Konon, biaya pernikahan Ibas (putra Presiden SBY) dengan Aliya (putri Hatta Rajasa) mencapai 12 miliar rupiah. Saya baca beritanya, sepertinya pestanya cukup unik, untuk acara siramannya saja diambil dari tujuh sumber, dari Istana Negara, Cikeas, Pacitan sampai air yang diambil dari rumah Hatta Rajasa. Gak kebayang seberapa spesialnya air ini. Ada kritik mengatakan, kekayaan SBY tahun 2009 itu 7 miliar. Lantas apakah SBY sampai harus nombok ya?
Walaupun demikian, pernikahan ini bukan yang paling mahal sih, beberapa waktu yang lalu pernikahan anaknya Aburizal Bakrie mencapai 100 miliar rupiah. Konon gaun pengantinnya saja 2,5 miliar. Mungkin angka ini terlalu dibesar-besarkan. Saya ingat cincin berlian yang dipake sampai diisi dengan darah segala. Tapi bisa gitu ya? Rasanya hati keluarga Bakrie udah terlanjur tuli sama teriakan korban lumpur Lapindo.
Tahun ini juga banyak teman-teman saya yang menikah. Lagi musim kali ya? Ada yang acaranya sederhana, ada juga yang mewah. Pertanyaan dari ini semua yang muncul, apa yang manusia cari dari pernikahan?
Continue reading »
Ini cerita dari jaman perjanjian lama. Pas Musa disuruh Allah naik ke Gunung Sinai untuk menerima perintah Allah, dia kan tinggal di atas gunung 40 hari. Nah, bangsa Israel, yang notabene baru keluar dari Mesir, mulai merasa khawatir. Mereka minta ke Harun untuk membuatkan bagi mereka allah (Keluaran 32:1). Kenapa yang dibuat adalah patung lembu emas? Ya salah satunya karena bangsa Israel pada waktu itu masih punya konsep seperti bangsa Mesir yang membuat patung untuk disembah. Jadi bangsa Israel pikir Allah itu seperti itu, harus dibuatkan patung.
Sepintas sangat jelas ini adalah penyembahan berhala. Tapi kalau kita baca lebih teliti, di ayat 4 dan 5, bangsa Israel membuat patung ini untuk menyembah TUHAN (Yahwe).
Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: "Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!" Ketika Harun melihat itu, didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu. Berserulah Harun, katanya: "Besok hari raya bagi TUHAN!"
Jadi mereka membuat patung sebagai lambang dari TUHAN (Yahwe), dan kita tahu Tuhan tidak berkenan dan murka. Tuhan bilang gini:
Lagi firman TUHAN kepada Musa: "Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk. Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar." (Keluaran 32:9-10)
Ada beberapa hal yang kita bisa belajar. Menyembah Tuhan dengan cara kita sendiri sama dengan menyembah berhala, dan Tuhan murka akan hal itu. Kita mungkin saya bermaksud untuk menyembah Tuhan, tapi cara kita menyembah Tuhan dengan cara kita sendiri. Kita menyembah Tuhan yang kita bentuk sendiri dalam pikiran kita, bukan Tuhan yang “Aku adalah Aku”.
Konsep Ngaco “Tuhan adalah kasih, jadi mana mungkin dia menghukum manusia”
Ini ide yang dicetuskan oleh banyak orang, termasuk yang santer baru-baru ini oleh Rob Bell. Jadi dia membentuk konsep sendiri tentang Tuhan. Dalam argumen dia, bagaimana mungkin Tuhan yang adalah kasih, bisa dengan kejam menghukum orang jahat ke neraka. Seharusnya Tuhan itu kan maha pengasih dan maha penyayang, masa tidak ada ampun bagi orang yang berbuat jahat. Kalau kita pikirkan kembali, pola pikir Rob Bell sama seperti pola pikir Israel yang membentuk patung lembu emas. Dia memberi definisi dia sendiri tentang siapa itu Tuhan.
Pengetahuan kita tentang Tuhan
Kalau kita liat dua post sebelumnya Keagungan Tuhan. Kadang kita lupa, kita menganggap dari hari ke hari kita mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Padahal yang terjadi bukan lah kita semakin mengenal Tuhan, tapi Tuhan lah yang me-reveal dirinya kepada kita. Kita lah yang diberikan kesempatan untuk mengenal Tuhan lebih lagi. Pikiran Tuhan bukanlah pikiran manusia, kita tidak bisa mengerti pikiran Tuhan. Kalau saya seorang ilmuwan yang bikin komputer, bagaimana mungkin komputer yang saya ciptakan bisa menjadi expert tentang diri saya yang menciptakannya. Yang ada juga saya mereveal diri saya kepada komputer.
Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. (Yesaya 55:8) atau dalam bahasa Inggris: "For my thoughts are not your thoughts, neither are your ways my ways," declares the LORD.
Ketika kita berkata, “Ah saya tidak percaya pada Tuhan yang akan … “, coba kita pikirkan ulang. Apakah benar seperti itu? Kita harus berhati-hati karena ketika membuat statement itu, kita mencoba mendefinisikan apa yang akan Tuhan lakukan. Sedangkan pikiran Tuhan jauh melebihi pikiran kita. Banyak hal yang kita tidak bisa mengerti, cerita Ayub misalnya, kenapa Tuhan mencobai orang yang faitful? Cerita Niniwe? Tuhan mau memberi kesempatan untuk bertobat? Cerita tentang Tuhan Yesus, kenapa Tuhan mau mengirim anakNya untuk diperlakukan sedemikian rendah?
