Naturalisasi hamba Tuhan?

On January 10, 2011, in Indonesian, My thought, by adimulia

Fenomena naturalisasi belakangan merebak di dunia persepakbolaan Indonesia. Semenjak pemain-pemain naturalisasi bergabung dengan timnas, prestasi pasukan Garuda (timnas) kian sering mencuat di media. Sebutlah Christian Gonzalez, pemain dari Uruguay yang sudah merumput di lapangan bola tanah air sejak tahun 2003, dan sekarang bermain di Persib Bandung. *Pantesan Persib sekarang jadi jago, padahal biasanya kalah melulu*. Tercatat pada November 2010 yang lalu, Gonzalez resmi menjadi WNI. Dengan demikian ia boleh menjadi bagian dari timnas.

Belakangan beredar anekdot untuk melakukan naturalisasi untuk politisi-politisi di Indonesia. Carut marut panggung politik di Indonesia emang menyedihkan. Saking menyedihkannya sampai mungkin saya rasa kita perlu naturalisasi politikus yang lebih handal. Gak melulu ngeributin jalan-jalan studi banding, kasus Susno, Gayus, yang semuanya “hangat-hangat (maaf) tahi ayam”. Sekarang rame, paling tar beberapa bulan lagi sepi, tanpa ada penyelesaian tuntas.

Continue reading »

Tagged with:  

Angin di 2011

On January 2, 2011, in Indonesian, My thought, by adimulia

Ada orang-orang yang mengarungi laut dengan kapal-kapal, yang melakukan perdagangan di lautan luas; mereka melihat pekerjaan-pekerjaan TUHAN, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam. Ia berfirman, maka dibangkitkan-Nya angin badai yang meninggikan gelombang-gelombangnya. Mereka naik sampai ke langit dan turun ke samudera raya, jiwa mereka hancur karena celaka; mereka pusing dan terhuyung-huyung seperti orang mabuk, dan kehilangan akal. Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dikeluarkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang. Mereka bersukacita, sebab semuanya reda, dan dituntun-Nya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka. (Mazmur 107:23-30)

Konon dalam dunia berlayar, ada dua kondisi yang tidak enak: angin ribut, dan tidak ada angin sama sekali. Kalau ada angin ribut, kapal diombang-ambing kesana kemari. Semua awak kapal harus bekerja keras agar kapal tidak karam. Dan kondisi kedua, tidak ada angin sama sekali. Kapal tidak bisa bergerak ke tujuan akhir. Emang setau saya ada titik yang dibilang “equatorial calm”, jadi di titik itu emang gak ada angin. Kapal gak bisa berlayar.

Selama 2010, rasanya saya mengalami situasi “angin ribut” dan juga “gak ada angin”. Dan juga tentunya, mengalami situasi angin yang mendukung untuk berlayar, semakin dekat dengan apa yang dituju. Somehow perasaan saya memasuki tahun 2011 ini agak khawatir. Sepertinya tahun ini akan menjadi tahun yang cukup menantang. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, dipersiapkan, dan diputuskan.

Semua lorong di bumi haruslah kau jalani
Bersama dengan sesama menuju pada Bapa

Semua pematang swah menanti telapakmu
Derita ria bersama meringankan langkahmu

Semua roda hidupmu mendambakan imanmu
Di perjamuan abadi Bapa sudah menanti

Tagged with:  

Seseorang tidak dibentuk dalam semalam

On October 11, 2010, in Indonesian, Life Lesson, by adimulia

Seseorang yang kita lihat saat ini adalah hasil penempaan kehidupan terhadap dirinya selama ia hidup, hasil proses pembentukan yang panjang. Seseorang tidak dibentuk dalam semalam.

Kalau anak-anak banyak dikritik dalam kehidupannya, mereka akan belajar mengutuk.

Kalau anak-anak banyak mengalami permusuhan dalam kehidupannya, mereka akan belajar berseteru.

