Jangan takut, percaya saja

On April 14, 2011, in Indonesian, by adimulia

Kalau kita baca cerita di Alkitab, ada beberapa peristiwa yang pas kita baca, kita bisa merasa “geregetan” sama Tuhan. Sebutlah cerita Tuhan Yesus meredakan angin ribut. Tuhan Yesus dengan tenang bisa tidur. Gimana ngga geregetan, Tuhan sebetulnya bisa langsung tolong tapi Tuhan malah tidur. Padahal ini masalah (Dan kita tahu, setelah Tuhan Yesus bangun, Dia cukup berkata pada angin “Diamlah”, dan pada gelombang ombak, “Tenanglah”. Kalo kata temen saya, “Ciamik!” ;)

Nah, cerita kedua yang menurut saya lebih bikin geregetan lagi ada di Markus 5. Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Tuhan Yesus diminta menyembuhkan anaknya Yairus yang udah mau meninggal. Bisa dibayangin Yairus ini dalam kondisi putus asa, apapun yang bisa dilakukan buat supaya anaknya sembuh bakal dijalanin. Termasuk minta tolong pada Yesus. Buat seorang kepala rumah ibadat orang Yahudi, kalau minta tolong sama Yesus bisa beresiko dikucilin secara Yesus jaman itu dianggap pemberontak oleh kaum Farisi. Bayangin aja, kepala rumah ibadat malah menyembah Yesus.

Yesus memutuskan untuk menuju rumah Yairus…

Di tengah jalan, Yesus “dicegat” seorang wanita yang udah 12 tahun menderita pendarahan. Pendarahan pada wanita umumnya terjadi sebulan sekali, tapi ini udah 12 tahun ngga berhenti. Kebayang bagaimana keadaan wanita itu. Wanita itu udah ditolak dan dikucilkan secara sosial karena dipandang cemar. Dia juga mendengar kabar tentang Yesus. Pas Yesus lagi dikerumuni orang banyak, wanita ini memberanikan diri untuk diam-diam menjamah jubah Yesus. Ajaibnya, begitu dia menjamah jubah Yesus, dia langsung sembuh! Kebayang ngga, udah 12 tahun sakit pendarahan…terus sembuh!

Continue reading »

Tagged with:  

Kok jahat sekali ya

On December 11, 2010, in Indonesian, My thought, by adimulia

Coba tonton video ini dulu, kemudian baca komentar saya di bawah ini.

Ada tiga perasaan ketika saya menonton video ini: kasihan, sedih & geram. Kasihan dengan orang yang menonton video ini begitu saja, dan mempercayai isinya sebagai kebenaran Tuhan. Sedih karena firman Tuhan kok dipermainkan seperti ini. Geram dengan orang yang dengan sadar tidak menuntun orang pada pemahaman yang benar tentang Tuhan. Kok jahat sekali ya.

Dari dulu bicara tanda-tanda, kutip Alkitab secuplik-secuplik lalu artikan di luar konteksnya. Bicara bulan bintang, goncangan, api, angin. Duh. Di video ini membahas angka 26 yang dikaitkan dengan bencana di Indonesia. Dari sisi fakta, ini udah salah, karena:

  • Gempa Jogja itu tanggal 27 Mei 2006, bukan tanggal 26.
  • Gempa di Tasik bukan hanya terjadi tanggal 26 Juni 2010. Tapi sering. Bahkan gempa yang terbilang besar kekuatannya itu yang tahun 2009, tepatnya 2 September 2009 (7,3 skala Richter).
  • Gempa bumi Mentawai itu tanggal 25 Oktober, bukan tanggal 26.

    Continue reading »

Tagged with:  

Ulasan buku – The Christian Atheist

On October 21, 2010, in Indonesian, by adimulia

Suatu waktu Martin Luther mengalami depresi, duduk seharian, bengong, selalu merasa sedih. Gak ada yang bisa membuat dia keluar dari perasaan depresinya. Teman-temannya khawatir kalau Martin Luther begitu terus, lama-lama dia bisa mati. Lalu suatu malam, istrinya menghampiri Martin Luther dengan pakaian berkabung. Martin Luther kaget, dia tanya pada istrinya, “Katherine, ada apa? Kenapa kamu memakai baju berkabung?”.

Istrinya dengan suara sedih berkata, “Mengerikan! Tuhan meninggal (God is dead)”. Luther menjawab, “Apa maksudmu? Ngomong apaan sih?”. Konon Martin Luther orangnya lumayan tempramental. Jadi lumayan terbayang betapa emosinya percakapan ini. Istrinya kemudian menjawab, “Apakah kamu Martin Luther? Apakah kamu adalah suamiku dan pendetaku?”. Martin Luther, “Iya”. “Belakangan ini, tindakanmu menunjukkan bahwa Tuhan sudah mati. Kalau Tuhan itu hidup, tentunya engkau pastinya punya iman di dalam Dia, untuk menghadapi masalahmu?”…Jadi ceritanya, Martin Luther sekalipun pernah berada di titik dimana dia bertindak seolah-olah Tuhan tidak ada, padahal dia adalah orang percaya.

Continue reading »

Tagged with:  

Pagi ini secara kebetulan saya membaca Ratapan 3. Yang bercerita tentang kesesakan, kegetiran, tangis, namun Tuhan terus menyertai dan memelihara. Ketika saya mereleksikan ayat-ayat ini dalam perjalanan hidup saya, kesimpulannya cuma satu: Tuhan itu baik.

3:17 Engkau menceraikan nyawaku dari kesejahteraan, aku lupa akan kebahagiaan.
3:18 Sangkaku: hilang lenyaplah kemasyhuranku dan harapanku kepada TUHAN.
3:19 “Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.”
3:20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.

Di tengah kesengsaraan, Tuhan terus menyertai…

3:21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:
3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
3:24 “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.
3:25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.
3:26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.
3:27 Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya.
3:28 Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau TUHAN membebankannya.
3:29 Biarlah ia merebahkan diri dengan mukanya dalam debu, mungkin ada harapan.
3:30 Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan.
3:31 Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan.
3:32 Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya.
3:33 Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia.

Terkadang, kegetiran di masa lalu memberikan saya dua pelajaran: belajar untuk mengampuni, dan belajar untuk mensyukuri pemeliharaan Tuhan sampai pada hari ini.

Tagged with:  
WordPress主题