<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gunung batu &#187; Pemikiran Hidup</title>
	<atom:link href="http://gunung-batu.com/tag/pemikiran-hidup/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gunung-batu.com</link>
	<description>tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Dec 2011 07:54:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Rasa tidak aman</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/09/rasa-tidak-aman/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/09/rasa-tidak-aman/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 05:13:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Life Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[Anugerah]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1976</guid>
		<description><![CDATA[Diskusi seorang yang akan menikah biasanya berkaitan dengan masa depan. Misalnya, sebelum menikah, saya dan Loren banyak berdiskusi tentang persiapan pernikahan. Kita mempersiapkan diri dengan membaca buku tentang pernikahan, salah satunya yang bagus ada buku karangan Gary Chapman yang berjudul &#8220;Things I Wish I&#8217;d Known Before We Got Married&#8221;. Kita juga mempersiapkan untuk pesta pernikahan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diskusi seorang yang akan menikah biasanya berkaitan dengan masa depan. Misalnya, sebelum menikah, saya dan Loren banyak berdiskusi tentang persiapan pernikahan. Kita mempersiapkan diri dengan membaca buku tentang pernikahan, salah satunya yang bagus ada buku karangan Gary Chapman yang berjudul &#8220;Things I Wish I&#8217;d Known Before We Got Married&#8221;. Kita juga mempersiapkan untuk pesta pernikahan, dengan segala detailnya. Sebisa mungkin dipersiapkan biar lancar.</p>
<p>Kami juga berdiskusi tentang hal-hal yang lain yang saya yakin pasangan lain juga selalu diskusikan sebelum menikah. Misalnya, nanti mau punya anak berapa. Kami ingin mendidik anak dengan cara bagaimana. Terus tentang dimana kita mau menetap, bagaimana pekerjaan kita. Semua hal-hal ini awalnya baik dalam artian, kita menjalani hidup dengan bertanggung jawab, kita merencanakan hidup ini dengan prudent.</p>
<p>Tetapi, sangatlah mudah untuk jatuh ke arah ketidakamanan atau insecurity. Saya bersyukur, diingatkan lagi oleh video di bawah ini:</p>
<p><object width="500" height="375"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/LA_uwWPE6lQ?version=3"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/LA_uwWPE6lQ?version=3" type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="375" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Kita begitu fokus dengan hidup kita, hidup kita di dunia, kita rencanakan dengan baik. Saking baiknya, kita bisa lengah dan lupa akan hidup kita yang lebih penting. Dimanakah kita akan menghabiskan eternity? Surga atau neraka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/09/rasa-tidak-aman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iman selalu disertai pergumulan</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/08/iman-selalu-disertai-pergumulan/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/08/iman-selalu-disertai-pergumulan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Aug 2011 21:54:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Anugerah]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1914</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa tahun yang lalu, saya sempat bergumul tentang topik &#8220;Karunia Roh Kudus&#8221;. Pergumulan saya adalah salah satu pergumulan klasik denominasi Kristen konservatif dan Kristen karismatik, yakni tentang bahasa roh. Saya berpegang pada pendirian bahwa bahasa roh bukan indikasi bahwa seseorang sudah dipenuhi Roh Kudus. Namun perkataan orang yang masih saya ingat sampai sekarang adalah, &#8220;Kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa tahun yang lalu, saya sempat bergumul tentang topik &#8220;Karunia Roh Kudus&#8221;. Pergumulan saya adalah salah satu pergumulan klasik denominasi Kristen konservatif dan Kristen karismatik, yakni tentang bahasa roh. Saya berpegang pada pendirian bahwa bahasa roh bukan indikasi bahwa seseorang sudah dipenuhi Roh Kudus. Namun perkataan orang yang masih saya ingat sampai sekarang adalah, &#8220;Kamu tidak bisa berbahasa roh karena kamu kurang beriman&#8221;</p>
<p>Statemen ini begitu tajam sehingga membuat saya berpikir tentang hal-hal dasar ke-Kristenan yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Apakah itu iman? Saya punya satu ilustrasi, misalnya saya berkata kalau saya punya uang $1 di kantong saya, apakah anda percaya? Kalau anda percaya, itulah iman. Kalau saya sampai harus mengeluarkan uang $1 itu dan anda melihat itu, itu bukan iman lagi, tapi itu adalah pengetahuan umum (plain knowledge).</p>
<p><a href=" http://www.billygraham.org/articlepage.asp?articleid=4642">Billy Graham punya pendapat</a> yang beda lagi tentang iman. Misalnya sekarang kita lagi duduk di sebuah kursi. Sebelum kita duduk, kita tidak memeriksa apakah kursi itu kuat menopang kita. Soalnya kita sudah melakukan hal itu berulang kali, adalah lazim kursi jaman sekarang sanggup menopang badan kita. Iman pada Tuhan tidak buta karena Tuhan sudah menjadi manusia dan menebus dosa kita. Itulah dasar iman kita kepada Tuhan.</p>
<p>Dua pandangan di atas sedikit berbeda, dua-duanya ada benarnya. Adalah benar, beriman adalah mempercayai sesuatu tanpa melihat. Dan juga adalah benar, beriman adalah percaya sesuatu karena kita tahu Tuhan Yesus sudah menebus dosa kita, dan hidup kita adalah untuk kemuliaan-Nya.</p>
<p>***</p>
<p>Belakangan ini saya cukup disibukkan berbagai hal. Ada banyak hal yang perlu saya urus berkaitan dengan persiapan pernikahan, kesibukan/pergumulan di tempat bekerja, pergumulan masa depan gereja, pikiran tentang keluarga/orang tua yang jauh di Indonesia, dan lain-lain. Semua hal ini kadang membuat saya berpikir bahwa Tuhan tidak berada di dekat saya, saya merasa jauh dari Tuhan. Saya jadi ingat statement awal tadi dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya kehilangan iman saya pada Tuhan?</p>
<p>Syukurlah, Tuhan adalah Tuhan yang mengasihi saya. Saya mendapatkan jawaban/jaminan dari Alkitab itu sendiri. Kemarin ketika saya bersaat teduh saya membaca dari Hakim-hakim 6. Tentang bagaiman Gideon diangkat jadi hakim. Ketika malaikat Tuhan menampakkan diri dan berfirman bahwa Tuhan menyertai Gideon dan berencana memakai Gideon untuk menyelamatkan orang Israel melawan orang Midian. Respon Gideon adalah, &#8220;Ah tuanku, jika Tuhan menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib yang diceritakan nenek moyang kami kepada kami, ketika mereka berkata: Bukankah Tuhan telah menuntun kita keluar dari Mesir? Tetapi sekarang Tuhan membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam cengkraman orang Midian.</p>
<p>Gideon menunjukkan sikap ragu-ragu akan penyertaan Tuhan. Dan kalau kita ingat-ingat lagi, Gideon bukanlah orang pertama. Ketika Tuhan memanggil Musa juga sama kasusnya, Musa tidak yakin akan rencana Tuhan dalam hidupnya. Musa juga punya attitude, &#8220;Tuhan, masa iya sih aku yang kau pilih?&#8221;. Yusuf pun demikian, ketika apa yang mimpikan (bahwa saudara-saudaraNya akan sujud di hadapannya) tidak terjadi dalam waktu singkat. Janji Tuhan tidak langsung digenapi. Penglihatan dari Tuhan tidak terjadi begitu saja pada Yusuf, dia harus melalui beragam peristiwa dahulu. Daud pun sama, dia tidak begitu percaya diri ketika dia dipilih Tuhan. Seperti Daud, Musa, Yusuf, Gideon, dan tokoh Alkitab lain, ada titik dalam hidup kita dimana kita meragukan janji Tuhan dan juga merindukan Tuhan. </p>
<p>***</p>
<p>Ketika saya melihat betapa banyak masalah yang saya hadapi, saya melihat pengalaman saya tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan/percaya. (My experience does not match my belief). Tapi lagi-lagi kembali ke paragraf awal. Kalau pengalaman saya selalu sesuai dengan apa yang saya harapkan/percaya, ini bukanlah iman. Iman selalu disertai pergumulan. Iman tanpa pergumulan adalah pengetahuan umum.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/08/iman-selalu-disertai-pergumulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biasa-biasa sajalah</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/07/biasa-biasa-sajalah/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/07/biasa-biasa-sajalah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jul 2011 06:20:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Quotes]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Quote]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1907</guid>
		<description><![CDATA[Anggap masalah itu seperti ujian kenaikan kelas, selesaikan soal-soalnya dengan doa, kerja keras dan keyakinan, maka kita pasti akan lulus dan naik kelas, tapi bukan berarti berhenti sampai disana. Tentu di kelas yang baru nanti akan ada ujian yang level-nya juga akan lebih tinggi dari kelas sebelumnya. Jadi, biasa-biasa sajalah menanggapi masalah. - Bokapnya si [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><code>Anggap masalah itu seperti ujian kenaikan kelas, selesaikan soal-soalnya dengan doa, kerja keras dan keyakinan, maka kita pasti akan lulus dan naik kelas, tapi bukan berarti berhenti sampai disana. Tentu di kelas yang baru nanti akan ada ujian yang level-nya juga akan lebih tinggi dari kelas sebelumnya. Jadi, biasa-biasa sajalah menanggapi masalah.</code></p>
<p>- Bokapnya si Mora, tetangga yang juga teman SD/SMA</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/07/biasa-biasa-sajalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa mau menikah</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/06/kenapa-mau-menikah/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/06/kenapa-mau-menikah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jun 2011 05:45:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1886</guid>
		<description><![CDATA[Kalau kita liat update status di facebook, entah mengapa, lebih dari 50% status yang saya baca bersifat ungkapan kesedihan, umpatan emosi, bersifat negatif. Status update yang lain bersifat memberikan informasi, ada yang update jalanan macet, ada yang promosi barang ini itu, dst. Cuma yang agak jarang, status yang bersifat positif. Walaupun ada, biasanya status positif [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau kita liat update status di facebook, entah mengapa, lebih dari 50% status yang saya baca bersifat ungkapan kesedihan, umpatan emosi, bersifat negatif. Status update yang lain bersifat memberikan informasi, ada yang update jalanan macet, ada yang promosi barang ini itu, dst. Cuma yang agak jarang, status yang bersifat positif. Walaupun ada, biasanya status positif ini cuma muncul menjelang akhir pekan, sampai kira-kira hari Minggu. Hari Senin udah penuh dengan keluhan lagi.haha.</p>
<p>Beginilah hidup kali ya? Orang kalau diminta menyebutkan sesuatu yang positif, kayanya kok ya susah banget. Tapi kalau diminta menyebutkan yang negatif, bisa alami, mengalir begitu aja. Apa ini natur kejatuhan manusia ke dalam dosa? Sekarang bagi yang sudah menikah&#8230;seandainya ditanya, kenapa sih mau menikah dengan pasangannya? Banyak yang menjawab, &#8220;Ya karena dia orangnya baik.&#8221; atau &#8220;Ya, karena dia orangnya sabar.&#8221;. Jawabannya pendek. Tapi begitu beberapa tahun menikah, dan lagi berantem, mungkin keluhan/cacian itu sendiri bisa dibikin novel.</p>
<p>Ah, kenapa anda menikahi pasangan anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/06/kenapa-mau-menikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ah, Tuhan punya rencana lain</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/06/ah-tuhan-punya-rencana-lain/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/06/ah-tuhan-punya-rencana-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 20:15:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Life Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1876</guid>
		<description><![CDATA[Ketika krisis moneter melanda Indonesia tahun 1997, pemerintah Indonesia sempat mendatangkan seorang ahli ekonomi dari Thailand, namanya Prof. Ihiy Dungtakdungdung. Sebelum krisis moneter terjadi, professor ini sudah memprediksi akibat-akibat krismon, serta solusinya. Dia orang yang cukup optimis, jadi ketika dia datang ke Indonesia, dia yakin bisa mengatasi krisis moneter yang ada. Kebetulan Prof Dungtakdungdung adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2011/06/rakyat-antri-minyak-di-sumut-300x156.jpg" alt="" title="rakyat-antri-minyak-di-sumut" width="300" height="156" class="alignright size-medium wp-image-1880" />Ketika krisis moneter melanda Indonesia tahun 1997, pemerintah Indonesia sempat mendatangkan seorang ahli ekonomi dari Thailand, namanya Prof. Ihiy Dungtakdungdung. Sebelum krisis moneter terjadi, professor ini sudah memprediksi akibat-akibat krismon, serta solusinya. Dia orang yang cukup optimis, jadi ketika dia datang ke Indonesia, dia yakin bisa mengatasi krisis moneter yang ada. Kebetulan Prof Dungtakdungdung adalah seorang Kristen.</p>
<p>Selang bekerja satu bulan, kondisi tak kunjung membaik. Harga dollar menembus Rp. 21.000, rekor tertinggi sepanjang masa. Selang delapan bulan, segala teori ekonomi sudah dia coba terapkan, tapi kondisi juga tidak berbeda, malahan harga sembako melambung. Sampai-sampai saya ingat waktu itu, saya sekeluarga di Bandung, sempat sulit beli beras, karena beras sudah habis dimana-mana. Mungkin orang banyak yang menimbun.</p>
<p>Selang waktu dua tahun, optimisme Prof. Dungtakdungdung sudah pudar. Dia menghadap Presiden Habibie. Dia menyerah. Dia bilang, selama dua tahun di Indonesia, dia sudah berusaha sekuat tenaga, dan juga sudah berdoa. Namun kondisi tidak membaik, jadi Prof. Dungtakdungdung ingin kembali ke Thailand. Lucunya dia bilang begini ke Presiden Habibie, &#8220;Pak, mohon kiranya saya diijinkan untuk mengundurkan diri. Sepertinya rencana Tuhan bagi saya bukan di Indonesia. Tapi saya yakin Tuhan pasti punya rencana indah bagi Indonesia. Bapak Presiden imani saja hal itu&#8221;</p>
<p>Presiden Habibie bilang sama Prof. Dungtakdungdung, &#8220;Prof, kenapa anda minta saya beriman? Kenapa anda tidak melihat membantu Indonesia adalah bagian perjalanan iman anda?&#8221;</p>
<p>***</p>
<p>Cerita di atas hanyalah cerita fiksi. Tapi yang saya ingin bagikan adalah, kadang kita sebagai orang Kristen ketika gagal terlalu mudah berkata, &#8220;Ah, Tuhan punya rencana lain bagi saya&#8221;. <strong>Mentalitas gampang menyerah, tapi dilapis pernyataan rohani.</strong> Jadi terkesan rohani, padahal sebetulnya tidak. <strong>Mentalitas egois memikirkan diri sendiri, tapi dilapis pernyataan manis</strong> &#8220;Tuhan pasti punya rencana indah buat Indonesia. Saya sih ke Thailand aja deh, lebih enak, gak perlu malu gagal terus-terusan di Indonesia&#8221;</p>
<p>Yang kedua, kadang orang Kristen <strong>terlalu cepat melihat kegagalan sebagai &#8220;bukan rencana Tuhan&#8221;</strong>. Padahal Tuhan sering membentuk karakter kita ketika kita gagal. Jadi seolah-olah rencana Tuhan selalu dikaitkan dengan kesuksesan dalam karir, kekayaan, dsb.</p>
<p>Sekedar pemikiran random, bagaimana jadinya kalau Abraham cepat berkata, &#8220;Ah, mungkin Tuhan lupa akan janjiNya untuk memberi saya keturunan&#8221;. Apa kata dunia? <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kiranya Tuhan berkati!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/06/ah-tuhan-punya-rencana-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Parents</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/05/parents/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/05/parents/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 21:59:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Life Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1870</guid>
		<description><![CDATA[Some nights it would be so forceful to wake up either of them, &#8220;Uh, papa ngorok ya&#8221;, or &#8220;Uh, mama ngorok ya tin&#8221; they said. Ah..these sounds indicate to me that my parents are still with me. Some days, papa would not stop telling stories or expressing his opinions. The topics vary from politics, business, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Some nights it would be so forceful to wake up either of them, &#8220;Uh, papa ngorok ya&#8221;, or &#8220;Uh, mama ngorok ya tin&#8221; they said. Ah..these sounds indicate to me that my parents are still with me.</p>
<p>Some days, papa would not stop telling stories or expressing his opinions. The topics vary from politics, business, my childhood, etc. Ah..I know that when papa talks, it indicates he feels happy.</p>
