita belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Buku text yang dipakai pun sangat bagus, buku-nya Dale [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua tahun lalu, saya mengambil kelas &#8220;Effective Business Communication&#8221;. Kelasnya required buat kelulusan, makanya saya ambil. Ternyata kelas ini bisa jadi salah satu kelas yang paling saya suka selama kuliah. Jauh dari judulnya yang terdengar formal, di kelas itu kita belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain.</p>
<p>Buku text yang dipakai pun sangat bagus, buku-nya Dale Carnegie: &#8220;<a href="http://www.amazon.ca/How-Win-Friends-Influence-People/dp/0671723650">How to win friends and influence people</a>&#8220;. Jadi dari buku itu ada banyak prinsipnya. Yang lebih menarik lagi, setiap minggu saya harus mengapplikasikan prinsip itu satu per satu, dan menulis jurnal.<span id="more-1570"></span></p>
<p>Jadi misalnya&#8230;prinsip pertama: &#8220;Jangan mengkritik, mengutuk, atau mengeluh&#8221;. Jadi dulu saya ingat bagaimana saya mencoba memberi usulan pada bos untuk suatu solusi. Belum apa-apa udah ditolak mentah-mentah. Bos saya yang dulu sangat konservatif. Sebagai seorang fresh-graduate yang penuh ide, idealisme masih tinggi, banyak hal yang pengen saya perbaiki.haha. Sedangkan bos saya susah menerima ide. Jadi saya memulai dengan &#8220;begin in a friendly way&#8221;, &#8220;start with questions the other person will answer yes to&#8221;, dan akhirnya &#8220;let the other person feel the idea is his/hers&#8221;. Akhirnya sedemikian hingga, saya bisa meyakinkan bos untuk mengadopsi ide saya, walaupun bos saya mengclaim itu sebagai ide dia. Tapi tidak masalah, yang penting goal tercapai. Semuanya jadi lebih baik.</p>
<p>Secara umum <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/How_to_Win_Friends_and_Influence_People">prinsip-prinsip</a> di buku itu baik.</p>
<p>TAPI, dosen saya waktu itu bilang, &#8220;Kalian bisa saja menggunakan prinsip-prinsip ini untuk mendapatkan apa yang kalian mau, tetapi ketika kalian mulai melakukan ini untuk <em>memanipulasi orang lain, jangan</em>, itu mengerikan&#8221;</p>
<p>Dosen saya memberi contoh. Misalnya, waktu itu dia lagi mau membeli sebuah TV plasma seharga $3,000. Sebagaimana umumnya rumah tangga yang baik, dia perlu dapat &#8220;approval&#8221; dulu dari menteri keuangan (baca: istrinya). Jadi pas lagi nonton tv bareng istrinya dia bilang, &#8220;Wah, tv kita kecil yah, agak susah membaca textnya. Kamu kebayang ngga lama kelamaan mata kita bisa rusak&#8221;. Istrinya, &#8220;Oh iya ya?&#8221;. Dia melanjutkan, &#8220;Iya, dibanding mata kita sakit, gimana kalau kita lihat-lihat tv yang lebih besar, di future shop kebetulan lagi ada diskon&#8221;. Haha, dan istrinya setuju untuk membeli tv. Coba bayangkan kalau suaminya out of nowhere tiba-tiba bilang ke istrinya kalau dia mau beli TV plasma segede gaban, tanpa menjelaskan alasannya.</p>
<p>Dosen itu bilang, kita ngga bisa mengganti karakter seseorang tapi bisa mempengaruhinya.</p>
<p>***</p>
<p>Saya hari ini lumayan dibuat kesel sama perilaku satu orang (yang katanya) teman, kita sebut saja si A. Si A cuma mengobrol dengan saya cuma kalau ada perlu, dan yang lebih menjengkelkan, dia biasa memulai dengan lip service. Tetapi ya ujung-ujungnya dia ada maunya. Pernah saya diundang makan malam ulang tahun pacarnya. Dengan senang hati saya datang. Tetapi kemudian dia mengirimkan email yang intinya berkata kalau dia mau memberi sebuah kado untuk pacarnya yang cukup mahal, nah kita diminta berpartisipasi. Wew&#8230;kado untuk pacar sendiri kok pake acara &#8220;nodong&#8221; teman yang diundang. Saya yang diundang jadi merasa kalau dia mengundang itu nggak tulus, cuma sekedar &#8220;fundraising&#8221; untuk supaya dia bisa beliin kado pacarnya. That&#8217;s not nice! That&#8217;s embarassing!</p>
<p>Dan kejadian-kejadian lainnya pun membawa saya kepada kesimpulan, saya sulit untuk berteman dengan orang ini. Phew&#8230;pintar sekali seperti sales obat, membuka pembicaraan dengan sesuatu yang enak dan mengakhiri dengan sesuatu yang bersifat &#8220;mau menang sendiri&#8221;. Cukup gerah juga, cukup terlihat bahwa hubungan pertemanan kita ini tidak tulus. Dulu dalam satu satu kotbahnya Pak Stef pernah bilang tentang hal ini:</p>
<blockquote><p>Kalau dalam suatu hubungan, salah satu pihak mau mengambil keuntungan dari pihak yang lain, hubungan itu tidak akan berkembang jauh.
</p></blockquote>
<p>Ah&#8230;some people are just not sincere&#8230;and cheap.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/08/teman-yang-mau-enaknya-doank/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Allah itu baik, sungguh baik bagiku&#8230;</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/08/allah-itu-baik-sungguh-baik-bagiku/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/08/allah-itu-baik-sungguh-baik-bagiku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 23:14:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1562</guid>
		<description><![CDATA[Terkadang, saya bertanya-tanya pada diri sendiri: Tuhan akan bentuk saya jadi orang seperti apa ya? Ini pertanyaan random yang rasanya saya tidak akan pernah bisa menjawab secara detail. Pas kecil, ngga punya cita-cita khusus. Pelajaran di sekolah selalu pas-pasan (namun anehnya selalu masuk ranking 10 besar). Pas sma ngga suka ngapalin, jadi memutuskan ngambil IPA. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/08/Thinking.gif"><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/08/Thinking-258x300.gif" alt="" title="Thinking" width="258" height="300" class="alignright size-medium wp-image-1563" /></a>Terkadang, saya bertanya-tanya pada diri sendiri: Tuhan akan bentuk saya jadi orang seperti apa ya? Ini pertanyaan random yang rasanya saya tidak akan pernah bisa menjawab secara detail. Pas kecil, ngga punya cita-cita khusus. Pelajaran di sekolah selalu pas-pasan (namun anehnya selalu masuk ranking 10 besar). Pas sma ngga suka ngapalin, jadi memutuskan ngambil IPA. Ketika memilih jurusan, cukup bingung, akhirnya (lagi-lagi karena males ngapalin), memutuskan untuk masuk jurusan teknik. Entah teknik apapun ngga masalah, diterima di teknik industri, menclok ke teknik perminyakan, sampai akhirnya sekarang beres kuliah information technology. Saya suka belajar ini itu. Sampai kadang saya sendiri berpikir, saya terlalu easy-going sama interest saya. </p>
<p>Fiuhh, sekarang ngga kerasa udah empat tahun kerja di bidang IT. Lagi-lagi karena interest dan kesempatan yang ada, belum ada posisi yang specific yang saya dalami. Lazimnya, orang kerja di IT mulai di bidang quality analysis (QA), lalu dari situ barulah loncat ke developer, atau ke dunia analyst. Sedangkan saya, kerjaan pertama jadi systems analyst, dari situ malah loncat ke developer, dan sekarang di dunia support engineer. Pengalaman gado-gado ini ada bagusnya, ada jeleknya. Bagusnya, segala bisa. Jeleknya, semua skill gak sampai dalam-dalam banget.<span id="more-1562"></span></p>
<p>Lagi-lagi&#8230;saya kadang bertanya, &#8220;Tuhan, Engkau punya rencana untukku kan? Soalnya aku sendiri rasanya ngga ada yang specific&#8221;. Orang lain sih, udah bikin plan (dan juga ambisi) untuk mencapai posisi tertentu dalam jangka waktu tertentu. Saya sih masih adem ayem (dalam hal ambisi karir), walaupun saya selalu serius dalam apapun yang saya kerjakan.</p>
<p>Kemarin ini ada wacana di kantor untuk career development. Intinya sih, karir kita itu mau dikembangin ke arah apa. Ada beberapa teman kantor yang fokus ke arah sales, project management, developer, atau solution architect, technical writer, atau ke arah business analyst (yup, carreer branch di IT cukup banyak). </p>
<p>Puji Tuhan, pengalaman gado-gado saya cukup membantu, setelah dipikir-pikir, saya paling enjoy ketika saya bisa bekerja sama orang, bukan saya komputer/program. Options yang ada ya ke arah project management, atau ke arah analysis. Dan saya pilih yang options yang kedua. Pucuk dicinta ulam tiba, bos ngasi kesempatan untuk terlibat di project kecil sbg business analyst. Dan juga saya akan mulai ambil kelas business analyst bulan depan. Yombre!</p>
<p>***</p>
<p>Lalu, apa hubungan judul post ini dengan artikelnya? Allah itu baik, sungguh baik bagiku. Semakin saya melihat perjalanan hidup ke belakang, semakin saya melihat saya ini ngga ada apa-apanya. Pas kesulitan, Tuhan yang tolong. Pas bingung, Tuhan juga tuntun untuk mengambil keputusan. Ibaratnya, saya ini cuma melangkahkan kaki, Tuhan yang arahkan.</p>
<p>Sekarang, saya sudah setahun lagi di Vancouver. Ada banyak hal yang sudah berubah dan terjadi. Hidup tidak lepas dari masalah. Pergumulan selalu ada. Yang tidak berubah: Tuhan itu baik. Saya percaya adalah Tuhan akan bentuk kita untuk supaya semakin serupa denganNya, sehingga pada akhirnya bisa memuliakanNya. Kata kuncinya: hidup memuliakan Tuhan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/08/allah-itu-baik-sungguh-baik-bagiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>This experience must come</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/07/this-experience-must-come/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/07/this-experience-must-come/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 17:28:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1550</guid>
		<description><![CDATA[It is not wrong for you to depend on your “Elijah” for as long as God gives him to you. But remember that the time will come when he must leave and will no longer be your guide and your leader, because God does not intend for him to stay. Even the thought of that [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>It is not wrong for you to depend on your “Elijah” for as long as God gives him to you. But remember that the time will come when he must leave and will no longer be your guide and your leader, because God does not intend for him to stay. Even the thought of that causes you to say, “I cannot continue without my ’Elijah.’ ” Yet God says you must continue.</p>
<p><strong>Alone at Your “Jordan”</strong> ( Kings 2:14  ). The Jordan River represents the type of separation where you have no fellowship with anyone else, and where no one else can take your responsibility from you. You now have to put to the test what you learned when you were with your “Elijah.” You have been to the Jordan over and over again with Elijah, but now you are facing it alone. There is no use in saying that you cannot go— the experience is here, and you must go. If you truly want to know whether or not God is the God your faith believes Him to be, then go through your “Jordan” alone.<span id="more-1550"></span></p>
<p><strong>Alone at Your “Jericho”</strong> ( 2 Kings 2:15  ). Jericho represents the place where you have seen your “Elijah” do great things. Yet when you come alone to your “Jericho,” you have a strong reluctance to take the initiative and trust in God, wanting, instead, for someone else to take it for you. But if you remain true to what you learned while with your “Elijah,” you will receive a sign, as Elisha did, that God is with you.</p>
<p><strong>Alone at Your “Bethel”</strong> ( 2 Kings 2:23 ). At your “Bethel” you will find yourself at your wits’ end but at the beginning of God’s wisdom. When you come to your wits’ end and feel inclined to panic— don’t! Stand true to God and He will bring out His truth in a way that will make your life an expression of worship. Put into practice what you learned while with your “Elijah”— use his mantle and pray (see 2 Kings 2:13-14  ). Make a determination to trust in God, and do not even look for Elijah anymore.</p>
<p>Source: <a href="http://utmost.org/this-experience-must-come/">My Utmost For High Highest &#8211; August 11</a></p>
<p>***</p>
<p>This is not the first time I have to say &#8220;till we meet again&#8221; to my &#8220;Elijah&#8221;. But certainly, it&#8217;s never been easy. God, You are my God and I am thankful for all the people You bring into my life. Things I learn in the past one year:</p>
<ul>
<li> Don&#8217;t ever think to be a hero in serving God</li>
<li>Honor our parents whatever the situation and condition was/is/is going to be.</li>
<li>We just happen to be slaves who were allowed to enjoy the goodness of God.</li>
<li>There is much we can do &#8211; especially for others less than we are and who need our help.</li>
<li> Continue to serve others &#8211; and God will be responsible for all of our lives.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/07/this-experience-must-come/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Proses Hidup</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/06/proses-hidup/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/06/proses-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 23:56:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1540</guid>
		<description><![CDATA[Saya masuk angin. Lalu saya segera minum obat. Dua jam kemudian saya sembuh. Saya melanjutkan aktifitas seperti biasa. Saya masuk angin. Lalu saya minum obat. Tetapi uda 6 jam gak ada tanda membaik. Lalu saya berdoa. Setelah itu saya sembuh. Saya bersyukur karena Tuhan sembuhkan saya.  Saya masuk angin. Lalu saya minum obat. Saya berdoa. Tiga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya masuk angin. Lalu saya segera minum obat. Dua jam kemudian saya sembuh. Saya melanjutkan aktifitas seperti biasa.</p>
<p>Saya masuk angin. Lalu saya minum obat. Tetapi uda 6 jam gak ada tanda membaik. Lalu saya berdoa. Setelah itu saya sembuh. Saya bersyukur karena Tuhan sembuhkan saya. </p>
<p>Saya masuk angin. Lalu saya minum obat. Saya berdoa. Tiga hari kemudian belum sembuh juga. Pacar saya mengantar saya ke dokter. Lalu saya sembuh. Saya bersyukur atas pacar yang pengertian dan juga Tuhan yang menyembuhkan saya. </p>
<p>Saya masuk angin. Uda tiga hari belum membaik. Setiap hari berdoa. Pacar mengantar ke dokter. Rupanya harus dirawat inap selama satu minggu. Orang tua saya menelpon, mendoakan. Teman-teman mulai membesuk di rumah sakit. Akhirnya saya sembuh. Saya bersyukur atas pacar yang pengertian, orang tua yang masi pedulikan saya, teman masih ingat sama saya, dokter yang memberi obat, dan juga tentunya pada Tuhan yang menyembuhkan saya.<br />
<span id="more-1540"></span><br />
Kalau Tuhan mau, dalam hitungan detik pun Dia bisa sembuhkan saya, kalau ujungnya saya akan sembuh juga, kenapa gak langsung aja disembuhkan? Hmmm&#8230;Tuhan selalu punya rencana yang lebih indah melampaui pikiran saya. Ketika saya bangun dari tidur dengan tubuh yang sehat, saya jadi lebih sadar betapa itu adalah sebuah anugerah. Ketika saya masih dikelilingi orang tua, pacar dan teman-teman yang masih peduli, itu moment yang indah.</p>
<p>***</p>
<p>Tuhan kita bukan Tuhan yang &#8220;gampangan&#8221;, Dia juga bukan Tuhan yang serba &#8220;instant&#8221;. Kalau dari awal Tuhan mau kita ada bersamaNya di surga, hal itu sangat mungkin Tuhan lakukan. Tetapi kita tidak akan pernah tau seberapa besarNya kasih Allah, sampai Dia harus menunjukkan kasihNya di kayu salib.</p>
<p>Mungkin Abraham tidak akan mendapat julukan bapa orang beriman kalau Tuhan langsung memberi Ishak tanpa Abraham harus menunggu seratus tahun. Mungkin bangsa Israel sudah mati kelaparan kalau Yusuf tidak dijual saudaranya, difitnah, dipenjara, lalu sampai bisa jadi penguasa Mesir. Dan ada banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang lain di Alkitab.</p>
<p>Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk melewati setiap proses hidup yang ada. Proses sekolah, proses mencari kerja, proses pacaran, proses mendidik anak, proses melayani Tuhan, dll. Di setiap proses itu hendaklah kita terus bergantung pada Tuhan dan berikan yang terbaik. Mungkin Tuhan sedang mengajak kita untuk menikmati hidup ini melaui berbagai macam proses, bertemu bermacam-macam orang, menghadapi bermacam-macam masalah, kita diajak melihat hal-hal yang tidak akan kita bisa lihat kalau kita jadi anak &#8220;gampangan&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/06/proses-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A place in this world</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/06/a-place-in-this-world/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/06/a-place-in-this-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 21:18:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Quote]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1525</guid>
		<description><![CDATA[If there are millions down on their knees among the many can you still hear me?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>If there are millions down on their knees among the many can you still hear me?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/06/a-place-in-this-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harapan</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/04/harapan/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/04/harapan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 05:45:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1459</guid>
		<description><![CDATA[Sesuatu yang sesuai dengan harapan biasanya berujung pada rasa tenang. Di sisi lain sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan biasanya berujung pada rasa kecewa. Kita sering dikondisikan untuk berpikir bahwa hidup ini barulah indah ketika hal-hal yang kita alami sesuai dengan harapan. Jadi ketika hidup ini tidak sesuai dengan harapan, banyak dari kita yang kecewa. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sesuatu yang sesuai dengan harapan biasanya berujung pada rasa tenang. Di sisi lain sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan biasanya berujung pada rasa kecewa. Kita sering dikondisikan untuk berpikir bahwa hidup ini barulah indah ketika hal-hal yang kita alami sesuai dengan harapan.</p>
<p>Jadi ketika hidup ini tidak sesuai dengan harapan, banyak dari kita yang kecewa. Kecewa tidak selalu ditunjukan, bisa dipendam. Atau kita juga bisa jadi bergumul, pada dasarnya sama yaitu berharap untuk sesuatu yang sekarang belum atau masih jauh dari harapan.</p>
<p>Hidup ini jadi dipusatkan pada satu kata: harapan. Ketika seseorang sudah hilang harapan. Kurang lebih, di situlah akhir hidupnya. Berharap diri sendiri, kita tidak diciptakan untuk itu. Berharap pada manusia, mereka pun tidak diciptakan untuk memberikan harapan sejati. Berharap pada Kristus Yesus, Dia lah sumber pengharapan hidup.</p>
<p><span>*penulis baru saja diingatkan kembali tentang pengharapan hidup yg sejati.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/04/harapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa yang dicari?</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/04/apa-yang-dicari/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/04/apa-yang-dicari/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Apr 2010 20:43:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Kasih & Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1422</guid>
