Prioritas

On September 6, 2011, in Indonesian, Life Lesson, Quotes, by adimulia

“Wah, maaf saya tidak ada waktu untuk ____ ” . Silahkan isi bagian yang kosong dengan aktifitas kita yang semakin hari semakin banyak. Tapi apakah iya kita tidak ada waktu? Ini sebenarnya lebih ke arah prioritas. Misalnya, ketika seseorang diminta membantu melakukan kegiatan A, alasan yang sering dilontarkan, wah saya sibuk, tidak ada waktu. Padahal, orang yang bersangkutan masih ada waktu untuk kegiatan yang lain. Jadi sebenarnya, waktunya sih ada, cuma prioritas untuk kegiatan A lebih rendah dibanding kegiatan lain. Waktu kalau mau disempat-sempatin, pasti bisa.

Sekedar berpikir tentang prioritas Tuhan, apakah Tuhan setiap harinya buka Microsoft Outlook atau Google Calendar? Dan isinya ada mungkin jutaan miliar triliun tasks dan meeting appointment. Bagaimana Tuhan mengatur prioritas dari itu semua? Saya tidak tahu, tapi cuma sekedar pemikiran, andaikata urusan dosa bukanlah prioritas, mungkin Tuhan tidak akan repot-repot mengirim Yesus Kristus. Mungkin kalau dosa tidak berujung maut, Tuhan bakalan lebih “cincai”. Atau kalau manusia bukanlah prioritas utama Tuhan, tentu kita udah dicuekin dari dulu, dari sejak kejatuhan dalam dosa, atau bahkan kita tidak akan pernah diciptakan?

Pemikiran sekarang, kalau hidup dan keselamatan kita adalah prioritas Tuhan, apa yang jadi prioritas kita sekarang?

Saya belakangan merasa waktu 24 jam itu kurang. Kerja dari jam 9 pagi, baru juga bales-bales email, briefing tugas, eh tau-tau udah jam 12. Demikian seterusnya, bekerja ini itu, tau-tau udah jam 5 lebih. Sepulang kerja, lanjut lagi kegiatan ini itu. Yang paling menyedihkan, kadang tidak ada waktu untuk Tuhan.

Ada ungkapan “Never make someone your priority, when they only make you an option”. Kalau Tuhan berpegang pada ungkapan ini, sudah habislah saya. Ah saya perlu belajar mengatur prioritas hidup ini lebih baik.

Tagged with:  

Mentalitas limun

On August 18, 2011, in Indonesian, Life Lesson, by adimulia

Papa saya pernah mendidik anak-anaknya dengan suatu ungkapan. Kurang lebih katanya, “Jangan bermental seperti limun (minuman bersoda)”. Pas botolnya dibuka, isinya naik terus langsung turun. Maksud papa saya adalah, kalau mengerjakan segala sesuatu, kerjakan sampai tuntas. Nasihat ini sebenarnya diberikan ke abang saya di saat dia menulis skripsi yang lumayan berlarut-larut. Maklum ketika abang saya kuliah dulu, dia juga merangkap jadi guru agama di almamaternya, SMUN 3. Salah membagi waktu, bisa ribet jadinya.

Seperti saya ceritakan di beberapa post sebelumnya, sekarang ini saya lagi memfokuskan diri ke persiapan pernikahan, pergumulan gereja, pergumulan pekerjaan, keluarga, dst.

Continue reading »

Tagged with:  

Kenapa mau menikah

On June 6, 2011, in Indonesian, My thought, by adimulia

Kalau kita liat update status di facebook, entah mengapa, lebih dari 50% status yang saya baca bersifat ungkapan kesedihan, umpatan emosi, bersifat negatif. Status update yang lain bersifat memberikan informasi, ada yang update jalanan macet, ada yang promosi barang ini itu, dst. Cuma yang agak jarang, status yang bersifat positif. Walaupun ada, biasanya status positif ini cuma muncul menjelang akhir pekan, sampai kira-kira hari Minggu. Hari Senin udah penuh dengan keluhan lagi.haha.

