Surat penjual buah yang patah hati:”Wajahmu memang manggis,watakmu juga melonkolis,tapi hatiku nanas karena cemburu,sirsak napasku,hatiku anggur lebur,ini delima dalam hidupku,memang ini juga salakku,jarang apel malam minggu.Ya Tuhan, mohon belimbing-Mu,kalo memang perpisangan ini yang terbaik untukku,semangka kau bahagia dengan pria lain.Sawonara…”Dari: Durianto
Surat balasan dari pacarnya yang ternyata tukang sayur:”Membalas kentang suratmu itu.Brokoli sudah kubilang,jangan tiap dateng rambutmu selalu kucai,jagungmu gak pernah dicukur.Disuruh dateng malam minggu, ehh nongolnya hari labu.Ditambah kondisi keuanganmu makin hari makin pare.Kalo mo nelpon aku aja mesti ke wortel.Terus terong aja, cintaku padamu sudah lama tomat.Jangan kangkung aku lagi.Cabe dehhhhhhhh!!!”

Konon katanya Singapore sengaja membuat Orchard Road banjir agar wisatawan Indonesia merasa nyaman. Feels like home gitu lho. Haha ^_^
Dua hari yang lalu, pas lagi ganti-ganti chanel tv di hotel, ketemu chanel TV2 yang nampilin film jadul, hitam putih, bahasa melayu, judulnya Tiga Abdul. Ceritanya punya pesan moral yang bagus banget, dan lucunya juga bikin ketawa lepas.
Kalau mau nonton filmnya, click read more Continue reading »
Sekedar bercanda, kadang-kadang tanpa kita sadari, kita sering membuat kalimat yang bisa menimbulkan arti ambigu. Ini juga bahaya sebenernya. Contohnya cerita di bawah ini yang saya kutip dari blog Nguping Jakarta.
Petugas informasi via loudspeaker: “Kepada bapak X, ditunggu keluarganya di kandang monyet sekarang. Sekali lagi, bapak X ditunggu keluarganya di kandang monyet sekarang.”
Kebun binatang ragunan jakarta, didengar oleh seluruh pengunjung kebun binatang yang ingin segera mengunjungi kandang tersebut.
