Aug 29

I once heard that our life is shaped by our beliefs, how we see things in life. For instances, you can believe that the moon is made of cheese. Everyday you put more efforts to prove or realize that the moon is actually made of cheese. Perhaps someday when you can go to the moon, you will establish a kraft dinner factory there. You have the right to hold your belief and I will defend your right to believe it. If you believe that one thing is more important than anything else, then you priorities shift. You will focus on doing action towards what you believe. Days and night your mind will be filled with thoughts of that one thing. You will also have different thinking, attitude and behavior towards what you believe.
Read more »

Tagged with:
Aug 13

Terkadang, saya bertanya-tanya pada diri sendiri: Tuhan akan bentuk saya jadi orang seperti apa ya? Ini pertanyaan random yang rasanya saya tidak akan pernah bisa menjawab secara detail. Pas kecil, ngga punya cita-cita khusus. Pelajaran di sekolah selalu pas-pasan (namun anehnya selalu masuk ranking 10 besar). Pas sma ngga suka ngapalin, jadi memutuskan ngambil IPA. Ketika memilih jurusan, cukup bingung, akhirnya (lagi-lagi karena males ngapalin), memutuskan untuk masuk jurusan teknik. Entah teknik apapun ngga masalah, diterima di teknik industri, menclok ke teknik perminyakan, sampai akhirnya sekarang beres kuliah information technology. Saya suka belajar ini itu. Sampai kadang saya sendiri berpikir, saya terlalu easy-going sama interest saya.

Fiuhh, sekarang ngga kerasa udah empat tahun kerja di bidang IT. Lagi-lagi karena interest dan kesempatan yang ada, belum ada posisi yang specific yang saya dalami. Lazimnya, orang kerja di IT mulai di bidang quality analysis (QA), lalu dari situ barulah loncat ke developer, atau ke dunia analyst. Sedangkan saya, kerjaan pertama jadi systems analyst, dari situ malah loncat ke developer, dan sekarang di dunia support engineer. Pengalaman gado-gado ini ada bagusnya, ada jeleknya. Bagusnya, segala bisa. Jeleknya, semua skill gak sampai dalam-dalam banget. Read more »

Tagged with:
Jun 28

Saya masuk angin. Lalu saya segera minum obat. Dua jam kemudian saya sembuh. Saya melanjutkan aktifitas seperti biasa.

Saya masuk angin. Lalu saya minum obat. Tetapi uda 6 jam gak ada tanda membaik. Lalu saya berdoa. Setelah itu saya sembuh. Saya bersyukur karena Tuhan sembuhkan saya. 

Saya masuk angin. Lalu saya minum obat. Saya berdoa. Tiga hari kemudian belum sembuh juga. Pacar saya mengantar saya ke dokter. Lalu saya sembuh. Saya bersyukur atas pacar yang pengertian dan juga Tuhan yang menyembuhkan saya. 

Saya masuk angin. Uda tiga hari belum membaik. Setiap hari berdoa. Pacar mengantar ke dokter. Rupanya harus dirawat inap selama satu minggu. Orang tua saya menelpon, mendoakan. Teman-teman mulai membesuk di rumah sakit. Akhirnya saya sembuh. Saya bersyukur atas pacar yang pengertian, orang tua yang masi pedulikan saya, teman masih ingat sama saya, dokter yang memberi obat, dan juga tentunya pada Tuhan yang menyembuhkan saya.
Read more »

Tagged with:
Apr 02

Dua tahun yang lalu, sepulang kerja seperti biasa saya naik train dari downtown ke rumah. Kebetulan waktu itu satu kereta sama (kita sebutlah) Om A. Saya ingat beliau bilang, “Tin, kamu liat ini semua orang yang berdiri di kereta ini? Setiap hari mereka pulang ke rumah sambil bawa beberapa lembar dollar. Ada yang bawa satu lembar, ada yang bawa beberapa lembar.”

Sekarang kadang kalau saya pulang kerja naik train, melihat ekspressi macam-macam orang, saya membayangkan semua orang ini lagi perjalanan pulang setelah seharian kerja, masing-masing mengantongi beberapa lembar uang yang dihasilkan hari itu. Ada yang banyak, ada yang sedikit, ada yang tidak sama sekali. Tapi mereka semua melanjutkan hidup mereka, ada yang sebentar lagi akan bertemu keluarganya. Ada yang mungkin masih harus sekolah, atau bekerja. Saya juga mikir, apa orang seumur hidup begini terus ya? Pergi kerja, pulang kerja, weekend santai, atau mungkin ke gereja.

Read more »

Jan 28

Sambil kerja di kantor pas weekend seperti hari ini. Saya menyempatkan diri untuk bengong (baca: menatap langit dengan pandangan jauh menembus cakrawala. halah) tentang kesuksesan. Sukses. Apa arti sukses?

Konon bagi perusahaan saya, kesuksesan adalah kepuasan customer (dan tentunya profit). Konon bagi pelajar, kesuksesan adalah lulus cum laude. Konon bagi orang tua, salah satu kesuksesan hidup adalah menyekolahkan anak, mendidik anak agar bisa jadi “orang” (lah skrg anaknya bukan orang?). Konon bagi orang yang lagi pacaran, kesuksesan adalah menikah. Konon bagi yang baru lulus kuliah, kesuksesan adalah mendapatkan pekerjaan. Konon bagi professional sudah bekerja, kesuksesan adalah mencapai posisi tinggi dalam pekerjaan. Masih banyak patokan kesuksesan di sekitar kita.