		<description><![CDATA[Dua tahun yang lalu, sepulang kerja seperti biasa saya naik train dari downtown ke rumah. Kebetulan waktu itu satu kereta sama (kita sebutlah) Om A. Saya ingat beliau bilang, &#8220;Tin, kamu liat ini semua orang yang berdiri di kereta ini? Setiap hari mereka pulang ke rumah sambil bawa beberapa lembar dollar. Ada yang bawa satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua tahun yang lalu, sepulang kerja seperti biasa saya naik train dari downtown ke rumah. Kebetulan waktu itu satu kereta sama (kita sebutlah) Om A. Saya ingat beliau bilang, &#8220;Tin, kamu liat ini semua orang yang berdiri di kereta ini? Setiap hari mereka pulang ke rumah sambil bawa beberapa lembar dollar. Ada yang bawa satu lembar, ada yang bawa beberapa lembar.&#8221;</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1424" title="train" src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/04/train-300x222.jpg" alt="" width="300" height="222" />Sekarang kadang kalau saya pulang kerja naik train, melihat ekspressi macam-macam orang, saya membayangkan semua orang ini lagi perjalanan pulang setelah seharian kerja, masing-masing mengantongi beberapa lembar uang yang dihasilkan hari itu. Ada yang banyak, ada yang sedikit, ada yang tidak sama sekali. Tapi mereka semua melanjutkan hidup mereka, ada yang sebentar lagi akan bertemu keluarganya. Ada yang mungkin masih harus sekolah, atau bekerja. Saya juga mikir, apa orang seumur hidup begini terus ya? Pergi kerja, pulang kerja, weekend santai, atau mungkin ke gereja.</p>
<p><span id="more-1422"></span>Scene di atas jadi mengingatkan saya pada lagu sekolah minggu. Walaupun dulu sekolah minggu jarang perhatiin guru, saya masih ingat lah beberapa lagunya.haha. Lirik lagunya begini:</p>
<p>Apa yang dicari orang? ..uang (2x)<br />
Apa yang dicari orang<br />
Siang malam hari petang<br />
<span style="text-decoration: underline;">Uang uang uang bukan Tuhan Yesus</span></p>
<p>Apa yang dicari Tuhan? ..saya (2X)<br />
Apa yang dicari Tuhan<br />
Siang malam hari petang<br />
<span style="text-decoration: underline;">Saya-saya-saya anak Tuhan Yesus</span></p>
<p>***</p>
<p>Di masa Paskah ini saya merenung. Terutama di tengah-tengah kesibukan yang seolah tidak pernah berkurang, saya merasa perlu menyisihkan waktu untuk merefleksikan arti hidup ini, arti Paskah sendiri. Seorang teman (kita sebutlah) KH, beberapa minggu yang lalu bercerita bahwa di dalam hidup ini, ada tiga &#8220;P&#8221; yang orang selalu kejar:</p>
<p><strong>Possession</strong> &#8211; orang bisa melakukan apa saja untuk memiliki sesuatu, mungkin punya rumah bagus, mobil mewah, barang bermerk. Bukannya salah untuk memiliki itu semua, tapi hidup mengejar possession tidak akan pernah selesai.</p>
<p><strong>Pride</strong> &#8211; orang bisa melakukan apa saja untuk sebuah kebanggaan, mungkin bangga dengan gelar akademis yang ada. Bangga dengan gaya hidup, bangga dengan karir.</p>
<p><strong>Pleasure</strong> &#8211; orang bisa melakukan apa saja untuk sebuah kesenangan hidup. Setiap minggu party sana sini. Hidup hanyalah mencari kesenangan semata.</p>
<p>Apakah ini semua yang kita kejar? Apakah ini alasan kita hidup? Rasanya ngga.</p>
<blockquote><p>Rumah kita yang terakhir di dunia adalah tanah 1&#215;2 m, yaitu kuburan. Mobil yang akan kita naiki terakhir di dunia adalah mobil jenazah. Gelar yang akan kita raih terakhir adalah almarhum. Ketampanan, kecantikan, dan kelebihan fisik yang kita banggakan pada akhirnya akan menjadi tulang.</p></blockquote>
<p>Disinilah kita butuh &#8220;P&#8221; yang terakhir&#8230;</p>
<p><strong>Purpose</strong> &#8211; apa tujuan hidup ini? Untuk memiliki ini itu? Untuk bisa berbangga hati atas prestasi yang ada? Untuk mencari kesenangan? Faktor purpose ini lah yang membuat seseorang beda dengan yang lain.</p>
<p>Ketika saya memikirkan tujuan hidup, saya mau tidak mau dihadapkan pada kebenaran hidup ini. Balik lagi ke pertanyaan-pertanyaan basic, kenapa kita ada di dunia? Siapa yang menciptakan kita? Untuk apa kita diciptakan oleh Sang Pencipta? Habis mati kita mau kemana?</p>
<p>***</p>
<p>Hari ini adalah hari Jumat Agung. Moment Tuhan Yesus mati di kayu salib. That&#8217;s it. Mati untuk apa? Mati untuk siapa? Kenapa Tuhan mati di kayu salib? Emang Tuhan salah apa? Mengapa Tuhan <span style="text-decoration: underline;">menyerahkan</span> nyawaNya? Allah Bapa bahkan udah tau dari awal, dari sebelum dosa itu ada bahwa Dia akan mengirim Yesus untuk menderita. Saya dulu tidak terlalu peduli.</p>
<p>Ada banyak hal yang saya tidak mengerti mengapa terjadi, baik ataupun buruk, tetapi pengalaman hidup beberapa tahun belakangan ini sangatlah berbeda. Tuhan terus mengarahkan (tapi tidak pernah memaksakan) saya untuk selalu percaya padaNya. Semakin belajar firman Tuhan, saya semakin percaya kalo hidup kita ini untuk memuliakan Tuhan. Tuhan berkarya bukan melalui keajaiban-keajaiban yang menakjubkan, tapi membawa saya pada suatu kesadaran bahwa saya orang berdosa (Yoh 16). Suatu kerinduan untuk mencari dan bergumul tentang tujuan hidup yang sesungguhnya.</p>
<p>Saya percaya hidup lebih dari sekedar possesion, pride, pleasure. Ada tujuan besar mengapa kita masih bernafas pada detik ini. Di dalam perjalanan kita mengerti tujuan hidup ini, ingatlah Tuhan mencintai kita sampai rela mati di kayu salib, dan bangkit ke surga. Dia adalah Tuhan.</p>
<blockquote><p>&#8220;Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.&#8221; ~ Yohanes 15:9-10</p>
<p>&#8220;As the Father has loved me, so have I loved you.  Now remain in my love.  If you obey my commands, you will remain in my love, just as I have obeyed my Father&#8217;s commands and remain in his love.&#8221; ~John 15:9-10</p></blockquote>
<p>Selamat Paskah!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/04/apa-yang-dicari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Take for granted</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/03/take-for-granted/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/03/take-for-granted/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 00:33:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1366</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini saya makan siang &#8220;soupe de nouilles avec des boulettes de viande&#8221; alias &#8220;mie baso&#8221;.lol. Temen kantor berceloteh, &#8220;wow you always have interesting lunch I wish I could&#8230;&#8221;. Yah, maklumlah&#8230;lunch saya sebenernya biasa-biasa aja tapi mungkin emang keliatan menarik buat coworker bule. Sedangkan dia lunch tiap hari selalu sama (senen-jumat), sandwich. Paling isinya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini saya makan siang &#8220;soupe de nouilles avec des boulettes de viande&#8221; alias &#8220;mie baso&#8221;.lol. Temen kantor berceloteh, &#8220;wow you always have interesting lunch I wish I could&#8230;&#8221;. Yah, maklumlah&#8230;lunch saya sebenernya biasa-biasa aja tapi mungkin emang keliatan menarik buat coworker bule. Sedangkan dia lunch tiap hari selalu sama (senen-jumat), sandwich. Paling isinya yang beda-beda.</p>
<p>Kejadian di atas contoh mentalitas manusia: membandingkan diri sendiri dan orang lain. Saya juga kadang tanpa sadar bandingkan diri saya dengan orang lain. In a good way ya bisa positif, jadi termotivasi untuk jadi lebih baik. Tapi kalo overdone ya negative, berujung ke rasa iri.<span id="more-1366"></span></p>
<p>Kapan hari temen kantor yang lain lagi baru pulang dari Vietnam, bawa oleh2 permen duren kelapa. Saya yang suka duren ya asik2 aja makan permennya. Sedangkan si bule, *lol* ya gak suka. Kalo gini kan gak bisa bandingkan diri kita dengan orang lain. Kondisi kita di-set dengan batas yang kita sendiri bisa tolerate. Lewat dr batas itu, kita sebaiknya sadar diri bahwa hal itu gak akan bawa dampak positif buat diri kita (baca: terlalu bermimpi, gak realistis)</p>
<p>***</p>
<p>Beberapa hari lalu berdiskusi dengan teman tentang pendidikan. &#8220;Yah namanya belajar ya lakukan lah dengan maksimal. Masalah kepake atau gak kepake ya gimana nanti. Kepake ya syukur, gak kepake ya gak rugi&#8221;. Prinsip bagus sih, saya ngeliat temen saya yang pas kuliah mikirnya &#8220;ah nanti mau buka usaha&#8221;, jadi kuliahnya gak maksimal (GPA serba pas). Begitu lulus kuliah, ternyata gak jadi buka usaha, pilihan hidup jadi lebih terbatas, cari kerja susah.</p>
<p>Ini juga sih yang ditanemin orang tua pada saya tentang pendidikan. Kalo pendidikan itu investasi yang gak akan hilang. Saham bisa habis, usaha bisa bangkrut, tapi pendidikan ya gak ada sapapun yang bisa ambil itu dr kita.</p>
<p>Jangan berhenti belajar.</p>
<p>***</p>
<p>Kapan hari baca kalimat &#8220;Ada sedikit disayang-sayang, ada banyak dibuang-buang&#8221; di suatu blog yang saya subscribe.</p>
<p>Kalo di Bandung, atau mungkin tepatnya di daerah rumah saya, air ledeng pas musim kemarau bisa ngalirnya gak tentu jadwalnya. Alhasil pernah suatu waktu, kita sekeluarga dibikin repot karena air terbatas. Begitu kita tau sisa air di tangki tinggal sedikit, kita semua jadi berhati-hati pakai air, sebisa mungkin dihemat sampai air ledeng ngalir lagi. Mobil gak dicuci, anjing saya pun waktu itu gak mandi dua minggu. Kita cuma pake air buat mandi. Minum ya untungnya ada aqua galon. Itu dulu sih, skrg kita udah nambah tangki air dan bak tampung ditambah ada cadangan air sumur.</p>
<p>Tp yang menarik itu sifat kita ketika air itu terbatas dan ketika air itu tidak terbatas. Ketika air tidak terbatas, mungkin kita gak pernah bersyukur bahwa air itu ada. Tapi ketika air itu terbatas, kita jadi benar-benar menghargai air. Ada pepatah, &#8220;Don&#8217;t take things for granted&#8221;, atau &#8220;You don&#8217;t know what you have until it&#8217;s gone&#8221;. Ujung2nya biasanya ke penyesalan. Andai dulu kita hemat-hemat pakai air, andai dulu kita punya tangki air yang gede, andai ini andai itu.</p>
<p>Itu sama air. Kita kadang tanpa sadar menerapkan mentalitas yang sama terhadap manusia. Bisa jadi itu adalah keluarga, teman, pacar, dst. Kehadiran orang di sekitar kita kadang gak terlalu signifikan sampai kita &#8220;butuh&#8221;. Atau sampai mereka hilang. Kita baru merasa, &#8220;yah&#8230;dulu pas dia ada, kenapa saya bodoh ya gak menghargai dia?&#8221;. Pertanyaannya, apakah kalau air di rumah terus mengalir, maka saya berhak memakai air semau saya? Apa saya berhak pakai air tanpa kesadaran bahwa air itu adalah berkat Tuhan? Apa kita cari teman kalau kita lagi butuh aja?</p>
<p>Seharusnya punya apapun disayang dan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Mari sama-sama belajar menghilangkan mentalitas spt ini. Pertanyaan terakhir, apa kita punya mentalitas seperti ini pada Tuhan sendiri? Hmmmm&#8230;.you yourself know the answer!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/03/take-for-granted/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku adalah &#8230;..</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/02/aku-adalah/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/02/aku-adalah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 20:13:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=1169</guid>
		<description><![CDATA[Aku hadir dalam tindakan. Bahasa manusia terlalu terbatas untuk mengungkap realitas aku. Aku adalah kontemplasi dan aksi, perenungan dan perbuatan. Aku menerangi langkah-langkah di lembah yang kelam. Aku terdengar, pun dalam keheningan. Adalah sangat mudah untuk jatuh aku, tetapi menjaga aku hidup selama bertahun-tahun adalah perkara lain. Aku akan teruji pada saat yang sulit. Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku hadir dalam tindakan. Bahasa manusia terlalu terbatas untuk mengungkap realitas aku. Aku adalah kontemplasi dan aksi, perenungan dan perbuatan. Aku menerangi langkah-langkah di lembah yang kelam. Aku terdengar, pun dalam keheningan. Adalah sangat mudah untuk jatuh aku, tetapi menjaga aku hidup selama bertahun-tahun adalah perkara lain. <span id="more-1169"></span></p>
<p>Aku akan teruji pada saat yang sulit. Aku menutupi kekurangan. Aku memberi kekuatan tuk melakukan yang terbaik, menjalani kegetiran tanpa isak, melalui kepedihan tanpa keluh. Biarkan aku tumbuh alami. Tanam aku lewat perhatian dan kebaikan. Sirami dengan kasih dan ketulusan, dengan kesabaran dan pengertian, dan juga komitmen. Aku adalah &#8230;..</p>
<p>***</p>
<p>Selamat hari kasih sayang <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><object width="549" height="309"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="movie" value="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=6746882&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=1&amp;show_byline=0&amp;show_portrait=0&amp;color=00ADEF&amp;fullscreen=1" /><embed src="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=6746882&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=1&amp;show_byline=0&amp;show_portrait=0&amp;color=00ADEF&amp;fullscreen=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" width="549" height="309"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/02/aku-adalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bergumul</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/01/bergumul/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/01/bergumul/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 06:44:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=1121</guid>
		<description><![CDATA[Ada beberapa hal yang sedang saya gumulkan beberapa bulan belakangan ini. Seringkali pergumulan itu menghasilkan kebingungan. Katanya, kalau bingung, bawalah hal itu dalam doa. Sesudah berdoa, baca Alkitab untuk mengerti apa kata Tuhan tentang pergumulan itu. Sesudah itu, lakukan lah yang terbaik. Seperti yang saya sudah pernah tulis beberapa post sebelumnya, salah satu hal yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada beberapa hal yang sedang saya gumulkan beberapa bulan belakangan ini. Seringkali pergumulan itu menghasilkan kebingungan. Katanya, kalau bingung, bawalah hal itu dalam doa. Sesudah berdoa, baca Alkitab untuk mengerti apa kata Tuhan tentang pergumulan itu. Sesudah itu, lakukan lah yang terbaik.</p>
<p>Seperti yang saya sudah pernah tulis beberapa post sebelumnya, salah satu hal yang saya gumulkan adalah tentang &#8220;apa&#8221; dan &#8220;dimana&#8221;. Kemarin ini, datang tawaran yang mungkin seolah menjawab pergumulan saya, untuk kedua kalinya ditawari pekerjaan di perusahaan A, di kota B. Apakah ini jawaban doa saya? Cukup membingungkan.<span id="more-1121"></span></p>
<p>Mulailah, saya menimbang ini itu. Dari segi karir, ok. Dari segi gaji, ok. Tapi dari segi lingkungan, meragukan&#8230;mungkin rasa ragu ini datang karena ada faktor historis. Alhasil, saya pikir, tidak ada alasan solid untuk mengambil kesempatan ini. Melihat hidup ke belakang, 8730 hari (dari sejak saya nongol di dunia) Tuhan selalu mencukupkan apa yang saya butuhkan (baca: needs, bukan desires). Jadi jelas, alasan gaji tidak solid untuk jadi faktor penentu. Lagian, klo yang dikejar cuma gaji &#038; karir sih, rasanya gak ada habisnya, dan gak akan pernah content.</p>
<p>Akhir kata, saya masih bergumul tentang ini itu. Sulit dimengerti (dan juga dikatakan), saya belajar menikmati pergumulan2 yang ada. Setiap pergumulan membawa saya lebih mengenal Tuhan itu seperti apa. Kemarin malam ada yang bilang sama saya, &#8220;jangan terlalu serius jadi orang&#8221;. Sebenernya saya juga gak mau terlalu serius memikirkan ini itu, jujur aja kadang cape. Tapi hati ini terlanjur &#8220;captivated&#8221; ketika Tuhan menyatakan kasihNya. Sola gratia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/01/bergumul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku harus!</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/01/aku-harus-2/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/01/aku-harus-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 16:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=1107</guid>
		<description><![CDATA[Sambil kerja di kantor pas weekend seperti hari ini. Saya menyempatkan diri untuk bengong (baca: menatap langit dengan pandangan jauh menembus cakrawala. halah) tentang kesuksesan. Sukses. Apa arti sukses? Konon bagi perusahaan saya, kesuksesan adalah kepuasan customer (dan tentunya profit). Konon bagi pelajar, kesuksesan adalah lulus cum laude. Konon bagi orang tua, salah satu kesuksesan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sambil kerja di kantor pas weekend seperti hari ini. Saya menyempatkan diri untuk bengong (baca: menatap langit dengan pandangan jauh menembus cakrawala. halah) tentang kesuksesan. Sukses. Apa arti sukses?</p>
<p>Konon bagi perusahaan saya, kesuksesan adalah kepuasan customer (dan tentunya profit). Konon bagi pelajar, kesuksesan adalah lulus cum laude. Konon bagi orang tua, salah satu kesuksesan hidup adalah menyekolahkan anak, mendidik anak agar bisa jadi &#8220;orang&#8221; (lah skrg anaknya bukan orang?). Konon bagi orang yang lagi pacaran, kesuksesan adalah menikah. Konon bagi yang baru lulus kuliah, kesuksesan adalah mendapatkan pekerjaan. Konon bagi professional sudah bekerja, kesuksesan adalah mencapai posisi tinggi dalam pekerjaan. Masih banyak patokan kesuksesan di sekitar kita.</p>
<p>Kalo boleh menyimpulkan, sukses artinya mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan ekspektasi terbaik kita (atau orang di sekitar kita). Kesuksesan bersifat subjektif. Tidak ada orang yang ingin disebut gagal. Orang takut gagal. Bisa dibilang, (hampir) semua orang hidup untuk mengejar sukses. Kesuksesan sering jadi motivasi utama hidup.<span id="more-1107"></span></p>
<p>Aku harus! Aku harus sukses ini dan itu. Hidup ini bagai sebuah kompetisi untuk mendapatkan kelayakan. Berbagai tuntutan dari berbagai pihak seperti membebani diri. Masih kuliah, dituntut cepat lulus. Udah lulus, dituntut cepat dapat kerja yang mapan. Udah kerja tapi masih single, dituntut cari pacar. Udah pacaran, dituntut cepat menikah. Udah menikah, dituntut cepat punya anak. Hasilnya, seringkali hidup ini gak pernah berhenti dikejar oleh tuntutan2 untuk sukses.</p>
<p>Bahkan mungkin, kita mulai berpikir bagaimana sukses di hadapan Tuhan. Mungkin ini juga penyebab banyak orang melayani Tuhan demi &#8220;merasa layak/sukses&#8221; di hadapan Tuhan. Akan kah kita pernah layak di hadapan Tuhan dengan segenap usaha kita? Hmmm&#8230;topik tentang sukses sebenarnya sangat luas jika mau dibahas. Sangat terbuka banyak celah jika mau didebat.</p>
<blockquote><p>Saya merasa, adalah bagus jika kita punya keinginan untuk melakukan yang terbaik, adalah baik jika ingin sukses di dunia ini. Tapi janganlah hidup dengan attitude &#8220;aku harus sukses&#8221;. Tetapi syukurilah apa yang ada, bertekunlah dalam bekerja.</p></blockquote>
<p>Kalau hidup dengan attitude &#8220;aku harus&#8221;, nilai diri menjadi tak bermakna ketika berhadapan dengan kegagalan. CEO bunuh diri krn gagal mencapai target profit. Orang diputus pacar bisa bilang, &#8220;Untuk apa hidup tanpamu?&#8221;. Karena kita gagal Tidak ada lagi sukacita hidup, tidak adalah damai sejahtera.</p>
<p>Kan sebenarnya tidak demikian&#8230;</p>
<p>Tuhan itu tetap ada. CEO ataupun tukang becak, kasih karunia Tuhan sama. Single ataupun married, Tuhan tetap berdaulat atas apa yang terjadi. Tuhan cinta semua anak di dunia, putih, kuning dan hitam semua dicinta Tuhan.</p>
<blockquote><p>Saya percaya ada yang lebih berharga dari kesuksesan2 yang kita raih di dunia ini, yaitu proses hidup yang kita lalui bersama Tuhan, bagaimana hati kita dibentuk menjadi &#8220;the perfect bride&#8221; untuk &#8220;The Perfect Groom&#8221; di surga kelak.</p></blockquote>
