<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gunung batu &#187; Belajar Baca</title>
	<atom:link href="http://gunung-batu.com/tag/belajar-baca/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gunung-batu.com</link>
	<description>tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 May 2012 23:54:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Ishak &#8211; Ribka</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/11/ishak-ribka/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/11/ishak-ribka/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 09:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=2009</guid>
		<description><![CDATA[Konon, biaya pernikahan Ibas (putra Presiden SBY) dengan Aliya (putri Hatta Rajasa) mencapai 12 miliar rupiah. Saya baca beritanya, sepertinya pestanya cukup unik, untuk acara siramannya saja diambil dari tujuh sumber, dari Istana Negara, Cikeas, Pacitan sampai air yang diambil dari rumah Hatta Rajasa. Gak kebayang seberapa spesialnya air ini. Ada kritik mengatakan, kekayaan SBY [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Konon, biaya pernikahan Ibas (putra Presiden SBY) dengan Aliya (putri Hatta Rajasa) mencapai 12 miliar rupiah. Saya baca beritanya, sepertinya pestanya cukup unik, untuk acara siramannya saja diambil dari tujuh sumber, dari Istana Negara, Cikeas, Pacitan sampai air yang diambil dari rumah Hatta Rajasa. Gak kebayang seberapa spesialnya air ini. Ada kritik mengatakan, kekayaan SBY tahun 2009 itu 7 miliar. Lantas apakah SBY sampai harus nombok ya?</p>
<p>Walaupun demikian, pernikahan ini bukan yang paling mahal sih, beberapa waktu yang lalu pernikahan anaknya Aburizal Bakrie mencapai 100 miliar rupiah. Konon gaun pengantinnya saja 2,5 miliar. Mungkin angka ini terlalu dibesar-besarkan. Saya ingat cincin berlian yang dipake sampai diisi dengan darah segala. Tapi bisa gitu ya? Rasanya hati keluarga Bakrie udah terlanjur tuli sama teriakan korban lumpur Lapindo.</p>
<p>Tahun ini juga banyak teman-teman saya yang menikah. Lagi musim kali ya? Ada yang acaranya sederhana, ada juga yang mewah. Pertanyaan dari ini semua yang muncul, apa yang manusia cari dari pernikahan?<span id="more-2009"></span></p>
<p>***</p>
<p>Minggu kemarin saya mengajar kelas sekolah Minggu, topiknya tentang Abraham mencarikan calon istri untuk Ishak. Abraham memandang pernikahan itu sangat penting, sampai-sampai dia mengirimkan anak buahnya untuk cariin jodoh dari tempat asalnya (500 mil jauhnya naek onta). Abraham ngga pengen Ishak menikah dengan orang Kanaan yang menyembah baal. Jadi pernikahan itu sangat penting, bukan hal yang bisa asal-asalan. Seberapa desparatenya seseorang cari jodoh, ingatlah cerita Abraham ini ya, jangan mencari jodoh asal-asalan. Dan yang wanita, tunggulah dicari, jangan malah sebaliknya <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Biarin udah dapet jodoh yang sama-sama orang percaya, namanya masalah tetap ada. Di Alkitab ngga terlalu jelas apa penyebabnya, tapi ada masalah dalam pernikahan Ishak &#8211; Ribka. Kata komentator Alkitab, mereka mulai ada masalah karena sudah 20 menikah dan belum dikaruniai anak. Lalu mungkin masalah ini berkembang ke masalah komunikasi. Ishak orangnya pendiam, Ribka orangnya riang.</p>
<p>Jadi biarpun ketika Ribka mengandung anak kembar (Esau dan Yakub), sebenarnya Tuhan kan udah bilang sama dia di Kejadian 25:23 kalau anaknya itu kembar, salah satu akan jadi lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda. Tapi mengapa Ribka tidak menyampaikan hal ini ke Ishak? Kita bisa menebak, karena ada masalah antara Ishak &#8211; Ribka.</p>
<p>***</p>
<p>Blaise Pascal dulu pernah bilang, &#8220;Ada ruang kosong di hati setiap manusia yang tidak<br />
dapat diisi oleh benda-benda ciptaan, namun hanya dapat diisi oleh Tuhan, Sang Pencipta, yang dikenal melalui Yesus&#8221;. </p>
<p>Manusia sering salah, mereka mengisi ruang ini dengan pernikahan dan ujungnya ruang kosong itu masih ada.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/11/ishak-ribka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya mau ikut Tuhan walaupun&#8230;</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/09/saya-mau-ikut-tuhan-walaupun/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/09/saya-mau-ikut-tuhan-walaupun/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 06:05:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Anugerah]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1978</guid>
		<description><![CDATA[Ini cerita dari jaman perjanjian lama. Pas Musa disuruh Allah naik ke Gunung Sinai untuk menerima perintah Allah, dia kan tinggal di atas gunung 40 hari. Nah, bangsa Israel, yang notabene baru keluar dari Mesir, mulai merasa khawatir. Mereka minta ke Harun untuk membuatkan bagi mereka allah (Keluaran 32:1). Kenapa yang dibuat adalah patung lembu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini cerita dari jaman perjanjian lama. Pas Musa disuruh Allah naik ke Gunung Sinai untuk menerima perintah Allah, dia kan tinggal di atas gunung 40 hari. Nah, bangsa Israel, yang notabene baru keluar dari Mesir, mulai merasa khawatir. Mereka minta ke Harun untuk membuatkan bagi mereka allah (Keluaran 32:1). Kenapa yang dibuat adalah patung lembu emas? Ya salah satunya karena bangsa Israel pada waktu itu masih punya konsep seperti bangsa Mesir yang membuat patung untuk disembah. Jadi bangsa Israel pikir Allah itu seperti itu, harus dibuatkan patung.</p>
<p>Sepintas sangat jelas ini adalah penyembahan berhala. Tapi kalau kita baca lebih teliti, di ayat 4 dan 5, bangsa Israel membuat patung ini untuk menyembah TUHAN (Yahwe).</p>
<blockquote><p><code>Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: "Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!" Ketika Harun melihat itu, didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu. Berserulah Harun, katanya: "Besok hari raya bagi TUHAN!"</code></p></blockquote>
<p>Jadi mereka membuat patung sebagai lambang dari TUHAN (Yahwe), dan kita tahu Tuhan tidak berkenan dan murka. Tuhan bilang gini:</p>
<blockquote><p><code>Lagi firman TUHAN kepada Musa: "Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk. Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar." (Keluaran 32:9-10)</code></p></blockquote>
<p>Ada beberapa hal yang kita bisa belajar. <strong>Menyembah Tuhan dengan cara kita sendiri sama dengan menyembah berhala</strong>, dan Tuhan murka akan hal itu. Kita mungkin saya bermaksud untuk menyembah Tuhan, tapi cara kita menyembah Tuhan dengan cara kita sendiri. Kita menyembah Tuhan yang kita bentuk sendiri dalam pikiran kita, bukan Tuhan yang &#8220;Aku adalah Aku&#8221;.</p>
<p><strong>Konsep Ngaco &#8220;Tuhan adalah kasih, jadi mana mungkin dia menghukum manusia&#8221;</strong></p>
<p>Ini ide yang dicetuskan oleh banyak orang, termasuk yang santer baru-baru ini oleh Rob Bell. Jadi dia membentuk konsep sendiri tentang Tuhan. Dalam argumen dia, bagaimana mungkin Tuhan yang adalah kasih, bisa dengan kejam menghukum orang jahat ke neraka. Seharusnya Tuhan itu kan maha pengasih dan maha penyayang, masa tidak ada ampun bagi orang yang berbuat jahat. Kalau kita pikirkan kembali, pola pikir Rob Bell sama seperti pola pikir Israel yang membentuk patung lembu emas. <strong>Dia memberi definisi dia sendiri tentang siapa itu Tuhan.</strong></p>
<p><strong>Pengetahuan kita tentang Tuhan</strong></p>
<p>Kalau kita liat dua post sebelumnya <a href="http://gunung-batu.com/2011/09/keagungan-tuhan/">Keagungan Tuhan</a>. Kadang kita lupa, kita menganggap dari hari ke hari kita mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Padahal yang terjadi bukan lah kita semakin mengenal Tuhan, tapi <strong>Tuhan lah yang me-reveal</strong> dirinya kepada kita. Kita lah yang diberikan kesempatan untuk mengenal Tuhan lebih lagi. Pikiran Tuhan bukanlah pikiran manusia, kita tidak bisa mengerti pikiran Tuhan. Kalau saya seorang ilmuwan yang bikin komputer, bagaimana mungkin komputer yang saya ciptakan bisa menjadi expert tentang diri saya yang menciptakannya. Yang ada juga saya mereveal diri saya kepada komputer.</p>
<blockquote><p><code>Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. (Yesaya 55:8) atau dalam bahasa Inggris: "For my thoughts are not your thoughts, neither are your ways my ways," declares the LORD.</code></p></blockquote>
<p>Ketika kita berkata, &#8220;Ah saya tidak percaya pada Tuhan yang akan &#8230; &#8220;, coba kita pikirkan ulang. Apakah benar seperti itu? Kita harus berhati-hati karena ketika membuat statement itu, kita mencoba mendefinisikan apa yang akan Tuhan lakukan. Sedangkan pikiran Tuhan jauh melebihi pikiran kita. Banyak hal yang kita tidak bisa mengerti, cerita Ayub misalnya, kenapa Tuhan mencobai orang yang faitful? Cerita Niniwe? Tuhan mau memberi kesempatan untuk bertobat? Cerita tentang Tuhan Yesus, kenapa Tuhan mau mengirim anakNya untuk diperlakukan sedemikian rendah?</p>
<p>Tuhan tahu sesuatu yang saya tidak akan pernah tahu, yang pikiran saya tidak bisa cerna.</p>
<p><strong>Iman &#8220;jika&#8221;</strong></p>
<p>Akhir kata, kembali ke cerita patung lembu emas. Saya berpikir kenapa orang Israel memutuskan untuk membuat patung itu. Yang saya perhatikan iman yang mereka punya pada saat itu adalah iman &#8220;jika&#8221;. Saya mau percaya Tuhan jika Dia mau menjawab doa saya sekarang juga. Saya mau percaya Tuhan kalau saya bisa melihat jelas tuntunan Tuhan dalam hidup saya. Saya mau ikut Tuhan jika Tuhan memberkati saya. Ah, kalau saya melihat slogan beberapa gereja jaman sekarang yang menggembar-gemborkan &#8220;multiplication dan promotion&#8221;, rasanya saya ingin mengajak mereka merenungkan kembali cerita lembu emas.</p>
<p>Iman kita mengikut Tuhan, janganlah iman &#8220;jika&#8221;, tapi iman &#8220;walaupun&#8221;. Bisakah kita mengatakan <strong>&#8220;Saya mau ikut Tuhan walaupun&#8230;&#8221;</strong></p>
<p>Immanuel!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/09/saya-mau-ikut-tuhan-walaupun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perenungan &#8211; 2 Timotius 2</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/08/perenungan-2-timotius-2/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/08/perenungan-2-timotius-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Aug 2011 06:10:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1943</guid>
		<description><![CDATA[Ayat perenungan sebelum tidur, diambil dari 2 Timotius 2 2:4) Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. 2:5) Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga. 2:6) Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ayat perenungan sebelum tidur, diambil dari 2 Timotius 2</p>
<blockquote><p>2:4) Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.<br />
2:5) Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.<br />
2:6) Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.<br />
2:7) Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.</p></blockquote>
<p>Komentar menarik dari ESV bible study:</p>
<ul>
<li>Ayat 4 sering disalahartikan bahwa kita diminta memisahkan hal-hal sekuler dari hal-hal spritual. Padahal, hidup ini ya untuk dijalani dengan sepenuhnya spiritual, tidak mengotak-ngotakan area kehidupan.</li>
<li>Ayat 7, kata-kata yang menarik &#8220;pengertian dalam <strong>segala</strong> sesuatu&#8221; kalau kita memikirkan apa yang ditulis oleh Paulus (i.e. ayat-ayat di Alkitab).</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/08/perenungan-2-timotius-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuhan adalah gembalaku dan itu cukup bagiku</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/04/tuhan-adalah-gembalaku-dan-itu-cukup-bagiku/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/04/tuhan-adalah-gembalaku-dan-itu-cukup-bagiku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 08:39:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Life Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1863</guid>
		<description><![CDATA[Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya! (Mazmur 131)</p></blockquote>
<p>Apa sih artinya disapih? Sebelumnya saya kira disapih itu artinya disusui. Bayi itu sedang disapih ibunya, saya kira itu artinya bayi itu sedang disusui ibunya. Jadi pada waktu saya baca ayat di atas, ya masuk di akal: Daud bilang dia telah menenangkan dan mendiamkan jiwanya, seperti anak yang disusui berbaring dekat ibunya.</p>
<p>Ternyata saya selama ini salah. Disapih itu, menurut KBBI, artinya:</p>
