<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gunung batu &#187; Bicara Politik</title>
	<atom:link href="http://gunung-batu.com/tag/bicara-politik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gunung-batu.com</link>
	<description>tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 May 2012 23:54:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Kepemimpinan, kebenaran dan integritas</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2012/05/kepemimpinan-kebenaran-dan-integritas/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2012/05/kepemimpinan-kebenaran-dan-integritas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 23:54:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara Politik]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=2130</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, delapan walikota di daerah Vancouver menyampaikan gagasan tentang mariyuana. Mereka berencana untuk melegalisasi mariyuana dengan alasan untuk mengurangi kekerasan antar-geng. Berdasarkan statistik, 85% peredaran mariyana dikuasai oleh geng. Konon katanya, ketika orang membeli mariyuana secara diam-diam, secara ngga langsung mereka sudah membuat geng ini semakin kaya yang pada akhir kekerasan meningkat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2012/05/HKBP-Filadelfia-300x135.jpg" alt="" title="HKBP Filadelfia" width="300" height="135" class="alignright size-medium wp-image-2131" />Beberapa waktu yang lalu, delapan walikota di daerah Vancouver menyampaikan gagasan tentang mariyuana. Mereka berencana untuk <a href="http://www.cbc.ca/news/health/story/2012/04/26/bc-mayors-marijuana-decriminilization.html" target="_blank">melegalisasi mariyuana</a> dengan alasan untuk mengurangi kekerasan antar-geng. Berdasarkan statistik, 85% peredaran mariyana dikuasai oleh geng. Konon katanya, ketika orang membeli mariyuana secara diam-diam, secara ngga langsung mereka sudah membuat geng ini semakin kaya yang pada akhir kekerasan meningkat secara geng ini akan mampu untuk membeli senjata dan lain sebagainya.</p>
<p>Jadi usulan dari walikota-walikota ini adalah untuk melegalkan mariyuana, dan menarik pajak dari penjualan mariyuana. Solusi ini secara logika mungkin akan jalan, tetapi secara nurani sangat diragukan kebenarannya. Syukurnya, ketika gagasan ini dibawa ke Stephen Harper (Perdana Menteri Kanada), jawaban dari Stephen Harper cukup tegas, &#8220;Legalisasi mariyuana tidak akan pernah terjadi selama dia memerintah&#8221;.<span id="more-2130"></span></p>
<p>Disini saya menaruh respek pada Harper. Dia masih memegang nilai yang menurut dia benar.</p>
<p>***</p>
<p>Kemarin hati saya terenyuh dan bersimpati dengan jemaat HKBP Filadelfia yang mengalami penganiayaan, baik dari sekelompok orang ekstrimis dan juga dari aparat pemerintah. Untuk selengkapnya, silahkan lihat detailnya di video ini: http://vimeo.com/40669418</p>
<p>Di Indonesia, secara umum, ada krisis kepemimpinan berlapis. Dalam kasus HKBP Filadelfia, proses hukum berjalan, tapi proses di lapangan tidak berjalan. Dan pemimpin yang ada tidak punya integritas dan nyali.</p>
<p>***</p>
<p>Masalah kepemimpinan dan kebenaran sulit dipisahkan. Pemimpin yang tidak punya integritas untuk kebenaran, cepat lambat pasti akan jatuh dan terbuka tabirnya. Dalam politik sudah sering kita lihat. Di dalam gereja pun demikian, entah itu pendeta, majelis, siapapun yang menutupi kebenaran pasti akan ketahuan.</p>
<p><strong>Ketika kita pikir-pikir akan kompromi, jangan teruskan pikir-pikir. Cuma butuh 20 detik untuk mengumpulkan keberanian berbuat yang benar. Sedangkan meluruskan sesuatu yang salah, bisa butuh bertahun-tahun. Itupun syukur-syukur masih ada kesempatan.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2012/05/kepemimpinan-kebenaran-dan-integritas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah makna kasih?</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/12/apakah-makna-kasih/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/12/apakah-makna-kasih/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 22:34:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Kasih & Pengharapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=2044</guid>
		<description><![CDATA[Seorang kiai datang mengeluh kepada Gus Dur karena satu di antara empat anaknya masuk Kristen. Sang kiai sambat. Dengan enteng, Gus Dur menjawab, &#8220;Sampeyan jangan mengeluh kepada Tuhan. Nanti Tuhan akan bilang, saya saja punya anak satu-satunya masuk Kristen!&#8221; Ya, itulah Tuhan kita: Tuhan Yesus. Ada ayat dari 1 Yohanes 3:16: Demikianlah kita ketahui kasih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang kiai datang mengeluh kepada Gus Dur karena satu di antara empat anaknya masuk Kristen. Sang kiai sambat. Dengan enteng, Gus Dur menjawab, &#8220;Sampeyan jangan mengeluh kepada Tuhan. Nanti Tuhan akan bilang, saya saja punya anak satu-satunya masuk Kristen!&#8221;</p>
<p>Ya, itulah Tuhan kita: Tuhan Yesus. </p>
<p>Ada ayat dari 1 Yohanes 3:16:</p>
<blockquote><p>Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.</p></blockquote>
<p>Ada juga yang lebih terkenal Yohanes 3:16</p>
<blockquote><p>Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.</p></blockquote>
<p>Seberapa nyata ayat itu dalam hidup kita? Belakangan ini saya merasa pertumbuhan rohani saya cukup struggling. Mungkin pertumbuhan rohani setiap orang itu beda-beda caranya ya. Ada yang bisa (sepertinya) bertumbuh rohani dengan mendengar kotbah yang enak-enak, teologi kemakmuran, bicara berkat. Ada yang bisa (sepertinya) bertumbuh dengan mendengar kotbah yang lembut-lembut, bicara tentang hidup yang mengasihi, menolong sesama. Tapi saya (sepertinya) bertumbuh lewat kotbah yang kritis, yang mengupas ayat-ayat Alkitab secara mendalam. Di kalimat-kalimat sebelumnya saya sisipkan kata &#8220;sepertinya&#8221; karena saya sendiri tidak tahu, apakah benar bertumbuh apa tidak.<span id="more-2044"></span></p>
<p>Di penghujung tahun ini, saya ingat dengan <a href="http://vimeo.com/8707046" target="_blank">kotbah</a> Pdt. Stefanus Theophilus. Beliau adalah pendeta, mentor, dan sekaligus sahabat saya selama kurang lebih satu tahun. Di dalam hidup ada beberapa hal, yaitu kesempatan-kesempatan yang <strong>kita harus memilih</strong> salah satu yang kita anggap paling tepat. Ada beberapa ilustrasi yang diambil dari ilustrasinya Michael Sandel, seorang profesor filosofi politik di Harvard. Kalau mau nonton versi panjangnya, klik <a href="http://www.ted.com/talks/michael_sandel_what_s_the_right_thing_to_do.html" target="_blank">disini</a>.</p>
<p><strong>Ilustrasi 1:</strong><br />
Anda menyetir mobil di jalanan yang menurun tapi remnya blong. Di ujung jalan ada lima orang menyebrang jalan. Kalau anda banting setir, ada satu orang di pinggir jalan. Pilihan apa yang akan anda ambil? Secara sederhana, mayoritas dari kita akan memilih tabrak yang satu orang donk ya? Lebih baik satu yang mati daripada lima orang?</p>
<p><strong>Ilustrasi 2:</strong><br />
Anda berdiri di pinggir jalan yang menurun di sebelah jurang. Dari jauh anda melihat ada mobil yang remnya blog. Penumpang mobilnya ada lima orang. Kalau mobil itu menabrak anda, anda akan mati, dan mobil itu akan masuk jurang. Nah, di sebelah anda, ada orang yang besar banget yang andaikata dia ditabrak mobil, mobil itu akan berhenti (gak masuk jurang, penumpangnya selamat), tapi orang yang berbadan besar itu akan mati. Pilihan apa yang akan anda ambil? Lebih baik lima orang selamat yah dibanding satu orang?</p>
<p><strong>Ilustrasi 3:</strong><br />
Anda adalah seorang dokter. Ada lima pasien, korban kecelakaan mobil. Kondisi mereka semua kritis, ada yang gagal jantungnya, livernya, ginjalnya, paru-paru, pankreas. Mereka semua bakal mati kalau ngga ada donor organ. Nah, di ruangan sebelah, ada satu pasien yang sehat, lagi tidur. Anda bisa membunuh satu pasien sehat itu, dan menyelematkan lima pasien lain. Pilihan apa yang akan anda ambil?</p>