<p>Ahh&#8230;suatu perjalanan panjang untuk memahami bahwa kasih karunia Nya itu cukup, tidak peduli prestasi apa yang kita capai. Pertanyaan dasar dalam hal ini apakah benar saya harus melakukan ini dan itu untuk mendapatkan kasih dan penerimaan? Apakah makna hidup saya berarti ketika saya mampu melakukan ini dan itu?</p>
<p>Ahh&#8230;apakah saya memikirkan sukses karena saya sebenarnya egois? Apakah iman saya didasarkan karena saya mengharapkan sesuatu dari Tuhan? Apakah saya sebenarnya menaruh hati saya pada kesuksesan dunia, lebih dari Tuhan sendiri? Kadang saya lupa kalau hidup ini tentang Tuhan. Mohon diingatkan dari waktu ke waktu.</p>
<p>*kebengongan yang membingungkan, memulai dengan pertanyaan, diakhiri dengan pertanyaan*</p>
<p>~23/01/2010<br />
<object width="400" height="225"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="movie" value="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=5004562&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=0&amp;show_byline=0&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" /><embed src="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=5004562&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=0&amp;show_byline=0&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" width="400" height="225"></embed></object>
<p><a href="http://vimeo.com/5004562">Blessed Be Your Name</a> from <a href="http://vimeo.com/davidjtate">David Tate</a> on <a href="http://vimeo.com">Vimeo</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/01/aku-harus-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waktu</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/01/waktu/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/01/waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 08:07:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=847</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu sepulang kerja, saya menyempatkan diri mampir ke Chapters di downtown. Tujuannya cari kado, tapi seperti biasa, mampir ke bagian buku-buku sejarah, biografi, christian, juga ke psikologi. Disitu nemu buku-bukunya Philip Zimbardo. Ada buku Lucifer Effect, yang pernah dibawain kotbah di GII. Juga sebelahnya ada buku Time Paradox. Mulailah saya membaca beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu sepulang kerja, saya menyempatkan diri mampir ke Chapters di downtown. Tujuannya cari kado, tapi seperti biasa, mampir ke bagian buku-buku sejarah, biografi, christian, juga ke psikologi. Disitu nemu buku-bukunya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Philip_Zimbardo">Philip Zimbardo</a>. Ada buku Lucifer Effect, yang pernah dibawain <a href="http://vimeo.com/8040993">kotbah di GII</a>. Juga sebelahnya ada buku <a href="http://www.thetimeparadox.com/">Time Paradox</a>. Mulailah saya membaca beberapa bab pertama dari buku itu, yang ternyata membahas tentang waktu.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-849" title="Time" src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/01/time-300x240.gif" alt="Time" width="300" height="240" />Emang dimensi waktu selalu jadi misteri. Dimensi keempat ini selalu menjadi bahasan yang menarik. Film-film Hollywood dari jaman dulu sampai sekarang, biasanya tiap tahun setidaknya pasti ada satu yang mengangkat tema waktu/dimensi keempat. Pas kecil, kalau ada barangnya Doraemon yang boleh saya miliki, saya gak pengen minta kantong ajaib atau segala isinya, tapi saya milih mesin waktu. Sayangnya Doraemon hanyalah sebatas cerita. Sampai sekarang belum ada teknologi mesin waktu, adanya cuma di film-film. Ahli-ahli segala bidang pun cuma bisa sebatas memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan.<span id="more-902"></span></p>
<p><strong>Keputusan</strong></p>
<p>Masuk di tahun 2010 ini, banyak orang yang sering penasaran. Apa sih yang akan terjadi tahun ini? Setiap hari, kita membuat keputusan. Setiap keputusan menghasilkan perubahan (change/action), Zimbardo membagi empat respon. Misalnya, keputusan saya untuk kuliah enam setengah tahun lalu. Saya dihadapkan dua pilihan untuk terusin kuliah Petroleum Engineering di IGD (Institut Gajah Duduk) atau memulai dari awal lagi kuliah Information Systems di Canada. Terlepas dari hasil nyatanya kalau saya akhirnya pilih ke Canada (dan saya gak menyesali keputusan itu), kira-kira mungkin begini responnya:</p>
<p>Meneruskan kuliah di IGD</p>
<ul>
<li> Kalau ternyata di IGD sukses &#8211;&gt; &#8220;Tuh kan, udah bener kuliah di IGD. Udah susah-susah ikutan SPMB, kesempatan langka kaya gini gak dateng dua kali! Institut terbaik bangsa bung!&#8221;</li>
<li>Kalau ternyata di IGD gagal &#8211;&gt; &#8220;Yah, napa dulu terusin ambil Petroleum ya? Secara minyak dah mau habis. Nanti dua puluh tahun lagi mau kerja apa kalo minyak habis? Empat tahun yang sia-sia belajar korek2 tanah cari minyak&#8221;</li>
</ul>
<p>Meneruskan kuliah di Canada</p>
<ul>
<li> Kalau ternyata di Canada sukses &#8211;&gt; &#8220;Tuh kan, Indonesia emang madesu. Sekarang buktinya bisa survive di Canada. Gaji jauh lebih tinggi pula. Pekerjaan juga lebih dihargai&#8221;</li>
<li>Kalau ternyata di Canada gagal &#8211;&gt; &#8220;Sapa suruh datang ke Canada? Mahal-mahal kuliah, ujung-ujungnya kok gagal? Kuliah di Indo aja napa dari dulu? Gak nyusahin orang tua!&#8221;</li>
</ul>
<p>Respon di atas bisa diapplikasikan ke kasus yang lain. Mungkin itu adalah keputusan untuk pindah ke kota lain, keputusan untuk membeli rumah, keputusan untuk menikah, dll. Inti dari respon-responnya sih, manusia cenderung <span style="text-decoration: underline;">mencari justifikasi</span> dari keputusan yang telah diambil di masa lalu. Kalau responnya sesuai yang diharapkan yah dibangga2in (atau disyukuri?), kalo gak sesuai yah bisa jadi penyesalan, (atau di beberapa kasus malah jadi penyangkalan diri?)</p>
<p><strong>Penasaran</strong></p>
<p>Di jaman sekarang ini, ada banyak hal di dunia yang menawarkan jasa untuk menjawab rasa penasaran. Astrologi berdasarkan zodiak menyebar bak jamur di segala media (mulai dari koran, majalah, sms harian sampai ke facebook). Usia yang dibidik pun dari mulai anak-anak sampai orang tua, dari mulai ibu rumah tangga sampai ke professionals. Adapula, metode dukun, di Indonesia, Mama Loren dan juga mungkin mama-mama yang lainnya (duh!), lumayan laris buat acara infotainment. Semua diramalin, dari perceraian artis sampai hasil pertandigan sepak bola pun pernah diramal. Atau&#8230;cara rasional, misalnya memprediksi berdasarkan statistik. Beberapa saat lalu, di TED, ada artikel dimana <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hans_Rosling">Hans Rosling</a> (konon beliau adalah seorang ahli statistik) memprediksi kapan <a href="http://www.ted.com/talks/lang/eng/hans_rosling_asia_s_rise_how_and_when.html">Asia menjadi kekuatan ekonomi dunia</a>.</p>
<p>Kita jadi pengen tahu, masa depan kita seperti apa sih? Saya suka nanya pertanyaan ke temen-temen, &#8220;Lima tahun dari sekarang, kamu melihat diri kamu ada dimana dan sedang apa?&#8221;. Hmmm, responnya ya macem-macem. Alasan saya nanya sebenarnya lebih ke arah mengajak orang yang ditanya untuk berpikir tentang visi ke depan, harapan ke depan. Terus sekarang pertanyaanya diganti sedikit, &#8220;Lima tahun dari sekarang, Tuhan mau kamu dimana dan ngapain?&#8221; Hmmm&#8230;.cukup sulit, gak ada yang tahu pasti. Satu-satunya cara ya berdoa, tanya sendiri pada Tuhan, apa sih rencana Tuhan untuk kita?</p>
<p>Saya sering nanya tentang masa depan sama Tuhan, terutama kalo sedang bergumul tentang sesuatu. Alasannya sebenernya sederhana, karena saya (dan setiap manusia?) <span style="text-decoration: underline;">takut salah mengambil keputusan</span>. Ada rasa takut menyesal kalo keputusan yang diambil adalah keputusan yang salah. Macam-macam rasa takut. Takut salah memilih pekerjaan (atau panggilan). Takut salah memilih pasangan hidup. Takut salah mengasihi. Dan&#8230;.takut mengecewakan Tuhan.</p>
<p><strong>Petunjuk</strong></p>
<p>Untungnya Tuhan gak meninggalkan kita dalam kebingungan berkepanjangan. Ada Alkitab yang berisi banyak jawaban doa kita. Saya percaya Roh Kudus akan memimpin kita dalam setiap keputusan dalam hidup ini. Namun demikian&#8230;.</p>
<p>Orang kadang melontarkan kalimat seperti ini. &#8220;Yah, kamu telat. Mestinya kamu dulu begini. Momentnya sekarang udah hilang. Udah basi!&#8221;. Yah kalo apa yang dibilang adalah kritik konstruktif ya bersyukur lah sama ybs. Tapi kalo apa yang dibilangin adalah sesuatu yang sudah digumulkan di hadapan Tuhan, jangan merasa bahwa Tuhan menuntun ke arah yang salah. Percayalah Tuhan akan membantu kita menjalaninya.</p>
<p>Hmmm&#8230;saya percaya ketika kita dihadapkan pada suatu pilihan dan harus membuat keputusan. Jalan terbaik adalah membawanya ke dalam doa, dan minta tuntunan Tuhan. Kemudian jalani hal itu dengan sepenuh hati.</p>
<blockquote><p>Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: &#8220;Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. (Yesaya 48:17)</p></blockquote>
<p>Kadangkala, kita dihadapkan pada keputusan yang susah diambil. Dalam artian, keputusan yang harus diambil adalah keputusan yang bukan populer. Kalo ditimbang-timbang secara manusiawi, kayanya gak masuk di akal. Dalam hati sendiri juga gak pengen lakukan A, tapi Tuhan (melalui Alkitab) bilang harus lakukan A. Juga, dalam keterbatasan diri ini, semoga kita sudah mengartikan kebenaran Alkitab dalam konteks yang tepat. Mungkin banyak orang (dan mungkin juga teman terdekat?) akan mencibir atas keputusan yang kita ambil.</p>
<blockquote><p>Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN. (Ratapan 3:26)</p>
<p>Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: &#8220;Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu&#8221; (Yesaya 30:15)</p></blockquote>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Masa depan adalah misteri, dan biarlah tetap menjadi misteri. Seperti lirik lagu, &#8220;Jam kehidupan diputar sekali, dan tak seorangpun tau kapan kan berhenti. Mungkin hari ini, mungkin besok, mungkin nanti, cepat atau lambat, tak seorangpun tau bila waktunya&#8221;.</p>
<p>Akhir kata, bawa dalam doa, dan mohon tuntunan dan hikmat dari Tuhan tentang jalan yang harus kita tempuh di dunia ini. Bisa jadi keputusan yang harus diambil adalah keputusan yang sulit dan gak enak. Ketika kesulitan muncul, jangan menyesali keputusan yang sudah diambil, tapi diamlah dan percayalah (in quietness and trust) pada Tuhan. Semua itu mendatangkan kebaikan dan indah pada waktuNya.</p>
<p>Tetapkan hatimu, kokohkan pijakanmu, jalani panggilanmu!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/01/waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menemukan Idols</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/12/menemukan-idols/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/12/menemukan-idols/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 22:40:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=796</guid>
		<description><![CDATA[Bagian dari refleksi setelah dua bulan ini baca bukunya J.I. Packer yang judulnya Knowing God. Buku ini emang sering banget direkomendasiin sama hamba Tuhan. Konon katanya, buku ini cocok buat orang yang masih dalam tahap awal mengikut Tuhan. Dalam hati saya pikir, wah itu saya. Walaupun Kristen sejak lahir, tapi perjalanan rohani sesungguhnya baru tumbuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagian dari refleksi setelah dua bulan ini baca bukunya J.I. Packer yang judulnya Knowing God. Buku ini emang sering banget direkomendasiin sama hamba Tuhan. Konon katanya, buku ini cocok buat orang yang masih dalam tahap awal mengikut Tuhan. Dalam hati saya pikir, wah itu saya. Walaupun Kristen sejak lahir, tapi perjalanan rohani sesungguhnya baru tumbuh enam tahun belakangan ini. Setelah baca dari bab satu ke bab selanjutnya, buku ini berat juga doktrinnya (bagi saya).<span id="more-894"></span></p>
<p>Di salah satu chapter buku ini membahas tentang perintah Allah kedua yang berbunyi demikian:</p>
<blockquote><p>Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku. (Keluaran 20:4-6)</p></blockquote>
<p>Dulu pas jaman smp, sebagai bagian dari ujian agama, saya *dengan terpaksa* menghapalkan ayat ini, tanpa terlalu peduli isinya. Yah intinya sih, beberapa perintah pertama isinya tentang Tuhan, sisanya tentang hubungan kita dengan sesama. Tapi sekarang setelah mencoba re-visit lagi, ternyata ada persepektif berbeda. Perintah yang pertama kan udah jelas, &#8220;Jangan ada allah lain di hadapanku&#8221;. Tapi kenapa perintah kedua kaya mengulang perintah pertama (secara lebih detail)? Ternyata setelah dibaca versi bahasa Inggrisnya emang sedikit lebih membantu, bunyinya begini &#8220;You shall not make for yourself a carved image, or any likeness&#8221;</p>
<p>Ternyata bukan cuma patung toh&#8230;tapi segala image apapun, bahkan yang serupa.</p>
<p>Beberapa hari setelah membaca chapter ini, saya tutup buku itu, kemudian saya lanjut lagi buku lain (yang lebih mudah dicerna). Di sela-sela itu, nyambung juga sama apa yang saya baca dari blognya Pak Agus Sadewa. Isinya tentang pertanyaan-pertanyaan menemukan idols dalam hidup kita:</p>
<blockquote><ul>
<li>What is my greatest nightmare? What do I worry about most?</li>
<li> What, if I failed or lost it, would cause me to feel that I did not even want to live? What keeps me going?</li>
<li> What do I rely on or comfort myself with when things go bad or get difficult?</li>
<li> What do I think most easily about? What does my mind go to when I am free? What preoccupies me?</li>
<li> What unanswered prayer would make me seriously think about turning away from God?</li>
<li> What makes me feel the most self-worth? What am I the proudest of?</li>
<li> What do I really want and expect out of life? What would really make me happy?</li>
</ul>
<p>- Timothy J. Keller, and Redeemer Presbyterian Church 2005</p></blockquote>
<p>Oh, saya jd teringat sama apa yang saya baca dari bukunya Packer. Seringkali emang allah-allah lain dalam hidup kita lebih dari sekedar patung, itu bisa jadi segala hal yang bisa mengalihkan pandangan kita dari Tuhan yang sejati. Bisa jadi itu adalah ketakutan kita sendiri? Sesuatu yang kita paling kita banggakan? Sesuatu yang membuat kita nyaman? Bisa jadi itu pekerjaan, rumah, barang berharga, internet, facebook, atau bahkan bisa juga dalam bentuk orang terdekat kita seperti keluarga, teman, atau juga pacar. Lebih lanjut baca bukunya Packer, yah emang dijelasin sih bahwa Tuhan itu sebenernya kita mengenal Tuhan adalah sebagai Tuhan (I am I). Tuhan gak mau dikenal atau dibatasi melalui ciptaanNya. Saya jadi teringat suatu ungkapan, &#8220;Sembahlah Tuhan, bukan apa yang diberikanNya&#8221;. Itulah yang Tuhan tuntut dari kita.</p>
<p>Saya memiliki suatu pekerjaan, bukan pekerjaan memiliki saya. Saya memiliki sebuah mobil, bukan mobil yang memiliki saya. Saya memiliki uang, bukan uang memiliki saya. Kalau dipikir-pikir, emang bener sih. Kita boleh memiliki sesuatu (yang tentunya Tuhan berikan), tapi jangan sampai apa yang kita punya itu berbalik jadi memiliki kita. Jangan sampai pekerjaan bisa menjadi idols, rumah menjadi idols. Oke lah kalau soal barang, itu lebih mudah dimengerti. Tapi kalau sekarang idols dalam hidup kita itu adalah orang, bagaimana? Kita bisa saja menjadikan diri kita menjadi idols (mencari kesenangan diri sendiri, hedon).</p>
<p>Nah, saya jadi ingat lagi sama renungan dari Pak Agus yang sempat saya sharingkan sama abang saya 1.5 tahun yang lalu. Setelah mengubek-ngubek Gmail, ternyata emailnya masih ada. Artikel tentang Ismail, cukup menarik secara selama ini kita lebih sering dengar tentang Ishak dibanding Ismail. Abraham emang cukup unik sih. Berikut petikan ceritanya:</p>
<blockquote><p>Kelahiran Ishak yang dinanti-nanti oleh Abraham dan Sara, pun oleh kita pembaca kisah mereka, tak semeriah yang kita harapkan. Nyatanya, hanya 7 ayat diberikan untuk membicarakan hal itu. Setelah 25 tahun menanti, dan 9 pasal kita lalui, mengapa hanya begini? Kita tentu saja berharap Musa bisa menulis lebih banyak dari ini. Tapi mungkin ia hendak menyampaikan suatu pesan yang tak kalah penting dari berita kelahiran Ishak. Ada pelajaran yang Tuhan hendak berikan pada Abraham, bapa dari orang-orang beriman itu, yang pembaca perlu petik. Apakah itu?</p>
<p>Lihat ayat-ayat selanjutnya, mulai ayat 8. Setelah Ishak bertambah besar, ia disapih, lalu Abraham membuatkan sebuah pesta besar. Sebagai catatan: bagi orang-orang kuno di zaman Abraham, seorang anak barulah disapih pada usia 3 &#8211; 4 tahun. Jadi, umur Ismael, kakak lain ibu dari Ishak, pada waktu itu sudah sekitar 16 &#8211; 17 tahun. Ia sudah bukan kanak-kanak lagi. Maka, di ayat 17 ia disebut &#8216;the lad.&#8217; Di pesta besar itulah Sara mengamuk besar. Apa gerangan sebabnya?</p>
<p>Ayat 9 memberitahu kita bahwa Sara melihat Ismael main dengan Ishak. Lho mengapa main-main saja dilarang? Terjemahan Indonesia (LAI) dan sejumlah versi Inggris agaknya keliru menerjemah &#8216;mishak&#8217; jadi bermain. Sebenarnya dengan mempelajari struktur bahasa Ibrani secara lebih teliti, kita bisa menemukan permainan kata dalam ayat tersebut. Mishak tak lain ialah kembangan dari kata Ishak (ketawa). Terjemahan (atau agaknya transliterasi lebih tepat) yang harafiah seharusnya anak Hagar, Ismael, &#8216;mengishak&#8217;-kan Ishak, putranya sendiri. Oleh karena Ishak berarti ketawa, mungkin yang dimaksudkan adalah Ismael menertawai, mengolok, mempermainkan Ishak. Itulah sebab Sara mengamuk besar di pesta besar itu, di hadapan para tamu besar dan kecil ia desak Abraham agar mengusir Hagar beserta putranya itu. &#8220;Kaulah yang harus bertindak, Abraham. Sekarang juga usir hamba perempuan itu beserta dengan putranya yang amat kaukasihi itu, sebab ia tak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan putraku, Ishak.&#8221; Begitu kira-kira ia berkata pada Abraham. Mungkinkah Abraham menganggap Ismael akan menjadi ahli waris, sekurang-kurangnya bersama dengan Ishak? Nampaknya ya.</p>
<p>Saya menemukan hal lain tersirat dalam permainan kata &#8216;mishak.&#8217; Sara menerima Ishak (ketawa) dalam hidupnya; dan itu berkat Tuhan. Tapi Ismael yang bukan ahli waris itu berlaku seakan ialah ahli waris dengan menertawai Ishak, sang ketawa yang sesungguhnya. Sara cukup tajam melihat apa yang sedang berlangsung. Jika hal ini dibiarkan, maka Ishak pun suatu hari bisa digantikan oleh Ismael. Barangkali kesalahan tak sepenuhnya bisa ditimpakan pada Ismael, oleh karena Abraham sebenarnya ikut berperan besar. Apakah Abraham telah membiarkan hal itu terjadi? Jangan-jangan ia malah melindungi Ismael dari Sara.</p>
<p>Maka Abraham pun sangat kesal oleh karena ihwal putranya itu (ayat 11). Perhatikan bukan perihal Hagar yang disebut, tapi putranya, Ismael. Saya yakin jika Tuhan tak bersabda padanya membenarkan apa yang dikatakan oleh Sara, ia tak akan mengabulkan permintaan istrinya itu. Sebab hatinya begitu mencintai Ismael, putra satu-satunya selama 13 tahun, bahkan setelah Ishak lahir tak mudah baginya untuk berpindah ke lain hati. Tapi ia tahu bahwa sejak awal Tuhan telah menetapkan bahwa Ishak bukan Ismael yang akan menjadi ahli waris. Ia tahu itu, Ia hanya hendak mengingkarinya.</p>
<p>Kecintaan Abraham pada Ismael dideskripsikan secara subtil dalam ayat 14. Urutan dalam terjemahan Indonesia lagi-lagi tak tepat. &#8220;Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi.&#8221; Tidak masuk akal, Ismael yang sudah sebesar itu masih ditaruh di bahu Hagar. Terjemahan yang lebih tepat seharusnya, &#8220;Ia meletakkan itu di atas bahu Hagar, beserta anaknya …&#8221; Jadi, Ismael berada di urutan terakhir. Mungkin itu isyarat bahwa Abraham berat sekali melepas Ismael.</p>
