It is not wrong for you to depend on your “Elijah” for as long as God gives him to you. But remember that the time will come when he must leave and will no longer be your guide and your leader, because God does not intend for him to stay. Even the thought of that causes you to say, “I cannot continue without my ’Elijah.’ ” Yet God says you must continue.
Alone at Your “Jordan” ( Kings 2:14 ). The Jordan River represents the type of separation where you have no fellowship with anyone else, and where no one else can take your responsibility from you. You now have to put to the test what you learned when you were with your “Elijah.” You have been to the Jordan over and over again with Elijah, but now you are facing it alone. There is no use in saying that you cannot go— the experience is here, and you must go. If you truly want to know whether or not God is the God your faith believes Him to be, then go through your “Jordan” alone. Read more »
Beberapa hari yang lalu saya dan abang saya berlibur ke Cameron Highlands, perkebunan teh terletak 3-4 jam perjalanan dari KL. Nah di sepanjang jalan saya perhatiin, ada banyak juga anjing liar, atau mungkin tepatnya anjing hutan.
Pas lagi nyetir 120 km/h di jalan tol, 300 meter di depan saya tiba-tiba muncul seekor anjing liar yang mau menyebrang. Logika pertama di otak otomatis jalan, responnya adalah: liat kaca spion, ada berapa mobil di belakang. Ternyata ada banyak mobil di belakang, jaraknya cukup mepet, jadi kalau saya rem atau banting setir mendadak, yang bakal terjadi adalah tabrakan beruntun.
Logika kedua, oke kalo begitu kudu keputusan kedua: tabrak anjingnya. Ini terdengar kejam, dan sangat berat di hati karena saya sendiri suka memelihara anjing sejak saya masih kecil. Tapi saya lebih memilih mengorbankan seekor anjing dibanding nyawa orang lain. Read more »
Pada olimpiade musim panas tahun 1992 di Barcelona, Spanyol, terjadi sebuah peristiwa yang menarik perhatian dunia. Ketika Derek Redmond melangkah menuju arena, dia membayangkan kemenangan yang akan diraihnya. Inilah saat yang telah dinantikannya, seumur hidupnya. Dalam hatinya, ia tahu, bahwa inilah perlombaan yang telah Tuhan tetapkan baginya, sejak semula ia diciptakan. Pada menit terakhir sebelum perlombaan itu dimulai, ia memandang ke arah deretan kursi penonton, mencari-cari wajah ayahnya. Memang ia ingin meraih kemenangan dalam lomba itu untuk dirinya. Tetapi, lebih dari itu ia ingin memenangkan lomba itu demi ayahnya. Ayahnya, yang telah memberikan dan mengorbankan begitu banyak banyak hal, agar ia dapat masuk menjadi peserta olimpiade itu.
Sekarang ia memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu sebagai tanda balas budi kepada ayahnya. Inilah saatnya untuk membuat ayahnya bangga padanya. Lalu tembakan ke udara tanda mulai berbunyi. Derek berlari, mengerahkan seluruh kekuatannya. Segalanya tampak baik sampai akhirnya Derek memasuki putaran terakhir. Tiba-tiba terjatuh di tengah lintasan larinya. Ia mengalami kram pada kakinya. Rasa nyeri yang hebat mencengkeramnya. Dia berusaha untuk berdiri; berusaha untuk melompat; namun rasa nyeri itu terlalu menyakitkan baginya. Detik demi detik berlalu, bagai berjam-jam baginya, saat dia rebah menggeliat kesakitan. Dia tidak percaya, beginilah akhir dari perjalanannya selama ini. Read more »
Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” >> Lukas 11:1
Kita biasanya meminta tips/kiat/saran (terbaik) dari seorang pakar (yang memang ahli di bidangnya), ya kan? Misalnya saja:
Kepada Bill Gates (pengusaha yang sukses), kita meminta, “Ajarkan kami cara berwirausaha.”
Kepada Mozart (musikus legendaries, seandainya masih ada), “Ajarkan kami cara menikmati musik.”
Kepada Peter F. Saerang (salah satu ahli tata rambut terbaik di Indonesia), “Ajarkan kami cara memotong rambut.”
Kepada Janggeum (sekiranya masih hidup, Tabib Agung dinasti Chosun, Korea, perawat perempuan pertama yang melayani kaisar), “Ajarkan kami cara mendiagnosa penyakit.”
Hidup beriman saya tuh datar-datar saja. Tidak ada yang istimewa. Sangat biasa. Oleh karena itu, saya ingin sekali mengalami mukjizat. Biar saya bisa merasakan kuasa Tuhan yang nyata, dan sungguh-sungguh mengalami kehadiran-Nya,” begitu seorang pemuda pernah berkata. Rupanya di benak pemuda itu, yang namanya “mengalami Tuhan” mesti melalui kejadian spektakuler; hal-hal di luar jangkauan akal. Bisa jadi tidak sedikit pula orang yang beranggapan seperti itu.
Padahal tidak selalu demikian. Betul, Tuhan bisa menyatakan diri melalui peristiwa yang menakjubkan. Namun, kenyataan menunjukkan, Dia lebih kerap menyatakan diri melalui peristiwa biasa, dalam kejadian sehari-hari; entah udara segar yang kita hirup, hamparan pemandangan yang indah, kicau burung yang merdu di pepohonan, atau juga tawa riang gembira anak-anak yang tengah bermain. Read more »
Di majalah National Geographic edisi bulan November ini, ada foto sekumpulan simpanse yang terlihat sedih ketika melihat salah satu dari mereka meninggal dan akan dikubur. Wow, simpanse pun bisa merasa kehilangan. Cerita selengkapnya bisa dibaca dsini. Lalu bagaimana dengan manusia?
