Kegundahan

On November 5, 2011, in Indonesian, by adimulia

Engkau yang gundah karena beratnya kehidupan, sini … duduklah tenang bersamaku … dan marilah kita berbincang dengan Tuhan …

Sahabat baik hatiku, cobalah kau ingat … bukankah dulu engkau pernah hidup dalam kedamaian yang penuh harapan baik tentang masa depanmu?

Apakah yang telah kau ijinkan mengusik kedamaianmu, dan menjadikanmu pribadi baik yang sulit merasa damai hari ini?

Apakah sekarang, engkau terlalu banyak menduga dan sedikit mencoba?
Apakah engkau lebih mudah marah sebelum mengerti, dan tetap marah walau sudah mengerti?
Apakah engkau menuntut orang lain melakukan yang tak kau lakukan?
Apakah lebih mudah bagimu untuk meminta daripada memberi?
Apakah engkau lebih banyak mengeluhkan kesulitanmu daripada bekerja meringankan kesulitan sesamamu?
Apakah hatimu lebih cepat membenci daripada mencintai?
Atau, apakah engkau lebih dekat kepada kebiasaan buruk daripada beribadah?

Hmm … aku tak harus mendengar jawabanmu, tapi hatimu tahu.

Dikutip dr MTGW.

Tagged with:  

Orang buta yang tidak menyerah

On November 2, 2011, in Indonesian, by adimulia

Sebagai orang dari latar belakang reformed evangelical, 31 Oktober mengajak kita semua untuk merefleksikan beberapa hal: siapa Tuhan yang kita sembah, siapa kita, dan bagaimana kita berelasi dengan Tuhan.

Kalau diperhatikan, sejarah itu sering berulang, dari masa ke masa, mungkin bentuknya berbeda, tapi esensinya sama. Tahun 1517, Martin Luther ngepost 95 tesis. Peristiwa ini lumayan membuat perbedaan dalam sejarah kekristenan. Tapi seiring sejalan waktu, kejadian serupa terus terjadi, gerakan awalnya dianggap mulai melenceng dari tujuan awalnya, lalu muncul lagi gerakan reformasi baru, begitu seterusnya sampai sekarang.

Semua ini membuat kita (setidaknya saya) berpikir, Tuhan seperti apa sih yang saya sembah. Hal ini dulu tidak begitu penting. Saya membayangkan ilustrasi gajah dan sepuluh orang buta. Ada yang pegang buntut gajah, jadi dia mendeskripsikan gajah itu seperti gagang. Ada yang pegang telinga gajah, jadi dia bilang gajah itu seperti daun melambai2. Jadi intinya, Tuhan itu terlalu besar untuk kita sepenuhnya mengerti. Kalimat ini ada benarnya. Pengenalan saya akan Tuhan berbeda dengan pengenalan saudara.

Tapi yang jadi point utamanya adalah: bagaimana pedoman mengenal gajah yang baik dan benar? Oke lah saya cuma kebagian memegang telinga gajah, saya belum pernah memegang belalai gajah ataupun bagian gajah lainnya. Tapi setidaknya, di dalam hati saya, Tuhan tanamkan suatu image tentang gajah itu seperti apa. Atau dalam konteks mengenal Tuhan, Tuhan memberikan Roh Kudus kepada kita, dan melalui Roh Kudus, Tuhan mem-reveal diriNya seperti apa. Dan juga, ada satu prinsip yang paling mendasar, Roh Kudus selalu me-reveal hal tentang Tuhan yang sesuai dengan Alkitab, tidak mungkin bertentangan.

Sejarah boleh berulang, nama denominasi boleh berubah-ubah, tetapi Alkitab tetaplah sama, kebenaran di dalamnya tidak tergantikan oleh apapun juga. Hari ini, entah ada berapa banyak denominasi Kristen, yang serupa sekumpulan orang buta memegang seekor gajah, mereka punya beragam pengertian akan Tuhan. Ada yang melihat Tuhan sebagai sumber berkat, ada yang melihat hidup ini harus menderita terus karena kita berdosa, ada yang melihat Tuhan tidak ingin hidup kita terganggu oleh teknologi jaman sekarang, ada macam-macam lah. Tapi biarlah, Tuhan sendiri terus mengingatkan agar kita berpegang terus pada kebenaran yang ada di Alkitab.

