Seorang pengembara tua sedang dalam perjalanan menuju pegunungan Himalaya pada musim dingin yang menggigit saat mulai hujan. Seorang pengurus rumah penginapan berkata kepadanya. “Bagaimana engkau dapat sampai di sana dalam cuaca seperti ini, saudaraku?”
Pengembara tua itu menjawab dengan gembira: “Hatiku sudah lebih dulu sampai di sana, sehingga mudah bagi saya yang tersisa ini kemudian mengikutinya.”
~ Doa Sang Katak 1 – Anthony de Mello SJ
Pengkotbah bilang, untuk segala sesuatu ada masanya. Teman ada yang tanya, “Kok sibuk melulu sih?”. Kadang pertanyaan seperti ini menunjukkan keheranan dari yang bertanya. Kalau diparafrasekan pertanyaannya jadi begini, “Bagaimana mungkin bisa sesibuk ini?”. Saya sendiri juga heran, kadang emang kalau lagi nganggur, ya bisa nganggur senganggur2nya, hidup rutin, berangkat jam 8, jam 5:30 udah di rumah. Tapi kadang emang sibuk sesibuk2nya, berangkat jam 8, pulang jam 6 lebih, lalu diterusin kerjain pekerjaan rumah yang lain.
Apapun situasinya, jangan sampai kita melewatkan hal-hal yang patut disyukuri. Bulan lalu saya mampir ke Chapters, ketemu buku judulnya, The Book of Awesome. Isinya, tentang hal-hal kecil yang kita lewati begitu saja. Padahal, hal-hal kecil itu adalah berkat Tuhan yang terjadi dari hari ke hari.
Misalnya, yang saya pernah alami:
- Melihat foto masa kecil dari tunangan saya. Haha, priceless.
- Pas dapet pas spot parkir di mall. Haha, ini juga kita sering lewati begitu saja.
- Nyetir mobil sendirian malem-malem. Nah, ini mungkin cuma saya, tapi ini hal yang saya enjoy.
- Ketika orang yang kita ajak ngobrol tersenyum.
- Anak sekolah minggu bertanya pertanyaan nyeleneh.
- Dapet tempat duduk di skytrain jam 8 pagi di Joyce. Haha, ini patut disyukuri.
- Mendarat di sofa setelah seharian bekerja
- Pas beres-beres buku lama, wangi buku lama itu khas!
- Melihat emak2 dan engkong2 jalan pagi gandengan tangan
- Mendengar keponakan yang berumur kurang dari 3 thn nyanyi “bri sukuy, bri sukuy, brilah sukuy, bri sukuy…susah atau pun senang, bri sukuy”
Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita (Efesus 5:20)
“Wah, maaf saya tidak ada waktu untuk ____ ” . Silahkan isi bagian yang kosong dengan aktifitas kita yang semakin hari semakin banyak. Tapi apakah iya kita tidak ada waktu? Ini sebenarnya lebih ke arah prioritas. Misalnya, ketika seseorang diminta membantu melakukan kegiatan A, alasan yang sering dilontarkan, wah saya sibuk, tidak ada waktu. Padahal, orang yang bersangkutan masih ada waktu untuk kegiatan yang lain. Jadi sebenarnya, waktunya sih ada, cuma prioritas untuk kegiatan A lebih rendah dibanding kegiatan lain. Waktu kalau mau disempat-sempatin, pasti bisa.
Sekedar berpikir tentang prioritas Tuhan, apakah Tuhan setiap harinya buka Microsoft Outlook atau Google Calendar? Dan isinya ada mungkin jutaan miliar triliun tasks dan meeting appointment. Bagaimana Tuhan mengatur prioritas dari itu semua? Saya tidak tahu, tapi cuma sekedar pemikiran, andaikata urusan dosa bukanlah prioritas, mungkin Tuhan tidak akan repot-repot mengirim Yesus Kristus. Mungkin kalau dosa tidak berujung maut, Tuhan bakalan lebih “cincai”. Atau kalau manusia bukanlah prioritas utama Tuhan, tentu kita udah dicuekin dari dulu, dari sejak kejatuhan dalam dosa, atau bahkan kita tidak akan pernah diciptakan?
Pemikiran sekarang, kalau hidup dan keselamatan kita adalah prioritas Tuhan, apa yang jadi prioritas kita sekarang?
Saya belakangan merasa waktu 24 jam itu kurang. Kerja dari jam 9 pagi, baru juga bales-bales email, briefing tugas, eh tau-tau udah jam 12. Demikian seterusnya, bekerja ini itu, tau-tau udah jam 5 lebih. Sepulang kerja, lanjut lagi kegiatan ini itu. Yang paling menyedihkan, kadang tidak ada waktu untuk Tuhan.
Ada ungkapan “Never make someone your priority, when they only make you an option”. Kalau Tuhan berpegang pada ungkapan ini, sudah habislah saya. Ah saya perlu belajar mengatur prioritas hidup ini lebih baik.
Bacaan: Yohanes 10:1-10
Pencurian merupakan peristiwa kriminal merugikan yang kerap terjadi di sekitar kita. Pencurian uang, kendaraan, dan harta benda lainnya. Akan tetapi, tidak ada pencuri yang lebih profesional dari Iblis. Cara kerjanya sangat halus dan rapi sehingga banyak orang kristiani yang menjadi target Iblis seakan-akan tidak menyadari bahwa ada begitu banyak hal di dalam hidupnya telah dicuri oleh Iblis. Mereka baru menyadari ketika segala sesuatu sudah habis.
Apa saja yang kerap dicuri oleh Iblis?
- Kegembiraan: Iblis ingin mencuri sukacita kita.
- Keyakinan: Iblis ingin kita meragukan Allah.
- Pendirian: Iblis ingin kita berdiri untuk sesuatu yang kosong.
- Belas kasihan: Iblis ingin kita menjadi egois, tidak memedulikan orang lain.
- Komitmen: Iblis ingin kita menjadi orang yang tidak berketetapan hati.
- Damai sejahtera: Iblis ingin kita hidup dalam kehampaan.
- Kepastian: Iblis ingin kita meragukan keselamatan yang kita terima dari Yesus.
- Karakter: Iblis ingin kita tidak bertumbuh dalam Kristus.
- Kekudusan: Iblis ingin hidup kita tidak layak di hadapan-Nya.
Iblis ingin mencuri segala yang baik dari hidup kita dengan cara-cara keji; membunuh dan membinasakan kita (ayat 10)—jasmani dan rohani. Ini sangat kontras dengan tawaran Yesus, Gembala kita. Dia datang untuk memberikan hidup (ayat 10).
Apakah hari-hari ini kita kehilangan kasih, sukacita, damai sejahtera, komitmen, keyakinan, karakter Allah, dan sebagainya? Bisa jadi Iblis telah memanfaatkan setiap kesempatan untuk mencurinya. Mintalah kuasa Tuhan untuk merebut kembali semua “kekayaan” surgawi yang sudah dicuri Iblis —PK
Sumber: http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2011/06/23/
