Beberapa waktu yang lalu, delapan walikota di daerah Vancouver menyampaikan gagasan tentang mariyuana. Mereka berencana untuk melegalisasi mariyuana dengan alasan untuk mengurangi kekerasan antar-geng. Berdasarkan statistik, 85% peredaran mariyana dikuasai oleh geng. Konon katanya, ketika orang membeli mariyuana secara diam-diam, secara ngga langsung mereka sudah membuat geng ini semakin kaya yang pada akhir kekerasan meningkat secara geng ini akan mampu untuk membeli senjata dan lain sebagainya.

Jadi usulan dari walikota-walikota ini adalah untuk melegalkan mariyuana, dan menarik pajak dari penjualan mariyuana. Solusi ini secara logika mungkin akan jalan, tetapi secara nurani sangat diragukan kebenarannya. Syukurnya, ketika gagasan ini dibawa ke Stephen Harper (Perdana Menteri Kanada), jawaban dari Stephen Harper cukup tegas, “Legalisasi mariyuana tidak akan pernah terjadi selama dia memerintah”.

Continue reading »

Tagged with:  

Apakah makna kasih?

On December 29, 2011, in Indonesian, My thought, by adimulia

Seorang kiai datang mengeluh kepada Gus Dur karena satu di antara empat anaknya masuk Kristen. Sang kiai sambat. Dengan enteng, Gus Dur menjawab, “Sampeyan jangan mengeluh kepada Tuhan. Nanti Tuhan akan bilang, saya saja punya anak satu-satunya masuk Kristen!”

Ya, itulah Tuhan kita: Tuhan Yesus.

Ada ayat dari 1 Yohanes 3:16:

Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.

Ada juga yang lebih terkenal Yohanes 3:16

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Seberapa nyata ayat itu dalam hidup kita? Belakangan ini saya merasa pertumbuhan rohani saya cukup struggling. Mungkin pertumbuhan rohani setiap orang itu beda-beda caranya ya. Ada yang bisa (sepertinya) bertumbuh rohani dengan mendengar kotbah yang enak-enak, teologi kemakmuran, bicara berkat. Ada yang bisa (sepertinya) bertumbuh dengan mendengar kotbah yang lembut-lembut, bicara tentang hidup yang mengasihi, menolong sesama. Tapi saya (sepertinya) bertumbuh lewat kotbah yang kritis, yang mengupas ayat-ayat Alkitab secara mendalam. Di kalimat-kalimat sebelumnya saya sisipkan kata “sepertinya” karena saya sendiri tidak tahu, apakah benar bertumbuh apa tidak.

Continue reading »

Tagged with:  

66 tahun

On August 18, 2011, in Indonesian, My thought, by adimulia

Entah sekarang di rumah masih harus pasang bendera atau ngga, tapi saya ingat dulu setiap tahunnya, kami wajib untuk pasang bendera merah putih setiap tujuh belas agustus. Bahkan dalam beberapa kesempatan, papa sempat menghias rumah dengan lampu kelap-kelip. Rumah tampak lebih meriah, bahkan lebih meriah jikalau dibandingkan pas natal dan tahun baru.

Saya belum pernah tanya pada papa saya, apa alasan dia pasang bendera. Apakah karena keharusan, atau karena kesadaran sebagai bagian dari bangsa Indonesia, mensyukuri kemerdekaan. Entah seberapa besar rasa kebangsaan papa, satu hal yang saya tahu pasti beliau mengabdi pada negara 20-sekian tahun, dan di rumah ada piagam yang mengatakan negara berterima kasih atas bakti papa. Piagam yang cukup membanggakan, setidaknya bagi saya anaknya.

Continue reading »

Tagged with:  

Kebiadaban masih terjadi

On February 9, 2011, in Events, Indonesian, by adimulia

Dalam sejarah Roma, bisa jadi tahun 64 adalah tahun paling kelam. Kita mungkin sudah pernah baca buku sejarah, orang-orang Kristen pertama di Roma dibunuh dan disiksa. Para rasul dan martir disalibkan terbalik. Apa motif di balik kebrutalan ini? Orang Kristen jaman dulu jumlahnya tidak lah sebesar sekarang, mereka adalah kaum minoritas. Orang-orang pagan menyalahkan orang Kristen atas setiap bencana yang ada (banjir, kekeringan, kelaparan, wabah, gempa bumi, dll), semuanya adalah salah orang Kristen yang telah menghina pada dewa (baca: berhala) mereka.

Mungkin dalam bayangan kita sekarang, “Ah, dibunuh itu paling seperti adegan di film-film perang jaman dulu, dibunuh pake pedang”. Padahal sebenarnya jauh lebih keji. Tercatat di buku sejarah, orang-orang Kristen itu dibakar, dijadikan obor hidup buat jadi penerangan, dijadikan santapan binatang buas di sirkus. Hal ini berlangsung tiga tahun, sampai tahun 67. Cerita ini adalah catatan kelam dalam perjalan orang Kristen.

Yang mengagetkan, hal serupa terjadi di Indonesia belakangan ini. Barusan saya melihat video insiden Cikeusik (catatan: jangan lihat videonya kalo ngga tahan liat kekerasan/darah/mayat). Orang-orang Ahmadiyah dipukulin seperti binatang, orang tak bernyawa pun masih dipukulin. Biadab dan terkutuk! Bagaimana mungkin bisa terjadi, bahkan di video itu ada polisi. Menyedihkan. Tak hanya aparat, tapi rakyat pun mengebiri hak kebebasana beragama. Ahmadiyah dibunuhin, gereja dibakar. Kerusuhan antar umat beragama gak pernah beres di Indonesia. Kayanya kok seperti bom waktu yang tunggu meledak. Dan pada akhirnya bisa ditebak, kaum minoritas yang selalu jadi korban.

Oh Indonesiaku.

Tagged with:  
WordPress Blog