Mempunyai pengertian yang benar tentang Tuhan akan mengubah bagaimana kita melihat siapa diri kita, dan bagaimana kita menjalani hubungan dengan Tuhan. Kita tidak harus mengerti akan banyak hal, tapi pengertian yang benar akan Tuhan adalah mutlak.

Steve Jobs yang baru-baru ini meninggal, terkenal dengan quotesnya: “Do a couple things, and do them well. You don’t have time for much. And most things are not lasting. So do two or three things, and do them amazingly”. Sebagai orang percaya, terlalu banyak hal yang bisa kita fokus lakukan, tapi satu hal, fokuslah pada Tuhan yang kita sembah. Seperti kata Jobs, most things are not lasting.

Kemarin di jalan pulang, saya bertemu anak muda (mungkin anak smp/sma) dari name tagnya saya tau dia dari gereja mormon. Dia punya semangat menggebu-gebu untuk bercerita mormon itu seperti apa. Saya dalam hati merasa kasihan, saya berharap orang mormon boleh disadarkan dan kembali ke Alkitab, bukan ke kitab Mormon. Sayang rasanya melihat seorang anak dengan semangat tinggi, namun dia menghabiskan energi pada sesuatu yang sia-sia.

Saya merasa seperti orang buta yang mencoba mengenal Tuhan itu siapa, kadang saya tersandung dalam melangkah, kadang saya harus terjerembab. Ada harga yang harus dibayar, tapi hal itu tidak pernah sia-sia pada akhirnya.

Tagged with:  

Enam anak paling banyak

On October 12, 2011, in Indonesian, by adimulia

Dulu pas ambil kelas Business Analysis, diajarin kalau bikin slide presentasi, dalam satu slide, disarankan 6 point paling banyak. Konon katanya, otak manusia cuma bisa handle informasi segitu banyak, lebih dari itu otak manusia bakalan sulit mencernanya.

Dipikir-pikir, emang benar juga sih. Saya punya banyak bookmarks website, tapi paling saya cuma buka 6 websites per hari. Dari sekian banyak applikasi di handphone, paling juga cuma kurang dari 6 yang paling sering dibuka. Dari sekian banyak tempat lunch, tempat yang saya pergi itu-itu saja, kurang dari 6. Kalau pergi ke suatu restoran pun, saya selalu memesan menu yang itu-itu aja, tidak mungkin lebih dari 6 macam.

Sekarang saya berpikir, gawat juga kalau nanti punya anak banyak. Bagaimana nasib anak ketujuh dan seterusnya…

Tagged with:  

Hati yang hiruk

On October 9, 2011, in Indonesian, Poem, by adimulia

Aku tulis puisi ini
Untuk memberi kelegaan hati yang hiruk
Lelah sudah, kantuk tak kunjung tiba
Ratusan hal yang harus direncanakan
Hai, berhentilah sejenak
Kenangkanlah apa yang sudah kita lewati
Dan juga masa depan kita yang masih panjang

Kau tidaklah sendiri dan terasing
Suka dan duka kita tidaklah istimewa
Karena soal hidup sudah Dia tulis
Setiap orang hanya perlu menjalani bagian hidupnya
Tanah yang perlu dibajak, bajaklah
Benih kebaikan yang perlu ditanam, tanamlah
Buah yang sudah menguning, petiklah

Kan tiba saatnya kita kan menjadi bongkok
Renta dan tidak bisa melakukan itu semua
Sementara kau mengenang masalahmu
Kenangkanlah juga bahwa Tuhan mengasihi kita
Lebih dari yang kita bayangkan
Masalah sebesar apapun, hadapilah.
Berkat sekecil apapun, nikmatilah.

Tagged with:  
Weboy