<p>Some other mornings, before heading off to work/school, mama would squeeze (read: hug) me and tell &#8220;duh, sayangku&#8221; and I&#8217;ll tell her, &#8220;duh, mamaku&#8221;. Ah..she has been doing it since I was still in elementary school.</p></blockquote>
<p>I don&#8217;t get the chance to see them everyday but I&#8217;ll definitely keep them close to my heart.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/05/parents/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengejar impian</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2011/03/mengejar-impian/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2011/03/mengejar-impian/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2011 05:24:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Life Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1840</guid>
		<description><![CDATA[Kalau ada penyanyi yang saya kagumi, salah satunya adalah Susan Boyle. Entah mengapa saya sangat suka sama lagu yang dia nyanyiin &#8220;I dream a dream&#8221;. Secara khusus, saya suka penampilan dia pertama kali di Britains Got Talent (BGT). Dari cuplikan video ini, ada banyak aspek hidup yang kita bisa belajar. Berikut petikan percakapan dia dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-1841" title="Susan Boyle" src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2011/03/susanboyle-300x187.jpg" alt="" width="300" height="187" />Kalau ada penyanyi yang saya kagumi, salah satunya adalah Susan Boyle. Entah mengapa saya sangat suka sama lagu yang dia nyanyiin &#8220;I dream a dream&#8221;. Secara khusus, saya suka penampilan dia pertama kali di Britains Got Talent (BGT). Dari cuplikan <a href="http://www.youtube.com/watch?v=RxPZh4AnWyk" target="_blank">video ini</a>, ada banyak aspek hidup yang kita bisa belajar. Berikut petikan percakapan dia dengan juri-juri BGT.</p>
<p>Simon: What&#8217;s the dream?<br />
Susan: I&#8217;m trying to be a professional singer<br />
Simon: And why it hasn&#8217;t worked so far Susan?<br />
Susan: Because, I <strong>haven&#8217;t been given a chance</strong> before, but here’s, <strong>I’m hoping</strong> it will all change.<br />
Simon: OK and who would you like to be as successful as?<br />
Susan: Elaine Paige.<br />
<span id="more-1840"></span><br />
Kalau dipikir, Tuhan menciptakan manusia itu secara spesial banget. Setiap orang bisa punya impian yang berbeda, punya panggilan hidup yang berbeda. Ada yang mau jadi penyanyi, ada yang mau jadi dokter, dsb. Tapi ada tiga resep buat mengejar impian:</p>
<ul>
<li>Tetapi tidak selalu setiap orang bisa mencapai impiannya, mungkin belum ada <span style="text-decoration: underline;">kesempatan</span> kaya Susan Boyle di atas.</li>
<li>Yang saya suka dari percakapan di atas, Susan masih punya harapan untuk mengejar impiannya. Entah secara sadar atau tidak, dia menggunakan kata &#8220;I&#8217;m hoping&#8221;. Yup, <span style="text-decoration: underline;">pengharapan</span>&#8230;itulah yang gak setiap orang punya.</li>
<li>Setiap orang boleh saja punya impian, boleh saja punya pengharapan, tapi rupanya juga perlu <span style="text-decoration: underline;">passion</span>.</li>
</ul>
<p>Coba juga perhatiin reaksi penonton di detik ke-45. Orang memandang sebelah mata. Yah, ini juga rasanya realita hidup yang jamak kita temui. Orang begitu mudah untuk &#8220;ngenye&#8221;. Gak jarang orang begitu cepat untuk menghakimi orang lain. Belum juga menunjukan kebolehan, udah divonis gagal duluan. Tapi yang bagusnya, Boyle <strong>gak nyerah</strong>. Dia menunjukkan kalau dia udah siap menghadapi hal seperti ini. Mental juara. Haha, coba perhatiin di videonya, menit 1:17 dia mulai nyanyi, di menit 1:21 penonton udah bersorak. Mantep, dia cuma butuh <span style="text-decoration: underline;">4 detik</span> untuk menangin hati penonton. Btw, moment favorit saya ada di 2:40.</p>
<p>Berikut komentar juri-juri sesudah Boyle beres nyanyi:</p>
<ul>
<li><strong>Piers</strong>: Without a doubt, that was the biggest surprise I have had in three years on the show. When you stood there with that cheeky grin and said &#8220;I want to be like Elaine Paige&#8221;, everyone was laughing at you. No one is laughing now, That was stunning. An incredible performance. Amazing. I am reeling. I’m shocked. How about you two?</li>
<li><strong>Amanda</strong>: I&#8217;m so thrilled because I know everybody was against you. I honestly think that we were all being very cynical and I think that’s the biggest wake up call ever. I just want to say that it was a complete privileged, listening to that. It was extreme privileged.</li>
<li><strong>Simon</strong>: Susan, I knew the minute you walked out&#8230;on that stage that we were going to hear something extraordinary (two judges laugh out loud and the audience) and I was right. Susan, you are a little tiger, aren&#8217;t you?</li>
</ul>
<p>Ah&#8230;itu cerita tentang Susan Boyle yang saya kagumi. Cerita yang berakhir bahagia. <strong>Bahagia</strong>, ya itulah kata yang terngiang di pikiran. Dari renungan yang saya baca kemarin-kemarin, ada kata-kata bagus:</p>
<blockquote><p>Hampir semua orang ingin hidup yang bahagia. Baik yang muda, dan tua, berkeluarga atau tidak. Kebahagiaan adalah yang yang dicari dan di jual di pasar. Orang membeli dan mencari untuk kebahagiaan hidup. Tapi, kebahagiaan hidup itu ternyata bukan ditemukan di banyak barang, harta dan posisi tapi sikap hati. Cuman satu syarat hidup yang berbahagia. Orang yang PUAS hatinya. Orang yang bisa bersyukur ditengah apa pun adalah orang yang bahagia.</p></blockquote>
<p><strong>Filosofi Hidup</strong></p>
<p>Memasuki usia ke-25 ini, agak sulit untuk mengukur hidup. Saya gak tau ukuran apa yang harus dipakai. Teman ada yang bilang, &#8220;Mobil? sudah punya. Pacar? sudah ada. Perlu apa lagi?&#8221;. Klise ya kalau hidup itu harus diukur-ukur dengan apa yang kita &#8220;punya&#8221;, padahal itu semua titipan Tuhan. Someday kita &#8220;pulang&#8221; toh yah sendirian, gak bawa apa-apa. Ah untuk apa mengukur hidup, ujung-ujungnya biasanya berakhir ke rasa iri, tidak puas, dan tidak bersyukur pada Tuhan <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ketika dihadapkan dengan impian, kadang saya bingung impian yang mana. Dari segi karir, saya tidak tertarik mengejar jabatan setinggi CEO dsb. Saya perhatikan hidup mereka gak lebih bahagia dari saya. Bahkan rasanya hidup saya lebih happy dari mereka, haha, saya masih bisa bangun tidur dengan perasaan tenang. Tidak ada Blackberry yang geter2 setiap menit, email yang gak berenti masuk tentang pekerjaan. So&#8230;jabatan tinggi bukan impian saya rasanya.</p>
<p>Jujur saya punya impian lain. Kadang&#8230;pas lagi bengong, saya bertanya pada diri sendiri, &#8220;Kapan yah Tuhan datang lagi?&#8221;. Beneran rindu. Tapi bukan artinya saya orang yang maunya gampangnya aja, lebih milih &#8220;shortcut&#8221; Tuhan datang lagi dibanding berjuang dalam hidup ini. Ada ayat yang jadi filosofi hidup saya secara garis besar, dari Filipi 1:21-22</p>
<blockquote><p>Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.</p></blockquote>
<p><strong>Jadi kalau hidup ya harus berjuang, harus memberi buah</strong>. Ada quote dari John Piper dalam serinya Don&#8217;t Waste Your Life, begini bunyinya: There is a purpose God has planned for me to magnify His Glory, whether by life or by death.</p>
<p><strong>Masa Depan</strong></p>
<p>Seperti lirik di lagu &#8220;I dream a dream&#8221;, ada kalimat &#8220;And there are storms we cannot weather&#8221;. Yah, emang hari esok tidak seorang pun tau apa yang terjadi. Tapi ya <strong>syukurilah hari ini</strong>. Pikiran saya dipenuhi dengan hal-hal dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa sadar, apa yang dipikirkan menjadi realita hidup.</p>
<p>Saya kenal seorang teman yang suka mobil. Dia punya mobil sangat bagus, naik mobilnya serasa naik pesawat jet. Saya kira dia happy dengan mobilnya, tapi dia selalu mengeluh mobilnya sudah tua, sudah tinggi kilometernya. Dan akhirnya dia ganti ke mobil yang lebih bagus sekarang. Satu hal yang saya perhatikan: <span style="text-decoration: underline;">manusia tidak pernah puas</span>. Tapi saya pun juga ingat sama satu orang, yaitu mendiang emak Po Lien, tetangga mama pas kecil. Beliau bukan orang yang kaya, dia hanyalah seorang janda yang berjualan kue untuk membiayai pendidikan empat anak, tapi hidupnya. Tapi dia tidak pernah mengeluh..I saw joy when she smiled!</p>
<blockquote><p>Orang yang terus berfokus kepada hal hal yang negative dalam kehidupan, akan memiliki realitas kehidupan yang negatif.<br />
Orang yang terus berfokus kepada hal hal yang positive dalam kehidupan, akan memiliki realitas kehidupan yang positif pula.</p></blockquote>
<p>Di jaman serba tidak pasti ini, mari kita belajar menerima keterbatasan hidup. Bersyukurlah kepada Tuhan akan kehidupan yang terbatas ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2011/03/mengejar-impian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Patokan nilai</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/12/patokan-nilai/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/12/patokan-nilai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Dec 2010 23:56:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1751</guid>
		<description><![CDATA[Konon katanya, ada tiga macam hal yang menjadi patokan dalam menilai sesuatu: Suara terbanyak &#8211; kalau suara terbanyak bilang hal itu baik, maka hal itu menjadi baik. Bila kebanyakan orang bilang hal itu buruk, maka hal itu menjadi buruk. Tujuan - yang penting adalah tujuannya. Cara gak gitu penting, yang penting tujuannya. Contohnya, Robin Hood [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Konon katanya, ada tiga macam hal yang menjadi patokan dalam menilai sesuatu:</p>
<ul>
<li><strong>Suara terbanyak</strong> &#8211; kalau suara terbanyak bilang hal itu baik, maka hal itu menjadi baik. Bila kebanyakan orang bilang hal itu buruk, maka hal itu menjadi buruk.</li>
<p><br/></p>
<li><strong>Tujuan </strong>- yang penting adalah tujuannya. Cara gak gitu penting, yang penting tujuannya. Contohnya, Robin Hood itu gak apa-apa, karena dia mencuri dengan tujuan yang baik yaitu untuk berbagi dengan orang miskin. Contoh lain lagi, berbohong itu gak apa-apa, yang penting maksudnya baik. Makanya kadang ada istilah white lies.</li>
<p><br/></p>
<li><strong>Kebudayaan </strong>- kalau nilai budaya bilang baik ya baik, gimana nilai budaya yang dianut aja. Contohnya, pasangan kumpul kebo di Indonesia sih sering dirazia. Kalau di Canada, hal itu udah biasa.</li>
</ul>
<p>Hal ini terdengar sederhana. Sebagai orang percaya, apakah hal di atas yang jadi kriteria kita? Hmmm&#8230;jelas patokan orang percaya adalah cuma satu, yaitu gimana penilaian Tuhan, yang kita kenal melalui firmanNya. Kadang&#8230;kita sering terjebak dengan tiga patokan di atas, lupa tanya penilaian Tuhan.</p>
<p>*<span style="color: #ffffff;">Semoga keputusan yang saya ambil hari ini  berkenan di hadapan Tuhan</span>*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/12/patokan-nilai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Embracing God in uncertainty</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/11/embracing-god-in-uncertainty/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/11/embracing-god-in-uncertainty/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Nov 2010 05:48:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1718</guid>
		<description><![CDATA[My impression after I read my previous post was that it sounds so logical and rational (perhaps because that&#8217;s the way I or most men think?). I asked myself again what was the reason I wrote the article, I think it is because there are many uncertainties in life. It may be job uncertainties, relational [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>My impression after I read my previous <a href="http://gunung-batu.com/2010/11/embrace-uncertainty/">post</a> was that it sounds so logical and rational (perhaps because that&#8217;s the way I or most men think?). I asked myself again what was the reason I wrote the article, I think it is because there are many uncertainties in life. It may be job uncertainties, relational uncertainties, financial uncertainties, or even faith uncertainties.</p>
<p>It is true that I know that I have a sovereign God. I learned the hard way the importance of the Bible: sola scriptura. I am grateful for the grace of God, salvation by faith not by works. I read scriptures saying that God is in control of my life, hence I should not be worry. Even I name this blog based on Psalm 18:2: The LORD [is] my rock, and my fortress, and my deliverer; my God, my strength, in whom I will trust; my buckler, and the horn of my salvation, [and] my high tower. (KJV)<span id="more-1718"></span></p>
<p>Yet still if we&#8217;re honest&#8230;<strong>one thing is certain: there will always be uncertainty.</strong></p>
<p>Since there will always be uncertainty, there is no point to act as if there is no uncertainty. We cannot ignore uncertainty. It exists. As I mentioned in my previous post, I tend to embrace uncertainty by applying several techniques. But I guess I forgot to mention the underlying principle of embracing uncertainty is actually embracing God in uncertainty. For all flesh is as grass, and all the glory of man as the flower of grass. The grass withereth, and the flower thereof falleth away (1 Peter 2:24, KJV)</p>
<p>If we&#8217;re honest&#8230;<strong>we cannot ignore the existence of God in uncertainty.</strong></p>
<p>As I recall in the Bible, uncertainty existed in both Old and New Testaments.</p>
<ul>
<li>Abraham was called to unknown place. Yet later we know the great plan God has prepared for him. God promised three things: land, seed, and blessings. (Abrahamic Covenant)</li>
<li>The story of Moses. He spent 40 years of uncertainty in the desert. God shaped his character. You can read the detail at this <a href="http://gunung-batu.com/2009/12/sekolah-kehidupan-padang-gurun/" target="_blank">article</a> I posted a while ago. God made covenant with Moses (Mosaic Covenant)</li>
<li>The nation of Israel wandered in the desert for forty years. They did complain. We know that God did not allow the to enter Canaan.</li>
<li>The story of Elijah, one of many great stories I admired in the Bible. He fought all the baal prophets on Mount Carmel. He was so brave at a time, yet he felt so miserable and uncertain of his life when Jezebel chased him down. He was so depressed so that he even asked God to take his life. We know that God protected Elijah. God fed Elijah through the crow. Isn&#8217;t amazing?</li>
<li>The story of David. Uncertainty and doubts were in the mind of all people but David! He defeated Goliath.</li>
<li>The story of Paul, Peter, John, and other disciples. Even they believe in Christ, uncertainty still existed in their life.</li>
</ul>
<p>If we&#8217;re willing to learn from the past, God did not take away uncertainty from our life, even after we believed in Him. But one thing for sure, God has plan and purpose uniquely prepared to each of us. If we were certain of everything in life, we wouldn&#8217;t trust in God the way we should have.</p>
<p>Uncertainty in life should bring our focus back to God.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/11/embracing-god-in-uncertainty/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Embracing Uncertainty</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/11/embrace-uncertainty/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/11/embrace-uncertainty/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Nov 2010 07:12:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1701</guid>
		<description><![CDATA[This is something I&#8217;m currently contemplating. Some times, the hardest part of building a software system is deciding precisely what to build. 2 out of 3 projects are failing. Whether that number is accurate or not, it is pretty concerning as I&#8217;m working in the IT industry. Perhaps that is one of many reasons my [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-1700" title="Uncertainty" src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/11/Uncertainty-300x285.jpg" alt="" width="300" height="285" />This is something I&#8217;m currently contemplating. Some times, the hardest part of building a software system is deciding <span style="text-decoration: underline;">precisely</span> what to build. 2 out of 3 projects are failing. Whether that number is accurate or not, it is pretty concerning as I&#8217;m working in the IT industry. Perhaps that is one of many reasons my interest in business analysis (BA) world has grown recently. BA role is to gather what the users need. Typically a BA would write user stories using this kind of template:</p>