<blockquote><p>2sa·pih v, me·nya·pih v 1 menyarak (menghentikan anak menyusu): ibu itu &#8211; anaknya yg sudah berumur dua tahun; 2 (pd ternak) mengakhiri periode anak binatang menyusu pd umur tertentu, msl krn anak sudah dapat memakan pakan ternak dewasa; 3 (pd tanaman) memindahkan benih yg sudah berkecambah dr persemaian lama ke persemaian baru yg lebih besar;</p></blockquote>
<p>Rupanya disapih itu justru udah berhenti menyusu! *baru mengerti*</p>
<p>Nah, pas baca ayat di atas jadi muncul pertanyaan. Gak disusui tapi kok tenang? Bukannya anak yang gak disusui itu biasanya bakal merengek sama ibunya. Disinilah makna yang mendalam dari ayat ini. Kita semua tau cerita hidup Daud yang kaya akan peristiwa kemenangan dan kejatuhan.</p>
<p>Di Mazmur 131, Daud rupanya bercerita:</p>
<ul>
<li> Daud pernah tinggi hati, tetapi sekarang tidak lagi</li>
<li> Daud pernah memandang dengan sombong, tetapi sekarang tidak lagi</li>
<li> Daud pernah mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib, tetapi sekarang tidak lagi</li>
</ul>
<p>Kalau anak yang sedang menyusu, pasti dia tenang, tidak akan gelisah atau cranky. Sama halnya dengan kita, ketika kita berada di dalam kondisi nyaman, comfort zone, kita tidak akan merasa gelisah, sangatlah mudah mengalami hidup yang tenang.</p>
<p>Kalau anak yang mau menyusu, dia masih terlalu kecil untuk mengerti kondisi ibunya. Gak peduli ibunya lagi cape, gak peduli ibunya lagi sakit, gak peduli ibunya lagi masak, dia akan nangis sekenceng2nya minta disusui. Begitu disusui, dia akan tenang. Sama halnya dengan kita, yang kadangkali bersifat seperti anak-anak di hadapan Tuhan. Kita &#8220;ngotot&#8221; minta apa yang kita mau pada Tuhan, sampai kita mendapatkan apa yang kita mau barulah kita tenang.</p>
<p>Kalau anak sudah bisa disapih. Biasanya dia sudah cukup dewasa untuk mengerti bahwa dia tidak lagi harus menyusu pada ibunya. Anak ini sudah cukup mampu untuk mencerna makan yang lebih solid, gak harus susu lagi. </p>
<p>Inilah yang Daud maksud, jiwanya tenang bagai anak yang disapih berbaring di dekat ibunya. Makna yang saya dapat dari ayat ini adalah ada suatu masa dimana kita sudah lebih sanggup mencerna lika-liku masalah hidup, ngga cuma yang enak-enak saja. <strong>Dimana kita merasa tenang bukan karena apa yang Tuhan berikan, tetapi kita merasa tenang karena keberadaan Tuhan di dalam hidup kita</strong>. Selama Tuhan ada di samping kita, tidak peduli Tuhan akan memenuhi keinginan kita atau tidak, tidak peduli Tuhan akan mengabulkan doa kita atau tidak, jiwa kita akan tenang.</p>
<p><strong>Tuhan adalah gembalaku dan itu cukup bagiku</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/04/tuhan-adalah-gembalaku-dan-itu-cukup-bagiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan takut, percaya saja</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/04/jangan-takut-percaya-saja/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/04/jangan-takut-percaya-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 07:55:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1857</guid>
		<description><![CDATA[Kalau kita baca cerita di Alkitab, ada beberapa peristiwa yang pas kita baca, kita bisa merasa &#8220;geregetan&#8221; sama Tuhan. Sebutlah cerita Tuhan Yesus meredakan angin ribut. Tuhan Yesus dengan tenang bisa tidur. Gimana ngga geregetan, Tuhan sebetulnya bisa langsung tolong tapi Tuhan malah tidur. Padahal ini masalah (Dan kita tahu, setelah Tuhan Yesus bangun, Dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau kita baca cerita di Alkitab, ada beberapa peristiwa yang pas kita baca, kita bisa merasa &#8220;geregetan&#8221; sama Tuhan. Sebutlah cerita Tuhan Yesus meredakan angin ribut. Tuhan Yesus dengan tenang bisa tidur. Gimana ngga geregetan, Tuhan sebetulnya bisa <strong>langsung</strong> tolong tapi Tuhan malah tidur. Padahal ini masalah (Dan kita tahu, setelah Tuhan Yesus bangun, Dia cukup berkata pada angin &#8220;Diamlah&#8221;, dan pada gelombang ombak, &#8220;Tenanglah&#8221;. Kalo kata temen saya, &#8220;Ciamik!&#8221; <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Nah, cerita kedua yang menurut saya lebih bikin geregetan lagi ada di Markus 5. Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Tuhan Yesus diminta menyembuhkan anaknya Yairus yang udah mau meninggal. Bisa dibayangin Yairus ini dalam kondisi <span style="text-decoration: underline;">putus asa</span>, apapun yang bisa dilakukan buat supaya anaknya sembuh bakal dijalanin. Termasuk minta tolong pada Yesus. Buat seorang kepala rumah ibadat orang Yahudi, kalau minta tolong sama Yesus bisa <span style="text-decoration: underline;">beresiko dikucilin</span> secara Yesus jaman itu dianggap pemberontak oleh kaum Farisi. Bayangin aja, kepala rumah ibadat malah menyembah Yesus.</p>
<p><strong>Yesus memutuskan untuk menuju rumah Yairus&#8230;</strong></p>
<p>Di tengah jalan, Yesus &#8220;dicegat&#8221; seorang wanita yang udah 12 tahun menderita pendarahan. Pendarahan pada wanita umumnya terjadi sebulan sekali, tapi ini udah 12 tahun ngga berhenti. Kebayang bagaimana keadaan wanita itu. Wanita itu udah ditolak dan dikucilkan secara sosial karena dipandang cemar. Dia juga mendengar kabar tentang Yesus. Pas Yesus lagi dikerumuni orang banyak, wanita ini memberanikan diri untuk diam-diam menjamah jubah Yesus. Ajaibnya, begitu dia menjamah jubah Yesus, dia langsung sembuh! Kebayang ngga, udah 12 tahun sakit pendarahan&#8230;terus sembuh!<span id="more-1857"></span></p>
<p>Terus Yesus tanya &#8220;Siapa yang menjamah jubahku?&#8221;. Nah&#8230;kalau jadi wanita ini, pasti deg2an lah secara dia adalah orang yang dikucilkan secara sosial, pasti malu dan takut buat mengaku. Bisa-bisa wanita itu dicemooh orang banyak. Coba kalau saudara-saudara jadi wanita ini, bakal ngaku ngga? Kalau ngaku, habislah dicemooh orang secara dia dipandang cemar tapi berani menyentuh Yesus, bisa dirajam mati tuh waktu itu. Tapi perempuan ini walaupun takut dan gemetar berani maju, tersungkur di depan Yesus.</p>
<p>Yesus sebagai Tuhan pasti tau kalau pertanyaan &#8220;Siapa yang menjamah Aku?&#8221;. Aneh gak? Yesus lagi dikerumuni orang banyak. Ada banyak yang menjamah jubahNya, tapi Dia insist untuk tanya siapa yang menjamah jubahNya. Dia mengharapkan wanita itu untuk mengaku. Dia tahu kalau pertanyaanNya itu bisa membahayakan nasib di wanita &#8220;cemar&#8221; yang baru sembuh ini. Kenapa? Sebenernya&#8230;disini menariknya, apakah Tuhan mau menambah beban wanita ini? Menyembuhkan tapi mau bikin susah hidup wanita ini? Sekalipun tidak. Wanita ini bukan hanya sakit fisik (pendarahan), tapi juga sakit sosial. Dia perlu disembuhkan secara sosial, dan disini lah Tuhan Yesus memberikan affirmasi untuk perempuan ini.</p>
<p>Kalo jadi wanita ini, dia pasti mikir maju jangan ya&#8230;maju jangan ya. Tapi sepertinya wanita ini pasrah pada Tuhan dan dia maju, menceritakan semuanya. Tuhan bilang, &#8220;Imanmu menyelamatkan kamu&#8221;. Double shot! <span style="text-decoration: underline;">Wanita ini sembuh fisik dan mental.</span> Bahkan Tuhan panggil wanita ini &#8220;Hai anak-Ku..&#8221; (ayat 34). Wanita yang tadinya dikucilkan, eh ini Tuhan panggil dia sbg anak.</p>
<p><strong>Kembali ke cerita tentang Yairus&#8230;</strong></p>
<p>Kebayang ngga kaya gimana perasaanya. Dia lagi panik anaknya mau meninggal. Eh Tuhan Yesus pas lagi jalan pake acara berenti dulu nyembuhin orang lain dulu. Menurut logika, ini gak masuk di akal. Yang lebih emergency kan anaknya Yairus, bukan perempuan yang udah pendarahan 12 tahun! Pas Yesus masi bicara, datanglah orang dari rumah Yairus bilang kalau anaknya Yairus udah meninggal.</p>
<p>Gimana nih perasaannya Yairus. Uniknya, apa jawaban Tuhan? Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: &#8220;<strong>Jangan takut, percaya saja!</strong>&#8221; (ayat 36)</p>
<p>Ini dia highlight cerita ini. Tuhan ngga merasa guilty. Padahal anak Yairus udah mati, seharusnya Yesus bilang &#8220;jangan sedih&#8221; bukannya &#8220;jangan takut&#8221;. Kebayang kan klo dokter telat menolong pasien, pasti merasa bersalah. Begitu sampai di rumah Yairus, Tuhan Yesus membangkitkan anak Yairus dengan cuma mengatakan &#8220;Talita kum&#8221; yang artinya &#8220;Anakku, bangun yuk&#8221;. Dan anak itu bangun <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Perenungan</strong></p>
<p>Saya menyarakan untuk pembaca sekali membaca sendiri kisah di Markus 5 dan menempatkan diri menjadi Yairus ataupun wanita yang menderita pendarahan selama 12 tahun.</p>
<p>Point pertama perenungan saya: kadangkala, kita berada di situasi yang bisa membuat kita putus harapan. Tetapi seperti Yairus dan wanita ini, janganlah menyerah berharap pada Tuhan.</p>
<p>Kedua, kita mungkin merasa pertolongan Tuhan tidak datang pada waktu yang kita harapkan. Most of the time, pekerjaan Tuhan tidak mengikuti timing kita. Tuhan udah sepertinya mau nolong, eh malah berenti nolong orang lain dulu. Bikin &#8220;geregetan&#8221;. Tuhan tidak lupa, yang terjadi adalah Tuhan bekerja berdasarkan waktuNya. Kalau Tuhan mengikuti timing kita, maka kita tidak akan mengalami kasih dan pekerjaan Tuhan di dalam kita. Dan Tuhan tidak akan ijinkan itu terjadi. Seringkali delay/penundaan merupakan persiapan untuk menyatakan something yang sangat crucial/priceless dalam hidup kita.</p>
<p>Coba ingat&#8230;penantian Abraham akan kehadiran seorang anak, penantian Yusuf untuk bertemu/mengampuni saudara-saudaranya, penantian Ayub, penantian Daud menjadi raja, dll. Penantian-penantian ini membentuk karakter <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ketiga, disembuhkan Tuhan itu beresiko. Kalau Tuhan menyembuhkan, ada keputusan yang harus diambil. Orang yang Tuhan sembuhkan harus bersedia untuk hatinya direnovasi. Jangan takut, percaya saja!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/04/jangan-takut-percaya-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kok jahat sekali ya</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/12/kok-jahat-sekali-ya/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/12/kok-jahat-sekali-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Dec 2010 08:39:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1768</guid>
		<description><![CDATA[Coba tonton video ini dulu, kemudian baca komentar saya di bawah ini. Ada tiga perasaan ketika saya menonton video ini: kasihan, sedih &#38; geram. Kasihan dengan orang yang menonton video ini begitu saja, dan mempercayai isinya sebagai kebenaran Tuhan. Sedih karena firman Tuhan kok dipermainkan seperti ini. Geram dengan orang yang dengan sadar tidak menuntun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Coba tonton <a href="http://www.youtube.com/watch?v=8R0Gafg5YfI" target="_blank">video ini</a> dulu, kemudian baca komentar saya di bawah ini.</p>
<p>Ada tiga perasaan ketika saya menonton video ini: kasihan, sedih &amp; geram. Kasihan dengan orang yang menonton video ini begitu saja, dan mempercayai isinya sebagai kebenaran Tuhan. Sedih karena firman Tuhan kok dipermainkan seperti ini. Geram dengan orang yang dengan sadar tidak menuntun orang pada pemahaman yang benar tentang Tuhan. Kok jahat sekali ya.</p>
<p>Dari dulu bicara tanda-tanda, kutip Alkitab secuplik-secuplik lalu artikan di luar konteksnya. Bicara bulan bintang, goncangan, api, angin. Duh. Di video ini membahas angka 26 yang dikaitkan dengan bencana di Indonesia. Dari sisi fakta, ini udah salah, karena:</p>
<ul>
<li>Gempa Jogja itu tanggal 27 Mei 2006, bukan tanggal 26.</li>
<li>Gempa di Tasik bukan hanya terjadi tanggal 26 Juni 2010. Tapi sering. Bahkan gempa yang terbilang besar kekuatannya itu yang tahun 2009, tepatnya 2 September 2009 (7,3 skala Richter).</li>
<li>Gempa bumi Mentawai itu tanggal 25 Oktober, bukan tanggal 26.<span id="more-1768"></span></li>
</ul>
<p>Lalu dia bilang, &#8220;Hari-hari ini Tuhan berbicara tentang angka 26&#8243;. Artinya Tuhan lagi berbicara dari Hagai 2:6, &#8220;sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut!&#8221;&#8230;.Hah, bagaimana bisa Hagai 2:6 dikaitkan sama angka 26? Kenapa gak dari Matius 2:6 kek, atau Mazmur 2:6, atau Ayub 2:6. Hmmmm&#8230;mengada-ngada. Belum lagi kalau Alkitab bahasa Inggris Hagai 2:6 di Indonesia adalah Hagai 2:7 di Alkitab bahasa Inggris.</p>
<p>Dengan jutaan bencana di dunia, dan hanya 28, 29, 30, atau 31 tanggal dalam satu bulan, jelas kita akan bisa menemukan bencana-bencana di tanggal 1, 2, dst. Tinggal niat apa ngga kita nyari datanya. Gak perlu mengait2kan bencana yang terjadi dengan mistis-mistis, apalagi dikaitkan dengan Hagai 2:6.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/12/kok-jahat-sekali-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ulasan buku &#8211; The Christian Atheist</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/10/review-buku-the-christian-atheist/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/10/review-buku-the-christian-atheist/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Oct 2010 21:14:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1675</guid>