<p>Kisah Abraham menyadarkan saya akan dua hal: betapa keras hati manusia dan betapa sabar Tuhan berurusan dengannya. Tuhan tak hanya sekali mengingatkan, meneguhkan janji, dan membawa Abraham kembali ke jalan yang Ia perkenan, tapi berkali-kali. Berkali-kali Abraham jatuh, mengambil jalan yang ia pandang baik. Sempat ia tetapkan sendiri Eliezer, budaknya, menjadi ahli waris. Dua kali ia serahkan Sara kepada lelaki lain (Firaun dan Abimelekh) demi untuk menyelamatkan diri sendiri. Sekarang Ismael, buah perkawinannya dengan Hagar, budak perempuannya, pun mengancam penggenapan rencana Tuhan. Saya heran mengapa Tuhan begitu sabar. Tak pernah Tuhan menegur Abraham dengan keras. Di sini, di seluruh kisah Abraham-Sara, Tuhan bersuara lembut sekali.</p>
<p>Suara teguran yang keras kepada Abraham selalu datang dari pihak lain, seperti Firaun, Abimelekh, dan kali ini Sara. Walau jari telunjuk Sara barangkali mengarah pada Hagar dan Ismail, saya percaya, persoalan sesungguhnya terletak pada diri Abraham. Sebagai pemegang janji Tuhan, ia tak semestinya membiarkan Ismael mengambil hak waris Ishak. Attachment dengan Ismael yang telah terbentuk bertahun-tahun lamanya membuat Abraham lupa diri dan lupa janji. Dalam hal ini Sara, meski bercampur dengan kebencian, berkata benar: Ismael tak akan mendapat bagian Ishak. Tentu saja harus dicatat: Ismael juga akan dibuat menjadi suatu bangsa besar. Tapi itu sebuah kisah yang lain.</p></blockquote>
<p>Kesimpulan yang waktu itu saya tulis sama abang saya begini&#8230;lucunya kondisi saya waktu itu dalam keadaan sangat baik, belum &#8220;mengerti&#8221; rasanya harus melepas teman-teman dekat yang saya kasihi dengan tulus:</p>
<blockquote><p>Melepas sesuatu yang berharga dari hidup ini tidaklah mudah, apalagi jika yang harus kita lepas ialah seseorang yang telah bertahun-tahun kita miliki dan cintai seperti anak. Tapi Tuhan menjanjikan sesuatu yang jauh lebih baik, yang saat ini tak bisa kita terima dengan lapang dada, karena mungkin cinta kita pada dunia lebih kuat daripada cinta kita kepada Tuhan.</p></blockquote>
<p>Kita emang bisa dengan mudah bilang kaya gini, &#8220;Yah Bram, kan Tuhan udah bilang kalo nantinya Ishak yang bakal nerusin garis keturunanmu. Kok susah amat sih ngelepas Ismail, anak dari hambamu itu? What&#8217;s the big deal, Bram?&#8221; Kalo kita jadi Abraham, kira-kira gimana? Tapi ya sepertinya Tuhan benar-benar menekankan tentang hal ini sama Abraham. Abraham mungkin tipe orang yang takut kehilangan keluarganya. Terbukti pada saat Abraham diminta mempersembahkan Ishak. Terbukti kembali pada saat Abraham berbohong bahwa Sarah bukanlah istrinya tapi saudaranya (karena takut kehilangan). Tuhan terus menguji kesetiaan iman Abraham. Maka lahirlah julukan, bapak orang beriman&#8230;</p>
<p>Emang (bagi saya, setidaknya) ikut Tuhan itu sulit. Segala pikiran benar-benar harus selalu tertuju pada Tuhan. Kita diminta menempatkan apa yang kita punya pada tempat yang sepantasnya. Ketika kita mengasihi seseorang, jangan sampai kita lebih mengasihi dia lebih dari Tuhan. Akhir kata, yah disini lah saya sekarang belajar dengan jatuh bangun untuk menyingkirkan segala macam &#8220;idols&#8221; yang ada dalam hidup. Semoga artikel ini bisa menjadi berkat bagi Anda sekalian.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/12/menemukan-idols/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Psalms for the troubled heart</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/12/psalms-for-the-troubled-heart/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/12/psalms-for-the-troubled-heart/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 20:16:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=724</guid>
		<description><![CDATA[Every week at church I attend for the last four months here in Vancouver, we read Psalms chapter by chapter. What interests me is that the book of Psalms is rich of emotions. When I read Psalms, I try to put myself in the psalmist&#8217;s shoes, trying to see what he saw, and feeling what [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Every week at church I attend for the last four months here in Vancouver, we read Psalms chapter by chapter. What interests me is that the book of Psalms is rich of emotions. When I read Psalms, I try to put myself in the psalmist&#8217;s shoes, trying to see what he saw, and feeling what he felt. Sometimes it is a praise full of joy, &#8220;Oh Lord oh Lord, how majestic is Your name in all the earth&#8221; (Psalm 8)&#8230;and we like that song. The next day, we flip over to Psalm 10:1, &#8220;Why O Lord do you stand far off?&#8221;.</p>
<p>Isn&#8217;t it life we live? Sometimes a sad day comes right after a happy one. Sometimes we praise the Lord, and the next day we complain to God. Some people have this idea that crying and complaining to God is a sign of poor faith. That if you have strong faith you should not feel weak. Some pastors and teachers convey the idea that good Christians don&#8217;t cry, they are always happy and upbeat. So some churches and home environments become places where people engage in denial, bottling up pain that life brings up for them. Some pastors lead people to believe that we should always be positive and happy and upbeat, no tears here, we are strong people, we are people of faith. For me, that is simply unreal and it is not what I found from the Bible.<span id="more-724"></span></p>
<p>Well, I spent more than a year at a church where failures are seen as results of poor faith. I was one of the people who believe &#8220;speak it, believe it, receive it&#8221;. As a result, really, my relationship with God was empty &#038; full of denial. People don&#8217;t embrace honest worship to God. Thank God summer last year God came to rescue me although the rescue plan came at a cost which includes broken-hearted relationship, being abandoned, and lost of friends. Today, the more I realize that those hardships really has brought my relationship with God to a whole different level. <strong>It is said that the dark cloud of troubles is often the shadow of God&#8217;s wings. Be still and know that He is God =)</strong></p>
<p>These laments in Psalms tell us that God wants us to be honest in our worship. When we lost our loved ones, when a spouse leave a marriage, when we lost our health, it is ok to not always smile, it is ok to not always jump up and down and worship, it is ok to be still before God and grieve and cry to face our pain and disappointment and to pour out our heart to God in prayer.</p>
<p>Make no mistake, while God wants us to share our complaints, our doubts, and our pain with Him, He does not want us to stay there. Some people (including me many times) seem to get stuck there. God does not want us to get stuck there.</p>
<p>Living in this fallen world, we are not intended to handle a lot of stuffs on our own. So God wants us to take it to Him in prayer. In all of these laments, the Psalmists admit there are some unpleasant realities that we as child of God live: there are not always quick solutions to our problems. Jesus himself mentioned that we will face problems in this world. And often those problems will cause us to complain to God. And that is ok. But like King David here, <strong>at some points, we need to move past our lament</strong>. Notice first half of Psalm David is weeping complaining but that changes in the second half of the Psalm (But I trust in Your unfailing love! Psalms 13:5)</p>
<p>David focuses on what he knows to be true, not his feeling. He begins to do what he needs to do. Ecclesiastes says there are times for everything (Ecclesiastes 3:1-15). And so it must be with us. We come to Him with trust believing Him in His goodness. There are a lot of people we cannot trust. But we can always trust God. <strong>When our lament flows out of deep trust with God, He will use our complaints to heal our spirit and to draw us closer to Him</strong>.</p>
<p>My life makes no sense in many occasions. It feels like that my life has been put in jeopardy. There are big doubts in most areas of my life (family, jobs, friends, relationship, etc). But it is also very true that in the midst of this, God still loves us. After going through some difficulties, it is beautiful to understand and sing a hymn &#8220;turn our eyes upon Jesus.&#8221; Also, God has graciously give so many heroes to stand beside me in life. Hope I can be one too for them somehow.</p>
<p>We trust, we pray, we obey, and then we just hold on, we may raise hard questions and complaints but we don&#8217;t walk away from God. We hold on to Him, we refuse to let go. <strong>Even when life makes no sense, we don&#8217;t let go. Even when pain persists, we hold on. Even there is no quick answer to our prayers, we hold on because we know that God holds us.</strong> He hold us in the name of Jesus Christ who himself went ahead to the cross to give us salvation. We hold on and we look ahead the day when Jesus Christ will come again, and we will experience full and complete resolution of all these difficulties in life.</p>
<p>Amazing love how can this be that You my God would die for me? And how about your life? Grace and Peace to you&#8230;Amen! =)</p>
<p>Vancouver, 3 weeks to Christmas 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/12/psalms-for-the-troubled-heart/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Tuhan itu adil?</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/11/apakah-tuhan-itu-adil/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/11/apakah-tuhan-itu-adil/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 21:01:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=647</guid>
		<description><![CDATA[Seringkali saya bertanya, apakah ada keadilan di dunia ini? Di dunia ini kita selalu ditanamin konsep tentang keadilan. Orang berbuat jahat akan dihakimi dan diberi konsekuensi. Tapi itu dari perspektif hukum. Bagaimana dengan persepektif Alkitab? Menarik. Apakah yang Alkitab bilang adil itu ketika kita disuru kasi pipi kanan klo pipi kiri ditampar? Itukah adil? Lalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seringkali saya bertanya, apakah ada keadilan di dunia ini? Di dunia ini kita selalu ditanamin konsep tentang keadilan. Orang berbuat jahat akan dihakimi dan diberi konsekuensi. Tapi itu dari perspektif hukum. Bagaimana dengan persepektif Alkitab? Menarik. Apakah yang Alkitab bilang adil itu ketika kita disuru kasi pipi kanan klo pipi kiri ditampar? Itukah adil? Lalu bagaimana dengan hukum tabur tuai? Apa yang kita tabur, itu yang kita tuai. Bukan kah itu lebih terdengar adil?</p>
<p>Mungkin bagian2 dari Alkitab yang saya sebutkan di atas masih abstrak untuk dibayangkan. Kemudian saya coba comot beberapa cerita di Alkitab. Doa Yabes (1 Tawarikh 4:10) yang isinya permohonan agar kita diberkati, fokus pada diri sendiri, eh Tuhan kabulkan. Musa cuman kesalahan kecil, gak masuk Kanaan (Bilangan 20:11). Stefanus mati dilemparin batu (Kis 8:1). Cerita tentang pelayan istri Naaman yang mengalami penderitaan tapi gak pendendam (2 Raja-raja 5). Dan juga cerita-cerita lainnya.<span id="more-647"></span></p>
<p>Dari peristiwa2 yang ada, jika kita melihat dari perspektif manusia, Tuhan itu gak adil. Ada yang udah jadi hamba Tuhan setia, baik hati, tapi akhir hidupnya tragis. Tapi ada orang-orang yang di hadapan Tuhan gak &#8220;berkorban&#8221; banyak, fokus pada diri sendiri, tapi Tuhan berkati juga. Tapi kemudian, apakah kita punya hak untuk menuntut keadilan?</p>
<p>Nah disini kita udah mulai melakukan <span style="text-decoration: underline;">perbandingan</span>, perlu ekstra hati-hati ketika kita mulai membandingkan sesuatu. Tuhan kok begitu sama dia sedangkan sama saya ngga? Saya jadi ingat cerita tentang anak sulung iri dengan anak yang hilang disambut meriah, Esau vs Yakub, Kain vs Habil. Ada rasa iri ketika kita mulai membanding2kan diri sendiri terhadap orang lain. Apakah Tuhan berkenan dengan iri hati? Tentu ngga kan? Lantas gmana? *makin bingung kan?*</p>
<p>Sebelum makin bingung saya coba melangkah mundur sedikit&#8230;</p>
<p>Oke lah, kita putuskan untuk gak banding2kan, tapi isi hati gak bisa dipungkiri. Kita bisa jadi sering membaca berulang2, Mazmur 37 dan Mazmur 73. Dimana ada penghiburan ketika kita dijahati oleh orang fasik, disitu dikatakan bahwa Tuhan punya rencanaNya bagi orang fasik. Jadi bisa dibilang Tuhan lah yang akan memberikan pembalasan jika itu emang kehendakNya. Saya mengatakan amin pada apapun yang Alkitab katakan.</p>
<p>Kita pasti ingat dengan Ayub yang Tuhan ijinkan kehilangan harta, anak2nya, teman2nya. Dalam benak kita nasib Ayub sungguh kasihan. Mungkin bagian favorit kita adalah ketika Tuhan memulihkan Ayub. Namun, sekali lagi namun, apakah kita pernah bagaimana perasaan anak2 Ayub yang harus meninggal? Apakah anak2 Ayub berpikir Tuhan itu adil? Mungkin anak2 Ayub mikir, &#8220;apa salahku sampai aku harus meninggal dengan cara begini?&#8221;&#8230;Atau gimana perasaan ibu2 yang anaknya meninggal dibunuh pada jaman Herodes? Gimana perasaan Stefanus yang mati dilempar batu? Dimana keadilan?</p>
<p>Kesimpulan yang akhirnya saya dapatkan dan renungkan&#8230;</p>
<p>Ada masa-masa sulit dimana seringkali kita tidak mengerti apa yang kita alami. Kita merasa kita tidak mendapatkan keadilan yang kita layak dapatkan. Masa sulit tuk dimengerti ketika Tuhan seolah tidak menjawab doa kita yang tulus. Masa sulit dimana Tuhan mengijinkan/membiarkan/merencanakan hal yang gak enak dalam hidup kita.</p>
<blockquote><p>Sebab <span style="text-decoration: underline;">segala sesuatu</span> adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36).</p>
<p>Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam <span style="text-decoration: underline;">segala sesuatu</span> untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:28)</p></blockquote>
<p>Dalam dua ayat di atas, <span style="text-decoration: underline;">fokus hidup ini bukanlah hidup kita sebagai manusia</span>, tapi segalanya itu untuk <span style="text-decoration: underline;">kemuliaan Tuhan</span>, yang telah menciptakan kita semua. Di tengah-tengah kondisi sulit, teruslah <a href="http://adimulia.net/blog/2009/09/sarah/">berharap padaNya</a> karena Tuhan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatang kebaikan, the ultimate good from God&#8217;s perspective.</p>
<p>ps: perlu pemikiran yang sangat hati-hati ketika kita mengalami kesulitan. Bisa jadi emang kita yang bikin salah/dosa. Janganlah terlalu mudah untuk berkata, &#8220;ah, Tuhan mungkin sudah mengorbankan saya tuk kemuliaanNya&#8221;.  Teruslah berjuang, baca firmanNya, artikan dalam konteksnya, dan berdoa!</p>
<p><em>Lord, help me walk with You each day,<br />
Attune my heart to what You&#8217;ll say;<br />
And show me how to read and pray<br />
When pressing needs get in my way. &#8211;Sper</em></p>
<p><em>And remember, God always love you. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/11/apakah-tuhan-itu-adil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perpisahan</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/11/perpisahan/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/11/perpisahan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 07:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=524</guid>
		<description><![CDATA[Di majalah National Geographic edisi bulan November ini, ada foto sekumpulan simpanse yang terlihat sedih ketika melihat salah satu dari mereka meninggal dan akan dikubur. Wow, simpanse pun bisa merasa kehilangan. Cerita selengkapnya bisa dibaca dsini. Lalu bagaimana dengan manusia? Sejak tinggal di luar negeri enam tahun belakangan ini, airport bukan lah suatu tempat yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di majalah National Geographic edisi bulan November ini, ada foto sekumpulan simpanse yang terlihat sedih ketika melihat salah satu dari mereka meninggal dan akan dikubur. Wow, simpanse pun bisa merasa kehilangan. Cerita selengkapnya bisa dibaca <a href="http://blogs.ngm.com/blog_central/2009/10/the-story-behind-our-photo-of-grieving-chimps.html">dsini</a>. Lalu bagaimana dengan manusia?</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-523" title="chimps_grieving" src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2009/11/chimps_grieving-300x199.jpg" alt="chimps_grieving" width="300" height="199" />Sejak tinggal di luar negeri enam tahun belakangan ini, airport bukan lah suatu tempat yang asing, bahkan tidur di kursi airport pun udah dua kali *krn terpaksa*. Saya suka airport, suka duduk2 di airport, sekedar duduk sambil minum kopi atau baca buku sambil melihat pesawat mendarat atau terbang. Di airport ada moment 2-5 menit yang bisa jadi pelajaran berharga, yaitu moment ketika kita harus berpisah dengan orang yang mengantar (biasanya pas kita harus masuk tuk boarding). Gak jarang orang menangis disitu, umumnya orang berpelukan, say good bye. Di situlah paling terasa, betapa kadang kita terlalu sering &#8220;take for granted&#8221; kasih sayang, perhatian, dan keberadaan dari orang2 yang mengasihi kita. Ada rasa sedih atau kehilangan karena kita gak akan merasakan lagi keberadaan mereka secara fisik, tapi di sisi lain selalu ada harapan tuk bertemu kembali. Yang juga menarik untuk diamati ketika kita pergi ke bagian arrival, dmana yang jemput biasanya udah siap menyambut. Ada kebahagiaan di arrival, ada kesedihan di departure.<span id="more-524"></span></p>
<p>Ini baru suasana airport&#8230;dimana kita tau klo kita someday masi ada kesempatan buat ktemu orang itu. Lain cerita kalo kita duduk2 di rumah sakit, di deket ruang ICU dimana orang ada di titik mencari dan berharap pada Tuhan. Emang sih, semua orang cepat atau lambat, pasti akan meninggal dunia. Cuma ya pasti berat aja ketika hal itu datang.</p>
<p>Kembali ke cerita tentang airport&#8230;.ketika saya peluk orang tua saya, bisa jadi itulah salah satu moment terindah dalam hidup. Mungkin terdengar agak sentimental, tapi sincerely I love them! Maka dari itu saya selalu berusaha untuk pulang setahun sekali buat ngunjungin mereka. Ketika saya mendarat di Cengkareng, pasti dijemput, dipeluk, bertukar cerita. Begitu indah.</p>
<p>Jujur, tanpa bermaksud berkata atas sesuatu yang di luar otoritas manusia, sekarang ini saya udah mulai ngitung, mungkin kesempatan saya pulang dan bertemu mereka cuma tersisa 10-15 kali lagi. Papa udah 62. Mama umur 59. Kadang kalo terima sms subuh2, ada rasa cemas kalo2 isi sms ini berita buruk klo mereka kenapa2. Misalnya spt dua tahun lalu mama kena kanker payudara stadium akut, tapi saya gak bisa pulang dan dampingi beliau pas operasi. Puji Tuhan operasinya lancar dan kemoterapi juga lancar. Ada rasa was2 aja sih klo jauh dari ortu. Anyhow&#8230;</p>
<p>Semoga kita bisa lebih menghargai keberadaan orang-orang di sekitar kita. Kalo masih ada kesempatan buat ktemu sama teman, saudara, pacar, suami/istri, anak, rekan kerja, dsb, mari kita pergunakan kesempatan yang ada tuk mengasihi mereka. Biarlah melalui hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita, kasih Tuhan bisa terpancar dan namaNya dimuliakan.</p>