<p>As a [role], I want to [do something], so that [blablabla]. For example, as an artist, I want to create some paintings, so that I can sell it and meet my ends. This sounds simple, right? Now&#8230;it seems logical that we need to know what we want in order to estimate its construction and get it on schedule, right? I want to get a brush, a canvas, some paints, and start painting. Things sound simple until we&#8217;re actually doing it.<span id="more-1701"></span></p>
<p>So here myself, as an artist starts painting. I know what I want, now there are two approaches I can take: paint it <strong>iteratively</strong>, or paint it <strong>incrementally</strong>. While these two terms are actually common words used in IT project, I will try to explain them in simple way.</p>
<p>If I were to paint incrementally&#8230;it will look like this:<br />
Incrementing calls for a fully formed idea. And, doing it on time <strong>requires dead accurate estimation</strong>.<br />
<img class="alignleft size-full wp-image-1698" title="Monalisa1" src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/11/Monalisa1.jpg" alt="" width="602" height="193" /></p>
<p>While if I were to paint iteratively&#8230;it will look like this:<br />
A more iterative allows you to move from vague idea to realization <strong>making course corrections as you go</strong>.<br />
<img class="alignleft size-full wp-image-1702" title="Monalisa2" src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/11/Monalisa21.jpg" alt="" width="596" height="196" /></p>
<p>See the difference? Incremeting is basically build a bit at a time. While iterating builds a rough version, validates it, then slowly builds up quality. Now do you see why many IT projects fail? Well, one of the reason is because they&#8217;re doing the project incrementally, instead of iteratively. Some of you may raise your eyebrow and say &#8220;how come?&#8221;</p>
<p>Let&#8217;s imagine if a customer asked me to build a car within a year. I know all cars will have an engine, brakes, transmission, suspension, seats, steering wheel, etc. If I were to build it incrementally, I would build a Mercedes Benz. But I need to have a dead accurate knowledge of how a Mercedes Benz car is like. That&#8217;s pretty hard since I have little knowledge on Benz cars. I start building the engine, make it perfect. Then build the transmission, make it perfect. Then the body, and make it perfect. Then by month 12, I will have all perfect parts built except the brakes. The car has no brake! Oops&#8230;this project failed.</p>
<p>If I were to build it iteratively, my first goal would be to get a functional car which has engine, brakes, transmission, etc. I build a functional brake, not the best in the class but it is functional. Then I continue on other parts as well, they don&#8217;t have the best quality but they will meet your basic expectation for a car. At the end of month 12, I may not have a Benz, but I have a Mazda! Working and functioning fully as a car.</p>
<p>Often times, at least in IT projects. Customers come with several essential goals they would like to achieve. But usually, we want to build it perfect with one shot, resulting we cannot deliver all of the bare essentials. </p>
<p>***</p>
<p>So, what are my take aways from the story above? Well, I realize with my current knowledge, situation, and experience, it is very hard to decide precisely what my life would be in the future (We&#8217;re talking 5 years and beyond). I know <span style="text-decoration: underline;">in general</span> what my goal is, but I don&#8217;t know <span style="text-decoration: underline;">precisely</span> how to achieve that goal. Generally, I would love to let God use my life to glorify Him. It&#8217;s pretty generic, isn&#8217;t it? What do I mean by glorifying God? What do I need precisely to achieve that? No clue. Well, some of you may say, this goal is too abstract to talk about, it is not tangible.</p>
<p>Well, same thing when I say I want to have the ability to love my future wife. Do I know <span style="text-decoration: underline;">precisely</span> how? Not really, but I&#8217;m trying it iteratively. Haha, this sounds geeky. Well the point is, I&#8217;m not really trying to have the top-of-the-line quality of a husband to be. I&#8217;m trying to have whatever I need to start with then iteratively go from there, making corrections as I go.</p>
<p>When I say I want to have the ability to be self-sufficient. Do I know <span style="text-decoration: underline;">precisely</span> what I need to do? Not really, but I started back then when I chose my major. I choose what I enjoy (somewhat) which is IT. Then slowly trying to get my foot into the door of IT world. There are some learning pains.</p>
<p>***</p>
<p>Now, as a Christian I don&#8217;t know what my future would be. There are so many uncertainties, many things I don&#8217;t know, many things I don&#8217;t understand. But I know that only God knows precisely what my future will be. Hence, I need to ask God and keep praying and ask for His guidance in life. But I also do know that God has given me the wisdom to actually do my best to seek His will and plan in my life. To summarize, here are three things I learn so far to embrace uncertainty:</p>
<ul>
<li><strong>See the big picture of life, then prioritize your goals</strong>: you hear it often. You gotta start somewhere in life. At least you can define some goals in life, right? You don&#8217;t necesarily know how to achieve that goal for now. But at least you know that those goals are important. As you prioritize them, re-think&#8230;the essentials of the goals themselves. Are they really important in life (or after life)?</li>
<li>Don&#8217;t choose your solution too early and <strong>get yourself familiar to the word &#8220;change&#8221;</strong>. When facing uncertainty, it is critical to make decision. I understand that part. But it is also important not to get &#8220;stuck&#8221; with one decision. Should you face any difficulties along the way, it is a good thing to have alternatives. Imagine this: I would like to dig a hole to put my flower in. To dig a hole, I can use small spade, spoon, or even an excavator. If I decided to use a spoon, and along the way I&#8217;m facing a giant rock, I would have regreted and wished that I keep the excavator with me.<br />
<img class="alignleft size-full wp-image-1697" title="Hole" src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/11/Hole.jpg" alt="" width="387" height="381" /></li>
<li>Build up quality iteration by iteration&#8230;.<strong>don&#8217;t give up. Keep learning</strong>.</li>
<li>Know that above all these things we can do, I believe that God is sovereign in my life. Every learning process/pains I go through, God knows and understands. This article is not intended to build up your confident so that you can face uncertainty with your own power. </li>
</ul>
<p>As I&#8217;m writing iteratively, I may have wrong opinion in this article, but I will be happy to re-iterate and correct it <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/11/embrace-uncertainty/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>What we believe is critical</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/08/what-we-believe-is-critical/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/08/what-we-believe-is-critical/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 08:05:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1598</guid>
		<description><![CDATA[I once heard that our life is shaped by our beliefs, how we see things in life. For instances, you can believe that the moon is made of cheese. Everyday you put more efforts to prove or realize that the moon is actually made of cheese. Perhaps someday when you can go to the moon, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/08/seek-the-truth-300x272.jpg" alt="" title="seek the truth" width="300" height="272" class="alignright size-medium wp-image-1599" /> I once heard that our life is shaped by our beliefs, how we see things in life. For instances, you can believe that the moon is made of cheese. Everyday you put more efforts to prove or realize that the moon is actually made of cheese. Perhaps someday when you can go to the moon, you will establish a kraft dinner factory there. You have the right to hold your belief and I will defend your <u>right</u> to believe it. If you believe that one thing is more important than anything else, then you priorities shift. You will focus on doing action towards what you believe. Days and night your mind will be filled with thoughts of that one thing. You will also have different thinking, attitude and behavior towards what you believe.<br />
<span id="more-1598"></span><br />
Sometimes, I think that life consists of many phases. One phase is when we were born, we gained education and care from our parents. Second phase is when we learn to stand on our own fit (i.e. early career life). Third phase is when (if God permits), we establish family. Forth, fifth, and so on&#8230;is when we grow our family, experience life lost, and finally that day when we met God face to face.</p>
<p>During these phases of life, our beliefs are shaped, so is our life. For example, if you believe that there is no God since you were young. You will never pray to God because you believe that God doesn&#8217;t exists. You will also act like there is no God for the future days of your life. Perhaps you will not care about sin, then you will do whatever you want without much thinking of the consequences. </p>
<p>Or&#8230;if we would like to take it a little bit into daily life. If your mind is set on your belongings, your action will reflect that as well. I just got myself a car. I spent months considering to buy a car. How&#8217;s that possible? Well, what made it so long is that I want to assure myself that I&#8217;m getting a car, not &#8220;a car is getting myself&#8221;. I need to set my mind: I&#8217;m buying the car I need, not the car I want. I need a car that I can treat as a car. I notice that some people treat their car better than they treat other people, or even close friends or family. I don&#8217;t want it to happen to myself. So thankfully, I&#8217;ve found a car I can drive with peaceful mind. See&#8230;my belief on cars can empower all the thinking and actions for few months.</p>
<p>Another examples is church life. You know&#8230;unlike Catholic church, there are so many denominations among Christian churches. Some church believe that as Christian, God really wants to bless us with material blessings <u>abundantly</u>. So that belief will reflect on their prayers. &#8220;Lord, please multiply this offering by hundred times and so and so&#8221;. A friend of mine is getting sick and tired of debates across churches. He posted his status on facebook once: &#8220;Jesus is the ONLY way to God but we are not the only way to Jesus!. A simple message to those who claimed their teaching is the righteous one&#8221;. The sentence triggered my mind to think: what is righteous? whose standard of righteousness?. What I think righteous can be different with what you think. Oh well&#8230;good news: we have the Bible that tells God&#8217;s truth!</p>
<p>What we need to realize, our life is shaped by our beliefs, our view of reality. Our beliefs determine the way we look at the world. Our beliefs determine the way we feel about ourselves and other people, and the way we act. However, that doesn&#8217;t mean what you believe is the truth. Which truth? God&#8217;s truth. Why is that? Well, God is the One who created us, He has planned the purpose of our life, He knows uniquely what processes we need to go through in life. He knows what priorities we should have in life.</p>
<p>It is absolutely critical that we not only seek to know the truth but we also examine our beliefs and bring them aligned to the truth. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/08/what-we-believe-is-critical/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Allah itu baik, sungguh baik bagiku&#8230;</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/08/allah-itu-baik-sungguh-baik-bagiku/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/08/allah-itu-baik-sungguh-baik-bagiku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 23:14:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1562</guid>
		<description><![CDATA[Terkadang, saya bertanya-tanya pada diri sendiri: Tuhan akan bentuk saya jadi orang seperti apa ya? Ini pertanyaan random yang rasanya saya tidak akan pernah bisa menjawab secara detail. Pas kecil, ngga punya cita-cita khusus. Pelajaran di sekolah selalu pas-pasan (namun anehnya selalu masuk ranking 10 besar). Pas sma ngga suka ngapalin, jadi memutuskan ngambil IPA. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/08/Thinking.gif"><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/08/Thinking-258x300.gif" alt="" title="Thinking" width="258" height="300" class="alignright size-medium wp-image-1563" /></a>Terkadang, saya bertanya-tanya pada diri sendiri: Tuhan akan bentuk saya jadi orang seperti apa ya? Ini pertanyaan random yang rasanya saya tidak akan pernah bisa menjawab secara detail. Pas kecil, ngga punya cita-cita khusus. Pelajaran di sekolah selalu pas-pasan (namun anehnya selalu masuk ranking 10 besar). Pas sma ngga suka ngapalin, jadi memutuskan ngambil IPA. Ketika memilih jurusan, cukup bingung, akhirnya (lagi-lagi karena males ngapalin), memutuskan untuk masuk jurusan teknik. Entah teknik apapun ngga masalah, diterima di teknik industri, menclok ke teknik perminyakan, sampai akhirnya sekarang beres kuliah information technology. Saya suka belajar ini itu. Sampai kadang saya sendiri berpikir, saya terlalu easy-going sama interest saya. </p>
<p>Fiuhh, sekarang ngga kerasa udah empat tahun kerja di bidang IT. Lagi-lagi karena interest dan kesempatan yang ada, belum ada posisi yang specific yang saya dalami. Lazimnya, orang kerja di IT mulai di bidang quality analysis (QA), lalu dari situ barulah loncat ke developer, atau ke dunia analyst. Sedangkan saya, kerjaan pertama jadi systems analyst, dari situ malah loncat ke developer, dan sekarang di dunia support engineer. Pengalaman gado-gado ini ada bagusnya, ada jeleknya. Bagusnya, segala bisa. Jeleknya, semua skill gak sampai dalam-dalam banget.<span id="more-1562"></span></p>
<p>Lagi-lagi&#8230;saya kadang bertanya, &#8220;Tuhan, Engkau punya rencana untukku kan? Soalnya aku sendiri rasanya ngga ada yang specific&#8221;. Orang lain sih, udah bikin plan (dan juga ambisi) untuk mencapai posisi tertentu dalam jangka waktu tertentu. Saya sih masih adem ayem (dalam hal ambisi karir), walaupun saya selalu serius dalam apapun yang saya kerjakan.</p>
<p>Kemarin ini ada wacana di kantor untuk career development. Intinya sih, karir kita itu mau dikembangin ke arah apa. Ada beberapa teman kantor yang fokus ke arah sales, project management, developer, atau solution architect, technical writer, atau ke arah business analyst (yup, carreer branch di IT cukup banyak). </p>
<p>Puji Tuhan, pengalaman gado-gado saya cukup membantu, setelah dipikir-pikir, saya paling enjoy ketika saya bisa bekerja sama orang, bukan saya komputer/program. Options yang ada ya ke arah project management, atau ke arah analysis. Dan saya pilih yang options yang kedua. Pucuk dicinta ulam tiba, bos ngasi kesempatan untuk terlibat di project kecil sbg business analyst. Dan juga saya akan mulai ambil kelas business analyst bulan depan. Yombre!</p>
<p>***</p>
<p>Lalu, apa hubungan judul post ini dengan artikelnya? Allah itu baik, sungguh baik bagiku. Semakin saya melihat perjalanan hidup ke belakang, semakin saya melihat saya ini ngga ada apa-apanya. Pas kesulitan, Tuhan yang tolong. Pas bingung, Tuhan juga tuntun untuk mengambil keputusan. Ibaratnya, saya ini cuma melangkahkan kaki, Tuhan yang arahkan.</p>
<p>Sekarang, saya sudah setahun lagi di Vancouver. Ada banyak hal yang sudah berubah dan terjadi. Hidup tidak lepas dari masalah. Pergumulan selalu ada. Yang tidak berubah: Tuhan itu baik. Saya percaya adalah Tuhan akan bentuk kita untuk supaya semakin serupa denganNya, sehingga pada akhirnya bisa memuliakanNya. Kata kuncinya: hidup memuliakan Tuhan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/08/allah-itu-baik-sungguh-baik-bagiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Proses Hidup</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/06/proses-hidup/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/06/proses-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 23:56:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1540</guid>
