<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gunung batu &#187; Renungan Harian</title>
	<atom:link href="http://gunung-batu.com/category/renungan-harian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gunung-batu.com</link>
	<description>tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 May 2012 23:54:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Hatiku telah mencapai gunung lebih dulu</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2012/03/hatiku-telah-mencapai-gunung-lebih-dulu/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2012/03/hatiku-telah-mencapai-gunung-lebih-dulu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Mar 2012 09:16:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=924</guid>
		<description><![CDATA[Seorang pengembara tua sedang dalam perjalanan menuju pegunungan Himalaya pada musim dingin yang menggigit saat mulai hujan. Seorang pengurus rumah penginapan berkata kepadanya. &#8220;Bagaimana engkau dapat sampai di sana dalam cuaca seperti ini, saudaraku?&#8221; Pengembara tua itu menjawab dengan gembira: &#8220;Hatiku sudah lebih dulu sampai di sana, sehingga mudah bagi saya yang tersisa ini kemudian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang pengembara tua sedang dalam perjalanan menuju pegunungan Himalaya pada  musim dingin yang menggigit saat mulai hujan. Seorang pengurus rumah penginapan berkata kepadanya. &#8220;Bagaimana engkau dapat sampai di sana dalam cuaca seperti ini, saudaraku?&#8221;</p>
<p>Pengembara tua itu menjawab dengan gembira:  &#8220;Hatiku sudah lebih dulu sampai di sana, sehingga mudah bagi saya yang tersisa ini kemudian mengikutinya.&#8221;</p>
<p>~ Doa Sang Katak 1 &#8211; Anthony de Mello SJ</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2012/03/hatiku-telah-mencapai-gunung-lebih-dulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ishak &#8211; Ribka</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/11/ishak-ribka/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/11/ishak-ribka/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 09:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=2009</guid>
		<description><![CDATA[Konon, biaya pernikahan Ibas (putra Presiden SBY) dengan Aliya (putri Hatta Rajasa) mencapai 12 miliar rupiah. Saya baca beritanya, sepertinya pestanya cukup unik, untuk acara siramannya saja diambil dari tujuh sumber, dari Istana Negara, Cikeas, Pacitan sampai air yang diambil dari rumah Hatta Rajasa. Gak kebayang seberapa spesialnya air ini. Ada kritik mengatakan, kekayaan SBY [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Konon, biaya pernikahan Ibas (putra Presiden SBY) dengan Aliya (putri Hatta Rajasa) mencapai 12 miliar rupiah. Saya baca beritanya, sepertinya pestanya cukup unik, untuk acara siramannya saja diambil dari tujuh sumber, dari Istana Negara, Cikeas, Pacitan sampai air yang diambil dari rumah Hatta Rajasa. Gak kebayang seberapa spesialnya air ini. Ada kritik mengatakan, kekayaan SBY tahun 2009 itu 7 miliar. Lantas apakah SBY sampai harus nombok ya?</p>
<p>Walaupun demikian, pernikahan ini bukan yang paling mahal sih, beberapa waktu yang lalu pernikahan anaknya Aburizal Bakrie mencapai 100 miliar rupiah. Konon gaun pengantinnya saja 2,5 miliar. Mungkin angka ini terlalu dibesar-besarkan. Saya ingat cincin berlian yang dipake sampai diisi dengan darah segala. Tapi bisa gitu ya? Rasanya hati keluarga Bakrie udah terlanjur tuli sama teriakan korban lumpur Lapindo.</p>
<p>Tahun ini juga banyak teman-teman saya yang menikah. Lagi musim kali ya? Ada yang acaranya sederhana, ada juga yang mewah. Pertanyaan dari ini semua yang muncul, apa yang manusia cari dari pernikahan?<span id="more-2009"></span></p>
<p>***</p>
<p>Minggu kemarin saya mengajar kelas sekolah Minggu, topiknya tentang Abraham mencarikan calon istri untuk Ishak. Abraham memandang pernikahan itu sangat penting, sampai-sampai dia mengirimkan anak buahnya untuk cariin jodoh dari tempat asalnya (500 mil jauhnya naek onta). Abraham ngga pengen Ishak menikah dengan orang Kanaan yang menyembah baal. Jadi pernikahan itu sangat penting, bukan hal yang bisa asal-asalan. Seberapa desparatenya seseorang cari jodoh, ingatlah cerita Abraham ini ya, jangan mencari jodoh asal-asalan. Dan yang wanita, tunggulah dicari, jangan malah sebaliknya <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Biarin udah dapet jodoh yang sama-sama orang percaya, namanya masalah tetap ada. Di Alkitab ngga terlalu jelas apa penyebabnya, tapi ada masalah dalam pernikahan Ishak &#8211; Ribka. Kata komentator Alkitab, mereka mulai ada masalah karena sudah 20 menikah dan belum dikaruniai anak. Lalu mungkin masalah ini berkembang ke masalah komunikasi. Ishak orangnya pendiam, Ribka orangnya riang.</p>
<p>Jadi biarpun ketika Ribka mengandung anak kembar (Esau dan Yakub), sebenarnya Tuhan kan udah bilang sama dia di Kejadian 25:23 kalau anaknya itu kembar, salah satu akan jadi lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda. Tapi mengapa Ribka tidak menyampaikan hal ini ke Ishak? Kita bisa menebak, karena ada masalah antara Ishak &#8211; Ribka.</p>
<p>***</p>
<p>Blaise Pascal dulu pernah bilang, &#8220;Ada ruang kosong di hati setiap manusia yang tidak<br />
dapat diisi oleh benda-benda ciptaan, namun hanya dapat diisi oleh Tuhan, Sang Pencipta, yang dikenal melalui Yesus&#8221;. </p>
<p>Manusia sering salah, mereka mengisi ruang ini dengan pernikahan dan ujungnya ruang kosong itu masih ada.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/11/ishak-ribka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hal-hal kecil</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/09/hal-hal-kecil/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/09/hal-hal-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Sep 2011 20:17:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Life Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Anugerah]]></category>
		<category><![CDATA[Tawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1980</guid>
		<description><![CDATA[Pengkotbah bilang, untuk segala sesuatu ada masanya. Teman ada yang tanya, &#8220;Kok sibuk melulu sih?&#8221;. Kadang pertanyaan seperti ini menunjukkan keheranan dari yang bertanya. Kalau diparafrasekan pertanyaannya jadi begini, &#8220;Bagaimana mungkin bisa sesibuk ini?&#8221;. Saya sendiri juga heran, kadang emang kalau lagi nganggur, ya bisa nganggur senganggur2nya, hidup rutin, berangkat jam 8, jam 5:30 udah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengkotbah bilang, untuk segala sesuatu ada masanya. Teman ada yang tanya, &#8220;Kok sibuk melulu sih?&#8221;. Kadang pertanyaan seperti ini menunjukkan keheranan dari yang bertanya. Kalau diparafrasekan pertanyaannya jadi begini, &#8220;Bagaimana mungkin bisa sesibuk ini?&#8221;. Saya sendiri juga heran, kadang emang kalau lagi nganggur, ya bisa nganggur senganggur2nya, hidup rutin, berangkat jam 8, jam 5:30 udah di rumah. Tapi kadang emang sibuk sesibuk2nya, berangkat jam 8, pulang jam 6 lebih, lalu diterusin kerjain pekerjaan rumah yang lain.</p>
<p>Apapun situasinya, jangan sampai kita melewatkan hal-hal yang patut disyukuri. Bulan lalu saya mampir ke Chapters, ketemu buku judulnya, The Book of Awesome. Isinya, tentang hal-hal kecil yang kita lewati begitu saja. Padahal, hal-hal kecil itu adalah berkat Tuhan yang terjadi dari hari ke hari.</p>
<p>Misalnya, yang saya pernah alami:</p>
<ul>
<li>Melihat foto masa kecil dari tunangan saya. Haha, priceless.</li>
<li>Pas dapet pas spot parkir di mall. Haha, ini juga kita sering lewati begitu saja.</li>
<li>Nyetir mobil sendirian malem-malem. Nah, ini mungkin cuma saya, tapi ini hal yang saya enjoy.</li>
<li>Ketika orang yang kita ajak ngobrol tersenyum.</li>
<li>Anak sekolah minggu bertanya pertanyaan nyeleneh.</li>
<li>Dapet tempat duduk di skytrain jam 8 pagi di Joyce. Haha, ini patut disyukuri.</li>
<li>Mendarat di sofa setelah seharian bekerja</li>
<li>Pas beres-beres buku lama, wangi buku lama itu khas!</li>
<li>Melihat emak2 dan engkong2 jalan pagi gandengan tangan</li>
<li>Mendengar keponakan yang berumur kurang dari 3 thn nyanyi &#8220;bri sukuy, bri sukuy, brilah sukuy, bri sukuy&#8230;susah atau pun senang, bri sukuy&#8221;</li>
</ul>
<p>Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita (Efesus 5:20)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/09/hal-hal-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dibacanya besok ya</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/09/dibacanya-besok-ya/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/09/dibacanya-besok-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 00:17:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Taat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1952</guid>
		<description><![CDATA[Blog post ini buat besok. Dibacanya besok ya. Sabar ya. Yeii&#8230;dibilangin bacanya besok! Maksa banget sih! Haha. Hari ini saya mengajarkan hal serupa pada anak sekolah minggu. Belajar tentang ketaatan, cerita Adam dan Hawa, yang udah dibilangin jangan makan buah pohon pengetahuan tapi ngga patuh, dan akhirnya here we are, kita semua jatuh dalam dosa, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Blog post ini buat besok. Dibacanya besok ya.<br />
Sabar ya.</p>
<p><span id="more-1952"></span><br />
Yeii&#8230;dibilangin bacanya besok! Maksa banget sih! Haha.</p>
<p>Hari ini saya mengajarkan hal serupa pada anak sekolah minggu. Belajar tentang ketaatan, cerita Adam dan Hawa, yang udah dibilangin jangan makan buah pohon pengetahuan tapi ngga patuh, dan akhirnya <em>here we are</em>, kita semua jatuh dalam dosa, suatu hal yang membuat jurang antara Tuhan dan kita. </p>
<p>Dan syukurnya, Yohanes 3:16, karena Tuhan begitu mengasihi kita, <span style="text-decoration: underline;">siapapun</span> yang percaya tidak akan binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal. Dosa itu menipu, seolah-olah enak, padahal selalu ada harga yang harus dibayar kalau kita tidak taat.</p>
<blockquote><p>Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan (Amsal 1:7)</p></blockquote>
<p>Mari kita bersaat teduh sejenak selama 5 menit, mulailah dengan kalimat, &#8220;Tuhan, ini aku&#8230;&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/09/dibacanya-besok-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perenungan &#8211; 2 Timotius 2</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/08/perenungan-2-timotius-2/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/08/perenungan-2-timotius-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Aug 2011 06:10:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1943</guid>
		<description><![CDATA[Ayat perenungan sebelum tidur, diambil dari 2 Timotius 2 2:4) Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. 2:5) Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga. 2:6) Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ayat perenungan sebelum tidur, diambil dari 2 Timotius 2</p>
<blockquote><p>2:4) Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.<br />
2:5) Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.<br />
2:6) Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.<br />
2:7) Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.</p></blockquote>
<p>Komentar menarik dari ESV bible study:</p>
<ul>
<li>Ayat 4 sering disalahartikan bahwa kita diminta memisahkan hal-hal sekuler dari hal-hal spritual. Padahal, hidup ini ya untuk dijalani dengan sepenuhnya spiritual, tidak mengotak-ngotakan area kehidupan.</li>
<li>Ayat 7, kata-kata yang menarik &#8220;pengertian dalam <strong>segala</strong> sesuatu&#8221; kalau kita memikirkan apa yang ditulis oleh Paulus (i.e. ayat-ayat di Alkitab).</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/08/perenungan-2-timotius-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Were you there when they crucified my Lord</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/08/were-you-there-when-they-crucified-my-lord/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/08/were-you-there-when-they-crucified-my-lord/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 22:18:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Songs]]></category>
		<category><![CDATA[Anugerah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Kasih & Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[Sedih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1916</guid>
		<description><![CDATA[Can you imagine the scene in Matthew 26:38-42? When Jesus says, &#8220;My soul is exceedingly sorrowful, even to death&#8221;. And when Jesus begged the Father if this cup cannot be taken away. Can you imagine Jesus was praying to the Father and he was literally sweating blood? Is there any way you can take this [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Can you imagine the scene in Matthew 26:38-42? When Jesus says, &#8220;My soul is exceedingly sorrowful, even to death&#8221;. And when Jesus begged the Father if this cup cannot be taken away. Can you imagine Jesus was praying to the Father and he was literally sweating blood? Is there any way you can take this cup from me? How in the world is any dad look at his son who is begging him and begging him so bad that he was sweating blood?</p>
<p><a href=" http://www.youtube.com/watch?v=uuwdYGijCBI">Were you there when they crucified my Lord</a>? Do you remember the moment when you &#8220;got it?&#8221; When you first realized you loved God with your heart, mind, and soul?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/08/were-you-there-when-they-crucified-my-lord/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pencuri</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/06/pencuri/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/06/pencuri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jun 2011 14:39:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Life Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1896</guid>
		<description><![CDATA[Bacaan: Yohanes 10:1-10 Pencurian merupakan peristiwa kriminal merugikan yang kerap terjadi di sekitar kita. Pencurian uang, kendaraan, dan harta benda lainnya. Akan tetapi, tidak ada pencuri yang lebih profesional dari Iblis. Cara kerjanya sangat halus dan rapi sehingga banyak orang kristiani yang menjadi target Iblis seakan-akan tidak menyadari bahwa ada begitu banyak hal di dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bacaan: Yohanes 10:1-10</p>
<p>Pencurian merupakan peristiwa kriminal merugikan yang kerap terjadi di sekitar kita. Pencurian uang, kendaraan, dan harta benda lainnya. Akan tetapi, tidak ada pencuri yang lebih profesional dari Iblis. Cara kerjanya sangat halus dan rapi sehingga banyak orang kristiani yang menjadi target Iblis seakan-akan tidak menyadari bahwa ada begitu banyak hal di dalam hidupnya telah dicuri oleh Iblis. Mereka baru menyadari ketika segala sesuatu sudah habis.</p>
<p><strong>Apa saja yang kerap dicuri oleh Iblis?</strong></p>
<ul>
<li><strong>Kegembiraan</strong>: Iblis ingin mencuri sukacita kita.</li>
<li><strong>Keyakinan</strong>: Iblis ingin kita meragukan Allah.</li>
<li><strong>Pendirian</strong>: Iblis ingin kita berdiri untuk sesuatu yang kosong.</li>
<li><strong>Belas kasihan</strong>: Iblis ingin kita menjadi egois, tidak memedulikan orang lain.</li>
<li><strong>Komitmen</strong>: Iblis ingin kita menjadi orang yang tidak berketetapan hati.</li>
<li><strong>Damai sejahtera</strong>: Iblis ingin kita hidup dalam kehampaan.</li>
<li><strong>Kepastian</strong>: Iblis ingin kita meragukan keselamatan yang kita terima dari Yesus.</li>
<li><strong>Karakter</strong>: Iblis ingin kita tidak bertumbuh dalam Kristus.</li>
<li><strong>Kekudusan</strong>: Iblis ingin hidup kita tidak layak di hadapan-Nya.</li>
</ul>
<p>Iblis ingin mencuri segala yang baik dari hidup kita dengan cara-cara keji; membunuh dan membinasakan kita (ayat 10)—jasmani dan rohani. Ini sangat kontras dengan tawaran Yesus, Gembala kita. <strong>Dia datang untuk memberikan hidup (ayat 10).</strong></p>
<p>Apakah hari-hari ini kita kehilangan kasih, sukacita, damai sejahtera, komitmen, keyakinan, karakter Allah, dan sebagainya? Bisa jadi Iblis telah memanfaatkan setiap kesempatan untuk mencurinya. Mintalah kuasa Tuhan untuk merebut kembali semua “kekayaan” surgawi yang sudah dicuri Iblis —PK</p>
<p>Sumber: http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2011/06/23/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/06/pencuri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belum != tidak</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/06/belum-tidak/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/06/belum-tidak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jun 2011 21:34:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grace]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Anugerah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Kasih & Pengharapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1888</guid>
		<description><![CDATA[Yang belum TERLIHAT bukan berarti TIDAK ADA Yang belum DITEMUKAN bukan berarti HILANG Yang belum BERHASIL bukan berarti GAGAL Dimana ada DOA di situ pasti ada JAWABAN Dimana ada PENGHARAPAN di situ ada KEKUATAN, dan Dimana ada KASIH di situ ada ANUGERAH dari TUHAN.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2011/06/rockclimbing-271x300.jpg" alt="" title="rockclimbing" width="180" height="210" class="alignright size-medium wp-image-1890" />Yang belum TERLIHAT bukan berarti TIDAK ADA<br />
Yang belum DITEMUKAN bukan berarti HILANG<br />
Yang belum BERHASIL bukan berarti GAGAL</p>
<p>Dimana ada DOA di situ pasti ada JAWABAN<br />
Dimana ada PENGHARAPAN di situ ada KEKUATAN, dan<br />
Dimana ada KASIH di situ ada ANUGERAH dari TUHAN.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/06/belum-tidak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang dosa</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/02/tentang-dosa/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/02/tentang-dosa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Feb 2011 00:13:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Anugerah]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1815</guid>
		<description><![CDATA[Apakah orang Kristen yang sudah lahir baru, masih berbuat dosa? Jawabannya adalah masih. Lalu apa bedanya sama orang yang belum lahir baru. Dipikir-pikir emang benar. Misalnya, kalau sebelum lahir baru, berbohong itu terasa biasa saja. Kalau sudah lahir baru, pasti Roh Kudus bilang pada hati nurani kita kalau bohong itu dosa. Dengan kata lain, ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Apakah orang Kristen yang sudah lahir baru, masih berbuat dosa?</strong></p>
<p>Jawabannya adalah masih. Lalu apa bedanya sama orang yang belum lahir baru. Dipikir-pikir emang benar. Misalnya, kalau sebelum lahir baru, berbohong itu terasa biasa saja. Kalau sudah lahir baru, pasti Roh Kudus bilang pada hati nurani kita kalau bohong itu dosa. Dengan kata lain, ketika seseorang lahir baru, dia melihat dosa sebagai sesuatu yang memalukan.</p>
<p>Pas nulis post ini, saya somehow ingat satu teman yang bisa dengan tanpa beban bercerita tentang dosa-dosa yang dia lakuin. Dia sudah dibaptis. Semoga dia ngga ignore ketika Roh Kudus ingatkan dia.</p>
<p><strong>Apakah orang yang dibaptis itu pasti diselamatkan?</strong></p>
<p>Nah. Untuk jelasin ini gampangnya gini. Setiap tanggal 17 Agustus, kita biasa pasang bendera di depan rumah untuk memperingati kemerdekaan Indonesia. Jadi bendera sebagai suatu tanda dari kemerdekaan yang kita punya. Kalau ngga ada kemerdekaan itu sendiri, pasang bendera merah putih gak ada artinya. Nah, baptisan itu sebuah tanda kita percaya pada Tuhan Yesus. Kalau dalam hati sendiri kita ngga percaya Tuhan Yesus, bagaimana kita diselamatkan? <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/02/tentang-dosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memaknai Waktu</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/01/memaknai-waktu/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/01/memaknai-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Jan 2011 08:04:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1811</guid>
		<description><![CDATA[Dari status facebook teman: Untuk memahami makna SATU TAHUN, tanyalah pada siswa yang tidak naik kelas Untuk memahami makna SATU BULAN, tanyalah pada ibu yang melahirkan bayi prematur Untuk memahami makna SATU MINGGU, tanyalah pada editor majalah mingguan Untuk memahami makna SATU HARI, tanyalah pada pekerja dengan gaji harian Untuk memahami makna SATU JAM, tanyalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2011/01/ilustrasi-negri-tanpa-waktu-300x300.jpg" alt="" title="ilustrasi-negri-tanpa-waktu" width="300" height="300" class="alignright size-medium wp-image-1812" />Dari status facebook teman:</p>
<p>Untuk memahami makna SATU TAHUN, tanyalah pada siswa yang tidak naik kelas</p>
<p>Untuk memahami makna SATU BULAN, tanyalah pada ibu yang melahirkan bayi prematur</p>
<p>Untuk memahami makna SATU MINGGU, tanyalah pada editor majalah mingguan</p>
<p>Untuk memahami makna SATU HARI, tanyalah pada pekerja dengan gaji harian</p>
<p>Untuk memahami makna SATU JAM, tanyalah pada gadis yang sedang menunggu kekasihnya *ihiy*</p>
<p>Untuk memahami makna SATU MENIT, tanyalah pada seseorang yang ketinggalan kereta</p>
<p>Untuk memahami makna SATU DETIK, tanyalah pada seseorang yang selamat dari kecelakaan</p>
<p>Untuk memahami makna SATU MILI DETIK, tanyalah pada pelari peraih medali perak Olimpiade</p>
<p>Ya, marilah kita menghargai setiap detik yang kita miliki <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/01/memaknai-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Betapa</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/01/betapa/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/01/betapa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Jan 2011 16:14:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1803</guid>
		<description><![CDATA[Betapa besarnya uang seratus ribu kalau untuk dimasukkan ke kantong kolekte, namun betapa kecilnya bila dibawa ke mal untuk dibelanjakan. Betapa lamanya mendengarkan firman Tuhan selama satu jam, namun betapa singkatnya waktu tiga jam untuk menonton film di bioskop. Betapa sulitnya mencari kata-kata ketika berdoa, namun betapa mudahnya bergosip dengan teman-teman. Betapa sulitnya membaca satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Betapa besarnya uang seratus ribu kalau untuk dimasukkan ke kantong kolekte, namun betapa kecilnya bila dibawa ke mal untuk dibelanjakan.</p>
<p>Betapa lamanya mendengarkan firman Tuhan selama satu jam, namun betapa singkatnya waktu tiga jam untuk menonton film di bioskop.</p>
<p>Betapa sulitnya mencari kata-kata ketika berdoa, namun betapa mudahnya bergosip dengan teman-teman.</p>
<p>Betapa sulitnya membaca satu perikop Alkitab, namun betapa mudahnya untuk menyelesaikan novel setebal 100 halaman.</p>
<p>Betapa mudahnya mempercayai gosip, namun betapa sulitnya mempercayai firman Tuhan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/01/betapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengungsi</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/01/pengungsi/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/01/pengungsi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Jan 2011 00:42:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1793</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu ada diskusi menarik di suatu forum. Jadi ceritanya ada seorang Indonesia yang punya pemikiran untuk jadi warga negara Kanada. Jadi dia berencana untuk datang ke Kanada dengan visa turis. Lalu sesampai di Kanada, dia mau buang paspornya. Lalu minta perlindungan pemerintah Kanada, dan mengaku kalau dia stateless, gak punya kewarganegaraan. Dia bilang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2011/01/pengungsi-300x200.jpg" alt="" title="pengungsi" width="300" height="200" class="alignright size-medium wp-image-1794" />Beberapa waktu lalu ada diskusi menarik di suatu forum. Jadi ceritanya ada seorang Indonesia yang punya pemikiran untuk jadi warga negara Kanada. Jadi dia berencana untuk datang ke Kanada dengan visa turis. Lalu sesampai di Kanada, dia mau buang paspornya. Lalu minta perlindungan pemerintah Kanada, dan mengaku kalau dia stateless, gak punya kewarganegaraan. Dia bilang dia gak akan ngaku kalau dia berasal dari Indonesia. Dalam pemikirannya, Kanada dengan dasar kemanusiaan akan melindungi dan memberikan kewarganegaraan.<span id="more-1793"></span></p>