<p><strong>Utilitarianisme</strong></p>
<p>Di dalam keadaan demikian, inilah namanya utilitarianisme. Intinya, kalau dihadapkan pada suatu pilihan, seorang utilitarian akan memilih pilihan yang menghasilkan kebahagian untuk orang banyak. Tapi ilustrasi di atas adalah sederhana, kita tidak tahu lima orang itu siapa, satu orang itu siapa, dan lain sebagainya. Kita lanjut lagi ke ilustrasi selanjutnya ya.</p>
<p><strong>Ilustrasi 4:</strong><br />
Sama seperti ilustrasi 3 di atas tapi ternyata yang lima pasien itu adalah tukang sampah. Yang satu orang sehat adalah presiden. Sekarang gimana? Apakah kita biarkan lima orang yang &#8220;ngga penting&#8221; ini tetap mati? Atau bunuh satu orang &#8220;penting&#8221; ini. Atau lebih ekstrim lagi, yang satu orang adalah anak kandung kita. Sekarang kita harus memilih. Bagaimana?</p>
<p>Untuk selamatkan satu, kadang kala harus korbankan yang lain. Seringkali perlu pengorbanan. Dari ilustrasi di atas, kita selalu berpikir sebagai pihak yang selalu ingin diuntungkan. Kita tidak pernah berpikir, kita ada di pihak yang dirugikan. Kita tidak pernah berpikir, &#8220;Kenapa ngga kita aja yang dikorbankan?&#8221;</p>
<p><strong>Bagaimana dengan keselamatan?</strong></p>
<p>Terbayangkah bagaimana perasaan Tuhan ketika dia harus mengutus Yesus ke dunia. Lebih lagi, bagaimana perasaan Tuhan ketika melihat Yesus mati disalib? Kenapa Tuhan ngga biarkan saja semua manusia mati? Dia kan Tuhan, kita ciptaanNya. Disinilah pergumulan kita sebagai orang Kristen. Apakah makna dari anugerah keselamatan? Kita seringkali terbuai dengan lembutnya kasih. Seperti lagu ini:</p>
<blockquote><p>Kasih pasti lemah lembut<br />
Kasih pasti memaafkan<br />
Kasih pasti murah hati<br />
KasihMu, kasihMu Tuhan</p>
<p>Ajarilah kami ini saling mengasihi<br />
Ajarilah kami ini saling mengampuni<br />
Ajarilah kami ini kasihMu ya Tuhan<br />
KasihMu Kudus tiada batasnya</p></blockquote>
<p>Lagu di atas ada benarnya. Tapi jauh dari kesan lemah lembut, kasih Tuhan adalah suatu kondisi dimana Tuhan ngotot mengasihi manusia sampai berkorban. Istilah bahasa Inggrisnya, <strong>unwavering God&#8217;s love</strong>. Untuk mengasihi kita, ada pengorbanan yang Tuhan lakukan. Mengasihi itu bukan sesuatu yang mudah, bukan sesuatu yang menguntungkan. Kalau kita mengasihi karena hal itu menguntungkan, rasanya kasih itu cukup dangkal yah.</p>
<p>Kasih adalah adanya kesediaan dimana kita dihadapkan pada dua pilihan, kita memilih pilihan yang tidak menguntungkan. Di Yohanes 3:16, konteksnya artinya Dia memberikan diriNya menjadi korban. Demi manusia yang bisa diselamatkan, Tuhan mau mengaruniakan anakNya yang tunggal.</p>
<p><strong>Keselamatan hanya di dalam Kristus</strong></p>
<p>Hanya Kristus yang berhak mengatakan Dia siap menjadi korban. Kenapa? Semua orang di dunia ini semuanya sama dengan kita. Sama-sama bernafas, makannya sama, bisa sakit, bisa berjuang, bisa gagal. Jadi kalau kita bilang di dalam agama lain juga bisa selamat, sedangkan pendiri, pemimpin agama di dunia adalah manusia. Jadi tidak ada bedanya dengan kita. Kalau kembali ke ilustrasi #1, mereka ada di dalam mobil sama dengan kita, bagaimana mereka bisa bilang mereka akan menyelamatkan kita? Hanya orang di luar mobil lah yang bisa menyelamatkan, yaitu cuma ada satu: Tuhan Yesus. Karena Tuhan berada di luar kendaraan itu, di luar dunia, di luar dosa. Dia datang ke dunia.</p>
<p>Kita tidak bicara pemimpin agama lain itu orang baik atau tidak. Mereka semua adalah orang baik, banyak dari mereka melakukan hal lebih baik daripada orang Kristen sendiri, tapi yang jadi masalah adalah mereka berada di dalam satu kendaraan dengan kita. Di dalam dosa. Yang bisa menyelamatkan kita adalah Tuhan Yesus yang berada di luar dosa.</p>
<p><strong>Tahun 2012</strong></p>
<p>Masuk di tahun yang baru ini, saya diingatkan kembali akan kasih Tuhan. Kasih yang tidak murah. Seperti lagunya Downhere yang judulnya How Many Kings:</p>
<blockquote><p>Follow the star to a place unexpected<br />
Would you believe after all we’ve projected<br />
A child in a manger</p>
<p>Lowly and small, the weakest of all<br />
Unlikeliness hero, wrapped in his mothers shawl<br />
Just a child<br />
<strong>Is this who we’ve waited for?</strong></p>
<p>Cause how many kings, stepped down from their thrones?<br />
How many lords have abandoned their homes?<br />
How many greats have become the least for me?<br />
How many Gods have poured out their hearts<br />
To romance a world that has torn all apart?<br />
<strong>How many fathers gave up their sons for me?</strong><br />
Only one did that for me</p></blockquote>
<p>Semoga Tuhan yang sama yang sudah menyertai saya di tahun 2011, menyertai saudara juga di tahun 2012!</p>
<p><iframe width="500" height="281" src="http://www.youtube.com/embed/5UyiAnUE53U?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/12/apakah-makna-kasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>66 tahun</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/08/66-tahun/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/08/66-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Aug 2011 07:01:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1919</guid>
		<description><![CDATA[Entah sekarang di rumah masih harus pasang bendera atau ngga, tapi saya ingat dulu setiap tahunnya, kami wajib untuk pasang bendera merah putih setiap tujuh belas agustus. Bahkan dalam beberapa kesempatan, papa sempat menghias rumah dengan lampu kelap-kelip. Rumah tampak lebih meriah, bahkan lebih meriah jikalau dibandingkan pas natal dan tahun baru. Saya belum pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2011/08/Indo.jpg" alt="" title="HUT RI" width="180" height="181" class="alignright size-full wp-image-1920" />Entah sekarang di rumah masih harus pasang bendera atau ngga, tapi saya ingat dulu setiap tahunnya, kami wajib untuk pasang bendera merah putih setiap tujuh belas agustus. Bahkan dalam beberapa kesempatan, papa sempat menghias rumah dengan lampu kelap-kelip. Rumah tampak lebih meriah, bahkan lebih meriah jikalau dibandingkan pas natal dan tahun baru.</p>
<p>Saya belum pernah tanya pada papa saya, apa alasan dia pasang bendera. Apakah karena keharusan, atau karena kesadaran sebagai bagian dari bangsa Indonesia, mensyukuri kemerdekaan. Entah seberapa besar rasa kebangsaan papa, satu hal yang saya tahu pasti beliau mengabdi pada negara 20-sekian tahun, dan di rumah ada piagam yang mengatakan negara berterima kasih atas bakti papa. Piagam yang cukup membanggakan, setidaknya bagi saya anaknya.<span id="more-1919"></span></p>
<p>Kemarin saya tergelitik dengan banyaknya ucapan &#8220;Merdeka!&#8221; yang bertebaran di facebook. Apa benar sudah merdeka? Mungkin maraknya korupsi dan bobroknya dunia politik Indonesia membuat rasanya kemeriahan dirgahayu Indonesia masih jauh dari hati saya. Yang dominan adalah rasa terenyuh. Ah, sepertinya, 66 tahun belum cukup untuk mendidik 200 sekian juta orang untuk menjadi bangsa yang besar.</p>
<p><object width="500" height="306"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/khUSUoYzgz4?version=3"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/khUSUoYzgz4?version=3" type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="306" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/08/66-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebiadaban masih terjadi</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/02/kebiadaban-masih-terjadi/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/02/kebiadaban-masih-terjadi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 20:25:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>