		<description><![CDATA[Saya masuk angin. Lalu saya segera minum obat. Dua jam kemudian saya sembuh. Saya melanjutkan aktifitas seperti biasa. Saya masuk angin. Lalu saya minum obat. Tetapi uda 6 jam gak ada tanda membaik. Lalu saya berdoa. Setelah itu saya sembuh. Saya bersyukur karena Tuhan sembuhkan saya.  Saya masuk angin. Lalu saya minum obat. Saya berdoa. Tiga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya masuk angin. Lalu saya segera minum obat. Dua jam kemudian saya sembuh. Saya melanjutkan aktifitas seperti biasa.</p>
<p>Saya masuk angin. Lalu saya minum obat. Tetapi uda 6 jam gak ada tanda membaik. Lalu saya berdoa. Setelah itu saya sembuh. Saya bersyukur karena Tuhan sembuhkan saya. </p>
<p>Saya masuk angin. Lalu saya minum obat. Saya berdoa. Tiga hari kemudian belum sembuh juga. Pacar saya mengantar saya ke dokter. Lalu saya sembuh. Saya bersyukur atas pacar yang pengertian dan juga Tuhan yang menyembuhkan saya. </p>
<p>Saya masuk angin. Uda tiga hari belum membaik. Setiap hari berdoa. Pacar mengantar ke dokter. Rupanya harus dirawat inap selama satu minggu. Orang tua saya menelpon, mendoakan. Teman-teman mulai membesuk di rumah sakit. Akhirnya saya sembuh. Saya bersyukur atas pacar yang pengertian, orang tua yang masi pedulikan saya, teman masih ingat sama saya, dokter yang memberi obat, dan juga tentunya pada Tuhan yang menyembuhkan saya.<br />
<span id="more-1540"></span><br />
Kalau Tuhan mau, dalam hitungan detik pun Dia bisa sembuhkan saya, kalau ujungnya saya akan sembuh juga, kenapa gak langsung aja disembuhkan? Hmmm&#8230;Tuhan selalu punya rencana yang lebih indah melampaui pikiran saya. Ketika saya bangun dari tidur dengan tubuh yang sehat, saya jadi lebih sadar betapa itu adalah sebuah anugerah. Ketika saya masih dikelilingi orang tua, pacar dan teman-teman yang masih peduli, itu moment yang indah.</p>
<p>***</p>
<p>Tuhan kita bukan Tuhan yang &#8220;gampangan&#8221;, Dia juga bukan Tuhan yang serba &#8220;instant&#8221;. Kalau dari awal Tuhan mau kita ada bersamaNya di surga, hal itu sangat mungkin Tuhan lakukan. Tetapi kita tidak akan pernah tau seberapa besarNya kasih Allah, sampai Dia harus menunjukkan kasihNya di kayu salib.</p>
<p>Mungkin Abraham tidak akan mendapat julukan bapa orang beriman kalau Tuhan langsung memberi Ishak tanpa Abraham harus menunggu seratus tahun. Mungkin bangsa Israel sudah mati kelaparan kalau Yusuf tidak dijual saudaranya, difitnah, dipenjara, lalu sampai bisa jadi penguasa Mesir. Dan ada banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang lain di Alkitab.</p>
<p>Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk melewati setiap proses hidup yang ada. Proses sekolah, proses mencari kerja, proses pacaran, proses mendidik anak, proses melayani Tuhan, dll. Di setiap proses itu hendaklah kita terus bergantung pada Tuhan dan berikan yang terbaik. Mungkin Tuhan sedang mengajak kita untuk menikmati hidup ini melaui berbagai macam proses, bertemu bermacam-macam orang, menghadapi bermacam-macam masalah, kita diajak melihat hal-hal yang tidak akan kita bisa lihat kalau kita jadi anak &#8220;gampangan&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/06/proses-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa yang dicari?</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/04/apa-yang-dicari/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/04/apa-yang-dicari/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Apr 2010 20:43:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Kasih & Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunung-batu.com/?p=1422</guid>
		<description><![CDATA[Dua tahun yang lalu, sepulang kerja seperti biasa saya naik train dari downtown ke rumah. Kebetulan waktu itu satu kereta sama (kita sebutlah) Om A. Saya ingat beliau bilang, &#8220;Tin, kamu liat ini semua orang yang berdiri di kereta ini? Setiap hari mereka pulang ke rumah sambil bawa beberapa lembar dollar. Ada yang bawa satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua tahun yang lalu, sepulang kerja seperti biasa saya naik train dari downtown ke rumah. Kebetulan waktu itu satu kereta sama (kita sebutlah) Om A. Saya ingat beliau bilang, &#8220;Tin, kamu liat ini semua orang yang berdiri di kereta ini? Setiap hari mereka pulang ke rumah sambil bawa beberapa lembar dollar. Ada yang bawa satu lembar, ada yang bawa beberapa lembar.&#8221;</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1424" title="train" src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/04/train-300x222.jpg" alt="" width="300" height="222" />Sekarang kadang kalau saya pulang kerja naik train, melihat ekspressi macam-macam orang, saya membayangkan semua orang ini lagi perjalanan pulang setelah seharian kerja, masing-masing mengantongi beberapa lembar uang yang dihasilkan hari itu. Ada yang banyak, ada yang sedikit, ada yang tidak sama sekali. Tapi mereka semua melanjutkan hidup mereka, ada yang sebentar lagi akan bertemu keluarganya. Ada yang mungkin masih harus sekolah, atau bekerja. Saya juga mikir, apa orang seumur hidup begini terus ya? Pergi kerja, pulang kerja, weekend santai, atau mungkin ke gereja.</p>
<p><span id="more-1422"></span>Scene di atas jadi mengingatkan saya pada lagu sekolah minggu. Walaupun dulu sekolah minggu jarang perhatiin guru, saya masih ingat lah beberapa lagunya.haha. Lirik lagunya begini:</p>
<p>Apa yang dicari orang? ..uang (2x)<br />
Apa yang dicari orang<br />
Siang malam hari petang<br />
<span style="text-decoration: underline;">Uang uang uang bukan Tuhan Yesus</span></p>
<p>Apa yang dicari Tuhan? ..saya (2X)<br />
Apa yang dicari Tuhan<br />
Siang malam hari petang<br />
<span style="text-decoration: underline;">Saya-saya-saya anak Tuhan Yesus</span></p>
<p>***</p>
<p>Di masa Paskah ini saya merenung. Terutama di tengah-tengah kesibukan yang seolah tidak pernah berkurang, saya merasa perlu menyisihkan waktu untuk merefleksikan arti hidup ini, arti Paskah sendiri. Seorang teman (kita sebutlah) KH, beberapa minggu yang lalu bercerita bahwa di dalam hidup ini, ada tiga &#8220;P&#8221; yang orang selalu kejar:</p>
<p><strong>Possession</strong> &#8211; orang bisa melakukan apa saja untuk memiliki sesuatu, mungkin punya rumah bagus, mobil mewah, barang bermerk. Bukannya salah untuk memiliki itu semua, tapi hidup mengejar possession tidak akan pernah selesai.</p>
<p><strong>Pride</strong> &#8211; orang bisa melakukan apa saja untuk sebuah kebanggaan, mungkin bangga dengan gelar akademis yang ada. Bangga dengan gaya hidup, bangga dengan karir.</p>
<p><strong>Pleasure</strong> &#8211; orang bisa melakukan apa saja untuk sebuah kesenangan hidup. Setiap minggu party sana sini. Hidup hanyalah mencari kesenangan semata.</p>
<p>Apakah ini semua yang kita kejar? Apakah ini alasan kita hidup? Rasanya ngga.</p>
<blockquote><p>Rumah kita yang terakhir di dunia adalah tanah 1&#215;2 m, yaitu kuburan. Mobil yang akan kita naiki terakhir di dunia adalah mobil jenazah. Gelar yang akan kita raih terakhir adalah almarhum. Ketampanan, kecantikan, dan kelebihan fisik yang kita banggakan pada akhirnya akan menjadi tulang.</p></blockquote>
<p>Disinilah kita butuh &#8220;P&#8221; yang terakhir&#8230;</p>
<p><strong>Purpose</strong> &#8211; apa tujuan hidup ini? Untuk memiliki ini itu? Untuk bisa berbangga hati atas prestasi yang ada? Untuk mencari kesenangan? Faktor purpose ini lah yang membuat seseorang beda dengan yang lain.</p>
<p>Ketika saya memikirkan tujuan hidup, saya mau tidak mau dihadapkan pada kebenaran hidup ini. Balik lagi ke pertanyaan-pertanyaan basic, kenapa kita ada di dunia? Siapa yang menciptakan kita? Untuk apa kita diciptakan oleh Sang Pencipta? Habis mati kita mau kemana?</p>
<p>***</p>
<p>Hari ini adalah hari Jumat Agung. Moment Tuhan Yesus mati di kayu salib. That&#8217;s it. Mati untuk apa? Mati untuk siapa? Kenapa Tuhan mati di kayu salib? Emang Tuhan salah apa? Mengapa Tuhan <span style="text-decoration: underline;">menyerahkan</span> nyawaNya? Allah Bapa bahkan udah tau dari awal, dari sebelum dosa itu ada bahwa Dia akan mengirim Yesus untuk menderita. Saya dulu tidak terlalu peduli.</p>
<p>Ada banyak hal yang saya tidak mengerti mengapa terjadi, baik ataupun buruk, tetapi pengalaman hidup beberapa tahun belakangan ini sangatlah berbeda. Tuhan terus mengarahkan (tapi tidak pernah memaksakan) saya untuk selalu percaya padaNya. Semakin belajar firman Tuhan, saya semakin percaya kalo hidup kita ini untuk memuliakan Tuhan. Tuhan berkarya bukan melalui keajaiban-keajaiban yang menakjubkan, tapi membawa saya pada suatu kesadaran bahwa saya orang berdosa (Yoh 16). Suatu kerinduan untuk mencari dan bergumul tentang tujuan hidup yang sesungguhnya.</p>
<p>Saya percaya hidup lebih dari sekedar possesion, pride, pleasure. Ada tujuan besar mengapa kita masih bernafas pada detik ini. Di dalam perjalanan kita mengerti tujuan hidup ini, ingatlah Tuhan mencintai kita sampai rela mati di kayu salib, dan bangkit ke surga. Dia adalah Tuhan.</p>
<blockquote><p>&#8220;Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.&#8221; ~ Yohanes 15:9-10</p>
<p>&#8220;As the Father has loved me, so have I loved you.  Now remain in my love.  If you obey my commands, you will remain in my love, just as I have obeyed my Father&#8217;s commands and remain in his love.&#8221; ~John 15:9-10</p></blockquote>
<p>Selamat Paskah!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/04/apa-yang-dicari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku harus!</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/01/aku-harus-2/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/01/aku-harus-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 16:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=1107</guid>
		<description><![CDATA[Sambil kerja di kantor pas weekend seperti hari ini. Saya menyempatkan diri untuk bengong (baca: menatap langit dengan pandangan jauh menembus cakrawala. halah) tentang kesuksesan. Sukses. Apa arti sukses? Konon bagi perusahaan saya, kesuksesan adalah kepuasan customer (dan tentunya profit). Konon bagi pelajar, kesuksesan adalah lulus cum laude. Konon bagi orang tua, salah satu kesuksesan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sambil kerja di kantor pas weekend seperti hari ini. Saya menyempatkan diri untuk bengong (baca: menatap langit dengan pandangan jauh menembus cakrawala. halah) tentang kesuksesan. Sukses. Apa arti sukses?</p>
<p>Konon bagi perusahaan saya, kesuksesan adalah kepuasan customer (dan tentunya profit). Konon bagi pelajar, kesuksesan adalah lulus cum laude. Konon bagi orang tua, salah satu kesuksesan hidup adalah menyekolahkan anak, mendidik anak agar bisa jadi &#8220;orang&#8221; (lah skrg anaknya bukan orang?). Konon bagi orang yang lagi pacaran, kesuksesan adalah menikah. Konon bagi yang baru lulus kuliah, kesuksesan adalah mendapatkan pekerjaan. Konon bagi professional sudah bekerja, kesuksesan adalah mencapai posisi tinggi dalam pekerjaan. Masih banyak patokan kesuksesan di sekitar kita.</p>
<p>Kalo boleh menyimpulkan, sukses artinya mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan ekspektasi terbaik kita (atau orang di sekitar kita). Kesuksesan bersifat subjektif. Tidak ada orang yang ingin disebut gagal. Orang takut gagal. Bisa dibilang, (hampir) semua orang hidup untuk mengejar sukses. Kesuksesan sering jadi motivasi utama hidup.<span id="more-1107"></span></p>
<p>Aku harus! Aku harus sukses ini dan itu. Hidup ini bagai sebuah kompetisi untuk mendapatkan kelayakan. Berbagai tuntutan dari berbagai pihak seperti membebani diri. Masih kuliah, dituntut cepat lulus. Udah lulus, dituntut cepat dapat kerja yang mapan. Udah kerja tapi masih single, dituntut cari pacar. Udah pacaran, dituntut cepat menikah. Udah menikah, dituntut cepat punya anak. Hasilnya, seringkali hidup ini gak pernah berhenti dikejar oleh tuntutan2 untuk sukses.</p>
<p>Bahkan mungkin, kita mulai berpikir bagaimana sukses di hadapan Tuhan. Mungkin ini juga penyebab banyak orang melayani Tuhan demi &#8220;merasa layak/sukses&#8221; di hadapan Tuhan. Akan kah kita pernah layak di hadapan Tuhan dengan segenap usaha kita? Hmmm&#8230;topik tentang sukses sebenarnya sangat luas jika mau dibahas. Sangat terbuka banyak celah jika mau didebat.</p>
<blockquote><p>Saya merasa, adalah bagus jika kita punya keinginan untuk melakukan yang terbaik, adalah baik jika ingin sukses di dunia ini. Tapi janganlah hidup dengan attitude &#8220;aku harus sukses&#8221;. Tetapi syukurilah apa yang ada, bertekunlah dalam bekerja.</p></blockquote>
<p>Kalau hidup dengan attitude &#8220;aku harus&#8221;, nilai diri menjadi tak bermakna ketika berhadapan dengan kegagalan. CEO bunuh diri krn gagal mencapai target profit. Orang diputus pacar bisa bilang, &#8220;Untuk apa hidup tanpamu?&#8221;. Karena kita gagal Tidak ada lagi sukacita hidup, tidak adalah damai sejahtera.</p>
<p>Kan sebenarnya tidak demikian&#8230;</p>
<p>Tuhan itu tetap ada. CEO ataupun tukang becak, kasih karunia Tuhan sama. Single ataupun married, Tuhan tetap berdaulat atas apa yang terjadi. Tuhan cinta semua anak di dunia, putih, kuning dan hitam semua dicinta Tuhan.</p>
<blockquote><p>Saya percaya ada yang lebih berharga dari kesuksesan2 yang kita raih di dunia ini, yaitu proses hidup yang kita lalui bersama Tuhan, bagaimana hati kita dibentuk menjadi &#8220;the perfect bride&#8221; untuk &#8220;The Perfect Groom&#8221; di surga kelak.</p></blockquote>
<p>Ahh&#8230;suatu perjalanan panjang untuk memahami bahwa kasih karunia Nya itu cukup, tidak peduli prestasi apa yang kita capai. Pertanyaan dasar dalam hal ini apakah benar saya harus melakukan ini dan itu untuk mendapatkan kasih dan penerimaan? Apakah makna hidup saya berarti ketika saya mampu melakukan ini dan itu?</p>
<p>Ahh&#8230;apakah saya memikirkan sukses karena saya sebenarnya egois? Apakah iman saya didasarkan karena saya mengharapkan sesuatu dari Tuhan? Apakah saya sebenarnya menaruh hati saya pada kesuksesan dunia, lebih dari Tuhan sendiri? Kadang saya lupa kalau hidup ini tentang Tuhan. Mohon diingatkan dari waktu ke waktu.</p>
<p>*kebengongan yang membingungkan, memulai dengan pertanyaan, diakhiri dengan pertanyaan*</p>
<p>~23/01/2010<br />
<object width="400" height="225"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="movie" value="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=5004562&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=0&amp;show_byline=0&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" /><embed src="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=5004562&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=0&amp;show_byline=0&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" width="400" height="225"></embed></object>
<p><a href="http://vimeo.com/5004562">Blessed Be Your Name</a> from <a href="http://vimeo.com/davidjtate">David Tate</a> on <a href="http://vimeo.com">Vimeo</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/01/aku-harus-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cover-up</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/01/cover-up/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/01/cover-up/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 19:57:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=895</guid>
		<description><![CDATA[Suatu pagi di jalan tol dalam kota Jakarta, seorang pemuda melajukan mobilnya 150 kpj. Apes tak bisa ditolak, mobil polisi patroli jalan tol mengejar pemuda tsb. Tumben2nya, polisi patroli jalan tol peduli dengan orang ngebut di Indonesia. Berikut percakapan yang terjadi antara pemuda tsb dengan polisi berpangkat kopral itu. Kopral :   Selamat pagi, bisa lihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu pagi di jalan tol dalam kota Jakarta, seorang pemuda <a href="http://www.youtube.com/watch?v=Mh5CwKk-uZs" target="_blank">melajukan mobilnya 150 kpj</a>. Apes tak bisa ditolak, mobil polisi patroli jalan tol mengejar pemuda tsb. Tumben2nya, polisi patroli jalan tol peduli dengan orang ngebut di Indonesia. Berikut percakapan yang terjadi antara pemuda tsb dengan polisi berpangkat kopral itu.</p>
<p>Kopral :   Selamat pagi, bisa lihat SIM anda?<br />
Badu:      Waduh, saya gak punya pak.<br />
Kopral:    Kenapa?<br />
Badu:      SIM saya lagi ditahan di pengadilan gara2 kemarin ditilang.<br />
Kopral:    Hmmm&#8230;coba mana STNK?<br />
Badu:      Itu juga gak ada pak. Saya baru aja mencuri mobil ini.<br />
Kopral:    Hah? Anda mencuri mobil ini?<br />
