Orang buta yang tidak menyerah

On November 2, 2011, in Indonesian, by adimulia

Sebagai orang dari latar belakang reformed evangelical, 31 Oktober mengajak kita semua untuk merefleksikan beberapa hal: siapa Tuhan yang kita sembah, siapa kita, dan bagaimana kita berelasi dengan Tuhan.

Kalau diperhatikan, sejarah itu sering berulang, dari masa ke masa, mungkin bentuknya berbeda, tapi esensinya sama. Tahun 1517, Martin Luther ngepost 95 tesis. Peristiwa ini lumayan membuat perbedaan dalam sejarah kekristenan. Tapi seiring sejalan waktu, kejadian serupa terus terjadi, gerakan awalnya dianggap mulai melenceng dari tujuan awalnya, lalu muncul lagi gerakan reformasi baru, begitu seterusnya sampai sekarang.

Semua ini membuat kita (setidaknya saya) berpikir, Tuhan seperti apa sih yang saya sembah. Hal ini dulu tidak begitu penting. Saya membayangkan ilustrasi gajah dan sepuluh orang buta. Ada yang pegang buntut gajah, jadi dia mendeskripsikan gajah itu seperti gagang. Ada yang pegang telinga gajah, jadi dia bilang gajah itu seperti daun melambai2. Jadi intinya, Tuhan itu terlalu besar untuk kita sepenuhnya mengerti. Kalimat ini ada benarnya. Pengenalan saya akan Tuhan berbeda dengan pengenalan saudara.

Tapi yang jadi point utamanya adalah: bagaimana pedoman mengenal gajah yang baik dan benar? Oke lah saya cuma kebagian memegang telinga gajah, saya belum pernah memegang belalai gajah ataupun bagian gajah lainnya. Tapi setidaknya, di dalam hati saya, Tuhan tanamkan suatu image tentang gajah itu seperti apa. Atau dalam konteks mengenal Tuhan, Tuhan memberikan Roh Kudus kepada kita, dan melalui Roh Kudus, Tuhan mem-reveal diriNya seperti apa. Dan juga, ada satu prinsip yang paling mendasar, Roh Kudus selalu me-reveal hal tentang Tuhan yang sesuai dengan Alkitab, tidak mungkin bertentangan.

Sejarah boleh berulang, nama denominasi boleh berubah-ubah, tetapi Alkitab tetaplah sama, kebenaran di dalamnya tidak tergantikan oleh apapun juga. Hari ini, entah ada berapa banyak denominasi Kristen, yang serupa sekumpulan orang buta memegang seekor gajah, mereka punya beragam pengertian akan Tuhan. Ada yang melihat Tuhan sebagai sumber berkat, ada yang melihat hidup ini harus menderita terus karena kita berdosa, ada yang melihat Tuhan tidak ingin hidup kita terganggu oleh teknologi jaman sekarang, ada macam-macam lah. Tapi biarlah, Tuhan sendiri terus mengingatkan agar kita berpegang terus pada kebenaran yang ada di Alkitab.

Mempunyai pengertian yang benar tentang Tuhan akan mengubah bagaimana kita melihat siapa diri kita, dan bagaimana kita menjalani hubungan dengan Tuhan. Kita tidak harus mengerti akan banyak hal, tapi pengertian yang benar akan Tuhan adalah mutlak.

Steve Jobs yang baru-baru ini meninggal, terkenal dengan quotesnya: “Do a couple things, and do them well. You don’t have time for much. And most things are not lasting. So do two or three things, and do them amazingly”. Sebagai orang percaya, terlalu banyak hal yang bisa kita fokus lakukan, tapi satu hal, fokuslah pada Tuhan yang kita sembah. Seperti kata Jobs, most things are not lasting.

Kemarin di jalan pulang, saya bertemu anak muda (mungkin anak smp/sma) dari name tagnya saya tau dia dari gereja mormon. Dia punya semangat menggebu-gebu untuk bercerita mormon itu seperti apa. Saya dalam hati merasa kasihan, saya berharap orang mormon boleh disadarkan dan kembali ke Alkitab, bukan ke kitab Mormon. Sayang rasanya melihat seorang anak dengan semangat tinggi, namun dia menghabiskan energi pada sesuatu yang sia-sia.

