May 06

Kemarin sempat ngobrol tentang ini sama Loren. Kita selalu dihadapkan pada pilihan. Mau makan siang ada pilihan, mau malas-malasan itu pilihan, mau kecewa sama orang pun itu pilihan, bahkan Tuhan mau menyayangi kita pun itu pilihanNya secara kita gak layak. Aspek memilih jadi menarik ketika kita mengikutsertakan Tuhan ketika memilih.

Nah, ini bagian menariknya. Kadang orang sering banget bilang, “Tuhan bilang sama saya kalau saya harus milih A”. Apakah iya? Hmmmm…kalau gak hati-hati, kita cenderung jadi orang yang suka merohanikan segala hal. Saya percaya Tuhan berbicara pada kita melalui Alkitab, atau mengajarkan kepada kita melalui pengalaman di masa lalu. Read more »

Tagged with:
Apr 28

Dalam diskusi singkat sama kontraktor yang bakal di-hire buat project kecil di kantor.

Calon Kontraktor: So yeah, I don’t think it’s a good idea to delete what you have developed bla bla bla…I have handle 200+ projects like this…bla bla bla…bla bla bla…Off course I don’t want to clean up the sh*t you created”
Saya: …
Calon Kontraktor: I’m kidding, I’m just kidding really. Don’t take it seriously. I’m kidding, ok?
Saya: *diam saja, pandangan tajam & serius*

Yah, begitulah highlight hari ini di kantor. Kadang bertemu dengan orang sok asik, yang dia pikir dia pintar, berusaha meyakinkan kalau kita bakalan hire dia. Tapi kata-kata yang keluar, wedew. Hidup mati dikuasai lidah. Enam macam penyakit lidah yang umum menurut Amsal: Read more »

Tagged with:
Apr 18

Sesuatu yang sesuai dengan harapan biasanya berujung pada rasa tenang. Di sisi lain sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan biasanya berujung pada rasa kecewa. Kita sering dikondisikan untuk berpikir bahwa hidup ini barulah indah ketika hal-hal yang kita alami sesuai dengan harapan.

Jadi ketika hidup ini tidak sesuai dengan harapan, banyak dari kita yang kecewa. Kecewa tidak selalu ditunjukan, bisa dipendam. Atau kita juga bisa jadi bergumul, pada dasarnya sama yaitu berharap untuk sesuatu yang sekarang belum atau masih jauh dari harapan.

Hidup ini jadi dipusatkan pada satu kata: harapan. Ketika seseorang sudah hilang harapan. Kurang lebih, di situlah akhir hidupnya. Berharap diri sendiri, kita tidak diciptakan untuk itu. Berharap pada manusia, mereka pun tidak diciptakan untuk memberikan harapan sejati. Berharap pada Kristus Yesus, Dia lah sumber pengharapan hidup.

*penulis baru saja diingatkan kembali tentang pengharapan hidup yg sejati.

Tagged with:
Apr 17

“There’s a flip side to everything,” the saying goes, and in 2 minutes, Derek Sivers shows this is true in a few ways you might not expect. Interesting, perhaps you’re just different depending on where you are? ;)

Tagged with:
Apr 15

Hidup di belahan dunia lain sangat berbeda satu sama lain. Seminggu belakangan ini cukup banyak peristiwa terjadi di luar Canada. Ada beberapa yang menarik perhatian saya.

Yang pertama, dari Pastor Dan yang tahun lalu saya sempat tulis. Dia cerita bagaimana hidup di daerah tertinggal di Afrika sangat beda dengan di North America. Entah itu dari infrastruktur, teknologi, akses kesehatan, pendidikan yang ada. Dia cerita bagaimana mereka menikmati perubahan yang ada. Anak-anaknya sekolah di rumah (home-schooled). Perjalanan dari rumah ke kantor makan waktu 10 menit, melewati daerah-daerah super miskin. Atau cerita lucu bagaimana di atap rumahnya ada banyak monyet yang suka nyuri makanan. Read more »

Mar 28

Bagaimana jadi orang sukses? Kalau kita ke toko buku, mungkin ada ribuan buku yang bahas segala macam cara buat sukses. Saking banyaknya, sampai kita bisa bingung sendiri.haha. Di episode Kick Andy, saya belajar ada dua macam perspektif orang sukses. Orang yang suka bikin rencana, dan orang yang spontan.