Badu:      Iya pak. Saya membunuh orangnya, dan mayatnya masih ada di bagasi.<span id="more-905"></span></p>
<p>Kopral sontak kaget/takut kemudian berlari cepat ke mobilnya dan memanggil bala bantuan. Lima menit kemudian, tiga mobil polisi dengan senjata lengkap tiba di tempat kejadian. Sersan ambil alih situasi dan berbicara sama pemuda tsb. Berikut percakapannya yang terjadi.</p>
<p>Sersan:    Pak, tolong keluar dari mobil.<br />
Badu:      *Keluar mobil dengan santai* Iya, ada apa pak?<br />
Sersan:    Anak buah saya bilang anda baru mencuri mobil ini dan membunuh pemiliknya.<br />
Badu:      Hah? Membunuh pemilik mobil ini?<br />
Sersan:    Iya, bisa tolong buka bagasinya pak?<br />
Badu:      *Membuka bagasi, dan di bagasi gak ada apa2*<br />
Sersan:    Ini mobil anda?<br />
Badu:      Iya pak, ini saya ada STNK-nya dan juga SIM saya.<br />
Sersan:    *Semakin bingung* Anak buah saya bilang anda mencuri mobil ini, membunuh pemiliknya, dan menaruh mayatnya di bagasi.<br />
Badu:      *Sambil menggelengkan kepala* Saya yakin pembohong itu juga bilang kalau saya ngebut?</p>
<p>Haha&#8230;<br />
Some people go to great lengths to cover their sin.<br />
But let&#8217;s be honest, we are no different (:</p>
<p>***</p>
<p>Saya jadi inget &#8220;cover-up&#8221; pertama kali di dunia oleh Adam dan Hawa. <a href="http://sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=1&amp;c=3" target="_blank">Di Kejadian 3</a>. Sesaat setelah makan buah terlarang, ketika mereka mendengar langkah Tuhan, bersembunyilah mereka (ayat 8). Bisa dibilang, inilah salah satu natur dosa, <span style="text-decoration: underline;">rasa bersalah</span>. Lanjutin baca ayat 9, Tuhan <span style="text-decoration: underline;">mencari</span> mereka, &#8220;Di manakah engkau?&#8221;. Tuhan bukannya gak tau Adam &amp; Hawa ada dimana, tapi ngapain Tuhan nanya? Tuhan kan sebenarnya tau Adam &amp; Hawa lagi bersembunyi. Imho, Tuhan beri kesempatan Adam untuk menjelaskan apa yang terjadi (dan hopefully mengaku dosa). Tapi seperti yang kita ketahui Adam nyalahin Hawa. Hawa nyalahin ular. Dan akhirnya diusirlah mereka dari taman Eden.</p>
<p>See&#8230;satu dosa, satu cover-up, semua manusia yang harus nanggung sampai sekarang.</p>
<p>Dan sifat menutup-nutupi dosa pun berlanjut, <a href="http://sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=1&amp;c=4" target="_blank">Kain membunuh Habel</a>, lagi-lagi Tuhan tanya, &#8220;Dimana Habel?&#8221;. Kain bilang &#8220;Aku tidak tahu!&#8221;&#8230;kisah-kisah cover-up berulang terus, bahkan sampai ke jaman Daud, kegiatan menutup-nutupi dosa semakin canggih dan keji.</p>
<p>***</p>
<p>Sebelumnya, ketika kita membaca artikel ini, saya mengajak pembaca untuk merefleksikan kisah-kisah ini ke dalam kehidupan masing-masing. Kadang kita begitu mudah untuk menjadi judgmental atau menghakimi Daud, padahal kita sendiri tidak berbeda dengan Daud. Daud yang akan kita bahas adalah Daud yang sama yang dipilih Tuhan, Daud yang artinya &#8220;a man after God&#8217;s heart&#8221;. Oke, mari kita bahas tentang &#8220;cover-up&#8221; atau mungkin lebih tepatnya konspirasi Daud &#8211; Betseba.</p>
<p>Coba bayangin situasi Daud. Waktu itu Daud umurnya sekitar 50 tahun. Udah 20 tahun jadi raja. Menang perang terus. Dia tau Tuhan berada di pihaknya. Mungkin karena saking nyamannya, Daud mulai melanggar perintah Tuhan. Misalnya, Tuhan melarang Daud memperbanyak istri (<a href="http://sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=5&amp;c=17&amp;version=tb&amp;lang=indonesia&amp;theme=clearsky" target="_blank">Ulangan 17:14-17</a>), tapi Daud menambah istri terus. Daud mestinya pergi berperang, tapi dia ada di istana, membiarkan anak buahnya berperang (2 Sam 11:1). Dengan kondisi seperti ini lah, Daud jatuh.</p>
<p>Di sisi lain, Betseba yang kata Alkitab sangat cantik (<a href="http://sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=10&amp;c=11&amp;version=tb&amp;lang=indonesia&amp;theme=clearsky" target="_blank">2 Sam 11:2</a>), mandi di atap rumah. Mungkin common pada jaman itu, tapi di salah satu buku commentary yang saya baca, Betseba sebenarnya sadar kalau dia mandi di atap, dia bisa terlihat dari Istana Daud (hmmm&#8230;Betseba sendiri menyebar temptation?). Daud yang udah penuh lust menyuru anak buahnya cari info tentang Betseba, dan anak buahnya menjawab &#8220;Dia itu Betseba, istrinya Uria&#8221;. Disini anak buahnya udah coba peringati Daud kalo ybs itu istri orang. Singkat cerita, terjadilah perzinahan, Daud menghamili Betseba.</p>
<p>&#8220;Cover-up&#8221; dimulai. Daud tau dia salah. Tapi dia coba tutupi kesalahan dia, dia coba menyelesaikan masalah dengan cara manusia. Dia atur sedemikian rupa supaya Uria pergi berperang dan mati. Kemudian setelah Uria meninggal, Daud menikahi Betseba. Tapi walaupun Uria udah meninggal, Daud kemudian menikahi Betseba, tapi Daud malah merasa semakin miserable, semakin merasa bersalah, hancur-hancuran. Ada rasa bersalah (guilty) yang Tuhan ijinkan terjadi di dalam hati Daud.</p>
<p>Mazmur 32:3-4 yang dia tulis demikian:</p>
<blockquote><p>Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. (Mazmur 32:3-4)</p></blockquote>
<p>***</p>
<p>Bukan kah kita juga pernah (atau mungkin sering?) mengalami seperti itu. Kita sering berkata &#8220;Tuhan, jangan lihat aku sekarang. Tuhan tutup mata dulu lah&#8221;. Kemudian kita melakukan apa yang sebenarnya Tuhan udah larang, walaupun mungkin larangan itu adalah hal yang kecil. Ujung-ujungnya setelah melakukan dosa, ada rasa bersalah yang membuat hidup semakin hancur. Kita merasa Tuhan menjadi jauh (padahal kita sendiri yang lagi bersembunyi dari Tuhan?). Kalau kita pikir, dari jaman Adam &amp; Hawa sampai sekarang yang kita alami, polanya sama. Tuhan larang &#8211;&gt; Tuhan peringatkan &#8211;&gt; Kita melarang perintah Tuhan &#8211;&gt; Kita merasa bersalah &#8211;&gt; Kita coba cari solusi sendiri &#8211;&gt; Kita merasa hancur/miserable, hidup penuh dengan rasa bersalah dan menyesal.</p>
<p>Baru-baru ini &#8220;cover-up&#8221; Tiger Woods baru terkuak di media. Hidup rumah tangga yang berantakan dipoles sedemikian hingga (dengan biaya jutaan dollar), agar terlihat baik di hadapan orang. Saya yakin dalam hatinya, Tiger Woods sendiri merasa bersalah ketika menutup-nutupi hidup yang sebenarnya. Ini kisah orang terkenal, diliput di media, tapi sebenarnya kita sendiri juga ada kisah masing-masing, yang mungkin cuma kita dan Tuhan yang tau.</p>
<p>Saya juga jadi ingat orang yang sakit lepra. Kalau udah parah, walaupun dia melukai bagian tubuhnya, gak akan terasa sakit. Gak kebayang kalau Tuhan udah gak kasih kita rasa bersalah (guilt), kita sebenarnya lagi melukai hidup ini, tapi kita sendiri gak tau/sadar. <span style="text-decoration: underline;">Mengerikan</span>. Saya percaya rasa bersalah yang sejati (true guilty feeling) adalah salah satu cara Tuhan untuk memimpin kita kembali pada Tuhan. Rasa bersalah sebelum kita melakukan dosa adalah suatu &#8220;alarm&#8221; yang Tuhan tanamkan dalam diri kita, sebelum kita melukai diri kita sendiri.</p>
<p>***</p>
<p>Kembali ke cerita Daud yang hancur merasa bersalah. Tuhan masih melakukan pola yang sama, Tuhan mencari Daud. Tuhan mengirim Nabi Nathan untuk confront Daud (coba baca <a href="http://sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=10&amp;c=12" target="_blank">2 Samuel 12</a>, seru). Dan bagian indah dari cerita ini, Daud bertobat. Walaupun bertobat, ada harga yang harus dibayar oleh Daud (baca di 2 Samuel). Setelah dikunjungin Nathan, Daud menulis Mazmur 51:2-3.</p>
<blockquote><p>Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (1 Yoh 1:9)</p></blockquote>
<p>Cover-up seringkali terlihat simple, terlihat seolah-olah bisa menyelesaikan masalah. Tapi implikasinya bisa panjang dan mengerikan. Kita tau itu salah, tapi kita diam saja, even worse kita pelihara habit itu. Kita gak mungkin berdiri di atas dua perahu, tidak mungkin terus-terusan berbuat dosa (dan tidak bertobat), dan bisa punya hubungan pribadi dengan Tuhan di waktu yang sama.</p>
<p>Next time Tuhan kasih kita rasa bersalah, mungkin itu peringatan awal untuk tidak berbuat dosa.<br />
Semoga artikel ini bisa menjadi berkat ^_^</p>
<p>***</p>
<p>Side notes:</p>
<ul>
<li> Jangan nyetir kaya orang di video di atas. Reckless.</li>
<li> Terima kasih untuk buku &#8220;Daud&#8221; karangan Charles Swindoll yang dipinjamkan pada saya. Bukunya tebal dan bagus, saya bacanya pelan-pelan. Jadi mungkin baru 2-3 bulan lagi saya balikin? ^_^</li>
<li> Terima kasih untuk liburan kali ini yang Tuhan kasih. Banyak hal yang diberesin, waktu gak terbuang sia-sia. Gak terasa Senin saatnya kembali bekerja, semoga bisa menyempatkan menulis/berbagi perenungan dan cerita sehari-hari di blog ini.</li>
<li> Somehow, kalau melihat ke belakang blog ini, udah nulis banyak juga. Tapi kadang malah sering lupa? Semoga bisa ada waktu untuk merenungkan/menerapkan apa yang ditulis. Otherwise, sia-sialah menulis.</li>
<li> Ketika nulis post ini, jadi ingat diskusi group bbrp bulan lalu. Dimana kita semua sebagai satu group punya banyak hal yang kita tau salah, tapi seolah-olah susah berubah/diubah? hmmm&#8230;jangan menyerah</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/01/cover-up/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waktu</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2010/01/waktu/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2010/01/waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 08:07:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=847</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu sepulang kerja, saya menyempatkan diri mampir ke Chapters di downtown. Tujuannya cari kado, tapi seperti biasa, mampir ke bagian buku-buku sejarah, biografi, christian, juga ke psikologi. Disitu nemu buku-bukunya Philip Zimbardo. Ada buku Lucifer Effect, yang pernah dibawain kotbah di GII. Juga sebelahnya ada buku Time Paradox. Mulailah saya membaca beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu sepulang kerja, saya menyempatkan diri mampir ke Chapters di downtown. Tujuannya cari kado, tapi seperti biasa, mampir ke bagian buku-buku sejarah, biografi, christian, juga ke psikologi. Disitu nemu buku-bukunya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Philip_Zimbardo">Philip Zimbardo</a>. Ada buku Lucifer Effect, yang pernah dibawain <a href="http://vimeo.com/8040993">kotbah di GII</a>. Juga sebelahnya ada buku <a href="http://www.thetimeparadox.com/">Time Paradox</a>. Mulailah saya membaca beberapa bab pertama dari buku itu, yang ternyata membahas tentang waktu.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-849" title="Time" src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2010/01/time-300x240.gif" alt="Time" width="300" height="240" />Emang dimensi waktu selalu jadi misteri. Dimensi keempat ini selalu menjadi bahasan yang menarik. Film-film Hollywood dari jaman dulu sampai sekarang, biasanya tiap tahun setidaknya pasti ada satu yang mengangkat tema waktu/dimensi keempat. Pas kecil, kalau ada barangnya Doraemon yang boleh saya miliki, saya gak pengen minta kantong ajaib atau segala isinya, tapi saya milih mesin waktu. Sayangnya Doraemon hanyalah sebatas cerita. Sampai sekarang belum ada teknologi mesin waktu, adanya cuma di film-film. Ahli-ahli segala bidang pun cuma bisa sebatas memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan.<span id="more-902"></span></p>
<p><strong>Keputusan</strong></p>
<p>Masuk di tahun 2010 ini, banyak orang yang sering penasaran. Apa sih yang akan terjadi tahun ini? Setiap hari, kita membuat keputusan. Setiap keputusan menghasilkan perubahan (change/action), Zimbardo membagi empat respon. Misalnya, keputusan saya untuk kuliah enam setengah tahun lalu. Saya dihadapkan dua pilihan untuk terusin kuliah Petroleum Engineering di IGD (Institut Gajah Duduk) atau memulai dari awal lagi kuliah Information Systems di Canada. Terlepas dari hasil nyatanya kalau saya akhirnya pilih ke Canada (dan saya gak menyesali keputusan itu), kira-kira mungkin begini responnya:</p>
<p>Meneruskan kuliah di IGD</p>
<ul>
<li> Kalau ternyata di IGD sukses &#8211;&gt; &#8220;Tuh kan, udah bener kuliah di IGD. Udah susah-susah ikutan SPMB, kesempatan langka kaya gini gak dateng dua kali! Institut terbaik bangsa bung!&#8221;</li>
<li>Kalau ternyata di IGD gagal &#8211;&gt; &#8220;Yah, napa dulu terusin ambil Petroleum ya? Secara minyak dah mau habis. Nanti dua puluh tahun lagi mau kerja apa kalo minyak habis? Empat tahun yang sia-sia belajar korek2 tanah cari minyak&#8221;</li>
</ul>
<p>Meneruskan kuliah di Canada</p>
<ul>
<li> Kalau ternyata di Canada sukses &#8211;&gt; &#8220;Tuh kan, Indonesia emang madesu. Sekarang buktinya bisa survive di Canada. Gaji jauh lebih tinggi pula. Pekerjaan juga lebih dihargai&#8221;</li>
<li>Kalau ternyata di Canada gagal &#8211;&gt; &#8220;Sapa suruh datang ke Canada? Mahal-mahal kuliah, ujung-ujungnya kok gagal? Kuliah di Indo aja napa dari dulu? Gak nyusahin orang tua!&#8221;</li>
</ul>
<p>Respon di atas bisa diapplikasikan ke kasus yang lain. Mungkin itu adalah keputusan untuk pindah ke kota lain, keputusan untuk membeli rumah, keputusan untuk menikah, dll. Inti dari respon-responnya sih, manusia cenderung <span style="text-decoration: underline;">mencari justifikasi</span> dari keputusan yang telah diambil di masa lalu. Kalau responnya sesuai yang diharapkan yah dibangga2in (atau disyukuri?), kalo gak sesuai yah bisa jadi penyesalan, (atau di beberapa kasus malah jadi penyangkalan diri?)</p>
<p><strong>Penasaran</strong></p>
<p>Di jaman sekarang ini, ada banyak hal di dunia yang menawarkan jasa untuk menjawab rasa penasaran. Astrologi berdasarkan zodiak menyebar bak jamur di segala media (mulai dari koran, majalah, sms harian sampai ke facebook). Usia yang dibidik pun dari mulai anak-anak sampai orang tua, dari mulai ibu rumah tangga sampai ke professionals. Adapula, metode dukun, di Indonesia, Mama Loren dan juga mungkin mama-mama yang lainnya (duh!), lumayan laris buat acara infotainment. Semua diramalin, dari perceraian artis sampai hasil pertandigan sepak bola pun pernah diramal. Atau&#8230;cara rasional, misalnya memprediksi berdasarkan statistik. Beberapa saat lalu, di TED, ada artikel dimana <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hans_Rosling">Hans Rosling</a> (konon beliau adalah seorang ahli statistik) memprediksi kapan <a href="http://www.ted.com/talks/lang/eng/hans_rosling_asia_s_rise_how_and_when.html">Asia menjadi kekuatan ekonomi dunia</a>.</p>
<p>Kita jadi pengen tahu, masa depan kita seperti apa sih? Saya suka nanya pertanyaan ke temen-temen, &#8220;Lima tahun dari sekarang, kamu melihat diri kamu ada dimana dan sedang apa?&#8221;. Hmmm, responnya ya macem-macem. Alasan saya nanya sebenarnya lebih ke arah mengajak orang yang ditanya untuk berpikir tentang visi ke depan, harapan ke depan. Terus sekarang pertanyaanya diganti sedikit, &#8220;Lima tahun dari sekarang, Tuhan mau kamu dimana dan ngapain?&#8221; Hmmm&#8230;.cukup sulit, gak ada yang tahu pasti. Satu-satunya cara ya berdoa, tanya sendiri pada Tuhan, apa sih rencana Tuhan untuk kita?</p>
<p>Saya sering nanya tentang masa depan sama Tuhan, terutama kalo sedang bergumul tentang sesuatu. Alasannya sebenernya sederhana, karena saya (dan setiap manusia?) <span style="text-decoration: underline;">takut salah mengambil keputusan</span>. Ada rasa takut menyesal kalo keputusan yang diambil adalah keputusan yang salah. Macam-macam rasa takut. Takut salah memilih pekerjaan (atau panggilan). Takut salah memilih pasangan hidup. Takut salah mengasihi. Dan&#8230;.takut mengecewakan Tuhan.</p>
<p><strong>Petunjuk</strong></p>
<p>Untungnya Tuhan gak meninggalkan kita dalam kebingungan berkepanjangan. Ada Alkitab yang berisi banyak jawaban doa kita. Saya percaya Roh Kudus akan memimpin kita dalam setiap keputusan dalam hidup ini. Namun demikian&#8230;.</p>
<p>Orang kadang melontarkan kalimat seperti ini. &#8220;Yah, kamu telat. Mestinya kamu dulu begini. Momentnya sekarang udah hilang. Udah basi!&#8221;. Yah kalo apa yang dibilang adalah kritik konstruktif ya bersyukur lah sama ybs. Tapi kalo apa yang dibilangin adalah sesuatu yang sudah digumulkan di hadapan Tuhan, jangan merasa bahwa Tuhan menuntun ke arah yang salah. Percayalah Tuhan akan membantu kita menjalaninya.</p>
<p>Hmmm&#8230;saya percaya ketika kita dihadapkan pada suatu pilihan dan harus membuat keputusan. Jalan terbaik adalah membawanya ke dalam doa, dan minta tuntunan Tuhan. Kemudian jalani hal itu dengan sepenuh hati.</p>
<blockquote><p>Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: &#8220;Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. (Yesaya 48:17)</p></blockquote>