Saya merasa seperti orang buta yang mencoba mengenal Tuhan itu siapa, kadang saya tersandung dalam melangkah, kadang saya harus terjerembab. Ada harga yang harus dibayar, tapi hal itu tidak pernah sia-sia pada akhirnya.

Tagged with:  

Saya mau ikut Tuhan walaupun…

On September 17, 2011, in Education, Indonesian, by adimulia

Ini cerita dari jaman perjanjian lama. Pas Musa disuruh Allah naik ke Gunung Sinai untuk menerima perintah Allah, dia kan tinggal di atas gunung 40 hari. Nah, bangsa Israel, yang notabene baru keluar dari Mesir, mulai merasa khawatir. Mereka minta ke Harun untuk membuatkan bagi mereka allah (Keluaran 32:1). Kenapa yang dibuat adalah patung lembu emas? Ya salah satunya karena bangsa Israel pada waktu itu masih punya konsep seperti bangsa Mesir yang membuat patung untuk disembah. Jadi bangsa Israel pikir Allah itu seperti itu, harus dibuatkan patung.

Sepintas sangat jelas ini adalah penyembahan berhala. Tapi kalau kita baca lebih teliti, di ayat 4 dan 5, bangsa Israel membuat patung ini untuk menyembah TUHAN (Yahwe).

Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: "Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!" Ketika Harun melihat itu, didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu. Berserulah Harun, katanya: "Besok hari raya bagi TUHAN!"

Jadi mereka membuat patung sebagai lambang dari TUHAN (Yahwe), dan kita tahu Tuhan tidak berkenan dan murka. Tuhan bilang gini:

Lagi firman TUHAN kepada Musa: "Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk. Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar." (Keluaran 32:9-10)

Ada beberapa hal yang kita bisa belajar. Menyembah Tuhan dengan cara kita sendiri sama dengan menyembah berhala, dan Tuhan murka akan hal itu. Kita mungkin saya bermaksud untuk menyembah Tuhan, tapi cara kita menyembah Tuhan dengan cara kita sendiri. Kita menyembah Tuhan yang kita bentuk sendiri dalam pikiran kita, bukan Tuhan yang “Aku adalah Aku”.

Konsep Ngaco “Tuhan adalah kasih, jadi mana mungkin dia menghukum manusia”

Ini ide yang dicetuskan oleh banyak orang, termasuk yang santer baru-baru ini oleh Rob Bell. Jadi dia membentuk konsep sendiri tentang Tuhan. Dalam argumen dia, bagaimana mungkin Tuhan yang adalah kasih, bisa dengan kejam menghukum orang jahat ke neraka. Seharusnya Tuhan itu kan maha pengasih dan maha penyayang, masa tidak ada ampun bagi orang yang berbuat jahat. Kalau kita pikirkan kembali, pola pikir Rob Bell sama seperti pola pikir Israel yang membentuk patung lembu emas. Dia memberi definisi dia sendiri tentang siapa itu Tuhan.

Pengetahuan kita tentang Tuhan

Kalau kita liat dua post sebelumnya Keagungan Tuhan. Kadang kita lupa, kita menganggap dari hari ke hari kita mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Padahal yang terjadi bukan lah kita semakin mengenal Tuhan, tapi Tuhan lah yang me-reveal dirinya kepada kita. Kita lah yang diberikan kesempatan untuk mengenal Tuhan lebih lagi. Pikiran Tuhan bukanlah pikiran manusia, kita tidak bisa mengerti pikiran Tuhan. Kalau saya seorang ilmuwan yang bikin komputer, bagaimana mungkin komputer yang saya ciptakan bisa menjadi expert tentang diri saya yang menciptakannya. Yang ada juga saya mereveal diri saya kepada komputer.