<p>Rasanya dia ngga akan dapat kewarganegaraan. Bukan begitu caranya kalau mau jadi pengungsi. Ada proses yang perlu diikuti. Seandainya dia ikuti prosesnya dan bisa dapat PR refugee dari Kanada, ada hal yang mungkin belum terpikir konsekuensinya. Dia ngga akan bisa balik ke Indonesia lagi. Karena definisi pengungsi sejati adalah orang yang meninggalkan negara asalnya karena perang, penganiayaan. Saking merasa teraniaya, lari dari situ dan gak mau kembali lagi.</p>
<p>Pas saat teduh beberapa hari lalu, cerita di atas mengingatkan saya dengan pemazmur. Tagline blog ini: tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku! Pemazmur merasakan betapa terancam jiwanya sehingga dia minta perlindungan Tuhan. Dan rasanya ngga akan ingin kembali lagi&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/01/pengungsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Roma</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/12/roma/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/12/roma/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Dec 2010 06:22:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1765</guid>
		<description><![CDATA[Inti dari kitab Roma:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Inti dari kitab Roma:</p>
<p><object width="500" height="306"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/zTUJh9ntCmw?fs=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/zTUJh9ntCmw?fs=1" type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="306" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/12/roma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fast-forward moment</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/11/fast-forward-moment/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/11/fast-forward-moment/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Nov 2010 19:44:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1745</guid>
		<description><![CDATA[Ketika hidup begitu padat dengan aktifitas. Dari rapat yang satu ke rapat yang lain. Dari tugas kuliah yang satu ke tugas yang selanjutnya. Hidup kadang terasa begitu cepat. Seolah-olah saya bergerak tanpa arah yang pasti. Dan lalu kemudian sudah hari Jumat lagi. Entah bagaimana saya jadi ingat film Click, terutama adegan ini. Di film itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika hidup begitu padat dengan aktifitas. Dari rapat yang satu ke rapat yang lain. Dari tugas kuliah yang satu ke tugas yang selanjutnya. Hidup kadang terasa begitu cepat. Seolah-olah saya bergerak tanpa arah yang pasti. Dan lalu kemudian sudah hari Jumat lagi. Entah bagaimana saya jadi ingat film Click, terutama <a href="http://www.youtube.com/watch?v=Odwi8w_4NrY" target="_blank">adegan ini</a>. Di film itu Adam Sandler punya suatu remote control yang bisa fast-forward hidup sampai-sampai begitu banyak moment berharga lewat begitu saja.</p>
<p>Kemarin malam saya baru beres kelas jam 9:30, cuaca dingin ditambah hujan salju. Badan udah kerasa cape secara udah beraktifitas dari pagi, kerjaan pun cukup banyak tugas yang perlu diselesaikan. Begitu tergoda untuk mengeluh, tapi Tuhan masih mengingatkan untuk menikmati setiap moment hidup. Hati serasa plong, Dia adalah gunung batu-ku!</p>
<p>Semoga tidak banyak hal yang saya &#8220;fast-forward&#8221; dalam hidup ini.</p>
<p><em>Keep us on our knees<br />
Keep our fingers on the pages of The Scriptures</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/11/fast-forward-moment/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalau sebatang pohon tumbang di tengah hutan</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/10/kalau-sebatang-pohon-tumbang-di-tengah-hutan/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/10/kalau-sebatang-pohon-tumbang-di-tengah-hutan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Oct 2010 17:32:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1667</guid>
		<description><![CDATA[Kalau sebatang pohon tumbang di tengah hutan, dan ngga ada siapa-siapa di sekitarnya, apakah pohon itu membuat suara? Itu topik acak dari forum bisnis analisis. Ada yang bilang sesuatu jadi suara pas gelombang yang ada sampai ke telinga. Kalau ngga ada gelombang yang sampai, ngga ada suara. Atau ada lagi yang bilang, ngga peduli ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kalau sebatang pohon tumbang di tengah hutan, dan ngga ada siapa-siapa di sekitarnya, apakah pohon itu membuat suara? </p></blockquote>
<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/10/Forest-300x198.jpg" alt="" title="Forest" width="300" height="198" class="alignright size-medium wp-image-1668" /></p>
<p>Itu topik acak dari forum bisnis analisis. Ada yang bilang sesuatu jadi suara pas gelombang yang ada sampai ke telinga. Kalau ngga ada gelombang yang sampai, ngga ada suara. Atau ada lagi yang bilang, ngga peduli ada yang mendengar atau ngga, gelombangnya tetap ada jadi pohon itu membuat suara. Diskusi panjang lebar ada <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/If_a_tree_falls_in_a_forest">disini</a>. Jadi konsep filosofinya lebih ke arah suara itu proses mengirim/menerima. Saya sendiri lebih condong ke pengertian pertama, ngga peduli ada manusia atau ngga, pohon itu membuat suara.<span id="more-1667"></span></p>
<p>Coba kalau pertanyaannya saya ganti jadi begini: Kalau sebatang pohon tumbang di tengah hutan, dan ada satu orang tuli di sekitarnya, apakah pohon itu membuat suara? Menurut saya, faktanya pohon itu membuat suara, cuma orang tuli aja yang tidak bisa mendengar. Suara dari pohon ada bukan karena adanya manusia. Manusia sama sekali ngga ada andil untuk membuat suara itu.</p>
<p>Seorang professor filsafat memberikan kuliah terakhir, dia menaruh sebuah tanaman di mejanya. Dia meminta semua mahasiswa, &#8220;Dengan menggunakan segala sesuatu yang telah Anda pelajari dalam kuliah ini, buktikan kepada saya bahwa tanaman ini TIDAK ADA&#8221;. Banyak mahasiswa mulai cerita panjang lebar membuktikan tanaman itu tidak ada, kecuali satu mahasiswa. Dia cuma menghabiskan lima detik lalu menyerahkan lembar jawabannya. Beberapa minggu kemudian nilai akhir keluar, yang menakjubkan mahasiswa yang menulis selama lima detik tadi mendapat nilai tertinggi. Jawaban yang dia tulis adalah, &#8220;Tanaman apa?&#8221; Hahaha.</p>
<p>Sebenarnya tujuan saya bercerita panjang lebar di atas karena merasa sekarang ini begitu banyak orang menyangkal keberadaan Tuhan. Kalau Tuhan mengasihi kita, tetapi kita &#8220;tuli&#8221; hati, bukan berarti kasih Tuhan itu tidak ada. Manusia dengan segala ilmu sering membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada. Bahkan mungkin bisa berkata, &#8220;Tuhan apa?&#8221;</p>
<p>Toh itu tidak membuat Tuhan menjadi tidak ada <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /><br />
Tuhan ya tetap ada. Manusia tidak bisa mengubah fakta itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/10/kalau-sebatang-pohon-tumbang-di-tengah-hutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adalah baik menanti dengan diam pertolongan Tuhan</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/09/adalah-baik-menanti-dengan-diam-pertolongan-tuhan/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/09/adalah-baik-menanti-dengan-diam-pertolongan-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Sep 2010 17:38:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1632</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini secara kebetulan saya membaca Ratapan 3. Yang bercerita tentang kesesakan, kegetiran, tangis, namun Tuhan terus menyertai dan memelihara. Ketika saya mereleksikan ayat-ayat ini dalam perjalanan hidup saya, kesimpulannya cuma satu: Tuhan itu baik. 3:17 Engkau menceraikan nyawaku dari kesejahteraan, aku lupa akan kebahagiaan. 3:18 Sangkaku: hilang lenyaplah kemasyhuranku dan harapanku kepada TUHAN. 3:19 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi ini secara kebetulan saya membaca Ratapan 3. Yang bercerita tentang kesesakan, kegetiran, tangis, namun Tuhan terus menyertai dan memelihara. Ketika saya mereleksikan ayat-ayat ini dalam perjalanan hidup saya, kesimpulannya cuma satu: Tuhan itu baik.</p>
<blockquote><p>3:17	Engkau menceraikan nyawaku dari kesejahteraan, aku lupa akan kebahagiaan.<br />
3:18	Sangkaku: hilang lenyaplah kemasyhuranku dan harapanku kepada TUHAN.<br />
3:19	&#8220;Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.&#8221;<br />
3:20	Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.</p></blockquote>
<p>Di tengah kesengsaraan, Tuhan terus menyertai&#8230;</p>
<blockquote><p>3:21	Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:<br />
3:22	Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,<br />
3:23	selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!<br />
3:24	&#8220;TUHAN adalah bagianku,&#8221; kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.<br />
3:25	TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.<br />
<strong>3:26	Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN</strong>.<br />
3:27	Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya.<br />
3:28	Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau TUHAN membebankannya.<br />
3:29	Biarlah ia merebahkan diri dengan mukanya dalam debu, mungkin ada harapan.<br />
3:30	Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan.<br />
3:31	Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan.<br />
3:32	Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya.<br />
<strong>3:33	Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia</strong>.</p></blockquote>
<p>Terkadang, kegetiran di masa lalu memberikan saya dua pelajaran: belajar untuk mengampuni, dan belajar untuk mensyukuri pemeliharaan Tuhan sampai pada hari ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/09/adalah-baik-menanti-dengan-diam-pertolongan-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Grace vs Karma</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/09/grace-vs-karma/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/09/grace-vs-karma/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Sep 2010 17:42:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Anugerah]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1623</guid>
		<description><![CDATA[Assayas: I think I am beginning to understand religion because I have started acting and thinking like a father. What do you make of that? Bono: Yes, I think that&#8217;s normal. It&#8217;s a mind-blowing concept that the God who created the universe might be looking for company, a real relationship with people, but the thing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Assayas</strong>: I think I am beginning to understand religion because I have started acting and thinking like a father. What do you make of that?</p>
<p><strong>Bono</strong>: Yes, I think that&#8217;s normal. It&#8217;s a mind-blowing concept that the God who created the universe might be looking for company, a real relationship with people, but the thing that keeps me on my knees is the difference between Grace and Karma.</p>
<p><strong>Assayas</strong>: I haven&#8217;t heard you talk about that.</p>
<p><strong>Bono</strong>: I really believe we&#8217;ve moved out of the realm of Karma into one of Grace.</p>
<p><strong>Assayas</strong>: Well, that doesn&#8217;t make it clearer for me.</p>
<p><strong>Bono</strong>: You see, at the center of all religions is the idea of Karma. You know, what you put out comes back to you: an eye for an eye, a tooth for a tooth, or in physics—in physical laws—every action is met by an equal or an opposite one. It&#8217;s clear to me that Karma is at the very heart of the universe. I&#8217;m absolutely sure of it. And yet, along comes this idea called Grace to upend all that &#8220;as you reap, so you will sow&#8221; stuff. Grace defies reason and logic. Love interrupts, if you like, the consequences of your actions, which in my case is very good news indeed, because I&#8217;ve done a lot of stupid stuff.</p>
<p>Bono: In Conversation with Michka Assayas<br />
Well, despite the clouds, it&#8217;s still <a href="http://www.youtube.com/watch?v=e8w7f0ShtIM" target="_blank">a beautiful day</a> in Vancouver <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/09/grace-vs-karma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>This experience must come</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/07/this-experience-must-come/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/07/this-experience-must-come/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 17:28:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1550</guid>
		<description><![CDATA[It is not wrong for you to depend on your “Elijah” for as long as God gives him to you. But remember that the time will come when he must leave and will no longer be your guide and your leader, because God does not intend for him to stay. Even the thought of that [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>It is not wrong for you to depend on your “Elijah” for as long as God gives him to you. But remember that the time will come when he must leave and will no longer be your guide and your leader, because God does not intend for him to stay. Even the thought of that causes you to say, “I cannot continue without my ’Elijah.’ ” Yet God says you must continue.</p>
<p><strong>Alone at Your “Jordan”</strong> ( Kings 2:14  ). The Jordan River represents the type of separation where you have no fellowship with anyone else, and where no one else can take your responsibility from you. You now have to put to the test what you learned when you were with your “Elijah.” You have been to the Jordan over and over again with Elijah, but now you are facing it alone. There is no use in saying that you cannot go— the experience is here, and you must go. If you truly want to know whether or not God is the God your faith believes Him to be, then go through your “Jordan” alone.<span id="more-1550"></span></p>
<p><strong>Alone at Your “Jericho”</strong> ( 2 Kings 2:15  ). Jericho represents the place where you have seen your “Elijah” do great things. Yet when you come alone to your “Jericho,” you have a strong reluctance to take the initiative and trust in God, wanting, instead, for someone else to take it for you. But if you remain true to what you learned while with your “Elijah,” you will receive a sign, as Elisha did, that God is with you.</p>
<p><strong>Alone at Your “Bethel”</strong> ( 2 Kings 2:23 ). At your “Bethel” you will find yourself at your wits’ end but at the beginning of God’s wisdom. When you come to your wits’ end and feel inclined to panic— don’t! Stand true to God and He will bring out His truth in a way that will make your life an expression of worship. Put into practice what you learned while with your “Elijah”— use his mantle and pray (see 2 Kings 2:13-14  ). Make a determination to trust in God, and do not even look for Elijah anymore.</p>
<p>Source: <a href="http://utmost.org/this-experience-must-come/">My Utmost For High Highest &#8211; August 11</a></p>
<p>***</p>
<p>This is not the first time I have to say &#8220;till we meet again&#8221; to my &#8220;Elijah&#8221;. But certainly, it&#8217;s never been easy. God, You are my God and I am thankful for all the people You bring into my life. Things I learn in the past one year:</p>
<ul>
<li> Don&#8217;t ever think to be a hero in serving God</li>
<li>Honor our parents whatever the situation and condition was/is/is going to be.</li>
<li>We just happen to be slaves who were allowed to enjoy the goodness of God.</li>
<li>There is much we can do &#8211; especially for others less than we are and who need our help.</li>
<li> Continue to serve others &#8211; and God will be responsible for all of our lives.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/07/this-experience-must-come/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pilihan Tuhan atau pilihan kita</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/05/pilihan-tuhan-atau-pilihan-kita/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/05/pilihan-tuhan-atau-pilihan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 May 2010 02:17:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1502</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin sempat ngobrol tentang ini sama Loren. Kita selalu dihadapkan pada pilihan. Mau makan siang ada pilihan, mau malas-malasan itu pilihan, mau kecewa sama orang pun itu pilihan, bahkan Tuhan mau menyayangi kita pun itu pilihanNya secara kita gak layak. Aspek memilih jadi menarik ketika kita mengikutsertakan Tuhan ketika memilih. Nah, ini bagian menariknya. Kadang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin sempat ngobrol tentang ini sama <a href="http://binnology8.blogspot.com/">Loren</a>. Kita selalu dihadapkan pada pilihan. Mau makan siang ada pilihan, mau malas-malasan itu pilihan, mau kecewa sama orang pun itu pilihan, bahkan Tuhan mau menyayangi kita pun itu pilihanNya secara kita gak layak. Aspek memilih jadi menarik ketika kita mengikutsertakan Tuhan ketika memilih.</p>
<p>Nah, ini bagian menariknya. Kadang orang sering banget bilang, &#8220;Tuhan bilang sama saya kalau saya harus milih A&#8221;. Apakah iya? Hmmmm&#8230;kalau gak hati-hati, kita cenderung jadi orang yang suka merohanikan segala hal. Saya percaya Tuhan berbicara pada kita melalui Alkitab, atau mengajarkan kepada kita melalui pengalaman di masa lalu.<span id="more-1502"></span></p>
<p>Lima tahun lalu, wrist band karet yang tulisannya WWJD cukup populer. Jadi sekiranya ketika kita membuat keputusan, kita jadi ingat, <strong>What would Jesus do</strong>. Kurang lebih approach seperti ini yang saya coba belajar sekarang. Doakan dan lakukan saja, jangan sampai jadi merohanikan semua pilihan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/05/pilihan-tuhan-atau-pilihan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Thy will be done</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/05/thy-will-be-done/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/05/thy-will-be-done/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 08:53:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1493</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu saya dan abang saya berlibur ke Cameron Highlands, perkebunan teh terletak 3-4 jam perjalanan dari KL. Nah di sepanjang jalan saya perhatiin, ada banyak juga anjing liar, atau mungkin tepatnya anjing hutan. Pas lagi nyetir 120 km/h di jalan tol, 300 meter di depan saya tiba-tiba muncul seekor anjing liar yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu saya dan abang saya berlibur ke <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cameron_Highlands">Cameron Highlands</a>, perkebunan teh terletak 3-4 jam perjalanan dari KL. Nah di sepanjang jalan saya perhatiin, ada banyak juga anjing liar, atau mungkin tepatnya anjing hutan.</p>
<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/05/Cameron-300x200.jpg" alt="" title="Highway" width="300" height="200" class="alignright size-medium wp-image-1496" />Pas lagi nyetir 120 km/h di jalan tol, 300 meter di depan saya tiba-tiba muncul seekor anjing liar yang mau menyebrang. Logika pertama di otak otomatis jalan, responnya adalah: liat kaca spion, ada berapa mobil di belakang. Ternyata ada banyak mobil di belakang, jaraknya cukup mepet, jadi kalau saya rem atau banting setir mendadak, yang bakal terjadi adalah tabrakan beruntun. </p>
<p>Logika kedua, oke kalo begitu kudu keputusan kedua: tabrak anjingnya. Ini terdengar kejam, dan sangat berat di hati karena saya sendiri suka memelihara anjing sejak saya masih kecil. Tapi saya lebih memilih mengorbankan seekor anjing dibanding nyawa orang lain.<span id="more-1493"></span></p>
<p>Logika ketiga, kalau saya jadi tabrak anjingnya, gmana handle stir mobil ini, mau saya banting kemana, apa mobil ini bisa terguling, etc. Dalam pikiran saya mikirin banyak strategi. Dan akhirnya, berkonklusi, nabrak anjing ini juga gak aman, tapi okelah saya pilih opsi ini.</p>
<p>Terlepas dari logika-logika di atas, saya berdoa dalam hati, Tuhan jangan biarkan anjing itu nyebrang. &#8220;Jangan nyebrang&#8230;jangan nyebrang&#8230;jangan nyebrang&#8221;. Dalam split second, anjing itu balik badan gak jadi nyebrang. Fiuh!</p>
<p>Saya percaya Tuhan yang bikin anjing itu puter badan gak jadi nyebrang.</p>
<p>***</p>
<p>Cerita di atas menunjukkan contoh kehidupan berdoa kita yang cukup lazim. Kita berpikir secara logika 1, logika 2, logika 3, akhirnya setelah logika gak bisa menyelesaikan masalah, barulah kita berdoa pada Tuhan.</p>
<p>Saya bersyukur diingatkan kembali tentang berdoa kemarin ini di bible study kantornya abang saya. Tahun kemarin pas mampir ke KL, dibawa ke kantornya, ketemu sama bosnya, makan siang sama temen kantornya. Dan tahun ini pun tidak berbeda, malah kemarin jadi ikutan bible study di kantornya. Emang, abang saya bisa dibilang cukup beruntung, di lingkungan kerjanya cukup banyak orang Kristen (baca: yang (mau) bertumbuh).</p>
<p>Kemarin di bible study, mereka pakai workbook dari <a href="http://www.iequip.org/">Equip</a>, ngebahas tentang Christian Leadership karangannya John Maxwell. Topiknya cukup simple dan sering terdengar sepele, yaitu tentang bagaimana berdoa.</p>
<p>Ada beberapa point bagus:</p>
<p><strong>Berdoa bukan karena rutinitas</strong>, tetapi karena hubungan pribadi dengan Tuhan. Seberapa sering doa kita jadi meaningless, mendoakan hal yang sama dari waktu ke waktu. &#8220;Tuhan berkatilah makanan ini. Amin&#8221;. Ini contoh paling gampang sih, soalnya tiap hari kan sebelum makan pasti berdoa. Tapi apa kita benar-benar bersyukur? Umph!</p>
<p><strong>Berdoa untuk supaya kita bisa berpikir seperti Kristus</strong>. Seperti apa sih? Saya sendiri kurang pintar untuk bisa jelasin berpikir seperti Kristus itu seperti apa, tetapi ada cerita yang mungkin bisa membantu menjelaskan. </p>
<p>Tahun 1993, tiga misionaris New Tribes Mission (NTM) diculik di Columbia. Delapan tahun kemudian (tahun 2001), tiga misionaris itu di-declare sudah meninggal. Dan Germann (vice chairman NTM) ditanya, &#8220;Bagaimana doa-doa mereka berubah delapan tahun terakhir ini&#8221;. Berikut responnya:</p>
<blockquote><p>“When the guys were first captured, every one of us was praying, Lord, just bring them out safely. We know You are able”. As time went on we started to pray, “Lord, if they are alive, bring them home safely.  If they are dead, please let us know that as well.”  Eight years later they were praying, “God, if we never know, You’ll still be God.”</p>
<p>&#8220;This was quite a difference from trusting Him to bring them out safely. In the end, God answered our prayers. We found a man in prison who had cared for them. He assured us that they were dead. This was a gift since we&#8217;d come to the place where it was all right ig God chose for us to never know. Somebody looking on might think, &#8220;How can you accept that news?&#8221; <strong>All I can say is God moved us to the place where we could say, &#8220;Lord, we want You to be glorified, even if we never know&#8221;</strong>.</p></blockquote>
<p>Dari waktu ke waktu saya mendoakan untuk orang-orang di sekitar saya, dimulai dengan doain orang tua, pacar, keluarga, teman gereja, teman kantor, dan lain-lain. Doa saya tidak berbeda dengan kebanyakan orang, saya minta pada Tuhan agar orang tua saya sehat, agar relationship dengan pacar semakin mature, agar teman-teman di kantor jadi orang yang mengenal Tuhan, dst.</p>