		<category><![CDATA[Sedih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1825</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sejarah Roma, bisa jadi tahun 64 adalah tahun paling kelam. Kita mungkin sudah pernah baca buku sejarah, orang-orang Kristen pertama di Roma dibunuh dan disiksa. Para rasul dan martir disalibkan terbalik. Apa motif di balik kebrutalan ini? Orang Kristen jaman dulu jumlahnya tidak lah sebesar sekarang, mereka adalah kaum minoritas. Orang-orang pagan menyalahkan orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sejarah Roma, bisa jadi tahun 64 adalah tahun paling kelam. Kita mungkin sudah pernah baca buku sejarah, orang-orang Kristen pertama di Roma dibunuh dan disiksa. Para rasul dan martir disalibkan terbalik. Apa motif di balik kebrutalan ini? Orang Kristen jaman dulu jumlahnya tidak lah sebesar sekarang, mereka adalah kaum minoritas. Orang-orang pagan menyalahkan orang Kristen atas setiap bencana yang ada (banjir, kekeringan, kelaparan, wabah, gempa bumi, dll), semuanya adalah salah orang Kristen yang telah menghina pada dewa (baca: berhala) mereka.</p>
<p>Mungkin dalam bayangan kita sekarang, &#8220;Ah, dibunuh itu paling seperti adegan di film-film perang jaman dulu, dibunuh pake pedang&#8221;. Padahal sebenarnya jauh lebih keji. Tercatat di buku sejarah, orang-orang Kristen itu dibakar, dijadikan obor hidup buat jadi penerangan, dijadikan santapan binatang buas di sirkus. Hal ini berlangsung tiga tahun, sampai tahun 67. Cerita ini adalah catatan kelam dalam perjalan orang Kristen.</p>
<p>Yang mengagetkan, hal serupa terjadi di Indonesia belakangan ini. Barusan saya melihat video <a href="http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6956899">insiden Cikeusik</a> (catatan: jangan lihat videonya kalo ngga tahan liat kekerasan/darah/mayat). Orang-orang Ahmadiyah dipukulin seperti binatang, orang tak bernyawa pun masih dipukulin. Biadab dan terkutuk! Bagaimana mungkin bisa terjadi, bahkan di video itu ada polisi. Menyedihkan. Tak hanya aparat, tapi rakyat pun mengebiri hak kebebasana beragama. Ahmadiyah dibunuhin, gereja dibakar. Kerusuhan antar umat beragama gak pernah beres di Indonesia. Kayanya kok seperti bom waktu yang tunggu meledak. Dan pada akhirnya bisa ditebak, kaum minoritas yang selalu jadi korban.</p>
<p>Oh Indonesiaku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/02/kebiadaban-masih-terjadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Etika Publik</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/06/etika-publik/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/06/etika-publik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 01:06:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1522</guid>
		<description><![CDATA[Kekuasaan Dalam kesempatan beberapa minggu di Indonesia, ada beberapa peristiwa menarik di panggung politik Indonesia. Menurut hemat saya, kebanyakan dari peristiwa itu sambung menyambung. Dengan analisa awam misalnya, Sri Mulyani (SMI) ingin mereformasi birokrasi salah satunya penegakan pajak. (Yang diduga) pengemplang pajak terbesar di Indonesia, yaitu AB terusik kepentingannya oleh SMI. Dari sinilah &#8220;permainan&#8221; kekuasaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kekuasaan</p>
<p>Dalam kesempatan beberapa minggu di Indonesia, ada beberapa peristiwa menarik di panggung politik Indonesia. Menurut hemat saya, kebanyakan dari peristiwa itu sambung menyambung. Dengan analisa awam misalnya, Sri Mulyani (SMI) ingin mereformasi birokrasi salah satunya penegakan pajak. (Yang diduga) pengemplang pajak terbesar di Indonesia, yaitu AB terusik kepentingannya oleh SMI. Dari sinilah &#8220;permainan&#8221; kekuasaan yang cukup nasty dimulai.</p>
<p>Oh well&#8230;berikut kuliah umum yang dibawakan SMI sebelum beliau berangkat menjadi ke Washington buat kerja di World Bank. Pidatonya cukup panjang, tapi bagus untuk dibaca dan membuat kita sadar betapa ketamakan, kekuasaan, dan kebobrokan moral adalah hal yang jamak hari gini.<span id="more-1522"></span></p>
<p>***</p>
<p>Saya rasanya lebih berat berdiri disini daripada waktu dipanggil pansus<br />
Century. Dan saya bisa merasakan itu karena sometimes dari moral dan<br />
etikanya jelas berbeda. Dan itu yang membuat saya jarang sekali merasa grogi<br />
sekarang menjadi grogi. Saya diajari pak Marsilam untuk memanggil orang<br />
tanpa mas atau bapak, karena diangap itu adalah ekspresi egalitarian. Saya<br />
susah manggil &#8216;Marsilam&#8217;, selalu pakai &#8216;pak&#8217;, dan dia marah. Tapi untuk<br />
Rocky saya malam ini saya panggil Rocky (Rocky Gerung dari P2D) yang baik.<br />
Terimakasih atas&#8230;&#8230; (tepuk tangan)</p>
<p>Tapi saya jelas nggak berani manggil Rahmat Toleng dengan Rahmat Tolengtor,<br />
kasus. Terimakasih atas introduksi yang sangat generous. Saya sebetulnya<br />
agak keberatan diundang malam hari ini untuk dua hal. Pertama karena<br />
judulnya adalah memberi kuliah. Dan biasanya kalau memberi kuliah saya<br />
harus, paling tidak membaca textbook yang harus saya baca dulu dan kemudian<br />
berpikir keras bagaimana menjelaskan.</p>
<p>Dan malam ini tidak ada kuliah di gedung atau di hotel yang begitu bagus tu<br />
biasanya kuliah kelas internasional atau spesial biasanya. Hanya untuk<br />
eksekutif yang bayar SPP nya mahal. Dan pasti neolib itu (disambut tertawa).<br />
Oleh karena itu saya revisi mungkin namanya lebih adalah ekspresi saya untuk<br />
berbicara tentang kebijakan publik dan etika publik.</p>
<p>Yang kedua, meskipun tadi mas Rocky menyampaikan, eh salah lagi. Kalau tadi<br />
disebutkan mengenai ada dua laki-laki, hati kecil saya tetap saya akan<br />
mengatakan sampai hari ini saya adalah pembantu laki-laki itu (tepuk<br />
tangan). Dan malam ini saya akan sekaligus menceritakan tentang konsep etika<br />
yang saya pahami pada saat saya masih pembantu, secara etika saya tidak<br />
boleh untuk mengatakan hal yang buruk kepada siapapun yang saya bantu. Jadi<br />
saya mohon maaf kalau agak berbeda dan aspirasinya tidak sesuai dengan<br />
amanat pada hari ini.</p>
<p>Tapi saya diminta untuk bicara tentang kebijakan publik dan etika publik.<br />
Dan itu adalah suatu topik yang barangkali merupakan suatu pergulatan harian<br />
saya, semenjak hari pertama saya bersedia untuk menerima jabatan sebagai<br />
menteri di kabinet di Republik Indonesia itu.</p>
<p>Suatu penerimaan jabatan yang saya lakukan dengan penuh kesadaran, dengan<br />
segala upaya saya untuk memahami apa itu konsep jabatan publik. Pejabat<br />
negara yang pada dalam dirinya, setiap hari adalah melakukan tindakan,<br />
membuat pernyataan, membuat keputusan, yang semuanya adalah dimensinya untuk<br />
kepentingan publik.</p>
<p>Disitu letak pertama dan sangat sulit bagi orang seperti saya karena saya<br />
tidak belajar, seperti anda semua, termasuk siapa tadi yang menjadi MC,<br />
tentang filosofi. Namun saya dididik oleh keluarga untuk memahami etika di<br />
dalam pemahaman seperti yang saya ketahui. Bahwa sebagai pejabat publik,<br />
hari pertama saya harus mampu untuk membuat garis antara apa yang disebut<br />
sebagai kepentingan publik dengan kepentingan pribadi saya dan keluarga,<br />
atau kelompok.</p>
<p>Dan sebetulnya tidak harus menjadi muridnya Rocky Gerung di filsafat UI<br />
untuk pintar mengenai itu. Karena kita belajar selama 30 tahun dibawah rezim<br />
presiden Soeharto. Dimana begitu acak hubungan, dan acak-acakan hubungan<br />
antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi. Dan itu merupakan modal<br />
awal saya untuk memahami konsekuensi menjadi pejabat publik yang setiap hari<br />
harus membuat kebijakan publik dengan domain saya sebagai makhluk, yang juga<br />
punya privacy atau kepentingan pribadi.</p>
<p>Di dalam ranah itulah kemudian dari hari pertama dan sampai lebih dari 5<br />
tahun saya bekerja untuk pemerintahan ini. Topik mengenai apa itu kebijakan<br />
publik dan bagaimana kita harus, dari mulai berpikir, merasakan, bersikap,<br />
dan membuat keputusan menjadi sangat penting. Tentu saya tidak perlu harus<br />