<p>&#8220;Good bye is only painful when you know you will never say hello again&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/11/perpisahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lekas bangkit!</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/10/lekas-bangkit/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/10/lekas-bangkit/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 17:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Activities]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=508</guid>
		<description><![CDATA[Ordinary people with extraordinary impact. Kira-kira begitulah slogan dari program CNN Heroes, yaitu program dari CNN untuk menghargai orang-orang yang memberikan kontribusi berarti bagi komunitas. Seorang teman minggu kmrn kirim email pd sy supaya sy ikutan vote utk Capt. Budi Soehardi. Apa yang beliau kerjakan cukup signifikan sampai beliau dinominasikan untuk CNN Heroes. Beliau membuka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/b/b5/CNN_Heroes_logo.svg/324px-CNN_Heroes_logo.svg.png" alt="" /><br />
Ordinary people with extraordinary impact.</p>
<p>Kira-kira begitulah slogan dari program CNN Heroes, yaitu program dari CNN untuk menghargai orang-orang yang memberikan kontribusi berarti bagi komunitas.  Seorang teman minggu kmrn kirim email pd sy supaya sy ikutan vote utk <a href="http://www.cnn.com/2009/WORLD/asiapcf/09/03/cnnheroes.budi.soehardi/index.html">Capt. Budi Soehardi</a>. Apa yang beliau kerjakan cukup signifikan sampai beliau dinominasikan untuk CNN Heroes. Beliau membuka panti asuhan di Kupang. Btw, beliau orang Indonesia pertama yang masuk <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/CNN_Heroes">nominasi CNN Heroes</a>.<span id="more-508"></span></p>
<p>Setiap orang punya &#8220;hero&#8221; masing-masing. Saya pribadi kalo dibikin daftar hero dari tahun ke tahun, setiap tahun biasanya ada tokoh yang cukup signifikan dalam hidup. Bisa jadi orang tua, teman, kerabat, tetangga, dll. Kontribusinya juga macem2. Ada yang membantu sy utk fokus ttg tujuan hidup, ada yang menolong ketika sy down, ada yang jd pendengar yang baik, dll. Mungkin mereka sendiri gak tau klo mereka sy anggap sebagai hero.</p>
<p>Tahun 2009 ini, tiga orang yang saya anggap hero jatuh. Masing-masing punya masalah sendiri dan mereka semua masi manusia juga. Kisahnya juga beragam. Ada yang lari dari Tuhan karena kecewa dlm karir. Ada yang ternyata punya masalah berat dlm rumah tangganya. Ada yang depressi karena difitnah orang-orang yang dia kasihi dengan tulus.</p>
<p>Gmana ya&#8230;sedih juga sih dengernya, tapi itulah realitanya. Terlepas dari kesulitan yang ada, saya percaya Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat atas semua perkara. Tuhan ngga akan berkata &#8220;oopss&#8230;maaf Aku gak menyangka hasilnya akan sepahit ini untukmu&#8221;. Semoga mereka lekas bangkit! There is always hope.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/10/lekas-bangkit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The power of second generation</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/10/selidiki-aku/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/10/selidiki-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 16:00:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Activities]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[Second Generation yang gw maksud disini adalah generasi orang tua gw&#8230; Nenek-Kakek gw adalah First Generation, Papa-Mama adlah second generation, dan kita2 adalah third generation&#8230;.. Kebanyakan dari orang tua kita (yg gw maksud kita adalah orang2 yang berumuran antara 17 &#8211; 28 hehe..) hidup pada jaman pasca kemerdekaan, kata org dulu, namanya jaman susah&#8230;. Mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Second Generation yang gw maksud disini adalah generasi orang tua gw&#8230;<br />
Nenek-Kakek gw adalah First Generation,<br />
Papa-Mama adlah second generation,<br />
dan kita2 adalah third generation&#8230;..<br />
<span id="more-506"></span><br />
Kebanyakan dari orang tua kita (yg gw maksud kita adalah orang2 yang berumuran antara 17 &#8211; 28 hehe..) hidup pada jaman pasca kemerdekaan, kata org dulu, namanya jaman susah&#8230;.<br />
Mereka dulu mau sekolah saja susah&#8230;belum lagi kalo orang tua kita merupakan anak sulung atau anak yg dijadikan sebagai tulang punggung keluarga&#8230;<br />
Dulu nenek kakek kita juga belum semampu orang tua kta di hari ini untuk membiayayi anaknya&#8230;</p>
<p>Jadi kalo kita sekarang sekolah udah enak, naik turun mobil (kalo sue naik turun jemputan yg panas) trus gak perlu mikirin uang sekolah, beda ceritanya sama the second generation.<br />
Mereka harus biayain sekolahnya sendiri&#8230;pulang pergi naik angkot (paling sue jalan kaki ke sekolah dan pulang sekolah)&#8230;lebih sue lagi mereka ada yg tidak bisa meneruskan sekolahnya sampai jenjang tertinggi&#8230;.semua itu terjadi di jaman susah pasca kemerdekaan itu&#8230;.<br />
kemudian orang2 yang tergolong dalam second generation ini mulai bekerja (dengan latar belakang pendidikan yang seadanya (kalo sue pekerjaan mereka ini dijadikan pendapatan inti bagi keluarga mereka)&#8230;.</p>
<p>trus setelah menemukan kekasih hati (cah elahh) mereka menikah&#8230;dimana menikah pun menggunakan biaya sendiri, belum lagi beli rumah dan perabotannya&#8230;.biaya susu bayi kalo udah punya anak, bbiaya ini itu&#8230;.</p>
<p>dan sue&#8217;nya lagi, setelah melangsungkan pesta pernikahan kalo di jaman kita kan dapet angpao yg uang nya bisa digunakan untuk melunasi hutang2 katering, hutang sewa gedung pernikahan, bahkan hutang salon&#8230;kalo aman mereka dapetnya perabotan rumah&#8230;ckckckckkc&#8230;.<br />
mending kalo tuh perabotan isinya AC, Kitchen set, Tipi LCD (tp blun ada juga sih)&#8230;isinya mah gak gitu penting&#8230;antara lain jam dinding2 (sampe berbiji2), tea set(sampe beberapa set dan gak da manfaatnya), seperai, dll,dll&#8230;..</p>
<p>sesudah nikah tau2 punya anak (yah kita2 ini), anaknya bandel, udah punya duid mau disekolahin malah tereak2 ogah sekolah&#8230;..<br />
udah disekolahin sampe SD, SMP, SMA, kuliah (S2 kalo beruntung) tapi nilai tetep pas2an&#8230;.punya pacar yang ganteng, langsung minta kawin&#8230;hahahahaha&#8230;.(lebay ahh)&#8230;<br />
gak berasa waktu udah berjalan berapa puluh tahun&#8230;anak mereka pun tak kunjung sukses (amit2)&#8230;.kembali mereka harus men-support keuangan anak mereka untuk biaya pernikahan (untung yg ini dapetnya angpao)&#8230;biaya DP rumah (kalo lagi sue anaknya dibeliiin rumah sampe lunas)&#8230;.</p>
<p>trus begitu sampe mereka tua&#8230;the second generation is the most powerfull generation, beter than ours&#8230;</p>
<p>akhir kata:<br />
ini hanyalah segelintir cuap2 gw, yang mungkin hanya sesuai hanya dengan kehidupan segelintir orang di Jakarta (Indonesia) &#8230;</p>
<p>Moral of the story:<br />
be the powerfull third generation!!<br />
be inspired instead of be spoiled..=P</p>
<p>****</p>
<p>hari ini hari sumpah pemuda uy!<br />
satu tanah air.<br />
satu bangsa.<br />
satu bahasa.</p>
<p>repost dr <a href="http://anastasiawindy.blogspot.com/">blog tetangga</a>, punyanya si windy&#8230;yang dulu sering mampir ke blog &#8220;the roundedge&#8221; yang lenyap ditelan server&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/10/selidiki-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Life-giving friends</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/10/life-giving-friends/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/10/life-giving-friends/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 22:56:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[Life can be very hard. &#8220;&#8230;no matter how hard we try to bring order and peace into our lives, there are moments when everything seems to be falling apart and times when we not only feel we are drowning but are sure someone or something is holding us under&#8221; (Paul J. Wadell, Becoming Friends, 112-113). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2009/10/friendship1.jpg" alt="friendship1" title="friendship1" width="300" height="198" class="alignnone size-full wp-image-502" /></p>
<p>Life can be very hard. &#8220;&#8230;no matter how hard we try to bring order and peace into our lives, there are moments when everything seems to be falling apart and times when we not only feel we are drowning but are sure someone or something is holding us under&#8221; (Paul J. Wadell, Becoming Friends, 112-113). Already we are seeing increasing incidences of depression, suicide and domestic violence as the global economy continues to tank. A closer look at the stats however, suggests that it is not the blows of life that finally get us. It&#8217;s having to face them alone.<span id="more-496"></span></p>
<p>My fear is that the pace and the structure of modern society leave many of us bereft of even one true friend much less two. Unfortunately the church community can be as lonely as the world. There is a prevalent triumphalism that teaches, or at least implies, that if you are walking right with God, you should have no problems, and that if you do have difficulties, you should be able to overcome them easily. Such an attitude leads to much superficiality in church-based relationships where people hardly know each other much less share their deepest struggles. We note that Jesus, truly God and truly man, and our model of what it means to be truly human, did not shy away from sharing His deepest struggles and His need for community.</p>
<blockquote><p>[Then Jesus went with them to the olive grove called Gethsemane, and he said, "Sit here while I go over there to pray." He took Peter and Zebedee's two sons, James and John, and he became anguished and distressed. He told them, "My soul is crushed with grief to the point of death. Stay here and keep watch with me." (Matthew 26:36-38 NLT)]</p></blockquote>
<p>We need our friends in good times, to share our joys, and we surely need our friends in tough times, to help give us the courage to carry on. Paul J. Wadell cites Aelred on this aspect of friendship.</p>
<p>[A second reason Aelred says we need good friendship is that life is often hard for us, more than any of us can handle alone ... None of us can navigate the perils of life alone, and we shouldn't try to do so. Sometimes we need to be rescued. Sometimes we need others to lean on, someone to take our hand and guide us along when our luck runs out, and this is what friends do for us. At moments of chaos and confusion, suffering and loss in our lives, they do not want us to be alone. They want to be with us and help us though our tribulations. (Becoming Friends, 112-113)]</p>
<p>I say a loud &#8220;amen&#8221; to Aelred and Wadell. As I look back on my life, I note the times of deep brokenness and despair. For each of those moments I can name the names of the friends who were there for me. Without them I would have been lost a long time ago. I cannot thank them enough. I can try to pass it forward. I can try to walk with my friends in their times of &#8220;chaos and confusion, suffering and loss&#8230;&#8221;</p>
<p>Do you have life-giving friends in your life? The thing is, you can&#8217;t treat friends like a fire extinguisher, &#8220;breaking the glass&#8221; to get to them only in times of crisis, when we need them. We value our friends for whom they are and not for what we can get out of them. Therefore in good times or bad we need to make time for our friends. We need to meet up with them regularly to share our lives. In good times we may fool ourselves into thinking that we can go it alone. One of the redeeming features of tough times is that it reminds us that none of us can go it alone.  We need God. And we need our friends.</p>
<p>Book cited. Wadell, Paul J.  Becoming Friends.  Grand Rapids, MI: Brazos Press, 2002. The quotation above I read in a presentation file given by a Navigator last month.</p>
<p>***</p>
<p>My brother wrote the above to me when I faced hard times in life. I truly believe that every problem will bring us closer to Lord Jesus, especially the unspeakable problem, it will make us strong. And I am thankful to be able to name the names of friends who were there for me <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/10/life-giving-friends/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang pasangan hidup</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/10/tentang-pasangan-hidup/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/10/tentang-pasangan-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 12:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kasih & Pengharapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=504</guid>
		<description><![CDATA[A woman without her man, is nothing A woman, without her, man is nothing Di Institut Gajah Duduk (IGD) ada joke ttg gmana attitude cewe IGD mencari jodoh. Tahun pertama biasanya diwarnai pertanyaan ttg jati diri, &#8220;siapa saya?&#8221;. Kemudian tahun-tahun berikutnya sampai ketika lulus, klo ada cowo yang coba deketin biasanya cewe di IGD ngasih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://s55.photobucket.com/albums/g148/m61r1/Kaskus2/piccolo_piccolo___by_joolya.jpg" alt="" /></p>
<p>A woman without her man, is nothing<br />
A woman, without her, man is nothing</p>
<p>Di Institut Gajah Duduk (IGD) ada joke ttg gmana attitude cewe IGD mencari jodoh. Tahun pertama biasanya diwarnai pertanyaan ttg jati diri, &#8220;siapa saya?&#8221;. Kemudian tahun-tahun berikutnya sampai ketika lulus, klo ada cowo yang coba deketin biasanya cewe di IGD ngasih respon &#8220;siapa anda?&#8221;. Lol, secara cewe di IGD itu agak kurang jumlahnya. Ditambah dengan pemikiran bahwa IGD adalah institut terbaik bangsa, makin tinggilah jalan pikirnya. Akibat attitude demikian, ketika sudah lulus kuliah status berubah jadi STMJ (sudah tamat masi jomblo), jadi skrg responnya &#8220;siapa aja dah&#8221;<span id="more-504"></span></p>
<p>Bule pun punya joke serupa. Ketika seorang wanita berumur 12, ada 20 kriteria tentang calon pasangan hidupnya kelak. Tapi ketika dia berumur 32, kriterianya jadi cuma dua, &#8220;as long as he is warm and breathing&#8221;.haha.</p>
<p>Terlepas dari dua joke di atas. Bulan Oktober ini udah lebih dari lima orang nanya sy tentang jodoh. Ada yang sekedar bercanda, ada yang mau ngenalin dgn orang lain, ada yang dengan tulus akan mendoakan. Sy jadi sedikit tergerak untuk berpikir, apa sy nantinya akan menurunkan kriteria sy dari 20 jadi 2? Wew&#8230;ya jangan sampe se-ekstrim itu. Atau pertanyaan lebih ekstrim yang setiap kita perlu tanya, apa sih tujuan kita cari jodoh? Apa sih tujuan kita menikah?</p>
<p>Sebelumnya sy orang yang berpikir idealis. Maksudnya sekolah yang rajin, trus masuk kuliah, kuliah ya cari pacar, klo udah lulus kuliah ya cari kerja, terus klo udah cocok ya menikah, menikah ya punya anak, besarkan anak, dst. Tapi sayangnya realita gak pernah sesederhana itu. Kalo dulu ditanya apa tujuan menikah? Paling saya jawab ya karena itulah hidup yang normal. Ini waktu hidup itu masih relatif gak banyak masalah macem2 sih.</p>
<p>Berbagai macam buku Kristen juga coba memberikan suatu &#8220;guideline&#8221; dan konfirmasi dalam mencari pasangan hidup. Ada checklist2 tentang mencari jodoh. Seorang temen coba menjalankan semua di guideline itu, tapi itu bukan jaminan karena akhirnya hubungan itu bisa berakhir juga. Emang buku-buku itu ada baiknya, jangan salah mengerti tapi Tuhan lah yang berdaulat atas apa yang terjadi akhirnya.</p>
<p>Sy pribadi sampai hr ini terus berdoa untuk rencana berkeluarga suatu hari kelak. Jika iya, dengan siapa? blom tau. Apa yang dicari? syukurnya udah tau. Secara mutlak, saya mencari calon pasangan hidup yang mengasihi Tuhan, mengasihi saya, dan terakhir mengasihi dirinya sendiri. Kalo urutannya dibalik, bisa jadi azab dan sengsara&#8230;Juga, jelas sy sendiri berusaha mengasihi dengan urutan yang sama.</p>
<p>Kemudian yah secara praktek, ada bbrp aspek yang perlu dipikirkan, klo boleh menyimpulkan, ada tiga proses untuk menilai tiga kriteria di atas. Kecocokan hidup&#8230;setiap orang punya gaya hidup yang berbeda-beda, dibesarkan di keluarga dengan background dan kebiasaan berbeda, pendidikan mgkn beda, datang dari background sosial ekonomi beda, pasti ada banyak perbedaan. Dsinilah diuji sejauh mana kedua pihak mau &#8220;sacrifice&#8221; dan adjust, ego masing2 diuji. Kedua, Keseriusan hidup&#8230;sejauh mana seseorang menjalani hidupnya, bagaimana dia menghadapi masalah-masalah hidup, apakah mudah menyerah. Apakah dia orang yang mau menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Dan yang terakhir, kekudusan hidup, sedalam apa dia (mau) hidup benar di hadapan Tuhan. Apakah dia mau selalu bersandar pada Tuhan dalam aspek kehidupannya. Gmana hubungan pribadi dia dengan Tuhan.</p>
<p>Oh well&#8230;seindahnya saya menemukan pasangan hidup yang tepat, (idealnya) sesabar itu pun sy untuk menemukan calon yang sepadan. Gak pengen yang aneh2 kaya dongeng sih. Live happily ever after tiu gak realistis, mengingat menikah ngga membuat masalah jadi hilang begitu saja. Tapi salah satu anugerah menikah itu gmana dua orang yang berbeda bisa melewati suatu masalah bersama-sama dan Tuhan menyertai selalu.</p>
<p>Akhir kata&#8230;apabila sudah tiba waktuNya tentang pasangan hidup, sy yakin dan percaya, itulah yang terbaik Tuhan anugerahkan bagi kita. Apabila waktuNya (menurut kita) tak kunjung tiba, Tuhan jugalah yang pasti akan memampukan setiap kita untuk melewatinya.</p>
<p>Letspraytogether.<br />
*nah lho, kalimat di atas mau dibaca seperti apa?*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/10/tentang-pasangan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Detour</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/10/detour/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/10/detour/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 18:29:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan saya sering berenung, hidup ini mau dibawa kemana. Mungkin tepatnya lebih ke arah reflektif. Ya, hidup ini emang berubah sejak saya mengakui Yesus sebagai juruselamat satu-satunya. Ibarat biji yang jatuh ke tanah dan mengalami masa dormant, baru tahun kemarin lah tunas iman itu tumbuh. Tahun kemarin secara rohani saya merasa capek banget dengan drama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2009/10/isp2087636_p-300x199.jpg" alt="isp2087636_p" title="isp2087636_p" width="300" height="199" class="alignnone size-medium wp-image-444" /></p>
<p>Belakangan saya sering berenung, hidup ini mau dibawa kemana. Mungkin tepatnya lebih ke arah reflektif. Ya, hidup ini emang berubah sejak saya mengakui Yesus sebagai juruselamat satu-satunya. Ibarat biji yang jatuh ke tanah dan mengalami masa dormant, baru tahun kemarin lah tunas iman itu tumbuh. Tahun kemarin secara rohani saya merasa capek banget dengan drama teologi kemakmuran, praktek doktrin kesembuhan ilahi yang menyimpang, ajaran2 ngaco tentang Roh Kudus. Proses dan pengalaman mengenal Tuhan bener-bener harus selalu diuji dengan terang kebenaran Alkitab, kalo ngga gawat jadinya. Ya, apa yang saya kejar dalam hidup ini perlahan berubah. Sekarang&#8230;walaupun sering jatuh bangun, kerinduan untuk mengenal Tuhan lebih berharga dari semua &#8220;iming2&#8243; ikut Tuhan. Coba baca <a href="http://www.sabda.org/sabdaweb/passages/?p=Yeremia+9&#038;s=on">Yeremia 9:23-24</a> untuk mengerti lebih lanjut <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <span id="more-443"></span></p>