<p>Hasilnya ya tentu kadang tidak sesuai dengan apa yang saya doakan. Tetapi saya mau belajar tentang <strong>&#8220;Thy will be done&#8221;</strong>. Dalam doa Bapa kami, Tuhan Yesus menempatkan kalimat &#8220;Thy will be done&#8221; sebelum kalimat &#8220;give us today our daily bread&#8221; atau &#8220;forgive us our sins&#8221; atau &#8220;lead us not into temptation&#8221;.</p>
<p><strong>Berdoa untuk orang lain.</strong> Tahun 1993, ada survey terhadap 2000 orang di gereja. Tiga topik utama doa mereka adalah: makanan, personal &#038; family safety, dan minta berkat. Rata-rata orang juga menghabiskan kurang dari 7 menit sehari untuk berdoa. Ketika kita berdoa, cobalah untuk mendoakan orang lain. Ada orang yang terbiasa saat teduh pagi hari, ada yang malam hari, apapun waktunya, sempatkanlah doa dan saat teduh berbicara dengan Tuhan.</p>
<p>Semoga artikel ini menjadi berkat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/05/thy-will-be-done/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat anda jatuh</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/04/saat-anda-jatuh/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/04/saat-anda-jatuh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2010 20:18:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1469</guid>
		<description><![CDATA[Pada olimpiade musim panas tahun 1992 di Barcelona, Spanyol, terjadi sebuah peristiwa yang menarik perhatian dunia. Ketika Derek Redmond melangkah menuju arena, dia membayangkan kemenangan yang akan diraihnya. Inilah saat yang telah dinantikannya, seumur hidupnya. Dalam hatinya, ia tahu, bahwa inilah perlombaan yang telah Tuhan tetapkan baginya, sejak semula ia diciptakan. Pada menit terakhir sebelum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada olimpiade musim panas tahun 1992 di Barcelona, Spanyol, terjadi sebuah peristiwa yang menarik perhatian dunia. Ketika Derek Redmond melangkah menuju arena, dia membayangkan kemenangan yang akan diraihnya. Inilah saat yang telah dinantikannya, seumur hidupnya. Dalam hatinya, ia tahu, bahwa inilah perlombaan yang telah Tuhan tetapkan baginya, sejak semula ia diciptakan. Pada menit terakhir sebelum perlombaan itu dimulai, ia memandang ke arah deretan kursi penonton, mencari-cari wajah ayahnya. Memang ia ingin meraih kemenangan dalam lomba itu untuk dirinya. Tetapi, lebih dari itu ia ingin memenangkan lomba itu demi ayahnya. Ayahnya, yang telah memberikan dan mengorbankan begitu banyak banyak hal, agar ia dapat masuk menjadi peserta olimpiade itu.</p>
<p>Sekarang ia memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu sebagai tanda balas budi kepada ayahnya. Inilah saatnya untuk membuat ayahnya bangga padanya. Lalu tembakan ke udara tanda mulai berbunyi. Derek berlari, mengerahkan seluruh kekuatannya. Segalanya tampak baik sampai akhirnya Derek memasuki putaran terakhir. Tiba-tiba terjatuh di tengah lintasan larinya. Ia mengalami kram pada kakinya. Rasa nyeri yang hebat mencengkeramnya. Dia berusaha untuk berdiri; berusaha untuk melompat; namun rasa nyeri itu terlalu menyakitkan baginya. Detik demi detik berlalu, bagai berjam-jam baginya, saat dia rebah menggeliat kesakitan. Dia tidak percaya, beginilah akhir dari perjalanannya selama ini.<span id="more-1469"></span></p>
<p>Mungkin dia khawatir tentang apa yang dipikirkan ayahnya saat itu, apakah ayahnya merasa malu? Apakah ayahnya akan berpaling darinya dan meninggalkannya? Mungkinkah ayahnya berpikir: Oh, bagus sekali. Jadi selama ini waktu terbuang percuma hanya untuk seorang yang bahkan tidak dapat menyelesaikan pertandingan sama sekali?</p>
<p>Ternyata sama sekali bukan itu yang sedang dipikirkan oleh ayahnya. Jauh diatas sana, di antara kursi-kursi penonton, ayahnya melompat berdiri. Segera ia menyelusup di antara kerumunan penonton. Saat itu ada ribuan penonton yang sedang berdiri, melihat anaknya, dan terkejut melihat anaknya sedang menderita di dalam arena. Akhirnya sang ayah berhasil mencapai garis batas lintasan lari itu.</p>
<p>Seorang penjaga keamanan menghentikannya, dan berkata, &#8220;Tidak seorangpun diijinkan masuk ke dalam arena.&#8221;</p>
<p>Ayah Derek menjawabnya dengan kata-kata sederhana, &#8220;Itu anak saya.&#8221;</p>
<p>Maka penjaga itu tidak menghalanginya lagi. Dia melewati para penjaga itu dan masuk ke dalam lintasan lari. Dan sementara ribuan orang bersorak riuh rendah padanya, dia memapah anaknya menuju ke garis finish.</p>
<p>Mungkin sebagian besar Anda merasakan seolah-olah Anda telah jatuh. Anda ingin menyelesaikan perlombaan yang telah Tuhan tetapkan bagi Anda, tetapi rasa nyeri yang menyerang ini terlalu menyakitkan. Tak peduli sekeras apa Anda berusaha, tampaknya Anda tetap tak mampu untuk berdiri dan melangkah lagi. Mungkin Anda khawatir, kalau-kalau Bapa di Sorga kecewa terhadap Anda, kalau-kalau Anda tidak dapat menyenangkan hatiNya.</p>
<p>Tahukah Anda bahwa Tuhan ada di pihak kita?<br />
Tuhan tidak kecewa pada Anda saat Anda jatuh. Anda adalah anakNya yang berharga di mataNya! Anda adalah kesayangan Bapa di Sorga. Oh, betapa sedihnya Dia menyaksikan Anda jatuh. Betapa Dia menaruh belas kasihan bagi Anda. Tuhan ada bagi Anda. Tuhan juga menghendaki agar Anda menyelesaikan perlombaan Anda dan Dia akan melakukan apa saja untuk memapah Anda menuju garis finish. Mungkin ada beberapa orang di antara Anda yang tidak mengenal Bapa di Sorga. Tetapi Dia tetap ada disana menanti Anda. Dia rindu memeluk Anda sebagai seorang anak yang berharga dan melindungi Anda, di setiap langkah, di dalam menjalani perlombaan yang telah ditentukan bagi Anda.</p>
<p>Satu-satunya jalan untuk menghampiri Bapa adalah melalui AnakNya.<br />
Yesus berfirman, &#8220;Tidak ada seorangpun sampai kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.&#8221;</p>
<p>Tidak ada hal lain yang dapat memberikan penghiburan yang lebih besar lagi, selain dari kenyataan bahwa: Dia yang memanggil kita untuk menjalani perlombaan ini adalah juga Dia yang membantu kita untuk sampai ke garis finish.</p>
<p>>Sumber: <a href="http://renungan-harian-kita.blogspot.com/2010/04/saat-anda-jatuh.html">Kumpulan Renungan Harian</a></p>
<p><object width="640" height="385"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/HFKpZnok10s&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/HFKpZnok10s&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="640" height="385"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/04/saat-anda-jatuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapa kita?</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/03/siapa-kita/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/03/siapa-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Mar 2010 18:06:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1385</guid>
		<description><![CDATA[Ide di bawah ini belakangan hilir mudik dalam pikiran sih. Dibilang hilir mudik karena sebentar kepikir, sebentar ngga, terus kepikir lagi, terus ngga. Jadi sekarang lebih baik ditulis aja biar gak lupa. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ide di bawah ini belakangan hilir mudik dalam pikiran sih. Dibilang hilir mudik karena sebentar kepikir, sebentar ngga, terus kepikir lagi, terus ngga. Jadi sekarang lebih baik ditulis aja biar gak lupa.</p>
<blockquote><p>Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2)</p></blockquote>
<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/03/WhoAmI-300x214.jpg" alt="" title="WhoAmI" width="300" height="214" class="alignright size-medium wp-image-1386" />Dua minggu lalu saya bersama teman-teman nonton film <a href="http://www.imdb.com/title/tt1130884/">Shutter Island</a>. Katanya itu film thriller, oh oke lah saya pikir, tar saya siapkan diri secara saya gak terlalu suka nonton film horor ataupun film sadis berdarah-darah. Ternyata itu film tentang orang sakit jiwa, model-model kaya di film Beautiful Mind. Nama penyakitnya itu Schizophrenia? Filmnya cukup intense. <a href="http://www.imdb.com/title/tt1130884/plotsummary">Intinya</a> sih tentang cerita orang waras yang datang buat menyelidiki kasus pasien jiwa hilang, tapi kemudian dengan konspirasi dan obat-obatan yang ada orang waras ini diyakinkan bahwa dia jadi gila, ujung2nya jadi dirawat di rumah sakit jiwa itu. Gara-gara nonton film ini, sempet bertanya, &#8220;hidup saya sekarang ini real gak ya? apa saya berhalusinasi kekita melihat teman-teman saya?&#8221;. Sedikit serem juga nih film, ngajak penonton jadi berpikir tentang kegilaan. Sedikit banyak, orang itu jadi gila karena lingkungannya yang mengondisikan demikian.<span id="more-1385"></span></p>
<p>Kasus A, ada orang normal. Karena trauma masa lalu, bisa terguncang jiwanya kemudian jadi orang gila. Bisa dimengerti. Kasus B, ada orang normal. Karena semua temannya bilang dia gila, kemudian dia jadi orang gila beneran. Kasus B, secara gak sadar kita sering alami di hidup sehari-hari. Kita punya semangat juang tinggi, tapi di sekeliling kita semua orang malas, ya ujung-ujungnya pasti terpengaruh. Mungkin kita jadi terpengaruh setelah beberapa lama, mungkin beberapa tahun.</p>
<p>Beberapa hari lalu saya juga lagi <a href="http://www.amazon.com/Wives-Their-Husbands-About-Women/dp/0842378960">baca buku</a>, tentang stress ibu rumah tangga. Bukunya bagus. Di buku itu dibilang lagi, kita menilai diri sendiri berdasarkan penilaian orang lain. Jadi orang lain bilang kita apa, ya kita cenderung percaya tentang itu. Apalagi kalo semua orang bilang itu. <strong>Identitas kita sedikit banyak dibentuk dari apa yang orang bilang tentang kita.</strong></p>
<p>***</p>
<p>Ada lagi artikel bagus dari renungan harian hari ini:</p>
<p><a href="http://www.renunganharian.net/utama.php?tanggalnya=2010-03-25">PERCOBAAN ASCH</a></p>
<p>Pada tahun 1950-an, Solomon Asch, seorang psikolog Amerika melakukan percobaan mengenai tekanan lingkungan. Sekelompok orang dikumpulkan dalam satu ruangan. Satu orang dari mereka merupakan sang objek penelitian. Dan tanpa diketahui sang objek, sesungguhnya semua anggota lain dari kelompok tersebut adalah anggota tim Asch sendiri.</p>
<p>Di ruangan itu mereka diminta berpendapat secara bergantian, tentang beberapa ruas garis yang tidak sama panjang. Urutannya diatur sedemikian rupa, sehingga sang objek penelitian menjawab paling akhir. Maka, Asch menemukan bahwa jika semua orang berkata bahwa garis-garis itu sama panjang, walau jawaban itu salah, si objek penelitian cenderung ikut menjawab demikian. Namun, jika setidaknya satu orang menjawab benar, si objek penelitian jadi berani menjawab dengan benar.</p>
<p>Percobaan ini menunjukkan betapa tidak kuatnya seseorang kalau harus melawan arus sendirian. Meskipun ketika ia tahu bahwa mengikuti arus berarti ikut salah, tetapi ketika ada orang lain yang menemaninya, ia akan menjadi jauh lebih berani. Hasil ini membuat kita lebih mengerti mengapa perintah Tuhan untuk kita tidak menjadi serupa dengan dunia disampaikan dalam konteks komunitas. Kata &#8220;kamu&#8221; di Roma 12:2 merujuk kepada komunitas orang percaya, bukan individual. Kita tidak disuruh berjuang sendirian.</p>
<p>Karena itu, penting bagi kita untuk mempunyai dan terus hidup dalam persekutuan-terutama persekutuan yang memiliki relasi dalam, di mana kita bisa berbagi beban dan berjuang bersama sebagai anak Tuhan. Dan bergandengan tangan, kita dapat melawan arus dunia -ALS</p>
<p>***</p>
<p>Nah, klo demikian formulanya. <strong>Selanjutnya yang kita bisa milih adalah, lingkungan sekitar kita seperti apa.</strong> Identitas ada nyangkutnya sama lingkungan. Kalo kita hidup di sekitar orang &#8220;gila&#8221;, lama2 bisa jadi gila beneran. Saya pengen bawa konteks identitas ini ke ayat yang saya sebutkan di awal artikel ini. Janganlah kita jadi serupa dengan dunia yang semakin gila ini. Tetapi carilah kehendak Allah. Jangan berhenti bergumul.</p>
<p>Identitas kita sejati hanyalah Tuhan yang tau secara Tuhan lah yang menciptakan kita. Apa identitas kita sebagai orang Kristen? Saya seringkali ngelihat ada dua ekstrim. </p>
<p>Ekstrim pertama, kita melihat diri kita sebagai orang berdosa, seolah-olah Tuhan Yesus belum pernah mati di kayu salib menebus dosa kita. Kita merasa tidak layak terus menerus, dan ujungnya jadi punya low self-esteem. Kita jadi gak bisa menghargai diri kita sendiri sebagai anak Tuhan yang sudah ditebus dosanya. &#8220;Tuhan siapakah aku ini? Aku orang berdosa, gak layak buat melayaniMu&#8221;</p>
<p>Ekstrim kedua, kita &#8220;agak kelewatan&#8221; melihat diri kita sebagai orang yang sudah ditebus dosanya, jadi punya hak sebagai anak Tuhan. Jadi contoh ekstrimnya, kita merasa eksklusif (Saya sudah menerima Tuhan, jadi saya lebih baik dari anda). Kita menuntut janji-janji Tuhan seolah-olah kita ini punya hak, &#8220;Tuhan aku ini anakMu, berkati aku lah, berkati aku, pokoknya berkati aku&#8221;. &#8220;Tuhan aku ini anakMu, aku lagi sakit, tapi aku percaya kau akan melakukan mukjizat kesembuhan. Aku gak mau ke dokter&#8221;.</p>
<blockquote><p>Beberapa waktu lalu saya dapat email dari teman, intinya bilang begini, &#8220;Satu hal&#8230; kita anak-anak Tuhan ndak ngikutin ekonomi dunia&#8230; lay off boleh jalan terus&#8230; tapi mulut kita harus declaring kalo Tuhan akan membuka tingkap-tingkap langit untuk mengucurkan berkatNya ke kita&#8230;Di Yesaya dikatakan Tuhan akan memindahkan kekayaan bangsa-bangsa dan orang kafir ke tangan anak-anakNya&#8230;. so, apa pun yang terjadi di sekeliling kita&#8230; Tuhan sedang memindahkan kekayaan itu ke tangan anak-anakNya&#8230;. &#8220;</p></blockquote>
<p>Akal sehat kita jadi hilang, &#8220;kegilaan&#8221; kita keluar tapi kita labelkan sebagai iman. Saya kadang jadi mikir, apa ini identitas kita sebagai anak Tuhan? Apakah Tuhan mati buat kita semata-mata agar kita bisa menuntut ini itu sama Tuhan? Ini kah identitas kita yang sejati?</p>
<p>Di dalam perjalanan kita mencari identitas sebagai orang Kristen, marilah kita menempatkan <strong>keselamatan yang kita terima sebagai anugerah dari Tuhan, dan kebenaran Alkitab sebagai pegangan.</strong> Begitu banyak komunitas di sekitar kita yang mengusung nilai identitas diri yang seolah-olah dari Tuhan, padahal mungkin bukan. Semoga kita ditempatkan di lingkungan yang Tuhan inginkan. Jangan berhenti cari kehendak Tuhan dalam hidup.</p>
<p><em>PS: Artikel ini sangat bias, renungkan baik-baik identitas anda di hadapan Tuhan, saya yakin anda semua sudah melalui berbagai macam proses hidup yang jauh berbeda dari apa yang saya alami. Yang saya percaya, Tuhan mengasihi anda apapun yang terjadi dalam hidup ini.</em></p>
<p>Video: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=VU_rTX23V7Q">Who am I &#8211; Casting Crown</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/03/siapa-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ajarlah Kami Berdoa</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/03/ajarlah-kami-berdoa/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/03/ajarlah-kami-berdoa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 07:55:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1346</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” &#62;&#62; Lukas 11:1 Kita biasanya meminta tips/kiat/saran (terbaik) dari seorang pakar (yang memang ahli di bidangnya), ya kan? Misalnya saja: Kepada Bill Gates (pengusaha yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/03/Praying-300x198.jpg" alt="" title="Praying" width="300" height="198" class="alignright size-medium wp-image-1347" />Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” &gt;&gt; Lukas 11:1</p>
<p>Kita biasanya meminta tips/kiat/saran (terbaik) dari seorang pakar (yang memang ahli di bidangnya), ya kan? Misalnya saja:</p>
<ul>
<li>Kepada Bill Gates (pengusaha yang sukses), kita meminta, “Ajarkan kami cara berwirausaha.”</li>
<li>Kepada Mozart (musikus legendaries, seandainya masih ada), “Ajarkan kami cara menikmati musik.”</li>
<li>Kepada Peter F. Saerang (salah satu ahli tata rambut terbaik di Indonesia), “Ajarkan kami cara memotong rambut.”</li>
<li> Kepada Janggeum (sekiranya masih hidup, Tabib Agung dinasti Chosun, Korea, perawat perempuan pertama yang melayani kaisar), “Ajarkan kami cara mendiagnosa penyakit.”</li>
</ul>
<p><span id="more-1346"></span><br />
Nah, sekarang kita beralih ke murid-murid Tuhan Yesus. Mereka sudah kurang lebih dua tahun bersama Yesus. Mereka duduk di barisan depan saat Tuhan Yesus mengajar dan berkhotbah. Mereka menyaksikan mujizat yang Ia buat. Namun, sejauh yang kita ketahui, mereka tidak pernah berkata, “Tuhan, ajarkan kami berkhotbah,” atau “Tuhan, ajarkan kami cara melakukan mujizat.” Mereka datang kepada-Nya dan meminta, “Ajarlah kami berdoa.”</p>
<p>Kenapa murid-murid malah meminta, <strong>“Tuhan, ajarlah kami berdoa”?</strong></p>
<p>“Bukankah doa itu sebenarnya mudah? Kan tinggal ngomong langsung ama Tuhan? Beres deh.” Barangkali seperti inilah doa menurut anggapan kita. Mudah sekali. Begitu mudahnya sehingga seringkali dilupakan, bahkan mungkin dianggap tidak perlu, “Ah, kan Tuhan sudah tahu siapa saya, sudah tahu pergumulan saya, ngapain sih mesti doa-doa segala. Resé banget sih?”</p>
<p>Sekali lagi, jika doa memang semudah yang kita bayangkan, ngapain juga murid-murid sampai meminta, “Tuhan, ajarlah kami berdoa”?</p>
<p>Ternyata, doa bukan hanya sekedar ‘kata-kata’ saja. Doa yang sungguh-sungguh itu merupakan hal yang sukar dan berat. F.J. Hugel menulis, “Doa merupakan karya yang begitu agung sehingga melampaui akal pikiran manusia.” Pekerjaan rohani adalah berat dan sukar, orang segan melaksanakannya. Doa yang sesungguhnya menyita perhatian dan waktu kita, dan hal itu tidak disenangi tubuh jasmani kita.</p>
<p>Dalam hidup Yesus, doa adalah pekerjaan dan pelayanan adalah pahala. Bagi kita, doa adalah persiapan untuk perang, tetapi bagi Yesus, doa adalah peperangan itu sendiri. Setelah berdoa, Ia pergi melayani seperti seorang murid teladan yang pergi menerima penghargaan, atau seperti seorang pelari maraton yang telah menyelesaikan pertandingannya dan sedang menantikan upacara pemberian medali emasnya.</p>
<p>Di manakah Yesus meneteskan keringat-Nya seperti tetesan darah? Bukan di ruang sidang Pilatus, bukan pula dalam perjalanan-Nya ke bukit Golgota, tetapi di taman Getsemani. Di sanalah Dia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut (Ibrani 5:7). Jika kita berada di sana, mungkin kita sangat kuatir akan hari esok. Kita berpikir Yesus sendiri saja ‘tegang’ untuk krisis yang belum terjadi, bagaimana kalau krisis itu benar-benar menimpa-Nya? Mengapa Dia tidak bisa menghadapi cobaan ini dengan perasaan tenang sementara ketiga murid-Nya tertidur? Akan tetapi, sewaktu ujian yang sebenarnya tiba, Yesus berjalan dengan berani menuju salib, sementara ketiga murid-Nya itu lari entah ke mana.</p>
<p style="text-align: center;">Hai kamu yang mengeluh dan merintih&#8230;<br />
Dan meratapi diri tak berdaya.<br />
Dengarkanlah bisikan yang lemah lembut ini,<br />
“Tak sanggupkah engkau berjaga sejam jua?”<br />
Untuk mendapatkan hasil dan berkat,<br />
tak tersua jalan yang mudah.<br />
Kekuatan bagi pelayanan yang suci,<br />
diperoleh dalam persekutan dengan Allah<br />
(dari No Easy Road, Dick Eastman)</p>
<p>Ya, ternyata doa yang sungguh-sungguh itu susah ya? Semoga kita termasuk ke dalam bilangan orang-orang rendah hati yang juga mau mengakui ketidaktahuan dan ketidakberdayaan kita dan berseru, “Tuhan, ajarlah kami berdoa.”</p>
<p>***<br />
Sumber: Dari buletin doa SMA3 Bandung thn 2007<br />
Mari bawa pergumulan kita dalam doa&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/03/ajarlah-kami-berdoa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengalami Tuhan</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/03/mengalami-tuhan/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/03/mengalami-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 16:56:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1318</guid>
		<description><![CDATA[Hidup beriman saya tuh datar-datar saja. Tidak ada yang istimewa. Sangat biasa. Oleh karena itu, saya ingin sekali mengalami mukjizat. Biar saya bisa merasakan kuasa Tuhan yang nyata, dan sungguh-sungguh mengalami kehadiran-Nya,&#8221; begitu seorang pemuda pernah berkata. Rupanya di benak pemuda itu, yang namanya &#8220;mengalami Tuhan&#8221; mesti melalui kejadian spektakuler; hal-hal di luar jangkauan akal. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/03/MengalamiTuhan-300x170.jpg" alt="" title="MengalamiTuhan" width="300" height="170" class="alignright size-medium wp-image-1322" />Hidup beriman saya tuh datar-datar saja. Tidak ada yang istimewa. Sangat biasa. Oleh karena itu, saya ingin sekali mengalami mukjizat. Biar saya bisa merasakan kuasa Tuhan yang nyata, dan sungguh-sungguh mengalami kehadiran-Nya,&#8221; begitu seorang pemuda pernah berkata. Rupanya di benak pemuda itu, yang namanya &#8220;mengalami Tuhan&#8221; mesti melalui kejadian spektakuler; hal-hal di luar jangkauan akal. Bisa jadi tidak sedikit pula orang yang beranggapan seperti itu.</p>
<p>Padahal tidak selalu demikian. Betul, Tuhan bisa menyatakan diri melalui peristiwa yang menakjubkan. Namun, kenyataan menunjukkan, Dia lebih kerap menyatakan diri melalui peristiwa biasa, dalam kejadian sehari-hari; entah udara segar yang kita hirup, hamparan pemandangan yang indah, kicau burung yang merdu di pepohonan, atau juga tawa riang gembira anak-anak yang tengah bermain.<span id="more-1318"></span></p>
<p>Hari ini kita membaca pengalaman Elia di Gunung Horeb, ketika ia melarikan diri dari Ratu Izebel. Ia sangat ketakutan dan putus asa. Tuhan lalu berfirman supaya Elia keluar dari gua tempat persembunyiannya (ayat 11). Awalnya datang angin besar dan kuat; membelah gunung, memecah bukit batu. Namun, tidak ada Tuhan di sana. Lalu datang gempa dan api, juga tidak ada Tuhan di sana. Kemudian datanglah angin sepoi-sepoi basa. Dan Elia merasakan kehadiran Tuhan (ayat 12,13).</p>
<p>Jadi sebetulnya, setiap hari pun kita dapat mengalami Tuhan; merasakan kuasa-Nya, dan menikmati kehadiran-Nya. Asal kita mau keluar dari &#8220;gua persembunyian&#8221; kita; dengan tidak membatasi kuasa dan kehadiran-Nya sebatas yang inginkan -AYA</p>
<p>***</p>
<p><em>Pas banget&#8230;.<br />
Berjalan bersama Tuhan itu dimensinya luas.<br />
Tidak harus melalui sesuatu yang menakjubkan,<br />
Tidak harus selalu melewati masalah berat,<br />
Tapi berjalan bersama Tuhan itu penuh dengan pergumulan.<br />
Di kala susah hati mengenal kepedihannya sendiri,<br />
Di kala senang orang lain tidak dapat turut merasakan kesenangannya.</em></p>
<p>Sumber: <a href="http://renunganharian.net/utama.php?tanggalnya=2010-03-02">e-RH</a><br />
Bacaan : 1 Raja-raja 19:9-18</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/03/mengalami-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>$3 Gospel</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/02/3-gospel/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/02/3-gospel/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 03:13:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=1146</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;I would like to buy about three dollars worth of gospel, please. Not too much – just enough to make me happy, but not so much that I get addicted. I don’t want so much gospel that I learn to really hate covetousness and lust. I certainly don’t want so much that I start to [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;I would like to buy about three dollars worth of gospel, please.<br />
Not too much – just enough to make me happy, but not so much that I get addicted.<br />
I don’t want so much gospel that I learn to really hate covetousness and lust.<br />
I certainly don’t want so much that I start to love my enemies, cherish self-denial, and contemplate missionary service in some alien culture.<br />