mengulangi, karena itu menyangkut, yang disebut, tujuan konstitusi, yaitu<br />
kepentingan masyarakat banyak. Yaitu mencapai kesejahteraan rakyat yang adil<br />
dan makmur.</p>
<p>Jadi kebijakan pubik dibuat tujuannya adalah untuk melayani masyarakat,<br />
Kebijakan publik dibuat melalui dan oleh kekuasaan. Karena dia dibuat oleh<br />
institusi publik yang eksis karena dia merupakan produk dari suatu proses<br />
politik dan dia memiliki kekuasaan untuk mengeluarkannya. Disitulah letak<br />
bersinggungan, apa yang disebut sebagai ingridient utama dari kebijakan<br />
publik, yaitu unsur kekuasaan. Dan kekuasaan itu sangat mudah<br />
menggelincirkan kita.</p>
<p>Kekuasaan selalu cenderung untuk corrupt. Tanpa adanya pengendalian dan<br />
sistim pengawasan, saya yakin kekuasaan itu pasti corrupt. Itu sudah dikenal<br />
oleh kita semua. Namun pada saat anda berdiri sebagai pejabat publik,<br />
memiliki kekuasan dan kekuasan itu sudah dipastikan akan membuat kita<br />
corrupt, maka pertanyaan &#8216;kalau saya mau menjadi pejabat publik dan tidak<br />
ingin corrupt, apa yang harus saya lakukan?&#8217;</p>
<p>Oleh karena itu, di dalam proses-proses yang dilalui atau saya lalui, jadi<br />
ini lebih saya cerita daripada kuliah. Dari hari pertama, karena begitu<br />
khawatirnya, tapi juga pada saat yang sama punya perasaan anxiety untuk<br />
menjalankan kekuasaan, namun saya tidak ingin tergelincir kepada korupsi,<br />
maka pada hari pertama anda masuk kantor, anda bertanya dulu kepada sistem<br />
pengawas internal anda dan staff anda. Apalagi waktu itu jabatan dari<br />
Bappenas menjadi Menteri Keuangan. Dan saya sadar sesadar sadarnya bahwa<br />
kewenangan dan kekuasaan Kementrian Keuangan atau Menteri Keuangan sungguh<br />
sangat besar. Bahkan pada saat saya tidak berpikir corrupt pun orang sudah<br />
berpikir ngeres mengenai hal itu.</p>
<p>Bayangkan, seseorang harus mengelola suatu resources yang omsetnya tiap<br />
tahun sekitar, mulai dari saya mulai dari 400 triliun sampai sekarang diatas<br />
1000 triliun, itu omset. Total asetnya mendekati 3000 triliun lebih.(batuk2)<br />
Saya lihat (ehem!) banyak sekali (ehem lagi) kalau bicara uang terus<br />
langsung&#8230;. (ada air putih langsung datang diiringi ketawa hadirin).<br />
Saya sudah melihat banyak sekali apa yang disebut tata kelola atau<br />
governance. pada saat seseorang memegang suatu kewenangan dimana melibatkan<br />
uang yang begitu banyak. Tidak mudah mencari orang yang tidak tergiur,<br />
apalagi terpeleset, sehingga tergoda bahwa apa yang dia kelola menjadi<br />
seoalh-olah menjadi barang atau aset miliknya sendiri.</p>
<p>Dan disitulah hal-hal yang sangat nyata mengenai bagaimana kita harus<br />
membuat garis pembatas yang sangat disiplin. Disiplin pada diri kita sendiri<br />
dan dalam, bahkan, pikiran kita dan perasaan kita untuk menjalankan tugas<br />
itu secara dingin, rasional, dengan penuh perhitungan dan tidak membolehkan<br />
perasaan ataupun godaan apapun untuk, bahkan berpikir untuk meng-abusenya.<br />
Barangkali itu istilah yang disebut teknokratis. Tapi saya sih menganggap<br />
bahwa juga orang yang katanya berasal dari akademik dan disebut tekhnokrat<br />
tapi ternyata &#8216;bau&#8217;nya tidak seperti itu. Tingkahnya apalagi lebih-lebih.<br />
Jadi saya biasanya tidak mengklasifikasikan berdasarkan label. Tapi<br />
berdasarkan genuine product nya dia hasilnya apa, tingkah laku yang<br />
esensial.</p>
<p>Nah, di dalam hari-hari dimana kita harus membicarakan kebijakan publik, dan<br />
tadi disebutkan bahwa kewenangan begitu besar, menyangkut sebuah atau nilai<br />
resources yang begitu besar. Kita mencoba untuk menegakkan rambu-rambu,<br />
internal maupun eksternal.</p>
<p>Mungkin contoh untuk internal hari pertama saya bertanya kepada Inspektorat<br />
Jenderal saya. &#8220;Tolong beri saya list apa yang boleh dan tidak boleh dari<br />
seorang menteri.&#8221; Biasanya mereka bingung, tidak perndah ada menteri yang<br />
tanya begitu ke saya bu. Saya menetri boleh semuanya termasuk mecat saya.<br />
Kalau seorang menteri kemudian menanyakan apa yang boleh dan nggak boleh,<br />
buat mereka menjadi suatu pertanyaan yang sangat janggal. Untuk kultur<br />
birokrat, itu sangat sulit dipahami. Di dalam konteks yang lebih besar dan<br />
alasan yang lebih besar adalah dengan rambu-rambu. Kita membuat standart<br />
operating procedure, tata cara, tata kelola untuk membuat bagaimana<br />
kebijakan dibuat. Bahkan menciptakan sistem check and balance.<br />
Karena kebijakan publik dengan menggunakan elemen kekuasaan, dia sangat<br />
mudah untuk memunculkan konflik kepentingan. Saya bisa cerita berhari-hari<br />
kepada anda. Banyak contoh dimana produk-produk kebijakan sangat<br />
memungkinkan seorang, pada jabatan Menteri Keuangan, mudah tergoda. Dari<br />
korupsi kecil hingga korupsi yang besar. Dari korupsi yang sifatnya hilir<br />
dan ritel sampai korupsi yang sifatnya upstream dan hulu.<br />
Dan bahkan dengan kewenangan dan kemampuannya dia pun bisa menyembunyikan<br />
itu. Karena dengan kewenangan yang besar, dia juga sebetulnya bisa membeli<br />
sistem. Dia bisa menciptakan network. Dia bisa menciptakan pengaruh. Dan<br />
pengaruh itu bisa menguntungkan bagi dirinya sendiri atau kelompoknya.<br />
Godaan itulah yang sebetulnya kita selalu ingin bendung. Karena begitu anda<br />
tergelincir pada satu hal, maka tidak akan pernah berhenti.<br />
Namun, meskipun kita mencoba untuk menegakkan aturan, membuat rambu-rambu,<br />
dengan menegakkan pengawasan internal dan eksternal, sering bahwa pengawasan<br />
itu pun masih bisa dilewati. Disinilah kemudian muncul, apa yang disebut<br />
unsur etika. Karena etika menempel dalam diri kita sendiri. Di dalam cara<br />
kita melihat apakah sesuatu itu pantas atau tidak pantas, apakah sesuatu itu<br />
menghianati atau tidak menghianati kepentingan publik yang harus kita<br />
layani. Apakah kita punya keyakinan bahwa kita tidak sedang menghianati<br />
kebenaran. Etika itu ada di dalam diri kita.</p>
<p>Dan kemudian kalau kita bicara tentang total, atau di dalam bahasa ekonomi<br />
yang keren namanya agregat, setiap kepala kita dijumlahkan menjadi etika<br />
yang jumlahnya agregat atau publik, pertanyaannya adalah apakah di dalam<br />
domain publik ini setiap etika pribadi kita bisa dijumlahkan dan<br />
menghasilkan barang publik yang kita inginkan, yaitu suatu rambu-rambu norma<br />
yang mengatur dan memberikan guidance kepada kita.</p>
<p>Saya termasuk yang sungguh sangat merasakan penderitaan selama menjadi<br />
menteri. Karena itu tidak terjadi. Waktu saya menjadi menteri, sering saya<br />
harus berdiri atau duduk berjam-jam di DPR. Disitu anggota DPR bertanya<br />
banyak hal. Kadang-kadang bernada pura-pura sungguh-sungguh. Merek<br />
emngkritik begitu keras. Tapi kemudian mereka dengan tenangnya mengatakan<br />
&#8216;Ini adalah panggung politik bu.&#8217;</p>
<p>Waktu saya dulu masuk menteri keuangan pertama saya masih punya dua Dirjen<br />
yang sangat terkenal, Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai saya. Mereka sangat<br />
powerfull. Karena pengaruhnya, dan respectability karena saya tidak tahu<br />
karena kepada angota dewan sangat luar biasa. Dan waktu saya ditanya,<br />
mulainya dari&#8230;? Segala macem. Setiap keputusan, statemen saya dan yang<br />
lain-lain selalu ditanya dengan sangat keras. Saya tadinya cukup naif<br />
mengatakan, &#8220;Oh ini ongkos demokrasi yang harus dibayar.&#8221; Dan saya legowo<br />
saja dengan tenang menulis pertanyaan-pertanya an mereka.<br />
Waktu sudah ditulis mereka keluar ruangan, nggak pernah peduli mau dijawab<br />
atau tidak. Kemudian saya dinasehati oleh Dirjen saya itu, &#8220;Ibu tidak usah<br />
dimasukkan ke hati bu. Hal seperti itu hanya satu episod drama saja. &#8221; Tapi<br />