Sejak tinggal di luar negeri enam tahun belakangan ini, airport bukan lah suatu tempat yang asing, bahkan tidur di kursi airport pun udah dua kali *krn terpaksa*. Saya suka airport, suka duduk2 di airport, sekedar duduk sambil minum kopi atau baca buku sambil melihat pesawat mendarat atau terbang. Di airport ada moment 2-5 menit yang bisa jadi pelajaran berharga, yaitu moment ketika kita harus berpisah dengan orang yang mengantar (biasanya pas kita harus masuk tuk boarding). Gak jarang orang menangis disitu, umumnya orang berpelukan, say good bye. Di situlah paling terasa, betapa kadang kita terlalu sering “take for granted” kasih sayang, perhatian, dan keberadaan dari orang2 yang mengasihi kita. Ada rasa sedih atau kehilangan karena kita gak akan merasakan lagi keberadaan mereka secara fisik, tapi di sisi lain selalu ada harapan tuk bertemu kembali. Yang juga menarik untuk diamati ketika kita pergi ke bagian arrival, dmana yang jemput biasanya udah siap menyambut. Ada kebahagiaan di arrival, ada kesedihan di departure. Read more »
Untuk apa Anda beriman? “Supaya saya mengalami mukjizat Tuhan”, “Supaya setiap kali berdoa, Tuhan mengabulkan doa saya”, “Supaya Tuhan senantiasa menjaga dan melindungi saya dari bahaya”, “Supaya kalau mati saya masuk surga.” Ungkapan-ungkapan tersebut kedengarannya sangat baik. Namun, sebetulnya itu mencerminkan pendangkalan makna. Kalau kita bekerja supaya mendapatkan upah, itu wajar. Akan tetapi, kalau kita beriman supaya mendapatkan apa-apa yang kita inginkan, itu menunjukkan iman yang tidak tulus, berpamrih, dan kekanak-kanakan. Read more »
Belakangan saya sering berenung, hidup ini mau dibawa kemana. Mungkin tepatnya lebih ke arah reflektif. Ya, hidup ini emang berubah sejak saya mengakui Yesus sebagai juruselamat satu-satunya. Ibarat biji yang jatuh ke tanah dan mengalami masa dormant, baru tahun kemarin lah tunas iman itu tumbuh. Tahun kemarin secara rohani saya merasa capek banget dengan drama teologi kemakmuran, praktek doktrin kesembuhan ilahi yang menyimpang, ajaran2 ngaco tentang Roh Kudus. Proses dan pengalaman mengenal Tuhan bener-bener harus selalu diuji dengan terang kebenaran Alkitab, kalo ngga gawat jadinya. Ya, apa yang saya kejar dalam hidup ini perlahan berubah. Sekarang…walaupun sering jatuh bangun, kerinduan untuk mengenal Tuhan lebih berharga dari semua “iming2″ ikut Tuhan. Coba baca Yeremia 9:23-24 untuk mengerti lebih lanjut Read more »
Sebuah artikel pengantar menarik dari GRII Sydney..
Baru-baru ini ada satu film yang dibuat di Jerman berjudul “The Counterfeiter” yang dibuat sebagai hasil dari satu program dokumentari CBS tahun 1999 yang menguak rahasia terbesar yang disimpan oleh Nazi. Film ini diangkat dari satu diary dari seorang Yahudi yang bernama Adolf Burger dimana dia terlibat di dalam satu operasi penting yang bernama “Operation Bernard.” Dia bersama satu orang Yahudi lain adalah orang yang ahli memalsukan uang dan mencetak uang palsu. Sebenarnya dua orang ini hendak dibunuh di camp contentration di Auschwitz tetapi tidak jadi sebab mereka memberitahu keahlian khusus mereka. Maka Nazi menempatkan mereka ke dalam satu perusahaan rahasia untuk mencetak uang palsu. Tahun 1999 CBS mengadakan satu eksplorasi di danau Toplitz sebab telah beredar satu isu bahwa di dasar danau itu tersimpan harta karun milik Hitler. Danau itu tidak besar, 1600m panjangnya tetapi kedalamannya mencapai 100m lebih, tempat yang paling sempurna untuk menyimpan rahasia. Kemudian CBS menyewa jasa perusahaan eksplorasi laut Oceaneering. Mereka menyelusuri dasar danau itu berbulan-bulan tetapi tidak menemukan apapun. Akhirnya mereka menggunakan sistem teknologi dengan robot penyelam dan kapal selam bermuatan satu orang dan akhirnya menemukan banyak tumpukan kertas di dasar danau. Ketika kertas-kertas itu diangkat, langsung hancur lebur menjadi bubur. Read more »
Balon itu berwarna merah.
Balon itu berwarna merah bukan karena anda mengatakan bahwa itu merah.
Balon itu berwarna merah bukan karena pengalaman pribadi anda.
Balon itu berwarna merah bukan karena anda mempunyai gelar professor ttg warna.
Balon itu berwarna merah, karena itulah yang sebenarnya.