Tuhan tahu sesuatu yang saya tidak akan pernah tahu, yang pikiran saya tidak bisa cerna.
Iman “jika”
Akhir kata, kembali ke cerita patung lembu emas. Saya berpikir kenapa orang Israel memutuskan untuk membuat patung itu. Yang saya perhatikan iman yang mereka punya pada saat itu adalah iman “jika”. Saya mau percaya Tuhan jika Dia mau menjawab doa saya sekarang juga. Saya mau percaya Tuhan kalau saya bisa melihat jelas tuntunan Tuhan dalam hidup saya. Saya mau ikut Tuhan jika Tuhan memberkati saya. Ah, kalau saya melihat slogan beberapa gereja jaman sekarang yang menggembar-gemborkan “multiplication dan promotion”, rasanya saya ingin mengajak mereka merenungkan kembali cerita lembu emas.
Iman kita mengikut Tuhan, janganlah iman “jika”, tapi iman “walaupun”. Bisakah kita mengatakan “Saya mau ikut Tuhan walaupun…”
Immanuel!
Ayat perenungan sebelum tidur, diambil dari 2 Timotius 2
2:4) Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.
2:5) Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.
2:6) Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.
2:7) Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.
Komentar menarik dari ESV bible study:
- Ayat 4 sering disalahartikan bahwa kita diminta memisahkan hal-hal sekuler dari hal-hal spritual. Padahal, hidup ini ya untuk dijalani dengan sepenuhnya spiritual, tidak mengotak-ngotakan area kehidupan.
- Ayat 7, kata-kata yang menarik “pengertian dalam segala sesuatu” kalau kita memikirkan apa yang ditulis oleh Paulus (i.e. ayat-ayat di Alkitab).
Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya! (Mazmur 131)
Apa sih artinya disapih? Sebelumnya saya kira disapih itu artinya disusui. Bayi itu sedang disapih ibunya, saya kira itu artinya bayi itu sedang disusui ibunya. Jadi pada waktu saya baca ayat di atas, ya masuk di akal: Daud bilang dia telah menenangkan dan mendiamkan jiwanya, seperti anak yang disusui berbaring dekat ibunya.
Ternyata saya selama ini salah. Disapih itu, menurut KBBI, artinya:
2sa·pih v, me·nya·pih v 1 menyarak (menghentikan anak menyusu): ibu itu – anaknya yg sudah berumur dua tahun; 2 (pd ternak) mengakhiri periode anak binatang menyusu pd umur tertentu, msl krn anak sudah dapat memakan pakan ternak dewasa; 3 (pd tanaman) memindahkan benih yg sudah berkecambah dr persemaian lama ke persemaian baru yg lebih besar;
Rupanya disapih itu justru udah berhenti menyusu! *baru mengerti*
Nah, pas baca ayat di atas jadi muncul pertanyaan. Gak disusui tapi kok tenang? Bukannya anak yang gak disusui itu biasanya bakal merengek sama ibunya. Disinilah makna yang mendalam dari ayat ini. Kita semua tau cerita hidup Daud yang kaya akan peristiwa kemenangan dan kejatuhan.
Di Mazmur 131, Daud rupanya bercerita:
- Daud pernah tinggi hati, tetapi sekarang tidak lagi
- Daud pernah memandang dengan sombong, tetapi sekarang tidak lagi
- Daud pernah mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib, tetapi sekarang tidak lagi
Kalau anak yang sedang menyusu, pasti dia tenang, tidak akan gelisah atau cranky. Sama halnya dengan kita, ketika kita berada di dalam kondisi nyaman, comfort zone, kita tidak akan merasa gelisah, sangatlah mudah mengalami hidup yang tenang.
Kalau anak yang mau menyusu, dia masih terlalu kecil untuk mengerti kondisi ibunya. Gak peduli ibunya lagi cape, gak peduli ibunya lagi sakit, gak peduli ibunya lagi masak, dia akan nangis sekenceng2nya minta disusui. Begitu disusui, dia akan tenang. Sama halnya dengan kita, yang kadangkali bersifat seperti anak-anak di hadapan Tuhan. Kita “ngotot” minta apa yang kita mau pada Tuhan, sampai kita mendapatkan apa yang kita mau barulah kita tenang.
Kalau anak sudah bisa disapih. Biasanya dia sudah cukup dewasa untuk mengerti bahwa dia tidak lagi harus menyusu pada ibunya. Anak ini sudah cukup mampu untuk mencerna makan yang lebih solid, gak harus susu lagi.
Inilah yang Daud maksud, jiwanya tenang bagai anak yang disapih berbaring di dekat ibunya. Makna yang saya dapat dari ayat ini adalah ada suatu masa dimana kita sudah lebih sanggup mencerna lika-liku masalah hidup, ngga cuma yang enak-enak saja. Dimana kita merasa tenang bukan karena apa yang Tuhan berikan, tetapi kita merasa tenang karena keberadaan Tuhan di dalam hidup kita. Selama Tuhan ada di samping kita, tidak peduli Tuhan akan memenuhi keinginan kita atau tidak, tidak peduli Tuhan akan mengabulkan doa kita atau tidak, jiwa kita akan tenang.
Tuhan adalah gembalaku dan itu cukup bagiku