<p>Kadangkala, kita dihadapkan pada keputusan yang susah diambil. Dalam artian, keputusan yang harus diambil adalah keputusan yang bukan populer. Kalo ditimbang-timbang secara manusiawi, kayanya gak masuk di akal. Dalam hati sendiri juga gak pengen lakukan A, tapi Tuhan (melalui Alkitab) bilang harus lakukan A. Juga, dalam keterbatasan diri ini, semoga kita sudah mengartikan kebenaran Alkitab dalam konteks yang tepat. Mungkin banyak orang (dan mungkin juga teman terdekat?) akan mencibir atas keputusan yang kita ambil.</p>
<blockquote><p>Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN. (Ratapan 3:26)</p>
<p>Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: &#8220;Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu&#8221; (Yesaya 30:15)</p></blockquote>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Masa depan adalah misteri, dan biarlah tetap menjadi misteri. Seperti lirik lagu, &#8220;Jam kehidupan diputar sekali, dan tak seorangpun tau kapan kan berhenti. Mungkin hari ini, mungkin besok, mungkin nanti, cepat atau lambat, tak seorangpun tau bila waktunya&#8221;.</p>
<p>Akhir kata, bawa dalam doa, dan mohon tuntunan dan hikmat dari Tuhan tentang jalan yang harus kita tempuh di dunia ini. Bisa jadi keputusan yang harus diambil adalah keputusan yang sulit dan gak enak. Ketika kesulitan muncul, jangan menyesali keputusan yang sudah diambil, tapi diamlah dan percayalah (in quietness and trust) pada Tuhan. Semua itu mendatangkan kebaikan dan indah pada waktuNya.</p>
<p>Tetapkan hatimu, kokohkan pijakanmu, jalani panggilanmu!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2010/01/waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menemukan Idols</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/12/menemukan-idols/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/12/menemukan-idols/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 22:40:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=796</guid>
		<description><![CDATA[Bagian dari refleksi setelah dua bulan ini baca bukunya J.I. Packer yang judulnya Knowing God. Buku ini emang sering banget direkomendasiin sama hamba Tuhan. Konon katanya, buku ini cocok buat orang yang masih dalam tahap awal mengikut Tuhan. Dalam hati saya pikir, wah itu saya. Walaupun Kristen sejak lahir, tapi perjalanan rohani sesungguhnya baru tumbuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagian dari refleksi setelah dua bulan ini baca bukunya J.I. Packer yang judulnya Knowing God. Buku ini emang sering banget direkomendasiin sama hamba Tuhan. Konon katanya, buku ini cocok buat orang yang masih dalam tahap awal mengikut Tuhan. Dalam hati saya pikir, wah itu saya. Walaupun Kristen sejak lahir, tapi perjalanan rohani sesungguhnya baru tumbuh enam tahun belakangan ini. Setelah baca dari bab satu ke bab selanjutnya, buku ini berat juga doktrinnya (bagi saya).<span id="more-894"></span></p>
<p>Di salah satu chapter buku ini membahas tentang perintah Allah kedua yang berbunyi demikian:</p>
<blockquote><p>Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku. (Keluaran 20:4-6)</p></blockquote>
<p>Dulu pas jaman smp, sebagai bagian dari ujian agama, saya *dengan terpaksa* menghapalkan ayat ini, tanpa terlalu peduli isinya. Yah intinya sih, beberapa perintah pertama isinya tentang Tuhan, sisanya tentang hubungan kita dengan sesama. Tapi sekarang setelah mencoba re-visit lagi, ternyata ada persepektif berbeda. Perintah yang pertama kan udah jelas, &#8220;Jangan ada allah lain di hadapanku&#8221;. Tapi kenapa perintah kedua kaya mengulang perintah pertama (secara lebih detail)? Ternyata setelah dibaca versi bahasa Inggrisnya emang sedikit lebih membantu, bunyinya begini &#8220;You shall not make for yourself a carved image, or any likeness&#8221;</p>
<p>Ternyata bukan cuma patung toh&#8230;tapi segala image apapun, bahkan yang serupa.</p>
<p>Beberapa hari setelah membaca chapter ini, saya tutup buku itu, kemudian saya lanjut lagi buku lain (yang lebih mudah dicerna). Di sela-sela itu, nyambung juga sama apa yang saya baca dari blognya Pak Agus Sadewa. Isinya tentang pertanyaan-pertanyaan menemukan idols dalam hidup kita:</p>
<blockquote><ul>
<li>What is my greatest nightmare? What do I worry about most?</li>
<li> What, if I failed or lost it, would cause me to feel that I did not even want to live? What keeps me going?</li>
<li> What do I rely on or comfort myself with when things go bad or get difficult?</li>
<li> What do I think most easily about? What does my mind go to when I am free? What preoccupies me?</li>
<li> What unanswered prayer would make me seriously think about turning away from God?</li>
<li> What makes me feel the most self-worth? What am I the proudest of?</li>
<li> What do I really want and expect out of life? What would really make me happy?</li>
</ul>
<p>- Timothy J. Keller, and Redeemer Presbyterian Church 2005</p></blockquote>
<p>Oh, saya jd teringat sama apa yang saya baca dari bukunya Packer. Seringkali emang allah-allah lain dalam hidup kita lebih dari sekedar patung, itu bisa jadi segala hal yang bisa mengalihkan pandangan kita dari Tuhan yang sejati. Bisa jadi itu adalah ketakutan kita sendiri? Sesuatu yang kita paling kita banggakan? Sesuatu yang membuat kita nyaman? Bisa jadi itu pekerjaan, rumah, barang berharga, internet, facebook, atau bahkan bisa juga dalam bentuk orang terdekat kita seperti keluarga, teman, atau juga pacar. Lebih lanjut baca bukunya Packer, yah emang dijelasin sih bahwa Tuhan itu sebenernya kita mengenal Tuhan adalah sebagai Tuhan (I am I). Tuhan gak mau dikenal atau dibatasi melalui ciptaanNya. Saya jadi teringat suatu ungkapan, &#8220;Sembahlah Tuhan, bukan apa yang diberikanNya&#8221;. Itulah yang Tuhan tuntut dari kita.</p>
<p>Saya memiliki suatu pekerjaan, bukan pekerjaan memiliki saya. Saya memiliki sebuah mobil, bukan mobil yang memiliki saya. Saya memiliki uang, bukan uang memiliki saya. Kalau dipikir-pikir, emang bener sih. Kita boleh memiliki sesuatu (yang tentunya Tuhan berikan), tapi jangan sampai apa yang kita punya itu berbalik jadi memiliki kita. Jangan sampai pekerjaan bisa menjadi idols, rumah menjadi idols. Oke lah kalau soal barang, itu lebih mudah dimengerti. Tapi kalau sekarang idols dalam hidup kita itu adalah orang, bagaimana? Kita bisa saja menjadikan diri kita menjadi idols (mencari kesenangan diri sendiri, hedon).</p>
<p>Nah, saya jadi ingat lagi sama renungan dari Pak Agus yang sempat saya sharingkan sama abang saya 1.5 tahun yang lalu. Setelah mengubek-ngubek Gmail, ternyata emailnya masih ada. Artikel tentang Ismail, cukup menarik secara selama ini kita lebih sering dengar tentang Ishak dibanding Ismail. Abraham emang cukup unik sih. Berikut petikan ceritanya:</p>
<blockquote><p>Kelahiran Ishak yang dinanti-nanti oleh Abraham dan Sara, pun oleh kita pembaca kisah mereka, tak semeriah yang kita harapkan. Nyatanya, hanya 7 ayat diberikan untuk membicarakan hal itu. Setelah 25 tahun menanti, dan 9 pasal kita lalui, mengapa hanya begini? Kita tentu saja berharap Musa bisa menulis lebih banyak dari ini. Tapi mungkin ia hendak menyampaikan suatu pesan yang tak kalah penting dari berita kelahiran Ishak. Ada pelajaran yang Tuhan hendak berikan pada Abraham, bapa dari orang-orang beriman itu, yang pembaca perlu petik. Apakah itu?</p>
<p>Lihat ayat-ayat selanjutnya, mulai ayat 8. Setelah Ishak bertambah besar, ia disapih, lalu Abraham membuatkan sebuah pesta besar. Sebagai catatan: bagi orang-orang kuno di zaman Abraham, seorang anak barulah disapih pada usia 3 &#8211; 4 tahun. Jadi, umur Ismael, kakak lain ibu dari Ishak, pada waktu itu sudah sekitar 16 &#8211; 17 tahun. Ia sudah bukan kanak-kanak lagi. Maka, di ayat 17 ia disebut &#8216;the lad.&#8217; Di pesta besar itulah Sara mengamuk besar. Apa gerangan sebabnya?</p>
<p>Ayat 9 memberitahu kita bahwa Sara melihat Ismael main dengan Ishak. Lho mengapa main-main saja dilarang? Terjemahan Indonesia (LAI) dan sejumlah versi Inggris agaknya keliru menerjemah &#8216;mishak&#8217; jadi bermain. Sebenarnya dengan mempelajari struktur bahasa Ibrani secara lebih teliti, kita bisa menemukan permainan kata dalam ayat tersebut. Mishak tak lain ialah kembangan dari kata Ishak (ketawa). Terjemahan (atau agaknya transliterasi lebih tepat) yang harafiah seharusnya anak Hagar, Ismael, &#8216;mengishak&#8217;-kan Ishak, putranya sendiri. Oleh karena Ishak berarti ketawa, mungkin yang dimaksudkan adalah Ismael menertawai, mengolok, mempermainkan Ishak. Itulah sebab Sara mengamuk besar di pesta besar itu, di hadapan para tamu besar dan kecil ia desak Abraham agar mengusir Hagar beserta putranya itu. &#8220;Kaulah yang harus bertindak, Abraham. Sekarang juga usir hamba perempuan itu beserta dengan putranya yang amat kaukasihi itu, sebab ia tak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan putraku, Ishak.&#8221; Begitu kira-kira ia berkata pada Abraham. Mungkinkah Abraham menganggap Ismael akan menjadi ahli waris, sekurang-kurangnya bersama dengan Ishak? Nampaknya ya.</p>
<p>Saya menemukan hal lain tersirat dalam permainan kata &#8216;mishak.&#8217; Sara menerima Ishak (ketawa) dalam hidupnya; dan itu berkat Tuhan. Tapi Ismael yang bukan ahli waris itu berlaku seakan ialah ahli waris dengan menertawai Ishak, sang ketawa yang sesungguhnya. Sara cukup tajam melihat apa yang sedang berlangsung. Jika hal ini dibiarkan, maka Ishak pun suatu hari bisa digantikan oleh Ismael. Barangkali kesalahan tak sepenuhnya bisa ditimpakan pada Ismael, oleh karena Abraham sebenarnya ikut berperan besar. Apakah Abraham telah membiarkan hal itu terjadi? Jangan-jangan ia malah melindungi Ismael dari Sara.</p>
<p>Maka Abraham pun sangat kesal oleh karena ihwal putranya itu (ayat 11). Perhatikan bukan perihal Hagar yang disebut, tapi putranya, Ismael. Saya yakin jika Tuhan tak bersabda padanya membenarkan apa yang dikatakan oleh Sara, ia tak akan mengabulkan permintaan istrinya itu. Sebab hatinya begitu mencintai Ismael, putra satu-satunya selama 13 tahun, bahkan setelah Ishak lahir tak mudah baginya untuk berpindah ke lain hati. Tapi ia tahu bahwa sejak awal Tuhan telah menetapkan bahwa Ishak bukan Ismael yang akan menjadi ahli waris. Ia tahu itu, Ia hanya hendak mengingkarinya.</p>
<p>Kecintaan Abraham pada Ismael dideskripsikan secara subtil dalam ayat 14. Urutan dalam terjemahan Indonesia lagi-lagi tak tepat. &#8220;Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi.&#8221; Tidak masuk akal, Ismael yang sudah sebesar itu masih ditaruh di bahu Hagar. Terjemahan yang lebih tepat seharusnya, &#8220;Ia meletakkan itu di atas bahu Hagar, beserta anaknya …&#8221; Jadi, Ismael berada di urutan terakhir. Mungkin itu isyarat bahwa Abraham berat sekali melepas Ismael.</p>
<p>Kisah Abraham menyadarkan saya akan dua hal: betapa keras hati manusia dan betapa sabar Tuhan berurusan dengannya. Tuhan tak hanya sekali mengingatkan, meneguhkan janji, dan membawa Abraham kembali ke jalan yang Ia perkenan, tapi berkali-kali. Berkali-kali Abraham jatuh, mengambil jalan yang ia pandang baik. Sempat ia tetapkan sendiri Eliezer, budaknya, menjadi ahli waris. Dua kali ia serahkan Sara kepada lelaki lain (Firaun dan Abimelekh) demi untuk menyelamatkan diri sendiri. Sekarang Ismael, buah perkawinannya dengan Hagar, budak perempuannya, pun mengancam penggenapan rencana Tuhan. Saya heran mengapa Tuhan begitu sabar. Tak pernah Tuhan menegur Abraham dengan keras. Di sini, di seluruh kisah Abraham-Sara, Tuhan bersuara lembut sekali.</p>
<p>Suara teguran yang keras kepada Abraham selalu datang dari pihak lain, seperti Firaun, Abimelekh, dan kali ini Sara. Walau jari telunjuk Sara barangkali mengarah pada Hagar dan Ismail, saya percaya, persoalan sesungguhnya terletak pada diri Abraham. Sebagai pemegang janji Tuhan, ia tak semestinya membiarkan Ismael mengambil hak waris Ishak. Attachment dengan Ismael yang telah terbentuk bertahun-tahun lamanya membuat Abraham lupa diri dan lupa janji. Dalam hal ini Sara, meski bercampur dengan kebencian, berkata benar: Ismael tak akan mendapat bagian Ishak. Tentu saja harus dicatat: Ismael juga akan dibuat menjadi suatu bangsa besar. Tapi itu sebuah kisah yang lain.</p></blockquote>
<p>Kesimpulan yang waktu itu saya tulis sama abang saya begini&#8230;lucunya kondisi saya waktu itu dalam keadaan sangat baik, belum &#8220;mengerti&#8221; rasanya harus melepas teman-teman dekat yang saya kasihi dengan tulus:</p>
<blockquote><p>Melepas sesuatu yang berharga dari hidup ini tidaklah mudah, apalagi jika yang harus kita lepas ialah seseorang yang telah bertahun-tahun kita miliki dan cintai seperti anak. Tapi Tuhan menjanjikan sesuatu yang jauh lebih baik, yang saat ini tak bisa kita terima dengan lapang dada, karena mungkin cinta kita pada dunia lebih kuat daripada cinta kita kepada Tuhan.</p></blockquote>
<p>Kita emang bisa dengan mudah bilang kaya gini, &#8220;Yah Bram, kan Tuhan udah bilang kalo nantinya Ishak yang bakal nerusin garis keturunanmu. Kok susah amat sih ngelepas Ismail, anak dari hambamu itu? What&#8217;s the big deal, Bram?&#8221; Kalo kita jadi Abraham, kira-kira gimana? Tapi ya sepertinya Tuhan benar-benar menekankan tentang hal ini sama Abraham. Abraham mungkin tipe orang yang takut kehilangan keluarganya. Terbukti pada saat Abraham diminta mempersembahkan Ishak. Terbukti kembali pada saat Abraham berbohong bahwa Sarah bukanlah istrinya tapi saudaranya (karena takut kehilangan). Tuhan terus menguji kesetiaan iman Abraham. Maka lahirlah julukan, bapak orang beriman&#8230;</p>
<p>Emang (bagi saya, setidaknya) ikut Tuhan itu sulit. Segala pikiran benar-benar harus selalu tertuju pada Tuhan. Kita diminta menempatkan apa yang kita punya pada tempat yang sepantasnya. Ketika kita mengasihi seseorang, jangan sampai kita lebih mengasihi dia lebih dari Tuhan. Akhir kata, yah disini lah saya sekarang belajar dengan jatuh bangun untuk menyingkirkan segala macam &#8220;idols&#8221; yang ada dalam hidup. Semoga artikel ini bisa menjadi berkat bagi Anda sekalian.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/12/menemukan-idols/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Psalms for the troubled heart</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/12/psalms-for-the-troubled-heart/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/12/psalms-for-the-troubled-heart/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 20:16:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=724</guid>
		<description><![CDATA[Every week at church I attend for the last four months here in Vancouver, we read Psalms chapter by chapter. What interests me is that the book of Psalms is rich of emotions. When I read Psalms, I try to put myself in the psalmist&#8217;s shoes, trying to see what he saw, and feeling what [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Every week at church I attend for the last four months here in Vancouver, we read Psalms chapter by chapter. What interests me is that the book of Psalms is rich of emotions. When I read Psalms, I try to put myself in the psalmist&#8217;s shoes, trying to see what he saw, and feeling what he felt. Sometimes it is a praise full of joy, &#8220;Oh Lord oh Lord, how majestic is Your name in all the earth&#8221; (Psalm 8)&#8230;and we like that song. The next day, we flip over to Psalm 10:1, &#8220;Why O Lord do you stand far off?&#8221;.</p>
<p>Isn&#8217;t it life we live? Sometimes a sad day comes right after a happy one. Sometimes we praise the Lord, and the next day we complain to God. Some people have this idea that crying and complaining to God is a sign of poor faith. That if you have strong faith you should not feel weak. Some pastors and teachers convey the idea that good Christians don&#8217;t cry, they are always happy and upbeat. So some churches and home environments become places where people engage in denial, bottling up pain that life brings up for them. Some pastors lead people to believe that we should always be positive and happy and upbeat, no tears here, we are strong people, we are people of faith. For me, that is simply unreal and it is not what I found from the Bible.<span id="more-724"></span></p>
<p>Well, I spent more than a year at a church where failures are seen as results of poor faith. I was one of the people who believe &#8220;speak it, believe it, receive it&#8221;. As a result, really, my relationship with God was empty &#038; full of denial. People don&#8217;t embrace honest worship to God. Thank God summer last year God came to rescue me although the rescue plan came at a cost which includes broken-hearted relationship, being abandoned, and lost of friends. Today, the more I realize that those hardships really has brought my relationship with God to a whole different level. <strong>It is said that the dark cloud of troubles is often the shadow of God&#8217;s wings. Be still and know that He is God =)</strong></p>