		<description><![CDATA[Suatu waktu Martin Luther mengalami depresi, duduk seharian, bengong, selalu merasa sedih. Gak ada yang bisa membuat dia keluar dari perasaan depresinya. Teman-temannya khawatir kalau Martin Luther begitu terus, lama-lama dia bisa mati. Lalu suatu malam, istrinya menghampiri Martin Luther dengan pakaian berkabung. Martin Luther kaget, dia tanya pada istrinya, &#8220;Katherine, ada apa? Kenapa kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-1676" title="homebook2" src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/10/homebook2-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" />Suatu waktu Martin Luther mengalami depresi, duduk seharian, bengong, selalu merasa sedih. Gak ada yang bisa membuat dia keluar dari perasaan depresinya. Teman-temannya khawatir kalau Martin Luther begitu terus, lama-lama dia bisa mati. Lalu suatu malam, istrinya menghampiri Martin Luther dengan pakaian berkabung. Martin Luther kaget, dia tanya pada istrinya, &#8220;Katherine, ada apa? Kenapa kamu memakai baju berkabung?&#8221;.</p>
<p>Istrinya dengan suara sedih berkata, &#8220;Mengerikan! Tuhan meninggal (God is dead)&#8221;. Luther menjawab, &#8220;Apa maksudmu? Ngomong apaan sih?&#8221;. Konon Martin Luther orangnya lumayan tempramental. Jadi lumayan terbayang betapa emosinya percakapan ini. Istrinya kemudian menjawab, &#8220;Apakah kamu Martin Luther? Apakah kamu adalah suamiku dan pendetaku?&#8221;. Martin Luther, &#8220;Iya&#8221;. &#8220;Belakangan ini, tindakanmu menunjukkan bahwa Tuhan sudah mati. Kalau Tuhan itu hidup, tentunya engkau pastinya punya iman di dalam Dia, untuk menghadapi masalahmu?&#8221;&#8230;Jadi ceritanya, Martin Luther sekalipun pernah berada di titik dimana dia bertindak seolah-olah Tuhan tidak ada, padahal dia adalah orang percaya.<span id="more-1675"></span></p>
<p><strong>Kontroversi Judul Buku</strong></p>
<p>Minggu lalu saya baru beres baca buku berjudul &#8220;Christian Atheist&#8221;. Tag line dari buku itu kurang lebih menjelaskan isinya: believing in God but living as if He does not exist. Judulnya kontroversial, dan juga lumayan catchy. Pas mau ngereview buku ini, saya sempet baca review yang kontra dengan buku ini. Beberapa orang tidak setuju dengan penggunaan kata &#8220;Christian&#8221; yang disandingkan dengan kata &#8220;Atheist&#8221;. Dan juga ada beberapa kritik bahwa buku ini lebih mengarah kepada Social Gospel karena seolah-olah karakteristik orang Kristen sejati adalah yang sudah melakukan beberapa hal dalam buku ini. Jadi seolah-olah, fokus kekristenan lebih ditekankan pada perbuatan manusia, bukan pada Kristus sendiri.</p>
<p>Hmmm&#8230;saya percaya fokus dari Injil sendiri haruslah pada Kristus, dan hanya Kristus, bukan pada perbuatan baik kita. Perbuatan baik tidak mendatangkan keselamatan. Keselamatan datang murni sebagai anugerah dan inisiatif Tuhan. Yohanes 3:16 tetap menjadi salah satu ayat terindah bagi saya, &#8220;Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal&#8221;</p>
<p>Kembali mengenai kontroversi buku ini, saya membaca buku ini dengan perspektif introspeksi diri. Ketika seseorang &#8220;dilahirkan kembali&#8221; sebagai orang yang percaya pada Tuhan, selama masih di dunia, sisi manusia yang berdosa tetaplah ada. Jadi tidak mungkin bisa (dengan kekuatan sendiri), menjadi orang &#8220;suci&#8221; yang tidak bisa merasa marah, yang selalu mengampuni kalau dijahati, yang tidak bisa kecewa dengan gereja, yang tidak pernah khawatir akan pekerjaan, dll. Justru di dalam kelemahan itulah, dengan pertolongan Roh Kudus kita menapaki hari demi hari.</p>
<p>Saya agak sulit mencerna pendapat ketika seseorang lahir baru, dia akan &#8220;jreng2..bukan sulap bukan sihir&#8221; jadi orang yang tidak bercacat cela. Itu adalah proses setiap orang percaya. Manusia bukan robot yang ketika jadi orang percaya, lantas kelemahannya hilang semua. Dosa emang sudah ditebus oleh Tuhan Yesus, tetapi kelemahan dan akibat dosa tetaplah harus ditanggung sebagai manusia. Jadi&#8230;ketika anda membaca buku ini, jangan baca buku ini sebagai buku doktrin, karena ini bukan buku doktrin. Tetapi lebih ke arah buku perenungan diri sendiri (yang seharusnya sih membuat kita berpikir apakah benar kita percaya pada Tuhan, dan hal itu terlihat dari tindakan kita)</p>
<p><strong>Realita</strong></p>
<p>Dengan bahasa yang sederhana, buku ini mengajak kita memikirkan kembali &#8220;titik hitam&#8221; dalam perjalanan hidup kita bersama Tuhan. Entah titik hitam itu adalah suatu trauma masa lalu, kekhawatiran akan pekerjaan, keraguan akan keselamatan, dll. Buku ini bagus untuk dibaca semua orang Kristen, terlepas apakah orang itu baru mengenal Tuhan maupun sudah bertahun-tahun menjadi orang percaya. Beberapa highlight dari buku ini:</p>
<ul>
<li>When You Believe in God but Don’t Really Know Him</li>
<li>When You Believe in God but Are Ashamed of Your Past</li>
<li>When You Believe in God but Aren’t Sure He Loves You</li>
<li>When You Believe in God but Not in Prayer</li>
<li>When You Believe in God but Don’t Think He’s Fair</li>
<li>When You Believe in God but Won’t Forgive</li>
<li>When You Believe in God but Don’t Think You Can Change</li>
<li>When You Believe in God but Still Worry All the Time</li>
<li>When You Believe in God but Pursue Happiness at Any Cost</li>
<li>When You Believe in God but Trust More in Money</li>
<li>When You Believe in God but Don’t Share Your Faith</li>
<li>When You Believe in God but Not in His Church</li>
</ul>
<p>Dari judul bab-babnya, sangat jelas terlihat buku ini lebih membahas sisi praktik dari kehidupan Kristen. Setiap bab yang ada membuat kita menggali, apa sih yang sebenernya ada di hati kita. Apakah benar Tuhan menempati tempat tertinggi dalam hati kita? Terlepas dari masalah yang kita hadapi, kesulitan finansial, kepahitan masa lalu, sisi gelap kita yang dulu.</p>
<p>Ketika kita bilang kita percaya pada Tuhan, secara ngga sadar, tindakan kita sama sekali gak menunjukkan bahwa kita benar-benar percaya. Rasa percaya kita pada Tuhan mungkin cuma sebatas tingkat kenyamanan kita. &#8220;Selama saya merasa nyaman, ya saya percaya lah sama Tuhan&#8221;. Di akhir buku ini, ada tiga kategori orang yang percaya Tuhan:</p>
<ol>
<li>Percaya sebatas keuntungan. Kasarnya, &#8220;Ada untung Tuhan disayang, ngga untung Tuhan ditendang&#8221;. Seberapa sering sih jaman sekarang Tuhan sering dijadikan alat untuk memenuhi kebutuhan. Kalau mau ujian, berdoa, ngga ujian ya ngga berdoa. Kalau makan siang sendirian, berdoa dulu, tapi kalau rame-rame, ngga mau berdoa karena malu sama yang ngga berdoa, gak pengen dicap sebagai orang Kristen.</li>
<li>Percaya sebatas kenyamanan. Kita percaya Tuhan, kita mungkin terlibat pelayanan di gereja, tapi ada beberapa aspek yang kita lakukan cuma sebatas karena rasa nyaman. Misalnya, kita tau Tuhan pasti mencukupi apa yang kita butuhkan, tapi kita tetap worry, sulit percaya pada Tuhan.</li>
<li>Percaya sepenuhnya, sampai rela mengorbankan apapun untuk Tuhan.</li>
</ol>
<p>Saya sebenarnya punya pendapat yang berbeda tentang kategori di atas. Kalau boleh bikin kategori sendiri, mungkin ada dua kategori: orang yang percaya Tuhan karena mau untungnya/nyamannya, dan orang yang percaya Tuhan karena Tuhannya sendiri. Selama masih ada keinginan/kehausan yang diimbangi dengan perbuatan untuk mengenal Tuhan&#8230;itu udah indah sekali.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Terlepas dari judulnya yang kontroversial, buku ini menjadi reminder untuk mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh. Ketika kita menyandang predikat &#8220;orang Kristen&#8221;, jangan jadikan itu sekedar status sosial, atau hal itu menjadi sesuatu yang hanya sekedar nama kelompok. Tetapi biarlah hal itu mengarahkan pikiran kita kepada Kristus sendiri. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/10/review-buku-the-christian-atheist/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adalah baik menanti dengan diam pertolongan Tuhan</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/09/adalah-baik-menanti-dengan-diam-pertolongan-tuhan/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/09/adalah-baik-menanti-dengan-diam-pertolongan-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Sep 2010 17:38:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1632</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini secara kebetulan saya membaca Ratapan 3. Yang bercerita tentang kesesakan, kegetiran, tangis, namun Tuhan terus menyertai dan memelihara. Ketika saya mereleksikan ayat-ayat ini dalam perjalanan hidup saya, kesimpulannya cuma satu: Tuhan itu baik. 3:17 Engkau menceraikan nyawaku dari kesejahteraan, aku lupa akan kebahagiaan. 3:18 Sangkaku: hilang lenyaplah kemasyhuranku dan harapanku kepada TUHAN. 3:19 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi ini secara kebetulan saya membaca Ratapan 3. Yang bercerita tentang kesesakan, kegetiran, tangis, namun Tuhan terus menyertai dan memelihara. Ketika saya mereleksikan ayat-ayat ini dalam perjalanan hidup saya, kesimpulannya cuma satu: Tuhan itu baik.</p>
<blockquote><p>3:17	Engkau menceraikan nyawaku dari kesejahteraan, aku lupa akan kebahagiaan.<br />
3:18	Sangkaku: hilang lenyaplah kemasyhuranku dan harapanku kepada TUHAN.<br />
3:19	&#8220;Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.&#8221;<br />
3:20	Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.</p></blockquote>
<p>Di tengah kesengsaraan, Tuhan terus menyertai&#8230;</p>
<blockquote><p>3:21	Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:<br />
3:22	Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,<br />
3:23	selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!<br />
3:24	&#8220;TUHAN adalah bagianku,&#8221; kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.<br />
3:25	TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.<br />
<strong>3:26	Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN</strong>.<br />
3:27	Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya.<br />
3:28	Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau TUHAN membebankannya.<br />
3:29	Biarlah ia merebahkan diri dengan mukanya dalam debu, mungkin ada harapan.<br />
3:30	Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan.<br />
3:31	Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan.<br />
3:32	Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya.<br />
<strong>3:33	Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia</strong>.</p></blockquote>
<p>Terkadang, kegetiran di masa lalu memberikan saya dua pelajaran: belajar untuk mengampuni, dan belajar untuk mensyukuri pemeliharaan Tuhan sampai pada hari ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/09/adalah-baik-menanti-dengan-diam-pertolongan-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keep your goals to yourself</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/09/keep-your-goals-to-yourself/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/09/keep-your-goals-to-yourself/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Sep 2010 19:39:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1611</guid>
		<description><![CDATA[Bener kah demikian?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bener kah demikian?<br />
<object width="446" height="326"><param name="movie" value="http://video.ted.com/assets/player/swf/EmbedPlayer.swf"></param><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always"/><param name="wmode" value="transparent"></param><param name="bgColor" value="#ffffff"></param><param name="flashvars" value="vu=http://video.ted.com/talks/dynamic/DerekSivers_2010G-medium.flv&#038;su=http://images.ted.com/images/ted/tedindex/embed-posters/DerekSivers-2010G.embed_thumbnail.jpg&#038;vw=432&#038;vh=240&#038;ap=0&#038;ti=947&#038;introDuration=15330&#038;adDuration=4000&#038;postAdDuration=830&#038;adKeys=talk=derek_sivers_keep_your_goals_to_yourself;year=2010;theme=how_we_learn;theme=a_taste_of_tedglobal_2010;theme=the_creative_spark;theme=unconventional_explanations;theme=how_the_mind_works;theme=new_on_ted_com;event=TEDGlobal+2010;&#038;preAdTag=tconf.ted/embed;tile=1;sz=512x288;" /><embed src="http://video.ted.com/assets/player/swf/EmbedPlayer.swf" pluginspace="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" bgColor="#ffffff" width="446" height="326" allowFullScreen="true" allowScriptAccess="always" flashvars="vu=http://video.ted.com/talks/dynamic/DerekSivers_2010G-medium.flv&#038;su=http://images.ted.com/images/ted/tedindex/embed-posters/DerekSivers-2010G.embed_thumbnail.jpg&#038;vw=432&#038;vh=240&#038;ap=0&#038;ti=947&#038;introDuration=15330&#038;adDuration=4000&#038;postAdDuration=830&#038;adKeys=talk=derek_sivers_keep_your_goals_to_yourself;year=2010;theme=how_we_learn;theme=a_taste_of_tedglobal_2010;theme=the_creative_spark;theme=unconventional_explanations;theme=how_the_mind_works;theme=new_on_ted_com;event=TEDGlobal+2010;"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/09/keep-your-goals-to-yourself/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Monyetnya kena gak?</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/02/monyetnya-kena-gak/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/02/monyetnya-kena-gak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 18:10:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1295</guid>