Kalo boleh menyimpulkan, sukses artinya mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan ekspektasi terbaik kita (atau orang di sekitar kita). Kesuksesan bersifat subjektif. Tidak ada orang yang ingin disebut gagal. Orang takut gagal. Bisa dibilang, (hampir) semua orang hidup untuk mengejar sukses. Kesuksesan sering jadi motivasi utama hidup. Read more »

Tagged with:
Jan 07

Suatu pagi di jalan tol dalam kota Jakarta, seorang pemuda melajukan mobilnya 150 kpj. Apes tak bisa ditolak, mobil polisi patroli jalan tol mengejar pemuda tsb. Tumben2nya, polisi patroli jalan tol peduli dengan orang ngebut di Indonesia. Berikut percakapan yang terjadi antara pemuda tsb dengan polisi berpangkat kopral itu.

Kopral :   Selamat pagi, bisa lihat SIM anda?
Badu:      Waduh, saya gak punya pak.
Kopral:    Kenapa?
Badu:      SIM saya lagi ditahan di pengadilan gara2 kemarin ditilang.
Kopral:    Hmmm…coba mana STNK?
Badu:      Itu juga gak ada pak. Saya baru aja mencuri mobil ini.
Kopral:    Hah? Anda mencuri mobil ini?
Badu:      Iya pak. Saya membunuh orangnya, dan mayatnya masih ada di bagasi. Read more »

Tagged with:
Jan 03

Beberapa waktu yang lalu sepulang kerja, saya menyempatkan diri mampir ke Chapters di downtown. Tujuannya cari kado, tapi seperti biasa, mampir ke bagian buku-buku sejarah, biografi, christian, juga ke psikologi. Disitu nemu buku-bukunya Philip Zimbardo. Ada buku Lucifer Effect, yang pernah dibawain kotbah di GII. Juga sebelahnya ada buku Time Paradox. Mulailah saya membaca beberapa bab pertama dari buku itu, yang ternyata membahas tentang waktu.

TimeEmang dimensi waktu selalu jadi misteri. Dimensi keempat ini selalu menjadi bahasan yang menarik. Film-film Hollywood dari jaman dulu sampai sekarang, biasanya tiap tahun setidaknya pasti ada satu yang mengangkat tema waktu/dimensi keempat. Pas kecil, kalau ada barangnya Doraemon yang boleh saya miliki, saya gak pengen minta kantong ajaib atau segala isinya, tapi saya milih mesin waktu. Sayangnya Doraemon hanyalah sebatas cerita. Sampai sekarang belum ada teknologi mesin waktu, adanya cuma di film-film. Ahli-ahli segala bidang pun cuma bisa sebatas memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Read more »

Tagged with:
Dec 19

Bagian dari refleksi setelah dua bulan ini baca bukunya J.I. Packer yang judulnya Knowing God. Buku ini emang sering banget direkomendasiin sama hamba Tuhan. Konon katanya, buku ini cocok buat orang yang masih dalam tahap awal mengikut Tuhan. Dalam hati saya pikir, wah itu saya. Walaupun Kristen sejak lahir, tapi perjalanan rohani sesungguhnya baru tumbuh enam tahun belakangan ini. Setelah baca dari bab satu ke bab selanjutnya, buku ini berat juga doktrinnya (bagi saya). Read more »

Tagged with:
Dec 03

Every week at church I attend for the last four months here in Vancouver, we read Psalms chapter by chapter. What interests me is that the book of Psalms is rich of emotions. When I read Psalms, I try to put myself in the psalmist’s shoes, trying to see what he saw, and feeling what he felt. Sometimes it is a praise full of joy, “Oh Lord oh Lord, how majestic is Your name in all the earth” (Psalm 8)…and we like that song. The next day, we flip over to Psalm 10:1, “Why O Lord do you stand far off?”.

Isn’t it life we live? Sometimes a sad day comes right after a happy one. Sometimes we praise the Lord, and the next day we complain to God. Some people have this idea that crying and complaining to God is a sign of poor faith. That if you have strong faith you should not feel weak. Some pastors and teachers convey the idea that good Christians don’t cry, they are always happy and upbeat. So some churches and home environments become places where people engage in denial, bottling up pain that life brings up for them. Some pastors lead people to believe that we should always be positive and happy and upbeat, no tears here, we are strong people, we are people of faith. For me, that is simply unreal and it is not what I found from the Bible. Read more »

Tagged with:
Nov 20

Seringkali saya bertanya, apakah ada keadilan di dunia ini? Di dunia ini kita selalu ditanamin konsep tentang keadilan. Orang berbuat jahat akan dihakimi dan diberi konsekuensi. Tapi itu dari perspektif hukum. Bagaimana dengan persepektif Alkitab? Menarik. Apakah yang Alkitab bilang adil itu ketika kita disuru kasi pipi kanan klo pipi kiri ditampar? Itukah adil? Lalu bagaimana dengan hukum tabur tuai? Apa yang kita tabur, itu yang kita tuai. Bukan kah itu lebih terdengar adil?

Mungkin bagian2 dari Alkitab yang saya sebutkan di atas masih abstrak untuk dibayangkan. Kemudian saya coba comot beberapa cerita di Alkitab. Doa Yabes (1 Tawarikh 4:10) yang isinya permohonan agar kita diberkati, fokus pada diri sendiri, eh Tuhan kabulkan. Musa cuman kesalahan kecil, gak masuk Kanaan (Bilangan 20:11). Stefanus mati dilemparin batu (Kis 8:1). Cerita tentang pelayan istri Naaman yang mengalami penderitaan tapi gak pendendam (2 Raja-raja 5). Dan juga cerita-cerita lainnya. Read more »

Tagged with:
preload preload preload