<p>These laments in Psalms tell us that God wants us to be honest in our worship. When we lost our loved ones, when a spouse leave a marriage, when we lost our health, it is ok to not always smile, it is ok to not always jump up and down and worship, it is ok to be still before God and grieve and cry to face our pain and disappointment and to pour out our heart to God in prayer.</p>
<p>Make no mistake, while God wants us to share our complaints, our doubts, and our pain with Him, He does not want us to stay there. Some people (including me many times) seem to get stuck there. God does not want us to get stuck there.</p>
<p>Living in this fallen world, we are not intended to handle a lot of stuffs on our own. So God wants us to take it to Him in prayer. In all of these laments, the Psalmists admit there are some unpleasant realities that we as child of God live: there are not always quick solutions to our problems. Jesus himself mentioned that we will face problems in this world. And often those problems will cause us to complain to God. And that is ok. But like King David here, <strong>at some points, we need to move past our lament</strong>. Notice first half of Psalm David is weeping complaining but that changes in the second half of the Psalm (But I trust in Your unfailing love! Psalms 13:5)</p>
<p>David focuses on what he knows to be true, not his feeling. He begins to do what he needs to do. Ecclesiastes says there are times for everything (Ecclesiastes 3:1-15). And so it must be with us. We come to Him with trust believing Him in His goodness. There are a lot of people we cannot trust. But we can always trust God. <strong>When our lament flows out of deep trust with God, He will use our complaints to heal our spirit and to draw us closer to Him</strong>.</p>
<p>My life makes no sense in many occasions. It feels like that my life has been put in jeopardy. There are big doubts in most areas of my life (family, jobs, friends, relationship, etc). But it is also very true that in the midst of this, God still loves us. After going through some difficulties, it is beautiful to understand and sing a hymn &#8220;turn our eyes upon Jesus.&#8221; Also, God has graciously give so many heroes to stand beside me in life. Hope I can be one too for them somehow.</p>
<p>We trust, we pray, we obey, and then we just hold on, we may raise hard questions and complaints but we don&#8217;t walk away from God. We hold on to Him, we refuse to let go. <strong>Even when life makes no sense, we don&#8217;t let go. Even when pain persists, we hold on. Even there is no quick answer to our prayers, we hold on because we know that God holds us.</strong> He hold us in the name of Jesus Christ who himself went ahead to the cross to give us salvation. We hold on and we look ahead the day when Jesus Christ will come again, and we will experience full and complete resolution of all these difficulties in life.</p>
<p>Amazing love how can this be that You my God would die for me? And how about your life? Grace and Peace to you&#8230;Amen! =)</p>
<p>Vancouver, 3 weeks to Christmas 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/12/psalms-for-the-troubled-heart/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Tuhan itu adil?</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/11/apakah-tuhan-itu-adil/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/11/apakah-tuhan-itu-adil/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 21:01:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=647</guid>
		<description><![CDATA[Seringkali saya bertanya, apakah ada keadilan di dunia ini? Di dunia ini kita selalu ditanamin konsep tentang keadilan. Orang berbuat jahat akan dihakimi dan diberi konsekuensi. Tapi itu dari perspektif hukum. Bagaimana dengan persepektif Alkitab? Menarik. Apakah yang Alkitab bilang adil itu ketika kita disuru kasi pipi kanan klo pipi kiri ditampar? Itukah adil? Lalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seringkali saya bertanya, apakah ada keadilan di dunia ini? Di dunia ini kita selalu ditanamin konsep tentang keadilan. Orang berbuat jahat akan dihakimi dan diberi konsekuensi. Tapi itu dari perspektif hukum. Bagaimana dengan persepektif Alkitab? Menarik. Apakah yang Alkitab bilang adil itu ketika kita disuru kasi pipi kanan klo pipi kiri ditampar? Itukah adil? Lalu bagaimana dengan hukum tabur tuai? Apa yang kita tabur, itu yang kita tuai. Bukan kah itu lebih terdengar adil?</p>
<p>Mungkin bagian2 dari Alkitab yang saya sebutkan di atas masih abstrak untuk dibayangkan. Kemudian saya coba comot beberapa cerita di Alkitab. Doa Yabes (1 Tawarikh 4:10) yang isinya permohonan agar kita diberkati, fokus pada diri sendiri, eh Tuhan kabulkan. Musa cuman kesalahan kecil, gak masuk Kanaan (Bilangan 20:11). Stefanus mati dilemparin batu (Kis 8:1). Cerita tentang pelayan istri Naaman yang mengalami penderitaan tapi gak pendendam (2 Raja-raja 5). Dan juga cerita-cerita lainnya.<span id="more-647"></span></p>
<p>Dari peristiwa2 yang ada, jika kita melihat dari perspektif manusia, Tuhan itu gak adil. Ada yang udah jadi hamba Tuhan setia, baik hati, tapi akhir hidupnya tragis. Tapi ada orang-orang yang di hadapan Tuhan gak &#8220;berkorban&#8221; banyak, fokus pada diri sendiri, tapi Tuhan berkati juga. Tapi kemudian, apakah kita punya hak untuk menuntut keadilan?</p>
<p>Nah disini kita udah mulai melakukan <span style="text-decoration: underline;">perbandingan</span>, perlu ekstra hati-hati ketika kita mulai membandingkan sesuatu. Tuhan kok begitu sama dia sedangkan sama saya ngga? Saya jadi ingat cerita tentang anak sulung iri dengan anak yang hilang disambut meriah, Esau vs Yakub, Kain vs Habil. Ada rasa iri ketika kita mulai membanding2kan diri sendiri terhadap orang lain. Apakah Tuhan berkenan dengan iri hati? Tentu ngga kan? Lantas gmana? *makin bingung kan?*</p>
<p>Sebelum makin bingung saya coba melangkah mundur sedikit&#8230;</p>
<p>Oke lah, kita putuskan untuk gak banding2kan, tapi isi hati gak bisa dipungkiri. Kita bisa jadi sering membaca berulang2, Mazmur 37 dan Mazmur 73. Dimana ada penghiburan ketika kita dijahati oleh orang fasik, disitu dikatakan bahwa Tuhan punya rencanaNya bagi orang fasik. Jadi bisa dibilang Tuhan lah yang akan memberikan pembalasan jika itu emang kehendakNya. Saya mengatakan amin pada apapun yang Alkitab katakan.</p>
<p>Kita pasti ingat dengan Ayub yang Tuhan ijinkan kehilangan harta, anak2nya, teman2nya. Dalam benak kita nasib Ayub sungguh kasihan. Mungkin bagian favorit kita adalah ketika Tuhan memulihkan Ayub. Namun, sekali lagi namun, apakah kita pernah bagaimana perasaan anak2 Ayub yang harus meninggal? Apakah anak2 Ayub berpikir Tuhan itu adil? Mungkin anak2 Ayub mikir, &#8220;apa salahku sampai aku harus meninggal dengan cara begini?&#8221;&#8230;Atau gimana perasaan ibu2 yang anaknya meninggal dibunuh pada jaman Herodes? Gimana perasaan Stefanus yang mati dilempar batu? Dimana keadilan?</p>
<p>Kesimpulan yang akhirnya saya dapatkan dan renungkan&#8230;</p>
<p>Ada masa-masa sulit dimana seringkali kita tidak mengerti apa yang kita alami. Kita merasa kita tidak mendapatkan keadilan yang kita layak dapatkan. Masa sulit tuk dimengerti ketika Tuhan seolah tidak menjawab doa kita yang tulus. Masa sulit dimana Tuhan mengijinkan/membiarkan/merencanakan hal yang gak enak dalam hidup kita.</p>
<blockquote><p>Sebab <span style="text-decoration: underline;">segala sesuatu</span> adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36).</p>
<p>Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam <span style="text-decoration: underline;">segala sesuatu</span> untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:28)</p></blockquote>
<p>Dalam dua ayat di atas, <span style="text-decoration: underline;">fokus hidup ini bukanlah hidup kita sebagai manusia</span>, tapi segalanya itu untuk <span style="text-decoration: underline;">kemuliaan Tuhan</span>, yang telah menciptakan kita semua. Di tengah-tengah kondisi sulit, teruslah <a href="http://adimulia.net/blog/2009/09/sarah/">berharap padaNya</a> karena Tuhan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatang kebaikan, the ultimate good from God&#8217;s perspective.</p>
<p>ps: perlu pemikiran yang sangat hati-hati ketika kita mengalami kesulitan. Bisa jadi emang kita yang bikin salah/dosa. Janganlah terlalu mudah untuk berkata, &#8220;ah, Tuhan mungkin sudah mengorbankan saya tuk kemuliaanNya&#8221;.  Teruslah berjuang, baca firmanNya, artikan dalam konteksnya, dan berdoa!</p>
<p><em>Lord, help me walk with You each day,<br />
Attune my heart to what You&#8217;ll say;<br />
And show me how to read and pray<br />
When pressing needs get in my way. &#8211;Sper</em></p>
<p><em>And remember, God always love you. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/11/apakah-tuhan-itu-adil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Life-giving friends</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/10/life-giving-friends/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/10/life-giving-friends/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 22:56:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[Life can be very hard. &#8220;&#8230;no matter how hard we try to bring order and peace into our lives, there are moments when everything seems to be falling apart and times when we not only feel we are drowning but are sure someone or something is holding us under&#8221; (Paul J. Wadell, Becoming Friends, 112-113). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2009/10/friendship1.jpg" alt="friendship1" title="friendship1" width="300" height="198" class="alignnone size-full wp-image-502" /></p>
<p>Life can be very hard. &#8220;&#8230;no matter how hard we try to bring order and peace into our lives, there are moments when everything seems to be falling apart and times when we not only feel we are drowning but are sure someone or something is holding us under&#8221; (Paul J. Wadell, Becoming Friends, 112-113). Already we are seeing increasing incidences of depression, suicide and domestic violence as the global economy continues to tank. A closer look at the stats however, suggests that it is not the blows of life that finally get us. It&#8217;s having to face them alone.<span id="more-496"></span></p>
<p>My fear is that the pace and the structure of modern society leave many of us bereft of even one true friend much less two. Unfortunately the church community can be as lonely as the world. There is a prevalent triumphalism that teaches, or at least implies, that if you are walking right with God, you should have no problems, and that if you do have difficulties, you should be able to overcome them easily. Such an attitude leads to much superficiality in church-based relationships where people hardly know each other much less share their deepest struggles. We note that Jesus, truly God and truly man, and our model of what it means to be truly human, did not shy away from sharing His deepest struggles and His need for community.</p>
<blockquote><p>[Then Jesus went with them to the olive grove called Gethsemane, and he said, "Sit here while I go over there to pray." He took Peter and Zebedee's two sons, James and John, and he became anguished and distressed. He told them, "My soul is crushed with grief to the point of death. Stay here and keep watch with me." (Matthew 26:36-38 NLT)]</p></blockquote>
<p>We need our friends in good times, to share our joys, and we surely need our friends in tough times, to help give us the courage to carry on. Paul J. Wadell cites Aelred on this aspect of friendship.</p>
<p>[A second reason Aelred says we need good friendship is that life is often hard for us, more than any of us can handle alone ... None of us can navigate the perils of life alone, and we shouldn't try to do so. Sometimes we need to be rescued. Sometimes we need others to lean on, someone to take our hand and guide us along when our luck runs out, and this is what friends do for us. At moments of chaos and confusion, suffering and loss in our lives, they do not want us to be alone. They want to be with us and help us though our tribulations. (Becoming Friends, 112-113)]</p>
<p>I say a loud &#8220;amen&#8221; to Aelred and Wadell. As I look back on my life, I note the times of deep brokenness and despair. For each of those moments I can name the names of the friends who were there for me. Without them I would have been lost a long time ago. I cannot thank them enough. I can try to pass it forward. I can try to walk with my friends in their times of &#8220;chaos and confusion, suffering and loss&#8230;&#8221;</p>
<p>Do you have life-giving friends in your life? The thing is, you can&#8217;t treat friends like a fire extinguisher, &#8220;breaking the glass&#8221; to get to them only in times of crisis, when we need them. We value our friends for whom they are and not for what we can get out of them. Therefore in good times or bad we need to make time for our friends. We need to meet up with them regularly to share our lives. In good times we may fool ourselves into thinking that we can go it alone. One of the redeeming features of tough times is that it reminds us that none of us can go it alone.  We need God. And we need our friends.</p>
<p>Book cited. Wadell, Paul J.  Becoming Friends.  Grand Rapids, MI: Brazos Press, 2002. The quotation above I read in a presentation file given by a Navigator last month.</p>
<p>***</p>
<p>My brother wrote the above to me when I faced hard times in life. I truly believe that every problem will bring us closer to Lord Jesus, especially the unspeakable problem, it will make us strong. And I am thankful to be able to name the names of friends who were there for me <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/10/life-giving-friends/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Detour</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/10/detour/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/10/detour/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 18:29:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan saya sering berenung, hidup ini mau dibawa kemana. Mungkin tepatnya lebih ke arah reflektif. Ya, hidup ini emang berubah sejak saya mengakui Yesus sebagai juruselamat satu-satunya. Ibarat biji yang jatuh ke tanah dan mengalami masa dormant, baru tahun kemarin lah tunas iman itu tumbuh. Tahun kemarin secara rohani saya merasa capek banget dengan drama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gunung-batu.com/wp-content/uploads/2009/10/isp2087636_p-300x199.jpg" alt="isp2087636_p" title="isp2087636_p" width="300" height="199" class="alignnone size-medium wp-image-444" /></p>
<p>Belakangan saya sering berenung, hidup ini mau dibawa kemana. Mungkin tepatnya lebih ke arah reflektif. Ya, hidup ini emang berubah sejak saya mengakui Yesus sebagai juruselamat satu-satunya. Ibarat biji yang jatuh ke tanah dan mengalami masa dormant, baru tahun kemarin lah tunas iman itu tumbuh. Tahun kemarin secara rohani saya merasa capek banget dengan drama teologi kemakmuran, praktek doktrin kesembuhan ilahi yang menyimpang, ajaran2 ngaco tentang Roh Kudus. Proses dan pengalaman mengenal Tuhan bener-bener harus selalu diuji dengan terang kebenaran Alkitab, kalo ngga gawat jadinya. Ya, apa yang saya kejar dalam hidup ini perlahan berubah. Sekarang&#8230;walaupun sering jatuh bangun, kerinduan untuk mengenal Tuhan lebih berharga dari semua &#8220;iming2&#8243; ikut Tuhan. Coba baca <a href="http://www.sabda.org/sabdaweb/passages/?p=Yeremia+9&#038;s=on">Yeremia 9:23-24</a> untuk mengerti lebih lanjut <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <span id="more-443"></span></p>
<p>Tapi&#8230;proses mengenal Tuhan itulah yang sering bikin hidup lebih hidup, deg2an malah iya. Ibarat GPS, saya udah set tujuan akhirnya dimana, insha Allah di surga. Tapi di tengah jalan, selalu ada detour. Detour itu bentuknya macam-macam, bisa dalam bentuk masalah pekerjaan, broken relationship, keluarga, gereja, teman, dll. Gara-gara &#8220;detour&#8221; ini juga iman sering diuji, seolah gak ada habisnya. Semakin hari dibikin semakin ngerasa nothing, ada banyak kekurangan diri. Tapi ya itu yang bikin heran juga, setelah lewat &#8220;detour&#8221; ini ada rasa joy. Oh, Tuhan ternyata ijinkan saya mengenal Dia lebih dalam lagi melalui detour2 itu.</p>