		<description><![CDATA[Tujuh tahun lalu saya ikut ujian saringan masuk (usm) Unpar. Pilihan pertama Teknik Industri, pilihan keduanya Teknik Sipil. Yang diuji sebenarnya cuma dua bidang: matematika sama bahasa inggris. Cuma karena pilihan keduanya itu Teknik Sipil, harus ikut tes fisika juga. Nah, satu soal fisika yang bikin saya penasaran, sampai masi teringat sampai sekarang itu begini: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tujuh tahun lalu saya ikut ujian saringan masuk (usm) Unpar. Pilihan pertama Teknik Industri, pilihan keduanya Teknik Sipil. Yang diuji sebenarnya cuma dua bidang: matematika sama bahasa inggris. Cuma karena pilihan keduanya itu Teknik Sipil, harus ikut tes fisika juga.</p>
<p>Nah, satu soal fisika yang bikin saya penasaran, sampai masi teringat sampai sekarang itu begini:</p>
<blockquote><p>Seorang pemburu membidik seekor monyet yang sedan bergelantungan di dahan pohon. Monyet ini berada di jarak 200 m dari pemburu terhadap horizontal. Ketika pemburu meletuskan senapannya, monyet kehilangan kesetimbangan, kemudian jatuh dari dahan pohon. Apakah peluru dapat mengenai monyet? Jika mengenai monyet, apa yang dapat kamu simpulkan mengenai posisi monyet dan peluru ketika itu?</p></blockquote>
<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/02/PemburuMonyet1.png" alt="" title="PemburuMonyet" width="327" height="172" class="alignright size-full wp-image-1297" />Hah? Jujur aja waktu itu saya malah ketawa-ketawa, dalam pikiran, ya mana saya tau kena apa kaga, terus posisi monyetnya seperti apa. Haha, saya pikir orang teknik sipil suka guyon juga ya. Tapi karena penasaran saya ikuti nasehat papa. Papa sering bilang, &#8220;Kalo bingung, coba gambar/tulis&#8221;. Ya, papa orang teknik sipil gitu lho, jadi ya emang kalo nanya soal sama papa pasti digambar dulu. Soal matematik, fisika, kimia, semua biasanya digambar dulu. Anyway, kalau digambar ternyata ada perspektif berbeda yang kita bisa dapetin:</p>
<p><span id="more-1295"></span><br />
Kan jaraknya 200m horizontal. Dan itu pasti siku-siku, jadi kita bisa dapetin kalo sudut sisanya (sudut A + sudut B) pasti 90 derajat juga (secara sudut total segitiga itu 180 derajat). Nah dengan konsep phytagoras, kita bisa asumsi dengan logika, kalau tingginya itu 150 m. Contoh sederhananya: segitiga phytagoras sederhana sisinya kan (3,4,5), rumusnya a2 + b2 = c2. Juga, dengan konsep phytagoras, kita bisa ketemu salah satu sudutnya itu 37 derajat.</p>
<p>Oh well&#8230;dengan digambar, ketemu lah situasinya. Tapi, waktu itu tetep aja gak ktemu jawabannya. Bener-bener mana saya tau bakal kena monyetnya apa ngga.haha. Nah, kemarin2 ini somehow saya teringat lagi soal fisika itu. Sebenernya itu gimana sih? Apa monyetnya kena apa ngga. Alhasil saya coba google, dan ketemu jawabannya.</p>
<p>Ternyata soal yang saya dapat waktu itu belum lengkap. Seharusnya dikasi tau berapa kecepatan pelurunya: kalo pelurunya 50 m/s gmana, kalo pelurunya 25 m/s gmana. Barulah kita bisa menjawab monyetnya kenapa apa ngga, gimana posisi monyetnya. <a href="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/02/Jawaban.png">Berikut</a> ini solusinya kalau penasaran.</p>
<p>Oh well, ajaibnya saya lulus tes usm tersebut.</p>
<p>***</p>
<p>Sebenernya, menambah aspek filosofis (maaf jika terasa agak lebay, tapi ini ada benarnya), hidup juga seperti itu. Kita disodorkan bermacam-macam soal hidup. Ada yang bisa kita jawab dengan mudah. Ada yang kita jawab dengan salah. Ada yang bikin kita ketawa.</p>
<p>Ada soal yang kalau kita gak bisa jawab, masa depan kita bisa berbeda. Kalau cuma soal fisika mungkin sepele, paling berakhir di universitas A atau B. Tapi kadang konsekuensi persoalan hidup bisa lebih eternal dari hal-hal di atas.</p>
<p>Ada soal yang kita gak bisa jawab, bukan karena kita gak mengerti. Tapi karena soalnya tidak lengkap. Mungkin &#8220;Yang memberi soal ujian&#8221; belum selesai memberi informasi, sepintar apapun kita ya gak akan bisa menjawab dengan benar. Soalnya gak lengkap oi.</p>
<p>Ada soal yang kadang dibikin gak lengkap, supaya kita tanya si Pembuat Soal. Mungkin sebenarnya si Pembuat Soal itu cuma mau supaya kita datang dan bertanya minta petunjuk. Juga kalau kasusnya demikian, aspek yang diuji bukan cuma apa yang terpapar di lembar soal, aspek inisiatif untuk menjawab soal juga diuji. </p>
<p>Go the extra mile. Jangan menyerah begitu aja. Kalau bingung, berhenti sejenak, gambar persoalannya. Apa yang kita tahu? Apa tujuan kita? Prinsip-prinsip apa yang kita tahu? Jelas, prinsip-prinsip hidup akan menuntun kita untuk menyelesaikan persoalan-persoalan. Pegang lah &#8220;Prinsip Kebenaran&#8221; yang sejati.</p>
<p>Akhir kata, soal-soal yang diberikan dalam hidup diberikan dengan maksud yang baik, dan ada tujuan yang pasti. Entah itu masuk ke perguruan tinggi, atau tujuan yang lebih kekal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/02/monyetnya-kena-gak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menemukan Idols</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/12/menemukan-idols/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/12/menemukan-idols/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 22:40:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=796</guid>
		<description><![CDATA[Bagian dari refleksi setelah dua bulan ini baca bukunya J.I. Packer yang judulnya Knowing God. Buku ini emang sering banget direkomendasiin sama hamba Tuhan. Konon katanya, buku ini cocok buat orang yang masih dalam tahap awal mengikut Tuhan. Dalam hati saya pikir, wah itu saya. Walaupun Kristen sejak lahir, tapi perjalanan rohani sesungguhnya baru tumbuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagian dari refleksi setelah dua bulan ini baca bukunya J.I. Packer yang judulnya Knowing God. Buku ini emang sering banget direkomendasiin sama hamba Tuhan. Konon katanya, buku ini cocok buat orang yang masih dalam tahap awal mengikut Tuhan. Dalam hati saya pikir, wah itu saya. Walaupun Kristen sejak lahir, tapi perjalanan rohani sesungguhnya baru tumbuh enam tahun belakangan ini. Setelah baca dari bab satu ke bab selanjutnya, buku ini berat juga doktrinnya (bagi saya).<span id="more-894"></span></p>
<p>Di salah satu chapter buku ini membahas tentang perintah Allah kedua yang berbunyi demikian:</p>
<blockquote><p>Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku. (Keluaran 20:4-6)</p></blockquote>
<p>Dulu pas jaman smp, sebagai bagian dari ujian agama, saya *dengan terpaksa* menghapalkan ayat ini, tanpa terlalu peduli isinya. Yah intinya sih, beberapa perintah pertama isinya tentang Tuhan, sisanya tentang hubungan kita dengan sesama. Tapi sekarang setelah mencoba re-visit lagi, ternyata ada persepektif berbeda. Perintah yang pertama kan udah jelas, &#8220;Jangan ada allah lain di hadapanku&#8221;. Tapi kenapa perintah kedua kaya mengulang perintah pertama (secara lebih detail)? Ternyata setelah dibaca versi bahasa Inggrisnya emang sedikit lebih membantu, bunyinya begini &#8220;You shall not make for yourself a carved image, or any likeness&#8221;</p>
<p>Ternyata bukan cuma patung toh&#8230;tapi segala image apapun, bahkan yang serupa.</p>
<p>Beberapa hari setelah membaca chapter ini, saya tutup buku itu, kemudian saya lanjut lagi buku lain (yang lebih mudah dicerna). Di sela-sela itu, nyambung juga sama apa yang saya baca dari blognya Pak Agus Sadewa. Isinya tentang pertanyaan-pertanyaan menemukan idols dalam hidup kita:</p>
<blockquote><ul>
<li>What is my greatest nightmare? What do I worry about most?</li>
<li> What, if I failed or lost it, would cause me to feel that I did not even want to live? What keeps me going?</li>
<li> What do I rely on or comfort myself with when things go bad or get difficult?</li>
<li> What do I think most easily about? What does my mind go to when I am free? What preoccupies me?</li>
<li> What unanswered prayer would make me seriously think about turning away from God?</li>
<li> What makes me feel the most self-worth? What am I the proudest of?</li>
<li> What do I really want and expect out of life? What would really make me happy?</li>
</ul>
<p>- Timothy J. Keller, and Redeemer Presbyterian Church 2005</p></blockquote>
<p>Oh, saya jd teringat sama apa yang saya baca dari bukunya Packer. Seringkali emang allah-allah lain dalam hidup kita lebih dari sekedar patung, itu bisa jadi segala hal yang bisa mengalihkan pandangan kita dari Tuhan yang sejati. Bisa jadi itu adalah ketakutan kita sendiri? Sesuatu yang kita paling kita banggakan? Sesuatu yang membuat kita nyaman? Bisa jadi itu pekerjaan, rumah, barang berharga, internet, facebook, atau bahkan bisa juga dalam bentuk orang terdekat kita seperti keluarga, teman, atau juga pacar. Lebih lanjut baca bukunya Packer, yah emang dijelasin sih bahwa Tuhan itu sebenernya kita mengenal Tuhan adalah sebagai Tuhan (I am I). Tuhan gak mau dikenal atau dibatasi melalui ciptaanNya. Saya jadi teringat suatu ungkapan, &#8220;Sembahlah Tuhan, bukan apa yang diberikanNya&#8221;. Itulah yang Tuhan tuntut dari kita.</p>
<p>Saya memiliki suatu pekerjaan, bukan pekerjaan memiliki saya. Saya memiliki sebuah mobil, bukan mobil yang memiliki saya. Saya memiliki uang, bukan uang memiliki saya. Kalau dipikir-pikir, emang bener sih. Kita boleh memiliki sesuatu (yang tentunya Tuhan berikan), tapi jangan sampai apa yang kita punya itu berbalik jadi memiliki kita. Jangan sampai pekerjaan bisa menjadi idols, rumah menjadi idols. Oke lah kalau soal barang, itu lebih mudah dimengerti. Tapi kalau sekarang idols dalam hidup kita itu adalah orang, bagaimana? Kita bisa saja menjadikan diri kita menjadi idols (mencari kesenangan diri sendiri, hedon).</p>
<p>Nah, saya jadi ingat lagi sama renungan dari Pak Agus yang sempat saya sharingkan sama abang saya 1.5 tahun yang lalu. Setelah mengubek-ngubek Gmail, ternyata emailnya masih ada. Artikel tentang Ismail, cukup menarik secara selama ini kita lebih sering dengar tentang Ishak dibanding Ismail. Abraham emang cukup unik sih. Berikut petikan ceritanya:</p>
<blockquote><p>Kelahiran Ishak yang dinanti-nanti oleh Abraham dan Sara, pun oleh kita pembaca kisah mereka, tak semeriah yang kita harapkan. Nyatanya, hanya 7 ayat diberikan untuk membicarakan hal itu. Setelah 25 tahun menanti, dan 9 pasal kita lalui, mengapa hanya begini? Kita tentu saja berharap Musa bisa menulis lebih banyak dari ini. Tapi mungkin ia hendak menyampaikan suatu pesan yang tak kalah penting dari berita kelahiran Ishak. Ada pelajaran yang Tuhan hendak berikan pada Abraham, bapa dari orang-orang beriman itu, yang pembaca perlu petik. Apakah itu?</p>
<p>Lihat ayat-ayat selanjutnya, mulai ayat 8. Setelah Ishak bertambah besar, ia disapih, lalu Abraham membuatkan sebuah pesta besar. Sebagai catatan: bagi orang-orang kuno di zaman Abraham, seorang anak barulah disapih pada usia 3 &#8211; 4 tahun. Jadi, umur Ismael, kakak lain ibu dari Ishak, pada waktu itu sudah sekitar 16 &#8211; 17 tahun. Ia sudah bukan kanak-kanak lagi. Maka, di ayat 17 ia disebut &#8216;the lad.&#8217; Di pesta besar itulah Sara mengamuk besar. Apa gerangan sebabnya?</p>
<p>Ayat 9 memberitahu kita bahwa Sara melihat Ismael main dengan Ishak. Lho mengapa main-main saja dilarang? Terjemahan Indonesia (LAI) dan sejumlah versi Inggris agaknya keliru menerjemah &#8216;mishak&#8217; jadi bermain. Sebenarnya dengan mempelajari struktur bahasa Ibrani secara lebih teliti, kita bisa menemukan permainan kata dalam ayat tersebut. Mishak tak lain ialah kembangan dari kata Ishak (ketawa). Terjemahan (atau agaknya transliterasi lebih tepat) yang harafiah seharusnya anak Hagar, Ismael, &#8216;mengishak&#8217;-kan Ishak, putranya sendiri. Oleh karena Ishak berarti ketawa, mungkin yang dimaksudkan adalah Ismael menertawai, mengolok, mempermainkan Ishak. Itulah sebab Sara mengamuk besar di pesta besar itu, di hadapan para tamu besar dan kecil ia desak Abraham agar mengusir Hagar beserta putranya itu. &#8220;Kaulah yang harus bertindak, Abraham. Sekarang juga usir hamba perempuan itu beserta dengan putranya yang amat kaukasihi itu, sebab ia tak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan putraku, Ishak.&#8221; Begitu kira-kira ia berkata pada Abraham. Mungkinkah Abraham menganggap Ismael akan menjadi ahli waris, sekurang-kurangnya bersama dengan Ishak? Nampaknya ya.</p>