Beginilah hidup kali ya? Orang kalau diminta menyebutkan sesuatu yang positif, kayanya kok ya susah banget. Tapi kalau diminta menyebutkan yang negatif, bisa alami, mengalir begitu aja. Apa ini natur kejatuhan manusia ke dalam dosa? Sekarang bagi yang sudah menikah…seandainya ditanya, kenapa sih mau menikah dengan pasangannya? Banyak yang menjawab, “Ya karena dia orangnya baik.” atau “Ya, karena dia orangnya sabar.”. Jawabannya pendek. Tapi begitu beberapa tahun menikah, dan lagi berantem, mungkin keluhan/cacian itu sendiri bisa dibikin novel.

Ah, kenapa anda menikahi pasangan anda?

Tagged with:  

Ah, Tuhan punya rencana lain

On June 4, 2011, in Indonesian, Life Lesson, by adimulia

Ketika krisis moneter melanda Indonesia tahun 1997, pemerintah Indonesia sempat mendatangkan seorang ahli ekonomi dari Thailand, namanya Prof. Ihiy Dungtakdungdung. Sebelum krisis moneter terjadi, professor ini sudah memprediksi akibat-akibat krismon, serta solusinya. Dia orang yang cukup optimis, jadi ketika dia datang ke Indonesia, dia yakin bisa mengatasi krisis moneter yang ada. Kebetulan Prof Dungtakdungdung adalah seorang Kristen.

Selang bekerja satu bulan, kondisi tak kunjung membaik. Harga dollar menembus Rp. 21.000, rekor tertinggi sepanjang masa. Selang delapan bulan, segala teori ekonomi sudah dia coba terapkan, tapi kondisi juga tidak berbeda, malahan harga sembako melambung. Sampai-sampai saya ingat waktu itu, saya sekeluarga di Bandung, sempat sulit beli beras, karena beras sudah habis dimana-mana. Mungkin orang banyak yang menimbun.

Selang waktu dua tahun, optimisme Prof. Dungtakdungdung sudah pudar. Dia menghadap Presiden Habibie. Dia menyerah. Dia bilang, selama dua tahun di Indonesia, dia sudah berusaha sekuat tenaga, dan juga sudah berdoa. Namun kondisi tidak membaik, jadi Prof. Dungtakdungdung ingin kembali ke Thailand. Lucunya dia bilang begini ke Presiden Habibie, “Pak, mohon kiranya saya diijinkan untuk mengundurkan diri. Sepertinya rencana Tuhan bagi saya bukan di Indonesia. Tapi saya yakin Tuhan pasti punya rencana indah bagi Indonesia. Bapak Presiden imani saja hal itu”

Presiden Habibie bilang sama Prof. Dungtakdungdung, “Prof, kenapa anda minta saya beriman? Kenapa anda tidak melihat membantu Indonesia adalah bagian perjalanan iman anda?”

***

Cerita di atas hanyalah cerita fiksi. Tapi yang saya ingin bagikan adalah, kadang kita sebagai orang Kristen ketika gagal terlalu mudah berkata, “Ah, Tuhan punya rencana lain bagi saya”. Mentalitas gampang menyerah, tapi dilapis pernyataan rohani. Jadi terkesan rohani, padahal sebetulnya tidak. Mentalitas egois memikirkan diri sendiri, tapi dilapis pernyataan manis “Tuhan pasti punya rencana indah buat Indonesia. Saya sih ke Thailand aja deh, lebih enak, gak perlu malu gagal terus-terusan di Indonesia”

Yang kedua, kadang orang Kristen terlalu cepat melihat kegagalan sebagai “bukan rencana Tuhan”. Padahal Tuhan sering membentuk karakter kita ketika kita gagal. Jadi seolah-olah rencana Tuhan selalu dikaitkan dengan kesuksesan dalam karir, kekayaan, dsb.

Sekedar pemikiran random, bagaimana jadinya kalau Abraham cepat berkata, “Ah, mungkin Tuhan lupa akan janjiNya untuk memberi saya keturunan”. Apa kata dunia? :)

Kiranya Tuhan berkati!

Tagged with:  
WordPress Themes