<p>Tapi&#8230;proses mengenal Tuhan itulah yang sering bikin hidup lebih hidup, deg2an malah iya. Ibarat GPS, saya udah set tujuan akhirnya dimana, insha Allah di surga. Tapi di tengah jalan, selalu ada detour. Detour itu bentuknya macam-macam, bisa dalam bentuk masalah pekerjaan, broken relationship, keluarga, gereja, teman, dll. Gara-gara &#8220;detour&#8221; ini juga iman sering diuji, seolah gak ada habisnya. Semakin hari dibikin semakin ngerasa nothing, ada banyak kekurangan diri. Tapi ya itu yang bikin heran juga, setelah lewat &#8220;detour&#8221; ini ada rasa joy. Oh, Tuhan ternyata ijinkan saya mengenal Dia lebih dalam lagi melalui detour2 itu.</p>
<p>Ada cerita menarik. Tahun 2004 lalu, Jet Li jalan2 ke Maldives sama istri dan dua anaknya yang masi kecil, mereka liburan Christmas. Mereka tinggal di hotel <a href="http://www.fourseasons.com/maldives/">Four Seasons</a>. Tempatnya di pinggir pantai, bagus banget. Tanggal 26 Desember pagi, anaknya minta ditemenin berenang sama main ke pantai. Kira-kira jam 8 pagi, dia ngerasa ada gempa bumi. Jet Li mungkin karena udah terbiasa sama gempa, secara dia tinggal di China &#038; San Francisco (juga di Singapore?), tetep cuek maen di pantai. Kira-kira dua jam kemudian, gelombang tsunami akibat gempa di Aceh nyampe ke Maldives! Yup, kita semua ingat dahsyatnya gelombang tsunami aceh sampai ke Afrika. Jet Li reflek bawa anak-anaknya, tapi ombak segera menelan mereka.</p>
<p>Waktu itu Jet Li diberitain meninggal ditelan ombak. Thank God, staf hotel berhasil menolong Jet Li dan anaknya. Ini peristiwa dahsyat buat Jet Li, bayangin di tempat seindah Maldives, hotel mewah, dia hampir kehilangan anaknya (dan bahkan nyawanya sendiri). Dua tahun kemudian Jet Li mendirikan LSM namanya <a href="http://www.onefoundation.cn/en_index.php">One Foundation</a> untuk membantu orang lain yang terkena bencana alam. Pas gempa di Sechuan tahun lalu, Jet Li langsung turun tangan membantu. Sebelumnya dia fundraising sampai 17 juta dollar.</p>
<p>Btw, Jet Li ini bukan orang Kristen, dia seorang Tibetan Buddhism. Dengan satu &#8220;detour&#8221; yang luar biasa ini, Jet Li melakukan sesuatu yang berguna buat orang lain. Dia bilang, &#8220;philanthropy is my passion and my life now. I wake up and eat and I am thinking about it. I’m still thinking about it in the bath&#8221;. Beut&#8230;.dalem&#8230;</p>
<p>Kita semua punya GPS yang udah kita set tujuan akhirnya, entah tujuan akhirnya itu kemewahan hidup, kekayaan, karir, rumah, mobil, etc. Pasti akan ada detour. Syukurlah kalo dengan detour itu kita bisa sadar tujuan akhir kita yang sesungguhnya dmana. Ataupun bila dengan detour itu kita bisa semakin mengerti betapa berharganya tujuan akhir kita itu <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>*akhir kata, saya masih berenung&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/10/detour/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Which version of Bible should I read?</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/09/which-version-of-bible-should-i-read/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/09/which-version-of-bible-should-i-read/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2009 16:42:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=351</guid>
		<description><![CDATA[Well, this has been a question for many Christians over the ages. Having so many choices from KJV, NASB, ESV, NIV, NLT, up to The Message and LB Cotton Tail, we often confuse which version is true? I took a brief study to understand how bible was translated. Hope it can help. Quick facts of [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Well, this has been a question for many Christians over the ages. Having so many choices from KJV, NASB, ESV, NIV, NLT, up to The Message and LB Cotton Tail, we often confuse which version is true? I took a brief study to understand how bible was translated. Hope it can help.</p>
<p>Quick facts of the Bible. It was written in three languages: Hebrew (most of the Old Testament), Aramaic (some sections in the Old Testament), and Greek (the New Testament). Bible was written over a 1500 year span. Written by over 40 authors. Written in different places (from the wilderness, dungeon, prison walls, travelling, up to the isle of Patmos). Written in times of war and peace. Written in different moods. Written on three continents. But&#8230;the most important thing we need to know and believe: the Bible was written under the direction and inspiration of the Holy Spirit.<span id="more-351"></span></p>
<p>So, how do they translate the Bible from the original language? In general, translators are using three methods.</p>
<ul>
<li> Literal translation: the attempt to translate by keeping as close as possible to the exact words and phrasing in the original language. Examples: KJV, NASB, RSV, ESV.</li>
<li>Free translation: the attempt to translate ideas from one language to another with less concern about using the exact words of the original. Examples: The Message, LB Cotton Tail</li>
<li>Dynamic equivalent: the attempt to translate words, idioms, and grammatical constructions of the original languages into precise equivalent in the receptor language. Examples: NIV, GNB, NLT, Phillips</li>
</ul>
<p>So which one should I read? Sometimes it really depends on where you are in your spiritual growth. Literal translation is good for serious bible study. It best represents the original word for word. While Free translation is food for stimulating fresh thinking on the next, usually for devotional purpose. But keep in mind, there are some poor translations of the Scripture texts in every translation.</p>
<p>My first bible version was in Indonesian. The first english bible I read is King James Version. Although many scholars believe it is the most precise translation, I find it hard to understand the Scriptures since english is not my first language, and secondly it is not the current english. Language evolves over time. Hence, through the work of Holy Spirit, bible is translated to today&#8217;s language. Now I&#8217;m using NKJV, ESV, ASV, and Indonesian.</p>
<p>Does translation matter? It does. Last year a preacher said his prophecy to me. Although his prophecy sounded biblical since he is using the Scriptures. Yet later I found after studying the verse carefully, his prophecy was not biblical at all since he was interpreting the Scriptures carelessly. It is sad to see if many pastors today do not go to bible school to study the bible. If they themselves lack on good understanding of the Bible, whose teaching they would teach to the congregation? On the other hands, it is also disappointing to see some people who think they understand the bible in and out often use the Scriptures as &#8220;playground&#8221;. Be careful (John 5:39). If you are a scholar and are yearning to learn the Bible, I&#8217;d recommend having Hebrew/Greek dictionary. It is helpful to understand the Scriptures.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Example from 1 Corinthians 6:9. NIV &#8211; Do you not know that the wicked will not inherit the kingdom of God? Do not be deceived: Neither the sexually immoral nor idolaters nor adulterers nor male prostitutes nor <em>homosexual</em> offenders.</p>
<p style="padding-left: 30px;">The Message version: Don&#8217;t you realize that this is not the way to live? Unjust people who don&#8217;t care about God will not be joining in his kingdom. Those who use and abuse each other, <em>use and abuse sex</em>, use and abuse the earth and everything in it, don&#8217;t qualify as citizens in God&#8217;s kingdom.</p>
<p>We see that avoidance of speaking directly about homosexuality as being sin (in The Message bible), weakens the text.</p>
<p>Hence, I hope you have the passion to study the Scriptures carefully by reading the most appropriate bible translation for yourself. On the top of everything, the Scriptures are God-breathed, when we read the Bible our focus should be on God, and God only. It takes more than knowledge to understand the Scriptures. But by the grace of God, and the help from Holy Spirit, we can learn to know God from the Scriptures.</p>
<p>Sola scriptura!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/09/which-version-of-bible-should-i-read/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SARAH</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/09/sarah/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/09/sarah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 00:14:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[Ada lima fase yang terjadi ketika kita mengalami sesuatu yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kehilangan seseorang, patah hati, atau kecewa di tempat kerja. Respon pertama biasanya adalah S (shock). Kaget, tidak pernah membayangkan bahwa hal itu akan/bisa terjadi. Dari kaget, biasanya dilanjutkan dengan A (angry). Marah atas apa yang terjadi, bisa marah terharap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada lima fase yang terjadi ketika kita mengalami sesuatu yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kehilangan seseorang, patah hati, atau kecewa di tempat kerja.</p>
<p>Respon pertama biasanya adalah <strong>S (shock)</strong>. Kaget, tidak pernah membayangkan bahwa hal itu akan/bisa terjadi. Dari kaget, biasanya dilanjutkan dengan <strong>A (angry)</strong>. Marah atas apa yang terjadi, bisa marah terharap diri sendiri, keluarga, teman kerja, dll. Kemudian <strong>R (resist)</strong>, menolak kenyataan dan bertanya-tanya &#8220;kenapa? kok bisa-bisanya? padahal kita kan sudah&#8230;&#8221;.<span id="more-341"></span></p>
<p>Ini tahap krusial. Banyak orang berhenti di tahap ini dan menjadi pahit. Kepahitan bisa menjelma menjadi dendam atau setidaknya mengganggu konsentrasi di pekerjaan.</p>
<p>Fase berikutnya <strong>A (accept)</strong>. Menerima kenyataan akan apa yang sudah terjadi, bahwa kita bisa jadi ikut bersalah akan apa yang sudah terjadi. Ada banyak hal yang berada di luar kendali kita sebagai manusia. Menerima bahwa tidak ada yang sempurna. Menerima bahwa Tuhan tetap berdaulat penuh atas apa yang terjadi dan Dia berkuasa untuk mengubah segala hal menjadi sesuatu yang BAIK bagi kita. Accept the fact that God never makes mistakes.</p>
<p>Fase terakhir, <strong>H (hope)</strong>. Terus percaya sama Tuhan. Mata Tuhan tidak terpejam. Telinga Tuhan sudah mendengar jerit kita minta tolong. Dia tahu dan Dia mengerti. Karena kita berharga di mata-Nya, apa yang merisaukan kita juga merisaukan Tuhan. Tuhan punya rencana indah untuk dan rencana-Nya akan terlaksana.</p>
<p>Ada beberapa peristiwa dalam hidup ini yang sulit untuk dimengerti. Ada waktu di hidup saya dimana pencobaan berat menekan. Ada waktu dimana saya tidak melihat tuntunan tangan Tuhan. Tapi Tuhan sendiri lah yang memberikan iman untuk terus berharap padaNya. Jika saya tidak melihat sinar matahari, bukan berarti matahari tidak ada dan lenyap. Matahari pasti akan bersinar, mungkin sebuah pelangi pun akan tampak <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/09/sarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Satu kata, satu perbuatan</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/09/satu-kata-satu-perbuatan/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/09/satu-kata-satu-perbuatan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 00:03:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>
		<category><![CDATA[Teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=339</guid>
		<description><![CDATA[Pada waktu musim kampanye bulan Mei kemarin, setiap capres diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan anggota Ikadin. Yang paling menarik menurut saya, pada waktu Jusuf Kalla berdiskusi. Seorang Ibu bertanya seputar komitment Jusuf Kalla untuk produk dalam negeri dan masalah branding (merk). Jusuf Kalla kemudian menjawab, &#8220;Sekarang pakai sepatu apa?&#8221; Kemudian dia mencopot sepatunya yg bermerk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada waktu musim kampanye bulan Mei kemarin, setiap capres diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan anggota Ikadin. Yang paling menarik menurut saya, pada waktu Jusuf Kalla berdiskusi. Seorang Ibu bertanya seputar komitment Jusuf Kalla untuk produk dalam negeri dan masalah branding (merk). Jusuf Kalla kemudian menjawab, &#8220;Sekarang pakai sepatu apa?&#8221; Kemudian dia mencopot sepatunya yg bermerk &#8220;JK Collection&#8221; asli dari Cibaduyut. Dia tanya lagi, &#8220;Ibu tasnya buatan Indonesia atau bukan?&#8221;. Si Ibu pun sontak malu karena tasnya buatan luar negeri yang berharga jutaan rupiah.<span id="more-339"></span></p>
<p>Begitu banyak masalah ketika perbuatan kita tidak sesuai dengan perkataan kita. Dalam sehari, ada berapa banyak kalimat yang kita ucapkan. Apakah benar perbuatan kita sesuai dengan kata-kata kita?</p>
<p>Muda-mudi yang sedang berpacaran mungkin bisa ratusan kali mengucapkan kata &#8220;I love you&#8221; selama masa pacaran. Tapi apakah benar demikian? Apakah cinta itu sudah benar-benar nyata dalam setiap perbuatan kita? Ketika pasangan beradu pendapat sering terucap kalimat, &#8220;Aku melakukan ini karena aku mencintai engkau&#8221;. Menarik, apakah benar demikian?</p>
<p>Ketika kita mengatakan &#8220;Aku percaya pada Tuhan&#8221;. Apakah benar demikian? Apakah kita masih terus percaya ketika masalah datang? Apakah yang kita lakukan sudah membuktikan bahwa kita percaya? Implikasi satu kalimat di atas berdampak besar.</p>
<p>Integritas terbentuk ketika perbuatan seseorang sama dengan apa yang dia ucapkan. Tidak ada orang yang sempurna untuk selalu berintegritas, tapi tidak ada salahnya melatih diri untuk mengatakan apa yang kita benar-benar maksud, dan melakukan sungguh-sungguh apa yang kita katakan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/09/satu-kata-satu-perbuatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rasa kecewa</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/09/rasa-kecewa/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/09/rasa-kecewa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 21:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=325</guid>
		<description><![CDATA[Orangnya pintar, tapi sayang sombong sekali seperti sudah tahu segalanya&#8230; Orangnya terlihat bersahabat, tapi sayang persahabatan hanya sebatas bibir&#8230; Orangnya sukses di luar rumah, tapi sayang keluarga terbengkalai&#8230; Orangnya terlihat cinta Tuhan, tapi sayang itu hanya topeng di gereja&#8230; Orangnya begitu ingin melayani Tuhan, tapi sayang dia lupa mengasihi sesama&#8230; Orangnya jujur tentang orang lain, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orangnya pintar, tapi sayang sombong sekali seperti sudah tahu segalanya&#8230;<br />
Orangnya terlihat bersahabat, tapi sayang persahabatan hanya sebatas bibir&#8230;<span id="more-325"></span><br />
Orangnya sukses di luar rumah, tapi sayang keluarga terbengkalai&#8230;<br />
Orangnya terlihat cinta Tuhan, tapi sayang itu hanya topeng di gereja&#8230;<br />
Orangnya begitu ingin melayani Tuhan, tapi sayang dia lupa mengasihi sesama&#8230;<br />
Orangnya jujur tentang orang lain, tapi sayang dia tidak jujur pada diri sendiri&#8230;</p>
<p>Sedalamnya hati manusia, hanya Tuhan yang tahu. Rasa kecewa pasti muncul ketika kita menaruh harapan pada manusia, seberapa sempurnanya mereka. Terus berharap pada Tuhan <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/09/rasa-kecewa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Empower</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/08/empower/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/08/empower/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 18:25:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[There&#8217;s a yearning again A thirst for discipline A hunger for things that are deeper Do your best if there is an opportunity to grow your faith and be equipped to serve the Lord!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://adimulia.net/blog/wp-content/uploads/2009/08/empower_head.jpg" alt="empower_head" title="empower_head" width="450" height="110" class="alignnone size-full wp-image-308" /></p>
<blockquote><p>There&#8217;s a yearning again<br />
A thirst for discipline<br />
A hunger for things that are deeper</p></blockquote>
<p>Do your best if there is an opportunity to grow your faith and be equipped to serve the Lord!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/08/empower/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A little thought of the day</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/08/a-little-thought-of-the-day/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/08/a-little-thought-of-the-day/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 05:48:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Walaupun Yusuf sudah menjadi penguasa di Mesir, hatinya masih berada di Kanaan Kebahagiaan adalah bukanlah perkara &#8220;dimana&#8221; tetapi perkara &#8220;ketika&#8221;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Walaupun Yusuf sudah menjadi penguasa di Mesir, hatinya masih berada di Kanaan</p></blockquote>
<p>Kebahagiaan adalah bukanlah perkara &#8220;dimana&#8221; tetapi perkara &#8220;ketika&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/08/a-little-thought-of-the-day/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diam saja ketika kita difitnah</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/08/diam-saja-ketika-kita-difitnah/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/08/diam-saja-ketika-kita-difitnah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 18:22:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=272</guid>
		<description><![CDATA[Yusuf dijebloskan ke dalam penjara karena dia melakukan segalanya dengan benar. Hah? Bisa? Sebelum membahas kehidupan Yusuf di rumah Potifar, mungkin ada baiknya jika kita mengingat kembali proses yang sudah dialami oleh Yusuf. Dibuang ke sumur, hampir dibunuh, akhirnya dijual oleh saudara-saudaranya sendiri. Saya bayangkan Yusuf sudah mengalami rasanya pupus impian. Sekarang Yusuf memulai hidup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yusuf dijebloskan ke dalam penjara karena dia melakukan segalanya dengan benar. Hah? Bisa?</p>
<p>Sebelum membahas kehidupan Yusuf di rumah Potifar, mungkin ada baiknya jika kita mengingat kembali proses yang sudah dialami oleh Yusuf. Dibuang ke sumur, hampir dibunuh, akhirnya dijual oleh saudara-saudaranya sendiri. Saya bayangkan Yusuf sudah mengalami rasanya pupus impian. Sekarang Yusuf memulai hidup baru di Mesir, bekerja dengan serius sampai bisa diberi kepercayaan untuk mengurus rumah tangga Potifar.<span id="more-272"></span></p>
<p>Tuhan mempersiapkan hambaNya dengan teliti dengan mengizinkan ujian baru. Tujuannya adalah tabah dicobai dan muncul sebagai emas. Ketika Yusuf digoda oleh istri Potifar, ada empat langkah yang diambil:</p>
<ol>
<li>Ketika istri Potifar mendatangi Yusuf dan berkata, &#8220;Marilah tidur dengan aku&#8221;, Yusuf menolak dan berkata, &#8220;Tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku&#8221; (Kej 39:8). Yusuf menghargai kepercayaan Potifar, dan memperhatikan perasaan Potifar.</li>
<li>Yusuf memilik sikap menghormati dirinya sendiri. &#8220;Di rumah ini ia tidak lebih besarkuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku&#8221; (Kej 39:9)</li>