Yang pertama, Ciputra. Apa kiat sukses? Beliau bilang bahwa entrepreneur bukan bakat, bukan gen, bukan turunan, itu bisa dipelajari. Ada tiga hal yang kita perlu: keinginan besar, semangat kerja keras, keyakinan.
Read more »

Tagged with:
Mar 25

Ide di bawah ini belakangan hilir mudik dalam pikiran sih. Dibilang hilir mudik karena sebentar kepikir, sebentar ngga, terus kepikir lagi, terus ngga. Jadi sekarang lebih baik ditulis aja biar gak lupa.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2)

Dua minggu lalu saya bersama teman-teman nonton film Shutter Island. Katanya itu film thriller, oh oke lah saya pikir, tar saya siapkan diri secara saya gak terlalu suka nonton film horor ataupun film sadis berdarah-darah. Ternyata itu film tentang orang sakit jiwa, model-model kaya di film Beautiful Mind. Nama penyakitnya itu Schizophrenia? Filmnya cukup intense. Intinya sih tentang cerita orang waras yang datang buat menyelidiki kasus pasien jiwa hilang, tapi kemudian dengan konspirasi dan obat-obatan yang ada orang waras ini diyakinkan bahwa dia jadi gila, ujung2nya jadi dirawat di rumah sakit jiwa itu. Gara-gara nonton film ini, sempet bertanya, “hidup saya sekarang ini real gak ya? apa saya berhalusinasi kekita melihat teman-teman saya?”. Sedikit serem juga nih film, ngajak penonton jadi berpikir tentang kegilaan. Sedikit banyak, orang itu jadi gila karena lingkungannya yang mengondisikan demikian. Read more »

Tagged with:
Mar 04

Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” >> Lukas 11:1

Kita biasanya meminta tips/kiat/saran (terbaik) dari seorang pakar (yang memang ahli di bidangnya), ya kan? Misalnya saja:

  • Kepada Bill Gates (pengusaha yang sukses), kita meminta, “Ajarkan kami cara berwirausaha.”
  • Kepada Mozart (musikus legendaries, seandainya masih ada), “Ajarkan kami cara menikmati musik.”
  • Kepada Peter F. Saerang (salah satu ahli tata rambut terbaik di Indonesia), “Ajarkan kami cara memotong rambut.”
  • Kepada Janggeum (sekiranya masih hidup, Tabib Agung dinasti Chosun, Korea, perawat perempuan pertama yang melayani kaisar), “Ajarkan kami cara mendiagnosa penyakit.”

Read more »

Feb 27

Tujuh tahun lalu saya ikut ujian saringan masuk (usm) Unpar. Pilihan pertama Teknik Industri, pilihan keduanya Teknik Sipil. Yang diuji sebenarnya cuma dua bidang: matematika sama bahasa inggris. Cuma karena pilihan keduanya itu Teknik Sipil, harus ikut tes fisika juga.

Nah, satu soal fisika yang bikin saya penasaran, sampai masi teringat sampai sekarang itu begini:

Seorang pemburu membidik seekor monyet yang sedan bergelantungan di dahan pohon. Monyet ini berada di jarak 200 m dari pemburu terhadap horizontal. Ketika pemburu meletuskan senapannya, monyet kehilangan kesetimbangan, kemudian jatuh dari dahan pohon. Apakah peluru dapat mengenai monyet? Jika mengenai monyet, apa yang dapat kamu simpulkan mengenai posisi monyet dan peluru ketika itu?

Hah? Jujur aja waktu itu saya malah ketawa-ketawa, dalam pikiran, ya mana saya tau kena apa kaga, terus posisi monyetnya seperti apa. Haha, saya pikir orang teknik sipil suka guyon juga ya. Tapi karena penasaran saya ikuti nasehat papa. Papa sering bilang, “Kalo bingung, coba gambar/tulis”. Ya, papa orang teknik sipil gitu lho, jadi ya emang kalo nanya soal sama papa pasti digambar dulu. Soal matematik, fisika, kimia, semua biasanya digambar dulu. Anyway, kalau digambar ternyata ada perspektif berbeda yang kita bisa dapetin:

Read more »

Tagged with:
Feb 05

“I would like to buy about three dollars worth of gospel, please.
Not too much – just enough to make me happy, but not so much that I get addicted.
I don’t want so much gospel that I learn to really hate covetousness and lust.
I certainly don’t want so much that I start to love my enemies, cherish self-denial, and contemplate missionary service in some alien culture.
I want ecstasy, not repentance;
I want transcendence, not transformation.
I would like to be cherished by some nice, forgiving, broad-minded people, but I myself don’t want to love those from different races – especially if they smell.
I would like enough gospel to make my family secure and my children well behaved, but not so much that I find my ambitions redirected or my giving too greatly enlarged.
I would like about three dollars worth of the gospel, please.

(D. A. Carson, Basics for Believers: An Exposition of Philippians, pp. 12-13)

Tagged with:
preload preload preload