Beberapa hari yang lalu saya dan abang saya berlibur ke Cameron Highlands, perkebunan teh terletak 3-4 jam perjalanan dari KL. Nah di sepanjang jalan saya perhatiin, ada banyak juga anjing liar, atau mungkin tepatnya anjing hutan.
Pas lagi nyetir 120 km/h di jalan tol, 300 meter di depan saya tiba-tiba muncul seekor anjing liar yang mau menyebrang. Logika pertama di otak otomatis jalan, responnya adalah: liat kaca spion, ada berapa mobil di belakang. Ternyata ada banyak mobil di belakang, jaraknya cukup mepet, jadi kalau saya rem atau banting setir mendadak, yang bakal terjadi adalah tabrakan beruntun.
Logika kedua, oke kalo begitu kudu keputusan kedua: tabrak anjingnya. Ini terdengar kejam, dan sangat berat di hati karena saya sendiri suka memelihara anjing sejak saya masih kecil. Tapi saya lebih memilih mengorbankan seekor anjing dibanding nyawa orang lain.
Continue reading »
Pada olimpiade musim panas tahun 1992 di Barcelona, Spanyol, terjadi sebuah peristiwa yang menarik perhatian dunia. Ketika Derek Redmond melangkah menuju arena, dia membayangkan kemenangan yang akan diraihnya. Inilah saat yang telah dinantikannya, seumur hidupnya. Dalam hatinya, ia tahu, bahwa inilah perlombaan yang telah Tuhan tetapkan baginya, sejak semula ia diciptakan. Pada menit terakhir sebelum perlombaan itu dimulai, ia memandang ke arah deretan kursi penonton, mencari-cari wajah ayahnya. Memang ia ingin meraih kemenangan dalam lomba itu untuk dirinya. Tetapi, lebih dari itu ia ingin memenangkan lomba itu demi ayahnya. Ayahnya, yang telah memberikan dan mengorbankan begitu banyak banyak hal, agar ia dapat masuk menjadi peserta olimpiade itu.
Sekarang ia memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu sebagai tanda balas budi kepada ayahnya. Inilah saatnya untuk membuat ayahnya bangga padanya. Lalu tembakan ke udara tanda mulai berbunyi. Derek berlari, mengerahkan seluruh kekuatannya. Segalanya tampak baik sampai akhirnya Derek memasuki putaran terakhir. Tiba-tiba terjatuh di tengah lintasan larinya. Ia mengalami kram pada kakinya. Rasa nyeri yang hebat mencengkeramnya. Dia berusaha untuk berdiri; berusaha untuk melompat; namun rasa nyeri itu terlalu menyakitkan baginya. Detik demi detik berlalu, bagai berjam-jam baginya, saat dia rebah menggeliat kesakitan. Dia tidak percaya, beginilah akhir dari perjalanannya selama ini.
Continue reading »
Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” >> Lukas 11:1
Kita biasanya meminta tips/kiat/saran (terbaik) dari seorang pakar (yang memang ahli di bidangnya), ya kan? Misalnya saja:
- Kepada Bill Gates (pengusaha yang sukses), kita meminta, “Ajarkan kami cara berwirausaha.”
- Kepada Mozart (musikus legendaries, seandainya masih ada), “Ajarkan kami cara menikmati musik.”
- Kepada Peter F. Saerang (salah satu ahli tata rambut terbaik di Indonesia), “Ajarkan kami cara memotong rambut.”
- Kepada Janggeum (sekiranya masih hidup, Tabib Agung dinasti Chosun, Korea, perawat perempuan pertama yang melayani kaisar), “Ajarkan kami cara mendiagnosa penyakit.”
Hidup beriman saya tuh datar-datar saja. Tidak ada yang istimewa. Sangat biasa. Oleh karena itu, saya ingin sekali mengalami mukjizat. Biar saya bisa merasakan kuasa Tuhan yang nyata, dan sungguh-sungguh mengalami kehadiran-Nya,” begitu seorang pemuda pernah berkata. Rupanya di benak pemuda itu, yang namanya “mengalami Tuhan” mesti melalui kejadian spektakuler; hal-hal di luar jangkauan akal. Bisa jadi tidak sedikit pula orang yang beranggapan seperti itu.
Padahal tidak selalu demikian. Betul, Tuhan bisa menyatakan diri melalui peristiwa yang menakjubkan. Namun, kenyataan menunjukkan, Dia lebih kerap menyatakan diri melalui peristiwa biasa, dalam kejadian sehari-hari; entah udara segar yang kita hirup, hamparan pemandangan yang indah, kicau burung yang merdu di pepohonan, atau juga tawa riang gembira anak-anak yang tengah bermain.
Continue reading »