I want ecstasy, not repentance;<br />
I want transcendence, not transformation.<br />
I would like to be cherished by some nice, forgiving, broad-minded people, but I myself don’t want to love those from different races – especially if they smell.<br />
I would like enough gospel to make my family secure and my children well behaved, but not so much that I find my ambitions redirected or my giving too greatly enlarged.<br />
I would like about three dollars worth of the gospel, please.</p>
<p>(D. A. Carson, Basics for Believers: An Exposition of Philippians, pp. 12-13)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/02/3-gospel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keinginan</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/01/keinginan/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/01/keinginan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 01:09:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=1057</guid>
		<description><![CDATA[Betul, bahwa hidup gak selalu berjalan seperti yang kita ingin, malah gak jarang bertolak belakang. Kita ingin begini yang terjadi begitu. Kita ingin jalan lurus dan mulus, yang kita dapat jalan berbatu dan berliku. Tetapi bukan berarti lalu gak usahlah kita punya keinginan. Hidup mengalir seturut mood, berjalan mengikuti kehendak hati. Jangan. Keinginan tetaplah baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Betul, bahwa hidup gak selalu berjalan seperti yang kita ingin, malah gak jarang bertolak belakang. Kita ingin begini yang terjadi begitu. Kita ingin jalan lurus dan mulus, yang kita dapat jalan berbatu dan berliku.</p>
<p>Tetapi bukan berarti lalu gak usahlah kita punya keinginan. Hidup mengalir seturut mood, berjalan mengikuti kehendak hati. Jangan. Keinginan tetaplah baik dan perlu. Sebab keinginan itulah yang mengarahkan langkah kaki kita. Tanpa keinginan kita akan seperti layangan putus; terombang-ambing terbawa angin. Hidup gak ada juntrungnya.<span id="more-1057"></span></p>
<p>Hanya memang janganlah kita ini diperbudak oleh keinginan. Supaya kita gak terseret pada penghalalan segala cara untuk meraihnya, dan gak sampai &#8220;remuk redam&#8221; ketika gak bisa mencapainya. Kita harus jadi tuan atas keinginan kita. Dan mengiringi setiap keinginan dengan penyerahan diri kepada Sang Sumber Hidup.</p>
<p>***</p>
<p>Sumber: <a href="http://ayubyahya.blogspot.com/2009/01/catatan-hari-ini-025.html" target="_blank">Blognya</a> Pak Ayub Yahya.<br />
Ternyata selama ini klo baca <a href="http://www.renunganharian.net/" target="_blank">e-RH</a> suka ada kode &#8220;AYA&#8221; itu artinya yang nulis artikelnya itu Pak Ayub toh&#8230;saya baru tau.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/01/keinginan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cover-up</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/01/cover-up/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/01/cover-up/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 19:57:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=895</guid>
		<description><![CDATA[Suatu pagi di jalan tol dalam kota Jakarta, seorang pemuda melajukan mobilnya 150 kpj. Apes tak bisa ditolak, mobil polisi patroli jalan tol mengejar pemuda tsb. Tumben2nya, polisi patroli jalan tol peduli dengan orang ngebut di Indonesia. Berikut percakapan yang terjadi antara pemuda tsb dengan polisi berpangkat kopral itu. Kopral :   Selamat pagi, bisa lihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu pagi di jalan tol dalam kota Jakarta, seorang pemuda <a href="http://www.youtube.com/watch?v=Mh5CwKk-uZs" target="_blank">melajukan mobilnya 150 kpj</a>. Apes tak bisa ditolak, mobil polisi patroli jalan tol mengejar pemuda tsb. Tumben2nya, polisi patroli jalan tol peduli dengan orang ngebut di Indonesia. Berikut percakapan yang terjadi antara pemuda tsb dengan polisi berpangkat kopral itu.</p>
<p>Kopral :   Selamat pagi, bisa lihat SIM anda?<br />
Badu:      Waduh, saya gak punya pak.<br />
Kopral:    Kenapa?<br />
Badu:      SIM saya lagi ditahan di pengadilan gara2 kemarin ditilang.<br />
Kopral:    Hmmm&#8230;coba mana STNK?<br />
Badu:      Itu juga gak ada pak. Saya baru aja mencuri mobil ini.<br />
Kopral:    Hah? Anda mencuri mobil ini?<br />
Badu:      Iya pak. Saya membunuh orangnya, dan mayatnya masih ada di bagasi.<span id="more-905"></span></p>
<p>Kopral sontak kaget/takut kemudian berlari cepat ke mobilnya dan memanggil bala bantuan. Lima menit kemudian, tiga mobil polisi dengan senjata lengkap tiba di tempat kejadian. Sersan ambil alih situasi dan berbicara sama pemuda tsb. Berikut percakapannya yang terjadi.</p>
<p>Sersan:    Pak, tolong keluar dari mobil.<br />
Badu:      *Keluar mobil dengan santai* Iya, ada apa pak?<br />
Sersan:    Anak buah saya bilang anda baru mencuri mobil ini dan membunuh pemiliknya.<br />
Badu:      Hah? Membunuh pemilik mobil ini?<br />
Sersan:    Iya, bisa tolong buka bagasinya pak?<br />
Badu:      *Membuka bagasi, dan di bagasi gak ada apa2*<br />
Sersan:    Ini mobil anda?<br />
Badu:      Iya pak, ini saya ada STNK-nya dan juga SIM saya.<br />
Sersan:    *Semakin bingung* Anak buah saya bilang anda mencuri mobil ini, membunuh pemiliknya, dan menaruh mayatnya di bagasi.<br />
Badu:      *Sambil menggelengkan kepala* Saya yakin pembohong itu juga bilang kalau saya ngebut?</p>
<p>Haha&#8230;<br />
Some people go to great lengths to cover their sin.<br />
But let&#8217;s be honest, we are no different (:</p>
<p>***</p>
<p>Saya jadi inget &#8220;cover-up&#8221; pertama kali di dunia oleh Adam dan Hawa. <a href="http://sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=1&amp;c=3" target="_blank">Di Kejadian 3</a>. Sesaat setelah makan buah terlarang, ketika mereka mendengar langkah Tuhan, bersembunyilah mereka (ayat 8). Bisa dibilang, inilah salah satu natur dosa, <span style="text-decoration: underline;">rasa bersalah</span>. Lanjutin baca ayat 9, Tuhan <span style="text-decoration: underline;">mencari</span> mereka, &#8220;Di manakah engkau?&#8221;. Tuhan bukannya gak tau Adam &amp; Hawa ada dimana, tapi ngapain Tuhan nanya? Tuhan kan sebenarnya tau Adam &amp; Hawa lagi bersembunyi. Imho, Tuhan beri kesempatan Adam untuk menjelaskan apa yang terjadi (dan hopefully mengaku dosa). Tapi seperti yang kita ketahui Adam nyalahin Hawa. Hawa nyalahin ular. Dan akhirnya diusirlah mereka dari taman Eden.</p>
<p>See&#8230;satu dosa, satu cover-up, semua manusia yang harus nanggung sampai sekarang.</p>
<p>Dan sifat menutup-nutupi dosa pun berlanjut, <a href="http://sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=1&amp;c=4" target="_blank">Kain membunuh Habel</a>, lagi-lagi Tuhan tanya, &#8220;Dimana Habel?&#8221;. Kain bilang &#8220;Aku tidak tahu!&#8221;&#8230;kisah-kisah cover-up berulang terus, bahkan sampai ke jaman Daud, kegiatan menutup-nutupi dosa semakin canggih dan keji.</p>
<p>***</p>
<p>Sebelumnya, ketika kita membaca artikel ini, saya mengajak pembaca untuk merefleksikan kisah-kisah ini ke dalam kehidupan masing-masing. Kadang kita begitu mudah untuk menjadi judgmental atau menghakimi Daud, padahal kita sendiri tidak berbeda dengan Daud. Daud yang akan kita bahas adalah Daud yang sama yang dipilih Tuhan, Daud yang artinya &#8220;a man after God&#8217;s heart&#8221;. Oke, mari kita bahas tentang &#8220;cover-up&#8221; atau mungkin lebih tepatnya konspirasi Daud &#8211; Betseba.</p>
<p>Coba bayangin situasi Daud. Waktu itu Daud umurnya sekitar 50 tahun. Udah 20 tahun jadi raja. Menang perang terus. Dia tau Tuhan berada di pihaknya. Mungkin karena saking nyamannya, Daud mulai melanggar perintah Tuhan. Misalnya, Tuhan melarang Daud memperbanyak istri (<a href="http://sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=5&amp;c=17&amp;version=tb&amp;lang=indonesia&amp;theme=clearsky" target="_blank">Ulangan 17:14-17</a>), tapi Daud menambah istri terus. Daud mestinya pergi berperang, tapi dia ada di istana, membiarkan anak buahnya berperang (2 Sam 11:1). Dengan kondisi seperti ini lah, Daud jatuh.</p>
<p>Di sisi lain, Betseba yang kata Alkitab sangat cantik (<a href="http://sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=10&amp;c=11&amp;version=tb&amp;lang=indonesia&amp;theme=clearsky" target="_blank">2 Sam 11:2</a>), mandi di atap rumah. Mungkin common pada jaman itu, tapi di salah satu buku commentary yang saya baca, Betseba sebenarnya sadar kalau dia mandi di atap, dia bisa terlihat dari Istana Daud (hmmm&#8230;Betseba sendiri menyebar temptation?). Daud yang udah penuh lust menyuru anak buahnya cari info tentang Betseba, dan anak buahnya menjawab &#8220;Dia itu Betseba, istrinya Uria&#8221;. Disini anak buahnya udah coba peringati Daud kalo ybs itu istri orang. Singkat cerita, terjadilah perzinahan, Daud menghamili Betseba.</p>
<p>&#8220;Cover-up&#8221; dimulai. Daud tau dia salah. Tapi dia coba tutupi kesalahan dia, dia coba menyelesaikan masalah dengan cara manusia. Dia atur sedemikian rupa supaya Uria pergi berperang dan mati. Kemudian setelah Uria meninggal, Daud menikahi Betseba. Tapi walaupun Uria udah meninggal, Daud kemudian menikahi Betseba, tapi Daud malah merasa semakin miserable, semakin merasa bersalah, hancur-hancuran. Ada rasa bersalah (guilty) yang Tuhan ijinkan terjadi di dalam hati Daud.</p>
<p>Mazmur 32:3-4 yang dia tulis demikian:</p>
<blockquote><p>Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. (Mazmur 32:3-4)</p></blockquote>
<p>***</p>
<p>Bukan kah kita juga pernah (atau mungkin sering?) mengalami seperti itu. Kita sering berkata &#8220;Tuhan, jangan lihat aku sekarang. Tuhan tutup mata dulu lah&#8221;. Kemudian kita melakukan apa yang sebenarnya Tuhan udah larang, walaupun mungkin larangan itu adalah hal yang kecil. Ujung-ujungnya setelah melakukan dosa, ada rasa bersalah yang membuat hidup semakin hancur. Kita merasa Tuhan menjadi jauh (padahal kita sendiri yang lagi bersembunyi dari Tuhan?). Kalau kita pikir, dari jaman Adam &amp; Hawa sampai sekarang yang kita alami, polanya sama. Tuhan larang &#8211;&gt; Tuhan peringatkan &#8211;&gt; Kita melarang perintah Tuhan &#8211;&gt; Kita merasa bersalah &#8211;&gt; Kita coba cari solusi sendiri &#8211;&gt; Kita merasa hancur/miserable, hidup penuh dengan rasa bersalah dan menyesal.</p>
<p>Baru-baru ini &#8220;cover-up&#8221; Tiger Woods baru terkuak di media. Hidup rumah tangga yang berantakan dipoles sedemikian hingga (dengan biaya jutaan dollar), agar terlihat baik di hadapan orang. Saya yakin dalam hatinya, Tiger Woods sendiri merasa bersalah ketika menutup-nutupi hidup yang sebenarnya. Ini kisah orang terkenal, diliput di media, tapi sebenarnya kita sendiri juga ada kisah masing-masing, yang mungkin cuma kita dan Tuhan yang tau.</p>
<p>Saya juga jadi ingat orang yang sakit lepra. Kalau udah parah, walaupun dia melukai bagian tubuhnya, gak akan terasa sakit. Gak kebayang kalau Tuhan udah gak kasih kita rasa bersalah (guilt), kita sebenarnya lagi melukai hidup ini, tapi kita sendiri gak tau/sadar. <span style="text-decoration: underline;">Mengerikan</span>. Saya percaya rasa bersalah yang sejati (true guilty feeling) adalah salah satu cara Tuhan untuk memimpin kita kembali pada Tuhan. Rasa bersalah sebelum kita melakukan dosa adalah suatu &#8220;alarm&#8221; yang Tuhan tanamkan dalam diri kita, sebelum kita melukai diri kita sendiri.</p>
<p>***</p>
<p>Kembali ke cerita Daud yang hancur merasa bersalah. Tuhan masih melakukan pola yang sama, Tuhan mencari Daud. Tuhan mengirim Nabi Nathan untuk confront Daud (coba baca <a href="http://sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=10&amp;c=12" target="_blank">2 Samuel 12</a>, seru). Dan bagian indah dari cerita ini, Daud bertobat. Walaupun bertobat, ada harga yang harus dibayar oleh Daud (baca di 2 Samuel). Setelah dikunjungin Nathan, Daud menulis Mazmur 51:2-3.</p>
<blockquote><p>Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (1 Yoh 1:9)</p></blockquote>
<p>Cover-up seringkali terlihat simple, terlihat seolah-olah bisa menyelesaikan masalah. Tapi implikasinya bisa panjang dan mengerikan. Kita tau itu salah, tapi kita diam saja, even worse kita pelihara habit itu. Kita gak mungkin berdiri di atas dua perahu, tidak mungkin terus-terusan berbuat dosa (dan tidak bertobat), dan bisa punya hubungan pribadi dengan Tuhan di waktu yang sama.</p>
<p>Next time Tuhan kasih kita rasa bersalah, mungkin itu peringatan awal untuk tidak berbuat dosa.<br />
Semoga artikel ini bisa menjadi berkat ^_^</p>
<p>***</p>
<p>Side notes:</p>
<ul>
<li> Jangan nyetir kaya orang di video di atas. Reckless.</li>
<li> Terima kasih untuk buku &#8220;Daud&#8221; karangan Charles Swindoll yang dipinjamkan pada saya. Bukunya tebal dan bagus, saya bacanya pelan-pelan. Jadi mungkin baru 2-3 bulan lagi saya balikin? ^_^</li>
<li> Terima kasih untuk liburan kali ini yang Tuhan kasih. Banyak hal yang diberesin, waktu gak terbuang sia-sia. Gak terasa Senin saatnya kembali bekerja, semoga bisa menyempatkan menulis/berbagi perenungan dan cerita sehari-hari di blog ini.</li>
<li> Somehow, kalau melihat ke belakang blog ini, udah nulis banyak juga. Tapi kadang malah sering lupa? Semoga bisa ada waktu untuk merenungkan/menerapkan apa yang ditulis. Otherwise, sia-sialah menulis.</li>
<li> Ketika nulis post ini, jadi ingat diskusi group bbrp bulan lalu. Dimana kita semua sebagai satu group punya banyak hal yang kita tau salah, tapi seolah-olah susah berubah/diubah? hmmm&#8230;jangan menyerah</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/01/cover-up/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolah Kehidupan &quot;Padang Gurun&quot;</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/12/sekolah-kehidupan-padang-gurun/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/12/sekolah-kehidupan-padang-gurun/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 21:44:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=768</guid>
		<description><![CDATA[Artikel di bawah ini ditulis oleh abang saya pertengahan tahun 2006 yang lalu sewaktu dia masih jadi guru agama di SMAN 3 Bandung. Artikel ini sebenernya satu bab di buku karangan Charles Swindoll yg berjudul Musa. Semoga bisa menjadi berkat. Artikelnya bener-bener panjang buat dibaca (Take your time, I think it&#8217;s worth reading). *** Satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel di bawah ini ditulis oleh abang saya pertengahan tahun 2006 yang lalu sewaktu dia masih jadi guru agama di SMAN 3 Bandung. Artikel ini sebenernya satu bab di buku karangan Charles Swindoll yg berjudul Musa. Semoga bisa menjadi berkat. Artikelnya bener-bener panjang buat dibaca (Take your time, I think it&#8217;s worth reading). ***</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-774" title="desert2" src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2009/12/desert2-300x192.jpg" alt="desert2" width="300" height="192" /></p>
<p>Satu demi satu, setiap anak berbaju putih-biru berbaris menuju aula. Ini adalah hari pertama bersekolah di SMA Negeri 3 Bandung.</p>
<p>Waktu berjalan begitu cepat hingga akhirnya sekarang tanpa terasa Anda sudah tiba di akhir dari tahun ajaran ini. Beberapa minggu lagi akan dilangsungkan Ujian Akhir Semester, setelah itu pembagian rapor dilanjutkan dengan libur kenaikan kelas untuk siswa kelas 1 dan 2.</p>
<p>Sekolah tetap ramai. Banyak orang tua mendaftarkan putra-putrinya yang baru saja lulus SMP untuk dapat melanjutkan studi di SMA Negeri 3 pada tahun ajaran baru.</p>
<p>Sementara siswa kelas 2 dan 3 yang baru naik kelas dari tingkat sebelumnya mengisi waktu liburan dengan berdiam diri di rumah, jalan-jalan bersama keluarga dan atau bersama teman, siswa kelas 3 yang baru saja lulus sedang berjuang dan bergumul tentang masa depannya. Kuliah atau tidak? Jika kuliah, akan mendafatar di mana saja dan mengambil jurusan apa?</p>
<p>Itulah rutinitas SMA.<span id="more-768"></span></p>
<p>Tuhan Yesus juga memiliki sekolah. Sekolah ini tidak memiliki ruang kelas, laboratorium ataupun lapangan olah raga. Juga tidak terdaftar di Departemen Pendidikan Nasional atau di institusi manapun. Tapi sekolah ini merupakan tempat belajar paling dalam yang pernah Anda hadiri.</p>
<p>Saya tahu karena saya adalah salah satu alumninya. Saya pernah berada di sana&#8230; beberapa kali. Jauh sebelum saya, Musa, salah satu pemimpin besar Israel, pernah ditempa di sekolah yang sama: sekolah padang gurun.</p>
<blockquote><p>Pada waktu itu, ketika Musa telah dewasa, ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka; lalu dilihatnyalah seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu.  Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir.</p>
<p>Ketika keesokan harinya ia keluar lagi, didapatinya dua orang Ibrani tengah berkelahi. Ia bertanya kepada yang bersalah itu: &#8220;Mengapa engkau pukul temanmu?&#8221;</p>
<p>Tetapi jawabnya: &#8220;Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu?&#8221; Musa menjadi takut, sebab pikirnya: &#8220;Tentulah perkara itu telah ketahuan.&#8221;</p>
<p>Ketika Firaun mendengar tentang perkara itu, dicarinya ikhtiar untuk membunuh Musa. Tetapi Musa melarikan diri dari hadapan Firaun dan <strong>tiba di tanah Midian</strong>…<br />
&gt;&gt; Keluaran 2:11-15</p></blockquote>
<p>Tanah Midian mewakili gambaran tentang sekolah Allah. Ini adalah tempat yang sunyi: batu-batuan yang tidak rata, pasir yang tak meninggalkan jejak, panas yang melemahkan hidup. Ada orang-orang yang menghabiskan beberapa minggu dalam kesunyian itu. Yang lain, berbulan-bulan. Musa berjalan di tanah tandus itu selama empat puluh tahun. Sekali lagi, empat puluh tahun.</p>
<p>Di sekolah inilah, Tuhan menempatkan anak-anak-Nya untuk suatu tugas khusus di dalam kehidupan. Tidak ada hal glamor, penuh dengan warna, atau hal-hal menarik mengenai padang gurun yang khusus ini. Padang gurun tidak pernah didesain untuk menjadi seperti demikian.</p>
<p><strong>Wajah-Wajah Padang Gurun</strong></p>
<p>Midbaar adalah kata Ibrani untuk padang gurun. Berasal dari kata dahbaar, yang berarti berbicara. Ya, inilah tempat di mana Tuhan berbicara, tempat di mana Dia mengkomunikasikan beberapa pesan yang paling penting untuk Anda.</p>
<p>Terpisah dari pengalaman padang gurun itu, Anda mungkin menjalani seluruh hidup Anda tanpa pernah mendengar atau mengetahui apa yang ingin disampaikan Allah semesta alam kepada Anda. Tempat terbuang &#8211; seperti padang gurun akan mengubah hal itu. Di tempat yang sunyi ini, Anda menemukan diri Anda menanggalkan semua hal di mana Anda bergantung dengan nyaman &#8211; yaitu semua hal yang Anda pikir Anda butuhkan di dalam hidup namun ternyata Anda tidak memerlukannya sama sekali.</p>
<p>Sangat sunyi di tempat luas, tempat buangan berpasir itu. Begitu sunyi sehingga Anda dapat mendengar detak nadi Anda di telinga Anda sendiri. Begitu sunyi sehingga Anda dapat mendengar suara Allah.</p>
<p>Masa padang gurun setiap orang mungkin sama sekali tidak serupa dengan padang gurun yang sebenarnya. Bisa saja di dalam sebuah rumah kosan di jalan Bali, sebuah villa di Puncak, atau apartemen yang tinggi dan mewah di Jakarta. Pengalaman padang gurun Anda mungkin dengan merawat anggota keluarga yang sakit atau merawat orang tua. Anda untuk masa waktu yang lama, di mana tidak ada pertolongan dan tidak ada kebebasan. Perhentian Anda di tanah kering ini mungkin sebuah kondisi fisik yang keras yang membuat ruang gerak Anda dibatasi. Bisa jadi luka ~ hati yang mendalam yang datang melalui pasangan Anda yang tidak setia. Atau remaja yang memberontak. Bisa dari suatu tempat di mana Anda mempunyai banyak teman dan ikatan keluarga yang baik sampai ke tempat yang terlihat aneh dan asing, di mana Anda tidak mengenal seorang pun. Anda merasa terasing&#8230; tersisihkan. Itu bisa juga sebuah kegagalan di sekolah, penolakan oleh sahabat lama, kebosanan, pekerjaan yang tidak dihargai, atau sebuah batas waktu yang menggilas Anda seperti sebuah beban berat yang kasar.</p>
<p>Padang gurun mengenakan banyak wajah. Bisa jadi penuh dengan orang-orang, namun kesepian. Bisa jadi hujan siang dan malam tanpa henti, namun tetap tandus. Bunga-bunga mungkin bermekaran dan pohon-pohon mungkin bertunas di sekitarr Anda, namun Anda masih saja merasa terisolasi.</p>
<p>Apakah Allah tahu? Apakah Dia mengerti? Dia paham dengan sangat baik, temanku. Lagipula, Dialah yang menaruh Anda di sana. Sekolah-Nya termasuk waktu dalam padang gurun. Di sanalah Dia mendapat perhatian Anda.</p>
<p><strong>Auman Padang Belantara</strong></p>
<p>Di dalam kitab Ulangan 32, Roh Kudus menulis kata-kata tentang perjalanan bangsa Israel.</p>
<blockquote><p>Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.<br />
&gt;&gt; Ulangan 32:10</p></blockquote>
<p>Kata ‘-Nya’ dalam ayat ini adalah Allah, dan kata ‘dia’ merujuk kepada orang-orang Ibrani. Tetapi marilah Anda menerapkan kata-kata Tuhan ini kepada diri Anda sendiri. Taruh nama Anda di dalam ayat yang menyebut kata ‘dia.’ Didapati-Nya &#8230;(Anda)&#8230; di suatu negeri, di padang gurun. Allah mendapati &#8230;(Anda)&#8230; di tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dan diawasi-Nya &#8230;Anda&#8230; Dijaga-Nya &#8230;Anda&#8230; sebagai biji mata-Nya.</p>
<p>Tuhan, yang membuat Anda berada dalam padang gurun itu, mengetahui dengan persis pengalaman tanah terbuang yang seperti apa yang Anda butuhkan. Dia tahu persis tempat yang tepat di mana keriuhan hidup didiamkan, dan Anda akan mampu mendengar suara-Nya. ‘Auman padang belantara’ Anda bisa sangat berbeda dari pengalaman saya. Allah tahu kedalaman hati setiap Anda; Dia memahami apa yang diperlukan untuk membebaskan Anda dari tongkat-tongkat penyangga yang menghalangi Anda berlari dalam kehendak-Nya dan dari suara-suara yang menahan Anda untuk mendengarkan petunjuk firman-Nya dan kasih-Nya yang lembut. Dia mengetahui bagaimana mengatur kurikulum Anda di sekolah padang gurun ini, membangun suatu kualitas karakter dalam hidup Anda yang jika Anda tidak mengikuti-Nya Anda tidak dapat memperolehnya.</p>
<p>Isolasi selalu menjadi bagian dari pengalarnan padang belantara. Jangan pernah lupakan hal itu. Sekali Allah menemukan padang gurun apa yang Anda perlukan, Dia memimpin Anda masuk ke dalam bis dan kemudian pergi ke sana, Setidaknya seperti itulah kelihatannya. Dan perasaan yang tiba-tiba Anda alami adalah:</p>
<ul>
<li> “Allah hilang! Dimanakah Dia?”</li>
<li> “Dia meninggalkanku di tempat ini!”</li>
</ul>
<p>Di tengah pengalaman yang menyakitkan Anda tiba-tiba mendapati diri Anda tidak lagi dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang biasanya dapat Anda lakukan. Ketakutan menguasai Anda. Anda mengatakan kepada diri Anda sendiri, “Saya kehilangan karunia-karunia rohani saya. Saya tidak berguna lagi. Saya dilupakan! Allah meninggalkan saya. Waktu semakin singkat. Kesempatan-kesempatan telah lewat. Saya tidak pernah dapat keluar dari tempat ini.”</p>
<p>Sebelum Anda melanjutkan perjalanan untuk dapat merasakan perasaaan ditinggalkan, bagaimanapun juga, Anda perlu untuk melihat lebih dekat ke ayat di kitab Keluaran ini. Di tempat ‘auman padang belantara’ Allah melakukan empat perkara. Pertama, Dia mengelilingi Anda. Kedua, Dia mengawasi Anda. Ketiga, &#8216;Dia menjagai Anda sebagai biji mata-Nya. Bukankah hal itu sangat indah? Pada saat Anda memikirkan tentang hal itu, Anda menyadari biji mata Anda adalah bagian yang paling terlindung di seluruh tubuh Anda. Anda tidak akan membiarkan seorang pun menyentuhnya. Anda melindunginya dengan perawatan yang sangat baik. Anda mengamankannya dari sinar matahari. Anda merawatnya terus-menerus. Apabila ada benda kecil yang menyentuh membrannya, Anda mengambil langkah yang paling cepat untuk mengeluarkannya dari mata Anda.</p>
<p>Di padang gurun, Andalah biji mata Allah. Untuk membuat Anda takjub, Anda akan mendapati bahwa Allah tidak membiarkan atau meninggalkan Anda. Faktanya, Dia memperhatikan Anda lebih daripada waktu-waktu lain dalam kehidupan Anda. Biarlah pikiran itu membuat Anda menjadi berani, adikku. Jika Anda menemukan diri Anda ada di padang gurun hari ini.</p>