kemudian itu menimbulkan satu pergolakan batin orang seperti saya. Karena<br />
saya kemudian bertanya. Tadi dikaitkan dengan etika publik, kalau orang bisa<br />
secara terus menerus berpura-pura, dan media memuat, dan tidak ada satu<br />
kelompokpun mengatakan bahwa itu kepura-puraan maka kita bertanya, apalagi?<br />
siapa lagi yang akan menjadi guidance? yang mengingatkan kita dengan, apa<br />
yang disebut, norma kepantasan. Dan itu sungguh berat. Karena saya terus<br />
mengatakan kalau saya menjadi pejabat publik, ongkos untuk menjadi pejabat<br />
publik, pertama, kalau saya tidak corrupt, jelas saya legowo nggak ada<br />
masalah. Tapi yang kedua saya menjadi khawatir saya akan split personality.<br />
Waktu di dewan saya menjadi personality yang lain, nanti di kantor saya akan<br />
menjadi lain lagi, waktu di rumah saya lain lagi. Untung suami dan anak-anak<br />
saya tidak pernah bingung yang mana saya waktu itu. Dan itu sesuatu yang<br />
sangat sulit untuk seorang seperti saya untuk harus berubah-ubah. Kalau pagi<br />
lain nilainya dengan sore, dan sore lain dengan malam. Malam lain lagi<br />
dengan tengah malam. Kan itu sesuatu yang sangat sulit untuk diterima. Itu<br />
ongkos yang paling mahal bagi seorang pejabat publik yang harus menjalankan<br />
dan ingin menjalankan secara konsisten.</p>
<p>Nah, oleh karena itu, didalam konteks inilah kita kan bicara mengenai<br />
kebijakan publik, etika publik yang seharusnya menjadi landasan, arahan bagi<br />
bagaimana kita memproduksi suatu tindakan, keputusan, yang itu adalah untuk<br />
urusan rakyat. Yaitu kesejahteraan rakyat, mengurangi penderitaan mereka,<br />
menaikkan suasana atau situasi yang baik di masyarakat, namun di sisi lain<br />
kita harus berhadapan dengan konteks kekuasaan dan struktur politik. Dimana<br />
buat mereka norma dan etika itu nampaknya bisa tidak hanya double standrart,<br />
triple standart.</p>
<p>Dan bahkan kalau kita bicara tentang istilah dan konsep mengenai konflik<br />
kepentingan, saya betul-betul terpana. Waktu saya menjadi executive director<br />
di IMF, pertama kali saya mengenal apa yang disebut birokrat dari negara<br />
maju. HAri pertama saya diminta untuk melihat dan tandatangan mengenai etika<br />
sebagai seorang executive director, do dan don&#8217;ts. Disitu juga disebutkan<br />
mengenai konsep konflik kepentingan. Bagaimana suatu institusi yang<br />
memprodusir suatu policy publik, untuk level internasional, mengharuskan<br />
setiap elemen, orang yang terlibat di dalam proses politik atau proses<br />
kebijakan itu harus menanggalkan konflik kepentingannya. Dan kalau kita ragu<br />
kita boleh tanya, apakah kalau saya melakukan ini atau menjabat yang ini<br />
apakah masuk dalam domain konflik kepentingan. Dan mereka memberikan counsel<br />
untuk kita untuk bisa membuat keputusan yang baik.</p>
<p>Sehingga bekerja di institusi seperti itu menurut saya mudah. Dan kalau<br />
sampai anda tergelincir ya kebangetan aja anda. Namun waktu kembali ke<br />
Indonesia dan saya dengan pemahaman pengenai konsep konflik kepentingan,<br />
saya sering menghadiri suatu rapat membuat suatu kebijakan, dimana kebijakan<br />
itu akan berimplikasi kepada anggaran, entah belanja, entah insentif, dan<br />
pihak yang ikut duduk dalam proses kebijakan itu adalah pihak yang akan<br />
mendapatkan keuntungan itu. Dan tidak ada rasa risih. Hanya untuk<br />
menunjukkan yang penting pemerintahan efektif, jalan. Kuenya dibagi ke siapa<br />
itu adalah urusan sekunder.</p>
<p>Anda bisa melihat bahwa kalau pejabat itu adalah background nya pengusaha,<br />
meskipun yang bersangkutan mengatakan telah meninggalkan seluruh bisnisnya,<br />
tapi semua orang tahu bahwa adiknya, kakaknya, anaknya, dan teteh, mamah,<br />
aa&#8217; semuanya masih run. Dan dengan tenangnya, berbagai kebijakan, bahkan<br />
yang membuat saya terpana, kalau dalam hal ini apa disebutnya? kalau dalam<br />
bahasa inggris apa disebutnya?i drop my job atau apa..bengong itu.<br />
Kita bingung bahwa ada suatu keputusan dibuat, dan saya banyak catatan<br />
pribadi saya di buku saya. Ada keputusan ini, tiba-tiba besok lagi keputusan<br />
itu ternyata yang menimport adalah perusahaannya dia.</p>
<p>Nah ini merupakan sesuatu hal yang barangkali tanpa harus mendramatisir yang<br />
dikatakan oleh Rocky tadi seolah-olah menjadi the most reason phenomena.<br />
Kita semua tahu, itulah penyakit yang terjadi di jaman orde baru. Hanya dulu<br />
dibuatnya secara tertutup, tapi sekarang dengan kecanggihan, karena<br />
kemampuan dari kekuasaan, dia mengkooptasi decision making process juga.<br />
Kelihatannya demokrasi, kelihatannya melalui proses check and balance, tapi<br />
di dalam dirinya, unsur mengenai konflik kepentingan dan tanpa etika begitu<br />
kental. Etika itu barang yang jarang disebut pak.</p>
<p>Ada suatu saat saya membuat rapat dan rapat ini jelas berhubungan dengan<br />
beberapa perusahaan. Kebetulan ada beberapa dari yang kita undang, dia<br />
adalah komisaris dari beberapa perusahaan itu. Kami biasa, dan saya<br />
mengatakan dengan tenang, bagi yang punya aviliasi dengan apa yang kita<br />
diskusikan silahkan keluar dari ruangan. Memang itu adalah tradisi yang coba<br />
kita lakukan di kementrian keuangan. Kebetulan mereka adlaah teman-teman<br />
saya. Jadi teman-teman saya itu dengan bitter mengatakan, &#8220;Mba ani jangan<br />
sadis-sadis amat lah kayak gitu. Kalaupun kita disuruh keluar juga diem-diem<br />
aja. Nggak usah caranya kayak gitu.&#8221;</p>
<p>Saya ingin menceritakan cerita seperti ini kepada anda bagaimana ternyata<br />
konsep mengenai etika dan konflik kepentingan itu, bisa dikatakan sangat<br />
langka di republik ini. Dan kalau kita berusaha untuk menjalankan dan<br />
menegakkan, kita dianggap menjadi barang yang aneh. Jadi tadi kalau MC nya<br />
menjelaskan bahwa saya ingin menjelaskan bahwa di luar gua itu ada sinar dan<br />
dunia yang begitu bagus, di dalam saya dianggap seperti orang yang cerita<br />
yang nggak nggak aja. Belum kalau di dalam konteks politik besar, kemudian,<br />
wah ini konsep barat pasti &#8216;Lihat saja Sri Mulyani, neolib.&#8217;</p>
<p>Jadi saya mungkin akan mengatakan bagaimana ke depan di dalam proses<br />
politik. Tentu adalah suatu keresahan buat kita. Karena episod yang terjadi<br />
beberapa kali adalah bahwa di dalam ruangan publik, rakyat atau masyarakat<br />
yang harusnya menjadi the ultimate shareholder dari kekuasaan. Dia memilih,<br />
kepada siapapun CEO di republik ini dan dia juga memilih dari orang-orang<br />
yang diminta untuk menjadi pengawas atau check terhadap CEO nya.<br />
Dan proses ini ternyata juga tidak murah dan mudah. Sudah banyak orang yang<br />
mengatakan untuk menjadi seorang jabatan eksekutif dari level kabupaten,<br />
kota, propinsi, membutuhkan biaya yang luar biasa, apalagi presiden<br />
pastinya. Dan biayanya sungguh sangat tidak bisa dibayangkan untuk suatu<br />
beban seseorang. Saya menteri keuangan saya biasa mengurusi ratusan triliun<br />
bahkan ribuan, tapi saya tidak kaget dengan angka. Tapi saya akan kaget<br />
kalau itu menjadi beban personal.</p>
<p>Seseorang akan menjadi kandidat mengeluarkan biaya sebesar itu. Kalkulasi<br />
mengenai return of investment saja tidak masuk. Bagaimana anda mengatakan<br />
dan waktu saya mengatakan sya lihat struktur gaji pejabat negara sungguh<br />
sangat tidak rasional. Dan kita pura-pura tidak boleh menaikkan karena kalau<br />
menaikkan kita dianggap mau mensejahterakan diri sebelum mensejahterakan<br />
rakyat. Sehingga muncullah anomali yang sangat tidak bisa dijelaskan oleh<br />
logika akal sehat, bahkan Rocky bilangnya ada akal miring. Saya mencoba<br />
sebagai pejabat negara untuk mengembalikan akal sehat dengan mengatakan<br />
strukturnya harus dibenahi lagi. Namun toh tetap tidak bisa menjelaskan<br />
suatu proses politik yang begitu sangat mahalnya.</p>