<p>Ada cerita menarik. Tahun 2004 lalu, Jet Li jalan2 ke Maldives sama istri dan dua anaknya yang masi kecil, mereka liburan Christmas. Mereka tinggal di hotel <a href="http://www.fourseasons.com/maldives/">Four Seasons</a>. Tempatnya di pinggir pantai, bagus banget. Tanggal 26 Desember pagi, anaknya minta ditemenin berenang sama main ke pantai. Kira-kira jam 8 pagi, dia ngerasa ada gempa bumi. Jet Li mungkin karena udah terbiasa sama gempa, secara dia tinggal di China &#038; San Francisco (juga di Singapore?), tetep cuek maen di pantai. Kira-kira dua jam kemudian, gelombang tsunami akibat gempa di Aceh nyampe ke Maldives! Yup, kita semua ingat dahsyatnya gelombang tsunami aceh sampai ke Afrika. Jet Li reflek bawa anak-anaknya, tapi ombak segera menelan mereka.</p>
<p>Waktu itu Jet Li diberitain meninggal ditelan ombak. Thank God, staf hotel berhasil menolong Jet Li dan anaknya. Ini peristiwa dahsyat buat Jet Li, bayangin di tempat seindah Maldives, hotel mewah, dia hampir kehilangan anaknya (dan bahkan nyawanya sendiri). Dua tahun kemudian Jet Li mendirikan LSM namanya <a href="http://www.onefoundation.cn/en_index.php">One Foundation</a> untuk membantu orang lain yang terkena bencana alam. Pas gempa di Sechuan tahun lalu, Jet Li langsung turun tangan membantu. Sebelumnya dia fundraising sampai 17 juta dollar.</p>
<p>Btw, Jet Li ini bukan orang Kristen, dia seorang Tibetan Buddhism. Dengan satu &#8220;detour&#8221; yang luar biasa ini, Jet Li melakukan sesuatu yang berguna buat orang lain. Dia bilang, &#8220;philanthropy is my passion and my life now. I wake up and eat and I am thinking about it. I’m still thinking about it in the bath&#8221;. Beut&#8230;.dalem&#8230;</p>
<p>Kita semua punya GPS yang udah kita set tujuan akhirnya, entah tujuan akhirnya itu kemewahan hidup, kekayaan, karir, rumah, mobil, etc. Pasti akan ada detour. Syukurlah kalo dengan detour itu kita bisa sadar tujuan akhir kita yang sesungguhnya dmana. Ataupun bila dengan detour itu kita bisa semakin mengerti betapa berharganya tujuan akhir kita itu <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>*akhir kata, saya masih berenung&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/10/detour/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SARAH</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/09/sarah/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/09/sarah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 00:14:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[Ada lima fase yang terjadi ketika kita mengalami sesuatu yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kehilangan seseorang, patah hati, atau kecewa di tempat kerja. Respon pertama biasanya adalah S (shock). Kaget, tidak pernah membayangkan bahwa hal itu akan/bisa terjadi. Dari kaget, biasanya dilanjutkan dengan A (angry). Marah atas apa yang terjadi, bisa marah terharap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada lima fase yang terjadi ketika kita mengalami sesuatu yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kehilangan seseorang, patah hati, atau kecewa di tempat kerja.</p>
<p>Respon pertama biasanya adalah <strong>S (shock)</strong>. Kaget, tidak pernah membayangkan bahwa hal itu akan/bisa terjadi. Dari kaget, biasanya dilanjutkan dengan <strong>A (angry)</strong>. Marah atas apa yang terjadi, bisa marah terharap diri sendiri, keluarga, teman kerja, dll. Kemudian <strong>R (resist)</strong>, menolak kenyataan dan bertanya-tanya &#8220;kenapa? kok bisa-bisanya? padahal kita kan sudah&#8230;&#8221;.<span id="more-341"></span></p>
<p>Ini tahap krusial. Banyak orang berhenti di tahap ini dan menjadi pahit. Kepahitan bisa menjelma menjadi dendam atau setidaknya mengganggu konsentrasi di pekerjaan.</p>
<p>Fase berikutnya <strong>A (accept)</strong>. Menerima kenyataan akan apa yang sudah terjadi, bahwa kita bisa jadi ikut bersalah akan apa yang sudah terjadi. Ada banyak hal yang berada di luar kendali kita sebagai manusia. Menerima bahwa tidak ada yang sempurna. Menerima bahwa Tuhan tetap berdaulat penuh atas apa yang terjadi dan Dia berkuasa untuk mengubah segala hal menjadi sesuatu yang BAIK bagi kita. Accept the fact that God never makes mistakes.</p>
<p>Fase terakhir, <strong>H (hope)</strong>. Terus percaya sama Tuhan. Mata Tuhan tidak terpejam. Telinga Tuhan sudah mendengar jerit kita minta tolong. Dia tahu dan Dia mengerti. Karena kita berharga di mata-Nya, apa yang merisaukan kita juga merisaukan Tuhan. Tuhan punya rencana indah untuk dan rencana-Nya akan terlaksana.</p>
<p>Ada beberapa peristiwa dalam hidup ini yang sulit untuk dimengerti. Ada waktu di hidup saya dimana pencobaan berat menekan. Ada waktu dimana saya tidak melihat tuntunan tangan Tuhan. Tapi Tuhan sendiri lah yang memberikan iman untuk terus berharap padaNya. Jika saya tidak melihat sinar matahari, bukan berarti matahari tidak ada dan lenyap. Matahari pasti akan bersinar, mungkin sebuah pelangi pun akan tampak <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/09/sarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Danger of Not Knowing the Truth</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/08/the-danger-of-not-knowing-the-truth/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/08/the-danger-of-not-knowing-the-truth/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 17:37:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[A repost of my note from facebook. Somebody once told me this story: We sometimes hear a saying: it doesn&#8217;t matter what you believe as long as you&#8217;re sincere. It sounds good, it sounds politically correct, and it sounds so broad-minded. You know…different strokes for different folks. You believe what you believe; I believe what [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A repost of my note from facebook. Somebody once told me this story:</p>
<p>We sometimes hear a saying: it doesn&#8217;t matter what you believe as long as you&#8217;re sincere. It sounds good, it sounds politically correct, and it sounds so broad-minded. You know…different strokes for different folks. You believe what you believe; I believe what I want to believe. We are both cool. The problem is it&#8217;s irrational to hold that belief. That&#8217;s because some beliefs are exactly opposites of each other. Therefore, they&#8217;re both cannot be true.</p>
<p>Let&#8217;s try this. Close your eyes. Take your right hand, point it to the ceiling. With your eyes closed, point in the direction that you believe is true north. You&#8217;ll be surprised when you open your eyes. We got people pointing in every direction. Is everyone right? They can&#8217;t be, because they contradict each other. The fact is there is only one true north.<br />
<span id="more-268"></span><br />
Please understand, you can believe anything that you want. You can believe the moon is made of cheese. And I will defend your right to believe it. But that doesn&#8217;t mean what you believe is the truth. You can be sincere, but you can be sincerely wrong. It takes more than sincerity to make it in life. <strong>It takes truth, God&#8217;s truth</strong>.</p>
<p>What we need to realize, our life is shaped by our beliefs, our view of reality. Our beliefs determine the way we look at the world. Our beliefs determine the way we feel about ourselves and other people, and the way we act. For example, if you believe that other people cannot be trusted, then you will tend to treat them with suspicion. Or if you believe there is no God, or if you believe that God is unconcerned about you, then you will not go to Him in prayer.</p>
<p>Here is the disturbing part, your belief determine how you act even if when your beliefs are wrong. So if we want to live our full life that is relatively free of worry, and stress and angers, and the assortment of fears that we tend to carry around, and If we want to avoid disappointments in life that often happen because of wrong thinking, wrong attitude, and wrong behavior on our part, then it is absolutely critical that we not only seek to know the truth but we also examine our beliefs and bring them aligned to the truth.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/08/the-danger-of-not-knowing-the-truth/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hopeful or optimistic or faithful?</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/07/hopeful-or-optimistic-or-faithful/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/07/hopeful-or-optimistic-or-faithful/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 20:19:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[This is an illustration from Donald Capps in his book, The Decades of Life. If the optimist says the glass is half full, the pessimist says the glass is half empty, and the rationalist says the glass is too large. The hopeful person says, “Let’s pray that there will be water, and let’s also do [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/11/Glass-of-water.jpg/180px-Glass-of-water.jpg" alt="Glass" /></p>
<p>This is an illustration from Donald Capps in his book, <a href="http://www.amazon.com/Decades-Life-Guide-Human-Development/dp/0664232418">The Decades of Life</a>.</p>
<p>If the optimist says the glass is half full, the pessimist says the glass is half empty, and the rationalist says the glass is too large. The hopeful person says, “Let’s pray that there will be water, and let’s also do what we can do to assure that this will be the case.”</p>
<p>Hope, therefore, is not identical to optimism. Persons who are extremely optimistic don’t need hope any longer, since they believe that everything is going to turn out as they expect it will.</p>
<p>A friend of mine take it further, he use misuses the word &#8220;faithful&#8221;. For him, being faithful is that believing that everything is going to turn out as they expect it will. For him faithful = optimistic. He surely misunderstood the definition of faith.</p>
<p>Now are you hopeful or optimistic?</p>
<p>If you say you are a hopeful person, then read on and let&#8217;s take this even further. At this point I assume you &#8220;pray that there will be water&#8221;, which means you realize you have limited power in this world. You cannot rely on yourselves. You believe that God can give you water. You also has done your best to assure that there will be water.</p>
<p>My question is, what will you do, after you prayed and did your best, the glass is still not full?</p>
<p>Some of you say, &#8220;Nah&#8230;God promised that He will pour out water so that the glass is full. So it must be full no matter what happens.&#8221; At this point I imagine, some hope is already lost. There are possibilities you will be neither hopeful, optimistic, nor faithful. You may become a pessimist. What is wrong? This is the sad part. Some people follow God because of His promises. Don&#8217;t get me wrong, I believe that God always keeps His promises. But when we think a promise is not fulfilled by God, we better check ourselves. Do we understand His promises correctly? Do we follow God solely because of His promises? not because of God &#8220;I am I&#8221; ?</p>
<p>The problem is not God, but our understanding. <span style="text-decoration: underline;">God&#8217;s love is unconditional, but some of His promises are conditional.</span> Our fault is when we try to switch the two. Be careful in understanding God&#8217;s promises. Read the bible in its context. Don&#8217;t just read the verses you like and abandon the whole books. On the other hand, don&#8217;t just read it, but follow it with actions.</p>
<p>If you have prayed and done your best, be patient. There are three answers to your prayer, &#8220;yes, no, or slow.&#8221; Whatever the answer, you will still be hopeful.  No matter how bitter the experience you may feel, you will still follow God, reading His words, admitting and correcting your mistakes in the past. This is what I call faithful. It is an inevitable phenomenon, no matter what happens, we are positioned so that we only have one choice: to worship God.</p>
<p>Now are you faithful? <img src='http://gunung-batu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
I&#8217;m still struggling to be faithful.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/07/hopeful-or-optimistic-or-faithful/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semua serba instant</title>
		<link>http://gunung-batu.com/2009/06/semua-serba-instant/</link>
		<comments>http://gunung-batu.com/2009/06/semua-serba-instant/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 00:47:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adimulia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[My thought]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adimulia.net/blog/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Emang manusia itu lebih suka sesuatu yang instant dibanding dengan yang normal. Kalau kita jalan-jalan ke toko buku, dengan mudah kita menemukan buku seperti &#8220;10 langkah instant menurunkan berat badan&#8221;, jarang kita menemukan &#8220;10 langkah normal menurunkan berat badan&#8221;. Jaman sudah berubah, waktu menjadi yang paling penting. Seringkali, proses itu sendiri dilupakan. Saya mempunyai keponakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Emang manusia itu lebih suka sesuatu yang instant dibanding dengan yang normal. Kalau kita jalan-jalan ke toko buku, dengan mudah kita menemukan buku seperti &#8220;10 langkah instant menurunkan berat badan&#8221;, jarang kita menemukan &#8220;10 langkah normal menurunkan berat badan&#8221;. Jaman sudah berubah, waktu menjadi yang paling penting. Seringkali, proses itu sendiri dilupakan.</p>
<p>Saya mempunyai keponakan berumur 8 bulan. Bbrp saat yang lalu, saya memperhatikan proses yang dilewati orang seorang bayi. Waktu itu dia lagi belajar duduk. Jadi kalo lagi ada di atas ranjang, dia akan berusaha sedemikian hingga dia supaya bisa duduk. Dia dorong guling dengan kepalanya, dia tarik kakinya, mau dimasukin ke mulutnya. Walah, gak ada capenya. Belum lagi sambil belajar duduk, dia belajar ngoceh. Lucu banget. Sebenernya saya bisa saja dengan mudah mendudukan dia. Tapi saya gak berani, karena saya tau lebih baik dia berusaha sendiri. Kalo tulang ekor dia belum kuat dan saya paksa duduk, mungkin dia malah jadi sakit.</p>
<p>Akhirnya setelah bbrp minggu berusaha, dia bisa duduk walaupun masih miring. Disitu lah saya melihat betapa pentingnya sebuah proses bagi seorang bayi. Sehabis duduk, seorang bayi akan belajar merangkak, kemudian berjalan. Ada beberapa bayi yang bisa langsung berjalan, tapi ternyata kalo seorang bayi berjalan tanpa merangkak dulu, bakal ada sesuatu yang salah dengan pertumbuhan tulang dia (atau entah apa saya lupa pastinya).</p>
<p>Belum lagi proses berjalan. Bayi biasa belajar jalan dengan dituntun orang lain. Tapi ada beberapa orang tua yang gak mau pusing, sang bayi pun dikasi baby walker. Mungkin baby walker membantu supaya bayi bisa cepat berjalan. Tapi ternyata bayi yang lancar belajar jalan dari baby walker, biasanya akan berjalan berjinjit / dengan tumit, sampai dia tua nanti.</p>
<p>Sebuah biji mengalami masa dormant ketika dia jatuh ke tanah. Perlu waktu untuk supaya biji itu tumbuh menjadi sebuah pohon. Sebuah pohon perlu berakar dulu baru dia bisa bertumbuh. Sebuah pohon perlu bertumbuh dulu baru dia bisa berbuah.</p>
<p>Saya percaya, segala aspek dari manusia (roh, tubuh, jiwa) di-design untuk melewati suatu proses. Apabila kita mencoba menginstantkan suatu proses, akan ada efek sampingnya. Entah hasil yang cacat, atau kekurangan yang lainnya.</p>
<p>Saya membawa pemikiran ini lebih jauh ke dalam hidup saya. Di samping proses fisik manusia (lahir, tumbuh, tua, kemudian mati), ada proses pertumbuhan rohani yang setiap manusia alami. Sesuatu yang instant dalam pertumbuhan rohani pun mungkin terjadi. Namun hasil dari instant dan proses normal itu jelas sekali perbedaannya. Apa ada &#8220;baby-walker&#8221; yang terlalu saya andalkan dlm hidup ini? Atau aduh, apa saya ada proses yang kelewat ya? Apa saya gak lupa &#8220;merangkak&#8221;?</p>
<p>Tapi ya itu, proses itu sangat penting. Sesulit apapun itu jalani lah dengan baik dan jangan menyerah. Mungkin kita jatuh bangun, tapi ya emang itu proses yang mungkin harus kita lalui. Justru kalo semua hal berjalan mulus, mungkin itu waktunya untuk investigate kembali hidup kita. Hasil dari sebuah proses akan bertahan dan berkualitas, hasil dari sesuatu yang instant biasanya akan lenyap atau berubah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunung-batu.com/2009/06/semua-serba-instant/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://analytics.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://analytics.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->