<p>Hal keempat yang Dia lakukan adalah menuntun Anda. Tidak peduli apakah Anda mengetahuinya atau tidak, merasakannya atau tidak. Bahkan Anda percaya atau tidak, Allah tidak menarik tangan-Nya dari hidup Anda. Anda akan merasa ditelanjangi dan diamat-amati di tanah yang kosong itu, namun sebelumnya Dia mengembangkan sayap-Nya untuk menaungi Anda.</p>
<blockquote><p>11Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya, 12demikianlah <span style="text-decoration: underline;"><strong>TUHAN sendiri</strong></span> menuntun dia, dan tidak ada allah asing menyertai dia.<br />
&gt;&gt; Ulangan 32:11-12</p></blockquote>
<p>Tuhan sendiri (ayat 12). Ya, Dia sendiri yang menuntun Anda. Tidak ada orang lain yang menuntun Anda melalui padang gurun. Tidak ada rambu-rambu, tidak ada kios-kios informasi, tidak ada peta dengan tanda panah yang tertulis ‘Anda berada di sini. Faktanya, Anda tidak mengetahui di mana Anda berada. Anda tidak mengetahui kapan (atau bilamana) Anda meninggalkan padang belantara yang menekan itu. Namun Allkitab sendiri yang telah memberitahukan kepada Anda bahwa Dia sendiri yang menuntun Anda.</p>
<p><strong>Pintu Masuk ke Padang Gurun</strong></p>
<p>Bagaimana dan kapan setiap orang masuk ke padang gurun bisa jadi berbeda-beda. Anda mungkin sedang menikmati studi di institusi pendidikan bergengsi (yang mungkin membuat dirinya merasa ‘lebih’ daripada orang lain) berpikir mereka akan memiliki prospek yang gemilang setelah selesai kuliah. Tetapi sekarang, untuk alasan apapun, Anda menemukan diri Anda berakhir dalam kegagalan.</p>
<p>Mungkin Anda adalah seorang atlet sekaligus pelajar, dan Anda berusaha selama bertahun-tahun untuk menajamkan kemampuan Anda hanya untuk menjadi pemain cadangan pada tahun Anda seharusnya menjadi senior karena sekarang ada seorang adik kelas yang lebih bersinar, merenggut posisi Anda dari susunan pemain inti.</p>
<p>Mungkin Anda menikmati kesehatan yang baik dan kekuatan selama hidup Anda, dan tiba-tiba dokter memberitahu Anda, “Anda tahu. Saya mendeteksi sebuah noda di paru-paru Anda. Sejujurnya, saya tidak menyukai apa yang saya lihat itu.” Atau, “Kami sudah memeriksa biopsi, dan kelihatannya tidak baik. Sebenarnya, ada sesuatu yang ganas di situ.”</p>
<p>Infomasi seperti itu membuat Anda bergetar, dan dalam hati Anda menangis, Di manakah Allah? Bagainana saya dapat berlindung? Bagaimana saya menanganinya? Atau Anda adalah seorang lajang, menunggu (dan menunggu) orang yang tepat yang melangkah ke dalam hidup Anda. Bulan demi bulan dan tahun demi tahun telah berlalu, harapan Anda untuk dibelai dan disayangi sudah sama seperti nyala lilin yang mulai bergoyang-goyang.</p>
<p>Bagi yang lain, padang gurun itu adalah perkara yang memilukan dari seorang yang sangat Anda kasihi telah meninggalkan Anda, tanpa harapan bahwa dia akan kembali. Dia telah pergi. Dan angin hambar mulai bertiup. Atau Anda menemukannya melalui sebuah rantai peristiwa di mana sahabat karib Anda memfitnah Anda. Sebuah pintu lain menuju padang gurun!</p>
<p>Kering. Sendirian. Anda merasa muram dan sedih. Tetapi apapun emosi Anda, Alkitab berkata Anda tidak sendiri. Allah berada di sana. Dia mengelilingi Anda. Memperhatikan Anda. Menjagai Anda seperti biji mata-Nya. Dan Dia berjanji akan menuntun Anda melewati habitat aneh yang tanpa petunjuk ataupun jalan pintas itu. Anda tidak meninggalkan Dia, atau Dia tidak meninggalkan Anda. Faktanya, Dia mungkin lebih dekat kepada Anda di masa-masa seperti ini daripada sebelumnya.</p>
<p><strong>Padang Gurun Dibuat Khusus Untuk Anda</strong></p>
<p>Dengar apa yang Musa sampaikan kepada orang Israel mengenai apa yang harus mereka lakukan ketika memasuki Tanah Perjanjian:</p>
<blockquote><p>Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.<br />
&gt;&gt; Ulangan 8:2-3</p></blockquote>
<p>Mengapa Allah memimpin kita melalui padang gurun? Mari kita mencari jawaban dari Musa, yang merupakan seorang yang ahli dari sekolah padang belantara Allah. Itu supaya Ia merendahkan hati kita, menguji kita,  sehingga kondisi hati kita yang sebenarnya disingkapkan. Tidak untuk supaya Allah mengenal Anda (karena Dia telah mengenai Anda), tetapi supaya Anda mengenai diri Anda sendiri. Tidak ada tempat yang seperti padang gurun yang membantu Anda mengenai diri Anda sendiri.</p>
<p>Pada saat Anda mengungkap semua perangkap, menanggalkan semua topeng, melucuti semua pakaian yang palsu, Anda mulai melihat identitas yang asli &#8211; wajah yang tidak pernah tampak selama bertahun-tahun. Bahkan mungkin tidak pernah tampak. Itulah yang padang gurun lakukan untuk Musa. Itulah yang dilakukannya untuk saya, di dalam persinggahan padang belantara dari kehidupan saya. Itu akan merendahkan hati Anda. Itu akan menunjukkan kekuatan dan kelemahan Anda. Itu akan membantu Anda menemukan diri Anda sendiri seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya.</p>
<p>Lagu klasik ‘How Firm A Foundation’ (1787) melukiskan hal ini dengan sangat baik.</p>
<blockquote><p>When through fiery trials thy pathways shall lie,<br />
My grace, all sufficient, shall be thy supply;<br />
The flame shall not hurt thee; I only design<br />
Thy dross to consume, and thy gold to refine.</p>
<p>Ketika melalui panasnya alur pencobaan jalanmu terhampar<br />
Kasih karunia-Ku cukup memenuhi kebutuhanmu<br />
Api tak akan menyakitimu; Aku telah merancang<br />
itu hanya membakar kotoranmu, memurnikan emasmu</p></blockquote>
<p>Allah tidak pernah menaruh kita melalui dapur api yang mengerikan di padang gurun untuk menghancurkan kita. Dia melakukannya untuk memurnikan kita.</p>
<p><strong>Tidak Ada Jalan Pintas</strong></p>
<p>Tidak ada jalan keluar (kabur atau melarikan diri) dari padang gurun sebelum waktu-Nya. Tidak ada cara apapun yang sanggup mempersingkat waktu-Nya. Seorang penulis dengan bijaksana berkata: “Waktu bukanlah obyek bersama Allah, yang menuntut kualitas dengan segala harga yang harus dibayar. Di sana tidak ada cacat akibat penggosokan di bawah tahun-tahun latihan pendisiplinan, atau usaha untuk mengambil jalan pintas. Itu akan terbukti menjadi jalan kuldesak (jalan buntu).”</p>
<p>Betapa benar. Jika Anda mencoba membuat jalan pintas dalam perjalanan padang gurun Anda, Anda akan memimpin diri Anda ke dalam jalan buntu.</p>
<p>Anda akan tetap berada di padang gurun untuk belajar melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah Anda bayangkan akan Anda lakukan. Anda belajar mentoleransi ketidakenakan dan bertahan dengan situasi itu; Anda belajar menerima sejumlah keadaan yang tidak pernah Anda bayangkan akan menjadi bagian di dalam hidup Anda. Itu semua adalah bagian dari pelatihan, sebuah tingkatan dalam kurikulum di universitas padang belantara Allah. Setidaknya ada empat perkara penting yang bisa Anda pelajari di sekolah padang gurun.</p>
<p><strong>Bidang Kegelapan</strong></p>
<p>Bayangkan Musa yang menjadi selebritis di Mesir. Ia adalah seorang pangeran. Sorotan cahaya lampu mengikuti ke mana pun dia melangkah, sama banyaknya dengan cahaya lampu yang mengikuti pangeran William dan pangeran Harry dari Inggris. Setiap kali Musa berdiri, orang-orang menatapnya penuh harap. Setiap kali dia berbicara kepada mereka, orang-orang berhenti berbicara dan mendengarkannya. Setiap kali dia melangkah melewati jalan-jalan, kepala-kepala berpaling.</p>
<p>Kini, Musa bersama dengan para domba. Anda dapat mengatakan apa saja yang ingin Anda sampaikan. Anda dapat berkata-kata indah ketika membawakan puisi atau bernyanyi. Tapi kawanan domba tidak akan terkesan sama sekali.</p>
<p>Jika seorang teman Musa pada masa mudanya mengunjunginya, mungkin dia akan berkomentar, “Musa, engkau dulunya adalah yang terbaik di dalam latihan-latihan militer. Sekarang? Lihatlah, ‘pasukanmu’ hanya sekumpulan domba yang lamban.”</p>
<p>Mungkin Anda mengenal situasi ini. Anda sudah mengikuti berbagai macam pendidikan dan pelatihan. Dan Anda bertanya, “Mengapa Tuhan menempatkan aku di sini?”</p>
<p>Jawabannya karena Ia ingin kita terus belajar. Belajar untuk bergulat setiap hari dengan keterbatasan yang Anda miliki untuk bertahan. Anda dipaksa oleh padang gurun yang sebenamya untuk menyerahkan hak milik Anda, harta Anda, dan aktivitas yang sangat Anda sukai. Sekarang Anda ‘pasrah’ bertahan di atas dasar kehidupan. Itulah rencana Allah, adikku. Dan jika Anda ingin lulus dari sekolah padang gurun-Nya, Anda harus mengambil kelas kegelapan; itu adalah syarat pendidikan pertama di sekolah tersebut.</p>
<p>Seorang pujangga bernama Amy Carmichael menuliskan kata-kata ini:</p>
<p>Sebelum angin yang bertiup reda,<br />
Ajarkan Aku untuk berdiam dalam ketenangan-Mu;<br />
Sebelum kesakitan berlalu dalam damai,<br />
Biarkan aku, ya Allah, untuk menyanyikan Mazmur.<br />
Jangan biarkan aku kehilangan kesempatan untuk membuktikan<br />
Kepenuhan dari kaslh yang memampukan.<br />
Oh, Allah yang kasih, lakukanlah hal ini untukku:<br />
Mempertahankan kemerdekaan yang tetap.</p>
<p>Inilah kebenaran yang tidak dapat dipungkiri. Jika Anda tidak belajar untuk tinggal tenang dengan kegelapan,  maka Anda akan mengulangi pendidikan ini sampai Anda bisa melakukannya. Anda tidak dapat melompati bagian ini dan kemudian dianggap lulus.</p>
<p>Semua anak yang dikasihi Tuhan pernah belajar tentang kegelapan. Dalam film The Hiding Place, salah satu tayangan memperlihatkan Corrie Ten Boom sedang berkata kepada Allah bahwa ia ingin agar Dia memakai Corrie dengan cara apapun yang berkenan kepada-Nya, walaupun hal itu berarti kegelapan. Segera setelah itu, dia dijadikan tawanan oleh Nazi, bersama-sama dengan ayahnya. Dia lalu di pisahkan dari ayahnya. Ayahnya meninggal di dalam kamp kematian, lalu dia dipisahkan dengan paksa dari saudara perempuan yang dikasihinya. Kemudian Nazi mencampakkan Corrie ke dalam sel yang dingin dan lembab di Jerman. Pada akhir tayangan itu, dia tergeletak di sudut menggigil, dan dengan mata yang dipenuhi dengan linangan air mata dia berbisik kepada Tuhan, “Tetapi Allah, aku tidak tahu kalau aku harus sendiri.”</p>
<p>Itulah kegelapan.</p>
<p>Kita bisa mengatasi hampir semua hal selama di sana ada orang lain yang mendukung dan menolong kita untuk memikul beban. Tetapi dalam sekolah padang gurun Allah, kampusnya kosong, Tidak ada orang dalam organisasi siswa kecuali Anda sendiri, sebuah buku teks berjudul Kegelapan, dan banyak waktu untuk membaca buku itu.</p>
<p><strong>Bidang Waktu</strong></p>
<blockquote><p>Mendengar perkataan itu, larilah Musa dan hidup sebagai pendatang di tanah Midian. Di situ ia memperanakkan dua orang anak laki-laki. Dan sesudah empat puluh tahun tampaklah kepadanya seorang malaikat di padang gurun gunung Sinai di dalam nyala api yang keluar dari semak duri.<br />
&gt;&gt; Kisah Para Rasul 7:29-30</p></blockquote>
<p>Empat puluh tahun!</p>
<p>Musa datang ke padang gurun sebagai pendatang, dan empat puluh tahun kemudian, sekolahnya baru usai. Jadi selama tahun-tahun itu – dengan mempertimbangkan bahwa tahun-tahun itu adalah tahun-tahun di mana seseorang paling produktif &#8211; Musa menggembalakan kawanan domba di tempat yang mirip dengan halaman depan dunia orang mati.</p>
<p>Cepat. Ditekan. Dipadatkan. Bak-buk-bak-buk selesai. Begitulah cara hidup jaman modern. Tidak demikian cara belajar di padang gurun Allah. Ketika tiba saat berjalan bersama Allah, tidak ada hal yang disebut kedewasaan yang instant. Allah tidak memproduksi orang-orang kudus-Nya secara massal. Allah selalu menanganinya satu per satu, dan selalu berjalan lebih lama daripada yang kita harapkan.</p>
<p>Seorang aktivis tidak sabaran seperti Musa perlu tahun-tahun seperti itu di padang gurun agar dia melepaskan semua yang ia genggam erat selama ini &#8211; untuk meninggalkan jalur cepat dan menemukan jalur Allah. Pekerjaan Allah pelan namun teliti. Ia melakukannya untuk menajamkan Musa dan kemudian memakainya sebagai seorang yang tak pernah dipakai seperti itu sebelumnya.</p>
<p><strong>Bidang Kesunyian</strong></p>
<p>Banyak orang tidak tahan dengan kesunyian. Mereka merasa asing dengan kesunyian (mungkin itu sebabnya MP3 player maupun Apple i-Pod laku keras di pasaran).</p>
<p>Kesunyian memiliki suara yang menarik. Saya hampir lupa seperti apa. Jika Anda juga telah lupa, Anda perlu berjalan-jalan. Pergilah sejauh yang Anda perlukan untuk menjauh dari dengungan dan deruman dan keributan masyarakat. Jangan ke pantai, karena tempat itu adalah tempat dengan bunyi deburan yang terus-menerus. Tidak, Anda perlu mendaki tinggi ke atas gunung atau ke padang gurun, atau ke padang rumput luas di suatu tempat. Dan silakan, tinggalkan Walkman dan CD player Anda. Ambillah waktu untuk berdiam dan mendengar kesunyian yang mendalam.</p>
<p>Hal itu menakjubkan. Diamlah di sana untuk waktu yang cukup lama dan Anda mungkin mulai memperoleh kepekaan pada hal-hal yang telah Anda lupakan. Pikiran Anda akan mulai menyelidiki dangkalnya tingkat permukaan tempat di mana kebanyakan dari kita menghabiskan waktu kita. Memberikan waktu lebih lama di lingkungan itu, maka Anda akan menemukan diri maka Anda bertumbuh lebih dalam.</p>
<p>Bertahun-tahun, telah menjadi penyelidikan saya bahwa orang-orang terbesar di dunia adalah orang-orang yang telah mengalami kesunyian. Banyak seniman dan pemahat di dunia, mereka yang telah meninggalkan warisan berupa musik dan seni kepada kita, adalah orang-orang yang mengalami kesunyian dan kesendirian. Beberapa pemimpin besar dunia adalah orang-orang yang pemah menjalani hidup dalam keadaan kesepian.</p>
<p>Dalam karir panjang Musa sebagai seorang pemimpin, dia telah dipertanyakan, diserang, dituduh, dibenci dan dikhianati. Melalui itu semua, dia mengatasinya sendiri. Bagaimana dia bisa melalui itu semua? Bagaimana dia bertahan? Dia telah dilatih untuk menanganinya. Dia telah lulus dari sekolah padang gurun Allah bidang kesunyian. Dia telah belajar dengan baik. Dia tidak lagi membutuhkan orang lain untuk menepuk (menyemangati) dia dari belakang. Dia dapat benar melakukan apa yang Allah suruh untuk dia lakukan, bahkan di hadapan kenyataan yang pahit.</p>
<p><strong>Bidang Ketidaknyamanan</strong></p>
<p>Tandai itu. Tidak ada yang nyaman tentang Midian.</p>
<p>Itu adalah tempat yang keras, panas yang menekan dan sangat tidak diperhitungkan dalam hal kenyamanan ciptaan. Musa, yang telah diangkat keluar dari Sungai Nil sewaktu bayi dan tinggal di dekat sungai besar itu pada sebagian besar waktu empat puluh tahunnya, harus menyesuaikan diri di tempat di mana air menjadi komoditas yang sangat berharga. Dia belajar untuk hidup dengan tenggorokan yang kering, bibir pecah-pecah, dan kerutan abadi di ujung mata yang melindunginya dari sinar matahari yang menyilaukan.</p>
<p>Itulah kurikulum sekolah Allah di padang gurun; empat bidang utama dalam pendidikan supaya dapat lulus. Perhatikan dengan seksama bagaimana suatu proses terjadi melalui tahun-tahun belajar di padang gurun, karena hal itu sama dengan Anda dan saya. Allah harus menghancurkan beberapa penghalang luar yang keras dalam hidup kita sebelum Dia dapat memperbaharui jiwa kita. Tujuan utamanya adalah menerobos ke dalam batin kita. Seperti yang dikatakan Daud, “Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku” (Mazmur 51:8).</p>
<p>Apa itu kerak dalam hati, dan bagaimana Dia menerobos ke bagian tersembunyi? Pertama, Dia menemukan kesombongan lalu Dia menggunakan ampelas kegelapan untuk menyingkirkannya secara perlahan-lahan.</p>
<p>Lalu Dia menemukan kita dicengkeram ketakutan &#8211; trauma; masa lalu kita, kekuatiran akan masa depan kita, dan teror terhadap apa yang ada di depan &#8211; dan Dia menggunakan waktu-waktu yang berlalu untuk menyingkirkan ketakutan itu. Kita mempelajari hal-hal itu di luar kekuasan kita sama sekali; semuanya ada di  angan-Nya.</p>
<p>Pertemuan selanjutnya adalah penghalang berupa dendam atau kebencian &#8211; tirani kepahitan. Dia menghancurkan kerak itu dengan kesunyian. Dalam hadirat-Nya yang sunyi, kita memperoleh sudut pandang yang segar, perlahan-lahan kita melepaskan hak-hak berharga kita, dan melepaskan pengharapan yang menyandera kita.</p>
<p>Akhirnya, Dia turun ke kebiasaan dasar dalam hidup, begitu dekat ke dalam batin, dan di sana Dia membawa ketidaknyamanan dan kekerasan untuk menyingkirkan kerak terakhir yang masih ada. Mengapa? Begitulah Dia memperbaiki kita di akar terdalam dari kehidupan kita.</p>
<p>Sampah kita untuk dibakar&#8230; emas kita untuk dimurnikan.</p>
<p>V. Raymond Edman adalah Presiden dari Perguruan Tinggi Wheaton selama beberapa tahun, sebelum kematiannya yang tiba-tiba. Di dalam buku kecilnya yang berjudul In Quietness and Confidence, Dr. Edman menjelaskan pengalaman padang gurun pribadinya.</p>
<blockquote><p>“Sesuatu yang menyakitkan terjadi kepadaku. Inilah caraku menghadapinya: Aku berdiam untuk suatu waktu bersama Tuhan, lalu aku menuliskan kata-kata ini untuk diriku sendiri:</p>
<p>Pertama, Dia membawaku ke sini. Dengan kehendak-Nya, aku berada di tempat sempit ini: karena itulah aku beristirahat.</p>
<p>Kemudian, dia menjagaiku di sini dalam kasih-Nya, dan memberikanku kasih karunia.</p>
<p>Lalu, Dia akan membuat ujian berkat, mengajarkan aku pelajaran yang Dia inginkan untuk kupelajari, dan mengerjakan di dalamku kasih karunia yang Dia perlu anugerahkan</p>
<p>Terakhir, dalam waktu-Nya yang tepat Dia dapat membawa aku keluar lagi – bagaimana dan kapan hanya Dia yang mengetahuinya.</p>
<p>Biarkan aku berkata aku ada di sini, pertama, oleh karena pemilihan Allah, kedua, dalam perlindungan-Nya, ketiga, dibawah pelatihan-Nya, keempat, untuk waktu-Nya.”</p></blockquote>
<p>Tidak semua lulus. Kalaupun lulus, tidak semua telah mencapai tingkat kedewasaan yang sama dalam perjalanan kita bersama Yesus Kristus. Faktanya, ada tiga respon (tanggapan) yang berbeda yang dapat kita tawarkan ketika kita menemukan diri kita sendiri berada dalam padang belantara. Saya mengakui, saya pernah memberikan ketiga macam respon ini dalam hidup saya.</p>
<p>Respon pertama: “Saya tidak membutuhkannya.”<br />
Ini adalah respon kesombongan. Kita merasa bahwa teman sekelas kita membutuhkannya. Orang tua kita membutuhkannya. Guru kita membutuhkannya. Tetangga kita membutuhkan pengalaman seperti ini. Pasangan hidup saya membutuhkannya. Pembimbing rohani saya membutuhkannya. Atasan saya jelas membutuhkannya.<br />
Tetapi saya? Saya tidak membutuhkannya!.</p>
<p>Respon kedua: “Saya lelah akan semua hal ini.”<br />
Ini adalah respon yang tidak memandang jauh ke depan.</p>
<p>Respon ketiga: “Saya menerimanya.”<br />
Inilah respon yang ingin Allah dengarkan. Respon dari kedewasaan.</p>
<blockquote><p>Rasa sakit mengetuk pintuku dan berkata<br />
Bahwa ia harus datang dan tinggal;<br />
Dan sekalipun aku tidak menyambutnya<br />
Tetapi mengenyahkannya, ia masuk.<br />
Dan seperti bayang-bayangku sendiri, ia mengikutiku<br />
Dan dari tikamannya, pudang yang menyebabkan pedih,<br />
Tak satu momen pun aku bebas.</p>
<p>Dan kemudian satu hari yang lain mengetuk<br />
Sangat lembut di pintuku<br />
Aku berkata, “Tidak, sudah rasa sakit ada di sini.<br />
Tidak ada kamar yang lebih”</p>
<p>Kemudian aku mendengar suara-Nya yang lembut<br />
&#8220;Ini Aku, jangan takut.”</p>
<p>Dan sejak hari itu la masuk -<br />
Ah, Ia membuat sesuatu yang lain</p></blockquote>
<p>Pernahkah Anda menemukan diri Anda berkata sesuatu seperti ini? “Tuhan, Aku memberikan hidupku kepada-Mu tetapi aku benar-benar kelelahan terhadap pengikisan ini, orang ini, keadaan ini, situasi yang tidak nyaman ini. Aku rnerasa terperangkap, Tuhan. Aku ingin kebebasan &#8211; aku harus bebas! Dan apabila Engkau tidak membawa hal itu segera&#8230;  Aku akan&#8230;. ”</p>
<p>Anda bisa saja terus berjalan menjauh tetapi tidak ada jalan pintas. Inilah rencana yang lebih baik: raihlah tangan Penuntunmu! Dialah Tuhan atas padang gurun. Bahkan padang gurunmu. Obyek dari kasih Allah yang paling berharga adalah anak-Nya yang berada di padang gurun. Dan apabila mungkin, Anda lebih berarti bagi-Nya saat-saat ini lebih dari kapan pun, Anda sama seperti biji mata Allah. Andalah murid kesayangan-Nya yang mengambil pelajaran terkeras-Nya. Dia mengasihi Anda dengan kasih yang tiada terbatas.</p>
<blockquote><p>Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!<br />
&gt;&gt; Wahyu 3:19</p></blockquote>
<p>Tuhan Yesus sendiri dibawa oleh Roh ke padang gurun (Matius 4:1). Ia mengerti setiap jengkal pasir di padang gurun. Ia telah melalui padang gurun yang paling buruk dari semua padang gurun yang ada, pernah ada, dan yang akan ada.</p>
<p>Tuhan Yesus sendirian. Tidak ada yang pernah sesendiri Dia di tempat itu. Dia ditolak. Dia hidup dalam kegelapan. Dia mengalami penderitaan yang paling buruk yang dapat diberikan dunia dan neraka. Di atas salib Dia begitu kekeringan sehingga berkata, “Aku haus.” Dan ketika malam padang gurun itu adalah yang tergelap, Dia berteriak, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”</p>
<p>Yesus adalah yang pertama kali melintasi padang gurun itu. Dia merasakan panasnya. Dia mencicipi kesendiriannya. Dia menerima kegelapannya. Dia menghadapi Setan sendirian sementara angin padang gurun mengaum di sekelilingnya. Dan Dia tidak akan, tidak akan pernah melupakan atau meninggalkan salah seorang dari yang mengikuti-Nya mengarungi pasir padang gurun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/12/sekolah-kehidupan-padang-gurun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa, Lagu, dan Jawaban Doa</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/11/ketik-nama-depanku-v3/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/11/ketik-nama-depanku-v3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 19:25:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=664</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah perenungan minggu pagi&#8230;tentang doa, lagu, dan jawaban doa. Suatu minggu pagi di tahun 2008, saya bangun dengan hati yang letih, gak ada semangat karena lagi ada masalah yang sulit dimengerti, cukup overwhelmed, malas rasanya pergi ke gereja. Tuhan seolah tidak menjawab seruan minta tolong, Tuhan terasa jauh. Saya meneruskan tidur, ambil ipod dan shuffle [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah perenungan minggu pagi&#8230;tentang doa, lagu, dan jawaban doa.</p>
<p>Suatu minggu pagi di tahun 2008, saya bangun dengan hati yang letih, gak ada semangat karena lagi ada masalah yang sulit dimengerti, cukup overwhelmed, malas rasanya pergi ke gereja. Tuhan seolah tidak menjawab seruan minta tolong, Tuhan terasa jauh. Saya meneruskan tidur, ambil ipod dan shuffle lagu hymn. Satu jam kemudian, &#8220;Ah ya sudah lah, pergi ke gereja aja&#8230;masih bisa datang ke kebaktian kedua&#8221; pikir saya singkat. Di rumah juga udah sepi, semua housemate dah pada pergi ke gereja masing-masing.</p>
<p>Di gereja pas lagi mulai nyanyi dibikin kagum (juga merinding) ketika semua lagu yang didengar di ipod sebelumnya, semua dinyanyikan di acara kebaktian. Lagu pertama &#8220;His eye is on the sparrow&#8221;&#8230;dalam hati wah ini lagu yang tadi pagi didengerin, trus dilanjutkan lagu &#8220;be still my soul&#8221;..wah, lagu ini juga, kemudian lagi &#8220;how can I keep from singing&#8221;. Hah, kok bisa seperti ini? Lagu-lagunya, urutannya&#8230;kok bisa sama? Terlepas itu Tuhan yang atur atau sekedar kebetulan, pas perhatiin lirik lagunya ternyata artinya cukup dalam dan menjawab doa waktu itu&#8230;&#8221;why should I be discouraged?&#8221;&#8230;cerita di balik lirik itu ada <a href="http://lisariana.blogspot.com/2009/10/his-eyes-is-on-sparrow.html">disini</a>.<span id="more-664"></span></p>
<p>Melalui lagu-lagu di atas diingatkan kembali&#8230;mungkin kalo Tuhan bicara langsung begini, &#8220;<span style="text-decoration: underline;">Aku Tuhanmu ada disini. Janganlah kau khawatir. Walaupun kau jatuh tujuh kali, kau akan bangun kembali. Cukuplah kasih dan anugerahKu bagimu&#8221;</span>. Pagi itu dibuat speechless&#8230;udah setengah hati sama Tuhan, tapi Tuhan gak pernah setengah hati sama kita. Kita merasa Tuhan jauh, walaupun sebenernya Tuhan gak pernah jauh dari kita.</p>