<p>Saya menemukan hal lain tersirat dalam permainan kata &#8216;mishak.&#8217; Sara menerima Ishak (ketawa) dalam hidupnya; dan itu berkat Tuhan. Tapi Ismael yang bukan ahli waris itu berlaku seakan ialah ahli waris dengan menertawai Ishak, sang ketawa yang sesungguhnya. Sara cukup tajam melihat apa yang sedang berlangsung. Jika hal ini dibiarkan, maka Ishak pun suatu hari bisa digantikan oleh Ismael. Barangkali kesalahan tak sepenuhnya bisa ditimpakan pada Ismael, oleh karena Abraham sebenarnya ikut berperan besar. Apakah Abraham telah membiarkan hal itu terjadi? Jangan-jangan ia malah melindungi Ismael dari Sara.</p>
<p>Maka Abraham pun sangat kesal oleh karena ihwal putranya itu (ayat 11). Perhatikan bukan perihal Hagar yang disebut, tapi putranya, Ismael. Saya yakin jika Tuhan tak bersabda padanya membenarkan apa yang dikatakan oleh Sara, ia tak akan mengabulkan permintaan istrinya itu. Sebab hatinya begitu mencintai Ismael, putra satu-satunya selama 13 tahun, bahkan setelah Ishak lahir tak mudah baginya untuk berpindah ke lain hati. Tapi ia tahu bahwa sejak awal Tuhan telah menetapkan bahwa Ishak bukan Ismael yang akan menjadi ahli waris. Ia tahu itu, Ia hanya hendak mengingkarinya.</p>
<p>Kecintaan Abraham pada Ismael dideskripsikan secara subtil dalam ayat 14. Urutan dalam terjemahan Indonesia lagi-lagi tak tepat. &#8220;Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi.&#8221; Tidak masuk akal, Ismael yang sudah sebesar itu masih ditaruh di bahu Hagar. Terjemahan yang lebih tepat seharusnya, &#8220;Ia meletakkan itu di atas bahu Hagar, beserta anaknya …&#8221; Jadi, Ismael berada di urutan terakhir. Mungkin itu isyarat bahwa Abraham berat sekali melepas Ismael.</p>
<p>Kisah Abraham menyadarkan saya akan dua hal: betapa keras hati manusia dan betapa sabar Tuhan berurusan dengannya. Tuhan tak hanya sekali mengingatkan, meneguhkan janji, dan membawa Abraham kembali ke jalan yang Ia perkenan, tapi berkali-kali. Berkali-kali Abraham jatuh, mengambil jalan yang ia pandang baik. Sempat ia tetapkan sendiri Eliezer, budaknya, menjadi ahli waris. Dua kali ia serahkan Sara kepada lelaki lain (Firaun dan Abimelekh) demi untuk menyelamatkan diri sendiri. Sekarang Ismael, buah perkawinannya dengan Hagar, budak perempuannya, pun mengancam penggenapan rencana Tuhan. Saya heran mengapa Tuhan begitu sabar. Tak pernah Tuhan menegur Abraham dengan keras. Di sini, di seluruh kisah Abraham-Sara, Tuhan bersuara lembut sekali.</p>
<p>Suara teguran yang keras kepada Abraham selalu datang dari pihak lain, seperti Firaun, Abimelekh, dan kali ini Sara. Walau jari telunjuk Sara barangkali mengarah pada Hagar dan Ismail, saya percaya, persoalan sesungguhnya terletak pada diri Abraham. Sebagai pemegang janji Tuhan, ia tak semestinya membiarkan Ismael mengambil hak waris Ishak. Attachment dengan Ismael yang telah terbentuk bertahun-tahun lamanya membuat Abraham lupa diri dan lupa janji. Dalam hal ini Sara, meski bercampur dengan kebencian, berkata benar: Ismael tak akan mendapat bagian Ishak. Tentu saja harus dicatat: Ismael juga akan dibuat menjadi suatu bangsa besar. Tapi itu sebuah kisah yang lain.</p></blockquote>
<p>Kesimpulan yang waktu itu saya tulis sama abang saya begini&#8230;lucunya kondisi saya waktu itu dalam keadaan sangat baik, belum &#8220;mengerti&#8221; rasanya harus melepas teman-teman dekat yang saya kasihi dengan tulus:</p>
<blockquote><p>Melepas sesuatu yang berharga dari hidup ini tidaklah mudah, apalagi jika yang harus kita lepas ialah seseorang yang telah bertahun-tahun kita miliki dan cintai seperti anak. Tapi Tuhan menjanjikan sesuatu yang jauh lebih baik, yang saat ini tak bisa kita terima dengan lapang dada, karena mungkin cinta kita pada dunia lebih kuat daripada cinta kita kepada Tuhan.</p></blockquote>
<p>Kita emang bisa dengan mudah bilang kaya gini, &#8220;Yah Bram, kan Tuhan udah bilang kalo nantinya Ishak yang bakal nerusin garis keturunanmu. Kok susah amat sih ngelepas Ismail, anak dari hambamu itu? What&#8217;s the big deal, Bram?&#8221; Kalo kita jadi Abraham, kira-kira gimana? Tapi ya sepertinya Tuhan benar-benar menekankan tentang hal ini sama Abraham. Abraham mungkin tipe orang yang takut kehilangan keluarganya. Terbukti pada saat Abraham diminta mempersembahkan Ishak. Terbukti kembali pada saat Abraham berbohong bahwa Sarah bukanlah istrinya tapi saudaranya (karena takut kehilangan). Tuhan terus menguji kesetiaan iman Abraham. Maka lahirlah julukan, bapak orang beriman&#8230;</p>
<p>Emang (bagi saya, setidaknya) ikut Tuhan itu sulit. Segala pikiran benar-benar harus selalu tertuju pada Tuhan. Kita diminta menempatkan apa yang kita punya pada tempat yang sepantasnya. Ketika kita mengasihi seseorang, jangan sampai kita lebih mengasihi dia lebih dari Tuhan. Akhir kata, yah disini lah saya sekarang belajar dengan jatuh bangun untuk menyingkirkan segala macam &#8220;idols&#8221; yang ada dalam hidup. Semoga artikel ini bisa menjadi berkat bagi Anda sekalian.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/12/menemukan-idols/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolah Kehidupan &quot;Padang Gurun&quot;</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/12/sekolah-kehidupan-padang-gurun/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/12/sekolah-kehidupan-padang-gurun/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 21:44:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=768</guid>
		<description><![CDATA[Artikel di bawah ini ditulis oleh abang saya pertengahan tahun 2006 yang lalu sewaktu dia masih jadi guru agama di SMAN 3 Bandung. Artikel ini sebenernya satu bab di buku karangan Charles Swindoll yg berjudul Musa. Semoga bisa menjadi berkat. Artikelnya bener-bener panjang buat dibaca (Take your time, I think it&#8217;s worth reading). *** Satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel di bawah ini ditulis oleh abang saya pertengahan tahun 2006 yang lalu sewaktu dia masih jadi guru agama di SMAN 3 Bandung. Artikel ini sebenernya satu bab di buku karangan Charles Swindoll yg berjudul Musa. Semoga bisa menjadi berkat. Artikelnya bener-bener panjang buat dibaca (Take your time, I think it&#8217;s worth reading). ***</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-774" title="desert2" src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2009/12/desert2-300x192.jpg" alt="desert2" width="300" height="192" /></p>
<p>Satu demi satu, setiap anak berbaju putih-biru berbaris menuju aula. Ini adalah hari pertama bersekolah di SMA Negeri 3 Bandung.</p>
<p>Waktu berjalan begitu cepat hingga akhirnya sekarang tanpa terasa Anda sudah tiba di akhir dari tahun ajaran ini. Beberapa minggu lagi akan dilangsungkan Ujian Akhir Semester, setelah itu pembagian rapor dilanjutkan dengan libur kenaikan kelas untuk siswa kelas 1 dan 2.</p>
<p>Sekolah tetap ramai. Banyak orang tua mendaftarkan putra-putrinya yang baru saja lulus SMP untuk dapat melanjutkan studi di SMA Negeri 3 pada tahun ajaran baru.</p>
<p>Sementara siswa kelas 2 dan 3 yang baru naik kelas dari tingkat sebelumnya mengisi waktu liburan dengan berdiam diri di rumah, jalan-jalan bersama keluarga dan atau bersama teman, siswa kelas 3 yang baru saja lulus sedang berjuang dan bergumul tentang masa depannya. Kuliah atau tidak? Jika kuliah, akan mendafatar di mana saja dan mengambil jurusan apa?</p>
<p>Itulah rutinitas SMA.<span id="more-768"></span></p>
<p>Tuhan Yesus juga memiliki sekolah. Sekolah ini tidak memiliki ruang kelas, laboratorium ataupun lapangan olah raga. Juga tidak terdaftar di Departemen Pendidikan Nasional atau di institusi manapun. Tapi sekolah ini merupakan tempat belajar paling dalam yang pernah Anda hadiri.</p>
<p>Saya tahu karena saya adalah salah satu alumninya. Saya pernah berada di sana&#8230; beberapa kali. Jauh sebelum saya, Musa, salah satu pemimpin besar Israel, pernah ditempa di sekolah yang sama: sekolah padang gurun.</p>
<blockquote><p>Pada waktu itu, ketika Musa telah dewasa, ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka; lalu dilihatnyalah seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu.  Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir.</p>
<p>Ketika keesokan harinya ia keluar lagi, didapatinya dua orang Ibrani tengah berkelahi. Ia bertanya kepada yang bersalah itu: &#8220;Mengapa engkau pukul temanmu?&#8221;</p>
<p>Tetapi jawabnya: &#8220;Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu?&#8221; Musa menjadi takut, sebab pikirnya: &#8220;Tentulah perkara itu telah ketahuan.&#8221;</p>
<p>Ketika Firaun mendengar tentang perkara itu, dicarinya ikhtiar untuk membunuh Musa. Tetapi Musa melarikan diri dari hadapan Firaun dan <strong>tiba di tanah Midian</strong>…<br />
&gt;&gt; Keluaran 2:11-15</p></blockquote>
<p>Tanah Midian mewakili gambaran tentang sekolah Allah. Ini adalah tempat yang sunyi: batu-batuan yang tidak rata, pasir yang tak meninggalkan jejak, panas yang melemahkan hidup. Ada orang-orang yang menghabiskan beberapa minggu dalam kesunyian itu. Yang lain, berbulan-bulan. Musa berjalan di tanah tandus itu selama empat puluh tahun. Sekali lagi, empat puluh tahun.</p>
<p>Di sekolah inilah, Tuhan menempatkan anak-anak-Nya untuk suatu tugas khusus di dalam kehidupan. Tidak ada hal glamor, penuh dengan warna, atau hal-hal menarik mengenai padang gurun yang khusus ini. Padang gurun tidak pernah didesain untuk menjadi seperti demikian.</p>
<p><strong>Wajah-Wajah Padang Gurun</strong></p>
<p>Midbaar adalah kata Ibrani untuk padang gurun. Berasal dari kata dahbaar, yang berarti berbicara. Ya, inilah tempat di mana Tuhan berbicara, tempat di mana Dia mengkomunikasikan beberapa pesan yang paling penting untuk Anda.</p>
<p>Terpisah dari pengalaman padang gurun itu, Anda mungkin menjalani seluruh hidup Anda tanpa pernah mendengar atau mengetahui apa yang ingin disampaikan Allah semesta alam kepada Anda. Tempat terbuang &#8211; seperti padang gurun akan mengubah hal itu. Di tempat yang sunyi ini, Anda menemukan diri Anda menanggalkan semua hal di mana Anda bergantung dengan nyaman &#8211; yaitu semua hal yang Anda pikir Anda butuhkan di dalam hidup namun ternyata Anda tidak memerlukannya sama sekali.</p>
<p>Sangat sunyi di tempat luas, tempat buangan berpasir itu. Begitu sunyi sehingga Anda dapat mendengar detak nadi Anda di telinga Anda sendiri. Begitu sunyi sehingga Anda dapat mendengar suara Allah.</p>
<p>Masa padang gurun setiap orang mungkin sama sekali tidak serupa dengan padang gurun yang sebenarnya. Bisa saja di dalam sebuah rumah kosan di jalan Bali, sebuah villa di Puncak, atau apartemen yang tinggi dan mewah di Jakarta. Pengalaman padang gurun Anda mungkin dengan merawat anggota keluarga yang sakit atau merawat orang tua. Anda untuk masa waktu yang lama, di mana tidak ada pertolongan dan tidak ada kebebasan. Perhentian Anda di tanah kering ini mungkin sebuah kondisi fisik yang keras yang membuat ruang gerak Anda dibatasi. Bisa jadi luka ~ hati yang mendalam yang datang melalui pasangan Anda yang tidak setia. Atau remaja yang memberontak. Bisa dari suatu tempat di mana Anda mempunyai banyak teman dan ikatan keluarga yang baik sampai ke tempat yang terlihat aneh dan asing, di mana Anda tidak mengenal seorang pun. Anda merasa terasing&#8230; tersisihkan. Itu bisa juga sebuah kegagalan di sekolah, penolakan oleh sahabat lama, kebosanan, pekerjaan yang tidak dihargai, atau sebuah batas waktu yang menggilas Anda seperti sebuah beban berat yang kasar.</p>
<p>Padang gurun mengenakan banyak wajah. Bisa jadi penuh dengan orang-orang, namun kesepian. Bisa jadi hujan siang dan malam tanpa henti, namun tetap tandus. Bunga-bunga mungkin bermekaran dan pohon-pohon mungkin bertunas di sekitarr Anda, namun Anda masih saja merasa terisolasi.</p>
<p>Apakah Allah tahu? Apakah Dia mengerti? Dia paham dengan sangat baik, temanku. Lagipula, Dialah yang menaruh Anda di sana. Sekolah-Nya termasuk waktu dalam padang gurun. Di sanalah Dia mendapat perhatian Anda.</p>
<p><strong>Auman Padang Belantara</strong></p>
<p>Di dalam kitab Ulangan 32, Roh Kudus menulis kata-kata tentang perjalanan bangsa Israel.</p>
<blockquote><p>Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.<br />
&gt;&gt; Ulangan 32:10</p></blockquote>