<p>Sehingga memunculkan suatu kebutuhan untuk berkolaborasi dengan sumber<br />
finansialnya. Dan disitulah kontrak terjadi. Di tingkat daerah, tidak<br />
mungkin itu dilakukan dengan membayar melalui gajinya. Bahkan melalui APBD<br />
nya pun tidak mungkin karena size dari APBN nya kadang-kadang tidak sebesar<br />
atau mungkin juga lebih sulit. Sehingga yang bisa adalah melalui policy.<br />
Policy yang bisa dijual belikan. Dan itu adalah adalah bentuk hasil dari<br />
suatu kolaborasi.</p>
<p>pertanyaan untuk kita semua, bagaimana kita menyikapi hal ini didalam<br />
konteks bahwa produk dari kebijakan publik, melalui sebuah proses politik<br />
yang begitu mahal sudah pasti akan distated dengan struktur yang membentuk<br />
awalnya. KArena kebijakan publik adalah hilirnya, hasil akhir. Hulunya yang<br />
memegang kekuasaan, lebih hulu lagi adalah prosesnya untuk mendapatkan<br />
kekuasaan itu demikian mahal.</p>
<p>Dan itu akan menjadi pertanyaan yang concern untuk sebuah sistem demokrasi.<br />
Maka pada saat kita dipilih atau diminta untuk menjadi pembantu atau<br />
menjadibagian dari pemerintah, Tentu kita tidak punya ilusi bahwa ruangan<br />
politik itu vakum atau hampa dari kepentingan. politik dimana saja pasti<br />
tentang kepentingan. Dan kepentingan itu kawin diantara beberapa kelompok<br />
untuk mendapatkan kekuasaan itu. Pasti itu perkawinannya adalah pada siapa<br />
saja yang menjadi pemenang.</p>
<p>Kalau pada hari ini tadi disebutkan ada yang menanyakan atau menyesalkan<br />
atau ada yang menangisi ada yang gelo (jawa:menyesal. red), kenapa kok Sri<br />
Mulyani memutuskan untuk mundur dari Menteri Keuangan. Tentu ini adalah<br />
suatu kalkulasi dimana saya menganggap bahwa sumbangan saya, atau apapun<br />
yang saya putuskan sebagai pejabat publik tidak lagi dikehendaki di dalam<br />
sistem politik. Dimana perkawinan kepentingan itu begitu sangat dominan dan<br />
nyata. Banyak yang mengatakan itu adalah kartel, saya lebih suka pakai kata<br />
kawin, walaupun jenis kelaminnya sama. (ketawa dan tepuktangan)<br />
Karena politik itu lebih banyak lakinya daripada perempuan makanya saya<br />
katakan tadi. Hampir semua ketua partai politik laki kecuali satu. Dan di<br />
dalam bahwa dimana sistem politik tidak menghendaki lagi atau dalam hal ini<br />
tidak memungkinkan etika publik itu bisa dimnculkan, maka untuk orang<br />
seperti saya akan menjadi sangat tidak mungkin untuk eksis. Karena pada saat<br />
saya menerima tangungjawab untuk menjadi pejabat publik, saya sudah berjanji<br />
kepada diri saya sendiri, saya tidak ingin menjadi orang yang akan<br />
menghianati dengan berbuat corrupt. Saya tidak mengatakan itu gampang.<br />
Sangat painful. Sungguh painful sekali. Dan saya tidak mengatakan bahwa saya<br />
tidak pernah mengucurkan atau meneteskan airmata untuk menegakkan prinsip<br />
itu. Karena ironinya begitu besar. Sangat besar. Anda memegang kekuasaan<br />
begitu besar. Anda bisa, anda mampu, anda bahkan boleh, bahkan diharapkan<br />
untuk meng abuse nya oleh sekelompok yang sebetulnya menginginkan itu<br />
terjadi agar nyaman dan anda tidak mau. (tepuk tangan) Pada saat yang sama<br />
anda tidak selalu di apresiasi. P2D kan baru muncul sesudah saya mundur<br />
(ketawa, disini dia terlihat mengusapkan saputangan ke matanya).<br />
Jadi ya terlambat tidak apa-apa, terbiasa. Saya masih bisa menyelamatkan<br />
republik ini lah.</p>
<p>Jadi saya tidak tahu tadi, Rocky tidak ngasih tahu saya berapa menit atau<br />
berapa jam. Soalnya diatas jam 9 argonya lain lagi nanti. Jadi saya gimana<br />
harus menutupnya. Nanti kayaknya nyanyi aja balik terus nanti.</p>
<p>Mungkin saya akan mengatakan bahwa pada bagian akhir kuliah saya ini atau<br />
cerita saya ini saya ingin menyampaikan kepada semua kawan-kawan disini.<br />
Saya bukan dari partai politik, saya bukan politisi, tapi tidak berarti saya<br />
tidak tahu politik. Selama lebih dari 5 tahun saya tahu persis bagaimana<br />
proses politik terjadi. Kita punya perasaan yang bergumul atau bergelora<br />
atau resah. Keresahan itu memuncak pada saat kita menghadapi realita<br />
jangan-jangan banyak orang yang ingin berbuat baik merasa frustasi. Atau<br />
mungkin saya akan less dramatic. Banyak orang-orang yang harus dipaksa untuk<br />
berkompromi dan sering kita menghibur diri dengan mengatakan kompromi ini<br />
perlu untuk kepentingan yang lebih besar. Sebetulnya cerita itu bukan cerita<br />
baru, karena saya tahu betul pergumulan para teknokrat jaman Pak Harto,<br />
untuk memutuskan stay atau out adalah pada dilema, apakah dengan stay saya<br />
bisa membuat kebijakan publik yang lebih baik sehingga menyelamatkan suatu<br />
kerusakan yang lebih besar. Atau anda out dan anda disitu akan punya kans<br />
untuk berbuat atau tidak, paling tidak resiko getting associated with<br />
menjadi less. Personal gain, public loss. If you are stay, dan itu yang saya<br />
rasakan 5 tahun, you suddenly feel that everybody is your enemy.<br />
KArena no one yang sangat simpati dan tahu kita pun akan tidak terlalu happy<br />
karena kita tetap berada di dalam sistem. Yang tidak sejalan dengan ktia<br />
juga jengkel karena kita tidak bisa masuk kelompok yang bisa diajak<br />
enak-enakan. Sehingga anda di dalam di sandwich di dua hal itu. Dan itu<br />
bukan suatu pengalaman yang mudah. Sehingga kita harus berkolaborasi untuk<br />
membuat space yang lebih enak, lebih banyak sehingga kita bisa menemukan<br />
kesamaan.</p>
<p>Nah kalau kita ingin kembali kepada topiknya untuk menutup juga, saya rasa<br />
forum-forum semacam ini atau saya mengatakan kelompok seperti anda yang<br />
duduk pada malam hari ini adalah kelompok kelas menengah. YAng sangat sadar<br />
membayar pajak. Membayarnya tentu tidak sukarela, tidak seorang yang<br />
patriotik yang mengatakan dia membayar pajak sukarela. Tapi meskipun tidak<br />
sukarela, anda sadar bahwa itu adalah suatu kewajiban untuk menjaga republik<br />
ini tetap berdaulat. Dan orang seperti anda yang tau membayar pajak adalah<br />
kewajiban dan sekaligus hak untuk menagih kepada negara, mengembalikan dalam<br />
bentuk sistim politik yang kita inginkan. Maka sebetulnya di tangan<br />
orang-orang seperti anda lah republik ini harus dijaga. Sungguh berat, dan<br />
saya ditanya atau berkali-kali di banyak forum untuk ditanya, kenapa ibu<br />
pergi? Bagaimana reformasi, kan yang dikerjakan semua penting. Apakah ibu<br />
tidak melihat Indonesia sebagai tempat untuk pengabdian yang lebih penting<br />
dibandingkan bank dunia.</p>
<p>Seolah-olah sepertinya negara ini menjadi tanggungjawab Sri Mulyani. Dan<br />
saya keberatan. Dan saya ingin sampaikan di forum ini karena anda juga<br />
bertanggungjawab kalau bertama hal yang sama ke saya. Anda semua<br />
bertanggungjawab sama seperti saya. Mencintai republik ini dengan banyak<br />
sekali pengorbanan sampai saya harus menyampaikan kepada jajaran pajak,<br />
jajaran bea cukai, jajaran perbendaharaan, &#8220;Jangan pernah putus asa<br />
mencintai republik.&#8221; Saya tahu, sungguh sulit mengurusnya pada masa-masa<br />
transisi yang sangat pelik.</p>
<p>Kecintaan itu paling tidak akan terus memelihara suara hati kita. Dan bahkan<br />
menjaga etika kita di dalam betindak dan berbuat serta membuat keputusan.<br />
Dan saya ingin membagi kepada teman-teman disini, karena terlalu banyak di<br />
media seolah-olah ditunjukkan yang terjadi dari aparat di kementrian<br />
keuangan yang sudah direformasi masih terjadi kasus seperti Gayus.</p>
<p>Saya ingin memberikan testimoni bahwa banyak sekali aparat yang betul-betul<br />
genuinly adalah orang-orang yang dedicated. Mereka yang cinta republik sama<br />
seperti anda. Mereka juga kritis, mereka punya nurani, mereka punya harga<br />
diri. Dia bekerja pada masing-masing unit, mungkin mereka tidak bersuara<br />