<p>Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, sekarang jadi diingatkan kembali tuk mengikut Tuhan apapun yang terjadi di sekitar saya. Diingatkan kembali tuk janji-janji yang dibuat di hadapan Tuhan. Semakin hari semakin sadar bahwa ikut Tuhan merupakan suatu tantangan. Tuhan tidak pernah menawarkan kebahagiaan di luar diriNya sendiri. Semakin diingatkan bahwa hidup ini bukan tentang diri kita, tapi tentang Dia.</p>
<p>***</p>
<p>ps: ini lagi ngetest pake feature password protected post.<br />
pss: dibikin gak pake password deh.<br />
Notes: Bisa jadi ini post yang paling terasa melankolis (dan sentimental?)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/11/ketik-nama-depanku-v3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untuk apa beriman?</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/11/untuk-apa-beriman/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/11/untuk-apa-beriman/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 17:06:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=531</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah renungan bagus dari e-RH hari ini. Untuk apa Anda beriman? &#8220;Supaya saya mengalami mukjizat Tuhan&#8221;, &#8220;Supaya setiap kali berdoa, Tuhan mengabulkan doa saya&#8221;, &#8220;Supaya Tuhan senantiasa menjaga dan melindungi saya dari bahaya&#8221;, &#8220;Supaya kalau mati saya masuk surga.&#8221; Ungkapan-ungkapan tersebut kedengarannya sangat baik. Namun, sebetulnya itu mencerminkan pendangkalan makna. Kalau kita bekerja supaya mendapatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah renungan bagus dari <a href="http://www.renunganharian.net/utama.php?tanggalnya=2009-11-2">e-RH</a> hari ini.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-868" title="Faith" src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/01/faith.jpg" alt="Faith" width="160" height="106" />Untuk apa Anda beriman? &#8220;Supaya saya mengalami mukjizat Tuhan&#8221;, &#8220;Supaya setiap kali berdoa, Tuhan mengabulkan doa saya&#8221;, &#8220;Supaya Tuhan senantiasa menjaga dan melindungi saya dari bahaya&#8221;, &#8220;Supaya kalau mati saya masuk surga.&#8221; Ungkapan-ungkapan tersebut kedengarannya sangat baik. Namun, sebetulnya itu mencerminkan pendangkalan makna. Kalau kita bekerja supaya mendapatkan upah, itu wajar. Akan tetapi, kalau kita beriman supaya mendapatkan apa-apa yang kita inginkan, itu menunjukkan iman yang tidak tulus, berpamrih, dan kekanak-kanakan.<span id="more-531"></span></p>
<p>Iman yang dewasa seperti juga cinta yang dewasa selalu berarti tanpa syarat, tanpa pamrih. Bukan supaya; supaya mendapat ini dan itu yang kita mau, tetapi walaupun; walaupun hidup tidak berjalan seperti yang kita harap. Iman yang dewasa ini ditunjukkan oleh Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Ketika Raja Nebukadnezar membuat patung emas besar dan memerintahkan semua orang yang hidup di wilayahnya untuk menyembah patung itu, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menolak mengikuti perintah tersebut.</p>
<p>&#8220;Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu,&#8221; begitu mereka menjawab (ayat 16-18). Akibatnya, mereka harus berhadapan dengan hukuman. Akan tetapi, toh Tuhan tidak meninggalkan mereka</p>
<p>IMAN YANG DEWASA TIDAK TERGANTUNG PADA SITUASI DAN KONDISI</p>
<p>***</p>
<p>Nas: &#8230; bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu. (Daniel 3:18)</p>
<p>Renungan ini pas juga sih dengan buku yang saya lagi mulai baca tentang Teologi Kucing &amp; Anjing. Tentang bagaimana dua attitude serupa tapi tak sama dalam relationship dengan Tuhan&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/11/untuk-apa-beriman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Life-giving friends</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/10/life-giving-friends/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/10/life-giving-friends/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 22:56:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[Life can be very hard. &#8220;&#8230;no matter how hard we try to bring order and peace into our lives, there are moments when everything seems to be falling apart and times when we not only feel we are drowning but are sure someone or something is holding us under&#8221; (Paul J. Wadell, Becoming Friends, 112-113). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2009/10/friendship1.jpg" alt="friendship1" title="friendship1" width="300" height="198" class="alignnone size-full wp-image-502" /></p>
<p>Life can be very hard. &#8220;&#8230;no matter how hard we try to bring order and peace into our lives, there are moments when everything seems to be falling apart and times when we not only feel we are drowning but are sure someone or something is holding us under&#8221; (Paul J. Wadell, Becoming Friends, 112-113). Already we are seeing increasing incidences of depression, suicide and domestic violence as the global economy continues to tank. A closer look at the stats however, suggests that it is not the blows of life that finally get us. It&#8217;s having to face them alone.<span id="more-496"></span></p>
<p>My fear is that the pace and the structure of modern society leave many of us bereft of even one true friend much less two. Unfortunately the church community can be as lonely as the world. There is a prevalent triumphalism that teaches, or at least implies, that if you are walking right with God, you should have no problems, and that if you do have difficulties, you should be able to overcome them easily. Such an attitude leads to much superficiality in church-based relationships where people hardly know each other much less share their deepest struggles. We note that Jesus, truly God and truly man, and our model of what it means to be truly human, did not shy away from sharing His deepest struggles and His need for community.</p>
<blockquote><p>[Then Jesus went with them to the olive grove called Gethsemane, and he said, "Sit here while I go over there to pray." He took Peter and Zebedee's two sons, James and John, and he became anguished and distressed. He told them, "My soul is crushed with grief to the point of death. Stay here and keep watch with me." (Matthew 26:36-38 NLT)]</p></blockquote>
<p>We need our friends in good times, to share our joys, and we surely need our friends in tough times, to help give us the courage to carry on. Paul J. Wadell cites Aelred on this aspect of friendship.</p>
<p>[A second reason Aelred says we need good friendship is that life is often hard for us, more than any of us can handle alone ... None of us can navigate the perils of life alone, and we shouldn't try to do so. Sometimes we need to be rescued. Sometimes we need others to lean on, someone to take our hand and guide us along when our luck runs out, and this is what friends do for us. At moments of chaos and confusion, suffering and loss in our lives, they do not want us to be alone. They want to be with us and help us though our tribulations. (Becoming Friends, 112-113)]</p>
<p>I say a loud &#8220;amen&#8221; to Aelred and Wadell. As I look back on my life, I note the times of deep brokenness and despair. For each of those moments I can name the names of the friends who were there for me. Without them I would have been lost a long time ago. I cannot thank them enough. I can try to pass it forward. I can try to walk with my friends in their times of &#8220;chaos and confusion, suffering and loss&#8230;&#8221;</p>
<p>Do you have life-giving friends in your life? The thing is, you can&#8217;t treat friends like a fire extinguisher, &#8220;breaking the glass&#8221; to get to them only in times of crisis, when we need them. We value our friends for whom they are and not for what we can get out of them. Therefore in good times or bad we need to make time for our friends. We need to meet up with them regularly to share our lives. In good times we may fool ourselves into thinking that we can go it alone. One of the redeeming features of tough times is that it reminds us that none of us can go it alone.  We need God. And we need our friends.</p>
<p>Book cited. Wadell, Paul J.  Becoming Friends.  Grand Rapids, MI: Brazos Press, 2002. The quotation above I read in a presentation file given by a Navigator last month.</p>
<p>***</p>
<p>My brother wrote the above to me when I faced hard times in life. I truly believe that every problem will bring us closer to Lord Jesus, especially the unspeakable problem, it will make us strong. And I am thankful to be able to name the names of friends who were there for me <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/10/life-giving-friends/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Life comes down to the 2 dates and 1 dash</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/09/life-comes-down-to-the-2-dates-and-1-dash/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/09/life-comes-down-to-the-2-dates-and-1-dash/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 04:12:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[Every human has two dates and one dash. While I have no control over the family I was born into, the race, the gender, and the day of my death, I know I have a full control over of how I live my life &#8212; which is represented by the dash. Have I spent my [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Every human has two dates and one dash. While I have no control over the family I was born into, the race, the gender, and the day of my death, I know I have a full control over of <em>how</em> I live my life &#8212; which is represented by the dash. Have I spent my time on things that matter? Or is my movement only to fill the hours of my days?</p>
<p>If we know we only have one month to live, will our priorities shift? What matters most in this life? Jobs? Relationship? Family? Fame? Pride? Money? Or will you start thinking of God? Will you still focus on so-you-called God&#8217;s abundant blessings or you will focus on God himself?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/09/life-comes-down-to-the-2-dates-and-1-dash/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Which version of Bible should I read?</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/09/which-version-of-bible-should-i-read/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/09/which-version-of-bible-should-i-read/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2009 16:42:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=351</guid>
		<description><![CDATA[Well, this has been a question for many Christians over the ages. Having so many choices from KJV, NASB, ESV, NIV, NLT, up to The Message and LB Cotton Tail, we often confuse which version is true? I took a brief study to understand how bible was translated. Hope it can help. Quick facts of [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Well, this has been a question for many Christians over the ages. Having so many choices from KJV, NASB, ESV, NIV, NLT, up to The Message and LB Cotton Tail, we often confuse which version is true? I took a brief study to understand how bible was translated. Hope it can help.</p>
<p>Quick facts of the Bible. It was written in three languages: Hebrew (most of the Old Testament), Aramaic (some sections in the Old Testament), and Greek (the New Testament). Bible was written over a 1500 year span. Written by over 40 authors. Written in different places (from the wilderness, dungeon, prison walls, travelling, up to the isle of Patmos). Written in times of war and peace. Written in different moods. Written on three continents. But&#8230;the most important thing we need to know and believe: the Bible was written under the direction and inspiration of the Holy Spirit.<span id="more-351"></span></p>
<p>So, how do they translate the Bible from the original language? In general, translators are using three methods.</p>
<ul>
<li> Literal translation: the attempt to translate by keeping as close as possible to the exact words and phrasing in the original language. Examples: KJV, NASB, RSV, ESV.</li>
<li>Free translation: the attempt to translate ideas from one language to another with less concern about using the exact words of the original. Examples: The Message, LB Cotton Tail</li>
<li>Dynamic equivalent: the attempt to translate words, idioms, and grammatical constructions of the original languages into precise equivalent in the receptor language. Examples: NIV, GNB, NLT, Phillips</li>
</ul>
<p>So which one should I read? Sometimes it really depends on where you are in your spiritual growth. Literal translation is good for serious bible study. It best represents the original word for word. While Free translation is food for stimulating fresh thinking on the next, usually for devotional purpose. But keep in mind, there are some poor translations of the Scripture texts in every translation.</p>
<p>My first bible version was in Indonesian. The first english bible I read is King James Version. Although many scholars believe it is the most precise translation, I find it hard to understand the Scriptures since english is not my first language, and secondly it is not the current english. Language evolves over time. Hence, through the work of Holy Spirit, bible is translated to today&#8217;s language. Now I&#8217;m using NKJV, ESV, ASV, and Indonesian.</p>
<p>Does translation matter? It does. Last year a preacher said his prophecy to me. Although his prophecy sounded biblical since he is using the Scriptures. Yet later I found after studying the verse carefully, his prophecy was not biblical at all since he was interpreting the Scriptures carelessly. It is sad to see if many pastors today do not go to bible school to study the bible. If they themselves lack on good understanding of the Bible, whose teaching they would teach to the congregation? On the other hands, it is also disappointing to see some people who think they understand the bible in and out often use the Scriptures as &#8220;playground&#8221;. Be careful (John 5:39). If you are a scholar and are yearning to learn the Bible, I&#8217;d recommend having Hebrew/Greek dictionary. It is helpful to understand the Scriptures.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Example from 1 Corinthians 6:9. NIV &#8211; Do you not know that the wicked will not inherit the kingdom of God? Do not be deceived: Neither the sexually immoral nor idolaters nor adulterers nor male prostitutes nor <em>homosexual</em> offenders.</p>
<p style="padding-left: 30px;">The Message version: Don&#8217;t you realize that this is not the way to live? Unjust people who don&#8217;t care about God will not be joining in his kingdom. Those who use and abuse each other, <em>use and abuse sex</em>, use and abuse the earth and everything in it, don&#8217;t qualify as citizens in God&#8217;s kingdom.</p>
<p>We see that avoidance of speaking directly about homosexuality as being sin (in The Message bible), weakens the text.</p>
<p>Hence, I hope you have the passion to study the Scriptures carefully by reading the most appropriate bible translation for yourself. On the top of everything, the Scriptures are God-breathed, when we read the Bible our focus should be on God, and God only. It takes more than knowledge to understand the Scriptures. But by the grace of God, and the help from Holy Spirit, we can learn to know God from the Scriptures.</p>
<p>Sola scriptura!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/09/which-version-of-bible-should-i-read/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Counterfeiter</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/08/the-counterfeiter/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/08/the-counterfeiter/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 18:31:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Movies]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=310</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah artikel pengantar menarik dari GRII Sydney.. Baru-baru ini ada satu film yang dibuat di Jerman berjudul “The Counterfeiter” yang dibuat sebagai hasil dari satu program dokumentari CBS tahun 1999 yang menguak rahasia terbesar yang disimpan oleh Nazi. Film ini diangkat dari satu diary dari seorang Yahudi yang bernama Adolf Burger dimana dia terlibat di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah <a href="http://griisydney.org/ringkasan-khotbah/2009/2009/06/14/roh-membedakan-roh-1/">artikel</a> pengantar menarik dari GRII Sydney..</p>
<p>Baru-baru ini ada satu film yang dibuat di Jerman berjudul “The Counterfeiter” yang dibuat sebagai hasil dari satu program dokumentari CBS tahun 1999 yang menguak rahasia terbesar yang disimpan oleh Nazi. Film ini diangkat dari satu diary dari seorang Yahudi yang bernama Adolf Burger dimana dia terlibat di dalam satu operasi penting yang bernama “Operation Bernard.” Dia bersama satu orang Yahudi lain adalah orang yang ahli memalsukan uang dan mencetak uang palsu. Sebenarnya dua orang ini hendak dibunuh di camp contentration di Auschwitz tetapi tidak jadi sebab mereka memberitahu keahlian khusus mereka. Maka Nazi menempatkan mereka ke dalam satu perusahaan rahasia untuk mencetak uang palsu. Tahun 1999 CBS mengadakan satu eksplorasi di danau Toplitz sebab telah beredar satu isu bahwa di dasar danau itu tersimpan harta karun milik Hitler. Danau itu tidak besar, 1600m panjangnya tetapi kedalamannya mencapai 100m lebih, tempat yang paling sempurna untuk menyimpan rahasia. Kemudian CBS menyewa jasa perusahaan eksplorasi laut Oceaneering. Mereka menyelusuri dasar danau itu berbulan-bulan tetapi tidak menemukan apapun. Akhirnya mereka menggunakan sistem teknologi dengan robot penyelam dan kapal selam bermuatan satu orang dan akhirnya menemukan banyak tumpukan kertas di dasar danau. Ketika kertas-kertas itu diangkat, langsung hancur lebur menjadi bubur.<br />
<span id="more-310"></span><br />
Singkat cerita, mereka berhasil mengangkat satu tumpuk kertas ke permukaan. Setelah dibersihkan dengan teliti, di atas kertas itu muncul tulisan “Bank of England.” Ternyata kotak-kotak yang tersimpan di dasar danau itu adalah 180 juta mata uang palsu poundsterling. Di dalam film “The Counterfeiter” sdr akan melihat bahwa sebelum tentara sekutu datang, tempat percetakan uang palsu itu dibersihkan total, itu sebab kenapa rahasia ini tersimpan sampai 50 tahun lebih tanpa ketahuan. Sebenarnya uang poundsterling palsu itu sudah dibuktikan begitu mirip dengan yang asli sebab menurut cerita Adolf Burger agen rahasia Jerman telah pergi ke Bank of England menyetor uang itu dan petugas bank tidak menemukan bahwa uang itu adalah uang palsu. Operation Bernard adalah satu operasi yang berencana untuk membawa uang palsu itu ke Inggris dan melemparkannya dari udara. Tujuannya cuma satu, kalau mata uang palsu itu berhasil bercampur dengan uang asli, maka tidak akan ada transaksi bisnis dan ekonomi akan lumpuh sehingga seluruh perekonomian Inggris akan collapse. Hitler tahu untuk mengalahkan Inggris bukan dengan senjata tetapi dengan kehancuran ekonomi.</p>
<p>Di dalam film itu dikatakan sebenarnya mereka sudah selesai mencetak uang poundsterling dan hendak mulai mencetak dollar Amerika tetapi keburu dikalahkan dengan sekutu. Puji Tuhan, operation Bernard tidak berhasil dijalankan, namun sdr bisa bayangkan kalau itu berhasil, saya percaya sejarah dunia akan berbeda. Adolf Burger melakukan sabotase sehingga men-delayed operasi itu dan saya percaya juga ada tangan Tuhan yang tidak mengijinkan peristiwa itu terjadi. Kalau operasi itu berhasil, dunia akan mengalami perubahan total.</p>
<p>Ini yang saya sebut sebagai kebahayaan di dalam counterfeit. Dia bisa menciptakan sesuatu yang begitu mirip dengan aslinya tetapi sebenarnya palsu adanya. Kalau hal seperti itu terjadi di dalam kehidupan kita beriman, apa jadinya Kekristenan dan apa jadinya iman kita? Itu sebab tidak heran salah satu panggilan hidup orang Kristen yang penting adalah panggilan untuk menjadi orang Kristen yang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah adalah salah satu ciri dari orang Kristen yang dewasa rohaninya.</p>
<p>Trailer film The Counterfeiter<br />
<object width="445" height="364"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/qwr9nCurEEQ&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;color1=0x3a3a3a&#038;color2=0x999999&#038;border=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/qwr9nCurEEQ&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;color1=0x3a3a3a&#038;color2=0x999999&#038;border=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="445" height="364"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/08/the-counterfeiter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Empower</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/08/empower/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/08/empower/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 18:25:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[There&#8217;s a yearning again A thirst for discipline A hunger for things that are deeper Do your best if there is an opportunity to grow your faith and be equipped to serve the Lord!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://adimulia.net/blog/wp-content/uploads/2009/08/empower_head.jpg" alt="empower_head" title="empower_head" width="450" height="110" class="alignnone size-full wp-image-308" /></p>
<blockquote><p>There&#8217;s a yearning again<br />
A thirst for discipline<br />
A hunger for things that are deeper</p></blockquote>
<p>Do your best if there is an opportunity to grow your faith and be equipped to serve the Lord!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/08/empower/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diam saja ketika kita difitnah</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/08/diam-saja-ketika-kita-difitnah/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/08/diam-saja-ketika-kita-difitnah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 18:22:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=272</guid>
		<description><![CDATA[Yusuf dijebloskan ke dalam penjara karena dia melakukan segalanya dengan benar. Hah? Bisa? Sebelum membahas kehidupan Yusuf di rumah Potifar, mungkin ada baiknya jika kita mengingat kembali proses yang sudah dialami oleh Yusuf. Dibuang ke sumur, hampir dibunuh, akhirnya dijual oleh saudara-saudaranya sendiri. Saya bayangkan Yusuf sudah mengalami rasanya pupus impian. Sekarang Yusuf memulai hidup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yusuf dijebloskan ke dalam penjara karena dia melakukan segalanya dengan benar. Hah? Bisa?</p>
<p>Sebelum membahas kehidupan Yusuf di rumah Potifar, mungkin ada baiknya jika kita mengingat kembali proses yang sudah dialami oleh Yusuf. Dibuang ke sumur, hampir dibunuh, akhirnya dijual oleh saudara-saudaranya sendiri. Saya bayangkan Yusuf sudah mengalami rasanya pupus impian. Sekarang Yusuf memulai hidup baru di Mesir, bekerja dengan serius sampai bisa diberi kepercayaan untuk mengurus rumah tangga Potifar.<span id="more-272"></span></p>
<p>Tuhan mempersiapkan hambaNya dengan teliti dengan mengizinkan ujian baru. Tujuannya adalah tabah dicobai dan muncul sebagai emas. Ketika Yusuf digoda oleh istri Potifar, ada empat langkah yang diambil:</p>
<ol>
<li>Ketika istri Potifar mendatangi Yusuf dan berkata, &#8220;Marilah tidur dengan aku&#8221;, Yusuf menolak dan berkata, &#8220;Tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku&#8221; (Kej 39:8). Yusuf menghargai kepercayaan Potifar, dan memperhatikan perasaan Potifar.</li>
<li>Yusuf memilik sikap menghormati dirinya sendiri. &#8220;Di rumah ini ia tidak lebih besarkuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku&#8221; (Kej 39:9)</li>
<li>Yusuf menghormati istri Potifar. &#8220;Sebab engkau istri Potifar&#8221;. Inilah salah satu bentuk cinta sejati. Bisa saja Yusuf mengikuti hawa nafsu dan menuruti keiinginan istri Potifar, toh dia hanyalah seorang budak.</li>
