Beberapa tahun yang lalu, saya sempat bergumul tentang topik “Karunia Roh Kudus”. Pergumulan saya adalah salah satu pergumulan klasik denominasi Kristen konservatif dan Kristen karismatik, yakni tentang bahasa roh. Saya berpegang pada pendirian bahwa bahasa roh bukan indikasi bahwa seseorang sudah dipenuhi Roh Kudus. Namun perkataan orang yang masih saya ingat sampai sekarang adalah, “Kamu tidak bisa berbahasa roh karena kamu kurang beriman”
Statemen ini begitu tajam sehingga membuat saya berpikir tentang hal-hal dasar ke-Kristenan yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Apakah itu iman? Saya punya satu ilustrasi, misalnya saya berkata kalau saya punya uang $1 di kantong saya, apakah anda percaya? Kalau anda percaya, itulah iman. Kalau saya sampai harus mengeluarkan uang $1 itu dan anda melihat itu, itu bukan iman lagi, tapi itu adalah pengetahuan umum (plain knowledge).
Billy Graham punya pendapat yang beda lagi tentang iman. Misalnya sekarang kita lagi duduk di sebuah kursi. Sebelum kita duduk, kita tidak memeriksa apakah kursi itu kuat menopang kita. Soalnya kita sudah melakukan hal itu berulang kali, adalah lazim kursi jaman sekarang sanggup menopang badan kita. Iman pada Tuhan tidak buta karena Tuhan sudah menjadi manusia dan menebus dosa kita. Itulah dasar iman kita kepada Tuhan.
Dua pandangan di atas sedikit berbeda, dua-duanya ada benarnya. Adalah benar, beriman adalah mempercayai sesuatu tanpa melihat. Dan juga adalah benar, beriman adalah percaya sesuatu karena kita tahu Tuhan Yesus sudah menebus dosa kita, dan hidup kita adalah untuk kemuliaan-Nya.
***
Belakangan ini saya cukup disibukkan berbagai hal. Ada banyak hal yang perlu saya urus berkaitan dengan persiapan pernikahan, kesibukan/pergumulan di tempat bekerja, pergumulan masa depan gereja, pikiran tentang keluarga/orang tua yang jauh di Indonesia, dan lain-lain. Semua hal ini kadang membuat saya berpikir bahwa Tuhan tidak berada di dekat saya, saya merasa jauh dari Tuhan. Saya jadi ingat statement awal tadi dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya kehilangan iman saya pada Tuhan?
Syukurlah, Tuhan adalah Tuhan yang mengasihi saya. Saya mendapatkan jawaban/jaminan dari Alkitab itu sendiri. Kemarin ketika saya bersaat teduh saya membaca dari Hakim-hakim 6. Tentang bagaiman Gideon diangkat jadi hakim. Ketika malaikat Tuhan menampakkan diri dan berfirman bahwa Tuhan menyertai Gideon dan berencana memakai Gideon untuk menyelamatkan orang Israel melawan orang Midian. Respon Gideon adalah, “Ah tuanku, jika Tuhan menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib yang diceritakan nenek moyang kami kepada kami, ketika mereka berkata: Bukankah Tuhan telah menuntun kita keluar dari Mesir? Tetapi sekarang Tuhan membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam cengkraman orang Midian.
Gideon menunjukkan sikap ragu-ragu akan penyertaan Tuhan. Dan kalau kita ingat-ingat lagi, Gideon bukanlah orang pertama. Ketika Tuhan memanggil Musa juga sama kasusnya, Musa tidak yakin akan rencana Tuhan dalam hidupnya. Musa juga punya attitude, “Tuhan, masa iya sih aku yang kau pilih?”. Yusuf pun demikian, ketika apa yang mimpikan (bahwa saudara-saudaraNya akan sujud di hadapannya) tidak terjadi dalam waktu singkat. Janji Tuhan tidak langsung digenapi. Penglihatan dari Tuhan tidak terjadi begitu saja pada Yusuf, dia harus melalui beragam peristiwa dahulu. Daud pun sama, dia tidak begitu percaya diri ketika dia dipilih Tuhan. Seperti Daud, Musa, Yusuf, Gideon, dan tokoh Alkitab lain, ada titik dalam hidup kita dimana kita meragukan janji Tuhan dan juga merindukan Tuhan.
***
Ketika saya melihat betapa banyak masalah yang saya hadapi, saya melihat pengalaman saya tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan/percaya. (My experience does not match my belief). Tapi lagi-lagi kembali ke paragraf awal. Kalau pengalaman saya selalu sesuai dengan apa yang saya harapkan/percaya, ini bukanlah iman. Iman selalu disertai pergumulan. Iman tanpa pergumulan adalah pengetahuan umum.
Can you imagine the scene in Matthew 26:38-42? When Jesus says, “My soul is exceedingly sorrowful, even to death”. And when Jesus begged the Father if this cup cannot be taken away. Can you imagine Jesus was praying to the Father and he was literally sweating blood? Is there any way you can take this cup from me? How in the world is any dad look at his son who is begging him and begging him so bad that he was sweating blood?
Were you there when they crucified my Lord? Do you remember the moment when you “got it?” When you first realized you loved God with your heart, mind, and soul?
Yang belum TERLIHAT bukan berarti TIDAK ADA
Yang belum DITEMUKAN bukan berarti HILANG
Yang belum BERHASIL bukan berarti GAGAL
Dimana ada DOA di situ pasti ada JAWABAN
Dimana ada PENGHARAPAN di situ ada KEKUATAN, dan
Dimana ada KASIH di situ ada ANUGERAH dari TUHAN.
Apakah orang Kristen yang sudah lahir baru, masih berbuat dosa?
Jawabannya adalah masih. Lalu apa bedanya sama orang yang belum lahir baru. Dipikir-pikir emang benar. Misalnya, kalau sebelum lahir baru, berbohong itu terasa biasa saja. Kalau sudah lahir baru, pasti Roh Kudus bilang pada hati nurani kita kalau bohong itu dosa. Dengan kata lain, ketika seseorang lahir baru, dia melihat dosa sebagai sesuatu yang memalukan.
Pas nulis post ini, saya somehow ingat satu teman yang bisa dengan tanpa beban bercerita tentang dosa-dosa yang dia lakuin. Dia sudah dibaptis. Semoga dia ngga ignore ketika Roh Kudus ingatkan dia.
Apakah orang yang dibaptis itu pasti diselamatkan?
Nah. Untuk jelasin ini gampangnya gini. Setiap tanggal 17 Agustus, kita biasa pasang bendera di depan rumah untuk memperingati kemerdekaan Indonesia. Jadi bendera sebagai suatu tanda dari kemerdekaan yang kita punya. Kalau ngga ada kemerdekaan itu sendiri, pasang bendera merah putih gak ada artinya. Nah, baptisan itu sebuah tanda kita percaya pada Tuhan Yesus. Kalau dalam hati sendiri kita ngga percaya Tuhan Yesus, bagaimana kita diselamatkan?