karena mereka adalah bagian dari birokrat yang tidak boleh bersuara banyak<br />
tapi harus bekerja.</p>
<p>Sebagian kecil adalah kelompok rakus, dan dengan kekuasaan sangat senang<br />
untuk meng abuse. Tapi saya katakan sebagian besar adalah orang-orang baik<br />
dan terhormat. Saya ingin tolong dibantu, berilah ruang untuk orang-orang<br />
ini untuk dikenali oleh anda juga dan oleh masyarakat. Sehingga landscape<br />
negara ini tidak hanya didominasi oleh cerita, oleh tokoh, apalagi<br />
dipublikasi dengan seolah-oalh menggambarkan bahwa seluruh sistem ini adalah<br />
buruk dan runtuh. Selama seminggu ini saya terus melakukan pertemuan dan<br />
sekaligus perpisahan dengan jajaran di kementrian keuangan dan saya bisa<br />
memberikan, sekali lagi, testimoni bahwa perasaan mereka untuk membuktikan<br />
bahwa reform bisa jalan ada disana. Bantu mereka untuk tetap menjaga api<br />
itu. Dan jangan kemudian anda disini bicara dengan saya, ya bisa<br />
diselamatkan kalau sri mulyani tetap menjadi Menteri keuangan. Saya rasa<br />
tidak juga.</p>
<p>Suasana yang kita rasakan pada minggu-minggu yang lalu, bulan-bulan yang<br />
lalu, seolah-olah persoalan negara ini disandera oleh satu orang, sri<br />
mulyani. Sedemikian pandainya proses politik itu diramu sedemikian sehingga<br />
seolah-olah persoalannya menjadi persoalan satu orang. Seseorang yang pada<br />
sautu ketika dia harus membuat keputusan yang sungguh tidak mudah, dengan<br />
berbagai pergumulan, kejengkelan, kemarahan, kecapekan, kelelahan, namun dia<br />
harus tetap membuat kebijakan publik. Dia berusaha, berusaha di setiap<br />
pertemuan, mencoba untuk meneliti dirinya sendiri apakah dia punya<br />
kepentingan pribadi atau kelompok, dan apakah dia diintervensi atau tidak,<br />
apakah dia membuat keputusan karena ada tujuan yang lain. Berhari-hari,<br />
berjam-jam dia bertanya, dia minta, dia mengundang orang dan orang-orang ini<br />
yang tidak akan segan mengingatkan kepada saya. Meskipun mereka tahu saya<br />
menteri, mereka lebih tua dari saya. Orang seperti pak Darmin, siapa yang<br />
bisa bilang atau marahin pak marsilam?Wong semua orang dimarahin duluan sama<br />
dia.</p>
<p>Mereka ada disana hanya untuk mengingatkan saya berbagai rambu-rambu,<br />
berbagai pilihan dan pilihan sudah dibuat. Dan itu dilaporkan, dan itu<br />
diaudit dan itu kemudian dirapatkan secara terbuka. Dan itu kemudian<br />
dirapatkerjakan di DPR. Bagaimana mungkin itu kemudia 18 bulan kemudian dia<br />
seolah-olah menjadi keputusan individu seorang Sri Mulyani. Proses itu<br />
berjalan dan etika sunyi. Akal sehat tidak ada. Dan itu memunculkan suatu<br />
perasaan apakah pejabat publik yang tugasnya membuat kebijakan publik pada<br />
saat dia sudah mengikuti rambu-rambu, dia masih bisa divictimize oleh sebuah<br />
proses politik. SAya hanya mengatakan, kalau dulu pergantian rezim orde lama<br />
ke orde baru, semua orang di stigma komunis, kalau ini khusus didisain pada<br />
era reformasi seorang distigma dengan sri mulyani identik dengan century.<br />
Mungkin kejadiannya di satu orang saja, tapi sebetulnya analogi dan kesamaan<br />
mengenai suatu penghakiman telah terjadi.</p>
<p>Sebetulnya disitulah letak kita untuk mulai bertanya, apakah proses politik<br />
yang didorong, yang dimotivate, yang ditunggangi oleh suatu kepentingan<br />
membolehkan seseorang untuk dihakimi, bahkan tanpa pengadilan. Divonis tanpa<br />
pengadilan. Itu barangkali adalah suatu episod yang sebetulnya sudah<br />
berturut-turut kita memahami konsekuensi sebagai pejabat publik yang<br />
tujuannya membuat kebijakan publik, dan berpura-pura seolah-olah ada etika<br />
dan norma yang menjadi guidance kita dibenturkan dengan realita-realita<br />
politik.</p>
<p>Dan untuk itu, saya hanya ingin mengatakan sebagai penutup, sebagian dari<br />
anda mengatakan apakah Sri mulyani kalah, apakah sri mulyani lari? Dan saya<br />
yakin banyak yang menyesalkan keputusan saya. Banyak yang menganggap itu<br />
adalah suatu loss atau kehilangan. Diantara anda semua yang ada disini, saya<br />
ingin mengatakan bahwa saya menang. Saya berhasil. Kemenangan dan<br />
keberhasilan saya definisikan menurut saya karena tidak didikte oleh<br />
siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya tidak disini. (applause)<br />
Saya merasa berhasil dan saya merasa menang karena definisi saya adalah<br />
tiga. Selama saya tidak menghianati kebenaran, selama saya tidak mengingkari<br />
nurani saya, dan selama saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri<br />
saya, maka disitu saya menang. Terimakasih<br />
(standing applause)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/06/etika-publik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup di belahan dunia lain</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/04/hidup-di-belahan-dunia-lain/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/04/hidup-di-belahan-dunia-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 23:08:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Singkat]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1436</guid>
		<description><![CDATA[Hidup di belahan dunia lain sangat berbeda satu sama lain. Seminggu belakangan ini cukup banyak peristiwa terjadi di luar Canada. Ada beberapa yang menarik perhatian saya. Yang pertama, dari Pastor Dan yang tahun lalu saya sempat tulis. Dia cerita bagaimana hidup di daerah tertinggal di Afrika sangat beda dengan di North America. Entah itu dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup di belahan dunia lain sangat berbeda satu sama lain. Seminggu belakangan ini cukup banyak peristiwa terjadi di luar Canada. Ada beberapa yang menarik perhatian saya.</p>
<p>Yang pertama, dari Pastor Dan yang tahun lalu saya sempat <a href="http://gunung-batu.com/2009/07/sinethemba/" target="_blank">tulis</a>. Dia cerita bagaimana hidup di daerah tertinggal di Afrika sangat beda dengan di North America. Entah itu dari infrastruktur, teknologi, akses kesehatan, pendidikan yang ada. Dia cerita bagaimana mereka menikmati perubahan yang ada. Anak-anaknya sekolah di rumah (home-schooled). Perjalanan dari rumah ke kantor makan waktu 10 menit, melewati daerah-daerah super miskin. Atau cerita lucu bagaimana di atap rumahnya ada banyak monyet yang suka nyuri makanan.<span id="more-1436"></span></p>
<p>Saya jadi berpikir, betapa <span style="text-decoration: line-through;">saya</span> kita di North America ini sangat mudah mengeluh, padahal kondisi secara kasat mata jauh lebih baik dibanding Afrika. Sedikit-sedikit mengeluh, entah mengeluh karena cuaca, karena pekerjaan, karena tugas menumpuk, dan seringkali hal-hal kecil juga bisa bikin kita mengeluh. Juga ternyata, mengeluh itu menular, tinggal di lingkungan yang sering mengeluh itu bikin kita sulit bersyukur.</p>
<p>Cerita lain masih dari Afrika juga. Baru tadi pagi <a href=" http://edition.cnn.com/2010/WORLD/africa/04/15/africa.religion/index.html?hpt=T2" target="_blank">baca di CNN</a>, menurut survey dan studi yang ada, orang Afrika ternyata sangat religius. Hmmm&#8230;mungkin ini akibat situasi yang susah disana. Di sisi lain, ada banyak orang Kristen di North America yang masi percaya sama astrologi. Hmmm&#8230;orang Afrika sungguh-sungguh ikut Tuhan, orang North America malah semakin menurun.</p>
<p>***</p>
<p>Cerita kedua dari Indonesia. Dua minggu lalu saya dibikin miris setelah baca berita di <a href="http://surabaya.detik.com/read/2010/04/15/095011/1338671/475/dikarantina-sw-tak-boleh-menerima-tamu" target="_blank">Detik.com</a> dan nonton video bocah 4 thn yang gemar dan bangga merokok &amp; ngomong kotor. Yang bikin miris, orang di sekitar bocah tsb yang malah mendukung kelakuan seperti itu.</p>