<li>Yusuf tau kalau dia akan berbuat dosa terhadap Tuhan. &#8220;Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Tuhan?&#8221;. Inilah yang saya rasa yang menjadi dasar bagi Yusuf dalam mengambil sikap. Ketika menghadapi masalah dan tekanan yang sangat besar, saya rasa yang hanya bisa menyelamatkan adalah kasih karunia dari Tuhan dan hubungan pribadi seseorang dengan Tuhan.</li>
</ol>
<p>Singkat cerita, setelah berusaha menghindar dari istri Potifar. Masih belum berhasil juga. Akhirnya istri Potifar memfitnah Yusuf, dengan bukti baju Yusuf yang ia tarik ketika Yusuf mencoba kabur. Sampai disini, alkitab masih terus menulis &#8220;Tuhan menyertai Yusuf&#8221;. Wow, Tuhan mengijinkan ini semua terjadi pada orang yang mencoba bertindak benar? No kidding.</p>
<p>Saya mencoba membawa kisah ini ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin ada suatu titik dlm hidup dimana kita berseru, &#8220;Tuhan, kenapa perlakuan ini yang aku dapatkan ketika aku melakukan kehendakMu?&#8221;, &#8220;Kenapa mereka menfitnah aku?&#8221;. Kenapa&#8230;kenapa&#8230;dan kenapa.</p>
<p>Yusuf dipenjara karena dia melakukan segalanya dengan benar. Saya jadi ingat ayat &#8220;Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak&#8221; (Ibr 12:6). Tuhan sedang mempersiapkan orang yang dikasihNya untuk sesuatu yang lebih baik, lebih berharga, dan lebih berarti. Bagaimana sikap Yusuf menghadapi fitnah Potifar? Diam. Yusuf cuma diam, gak berusaha membela diri.</p>
<p>Hmmm&#8230;..diam saja ketika kita difitnah? God is in control.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/08/diam-saja-ketika-kita-difitnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Danger of Not Knowing the Truth</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/08/the-danger-of-not-knowing-the-truth/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/08/the-danger-of-not-knowing-the-truth/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 17:37:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[A repost of my note from facebook. Somebody once told me this story: We sometimes hear a saying: it doesn&#8217;t matter what you believe as long as you&#8217;re sincere. It sounds good, it sounds politically correct, and it sounds so broad-minded. You know…different strokes for different folks. You believe what you believe; I believe what [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A repost of my note from facebook. Somebody once told me this story:</p>
<p>We sometimes hear a saying: it doesn&#8217;t matter what you believe as long as you&#8217;re sincere. It sounds good, it sounds politically correct, and it sounds so broad-minded. You know…different strokes for different folks. You believe what you believe; I believe what I want to believe. We are both cool. The problem is it&#8217;s irrational to hold that belief. That&#8217;s because some beliefs are exactly opposites of each other. Therefore, they&#8217;re both cannot be true.</p>
<p>Let&#8217;s try this. Close your eyes. Take your right hand, point it to the ceiling. With your eyes closed, point in the direction that you believe is true north. You&#8217;ll be surprised when you open your eyes. We got people pointing in every direction. Is everyone right? They can&#8217;t be, because they contradict each other. The fact is there is only one true north.<br />
<span id="more-268"></span><br />
Please understand, you can believe anything that you want. You can believe the moon is made of cheese. And I will defend your right to believe it. But that doesn&#8217;t mean what you believe is the truth. You can be sincere, but you can be sincerely wrong. It takes more than sincerity to make it in life. <strong>It takes truth, God&#8217;s truth</strong>.</p>
<p>What we need to realize, our life is shaped by our beliefs, our view of reality. Our beliefs determine the way we look at the world. Our beliefs determine the way we feel about ourselves and other people, and the way we act. For example, if you believe that other people cannot be trusted, then you will tend to treat them with suspicion. Or if you believe there is no God, or if you believe that God is unconcerned about you, then you will not go to Him in prayer.</p>
<p>Here is the disturbing part, your belief determine how you act even if when your beliefs are wrong. So if we want to live our full life that is relatively free of worry, and stress and angers, and the assortment of fears that we tend to carry around, and If we want to avoid disappointments in life that often happen because of wrong thinking, wrong attitude, and wrong behavior on our part, then it is absolutely critical that we not only seek to know the truth but we also examine our beliefs and bring them aligned to the truth.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/08/the-danger-of-not-knowing-the-truth/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>R.T. Kendall &#8211; Tuhan Merancangnya Untuk Kebaikan</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/08/rt-kendall-tuhan-merancangnya-untuk-kebaikan/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/08/rt-kendall-tuhan-merancangnya-untuk-kebaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 04:50:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Suatu sore di akhir bulan Oktober 2008, saya berjalan pulang dari kampus menuju tempat parkir mobil di Banff Trail. Tiba-tiba dari belakang ada yang memanggil, &#8220;Martin, apa kabar?&#8221;. Rupanya seorang kawan lama. Singkat cerita saya bercerita tentang kondisi dan situasi saya secara umum yang emang lagi banyak beban masalah. Selang beberapa minggu kemudian, beliau kirim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://adimulia.net/blog/wp-content/uploads/2009/08/21011.jpg" alt="21011" title="21011" width="112" height="166" class="alignnone size-full wp-image-266" /></p>
<p>Suatu sore di akhir bulan Oktober 2008, saya berjalan pulang dari kampus menuju tempat parkir mobil di Banff Trail. Tiba-tiba dari belakang ada yang memanggil, &#8220;Martin, apa kabar?&#8221;. Rupanya seorang kawan lama. Singkat cerita saya bercerita tentang kondisi dan situasi saya secara umum yang emang lagi banyak beban masalah. <span id="more-265"></span> Selang beberapa minggu kemudian, beliau kirim email kepada saya menanyakan kabar dan kemudian membalas email saya demikian:</p>
<blockquote><p>Saya mengerti perasaan kamu, kandang-kadang kita bingung perjalanan hidup kita, banyak hal sulit dimengerti. tapi satu hal yg pasti: Tuhan tahu apa yg terbaik. <strong>Lihat perjalanan Yusuf, justru pada saat paling gelap (difitnah dan dipenjara), saat itu merupakan titik balik.</strong> Serahkan pada Tuhan dengn penuh penyerahan, minta pengampungan pada Tuhan kalau ada hal yg tidak berkenan padaNya. Pasti dia akan buka jalan.</p></blockquote>
<p>Yup, tentang Yusuf! Selama ini bagian favorit saya tentang Yusuf adalah bagian pembelaan. Bagaimana Tuhan menyertai Yusuf yang mengalami kepahitan. Minggu kemarin saya mendapat hadiah sebuah buku berjudul asli &#8220;God meant it for good&#8221; karangan RT. Kendall. Saya baru mulai membaca buku ini, dan isinya mengupas kisah tentang Yusuf dari awal sampai akhir. Sekilas dan saya kira pada umumnya, kita selalu melihat sosok Yusuf yang mendapat perlakuan tidak adil, sampai-sampai harus difitnah. Tapi pernah kah kita dalami lagi dan melihat sisi Yusuf yang pada awalnya &#8220;sedikit&#8221; pamer akan jubah dan karuniaNya bermimpi?</p>
<p>Buku ini membawa kita lebih dalam memahami lika-liku hidup sebagai orang yang dipanggil untuk pekerjaan Tuhan. Ada banyak hal yang kita bisa belajar dari hidup Yusuf. Secara garis besar, Yusuf bukan orang sempurna namun tetap dipakai Tuhan. Untuk beberapa blog entry ke depan, saya akan berusaha membagikan apa yang saya dapat dari buku ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/08/rt-kendall-tuhan-merancangnya-untuk-kebaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Red Balloon</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/08/red-balloon/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/08/red-balloon/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 19:46:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[Balon itu berwarna merah. Balon itu berwarna merah bukan karena anda mengatakan bahwa itu merah. Balon itu berwarna merah bukan karena pengalaman pribadi anda. Balon itu berwarna merah bukan karena anda mempunyai gelar professor ttg warna. Balon itu berwarna merah, karena itulah yang sebenarnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object width="445" height="364"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/D2Flgdwlqz0&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;color1=0x3a3a3a&#038;color2=0x999999&#038;border=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/D2Flgdwlqz0&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;color1=0x3a3a3a&#038;color2=0x999999&#038;border=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="445" height="364"></embed></object></p>
<p>Balon itu berwarna merah.<br />
Balon itu berwarna merah bukan karena anda mengatakan bahwa itu merah.<br />
Balon itu berwarna merah bukan karena pengalaman pribadi anda.<br />
Balon itu berwarna merah bukan karena anda mempunyai gelar professor ttg warna.<br />
Balon itu berwarna merah, karena itulah yang sebenarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/08/red-balloon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penghiburan di sela-sela masalah</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/08/penghiburan-di-sela-sela-masalah/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/08/penghiburan-di-sela-sela-masalah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 21:59:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Numbered like the stars, no matter where we are. Let the tress clap their hands, let the deepest water dance. Beberapa hari lalu saya bilang sama teman saya, &#8220;Perasaan saya aneh, sedikit bingung. Kok rasanya sekarang ini sangat comfort sekali, udah lama sekali gak merasa seperti ini&#8221;. Saya sendiri bingung kenapa hati ini rasanya kok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Numbered like the stars, no matter where we are.<br />
Let the tress clap their hands, let the deepest water dance.</p>
<p>Beberapa hari lalu saya bilang sama teman saya, &#8220;Perasaan saya aneh, sedikit bingung. Kok rasanya sekarang ini sangat comfort sekali, udah lama sekali gak merasa seperti ini&#8221;. Saya sendiri bingung kenapa hati ini rasanya kok plong, released, treasured. Apakah ini sugesti karena dalam beberapa hari saya akan pindah ke Vancouver? Antara iya dan tidak, yang jelas masa setumpuk hal yang masih harus saya urus untuk urusan pindah kota ini. Dari pertama, urusan packing barang2 yang tak terduga banyaknya. Urusan ganti alamat, urusan cari kost, urusan move out dari kost skrg yg baru bbrp hari, urusan makan bertemu teman &#038; kerabat, sampai ke beban-beban pikiran yang sebelumnya sudah ada.</p>
<p>Masalah selalu ada, tapi bagian terpenting adalah bagaimana Tuhan memampukan kita untuk melewati setiap masalah itu. Itulah filosofi saya dalam menghadapi masalah. Saya selalu berusaha bertanya, &#8220;dalam masalahnya ini, apa yang Tuhan mau saya untuk belajar?&#8221;. Syukur2 saya bisa belajar sesuatu. Dengan filosofi demikian, gak jarang muncul rasa sedih, pahit ketika saya harus mengalami sesuatu yang tidak saya harapkan.</p>
<p>Cik Vonny pernah bilang sama saya, &#8220;Kau sedih/stress itu wajar. Tapi setelah itu kau liat, Tuhan sudah bukakan pintu yang lain untuk kau. Kau jangan diam di pintu yang sudah ditutup itu&#8221;. Yah, hal ini benar. Tapi ketika mengalami lagi, tetap saja ada tantangannya. Hmmm&#8230;makanya sdikit aneh saya ketika Tuhan &#8220;menghibur&#8221; saya di sela-sela masalah yang saya hadapi, rasa syukur menghias hati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/08/penghiburan-di-sela-sela-masalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sedikit surga</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/sedikit-surga/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/sedikit-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 00:17:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Photo]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[Bayangkanlah&#8230;mentari pagi belum merona. Embun pagi bersandar dengan tenang di dedaunan. Kicau burung dan damainya air danau menyambutmu. Mungkin itulah sedikit surga yang Tuhan ijinkan saya rasakan. Retreat bersama MICC di Nordegg, AB.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://adimulia.net/blog/wp-content/uploads/2009/07/26072009968.jpg" alt="26072009968" title="26072009968" width="640" height="480" class="alignnone size-full wp-image-236" /></p>
<p>Bayangkanlah&#8230;mentari pagi belum merona.<br />
Embun pagi bersandar dengan tenang di dedaunan.<br />
Kicau burung dan damainya air danau menyambutmu.<br />
Mungkin itulah sedikit surga yang Tuhan ijinkan saya rasakan.</p>
<p>Retreat bersama <a href="http://www.miccalgary.com/">MICC</a> di Nordegg, AB.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/sedikit-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuatkanlah Hatimu</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/kuatkanlah-hatimu/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/kuatkanlah-hatimu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 00:01:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Songs]]></category>
		<category><![CDATA[Lagu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah lagu untuk mama, papa, abang, cici, ko lukas, dan joshua Kuatkanlah Hatimu Lewati Setiap Persoalan Tuhan Yesus Slalu Menopangmu Jangan Berhenti Harap Padanya Tuhan Pasti Sanggup Tangannya Takkan Terlambat Tuk Mengangkatmu Tuhan Masih Sanggup Percayalah Dia Tak Tinggalkanmu (Dia Kan Mengangkatmu)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah lagu untuk mama, papa, abang, cici, ko lukas, dan joshua <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><object width="580" height="360"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/9Kq3BFRDl5I&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;color1=0x3a3a3a&#038;color2=0x999999&#038;border=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/9Kq3BFRDl5I&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;color1=0x3a3a3a&#038;color2=0x999999&#038;border=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="580" height="360"></embed></object></p>
<p>Kuatkanlah Hatimu<br />
Lewati Setiap Persoalan<br />
Tuhan Yesus Slalu Menopangmu<br />
Jangan Berhenti Harap Padanya</p>
<p>Tuhan Pasti Sanggup<br />
Tangannya Takkan Terlambat<br />
Tuk Mengangkatmu<br />
Tuhan Masih Sanggup<br />
Percayalah Dia Tak Tinggalkanmu<br />
(Dia Kan Mengangkatmu)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/kuatkanlah-hatimu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencintai yang sulit dicintai</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/mencintai-yang-sulit-dicintai/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/mencintai-yang-sulit-dicintai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 18:15:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Saumiman Saud Kita dapat melakukan apa saja di dunia ini, namun semua itu belum tentu berkenan di dalam hati kita, orang lain dan Tuhan. Manusia hanya terbatas melihat bagian luar, padahal yang di dalam itu ada misteri. Ada orang mencoba membela diri dengan mengatakan bahwa “ Sebenarnya hatinya baik, cuma kelakuannya saja tampak begitu“ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh <a href="http://www.saumimansaud.org-a.googlepages.com/mengasihi">Saumiman Saud</a></p>
<p>Kita dapat melakukan apa saja di dunia ini, namun semua itu belum tentu berkenan di dalam hati kita, orang lain dan Tuhan. Manusia hanya terbatas melihat bagian luar, padahal yang di dalam itu ada misteri.  Ada orang mencoba membela diri dengan mengatakan bahwa  “ Sebenarnya hatinya baik, cuma kelakuannya saja tampak begitu“ , “Orangnya jujur, tetapi ia dipengaruhi sang isteri” Saya coba serahkan kepada anda yang menjawab, sebenarnya mana lebih baik penampakan di luar baik namun di dalamnya jahat atau sebaliknya? Semestinya yang ideal adalah, penampakan di luar baik, di dalam juga begitu.<span id="more-231"></span></p>
<p>Akhir tahun 2007 ini kami sangat sibuk mempersiapkan diri untuk pindah rumah  dari San Jose, California  menuju Seattle, Washington. Pada saat mengepak-ngepak barang bari pakaian, buku-buku, mainan anak, alat-alat dapur dan sebagainya yang cukup banyak, maka sambil mengepak terlihat ada barang-barang yang sudah lama namun kita jarang memakainya dan repot juga kalau di bawa pindah. Oleh sebab itu kami sekeluarga mencoba untuk menyeleksi dengan teliti. Barang-barang yang tidak perlu lagi dengan hati yang tega harus kami singkirkan atau buang ke tong sampah. Sedangkan untuk pakaian dan beberapa alat-alat elektrnonik lainnya rasanya tidak tega kalau dibuang begitu saja. Oleh sebab itu kami bawa ke Good Will untuk disumbangkan ke sana. Berkali-kali saya ke sana rasanya terlintas rasa bersalah, apakah saya memberi barang-barang ini karena memang benar-benar saya mengasihi orang yang menerimanya? Atau karena saya tidak mau repot dan menganggap tempat itu hanya lokasi menyingkirkan barang-barang?  Untungnya sih Good Will berupa toko sehingga barang-barang bekas itu dijual kembali dan menghasilkan uang sehingga secara nyata uangnya yang disumbangkan kepada orang-orang yang membutuhkan bukan barang bekas itu.</p>
<p>Mencintai seseorang yang kita cinta itu gampang sekali, bahkan apa saja yang kita lakukan maunya untuk menyenangkannya. Seseorang rela berkorban segala-galanya demi orang yang dicintai. Tentu anda masih ingat cerita legendaries Siti Nurbaya atau Sam Pek Eng Tai, kisah menyintai hingga tetes darah terakhir.  Namun mencintai orang yang tidak dicintai tidak gampang sebab dalam hal ini diperlukan pengorbanan yang lebih besar. Sebenarnya konsep mencintai orang yang tidak dicintai mirip dengan pesan Tuhan Yesus “Kasihilah musuhmu”.  Tidak mungkin seseorang mengasihi musuhnya, sebab musuh itu hanya dapat dikasihi apabila kita berdamai dengannya. Apabila ada seseorang mengatakan bahwa ia dapat mengasihi musuhnya maka kalimat ini perlu dicurigai, sebab kalau ia sungguh-sungguh mengasihi orang tersebut mengapa masih menganggap orang itu adalah musuhnya?</p>
<p>Setiap manusia ada kelemahannya, itu sebabnya apabila kita mencintai; maka orang yang kita cintai itu juga belum tentu sempurna. Pernah saya dengar cerita bahwa ada sepasang anak muda yang sudah hampir menikah, namun kemudian batal hanya gara-gara sang wanita menemukan sang pria itu kaos kakinya bolong? Agak beda dengan konsep kasih yang Tuhan Yesus praktekkan bukan? Tatkala Ia cinta pada kita, maka Ia tidak mengutak-atik segala kelemahan kita masa lalu. Bahkan darah-Nya di atas kayu salib telah menghapus segala kesalahan yang kita perbuat. Ia rela mengorbankan nyawa-Nya hanya untuk mencintai orang-orang yang seharusnya tidak pantas dicintai seperti saya dan  anda.</p>
<p>Seorang penulis mengatakan demikian, tatkala kita berada di suatu tempat pada saat yang tepat, itulah kesempatan. “Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, Itu bukan pilihan, tetapi itu juga kesempatan. Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan,Itupun adaah kesempatan. Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan. Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi, Itu adalah pilihan. Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu dan tetap memilih untuk mencintainya, Itulah pilihan.  Perasaan cinta, simpatik, tertarik, Datang bagai kesempatan pada kita. Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan. Pilihan yang kita lakukan. Berbicara tentang pasangan jiwa, Ada suatu kutipan dari film yang Mungkin sangat tepat : &#8220;Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap bergantung pada kita bagaimana membuat semuanya berhasil&#8221; Pasangan jiwa bisa benar-benar ada.  Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang  Yang diciptakan hanya untukmu. Tetapi tetap berpulang padamu Untuk melakukan pilihan apakah engkau ingin Melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, atau tidak&#8230; Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita, Tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita, Adalah pilihan yang harus kita lakukan. Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.“</p>
<p>Saya tidak tahu siapa saja yang bercokol dalam hidup anda yang  hingga hari ini masih merupakan “kesulitan“ untuk anda mencintainya? Mungkin orang itu adalah orang-orang yang pernah menyakiti hati anda? Yang pernah merugikan anda? Yang pernah mengecewakan anda? Yang pernah merusak kehidupan anda? Tetapi cobalah kita teduh sejenak? Bukankah anda dan saya juga pernah mengecewakan Tuhan, menyakiti hati-Nya juga? Tetapi Ia mencintai kita apa adanya? Ia tidak menghitung masa lalu kita, asal kita bertekad untuk memperbaharuinya. Yohanes 3 : 16 mencatat karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini Ia telah mengorbankan Anak-Nya yang Tunggal itu. Rasul Paulus berkata kepada Philemon, :dulu ia tidak berguna bagimu, sekarang ia berguna bagimu dan bagiku“ Kalimat ini diucapkan rasul Paulus berhubungan dengan Onesimus yang pernah merugikan Philemon. Namun saat ini terlihat buah-buah pertobatannya sehingga Paulus mengatakan ia berguna bagi Philemon, dengan demikian Paulus memohon agar ia menerima dan mengasihi  Onesimus kembali bukan lagi sebagi budak namun sebagai saudara.</p>
<p>Apabila kita membenci seseorang maka tanpa disadari kita mengalami kerugian terbesar dalam hidup ini. Tatkala kita membenci, maka kita akan kehilangan suka-cita dan damai sejahtera, sementara orang yang kita benci tidak tahu-menahu dan tetap saja bersuka-cita dan damai  sejahtera. Mengasihi orang yang pernah kita benci memang tidak gampang, namun bukankah ini juga merupakan  salah satu cara untuk  kita mempraktekkan bagaimana mencintai orang yang sulit dicintai? Masalahnya adalah apakah kita sudah siap?</p>
<p>*) Penulis lahir di Medan, saat ini bertugas sebagai pendeta di Washington State , USA</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/mencintai-yang-sulit-dicintai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Personal relationship with the church</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/personal-relationship-with-the-church/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/personal-relationship-with-the-church/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 17:56:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[While it is tempting for a church to make all of their programs simply for the purpose of strengthening friendship within the church, without an attempt to build religious understanding and a good relationship with God, such programs will be meaningless. Such fellowship programs become merely a time to hang out and hear the latest [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>While it is tempting for a church to make all of their programs simply for the purpose of strengthening friendship within the church, without an attempt to build  religious understanding and a good relationship with God, such programs will be meaningless. Such fellowship programs become merely a time to hang out and hear the latest gossip. Our Bible clearly emphasizes what it takes to have a good fellowship.<br />
~ Saumiman Saud</p></blockquote>
