Sama-sama mengambil waktu

On December 28, 2011, in Activities, Indonesian, Life Lesson, by adimulia

Di penghujung tahun ini, mari kita sama-sama mengambil waktu.

  • Mengambil waktu untuk berpikir, itulah sumber kekuatan
  • Mengambil waktu untuk membaca, itulah dasar kebijaksanaan
  • Mengambil waktu untuk bermain, itulah rahasia awet muda
  • Mengambil waktu untuk diam, itulah saat mendengar Tuhan
  • Mengambil waktu untuk melihat sekitar, itulah kesempatan menolong sesama
  • Mengambil waktu untuk mengasihi dan dikasihi, itulah hadiah terbesar dari Tuhan
  • Mengambil waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa
  • Mengambil waktu untuk bermimpi, itulah bagian dari masa depan
  • Mengambil waktu untuk berdoa, itulah kekuatan terbesar di bumi

Rasanya yang terakhir perlu lebih serius lagi. Berdoa.

Berdoa bukan untuk mendapatkan sesuatu. Tapi berdoa karena kita mencari wajah Tuhan sebelum kita mencari tanganNya.

 

Catatan Natal 2011

On December 28, 2011, in Indonesian, My thought, by adimulia

Hari masih gelap, masih jam 5 pagi, suara mesjid terdengar sahut-sahutan. Tapi pohon natal masih nyala kelap kelip di ruang tamu. Di bawah pohon natal tidak ada kado. Jam 8 pagi, kami sekeluarga pergi ke gereja untuk kebaktian. Di gereja, duduk di kursi kayu yang panjang, ruangannya terang karena matahari, AC-nya dinyalain, saya begitu menikmati nyanyi lagu-lagu dari NKB dan KJ. Itu memori natal saya masa kecil. Begitu tenang. So calm, peaceful, tranquil.

Sekarang berbeda jauh. Baru tahun ini saya bisa cape dengerin lagu natal. Tiap kali dengerin radio, lagu natalnya lebih sering yang “I saw mommy kissing santa claus”, atau yang “Last year I give you my heart”, “I’m dreaming of white christmas”. Sampai akhirnya, saya ganti channel radio ke radio sekuler. Belum lagi kalau ke mal, komersialisasi natal kenceng banget. Dipikir-pikir lagi, salah satu penyebabnya perasaan cape ini adalah hilangnya Christ-centered-mas.

Natal tanpa Kristus bukanlah natal. Saya teringat perayaan Natal dua tahun lalu, tema yang diusung masih berkesan sampai sekarang, “A cradle in the shadow of the Cross”. Kelahiran Tuhan adalah titik awal dari moment terpenting dalam hidupnya, di salib. Tapi kalau saya mengusung tema ini, jaman sekarang ini, bahkan di gereja pun, bisa dikritik orang. Kata orang, Natal itu harusnya memberi harapan, janganlah menjadi orang yang negatif yang selalu melihat gelas setengah kosong.

Entahlah, harapan dalam Tuhan itu benar. Tetapi harapan itu pun datang ke dunia bukan dalam situasi adem ayem. Natal pertama berlangsung dalam situasi mencekam. Terjadi pembunuhan bayi-bayi. Tuhan harus lahir di kandang hewan.

Tahun ini, saya ingin merasakan Natal yang asali. Natal dimana Tuhan tetap bisa bekerja sekalipun di tengah keresahan dunia akan seorang juru selamat. Natal dimana Tuhan tetap menjalankan rencanaNya mengutus Yesus Kristus yang sudah dipersiapkan ribuan tahun sebelumnya, sejak awal dari perjanjian lama.

Natal tidak harus damai, tidak harus gemerlap, tidak harus meriah. Mari kita ingat lagi keukeuh-nya Tuhan mengasihi manusia. Tidak ada yang kita bisa perbuat untuk membuat Tuhan mengasihi kita lebih lagi ataupun kurang.

Selamat Natal untuk kita semua.

Tagged with:  

Satu desa sibuk menyelamatkan bayi

On December 11, 2011, in Indonesian, by adimulia

Ada cerita seorang petani di sebuah desa. Suatu hari petani itu pergi ke sungai untuk mengambil air. Di sungai, dia melihat ada bayi yang mau tenggelam, kemudian dia menolong bayi itu. Keesokan harinya, ada dua bayi, dia lagi-lagi menolong. Keesokan harinya, ada lima bayi. Petani ini mengajak teman-temannya untuk menolong bayi-bayi itu. Lambat laun, seisi desa setiap hari menghabiskan waktu menyelematkan bayi-bayi di sungai. Sayangnya, tidak ada seorang pun yang bertanya, “Kenapa bayi-bayi itu bisa hanyut di sungai?”

Kira-kira beginilah yang saya rasakan dengan pelayanan di gereja akhir-akhir ini. Di gereja rasanya ada masalah mendasar yang belum terselesaikan. Apapun itu, kiranya Tuhan tolong.

Tagged with:  

Teknologi mengubah jaman

On December 8, 2011, in Indonesian, by adimulia

Cloud computing…artinya kita gak perlu punya komputer yang powerful lagi di rumah, secara “computing”-nya berlangsung di server. Cloud gaming…juga sama, artinya kita gak perlu punya gaming device lagi (semacam playstation, nintendo, etc), selama bisa display dan nyambung internet, android pas2an pun bakalan bisa main high-end video games. Cloud storage model dropbox juga sekarang menjamur, saya tidak ada rencana buat beli external HD lagi. Maklum 2 external hd saya tewas walaupun jarang dipakai.

Dari segi kepemilikan, sekarang berjamur bisnis usaha yang bersifat sharing. Jadi dibanding, beli mobil, yang terjadi adalah berbagi mobil. Sebutlah zipcar, car2go, etc. Dibanding tinggal di hotel, yang terjadi adalah tinggal di rumah orang lain (bed & breakfast), selama kita juga mau membuka rumah kita untuk orang lain. Sebutlah airbnb. Tadinya kita beli dvd, sekarang sistemnya berlangganan; sebutlah nextflix.

Jaman berubah cepat. Anak yang belum berumur setahun, lebih lancar pake iPad dibanding lancar ngomong. Apa jangan-jangan di masa depan, seseorang tidak perlu lagi punya kemampuan berbicara? Apa jangan-jangan tidak perlu bisa menulis dengan tangan? Selama bisa ngetik juga udah oke. Jangan-jangan nanti ada alat membaca pikiran manusia, jadi ngga usah ngetik, ngga usah ngomong. Jangan-jangan nanti orang bakalan seperti di film kartun wall-e: gendut2, banyak makan, gak banyak gerak. Ah….jangan-jangan.

Teknologi oh teknologi.

Tagged with:  
WordPress Themes