Engkau yang gundah karena beratnya kehidupan, sini … duduklah tenang bersamaku … dan marilah kita berbincang dengan Tuhan …
Sahabat baik hatiku, cobalah kau ingat … bukankah dulu engkau pernah hidup dalam kedamaian yang penuh harapan baik tentang masa depanmu?
Apakah yang telah kau ijinkan mengusik kedamaianmu, dan menjadikanmu pribadi baik yang sulit merasa damai hari ini?
Apakah sekarang, engkau terlalu banyak menduga dan sedikit mencoba?
Apakah engkau lebih mudah marah sebelum mengerti, dan tetap marah walau sudah mengerti?
Apakah engkau menuntut orang lain melakukan yang tak kau lakukan?
Apakah lebih mudah bagimu untuk meminta daripada memberi?
Apakah engkau lebih banyak mengeluhkan kesulitanmu daripada bekerja meringankan kesulitan sesamamu?
Apakah hatimu lebih cepat membenci daripada mencintai?
Atau, apakah engkau lebih dekat kepada kebiasaan buruk daripada beribadah?
Hmm … aku tak harus mendengar jawabanmu, tapi hatimu tahu.
Dikutip dr MTGW.
Anggap masalah itu seperti ujian kenaikan kelas, selesaikan soal-soalnya dengan doa, kerja keras dan keyakinan, maka kita pasti akan lulus dan naik kelas, tapi bukan berarti berhenti sampai disana. Tentu di kelas yang baru nanti akan ada ujian yang level-nya juga akan lebih tinggi dari kelas sebelumnya. Jadi, biasa-biasa sajalah menanggapi masalah.- Bokapnya si Mora, tetangga yang juga teman SD/SMA
Christian marriage is not about staying in love, but to keeping the covenant just as God has kept His covenant to us.
Sungguh…dia adalah seorang perempuan biasa yang punya Tuhan luar biasa.
Sumber: Portrait of a Biblical Woman (1 Petrus 3:1-6)
The more we understand, the better the chances for us to make a right decision