<p>Quoted from the original <a href="http://www.saumimansaud.org-a.googlepages.com/personal">article</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/personal-relationship-with-the-church/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lord, Lord</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/lord-lord/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/lord-lord/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2009 22:45:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><embed src="http://www.tangle.com/flash/swf/flvplayer.swf" FlashVars="viewkey=f7b8841b8f41fc07fb3a" wmode="transparent" quality="high" width="560" height="340" name="tangle" align="middle" allowScriptAccess="always" type="application/x-shockwave-flash" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" /></embed></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/lord-lord/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya percaya manusia bisa berubah</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/saya-percaya-manusia-bisa-berubah/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/saya-percaya-manusia-bisa-berubah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 03:01:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[People do mistakes, so do I. People correct mistakes, so do I. People do change, so do I. Mungkin kadang orang bingung, si Martin ini kok sembilan bulan lalu ngomong A, tujuh bulan lalu berubah dari ngomong A ke B, dan tiga bulan lalu berubah lagi dari B ke C. Mungkin lama-lama orang udah sampe [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>People do mistakes, so do I.<br />
People correct mistakes, so do I.<br />
People do change, so do I.</p>
<p>Mungkin kadang orang bingung, si Martin ini kok sembilan bulan lalu ngomong A, tujuh bulan lalu berubah dari ngomong A ke B, dan tiga bulan lalu berubah lagi dari B ke C. Mungkin lama-lama orang udah sampe pada pemikiran, ABCD, aduh bo cape deh! <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kadang jadi sandungan bagi diri sendiri sih, saya dituduh jadi orang yang gak konsisten. Tanpa ada maksud jadi orang yang plin plan, percayalah bahwa saya selalu berusaha menjadi orang yang konsisten. Hence, kadang saya lebih suka untuk mengambil waktu lebih lama dalam mengambil beberapa keputusan, apalagi klo keputusan itu menyangkut emosi saya sebagai manusia. Emang kejadian siginifikan di masa lalu sadar gak sadar mempengaruhi bagaimana saya bertindak di masa sekarang.</p>
<p>Saya percaya manusia bisa berubah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/saya-percaya-manusia-bisa-berubah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>If we win, we praise Him. If we lose, we praise Him</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/if-we-win-we-praise-him-if-we-lose-we-praise-him/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/if-we-win-we-praise-him-if-we-lose-we-praise-him/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 01:04:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[If we win, we praise Him. If we lose, we praise Him Itulah yang ada di dalam hati the Eagles ketika bertanding di dalam film Facing the Giants. Belakangan ini proses interview agak-agak aneh. Saya dipanggil ke interview bbrp posisi senior, pengalaman 5-10 thn. Sempet bingung juga sih sampai saya tanya manager yang interview saya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>If we win, we praise Him. If we lose, we praise Him</p></blockquote>
<p>Itulah yang ada di dalam hati the Eagles ketika bertanding di dalam film Facing the Giants.</p>
<p>Belakangan ini proses interview agak-agak aneh. Saya dipanggil ke interview bbrp posisi senior, pengalaman 5-10 thn. Sempet bingung juga sih sampai saya tanya manager yang interview saya, &#8220;Sir, you know that I only have 3.5 years experience, what interests you to call me for interview&#8221;. Si bapak agak kaget jg pada awalnya. Orang HR udah geleng2, &#8220;orang diinterview kan biasanya berusaha nutupin kekurangan, nih orang kok malah ngebahas kekurangan sendiri&#8221;. Mungkin jarang2 ada orang yang di interview nanya begitu, pertanyaan saya terlalu jujur. Dia bilang dia mau explore personality. Well, di ujung interview dia bilang sih, &#8220;I like you. You are enthusiastic and very positive&#8221;. Yah saya bilang juga, &#8220;Honestly I don&#8217;t have the years but I have the ability to catch up&#8221;. Emang dari job description sih saya udah pernah kerjain hal itu jg.</p>
<p>Interview satu lagi prosesnya agak panjang, udah second round. Mungkin masih ada third round. Tapi dalam hati, saya tahu inilah yang saya mau. Semoga apabila itu yang berkenan, Tuhan akan buka jalan. Walaupun banyak sekali constraintnya: housing, distance, lingkungan baru. I&#8217;m so excited to this opportunity! Kadang kala saya berpikir, jika Tuhan masih inginkan saya di Calgary, misi apa yang harus saya accomplish. Kalaupun ngga ada misi yang jelas, saya kadang berpikir apa saya lagi ada di &#8220;tanah Midian&#8221; yang harus saya hadapi? Tapi saya bersyukur atas tiga minggu belakangan ini, saya belajar banyak dari seorang teman tentang hati yang dipersembahkan untuk Tuhan. Saya juga belajar untuk let go apa yang terjadi di masa lalu, dan menatap masa depan dengan penuh harapan.</p>
<p>Semoga minggu depan sudah ada sedikit titik terang tentang pekerjaan. Jika dapat, puji Tuhan, klo ngga dapet, puji Tuhan. Gampang diucapin, sulit dilakukan <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/if-we-win-we-praise-him-if-we-lose-we-praise-him/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga penguji kesetiaan</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/tiga-penguji-kesetiaan/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/tiga-penguji-kesetiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 15:54:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Ada tiga penguji kesetiaan. Pertama, waktu. Seberapa lama kita bisa setia? Kedua, jarak. Kita bisa setia saat dekat, tetapi bagaimana jika kita terpisah jauh? Ketiga, keadaan. Kalau lagi senang kita akan setia, tetapi bagaimana jika dalam keadaan yang sulit? ~e-RH 14 Juli 2009 Hmmmmm&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Ada tiga penguji kesetiaan. Pertama, waktu. Seberapa lama kita bisa setia? Kedua, jarak. Kita bisa setia saat dekat, tetapi bagaimana jika kita terpisah jauh? Ketiga, keadaan. Kalau lagi senang kita akan setia, tetapi bagaimana jika dalam keadaan yang sulit? ~e-RH 14 Juli 2009</p></blockquote>
<p>Hmmmmm&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/tiga-penguji-kesetiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang lain tidak dapat turut merasakan</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/orang-lain-tidak-dapat-turut-merasakan/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/orang-lain-tidak-dapat-turut-merasakan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 21:33:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Hati mengenal kepedihannya sendiri, dan orang lain tidak dapat turut merasakan kesenangannya. Saya belajar banyak tentang hidup belakangan ini, terutama tentang mau dibawa kemana hidup ini, memperbaiki kesalahan, menapakkan langkah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hati mengenal kepedihannya sendiri, dan orang lain tidak dapat turut merasakan kesenangannya.</p></blockquote>
<p>Saya belajar banyak tentang hidup belakangan ini, terutama tentang mau dibawa kemana hidup ini, memperbaiki kesalahan, menapakkan langkah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/orang-lain-tidak-dapat-turut-merasakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hope for today</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/treasured/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/treasured/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 15:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[Call to Me and I will answer you, and I will tell you great and mighty things, which you do not know. ~Jer 33:3 Life is not getting easier but my joy in knowing You blossoms every day. Simply treasured!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://s55.photobucket.com/albums/g148/m61r1/Kaskus2/protective_by_dorrie.jpg" alt="" /></p>
<p>Call to Me and I will answer you,<br />
and I will tell you great<br />
and mighty things,<br />
which you do not know.<br />
~Jer 33:3</p>
<p>Life is not getting easier but my joy in knowing You blossoms every day.<br />
Simply treasured! <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/treasured/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hopeful or optimistic or faithful?</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/hopeful-or-optimistic-or-faithful/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/hopeful-or-optimistic-or-faithful/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 20:19:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[This is an illustration from Donald Capps in his book, The Decades of Life. If the optimist says the glass is half full, the pessimist says the glass is half empty, and the rationalist says the glass is too large. The hopeful person says, “Let’s pray that there will be water, and let’s also do [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/11/Glass-of-water.jpg/180px-Glass-of-water.jpg" alt="Glass" /></p>
<p>This is an illustration from Donald Capps in his book, <a href="http://www.amazon.com/Decades-Life-Guide-Human-Development/dp/0664232418">The Decades of Life</a>.</p>
<p>If the optimist says the glass is half full, the pessimist says the glass is half empty, and the rationalist says the glass is too large. The hopeful person says, “Let’s pray that there will be water, and let’s also do what we can do to assure that this will be the case.”</p>
<p>Hope, therefore, is not identical to optimism. Persons who are extremely optimistic don’t need hope any longer, since they believe that everything is going to turn out as they expect it will.</p>
<p>A friend of mine take it further, he use misuses the word &#8220;faithful&#8221;. For him, being faithful is that believing that everything is going to turn out as they expect it will. For him faithful = optimistic. He surely misunderstood the definition of faith.</p>
<p>Now are you hopeful or optimistic?</p>
<p>If you say you are a hopeful person, then read on and let&#8217;s take this even further. At this point I assume you &#8220;pray that there will be water&#8221;, which means you realize you have limited power in this world. You cannot rely on yourselves. You believe that God can give you water. You also has done your best to assure that there will be water.</p>
<p>My question is, what will you do, after you prayed and did your best, the glass is still not full?</p>
<p>Some of you say, &#8220;Nah&#8230;God promised that He will pour out water so that the glass is full. So it must be full no matter what happens.&#8221; At this point I imagine, some hope is already lost. There are possibilities you will be neither hopeful, optimistic, nor faithful. You may become a pessimist. What is wrong? This is the sad part. Some people follow God because of His promises. Don&#8217;t get me wrong, I believe that God always keeps His promises. But when we think a promise is not fulfilled by God, we better check ourselves. Do we understand His promises correctly? Do we follow God solely because of His promises? not because of God &#8220;I am I&#8221; ?</p>
<p>The problem is not God, but our understanding. <span style="text-decoration: underline;">God&#8217;s love is unconditional, but some of His promises are conditional.</span> Our fault is when we try to switch the two. Be careful in understanding God&#8217;s promises. Read the bible in its context. Don&#8217;t just read the verses you like and abandon the whole books. On the other hand, don&#8217;t just read it, but follow it with actions.</p>
<p>If you have prayed and done your best, be patient. There are three answers to your prayer, &#8220;yes, no, or slow.&#8221; Whatever the answer, you will still be hopeful.  No matter how bitter the experience you may feel, you will still follow God, reading His words, admitting and correcting your mistakes in the past. This is what I call faithful. It is an inevitable phenomenon, no matter what happens, we are positioned so that we only have one choice: to worship God.</p>
<p>Now are you faithful? <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
I&#8217;m still struggling to be faithful.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/hopeful-or-optimistic-or-faithful/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Double arch rainbow</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/double-arch-rainbow/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/double-arch-rainbow/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 04:38:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[On the way back to Calgary today, it was the first time I saw a double arch rainbow from end to end. When I see rainbow, I remember the card I always keep in my wallet. The card has Noah&#8217;s ark with rainbow and it&#8217;s written &#8220;God keeps His promises&#8221; The Lord is not slow [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>On the way back to Calgary today, it was the first time I saw a double arch rainbow from end to end. When I see rainbow, I remember the card I always keep in my wallet. The card has Noah&#8217;s ark with rainbow and it&#8217;s written &#8220;God keeps His promises&#8221;</p>
<p><img src="http://adimulia.net/blog/wp-content/uploads/2009/07/01072009772.jpg" alt="Double Arch Rainbow" title="Double Arch Rainbow" width="640" height="480" class="alignleft size-full wp-image-123" /></p>
<p>The Lord is not slow in keeping his promise, as some understand slowness. He is patient with you, not wanting anyone to perish, but everyone to come to repentance. 2 Peter 3:9</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/double-arch-rainbow/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Endurance</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/06/endurance/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/06/endurance/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 15:47:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Quote]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Endurance wasn&#8217;t built in a day. And it is not just the ability to bear the hard thing, but to turn it into glory. ~William Barclay]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Endurance wasn&#8217;t built in a day.<br />
And it is not just the ability to bear the hard thing, but to turn it into glory. ~William Barclay</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/06/endurance/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>It starts with faith</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/06/it-starts-with-faith/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/06/it-starts-with-faith/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 01:48:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[It starts with faith (inevitable phenomenon in which one is positioned before God and has only one choice to worship/love Him) Add virtue (kebajikan) Add knowledge (pengetahuan) Add self-control (pengendalian diri) Add perseverance (ketekunan) Add godliness (kesalehan) Add brotherly kindness (kasih akan saudara) Add love (kasih akan semua orang) Result: Spiritual growth (2 Peter 1:3-10) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>It starts with faith (inevitable phenomenon in which one is positioned before God and has only one choice to worship/love Him)</p>
<ul>
<li>Add virtue (kebajikan)</li>
<li>Add knowledge (pengetahuan)</li>
<li>Add self-control (pengendalian diri)</li>
<li>Add perseverance (ketekunan)</li>
<li>Add godliness (kesalehan)</li>
<li>Add brotherly kindness (kasih akan saudara)</li>
<li>Add love (kasih akan semua orang)</li>
<li>Result: Spiritual growth (2 Peter 1:3-10)</li>
</ul>
<p>Masih banyak yang kurang euy&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/06/it-starts-with-faith/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>One day I decided to quit</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/06/one-day-i-decided-to-quit/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/06/one-day-i-decided-to-quit/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 06:10:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[One day I decided to quit&#8230;I quit my job, my relationship, my spirituality&#8230;I wanted to quit my life. I went to the woods to have one last talk with God. &#8220;God&#8221;, I said. &#8220;Can you give me one good reason not to quit?&#8221; His answer surprised me&#8230; &#8220;Look around&#8221;, He said. &#8220;Do you see the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>One day I decided to quit&#8230;I quit my job, my relationship, my spirituality&#8230;I wanted to quit my life. I went to the woods to have one last talk with God.</p>
<p>&#8220;God&#8221;, I said. &#8220;Can you give me one good reason not to quit?&#8221; His answer surprised me&#8230;</p>
<p>&#8220;Look around&#8221;, He said. &#8220;Do you see the fern and the bamboo?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yes&#8221;, I replied.</p>
<p>&#8220;When I planted the fern and the bamboo seeds, I took very good care of them. I gave them light. I gave them water. The fern quickly grew from the earth. Its brilliant green covered the floor. Yet nothing came from the bamboo seed. But I did not quit on the bamboo. In the second year the Fern grew more vibrant and plentiful. And again, nothing came from the bamboo seed. But I did not quit on the bamboo.&#8221; He said.</p>
<p>&#8220;In year three there was still nothing from the bamboo seed. But I would not quit. In year four, again, there was nothing from the bamboo seed. I would not quit.&#8221; He said.</p>
<p>&#8220;Then in the fifth year a tiny sprout emerged from the earth. Compared to the fern it was seemingly small and insignificant&#8230;But just 6 months later the bamboo rose to over 100 feet tall. It had spent the five years growing roots. Those roots made it strong and gave it what it needed to survive. I would not give any of my creations a challenge it could not handle.&#8221; He said to me.</p>
<p>&#8220;Did you know, my child, that all this time you have been struggling, you have actually been growing roots?&#8221;</p>
<p>&#8220;I would not quit on the bamboo. I will never quit on you.&#8221;</p>
<p>&#8220;Don&#8217;t compare yourself to others.&#8221; He said. &#8220;The bamboo had a different purpose than the fern. Yet they both make the forest beautiful.&#8221;</p>
<p>&#8220;Your time will come&#8221;, God said to me. &#8220;You will rise high&#8221;</p>
<p>&#8220;How high should I rise?&#8221; I asked.</p>
<p>&#8220;How high will the bamboo rise?&#8221; He asked in return.</p>
<p>&#8220;As high as it can?&#8221; I questioned</p>
<p>&#8220;Yes.&#8221; He said, &#8220;Give me glory by rising as high as you can.&#8221;</p>
<p>I left the forest and bring back this story. I hope these words can help you see that God will never give up on you. He will never give up on you. Never regret a day in your life. Good days give you happiness; bad days give you experiences; both are essential to life.</p>
<p>***</p>
<p>Thanks to whoever wrote this article in the first place.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/06/one-day-i-decided-to-quit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Forgiveness</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/06/forgiveness/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/06/forgiveness/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 04:24:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Quote]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[for⋅give⋅ness /fərˈgɪvnɪs 1. Compassionate feelings that support a willingness to forgive 2. The act of excusing a mistake or offence]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>for⋅give⋅ness /fərˈgɪvnɪs<br />
1. Compassionate feelings that support a willingness to forgive<br />
2. The act of excusing a mistake or offence</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/06/forgiveness/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The mule fell into the farmer&#039;s well&#8230;</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/06/the-mule-fell-into-the-farmers-well/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/06/the-mule-fell-into-the-farmers-well/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 05:01:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[A parable is told of a farmer who owned an old mule. The mule fell into the farmer&#8217;s well. The farmer heard the mule &#8216;braying&#8217; -or- whatever mules do when they fall into wells. After carefully assessing the situation, the farmer sympathized with the mule, but decided that neither the mule nor the well was [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A parable is told of a farmer who owned an old mule.</p>
<p>The mule fell into the farmer&#8217;s well. The farmer heard the mule &#8216;braying&#8217; -or- whatever mules do when they fall into wells.</p>
<p>After carefully assessing the situation, the farmer sympathized with the mule, but decided that neither the mule nor the well was worth the trouble of saving.</p>
<p>Instead, he called his neighbors together and told them what had happened and enlisted them to help haul dirt to bury the old mule in the well and put him out of his misery. Initially, the old mule was hysterical.</p>
<p>But as the farmer and his neighbors continued shoveling and the dirt hit his back a thought struck him. It suddenly dawned on him that every time a shovel load of dirt landed on his back He should shake it off and step up.</p>
<p>This he did, blow after blow. &#8220;Shake it off and step up, shake it off and step up, shake it off and step up,&#8221; He repeated to encourage himself. No matter how painful the blows, or how distressing the situation seemed the old mule fought panic and just kept right on shaking it off and stepping up.</p>
<p>It wasn&#8217;t long before the old mule, battered and exhausted, stepped triumphantly over the wall of that well. What seemed like it would bury him, actually blessed him all because of the manner in which he handled his adversity.</p>
<p>That&#8217;s life. If we face our problems and respond to them positively, and refuse to give in to panic, bitterness, or self-pity.</p>
<p>The adversities that come along to bury us usually have within them the potential to benefit and bless us.</p>
<p>Remember that forgiveness, faith, prayer, praise and hope all are excellent ways to shake it off and step up out of the wells in which we find ourselves.</p>
<p>May this be a blessing to you!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/06/the-mule-fell-into-the-farmers-well/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Simple Facts</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/06/simple-facts/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/06/simple-facts/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 04:36:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Quote]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/2009/06/simple-facts/</guid>
		<description><![CDATA[If we gather 100 people representing everyone in this world. The simple facts are: 80 live in substandard housing 70 cannot read 50 live on less than $2.00 a day 50 are malnourished 1 child under 10 dies every second 6 have half the world’s wealth THESE 6 LIVE IN NORTH AMERICA]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>If we gather 100 people representing everyone in this world. The simple facts are:</p>
<p>80 live in substandard housing<br />
70 cannot read<br />
50 live on less than $2.00 a day<br />
50 are malnourished<br />
1 child under 10 dies every second<br />
6 have half the world’s wealth</p>
<p>THESE 6 LIVE IN NORTH AMERICA</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/06/simple-facts/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://stats.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://stats.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->