<p>Kata ‘-Nya’ dalam ayat ini adalah Allah, dan kata ‘dia’ merujuk kepada orang-orang Ibrani. Tetapi marilah Anda menerapkan kata-kata Tuhan ini kepada diri Anda sendiri. Taruh nama Anda di dalam ayat yang menyebut kata ‘dia.’ Didapati-Nya &#8230;(Anda)&#8230; di suatu negeri, di padang gurun. Allah mendapati &#8230;(Anda)&#8230; di tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dan diawasi-Nya &#8230;Anda&#8230; Dijaga-Nya &#8230;Anda&#8230; sebagai biji mata-Nya.</p>
<p>Tuhan, yang membuat Anda berada dalam padang gurun itu, mengetahui dengan persis pengalaman tanah terbuang yang seperti apa yang Anda butuhkan. Dia tahu persis tempat yang tepat di mana keriuhan hidup didiamkan, dan Anda akan mampu mendengar suara-Nya. ‘Auman padang belantara’ Anda bisa sangat berbeda dari pengalaman saya. Allah tahu kedalaman hati setiap Anda; Dia memahami apa yang diperlukan untuk membebaskan Anda dari tongkat-tongkat penyangga yang menghalangi Anda berlari dalam kehendak-Nya dan dari suara-suara yang menahan Anda untuk mendengarkan petunjuk firman-Nya dan kasih-Nya yang lembut. Dia mengetahui bagaimana mengatur kurikulum Anda di sekolah padang gurun ini, membangun suatu kualitas karakter dalam hidup Anda yang jika Anda tidak mengikuti-Nya Anda tidak dapat memperolehnya.</p>
<p>Isolasi selalu menjadi bagian dari pengalarnan padang belantara. Jangan pernah lupakan hal itu. Sekali Allah menemukan padang gurun apa yang Anda perlukan, Dia memimpin Anda masuk ke dalam bis dan kemudian pergi ke sana, Setidaknya seperti itulah kelihatannya. Dan perasaan yang tiba-tiba Anda alami adalah:</p>
<ul>
<li> “Allah hilang! Dimanakah Dia?”</li>
<li> “Dia meninggalkanku di tempat ini!”</li>
</ul>
<p>Di tengah pengalaman yang menyakitkan Anda tiba-tiba mendapati diri Anda tidak lagi dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang biasanya dapat Anda lakukan. Ketakutan menguasai Anda. Anda mengatakan kepada diri Anda sendiri, “Saya kehilangan karunia-karunia rohani saya. Saya tidak berguna lagi. Saya dilupakan! Allah meninggalkan saya. Waktu semakin singkat. Kesempatan-kesempatan telah lewat. Saya tidak pernah dapat keluar dari tempat ini.”</p>
<p>Sebelum Anda melanjutkan perjalanan untuk dapat merasakan perasaaan ditinggalkan, bagaimanapun juga, Anda perlu untuk melihat lebih dekat ke ayat di kitab Keluaran ini. Di tempat ‘auman padang belantara’ Allah melakukan empat perkara. Pertama, Dia mengelilingi Anda. Kedua, Dia mengawasi Anda. Ketiga, &#8216;Dia menjagai Anda sebagai biji mata-Nya. Bukankah hal itu sangat indah? Pada saat Anda memikirkan tentang hal itu, Anda menyadari biji mata Anda adalah bagian yang paling terlindung di seluruh tubuh Anda. Anda tidak akan membiarkan seorang pun menyentuhnya. Anda melindunginya dengan perawatan yang sangat baik. Anda mengamankannya dari sinar matahari. Anda merawatnya terus-menerus. Apabila ada benda kecil yang menyentuh membrannya, Anda mengambil langkah yang paling cepat untuk mengeluarkannya dari mata Anda.</p>
<p>Di padang gurun, Andalah biji mata Allah. Untuk membuat Anda takjub, Anda akan mendapati bahwa Allah tidak membiarkan atau meninggalkan Anda. Faktanya, Dia memperhatikan Anda lebih daripada waktu-waktu lain dalam kehidupan Anda. Biarlah pikiran itu membuat Anda menjadi berani, adikku. Jika Anda menemukan diri Anda ada di padang gurun hari ini.</p>
<p>Hal keempat yang Dia lakukan adalah menuntun Anda. Tidak peduli apakah Anda mengetahuinya atau tidak, merasakannya atau tidak. Bahkan Anda percaya atau tidak, Allah tidak menarik tangan-Nya dari hidup Anda. Anda akan merasa ditelanjangi dan diamat-amati di tanah yang kosong itu, namun sebelumnya Dia mengembangkan sayap-Nya untuk menaungi Anda.</p>
<blockquote><p>11Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya, 12demikianlah <span style="text-decoration: underline;"><strong>TUHAN sendiri</strong></span> menuntun dia, dan tidak ada allah asing menyertai dia.<br />
&gt;&gt; Ulangan 32:11-12</p></blockquote>
<p>Tuhan sendiri (ayat 12). Ya, Dia sendiri yang menuntun Anda. Tidak ada orang lain yang menuntun Anda melalui padang gurun. Tidak ada rambu-rambu, tidak ada kios-kios informasi, tidak ada peta dengan tanda panah yang tertulis ‘Anda berada di sini. Faktanya, Anda tidak mengetahui di mana Anda berada. Anda tidak mengetahui kapan (atau bilamana) Anda meninggalkan padang belantara yang menekan itu. Namun Allkitab sendiri yang telah memberitahukan kepada Anda bahwa Dia sendiri yang menuntun Anda.</p>
<p><strong>Pintu Masuk ke Padang Gurun</strong></p>
<p>Bagaimana dan kapan setiap orang masuk ke padang gurun bisa jadi berbeda-beda. Anda mungkin sedang menikmati studi di institusi pendidikan bergengsi (yang mungkin membuat dirinya merasa ‘lebih’ daripada orang lain) berpikir mereka akan memiliki prospek yang gemilang setelah selesai kuliah. Tetapi sekarang, untuk alasan apapun, Anda menemukan diri Anda berakhir dalam kegagalan.</p>
<p>Mungkin Anda adalah seorang atlet sekaligus pelajar, dan Anda berusaha selama bertahun-tahun untuk menajamkan kemampuan Anda hanya untuk menjadi pemain cadangan pada tahun Anda seharusnya menjadi senior karena sekarang ada seorang adik kelas yang lebih bersinar, merenggut posisi Anda dari susunan pemain inti.</p>
<p>Mungkin Anda menikmati kesehatan yang baik dan kekuatan selama hidup Anda, dan tiba-tiba dokter memberitahu Anda, “Anda tahu. Saya mendeteksi sebuah noda di paru-paru Anda. Sejujurnya, saya tidak menyukai apa yang saya lihat itu.” Atau, “Kami sudah memeriksa biopsi, dan kelihatannya tidak baik. Sebenarnya, ada sesuatu yang ganas di situ.”</p>
<p>Infomasi seperti itu membuat Anda bergetar, dan dalam hati Anda menangis, Di manakah Allah? Bagainana saya dapat berlindung? Bagaimana saya menanganinya? Atau Anda adalah seorang lajang, menunggu (dan menunggu) orang yang tepat yang melangkah ke dalam hidup Anda. Bulan demi bulan dan tahun demi tahun telah berlalu, harapan Anda untuk dibelai dan disayangi sudah sama seperti nyala lilin yang mulai bergoyang-goyang.</p>
<p>Bagi yang lain, padang gurun itu adalah perkara yang memilukan dari seorang yang sangat Anda kasihi telah meninggalkan Anda, tanpa harapan bahwa dia akan kembali. Dia telah pergi. Dan angin hambar mulai bertiup. Atau Anda menemukannya melalui sebuah rantai peristiwa di mana sahabat karib Anda memfitnah Anda. Sebuah pintu lain menuju padang gurun!</p>
<p>Kering. Sendirian. Anda merasa muram dan sedih. Tetapi apapun emosi Anda, Alkitab berkata Anda tidak sendiri. Allah berada di sana. Dia mengelilingi Anda. Memperhatikan Anda. Menjagai Anda seperti biji mata-Nya. Dan Dia berjanji akan menuntun Anda melewati habitat aneh yang tanpa petunjuk ataupun jalan pintas itu. Anda tidak meninggalkan Dia, atau Dia tidak meninggalkan Anda. Faktanya, Dia mungkin lebih dekat kepada Anda di masa-masa seperti ini daripada sebelumnya.</p>
<p><strong>Padang Gurun Dibuat Khusus Untuk Anda</strong></p>
<p>Dengar apa yang Musa sampaikan kepada orang Israel mengenai apa yang harus mereka lakukan ketika memasuki Tanah Perjanjian:</p>
<blockquote><p>Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.<br />
&gt;&gt; Ulangan 8:2-3</p></blockquote>
<p>Mengapa Allah memimpin kita melalui padang gurun? Mari kita mencari jawaban dari Musa, yang merupakan seorang yang ahli dari sekolah padang belantara Allah. Itu supaya Ia merendahkan hati kita, menguji kita,  sehingga kondisi hati kita yang sebenarnya disingkapkan. Tidak untuk supaya Allah mengenal Anda (karena Dia telah mengenai Anda), tetapi supaya Anda mengenai diri Anda sendiri. Tidak ada tempat yang seperti padang gurun yang membantu Anda mengenai diri Anda sendiri.</p>
<p>Pada saat Anda mengungkap semua perangkap, menanggalkan semua topeng, melucuti semua pakaian yang palsu, Anda mulai melihat identitas yang asli &#8211; wajah yang tidak pernah tampak selama bertahun-tahun. Bahkan mungkin tidak pernah tampak. Itulah yang padang gurun lakukan untuk Musa. Itulah yang dilakukannya untuk saya, di dalam persinggahan padang belantara dari kehidupan saya. Itu akan merendahkan hati Anda. Itu akan menunjukkan kekuatan dan kelemahan Anda. Itu akan membantu Anda menemukan diri Anda sendiri seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya.</p>
<p>Lagu klasik ‘How Firm A Foundation’ (1787) melukiskan hal ini dengan sangat baik.</p>
<blockquote><p>When through fiery trials thy pathways shall lie,<br />
My grace, all sufficient, shall be thy supply;<br />
The flame shall not hurt thee; I only design<br />
Thy dross to consume, and thy gold to refine.</p>
<p>Ketika melalui panasnya alur pencobaan jalanmu terhampar<br />
Kasih karunia-Ku cukup memenuhi kebutuhanmu<br />
Api tak akan menyakitimu; Aku telah merancang<br />
itu hanya membakar kotoranmu, memurnikan emasmu</p></blockquote>
<p>Allah tidak pernah menaruh kita melalui dapur api yang mengerikan di padang gurun untuk menghancurkan kita. Dia melakukannya untuk memurnikan kita.</p>
<p><strong>Tidak Ada Jalan Pintas</strong></p>
<p>Tidak ada jalan keluar (kabur atau melarikan diri) dari padang gurun sebelum waktu-Nya. Tidak ada cara apapun yang sanggup mempersingkat waktu-Nya. Seorang penulis dengan bijaksana berkata: “Waktu bukanlah obyek bersama Allah, yang menuntut kualitas dengan segala harga yang harus dibayar. Di sana tidak ada cacat akibat penggosokan di bawah tahun-tahun latihan pendisiplinan, atau usaha untuk mengambil jalan pintas. Itu akan terbukti menjadi jalan kuldesak (jalan buntu).”</p>
<p>Betapa benar. Jika Anda mencoba membuat jalan pintas dalam perjalanan padang gurun Anda, Anda akan memimpin diri Anda ke dalam jalan buntu.</p>
<p>Anda akan tetap berada di padang gurun untuk belajar melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah Anda bayangkan akan Anda lakukan. Anda belajar mentoleransi ketidakenakan dan bertahan dengan situasi itu; Anda belajar menerima sejumlah keadaan yang tidak pernah Anda bayangkan akan menjadi bagian di dalam hidup Anda. Itu semua adalah bagian dari pelatihan, sebuah tingkatan dalam kurikulum di universitas padang belantara Allah. Setidaknya ada empat perkara penting yang bisa Anda pelajari di sekolah padang gurun.</p>
<p><strong>Bidang Kegelapan</strong></p>
<p>Bayangkan Musa yang menjadi selebritis di Mesir. Ia adalah seorang pangeran. Sorotan cahaya lampu mengikuti ke mana pun dia melangkah, sama banyaknya dengan cahaya lampu yang mengikuti pangeran William dan pangeran Harry dari Inggris. Setiap kali Musa berdiri, orang-orang menatapnya penuh harap. Setiap kali dia berbicara kepada mereka, orang-orang berhenti berbicara dan mendengarkannya. Setiap kali dia melangkah melewati jalan-jalan, kepala-kepala berpaling.</p>
<p>Kini, Musa bersama dengan para domba. Anda dapat mengatakan apa saja yang ingin Anda sampaikan. Anda dapat berkata-kata indah ketika membawakan puisi atau bernyanyi. Tapi kawanan domba tidak akan terkesan sama sekali.</p>
<p>Jika seorang teman Musa pada masa mudanya mengunjunginya, mungkin dia akan berkomentar, “Musa, engkau dulunya adalah yang terbaik di dalam latihan-latihan militer. Sekarang? Lihatlah, ‘pasukanmu’ hanya sekumpulan domba yang lamban.”</p>
<p>Mungkin Anda mengenal situasi ini. Anda sudah mengikuti berbagai macam pendidikan dan pelatihan. Dan Anda bertanya, “Mengapa Tuhan menempatkan aku di sini?”</p>
<p>Jawabannya karena Ia ingin kita terus belajar. Belajar untuk bergulat setiap hari dengan keterbatasan yang Anda miliki untuk bertahan. Anda dipaksa oleh padang gurun yang sebenamya untuk menyerahkan hak milik Anda, harta Anda, dan aktivitas yang sangat Anda sukai. Sekarang Anda ‘pasrah’ bertahan di atas dasar kehidupan. Itulah rencana Allah, adikku. Dan jika Anda ingin lulus dari sekolah padang gurun-Nya, Anda harus mengambil kelas kegelapan; itu adalah syarat pendidikan pertama di sekolah tersebut.</p>
<p>Seorang pujangga bernama Amy Carmichael menuliskan kata-kata ini:</p>
<p>Sebelum angin yang bertiup reda,<br />
Ajarkan Aku untuk berdiam dalam ketenangan-Mu;<br />
Sebelum kesakitan berlalu dalam damai,<br />
Biarkan aku, ya Allah, untuk menyanyikan Mazmur.<br />
Jangan biarkan aku kehilangan kesempatan untuk membuktikan<br />
Kepenuhan dari kaslh yang memampukan.<br />
Oh, Allah yang kasih, lakukanlah hal ini untukku:<br />
Mempertahankan kemerdekaan yang tetap.</p>
<p>Inilah kebenaran yang tidak dapat dipungkiri. Jika Anda tidak belajar untuk tinggal tenang dengan kegelapan,  maka Anda akan mengulangi pendidikan ini sampai Anda bisa melakukannya. Anda tidak dapat melompati bagian ini dan kemudian dianggap lulus.</p>
