Sesungguhnya kita lebih khawatir mengenai kesulitan yang kita bayangkan, daripada mengenai masalah yang sebenarnya.
Mungkin itu sebabnya, orang yang tidak suka berhandai-handai – lebih cepat memulai dan bertahan lebih lama dalam pekerjaan yang sulit.
Dan memang, tenaga yang kita gunakan untuk merasa khawatir – sering lebih besar daripada yang kita butuhkan untuk bekerja.
Maka, marilah kita lebih sibuk bekerja daripada sibuk gelisah dalam kekhawatiran.
Engkau yang gundah karena beratnya kehidupan, sini … duduklah tenang bersamaku … dan marilah kita berbincang dengan Tuhan …
Sahabat baik hatiku, cobalah kau ingat … bukankah dulu engkau pernah hidup dalam kedamaian yang penuh harapan baik tentang masa depanmu?
Apakah yang telah kau ijinkan mengusik kedamaianmu, dan menjadikanmu pribadi baik yang sulit merasa damai hari ini?
Apakah sekarang, engkau terlalu banyak menduga dan sedikit mencoba?
Apakah engkau lebih mudah marah sebelum mengerti, dan tetap marah walau sudah mengerti?
Apakah engkau menuntut orang lain melakukan yang tak kau lakukan?
Apakah lebih mudah bagimu untuk meminta daripada memberi?
Apakah engkau lebih banyak mengeluhkan kesulitanmu daripada bekerja meringankan kesulitan sesamamu?
Apakah hatimu lebih cepat membenci daripada mencintai?
Atau, apakah engkau lebih dekat kepada kebiasaan buruk daripada beribadah?
Hmm … aku tak harus mendengar jawabanmu, tapi hatimu tahu.
Dikutip dr MTGW.
Pas baca renungan dari ODB edisi hari Sabtu kemaren, saya jadi inget sama si Joshua, keponakan saya yang pinter dan bandel. Seperti anak kecil kebanyakkan, di usia dia sekarang emang lagi banyak belajar tentang hal-hal yang baru. Jadi kalau dia nanya, bisa panjang gak berenti-berenti.
Joshua: "Lagi apa poh?"
Popoh: "Lagi masak..."
Joshua: "Masak apa poh?"
Popoh: "Masak soto..."
Joshua: "Soto apa poh?"
Popoh: "Soto ayam..."
Joshua: "Ayam apa poh?"
dst
Kadang, seperti yg dibilang di renungan itu, Tuhan itu nanya sama kita, “Lagi apa?”. Jawaban yang kita punya pasti macam-macam, bisa aja kita jawab, “Lagi cape, Tuhan”, “Lagi sedih, Tuhan”, “Lagi nonton tv, Tuhan”, “Lagi males-malesan, Tuhan”, “Lagi males ngomong sama Tuhan, Tuhan”.
Continue reading »
Ketika seseorang bilang dia bertumbuh secara rohani, apa sih maksudnya? Rasanya pernyataan pertumbuhan rohani terlalu umum, terlalu luas untuk diartikan. Apakah bertumbuh rohani itu artinya pengetahuan orang tentang Tuhan bertambah? Apakah artinya dia semakin rajin berdoa? Apakah artinya dia semakin banyak aktivitas pelayanan di gereja? Apakah artinya dia jadi hamba Tuhan? Absurd juga ya ukuran ini.
Rasanya indikator seseorang bertumbuh secara rohani adalah hubungan dia dengan Tuhan. Bagaimana seseorang memandang arti hidup sebagai anugerah, bagaimana seseorang bereaksi terhadap dosa, dan tanpa disadari Tuhan membentuk seseorang menjadi manusia yang baru, yang memuliakan Tuhan.