<li>Yusuf menghormati istri Potifar. &#8220;Sebab engkau istri Potifar&#8221;. Inilah salah satu bentuk cinta sejati. Bisa saja Yusuf mengikuti hawa nafsu dan menuruti keiinginan istri Potifar, toh dia hanyalah seorang budak.</li>
<li>Yusuf tau kalau dia akan berbuat dosa terhadap Tuhan. &#8220;Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Tuhan?&#8221;. Inilah yang saya rasa yang menjadi dasar bagi Yusuf dalam mengambil sikap. Ketika menghadapi masalah dan tekanan yang sangat besar, saya rasa yang hanya bisa menyelamatkan adalah kasih karunia dari Tuhan dan hubungan pribadi seseorang dengan Tuhan.</li>
</ol>
<p>Singkat cerita, setelah berusaha menghindar dari istri Potifar. Masih belum berhasil juga. Akhirnya istri Potifar memfitnah Yusuf, dengan bukti baju Yusuf yang ia tarik ketika Yusuf mencoba kabur. Sampai disini, alkitab masih terus menulis &#8220;Tuhan menyertai Yusuf&#8221;. Wow, Tuhan mengijinkan ini semua terjadi pada orang yang mencoba bertindak benar? No kidding.</p>
<p>Saya mencoba membawa kisah ini ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin ada suatu titik dlm hidup dimana kita berseru, &#8220;Tuhan, kenapa perlakuan ini yang aku dapatkan ketika aku melakukan kehendakMu?&#8221;, &#8220;Kenapa mereka menfitnah aku?&#8221;. Kenapa&#8230;kenapa&#8230;dan kenapa.</p>
<p>Yusuf dipenjara karena dia melakukan segalanya dengan benar. Saya jadi ingat ayat &#8220;Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak&#8221; (Ibr 12:6). Tuhan sedang mempersiapkan orang yang dikasihNya untuk sesuatu yang lebih baik, lebih berharga, dan lebih berarti. Bagaimana sikap Yusuf menghadapi fitnah Potifar? Diam. Yusuf cuma diam, gak berusaha membela diri.</p>
<p>Hmmm&#8230;..diam saja ketika kita difitnah? God is in control.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/08/diam-saja-ketika-kita-difitnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Danger of Not Knowing the Truth</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/08/the-danger-of-not-knowing-the-truth/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/08/the-danger-of-not-knowing-the-truth/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 17:37:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[A repost of my note from facebook. Somebody once told me this story: We sometimes hear a saying: it doesn&#8217;t matter what you believe as long as you&#8217;re sincere. It sounds good, it sounds politically correct, and it sounds so broad-minded. You know…different strokes for different folks. You believe what you believe; I believe what [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A repost of my note from facebook. Somebody once told me this story:</p>
<p>We sometimes hear a saying: it doesn&#8217;t matter what you believe as long as you&#8217;re sincere. It sounds good, it sounds politically correct, and it sounds so broad-minded. You know…different strokes for different folks. You believe what you believe; I believe what I want to believe. We are both cool. The problem is it&#8217;s irrational to hold that belief. That&#8217;s because some beliefs are exactly opposites of each other. Therefore, they&#8217;re both cannot be true.</p>
<p>Let&#8217;s try this. Close your eyes. Take your right hand, point it to the ceiling. With your eyes closed, point in the direction that you believe is true north. You&#8217;ll be surprised when you open your eyes. We got people pointing in every direction. Is everyone right? They can&#8217;t be, because they contradict each other. The fact is there is only one true north.<br />
<span id="more-268"></span><br />
Please understand, you can believe anything that you want. You can believe the moon is made of cheese. And I will defend your right to believe it. But that doesn&#8217;t mean what you believe is the truth. You can be sincere, but you can be sincerely wrong. It takes more than sincerity to make it in life. <strong>It takes truth, God&#8217;s truth</strong>.</p>
<p>What we need to realize, our life is shaped by our beliefs, our view of reality. Our beliefs determine the way we look at the world. Our beliefs determine the way we feel about ourselves and other people, and the way we act. For example, if you believe that other people cannot be trusted, then you will tend to treat them with suspicion. Or if you believe there is no God, or if you believe that God is unconcerned about you, then you will not go to Him in prayer.</p>
<p>Here is the disturbing part, your belief determine how you act even if when your beliefs are wrong. So if we want to live our full life that is relatively free of worry, and stress and angers, and the assortment of fears that we tend to carry around, and If we want to avoid disappointments in life that often happen because of wrong thinking, wrong attitude, and wrong behavior on our part, then it is absolutely critical that we not only seek to know the truth but we also examine our beliefs and bring them aligned to the truth.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/08/the-danger-of-not-knowing-the-truth/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>R.T. Kendall &#8211; Tuhan Merancangnya Untuk Kebaikan</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/08/rt-kendall-tuhan-merancangnya-untuk-kebaikan/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/08/rt-kendall-tuhan-merancangnya-untuk-kebaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 04:50:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Suatu sore di akhir bulan Oktober 2008, saya berjalan pulang dari kampus menuju tempat parkir mobil di Banff Trail. Tiba-tiba dari belakang ada yang memanggil, &#8220;Martin, apa kabar?&#8221;. Rupanya seorang kawan lama. Singkat cerita saya bercerita tentang kondisi dan situasi saya secara umum yang emang lagi banyak beban masalah. Selang beberapa minggu kemudian, beliau kirim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://adimulia.net/blog/wp-content/uploads/2009/08/21011.jpg" alt="21011" title="21011" width="112" height="166" class="alignnone size-full wp-image-266" /></p>
<p>Suatu sore di akhir bulan Oktober 2008, saya berjalan pulang dari kampus menuju tempat parkir mobil di Banff Trail. Tiba-tiba dari belakang ada yang memanggil, &#8220;Martin, apa kabar?&#8221;. Rupanya seorang kawan lama. Singkat cerita saya bercerita tentang kondisi dan situasi saya secara umum yang emang lagi banyak beban masalah. <span id="more-265"></span> Selang beberapa minggu kemudian, beliau kirim email kepada saya menanyakan kabar dan kemudian membalas email saya demikian:</p>
<blockquote><p>Saya mengerti perasaan kamu, kandang-kadang kita bingung perjalanan hidup kita, banyak hal sulit dimengerti. tapi satu hal yg pasti: Tuhan tahu apa yg terbaik. <strong>Lihat perjalanan Yusuf, justru pada saat paling gelap (difitnah dan dipenjara), saat itu merupakan titik balik.</strong> Serahkan pada Tuhan dengn penuh penyerahan, minta pengampungan pada Tuhan kalau ada hal yg tidak berkenan padaNya. Pasti dia akan buka jalan.</p></blockquote>
<p>Yup, tentang Yusuf! Selama ini bagian favorit saya tentang Yusuf adalah bagian pembelaan. Bagaimana Tuhan menyertai Yusuf yang mengalami kepahitan. Minggu kemarin saya mendapat hadiah sebuah buku berjudul asli &#8220;God meant it for good&#8221; karangan RT. Kendall. Saya baru mulai membaca buku ini, dan isinya mengupas kisah tentang Yusuf dari awal sampai akhir. Sekilas dan saya kira pada umumnya, kita selalu melihat sosok Yusuf yang mendapat perlakuan tidak adil, sampai-sampai harus difitnah. Tapi pernah kah kita dalami lagi dan melihat sisi Yusuf yang pada awalnya &#8220;sedikit&#8221; pamer akan jubah dan karuniaNya bermimpi?</p>
<p>Buku ini membawa kita lebih dalam memahami lika-liku hidup sebagai orang yang dipanggil untuk pekerjaan Tuhan. Ada banyak hal yang kita bisa belajar dari hidup Yusuf. Secara garis besar, Yusuf bukan orang sempurna namun tetap dipakai Tuhan. Untuk beberapa blog entry ke depan, saya akan berusaha membagikan apa yang saya dapat dari buku ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/08/rt-kendall-tuhan-merancangnya-untuk-kebaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Red Balloon</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/08/red-balloon/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/08/red-balloon/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 19:46:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[Balon itu berwarna merah. Balon itu berwarna merah bukan karena anda mengatakan bahwa itu merah. Balon itu berwarna merah bukan karena pengalaman pribadi anda. Balon itu berwarna merah bukan karena anda mempunyai gelar professor ttg warna. Balon itu berwarna merah, karena itulah yang sebenarnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object width="445" height="364"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/D2Flgdwlqz0&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;color1=0x3a3a3a&#038;color2=0x999999&#038;border=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/D2Flgdwlqz0&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;color1=0x3a3a3a&#038;color2=0x999999&#038;border=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="445" height="364"></embed></object></p>
<p>Balon itu berwarna merah.<br />
Balon itu berwarna merah bukan karena anda mengatakan bahwa itu merah.<br />
Balon itu berwarna merah bukan karena pengalaman pribadi anda.<br />
Balon itu berwarna merah bukan karena anda mempunyai gelar professor ttg warna.<br />
Balon itu berwarna merah, karena itulah yang sebenarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/08/red-balloon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penghiburan di sela-sela masalah</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/08/penghiburan-di-sela-sela-masalah/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/08/penghiburan-di-sela-sela-masalah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 21:59:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Numbered like the stars, no matter where we are. Let the tress clap their hands, let the deepest water dance. Beberapa hari lalu saya bilang sama teman saya, &#8220;Perasaan saya aneh, sedikit bingung. Kok rasanya sekarang ini sangat comfort sekali, udah lama sekali gak merasa seperti ini&#8221;. Saya sendiri bingung kenapa hati ini rasanya kok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Numbered like the stars, no matter where we are.<br />
Let the tress clap their hands, let the deepest water dance.</p>
<p>Beberapa hari lalu saya bilang sama teman saya, &#8220;Perasaan saya aneh, sedikit bingung. Kok rasanya sekarang ini sangat comfort sekali, udah lama sekali gak merasa seperti ini&#8221;. Saya sendiri bingung kenapa hati ini rasanya kok plong, released, treasured. Apakah ini sugesti karena dalam beberapa hari saya akan pindah ke Vancouver? Antara iya dan tidak, yang jelas masa setumpuk hal yang masih harus saya urus untuk urusan pindah kota ini. Dari pertama, urusan packing barang2 yang tak terduga banyaknya. Urusan ganti alamat, urusan cari kost, urusan move out dari kost skrg yg baru bbrp hari, urusan makan bertemu teman &#038; kerabat, sampai ke beban-beban pikiran yang sebelumnya sudah ada.</p>
<p>Masalah selalu ada, tapi bagian terpenting adalah bagaimana Tuhan memampukan kita untuk melewati setiap masalah itu. Itulah filosofi saya dalam menghadapi masalah. Saya selalu berusaha bertanya, &#8220;dalam masalahnya ini, apa yang Tuhan mau saya untuk belajar?&#8221;. Syukur2 saya bisa belajar sesuatu. Dengan filosofi demikian, gak jarang muncul rasa sedih, pahit ketika saya harus mengalami sesuatu yang tidak saya harapkan.</p>
<p>Cik Vonny pernah bilang sama saya, &#8220;Kau sedih/stress itu wajar. Tapi setelah itu kau liat, Tuhan sudah bukakan pintu yang lain untuk kau. Kau jangan diam di pintu yang sudah ditutup itu&#8221;. Yah, hal ini benar. Tapi ketika mengalami lagi, tetap saja ada tantangannya. Hmmm&#8230;makanya sdikit aneh saya ketika Tuhan &#8220;menghibur&#8221; saya di sela-sela masalah yang saya hadapi, rasa syukur menghias hati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/08/penghiburan-di-sela-sela-masalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sedikit surga</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/sedikit-surga/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/sedikit-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 00:17:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Photo]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[Bayangkanlah&#8230;mentari pagi belum merona. Embun pagi bersandar dengan tenang di dedaunan. Kicau burung dan damainya air danau menyambutmu. Mungkin itulah sedikit surga yang Tuhan ijinkan saya rasakan. Retreat bersama MICC di Nordegg, AB.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://adimulia.net/blog/wp-content/uploads/2009/07/26072009968.jpg" alt="26072009968" title="26072009968" width="640" height="480" class="alignnone size-full wp-image-236" /></p>
<p>Bayangkanlah&#8230;mentari pagi belum merona.<br />
Embun pagi bersandar dengan tenang di dedaunan.<br />
Kicau burung dan damainya air danau menyambutmu.<br />
Mungkin itulah sedikit surga yang Tuhan ijinkan saya rasakan.</p>
<p>Retreat bersama <a href="http://www.miccalgary.com/">MICC</a> di Nordegg, AB.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/sedikit-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya percaya manusia bisa berubah</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/saya-percaya-manusia-bisa-berubah/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/saya-percaya-manusia-bisa-berubah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 03:01:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[People do mistakes, so do I. People correct mistakes, so do I. People do change, so do I. Mungkin kadang orang bingung, si Martin ini kok sembilan bulan lalu ngomong A, tujuh bulan lalu berubah dari ngomong A ke B, dan tiga bulan lalu berubah lagi dari B ke C. Mungkin lama-lama orang udah sampe [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>People do mistakes, so do I.<br />
People correct mistakes, so do I.<br />
People do change, so do I.</p>
<p>Mungkin kadang orang bingung, si Martin ini kok sembilan bulan lalu ngomong A, tujuh bulan lalu berubah dari ngomong A ke B, dan tiga bulan lalu berubah lagi dari B ke C. Mungkin lama-lama orang udah sampe pada pemikiran, ABCD, aduh bo cape deh! <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kadang jadi sandungan bagi diri sendiri sih, saya dituduh jadi orang yang gak konsisten. Tanpa ada maksud jadi orang yang plin plan, percayalah bahwa saya selalu berusaha menjadi orang yang konsisten. Hence, kadang saya lebih suka untuk mengambil waktu lebih lama dalam mengambil beberapa keputusan, apalagi klo keputusan itu menyangkut emosi saya sebagai manusia. Emang kejadian siginifikan di masa lalu sadar gak sadar mempengaruhi bagaimana saya bertindak di masa sekarang.</p>
<p>Saya percaya manusia bisa berubah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/saya-percaya-manusia-bisa-berubah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/anjing-menggonggong-kafilah-tetap-berlalu/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/anjing-menggonggong-kafilah-tetap-berlalu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 18:31:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Jokes]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu Hmmmm&#8230;mungkin anjing itu menggongong karena anjing itu&#8230;. Tak bisa menari dikatakan lantai yang berjungkit Andai&#8230;semua orang pintar, dan gak dengerin anjing yang menggonggong itu&#8230;.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu</p></blockquote>
<p>Hmmmm&#8230;mungkin anjing itu menggongong karena anjing itu&#8230;.</p>
<blockquote><p>Tak bisa menari dikatakan lantai yang berjungkit</p></blockquote>
<p>Andai&#8230;semua orang pintar, dan gak dengerin anjing yang menggonggong itu&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/anjing-menggonggong-kafilah-tetap-berlalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>If we win, we praise Him. If we lose, we praise Him</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/if-we-win-we-praise-him-if-we-lose-we-praise-him/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/if-we-win-we-praise-him-if-we-lose-we-praise-him/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 01:04:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[If we win, we praise Him. If we lose, we praise Him Itulah yang ada di dalam hati the Eagles ketika bertanding di dalam film Facing the Giants. Belakangan ini proses interview agak-agak aneh. Saya dipanggil ke interview bbrp posisi senior, pengalaman 5-10 thn. Sempet bingung juga sih sampai saya tanya manager yang interview saya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>If we win, we praise Him. If we lose, we praise Him</p></blockquote>
<p>Itulah yang ada di dalam hati the Eagles ketika bertanding di dalam film Facing the Giants.</p>
<p>Belakangan ini proses interview agak-agak aneh. Saya dipanggil ke interview bbrp posisi senior, pengalaman 5-10 thn. Sempet bingung juga sih sampai saya tanya manager yang interview saya, &#8220;Sir, you know that I only have 3.5 years experience, what interests you to call me for interview&#8221;. Si bapak agak kaget jg pada awalnya. Orang HR udah geleng2, &#8220;orang diinterview kan biasanya berusaha nutupin kekurangan, nih orang kok malah ngebahas kekurangan sendiri&#8221;. Mungkin jarang2 ada orang yang di interview nanya begitu, pertanyaan saya terlalu jujur. Dia bilang dia mau explore personality. Well, di ujung interview dia bilang sih, &#8220;I like you. You are enthusiastic and very positive&#8221;. Yah saya bilang juga, &#8220;Honestly I don&#8217;t have the years but I have the ability to catch up&#8221;. Emang dari job description sih saya udah pernah kerjain hal itu jg.</p>
<p>Interview satu lagi prosesnya agak panjang, udah second round. Mungkin masih ada third round. Tapi dalam hati, saya tahu inilah yang saya mau. Semoga apabila itu yang berkenan, Tuhan akan buka jalan. Walaupun banyak sekali constraintnya: housing, distance, lingkungan baru. I&#8217;m so excited to this opportunity! Kadang kala saya berpikir, jika Tuhan masih inginkan saya di Calgary, misi apa yang harus saya accomplish. Kalaupun ngga ada misi yang jelas, saya kadang berpikir apa saya lagi ada di &#8220;tanah Midian&#8221; yang harus saya hadapi? Tapi saya bersyukur atas tiga minggu belakangan ini, saya belajar banyak dari seorang teman tentang hati yang dipersembahkan untuk Tuhan. Saya juga belajar untuk let go apa yang terjadi di masa lalu, dan menatap masa depan dengan penuh harapan.</p>
<p>Semoga minggu depan sudah ada sedikit titik terang tentang pekerjaan. Jika dapat, puji Tuhan, klo ngga dapet, puji Tuhan. Gampang diucapin, sulit dilakukan <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/if-we-win-we-praise-him-if-we-lose-we-praise-him/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang lain tidak dapat turut merasakan</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/orang-lain-tidak-dapat-turut-merasakan/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/orang-lain-tidak-dapat-turut-merasakan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 21:33:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Hati mengenal kepedihannya sendiri, dan orang lain tidak dapat turut merasakan kesenangannya. Saya belajar banyak tentang hidup belakangan ini, terutama tentang mau dibawa kemana hidup ini, memperbaiki kesalahan, menapakkan langkah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hati mengenal kepedihannya sendiri, dan orang lain tidak dapat turut merasakan kesenangannya.</p></blockquote>