<p>Semua anak yang dikasihi Tuhan pernah belajar tentang kegelapan. Dalam film The Hiding Place, salah satu tayangan memperlihatkan Corrie Ten Boom sedang berkata kepada Allah bahwa ia ingin agar Dia memakai Corrie dengan cara apapun yang berkenan kepada-Nya, walaupun hal itu berarti kegelapan. Segera setelah itu, dia dijadikan tawanan oleh Nazi, bersama-sama dengan ayahnya. Dia lalu di pisahkan dari ayahnya. Ayahnya meninggal di dalam kamp kematian, lalu dia dipisahkan dengan paksa dari saudara perempuan yang dikasihinya. Kemudian Nazi mencampakkan Corrie ke dalam sel yang dingin dan lembab di Jerman. Pada akhir tayangan itu, dia tergeletak di sudut menggigil, dan dengan mata yang dipenuhi dengan linangan air mata dia berbisik kepada Tuhan, “Tetapi Allah, aku tidak tahu kalau aku harus sendiri.”</p>
<p>Itulah kegelapan.</p>
<p>Kita bisa mengatasi hampir semua hal selama di sana ada orang lain yang mendukung dan menolong kita untuk memikul beban. Tetapi dalam sekolah padang gurun Allah, kampusnya kosong, Tidak ada orang dalam organisasi siswa kecuali Anda sendiri, sebuah buku teks berjudul Kegelapan, dan banyak waktu untuk membaca buku itu.</p>
<p><strong>Bidang Waktu</strong></p>
<blockquote><p>Mendengar perkataan itu, larilah Musa dan hidup sebagai pendatang di tanah Midian. Di situ ia memperanakkan dua orang anak laki-laki. Dan sesudah empat puluh tahun tampaklah kepadanya seorang malaikat di padang gurun gunung Sinai di dalam nyala api yang keluar dari semak duri.<br />
&gt;&gt; Kisah Para Rasul 7:29-30</p></blockquote>
<p>Empat puluh tahun!</p>
<p>Musa datang ke padang gurun sebagai pendatang, dan empat puluh tahun kemudian, sekolahnya baru usai. Jadi selama tahun-tahun itu – dengan mempertimbangkan bahwa tahun-tahun itu adalah tahun-tahun di mana seseorang paling produktif &#8211; Musa menggembalakan kawanan domba di tempat yang mirip dengan halaman depan dunia orang mati.</p>
<p>Cepat. Ditekan. Dipadatkan. Bak-buk-bak-buk selesai. Begitulah cara hidup jaman modern. Tidak demikian cara belajar di padang gurun Allah. Ketika tiba saat berjalan bersama Allah, tidak ada hal yang disebut kedewasaan yang instant. Allah tidak memproduksi orang-orang kudus-Nya secara massal. Allah selalu menanganinya satu per satu, dan selalu berjalan lebih lama daripada yang kita harapkan.</p>
<p>Seorang aktivis tidak sabaran seperti Musa perlu tahun-tahun seperti itu di padang gurun agar dia melepaskan semua yang ia genggam erat selama ini &#8211; untuk meninggalkan jalur cepat dan menemukan jalur Allah. Pekerjaan Allah pelan namun teliti. Ia melakukannya untuk menajamkan Musa dan kemudian memakainya sebagai seorang yang tak pernah dipakai seperti itu sebelumnya.</p>
<p><strong>Bidang Kesunyian</strong></p>
<p>Banyak orang tidak tahan dengan kesunyian. Mereka merasa asing dengan kesunyian (mungkin itu sebabnya MP3 player maupun Apple i-Pod laku keras di pasaran).</p>
<p>Kesunyian memiliki suara yang menarik. Saya hampir lupa seperti apa. Jika Anda juga telah lupa, Anda perlu berjalan-jalan. Pergilah sejauh yang Anda perlukan untuk menjauh dari dengungan dan deruman dan keributan masyarakat. Jangan ke pantai, karena tempat itu adalah tempat dengan bunyi deburan yang terus-menerus. Tidak, Anda perlu mendaki tinggi ke atas gunung atau ke padang gurun, atau ke padang rumput luas di suatu tempat. Dan silakan, tinggalkan Walkman dan CD player Anda. Ambillah waktu untuk berdiam dan mendengar kesunyian yang mendalam.</p>
<p>Hal itu menakjubkan. Diamlah di sana untuk waktu yang cukup lama dan Anda mungkin mulai memperoleh kepekaan pada hal-hal yang telah Anda lupakan. Pikiran Anda akan mulai menyelidiki dangkalnya tingkat permukaan tempat di mana kebanyakan dari kita menghabiskan waktu kita. Memberikan waktu lebih lama di lingkungan itu, maka Anda akan menemukan diri maka Anda bertumbuh lebih dalam.</p>
<p>Bertahun-tahun, telah menjadi penyelidikan saya bahwa orang-orang terbesar di dunia adalah orang-orang yang telah mengalami kesunyian. Banyak seniman dan pemahat di dunia, mereka yang telah meninggalkan warisan berupa musik dan seni kepada kita, adalah orang-orang yang mengalami kesunyian dan kesendirian. Beberapa pemimpin besar dunia adalah orang-orang yang pemah menjalani hidup dalam keadaan kesepian.</p>
<p>Dalam karir panjang Musa sebagai seorang pemimpin, dia telah dipertanyakan, diserang, dituduh, dibenci dan dikhianati. Melalui itu semua, dia mengatasinya sendiri. Bagaimana dia bisa melalui itu semua? Bagaimana dia bertahan? Dia telah dilatih untuk menanganinya. Dia telah lulus dari sekolah padang gurun Allah bidang kesunyian. Dia telah belajar dengan baik. Dia tidak lagi membutuhkan orang lain untuk menepuk (menyemangati) dia dari belakang. Dia dapat benar melakukan apa yang Allah suruh untuk dia lakukan, bahkan di hadapan kenyataan yang pahit.</p>
<p><strong>Bidang Ketidaknyamanan</strong></p>
<p>Tandai itu. Tidak ada yang nyaman tentang Midian.</p>
<p>Itu adalah tempat yang keras, panas yang menekan dan sangat tidak diperhitungkan dalam hal kenyamanan ciptaan. Musa, yang telah diangkat keluar dari Sungai Nil sewaktu bayi dan tinggal di dekat sungai besar itu pada sebagian besar waktu empat puluh tahunnya, harus menyesuaikan diri di tempat di mana air menjadi komoditas yang sangat berharga. Dia belajar untuk hidup dengan tenggorokan yang kering, bibir pecah-pecah, dan kerutan abadi di ujung mata yang melindunginya dari sinar matahari yang menyilaukan.</p>
<p>Itulah kurikulum sekolah Allah di padang gurun; empat bidang utama dalam pendidikan supaya dapat lulus. Perhatikan dengan seksama bagaimana suatu proses terjadi melalui tahun-tahun belajar di padang gurun, karena hal itu sama dengan Anda dan saya. Allah harus menghancurkan beberapa penghalang luar yang keras dalam hidup kita sebelum Dia dapat memperbaharui jiwa kita. Tujuan utamanya adalah menerobos ke dalam batin kita. Seperti yang dikatakan Daud, “Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku” (Mazmur 51:8).</p>
<p>Apa itu kerak dalam hati, dan bagaimana Dia menerobos ke bagian tersembunyi? Pertama, Dia menemukan kesombongan lalu Dia menggunakan ampelas kegelapan untuk menyingkirkannya secara perlahan-lahan.</p>
<p>Lalu Dia menemukan kita dicengkeram ketakutan &#8211; trauma; masa lalu kita, kekuatiran akan masa depan kita, dan teror terhadap apa yang ada di depan &#8211; dan Dia menggunakan waktu-waktu yang berlalu untuk menyingkirkan ketakutan itu. Kita mempelajari hal-hal itu di luar kekuasan kita sama sekali; semuanya ada di  angan-Nya.</p>
<p>Pertemuan selanjutnya adalah penghalang berupa dendam atau kebencian &#8211; tirani kepahitan. Dia menghancurkan kerak itu dengan kesunyian. Dalam hadirat-Nya yang sunyi, kita memperoleh sudut pandang yang segar, perlahan-lahan kita melepaskan hak-hak berharga kita, dan melepaskan pengharapan yang menyandera kita.</p>
<p>Akhirnya, Dia turun ke kebiasaan dasar dalam hidup, begitu dekat ke dalam batin, dan di sana Dia membawa ketidaknyamanan dan kekerasan untuk menyingkirkan kerak terakhir yang masih ada. Mengapa? Begitulah Dia memperbaiki kita di akar terdalam dari kehidupan kita.</p>
<p>Sampah kita untuk dibakar&#8230; emas kita untuk dimurnikan.</p>
<p>V. Raymond Edman adalah Presiden dari Perguruan Tinggi Wheaton selama beberapa tahun, sebelum kematiannya yang tiba-tiba. Di dalam buku kecilnya yang berjudul In Quietness and Confidence, Dr. Edman menjelaskan pengalaman padang gurun pribadinya.</p>
<blockquote><p>“Sesuatu yang menyakitkan terjadi kepadaku. Inilah caraku menghadapinya: Aku berdiam untuk suatu waktu bersama Tuhan, lalu aku menuliskan kata-kata ini untuk diriku sendiri:</p>
<p>Pertama, Dia membawaku ke sini. Dengan kehendak-Nya, aku berada di tempat sempit ini: karena itulah aku beristirahat.</p>
<p>Kemudian, dia menjagaiku di sini dalam kasih-Nya, dan memberikanku kasih karunia.</p>
<p>Lalu, Dia akan membuat ujian berkat, mengajarkan aku pelajaran yang Dia inginkan untuk kupelajari, dan mengerjakan di dalamku kasih karunia yang Dia perlu anugerahkan</p>
<p>Terakhir, dalam waktu-Nya yang tepat Dia dapat membawa aku keluar lagi – bagaimana dan kapan hanya Dia yang mengetahuinya.</p>
<p>Biarkan aku berkata aku ada di sini, pertama, oleh karena pemilihan Allah, kedua, dalam perlindungan-Nya, ketiga, dibawah pelatihan-Nya, keempat, untuk waktu-Nya.”</p></blockquote>
<p>Tidak semua lulus. Kalaupun lulus, tidak semua telah mencapai tingkat kedewasaan yang sama dalam perjalanan kita bersama Yesus Kristus. Faktanya, ada tiga respon (tanggapan) yang berbeda yang dapat kita tawarkan ketika kita menemukan diri kita sendiri berada dalam padang belantara. Saya mengakui, saya pernah memberikan ketiga macam respon ini dalam hidup saya.</p>
<p>Respon pertama: “Saya tidak membutuhkannya.”<br />
Ini adalah respon kesombongan. Kita merasa bahwa teman sekelas kita membutuhkannya. Orang tua kita membutuhkannya. Guru kita membutuhkannya. Tetangga kita membutuhkan pengalaman seperti ini. Pasangan hidup saya membutuhkannya. Pembimbing rohani saya membutuhkannya. Atasan saya jelas membutuhkannya.<br />
Tetapi saya? Saya tidak membutuhkannya!.</p>
<p>Respon kedua: “Saya lelah akan semua hal ini.”<br />
Ini adalah respon yang tidak memandang jauh ke depan.</p>
<p>Respon ketiga: “Saya menerimanya.”<br />
Inilah respon yang ingin Allah dengarkan. Respon dari kedewasaan.</p>
<blockquote><p>Rasa sakit mengetuk pintuku dan berkata<br />
Bahwa ia harus datang dan tinggal;<br />
Dan sekalipun aku tidak menyambutnya<br />
Tetapi mengenyahkannya, ia masuk.<br />
Dan seperti bayang-bayangku sendiri, ia mengikutiku<br />
Dan dari tikamannya, pudang yang menyebabkan pedih,<br />
Tak satu momen pun aku bebas.</p>
<p>Dan kemudian satu hari yang lain mengetuk<br />
Sangat lembut di pintuku<br />
Aku berkata, “Tidak, sudah rasa sakit ada di sini.<br />
Tidak ada kamar yang lebih”</p>
<p>Kemudian aku mendengar suara-Nya yang lembut<br />
&#8220;Ini Aku, jangan takut.”</p>
<p>Dan sejak hari itu la masuk -<br />
Ah, Ia membuat sesuatu yang lain</p></blockquote>
<p>Pernahkah Anda menemukan diri Anda berkata sesuatu seperti ini? “Tuhan, Aku memberikan hidupku kepada-Mu tetapi aku benar-benar kelelahan terhadap pengikisan ini, orang ini, keadaan ini, situasi yang tidak nyaman ini. Aku rnerasa terperangkap, Tuhan. Aku ingin kebebasan &#8211; aku harus bebas! Dan apabila Engkau tidak membawa hal itu segera&#8230;  Aku akan&#8230;. ”</p>
<p>Anda bisa saja terus berjalan menjauh tetapi tidak ada jalan pintas. Inilah rencana yang lebih baik: raihlah tangan Penuntunmu! Dialah Tuhan atas padang gurun. Bahkan padang gurunmu. Obyek dari kasih Allah yang paling berharga adalah anak-Nya yang berada di padang gurun. Dan apabila mungkin, Anda lebih berarti bagi-Nya saat-saat ini lebih dari kapan pun, Anda sama seperti biji mata Allah. Andalah murid kesayangan-Nya yang mengambil pelajaran terkeras-Nya. Dia mengasihi Anda dengan kasih yang tiada terbatas.</p>
<blockquote><p>Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!<br />
&gt;&gt; Wahyu 3:19</p></blockquote>
<p>Tuhan Yesus sendiri dibawa oleh Roh ke padang gurun (Matius 4:1). Ia mengerti setiap jengkal pasir di padang gurun. Ia telah melalui padang gurun yang paling buruk dari semua padang gurun yang ada, pernah ada, dan yang akan ada.</p>
<p>Tuhan Yesus sendirian. Tidak ada yang pernah sesendiri Dia di tempat itu. Dia ditolak. Dia hidup dalam kegelapan. Dia mengalami penderitaan yang paling buruk yang dapat diberikan dunia dan neraka. Di atas salib Dia begitu kekeringan sehingga berkata, “Aku haus.” Dan ketika malam padang gurun itu adalah yang tergelap, Dia berteriak, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”</p>
<p>Yesus adalah yang pertama kali melintasi padang gurun itu. Dia merasakan panasnya. Dia mencicipi kesendiriannya. Dia menerima kegelapannya. Dia menghadapi Setan sendirian sementara angin padang gurun mengaum di sekelilingnya. Dan Dia tidak akan, tidak akan pernah melupakan atau meninggalkan salah seorang dari yang mengikuti-Nya mengarungi pasir padang gurun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/12/sekolah-kehidupan-padang-gurun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Which version of Bible should I read?</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/09/which-version-of-bible-should-i-read/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/09/which-version-of-bible-should-i-read/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2009 16:42:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=351</guid>
		<description><![CDATA[Well, this has been a question for many Christians over the ages. Having so many choices from KJV, NASB, ESV, NIV, NLT, up to The Message and LB Cotton Tail, we often confuse which version is true? I took a brief study to understand how bible was translated. Hope it can help. Quick facts of [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Well, this has been a question for many Christians over the ages. Having so many choices from KJV, NASB, ESV, NIV, NLT, up to The Message and LB Cotton Tail, we often confuse which version is true? I took a brief study to understand how bible was translated. Hope it can help.</p>