Kalau anak-anak banyak mengalami ketakutan dalam kehidupannya, mereka akan belajar prihatin.

Kalau anak-anak banyak dikasihani dalam kehidupannya, mereka akan belajar mengasihani diri sendiri.

Kalau anak-anak banyak dicemooh dalam kehidupannya, mereka akan belajar menjadi pemalu.

Kalau anak-anak banyak mengalami kecemburuan dalam kehidupannya, mereka akan belajar iri hati.

Kalau anak-anak banyak mengalami hal yang memalukan dalam kehidupannya, mereka akan belajar merasa bersalah.

Kalau anak-anak banyak diberikan dorongan dalam kehidupannya, mereka akan belajar percaya diri.

Kalau anak-anak merasakan toleransi dalam kehidupannya, mereka akan belajar sabar.

Kalau anak-anak banyak dipuji dalam kehidupannya, mereka akan belajar menghargai.

Kalau anak-anak merasa diterima dalam kehidupannya, mereka akan belajar mengasihi.

Kalau anak-anak merasa didukung dalam kehidupannya, mereka akan belajar menyukai diri sendiri.

Kalau anak-anak merasa diakui dalam kehidupannya, mereka akan belajar bahwa mempunyai sasaran itu baik.

Kalau anak-anak dibiasakan berbagi dalam kehidupannya, mereka akan belajar bermurah hati.

Kalau anak-anak dibiasakan jujur dalam kehidupannya, mereka akan belajar mengatakan yang sebenarnya.

Kalau anak-anak merasakan keadilan dalam kehidupannya, mereka akan belajar bersikap adil.

Kalau anak-anak banyak diberikan kemurahan dan pertimbangan dalam kehidupannya, mereka akan belajar menghormati.

Kalau anak-anak merasa tenteram dalam kehidupannya, mereka akan belajar percaya kepada diri sendiri maupun orang-orang di sekeliling mereka.

Kalau anak-anak merasakan persahabatan dalam kehidupannya, mereka akan belajar bahwa dunia ini tempat tinggal yang menyenangkan.

— Dorothy Law Nolte —

Tagged with:  

Pendeta vs Pemilik Klub Malam

On October 7, 2010, in Indonesian, by adimulia

Alkisah ada sebuah gereja yang sudah berdiri lebih dari sepuluh tahun. Gereja ini cukup berkembang, sampai mereka menambahkan jadwal kebaktian juga hari Sabtu malam. Semua berjalan dengan baik sampai suatu hari tak jauh dari gereja itu berdiri sebuah klub malam. Merasa terganggu dengan aktifitas klub malam di hari Sabtu, orang mabuk, hingar bingar orang yang ada, sang pendeta mengajak jemaatnya berkumpul dan berdoa agar Tuhan menutup klub malam itu.

Seminggu setelah doa itu, pas hujan lebat, petir menyambar klub malam itu. Klub malam itu terbakar hangus sampai rata dengan tanah. Pemilik klub malam, kemudian mendengar cerita kalau gereja tetangganya itu sebelumnya berdoa agar klub malam miliknya ditutup. Si pemilik klub malam ini menuntut gereja ini di pengadilan.

Ketika hakim menanyakan ke pendeta ini, “Apakah benar anda dan jemaat anda berdoa agar klub malam ini ditutup?”, Si Pendeta bilang, “Iya kami berdoa, tapi kami tidak pernah mengira Tuhan akan mengabulkan doa kami”. Lucu, yang berdoa tidak percaya kalau doanya akan dikabulkan. Sedangkan si pemilik klub malam, percaya kalau Tuhan yang kirim petir itu karena doa.

***

Doa gak dijawab…minta dijawab
Doa dijawab…nggak percaya kalau Tuhan yang jawab.
Percaya Tuhan tapi hidup seolah-olah Tuhan tidak ada? Hmm…

Tagged with:  
Free WordPress Themes