<p>Saya belajar banyak tentang hidup belakangan ini, terutama tentang mau dibawa kemana hidup ini, memperbaiki kesalahan, menapakkan langkah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/orang-lain-tidak-dapat-turut-merasakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gua denger-denger</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/gua-denger-denger/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/gua-denger-denger/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 05:07:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[Gua denger-denger elo lagi deket sama si itu ya? Gua denger-denger elo sekarang pergi ke tempat itu ya? Gua denger-denger elo kemarin jalan sama si itu ya? Begitu saya tanya dengar dari siapa? Cuma ketawa-ketawa. Ayolah&#8230;berhenti bergosip.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gua denger-denger elo lagi deket sama si itu ya?<br />
Gua denger-denger elo sekarang pergi ke tempat itu ya?<br />
Gua denger-denger elo kemarin jalan sama si itu ya?</p>
<p>Begitu saya tanya dengar dari siapa? Cuma ketawa-ketawa.<br />
Ayolah&#8230;berhenti bergosip.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/gua-denger-denger/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>It starts with our thoughts?</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/it-starts-with-our-thoughts/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/it-starts-with-our-thoughts/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 02:24:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[A thought reaps an action An action reaps a habit A habit reaps our character Our character reaps our destiny *** Is it true? It starts with our thought. I sometimes take this even further to something beyond our thought and ability to think. I don&#8217;t belive that we are what we think, that&#8217;s not [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A thought reaps an action<br />
An action reaps a habit<br />
A habit reaps our character<br />
Our character reaps our destiny</p>
<p>***</p>
<p>Is it true? It starts with our thought. I sometimes take this even further to something beyond our thought and ability to think. I don&#8217;t belive that we are what we think, that&#8217;s not our identity and our thoughts are sometimes incorrect, yet imperfect. The one who best describes a telephone is the inventor, I believe&#8230;.hmmmm.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/it-starts-with-our-thoughts/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sinethemba</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/sinethemba/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/sinethemba/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 01:40:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Kasih & Pengharapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Sinethemba simply means We have Hope. Early this morning I received email from the choir &#38; orchestra. It&#8217;s a message from Pastor Dan, my worship pastor who oversee the choir and orchestra I&#8217;m part of. I&#8217;ve got the chance to know Dan in such short time, only few months. He and his family moved to [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sinethemba simply means We have Hope.</p>
<p>Early this morning I received email from the choir &amp; orchestra. It&#8217;s a message from Pastor Dan, my worship pastor who oversee the choir and orchestra I&#8217;m part of. I&#8217;ve got the chance to know Dan in such short time, only few months. He and his family moved to South Africa few months ago to be a missionary. He has sold his house, car, and pretty much all of his belongings. So the question is why would a busy pastor in a growing church want to move to South Africa?</p>
<p>He implied that to answer that question he won&#8217;t go into a full theology of worship, but the other side of love is that it’s and action. “Anyone who loves me will obey my teaching,” Jesus said (John 14:23). And we know God’s heart for the poor, the widow, the orphan and the oppressed. In fact, true believers are those who feed the hungry, quench the thirsty, invite the stranger in, clothe the naked, and look after those who are sick or in prison (Matt. 25:41-46). He also implied that singing great songs to God on Sunday doesn’t cut it. His life needs to be an expression of gratitude for what God has done.</p>
<p>Here is his personal story:</p>
<blockquote><p>Almost two years ago, I started reading a book. The title doesn’t matter (although, if you’re interested, it was “Everything Must Change” by Brian McLaren – www.brianmclaren.net). The book didn’t tell me to go to Africa. But I “heard” (it might as well have been audible) God speak to me, while reading. He said, “Dan, when you get a chance to go to Africa, go. There are some things I want to show you.” Shortly after, I learned that my church (Centre Street Church www.cschurch.ca) was putting a team together for a 2-week mission trip to the Durban area of South Africa. Before I knew it, my wife and I were signed up to go.</p>
<p>God showed me some things, all right. He showed me a people, the Zulus, who are beautiful beyond belief. They are relational, incredibly musical, and love to laugh. God loves them deeply. He is “especially fond” of them (www.theshackbook.com .) But they are enslaved to ancestor veneration, they are very, very poor, and many are dying of AIDS. I believe God has prepared the Church for such a time as this. I believe God expects us, as his body, to reach out and minister to these people. All people, obviously, but God has burdened Kerry and I with these people. I can’t show it in a formula, I can’t defend it from scripture, but we are compelled to love God by loving these people, and to declare the coming of the Kingdom among them.</p>
<p>The journey for us began over 18 months ago. It’s heating up, and I hope you’ll join us for an adventure of a lifetime. It won’t be easy. The life we had will become a distant memory. But in losing our lives, we’ll find the ones God intended all along. Joining us is as simple as following our lives through this blog, and praying for us and those we’re ministering to as you read.</p></blockquote>
<p>I&#8217;m always amazed and encouraged every time I see someone answering God&#8217;s call in their life. I hope I will be ready to do the same thing when the time is come for a mission.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/sinethemba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hopeful or optimistic or faithful?</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/hopeful-or-optimistic-or-faithful/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/hopeful-or-optimistic-or-faithful/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 20:19:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[This is an illustration from Donald Capps in his book, The Decades of Life. If the optimist says the glass is half full, the pessimist says the glass is half empty, and the rationalist says the glass is too large. The hopeful person says, “Let’s pray that there will be water, and let’s also do [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/11/Glass-of-water.jpg/180px-Glass-of-water.jpg" alt="Glass" /></p>
<p>This is an illustration from Donald Capps in his book, <a href="http://www.amazon.com/Decades-Life-Guide-Human-Development/dp/0664232418">The Decades of Life</a>.</p>
<p>If the optimist says the glass is half full, the pessimist says the glass is half empty, and the rationalist says the glass is too large. The hopeful person says, “Let’s pray that there will be water, and let’s also do what we can do to assure that this will be the case.”</p>
<p>Hope, therefore, is not identical to optimism. Persons who are extremely optimistic don’t need hope any longer, since they believe that everything is going to turn out as they expect it will.</p>
<p>A friend of mine take it further, he use misuses the word &#8220;faithful&#8221;. For him, being faithful is that believing that everything is going to turn out as they expect it will. For him faithful = optimistic. He surely misunderstood the definition of faith.</p>
<p>Now are you hopeful or optimistic?</p>
<p>If you say you are a hopeful person, then read on and let&#8217;s take this even further. At this point I assume you &#8220;pray that there will be water&#8221;, which means you realize you have limited power in this world. You cannot rely on yourselves. You believe that God can give you water. You also has done your best to assure that there will be water.</p>
<p>My question is, what will you do, after you prayed and did your best, the glass is still not full?</p>
<p>Some of you say, &#8220;Nah&#8230;God promised that He will pour out water so that the glass is full. So it must be full no matter what happens.&#8221; At this point I imagine, some hope is already lost. There are possibilities you will be neither hopeful, optimistic, nor faithful. You may become a pessimist. What is wrong? This is the sad part. Some people follow God because of His promises. Don&#8217;t get me wrong, I believe that God always keeps His promises. But when we think a promise is not fulfilled by God, we better check ourselves. Do we understand His promises correctly? Do we follow God solely because of His promises? not because of God &#8220;I am I&#8221; ?</p>
<p>The problem is not God, but our understanding. <span style="text-decoration: underline;">God&#8217;s love is unconditional, but some of His promises are conditional.</span> Our fault is when we try to switch the two. Be careful in understanding God&#8217;s promises. Read the bible in its context. Don&#8217;t just read the verses you like and abandon the whole books. On the other hand, don&#8217;t just read it, but follow it with actions.</p>
<p>If you have prayed and done your best, be patient. There are three answers to your prayer, &#8220;yes, no, or slow.&#8221; Whatever the answer, you will still be hopeful.  No matter how bitter the experience you may feel, you will still follow God, reading His words, admitting and correcting your mistakes in the past. This is what I call faithful. It is an inevitable phenomenon, no matter what happens, we are positioned so that we only have one choice: to worship God.</p>
<p>Now are you faithful? <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
I&#8217;m still struggling to be faithful.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/hopeful-or-optimistic-or-faithful/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Internet Evolution Recently</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/06/internet-evolution-recently/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/06/internet-evolution-recently/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 03:56:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Jokes]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Techno]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[No doubt, Internet has changed the way we live our life. I started using internet in 1998. Back then, I learned to created an email address. I remembered my very first email address on www.www.com, it was pretty unique although I actually have only sent one email in the entire life of that email address. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object type="application/x-shockwave-flash" data="http://www.collegehumor.com/moogaloop/moogaloop.swf?clip_id=1913584&#038;fullscreen=1" width="640" height="360" ><param name="allowfullscreen" value="true"/><param name="wmode" value="transparent"/><param name="AllowScriptAccess" value="true"/><param name="movie" quality="best" value="http://www.collegehumor.com/moogaloop/moogaloop.swf?clip_id=1913584&#038;fullscreen=1"/><embed src="http://www.collegehumor.com/moogaloop/moogaloop.swf?clip_id=1913584&#038;fullscreen=1" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent"  width="640" height="360"  allowScriptAccess="always"></embed></object>
<div style="padding:5px 0; text-align:center; width:640px;"></div>
<p>No doubt, Internet has changed the way we live our life. I started using internet in 1998. Back then, I learned to created an email address. I remembered my very first email address on www.www.com, it was pretty unique although I actually have only sent one email in the entire life of that email address. Then, there was a time when I used the free sms services provided by Indosat IM3. Years after years, I&#8217;ve been using Google, Yahoo, etc.</p>
<p>The video above mentioned several websites like Facebook, Twitter, eVite, Pandora, eHarmony, and Blog. I&#8217;m using facebook, especially to keep in touch with old friends. I tried Twitter but didn&#8217;t really get the importance of publicly telling people what I&#8217;m doing from time to time. I was invited through eVite several times, it was pretty neat. Pandora was excellent, I used three years ago, I&#8217;m using imeem instead. I also use Youtube, and last but not least, blog.</p>
<p>One thing I need to learn myself, spend time responsibly on the Internet. Use it wisely and be ethical.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/06/internet-evolution-recently/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>It starts with faith</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/06/it-starts-with-faith/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/06/it-starts-with-faith/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 01:48:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[It starts with faith (inevitable phenomenon in which one is positioned before God and has only one choice to worship/love Him) Add virtue (kebajikan) Add knowledge (pengetahuan) Add self-control (pengendalian diri) Add perseverance (ketekunan) Add godliness (kesalehan) Add brotherly kindness (kasih akan saudara) Add love (kasih akan semua orang) Result: Spiritual growth (2 Peter 1:3-10) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>It starts with faith (inevitable phenomenon in which one is positioned before God and has only one choice to worship/love Him)</p>
<ul>
<li>Add virtue (kebajikan)</li>
<li>Add knowledge (pengetahuan)</li>
<li>Add self-control (pengendalian diri)</li>
<li>Add perseverance (ketekunan)</li>
<li>Add godliness (kesalehan)</li>
<li>Add brotherly kindness (kasih akan saudara)</li>
<li>Add love (kasih akan semua orang)</li>
<li>Result: Spiritual growth (2 Peter 1:3-10)</li>
</ul>
<p>Masih banyak yang kurang euy&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/06/it-starts-with-faith/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semua serba instant</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/06/semua-serba-instant/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/06/semua-serba-instant/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 00:47:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Emang manusia itu lebih suka sesuatu yang instant dibanding dengan yang normal. Kalau kita jalan-jalan ke toko buku, dengan mudah kita menemukan buku seperti &#8220;10 langkah instant menurunkan berat badan&#8221;, jarang kita menemukan &#8220;10 langkah normal menurunkan berat badan&#8221;. Jaman sudah berubah, waktu menjadi yang paling penting. Seringkali, proses itu sendiri dilupakan. Saya mempunyai keponakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Emang manusia itu lebih suka sesuatu yang instant dibanding dengan yang normal. Kalau kita jalan-jalan ke toko buku, dengan mudah kita menemukan buku seperti &#8220;10 langkah instant menurunkan berat badan&#8221;, jarang kita menemukan &#8220;10 langkah normal menurunkan berat badan&#8221;. Jaman sudah berubah, waktu menjadi yang paling penting. Seringkali, proses itu sendiri dilupakan.</p>
<p>Saya mempunyai keponakan berumur 8 bulan. Bbrp saat yang lalu, saya memperhatikan proses yang dilewati orang seorang bayi. Waktu itu dia lagi belajar duduk. Jadi kalo lagi ada di atas ranjang, dia akan berusaha sedemikian hingga dia supaya bisa duduk. Dia dorong guling dengan kepalanya, dia tarik kakinya, mau dimasukin ke mulutnya. Walah, gak ada capenya. Belum lagi sambil belajar duduk, dia belajar ngoceh. Lucu banget. Sebenernya saya bisa saja dengan mudah mendudukan dia. Tapi saya gak berani, karena saya tau lebih baik dia berusaha sendiri. Kalo tulang ekor dia belum kuat dan saya paksa duduk, mungkin dia malah jadi sakit.</p>
<p>Akhirnya setelah bbrp minggu berusaha, dia bisa duduk walaupun masih miring. Disitu lah saya melihat betapa pentingnya sebuah proses bagi seorang bayi. Sehabis duduk, seorang bayi akan belajar merangkak, kemudian berjalan. Ada beberapa bayi yang bisa langsung berjalan, tapi ternyata kalo seorang bayi berjalan tanpa merangkak dulu, bakal ada sesuatu yang salah dengan pertumbuhan tulang dia (atau entah apa saya lupa pastinya).</p>
<p>Belum lagi proses berjalan. Bayi biasa belajar jalan dengan dituntun orang lain. Tapi ada beberapa orang tua yang gak mau pusing, sang bayi pun dikasi baby walker. Mungkin baby walker membantu supaya bayi bisa cepat berjalan. Tapi ternyata bayi yang lancar belajar jalan dari baby walker, biasanya akan berjalan berjinjit / dengan tumit, sampai dia tua nanti.</p>
<p>Sebuah biji mengalami masa dormant ketika dia jatuh ke tanah. Perlu waktu untuk supaya biji itu tumbuh menjadi sebuah pohon. Sebuah pohon perlu berakar dulu baru dia bisa bertumbuh. Sebuah pohon perlu bertumbuh dulu baru dia bisa berbuah.</p>
<p>Saya percaya, segala aspek dari manusia (roh, tubuh, jiwa) di-design untuk melewati suatu proses. Apabila kita mencoba menginstantkan suatu proses, akan ada efek sampingnya. Entah hasil yang cacat, atau kekurangan yang lainnya.</p>
<p>Saya membawa pemikiran ini lebih jauh ke dalam hidup saya. Di samping proses fisik manusia (lahir, tumbuh, tua, kemudian mati), ada proses pertumbuhan rohani yang setiap manusia alami. Sesuatu yang instant dalam pertumbuhan rohani pun mungkin terjadi. Namun hasil dari instant dan proses normal itu jelas sekali perbedaannya. Apa ada &#8220;baby-walker&#8221; yang terlalu saya andalkan dlm hidup ini? Atau aduh, apa saya ada proses yang kelewat ya? Apa saya gak lupa &#8220;merangkak&#8221;?</p>
<p>Tapi ya itu, proses itu sangat penting. Sesulit apapun itu jalani lah dengan baik dan jangan menyerah. Mungkin kita jatuh bangun, tapi ya emang itu proses yang mungkin harus kita lalui. Justru kalo semua hal berjalan mulus, mungkin itu waktunya untuk investigate kembali hidup kita. Hasil dari sebuah proses akan bertahan dan berkualitas, hasil dari sesuatu yang instant biasanya akan lenyap atau berubah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/06/semua-serba-instant/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://analytics.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://analytics.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->