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. (Yesaya 55:8) atau dalam bahasa Inggris: "For my thoughts are not your thoughts, neither are your ways my ways," declares the LORD.

Ketika kita berkata, “Ah saya tidak percaya pada Tuhan yang akan … “, coba kita pikirkan ulang. Apakah benar seperti itu? Kita harus berhati-hati karena ketika membuat statement itu, kita mencoba mendefinisikan apa yang akan Tuhan lakukan. Sedangkan pikiran Tuhan jauh melebihi pikiran kita. Banyak hal yang kita tidak bisa mengerti, cerita Ayub misalnya, kenapa Tuhan mencobai orang yang faitful? Cerita Niniwe? Tuhan mau memberi kesempatan untuk bertobat? Cerita tentang Tuhan Yesus, kenapa Tuhan mau mengirim anakNya untuk diperlakukan sedemikian rendah?

Tuhan tahu sesuatu yang saya tidak akan pernah tahu, yang pikiran saya tidak bisa cerna.

Iman “jika”

Akhir kata, kembali ke cerita patung lembu emas. Saya berpikir kenapa orang Israel memutuskan untuk membuat patung itu. Yang saya perhatikan iman yang mereka punya pada saat itu adalah iman “jika”. Saya mau percaya Tuhan jika Dia mau menjawab doa saya sekarang juga. Saya mau percaya Tuhan kalau saya bisa melihat jelas tuntunan Tuhan dalam hidup saya. Saya mau ikut Tuhan jika Tuhan memberkati saya. Ah, kalau saya melihat slogan beberapa gereja jaman sekarang yang menggembar-gemborkan “multiplication dan promotion”, rasanya saya ingin mengajak mereka merenungkan kembali cerita lembu emas.

Iman kita mengikut Tuhan, janganlah iman “jika”, tapi iman “walaupun”. Bisakah kita mengatakan “Saya mau ikut Tuhan walaupun…”

Immanuel!

Tagged with:  

Rasa tidak aman

On September 17, 2011, in Indonesian, Life Lesson, by adimulia

Diskusi seorang yang akan menikah biasanya berkaitan dengan masa depan. Misalnya, sebelum menikah, saya dan Loren banyak berdiskusi tentang persiapan pernikahan. Kita mempersiapkan diri dengan membaca buku tentang pernikahan, salah satunya yang bagus ada buku karangan Gary Chapman yang berjudul “Things I Wish I’d Known Before We Got Married”. Kita juga mempersiapkan untuk pesta pernikahan, dengan segala detailnya. Sebisa mungkin dipersiapkan biar lancar.

Kami juga berdiskusi tentang hal-hal yang lain yang saya yakin pasangan lain juga selalu diskusikan sebelum menikah. Misalnya, nanti mau punya anak berapa. Kami ingin mendidik anak dengan cara bagaimana. Terus tentang dimana kita mau menetap, bagaimana pekerjaan kita. Semua hal-hal ini awalnya baik dalam artian, kita menjalani hidup dengan bertanggung jawab, kita merencanakan hidup ini dengan prudent.

Tetapi, sangatlah mudah untuk jatuh ke arah ketidakamanan atau insecurity. Saya bersyukur, diingatkan lagi oleh video di bawah ini:

Kita begitu fokus dengan hidup kita, hidup kita di dunia, kita rencanakan dengan baik. Saking baiknya, kita bisa lengah dan lupa akan hidup kita yang lebih penting. Dimanakah kita akan menghabiskan eternity? Surga atau neraka.

Tagged with:  

Reformed Evangelical

On September 13, 2011, in Education, English, by adimulia

Some interesting moments: 12:15, 22:25, 28:45.

I sat across Dr. Tong once on a flight from Taipei to Jakarta. I greeted him, introduced myself briefly. Apart from his perspective on reformed theology which has introduced controversy among reformed churches in Indonesia, I admire his hard work and his unwavering commitment to preach the Gospel. I quietly pray that God will use each us to take part in preaching the true Gospel, the one and only from the Bible.

Tagged with:  
Weboy