<p>Quick facts of the Bible. It was written in three languages: Hebrew (most of the Old Testament), Aramaic (some sections in the Old Testament), and Greek (the New Testament). Bible was written over a 1500 year span. Written by over 40 authors. Written in different places (from the wilderness, dungeon, prison walls, travelling, up to the isle of Patmos). Written in times of war and peace. Written in different moods. Written on three continents. But&#8230;the most important thing we need to know and believe: the Bible was written under the direction and inspiration of the Holy Spirit.<span id="more-351"></span></p>
<p>So, how do they translate the Bible from the original language? In general, translators are using three methods.</p>
<ul>
<li> Literal translation: the attempt to translate by keeping as close as possible to the exact words and phrasing in the original language. Examples: KJV, NASB, RSV, ESV.</li>
<li>Free translation: the attempt to translate ideas from one language to another with less concern about using the exact words of the original. Examples: The Message, LB Cotton Tail</li>
<li>Dynamic equivalent: the attempt to translate words, idioms, and grammatical constructions of the original languages into precise equivalent in the receptor language. Examples: NIV, GNB, NLT, Phillips</li>
</ul>
<p>So which one should I read? Sometimes it really depends on where you are in your spiritual growth. Literal translation is good for serious bible study. It best represents the original word for word. While Free translation is food for stimulating fresh thinking on the next, usually for devotional purpose. But keep in mind, there are some poor translations of the Scripture texts in every translation.</p>
<p>My first bible version was in Indonesian. The first english bible I read is King James Version. Although many scholars believe it is the most precise translation, I find it hard to understand the Scriptures since english is not my first language, and secondly it is not the current english. Language evolves over time. Hence, through the work of Holy Spirit, bible is translated to today&#8217;s language. Now I&#8217;m using NKJV, ESV, ASV, and Indonesian.</p>
<p>Does translation matter? It does. Last year a preacher said his prophecy to me. Although his prophecy sounded biblical since he is using the Scriptures. Yet later I found after studying the verse carefully, his prophecy was not biblical at all since he was interpreting the Scriptures carelessly. It is sad to see if many pastors today do not go to bible school to study the bible. If they themselves lack on good understanding of the Bible, whose teaching they would teach to the congregation? On the other hands, it is also disappointing to see some people who think they understand the bible in and out often use the Scriptures as &#8220;playground&#8221;. Be careful (John 5:39). If you are a scholar and are yearning to learn the Bible, I&#8217;d recommend having Hebrew/Greek dictionary. It is helpful to understand the Scriptures.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Example from 1 Corinthians 6:9. NIV &#8211; Do you not know that the wicked will not inherit the kingdom of God? Do not be deceived: Neither the sexually immoral nor idolaters nor adulterers nor male prostitutes nor <em>homosexual</em> offenders.</p>
<p style="padding-left: 30px;">The Message version: Don&#8217;t you realize that this is not the way to live? Unjust people who don&#8217;t care about God will not be joining in his kingdom. Those who use and abuse each other, <em>use and abuse sex</em>, use and abuse the earth and everything in it, don&#8217;t qualify as citizens in God&#8217;s kingdom.</p>
<p>We see that avoidance of speaking directly about homosexuality as being sin (in The Message bible), weakens the text.</p>
<p>Hence, I hope you have the passion to study the Scriptures carefully by reading the most appropriate bible translation for yourself. On the top of everything, the Scriptures are God-breathed, when we read the Bible our focus should be on God, and God only. It takes more than knowledge to understand the Scriptures. But by the grace of God, and the help from Holy Spirit, we can learn to know God from the Scriptures.</p>
<p>Sola scriptura!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/09/which-version-of-bible-should-i-read/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A little thought of the day</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/08/a-little-thought-of-the-day/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/08/a-little-thought-of-the-day/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 05:48:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Walaupun Yusuf sudah menjadi penguasa di Mesir, hatinya masih berada di Kanaan Kebahagiaan adalah bukanlah perkara &#8220;dimana&#8221; tetapi perkara &#8220;ketika&#8221;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Walaupun Yusuf sudah menjadi penguasa di Mesir, hatinya masih berada di Kanaan</p></blockquote>
<p>Kebahagiaan adalah bukanlah perkara &#8220;dimana&#8221; tetapi perkara &#8220;ketika&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/08/a-little-thought-of-the-day/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diam saja ketika kita difitnah</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/08/diam-saja-ketika-kita-difitnah/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/08/diam-saja-ketika-kita-difitnah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 18:22:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=272</guid>
		<description><![CDATA[Yusuf dijebloskan ke dalam penjara karena dia melakukan segalanya dengan benar. Hah? Bisa? Sebelum membahas kehidupan Yusuf di rumah Potifar, mungkin ada baiknya jika kita mengingat kembali proses yang sudah dialami oleh Yusuf. Dibuang ke sumur, hampir dibunuh, akhirnya dijual oleh saudara-saudaranya sendiri. Saya bayangkan Yusuf sudah mengalami rasanya pupus impian. Sekarang Yusuf memulai hidup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yusuf dijebloskan ke dalam penjara karena dia melakukan segalanya dengan benar. Hah? Bisa?</p>
<p>Sebelum membahas kehidupan Yusuf di rumah Potifar, mungkin ada baiknya jika kita mengingat kembali proses yang sudah dialami oleh Yusuf. Dibuang ke sumur, hampir dibunuh, akhirnya dijual oleh saudara-saudaranya sendiri. Saya bayangkan Yusuf sudah mengalami rasanya pupus impian. Sekarang Yusuf memulai hidup baru di Mesir, bekerja dengan serius sampai bisa diberi kepercayaan untuk mengurus rumah tangga Potifar.<span id="more-272"></span></p>
<p>Tuhan mempersiapkan hambaNya dengan teliti dengan mengizinkan ujian baru. Tujuannya adalah tabah dicobai dan muncul sebagai emas. Ketika Yusuf digoda oleh istri Potifar, ada empat langkah yang diambil:</p>
<ol>
<li>Ketika istri Potifar mendatangi Yusuf dan berkata, &#8220;Marilah tidur dengan aku&#8221;, Yusuf menolak dan berkata, &#8220;Tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku&#8221; (Kej 39:8). Yusuf menghargai kepercayaan Potifar, dan memperhatikan perasaan Potifar.</li>
<li>Yusuf memilik sikap menghormati dirinya sendiri. &#8220;Di rumah ini ia tidak lebih besarkuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku&#8221; (Kej 39:9)</li>
<li>Yusuf menghormati istri Potifar. &#8220;Sebab engkau istri Potifar&#8221;. Inilah salah satu bentuk cinta sejati. Bisa saja Yusuf mengikuti hawa nafsu dan menuruti keiinginan istri Potifar, toh dia hanyalah seorang budak.</li>
<li>Yusuf tau kalau dia akan berbuat dosa terhadap Tuhan. &#8220;Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Tuhan?&#8221;. Inilah yang saya rasa yang menjadi dasar bagi Yusuf dalam mengambil sikap. Ketika menghadapi masalah dan tekanan yang sangat besar, saya rasa yang hanya bisa menyelamatkan adalah kasih karunia dari Tuhan dan hubungan pribadi seseorang dengan Tuhan.</li>
</ol>
<p>Singkat cerita, setelah berusaha menghindar dari istri Potifar. Masih belum berhasil juga. Akhirnya istri Potifar memfitnah Yusuf, dengan bukti baju Yusuf yang ia tarik ketika Yusuf mencoba kabur. Sampai disini, alkitab masih terus menulis &#8220;Tuhan menyertai Yusuf&#8221;. Wow, Tuhan mengijinkan ini semua terjadi pada orang yang mencoba bertindak benar? No kidding.</p>
<p>Saya mencoba membawa kisah ini ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin ada suatu titik dlm hidup dimana kita berseru, &#8220;Tuhan, kenapa perlakuan ini yang aku dapatkan ketika aku melakukan kehendakMu?&#8221;, &#8220;Kenapa mereka menfitnah aku?&#8221;. Kenapa&#8230;kenapa&#8230;dan kenapa.</p>
<p>Yusuf dipenjara karena dia melakukan segalanya dengan benar. Saya jadi ingat ayat &#8220;Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak&#8221; (Ibr 12:6). Tuhan sedang mempersiapkan orang yang dikasihNya untuk sesuatu yang lebih baik, lebih berharga, dan lebih berarti. Bagaimana sikap Yusuf menghadapi fitnah Potifar? Diam. Yusuf cuma diam, gak berusaha membela diri.</p>
<p>Hmmm&#8230;..diam saja ketika kita difitnah? God is in control.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/08/diam-saja-ketika-kita-difitnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>R.T. Kendall &#8211; Tuhan Merancangnya Untuk Kebaikan</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/08/rt-kendall-tuhan-merancangnya-untuk-kebaikan/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/08/rt-kendall-tuhan-merancangnya-untuk-kebaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 04:50:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Suatu sore di akhir bulan Oktober 2008, saya berjalan pulang dari kampus menuju tempat parkir mobil di Banff Trail. Tiba-tiba dari belakang ada yang memanggil, &#8220;Martin, apa kabar?&#8221;. Rupanya seorang kawan lama. Singkat cerita saya bercerita tentang kondisi dan situasi saya secara umum yang emang lagi banyak beban masalah. Selang beberapa minggu kemudian, beliau kirim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://adimulia.net/blog/wp-content/uploads/2009/08/21011.jpg" alt="21011" title="21011" width="112" height="166" class="alignnone size-full wp-image-266" /></p>
<p>Suatu sore di akhir bulan Oktober 2008, saya berjalan pulang dari kampus menuju tempat parkir mobil di Banff Trail. Tiba-tiba dari belakang ada yang memanggil, &#8220;Martin, apa kabar?&#8221;. Rupanya seorang kawan lama. Singkat cerita saya bercerita tentang kondisi dan situasi saya secara umum yang emang lagi banyak beban masalah. <span id="more-265"></span> Selang beberapa minggu kemudian, beliau kirim email kepada saya menanyakan kabar dan kemudian membalas email saya demikian:</p>
<blockquote><p>Saya mengerti perasaan kamu, kandang-kadang kita bingung perjalanan hidup kita, banyak hal sulit dimengerti. tapi satu hal yg pasti: Tuhan tahu apa yg terbaik. <strong>Lihat perjalanan Yusuf, justru pada saat paling gelap (difitnah dan dipenjara), saat itu merupakan titik balik.</strong> Serahkan pada Tuhan dengn penuh penyerahan, minta pengampungan pada Tuhan kalau ada hal yg tidak berkenan padaNya. Pasti dia akan buka jalan.</p></blockquote>
<p>Yup, tentang Yusuf! Selama ini bagian favorit saya tentang Yusuf adalah bagian pembelaan. Bagaimana Tuhan menyertai Yusuf yang mengalami kepahitan. Minggu kemarin saya mendapat hadiah sebuah buku berjudul asli &#8220;God meant it for good&#8221; karangan RT. Kendall. Saya baru mulai membaca buku ini, dan isinya mengupas kisah tentang Yusuf dari awal sampai akhir. Sekilas dan saya kira pada umumnya, kita selalu melihat sosok Yusuf yang mendapat perlakuan tidak adil, sampai-sampai harus difitnah. Tapi pernah kah kita dalami lagi dan melihat sisi Yusuf yang pada awalnya &#8220;sedikit&#8221; pamer akan jubah dan karuniaNya bermimpi?</p>
<p>Buku ini membawa kita lebih dalam memahami lika-liku hidup sebagai orang yang dipanggil untuk pekerjaan Tuhan. Ada banyak hal yang kita bisa belajar dari hidup Yusuf. Secara garis besar, Yusuf bukan orang sempurna namun tetap dipakai Tuhan. Untuk beberapa blog entry ke depan, saya akan berusaha membagikan apa yang saya dapat dari buku ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/08/rt-kendall-tuhan-merancangnya-untuk-kebaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://stats.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://stats.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->