<p>Minggu ini cerita tentang penertiban lahan di <a href="http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/641/1/rusuh%20di%20koja" target="_blank">Tanjung Priok</a> yang makan korban jiwa. Entah siapa yang salah, tapi kekerasan terjadi. Di Indo segitu gampangnya menghilangkan nyawa orang. Yang bikin lebih parah, setelah kerusuhan yang ada, orang-orang menjarah kantor Pelindo di dekat situ, truk-truk polisi yang udah dibakar dipreteli onderdilnya. Bejat. Mungkin hal-hal seperti ini yang bikin saya sulit untuk membayangkan diri saya tinggal di Indonesia. </p>
<p>Belum lagi cerita makelar kasus, pemerasan, korupsi, penyuapan sana sini yang bikin muak. Emang rasanya terlalu absurd jika saya bilang hal itu hanya terjadi di Indonesia. Di North America pun hal seperti ini ada, tetapi mungkin dalam bentuk yang berbeda.</p>
<p>***</p>
<p>Hidup cukup keras di belahan dunia yang lain. Setiap orang punya pergumulan masing-masing, dan gak ada yang salah dengan itu. Namun sebelum kita mulai mengeluh, mungkin ada baiknya kita melihat dulu kesulitan orang lain di belahan dunia lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/04/hidup-di-belahan-dunia-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Century and Bumi cases: Who is the slayer, who is the victim?</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/01/the-century-and-bumi-cases-who-is-the-slayer-who-is-the-victim/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/01/the-century-and-bumi-cases-who-is-the-slayer-who-is-the-victim/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jan 2010 16:38:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=1119</guid>
		<description><![CDATA[The Jakarta Post &#8211; 13 January 2010 Wimar Witoelar After the disastrous machine gun attack on the Togolese national football team’s bus on the Angola border, Arsenal manager Arsene Wenger said the African Cup of Nations should continue despite the fact the attack killed several people. “I don’t believe you can just stop a competition [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.thejakartapost.com/news/2010/01/13/insight-the-century-and-bumi-cases-who-slayer-who-victim.html">The Jakarta Post &#8211; 13 January 2010</a><br />
Wimar Witoelar</p>
<p>After the disastrous machine gun attack on the Togolese national football team’s bus on the Angola border, Arsenal manager Arsene Wenger said the African Cup of Nations should continue despite the fact the attack killed several people. “I don’t believe you can just stop a competition because of an incident as I think that would reward the people who provoked the incident and could mean that any competition is stopped at any time,” added Wenger, who has Arsenal players Alex Song (Cameroon) and Emmanuel Eboue (Ivory Coast) playing for their national teams in the finals. Arsenal Wenger has got it right. It’s not only about winning. It’s about doing the right thing.</p>
<p>There is more than a touch of surrealism in the events unfolding today. We remember that President Susilo Bambang Yudhoyono  (SBY) won his second term with a majority of more than 60 percent. In addition, he has done nothing wrong. Even if he was at fault in the Bank Century allegations, it happened in 2008, the year before the political parties initiated the parliamentary proceedings supported by the media group that is owned by tax evaders.<span id="more-1119"></span></p>
<p>Many parliamentarians who now allege fraud in the Bank Century bailout agreed with the bailout decision at the time it was taken. Finance Minister Sri Mulyani and Vice President Boediono should be the last people in any Indonesian government to be accused of dishonesty, with clean records for the lifespan of their careers. So why are these good people being vilified by politicians, student activists and people on the street?</p>
<p>You need search no further back than 2001 for a possible answer. The night before last New Year’s Eve, the nation lost a great man who held the presidency for less than two years until he was ousted in 2001. In those brief years, Abdurrahman “Gus Dur” Wahid  succeeded in launching the greatest reforms in Indonesia’s civil society. Through his leadership and the support of many good people, Indonesia became an overnight leader in the promotion of pluralism, democracy and humanity. Gus Dur is by all measures a hero.</p>
<p>Although he lost the presidency, Gus Dur was elevated to become the keeper of the nation’s conscience. He was a victim of a cabal, a small group of secret plotters.  Who were the plotters? Parliament leaders, the media, big money, misguided students and paid activists. There is a strong sense of déjà vu. The cast of characters in 2010 is a bit different from 2001 but the story is the same.</p>
<p>SBY is not Gus Dur, but they are both popular leaders facing vindictive politicians.  Substitute Golkar chairman Aburizal Bakrie for Amien Rais in the leading role and you have the same scenario now as we had back then. Bulog-Bruneigate was the excuse for wanton attacks on the president in 2001 and Bank Century is the issue in 2010. Buloggate was never proven as a crime and neither will the Bank Century case. Amien Rais went for straight impeachment instead, explaining that it didn’t matter what he was guilty of, he had been removed. Aburizal may yet desert Century and aim at impeachment, all or nothing.</p>
<p>According to the press, student groups and activists plan to hold rallies to pressure President Yudhoyono and Vice President Boediono to step down. They demand that SBY and Boediono resign because the students feel they can no longer expect anything from them. Many do not agree, but they do not have the funding to resist, nor do they own political parties and television stations. The economy needs the smart and impeccably clean finance minister, but she is drowned out by meaningless screams.</p>
<p>Where are the anti-Wahid activists of 2001 now?  Everybody mourns the passing of Gus Dur whom the demonstrators derided, insulted and forced out of office. Students joined demonstrations led by Amien Rais in March of 2001. Where have they all gone?  Will the activists of 2010 also disappear once their cynical job is done? Activists announced they would take to the streets in a force of 100,000 people last month on International Anti-Corruption Day. Fears disappeared when only 5,000 demonstrators showed up in Jakarta. A group of 50 threw stones at a KFC outlet in Makassar believing the neoliberal corporation was involved in Bank Century. Why such a disappointing turnout? It was raining, the leaders later explained.</p>
<p>The political battle could become serious if a TV expose gathers momentum, if a station presents a clinical overview of the tax fraud cases pending against the Bakrie Group. To make a long story short, it involves an amount that may well reach Rp 10 trillion (US$1.09 billion) in tax and royalty debts and fines for tax evasion. The Bakrie Group has declined to comment so we do not know their side of the story. But if the allegations are true then the money is much greater than the alleged Bank Century bailout cost, which is clearly retrievable. So where are the criminals? In the Century case, in the Bakrie case, in both, or in none of the above? As the chorus lament in Sophocles’ Antigone: “Who is the slayer, who the victim? Speak”.</p>
<p>The public wants to know. Not because we want to choose one above the other, not for the sake of picking the winner. The public has no partisan agenda because it’s not only about winning; it’s about doing the right thing.</p>
<p>The writer is a public relations consultant with InterMatrix Communications and the host of WIMAR Live, a public affairs talk show on MetroTV.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/01/the-century-and-bumi-cases-who-is-the-slayer-who-is-the-victim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://stats.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://stats.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->

